Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh)

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Sabtu, 30 Maret 2013 | 04.45

Riwayat Singkat
Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad atau yang biasa di panggil Abah Sepuh, lahir tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang (sekarang, Kp Cicalung Desa Tanjungsari Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya) dari pasangan Rd Nura Pradja (Eyang Upas, yang kemudian bernama Nur Muhammad) dengan Ibu Emah. Beliau dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kyai Jangkung. Sejak kecil, beliau sudah gemar mengaji/mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka memperhatikan kesejahteraan masyarakat. Setelah menyelesaikan pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang tuanya. Di Pesantren Sukamiskin Bandung beliau mendalami fiqih, nahwu, dan sorof. Beliau kemudian mendarmabaktikan ilmunya di tengah-tengah masyarakat dengan mendirikan pengajian di daerahnya dan mendirikan pengajian di daerah Tundagan Tasikmalaya. Beliau kemudian menunaikan ibadah Haji yang pertama.

Walaupun Syaikh Abdullah Mubarok telah menjadi pimpinan dan mengasuh sebuah pengajian pada tahun 1890 di Tundagan Tasikmalaya, beliau masih terus belajar dan mendalami ilmu Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah kepada Mama Guru Agung Syaikh Tolhah bin Talabudin di daerah Trusmi dan Kalisapu Cirebon. Setelah sekian lamanya pulang-pergi antara Tasikmalaya-Cirebon untuk memperdalam ilmu tarekat, akhirnya beliau memperoleh kepercayaan dan diangkat menjadi Wakil Talqin. Sekitar tahun 1908 dalam usia 72 tahun, beliau diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah. Beliau juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani Hasyim.
Karena situasi dan kondisi di daerah Tundagan kurang menguntungkan dalam penyebaran Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, beliau beserta keluarga pindah ke Rancameong Gedebage dan tinggal di rumah H. Tirta untuk sementara. Selanjutnya beliau pindah ke Kampung Cisero (sekarang Cisirna) jarak 2,5 km dari Dusun Godebag dan tinggal di rumah ayahnya. Pada tahun 1904 dari Cisero Abah Sepuh beserta keluarganya pindah ke Dusun Godebag. 


Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad
( Abah Sepuh )


Gapura menuju Maqam Abah Sepuh


Senja di Mesjid Nurul Asror.

Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad kemudian dan bermukim dan memimpin Pondok Pesantren Suryalaya sampai akhir hayatnya. Beliau memperoleh gelar Syaikh Mursyid. Dalam perjalanan sejarahnya, pada tahun 1950, Abah Sepuh hijrah dan bermukim di Gg Jaksa No 13 Bandung. Sekembalinya dari Bandung, beliau bermukim di rumah H Sobari Jl Cihideung No 39 Tasikmlaya dari tahun 1950-1956 sampai beliau wafat.

Setelah menjalani masa yang cukup panjang, Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad-sebagai Guru Mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah dengan segala keberhasilan yang dicapainya melalui perjuangan yang tidak ringan, dipanggil Al Khaliq kembali ke Rahmatullah pada tangal 25 Januari 1956, dalam usia 120 tahun. Beliau meniggalkan sebuah lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat manusia, agar senantiasa dapat melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta mewariskan sebuah wasiat berupa “TANBIH” yang sampai saat sekarang dijadikan pedoman bagi seluruh Ikhwan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya dalam hidup dan kehidupannya.

Sumber : http://www.suryalaya.org/ver2/riwayat1.html

Syaikh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom)

Riwayat Singkat

Abah Anom
KH. A Shohibulwafa Tajul Arifin yang dikenal dengan nama Abah Anom, dilahirkan di Suryalaya tanggal 1 Januari 1915. Beliau adalah putra kelima Syaikh Abdullah bin Nur Muhammad, pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, dari ibu yang bernama Hj Juhriyah. Pada usia delapan tahun Abah Anom masuk Sekolah Dasar (Verfolg School) di Ciamis antara tahun 1923-1928. Kemudian ia masuk Sekolah Menengah semacan Tsanawiyah di Ciawi Tasikmalaya. Pada tahun 1930 Abah Anom memulai perjalanan menuntut ilmu agama Islam secara lebih khusus. Beliau belajar ilmu fiqih dari seorang Kyai terkenal di Pesantren Cicariang Cianjur, kemudian belajar ilmu fiqih, nahwu, sorof dan balaghah kepada Kyai terkenal di Pesantren Jambudipa Cianjur. Setelah kurang lebih dua tahun di Pesantren Jambudipa, beliau melanjutkan ke Pesantren Gentur, Cianjur yang saat itu diasuh oleh Ajengan Syatibi.
Dua tahun kemudian (1935-1937) Abah Anom melanjutkan belajar di Pesantren Cireungas, Cimelati Sukabumi. Pesantren ini terkenal sekali terutama pada masa kepemimpinan Ajengan Aceng Mumu yang ahli hikmah dan silat. Dari Pesatren inilah Abah Anom banyak memperoleh pengalaman dalam banyak hal, termasuk bagaimana mengelola dan memimpin sebuah pesantren. Beliau telah meguasai ilmu-ilmu agama Islam. Oleh karena itu, pantas jika beliau telah dicoba dalam usia muda untuk menjadi Wakil Talqin Abah Sepuh. Percobaan ini nampaknya juga menjadi ancang-ancang bagi persiapan memperoleh pengetahuan dan pengalaman keagaman di masa mendatang. Kegemarannya bermain silat dan kedalaman rasa keagamaannya diperdalam lagi di Pesantren Citengah, Panjalu, yang dipimpin oleh H. Junaedi yang terkenal sebagai ahli alat, jago silat, dan ahli hikmah.

Setelah menginjak usia dua puluh tiga tahun, Abah Anom menikah dengan Euis Siti Ru’yanah. Setelah menikah, kemudian ia berziarah ke Tanah Suci. Sepulang dari Mekah, setelah bermukim kurang lebih tujuh bulan (1939), dapat dipastikan Abah Anom telah mempunyai banyak pengetahuan dan pengalaman keagamaan yang mendalam. Pengetahuan beliau meliputitafsir, hadits, fiqih, kalam, dan tasawuf yang merupakan inti ilmu agama. Oleh Karena itu, tidak heran jika beliau fasih berbahasa Arab dan lancar berpidato, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda, sehingga pendengar menerimanya di lubuk hati yang paling dalam. Beliau juga amat cendekia dalam budaya dan sastra Sunda setara kepandaian sarjana ahli bahasa Sunda dalam penerapan filsafat etnik Kesundaan, untuk memperkokoh Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Bahkan baliaupun terkadang berbicara dalam bahasa Jawa dengan baik.

Ketika Abah Sepuh Wafat, pada tahun 1956, Abah Anom harus mandiri sepenuhnya dalam memimpin pesantren. Dengan rasa ikhlas dan penuh ketauladan, Abah Anom gigih menyebarkan ajaran Islam. Pondok Pesantren Suryalaya, dengan kepemimpinan Abah Anom, tampil sebagai pelopor pembangunan perekonomian rakyat melalui pembangunan irigasi untuk meningkatkan pertanian, membuat kincir air untuk pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Dalam perjalanannya, Pondok Pesantren Suryalaya tetap konsisten kepada Tanbih, wasiat Abah Sepuh yang diantara isinya adalah taat kepada perintah agama dan negara. Maka Pondok Pesantren Suryalaya tetap mendukung pemerintahan yang sah dan selalu berada di belakangnya.



Abah Anom & Istri (Hj. Yoyoh / Ummy)


Abah Anom

Di samping melestarikan dan menyebarkan ajaran agama Islam melalui metode Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Abah Anom juga sangat konsisten terhadap perkembangan dan kebutuhan masyarakat. Maka sejak tahun 1961 didirikan Yayasan Serba Bakti dengan berbagai lembaga di dalamnya termasuk pendidikan formal mulai TK, SMP Islam, SMU, SMK, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Aliyah kegamaan, Perguruan Tinggi (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ekonomi Latifah Mubarokiyah serta Pondok Remaja Inabah. Didirikannya Pondok Remaja Inabah sebagai wujud perhatian Abah Anom terhadap kebutuhan umat yang sedang tertimpa musibah. Berdirinya Pondok Remaja Inabah membawa hikmah, di antaranya menjadi jembatan emas untuk menarik masyarakat luas, para pakar ilmu kesehatan, pendidikan, sosiologi, dan psikologi, bahkan pakar ilmu agama mulai yakin bahwa agama Islam dengan berbagai disiplin Ilmunya termasuk tasawuf dan tarekat mampu merehabilitasi kerusakan mental dan membentuk daya tangkal yang kuat melalui pemantapan keimanan dan ketakwaan dengan pengamalan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Dalam melaksanakan tugas sehari-hari, Abah Anom menunjuk tiga orang pengelola, yaitu KH. Noor Anom Mubarok BA, KH. Zaenal Abidin Anwar, dan H. Dudun Nursaiduddin.

Sumber : http://www.suryalaya.org/ver2/riwayat2.html

Dasar Hukum Berthoriqot

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 28 Januari 2013 | 02.16


Segi eksistensi/perwujudan amalan thoriqot bertujuan melaksanakan Syari’at Islam secara keseluruhan, tertib dan teratur serta teguh di atas norma-norma yang dikehendaki Allah serta Rasul-Nya.


Kita singkap thoriqot berlandaskan pada Firman Allah dalam Al-Qur’an yang berbunyi sebagai berikut :
wa-allawi istaqaamuu 'alaa alththhariiqati la-asqaynaahum maa-an ghadaqaan
Artinya : Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak). (QS. Al-Jin : 16).
wa-annaa minnaa alshshaalihuuna waminnaa duuna dzaalika kunnaa tharaa-iqa qidadaan
Artinya : Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS. Al-Jin : 11).
yahdii bihi allaahu mani ittaba'a ridhwaanahu subula alssalaami wayukhrijuhum mina alzhzhulumaati ilaa alnnuuri bi-idznihi wayahdiihim ilaa shiraathin mustaqiimi
Artinya : Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah : 16).
rabbu almasyriqi waalmaghribi laa ilaaha illaa huwa faittakhidzhu wakiilaan
Artinya : (Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung. (QS. Al-Muzami : 9).
Ayat tersebut di atas oleh para Ulama Tasawuf dijadikan pegangan hokum dalam melaksanakan pengamalan ajaran thoriqot. Karena dengan mengamalkan thoriqot akan dapat diperoleh tujuan melaksanakan Syari’at Islam yang sebenarnya (terpadu ibadat jasad, nyawa dan rasa) yang dimaksud untuk tetap senatiasa berdzikir dan bertasbih dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya baik pada waktu pagi dan petang. Dari segi materi pokok amalan thoriqot yang berupa wirid dzikir, baik yang dilakukan secara mula-zamah yakni secara terus menerus, ataupun yang dilakukan secara mukhalafah maksudnya menhindarakan diri dari segala sesuatu yang dapat membawa lupa kepada Allah swt.
Hal ini dinyatakan Allah melalui salah satu Firman-Nya :
yaa ayyuhaa alladziina aamanuu udzkuruu allaaha dzikran katsiiraan

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab : 41)
wasabbihuuhu bukratan wa-ashiilaan

Artinya : Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. (QS. Al-Ahzab :42)
Berdasarkan bunyi ayat ini maka jelas bahwa Allah telah memerintahkan kepada sekalian manusia yang beriman untuk tetap senatiasa “Berdzikir dan Bertasbih” dengan menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya baik waktu pagi dan petang, siang ataupun malam, selama hayat masih dikandung badan, guna memohon ampun kepada-Nya. Sebab manusia tidak bisa terlepas dari dosa dan noda, baik ucapan maupun perbuatan sering melangar larangan Allah. Dijelaskan dalam Firman-Nya :
waalladziina idzaa fa'aluu faahisyatan aw zhalamuu anfusahum dzakaruu allaaha faistaghfaruu lidzunuubihim waman yaghfiru aldzdzunuuba illaa allaahu walam yushirruu 'alaa maa fa'aluu wahum ya'lamuuna
Artinya : Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri229, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali-Imron : 135).
Berdzikir itu mengharapka ridho serta ampunan Allah swt. Segala kesalahannya akan diampuni-Nya apabila cepat-cepat mohon ampun dan bertaubat. Karena orang yang baik, bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah, tetapi orang yang baik adalah yang sanggup memperbaiki dirinya dari segala kesalahan yang pernah dilakukannya.

Arti Thoriqot dan Tashawwuf


Dalam ilmu tasawuf diterangkan, bahwa Thoriqot, atau yang lebih dikenal Tarekat ialah jalan atau petunjuk, atau perbuatan untuk melaksanakan suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dicontohkan oleh Rosullullah saw. serta dikerjakan oleh para Sahabat, para Tabi’in, para Tabi’it Tabi’in, dan seterusnya turun temurun sampai kepada Guru Mursyid, para Ulama secara bersambung dan berantai hingga pada masa kini.

Dalam ilmu tasawuf, bahwa Sunnah Nabi itu harus dilakukan dengan Thoriqot. Sesuai dengan maksud tersebut Rasullullah saw. bersabda :

“Syariat itu ucapanku. Thoriqot itu perbuatanku. Hakikat itu merupakan tingkah laku daripadaku, dan Ma’rifat itu pokok dasar (modal) atau pangkal kekayaan (baik lahir maupun batin).’ (HR. Anas bin Malik).

Dengan demikian dapatlah dimengerti bahwa semua bimbingan peunjuk guru itu dinamakan Thoriqot. Dan Guru pertama umat Islam ialah Nabi Muhammad saw. Setelah Nabi wafat diteruskan oleh pewarisnya, yakni para Sahabat/Ulama. Para Ulama itu penerima/pemegang amanat para Rasul Allah. Dan mempunyai kedudukan tersendiri, kedudukan yang tidak mudah dicapai oleh sembarang orang. Kelanjutan hadist menerangkan bahwa :

“Para Ulama itu adalah pewaris para Nabi”. (HR. Turmudzi).

Thoriqot itu merupakan saluran dari pada Tasawuf. Prof. Dr. Aboebakar Aceh mengartikan Thoriqot itu sebagai berikut, “Thoriqot yaitu jalan menuju Tuhan, yang dapat membawa manusia itu kepada kebahagiaan dunia dan akhirat”. Sedangkan Prof. Buya Hamka, mengatakan , “Maka diantara makhluk dan Khaliq itu ada perjalanan yang harus kita tempuh. Inilah yang kita katakan Thoriqot”.

Dengan beberapa pengertian para Ulama di atas, jelas bagi kita bahwa Thoriqot itu suatu jalan atau cara yang ditempuh oleh seseorang penganutnya guna mendekatkan dirinya kepada Allah swt., serta mencari keridhaan-Nya dalam bentuk beribadat secara khusu’ baik lahir maupun batin. Demikianlah Thoriqot itu merupakan tindak lanjut dalam perkembangan Tasawuf yang kian hari kian banyak jumlah pengikutnya, hingga kepada para Ulama masa kini, bahkan hingga sampai masa yang akan datang.

Thoriqot bukanlah alairan kepercayaan atau aliran kebatinan, tetapi Thoriqot adalah bagian dari ajaran agama Islam yang terpenting. Disimpulkan atas tiga ajaran pokok sesuai petunjuk Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim, “Islam, Iman, Ihsan”.
-                           * Untuk mengetahui Islam pelajarilah ilmu Fiqih.
-                           * Untuk mengetahui Iman pelajarilah ilmu Ushuluddin.
-                           * Untuk mengetahui Ihsan pelajarilah ilmu Tasawuf/Thoriqot.

Tasawuf/Thoriqot yaitu jalan yang harus ditempuh oleh setiap Muslimin untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya, dengan Mahabbah, serta melakukan ibadah kepada Allah swt., seakan-akan melihat kepada-Nya. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Malaikat Jibril dalam menyampaikan wahyu-Nya kepada Nabi Muhammad saw. dengan bentuk pertanyaan, “Ajari aku tentang ihsan.” Kemudian dijawab oleh Nabi :

“Bahwa engkau menyembah Allah solah-olah engkau melihat-Nya, walupun engkau tidak dapat melihat-Nya, namun sesungguhnya Allah melihat engkau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan perkataan lain, diri kita setiap saat selalu terkontrol, karena sesungguhnya Allah swt. berada disisi kita, sehingga terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Bila Islam sebagai pembinaan; dan Iman sebagai dasar pemikiran maka Ihsan merupakan dasar tujuan, tujuan akhir hayat manusia. Karena itu bertasawuf/berthoriqotlah agar tercapai tiga dasar Dienul Islam yang kokoh tak terpisahkan.

Dari sekian banyaknya Thoriqot Islam, terdapat dua Thoriqot yang digabung, yaitu “Thoriqot Qodiriyyah dan Naqsabandiyyah”. Adapun metode pengamalan Thoriqot Qodiriyyah ialah mengamalkan dzikir kepada Allah secara jahar (dibaca keras). Sedangkan Thoriqot Naqsabandiyyah melaksanakan dzikir khafi (yang diingatkan di dalam hati). Keduanya harus diamalkan secara terpadu, kontinyu dan teratur. Maksudnya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, mempertebal iman, memperkokoh benteng pertahanan batiniah dari segala godaan syetan dan nafsu angkara murka serta pengaruh-pengaruh lingkungan yang negatif. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. yang artinya, “Orang yang kuat imannya ia mempunyai kemampuan untuk menguasai dirinya, karena hati diisi dengan dzikrullah, ingat selalu hanya kepada Allah swt.” (Al Hadist).
Demikian syariat dan hakikat keduanya tidak bisa dipisahkan.

Arti Tashawwuf
Tashawwuf atau yang biasa disebut tasawuf, berasal dari kata shafa (bersih), karena kriterianya ialah kebersihan (kesucian hati). Dengan mengikhlaskan pengabdian hanya kepada Allah swt.
Tasawuf adalah bagaikan lautan dasar dzikir Laa Ilaaha Illallah. Ibadah yang tidak dengan dzikir (ingat) kepada Allah adalah gerak-gerik kosong atau hampa. Oleh karena itu Allah memperingatkan dalam Al Quran :
fawaylun lilmushalliina
Artinya : Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,(QS. Al-maa’un : 4).

alladziina hum 'an shalaatihim saahuuna
Artinya : (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,(QS. Al-maa’un : 5).

Maksudnya, dia melakukan shalat hanya dengan fisiknya namun tidak ada pengaruhnya shalat itu pada hatinya. Fisik menghadap Kiblat tetapi hati tidak khusu’, atau yang selalu melalaikan, acuh akan waktu awal shalat (selalu shalatnya akhir bahkan kelewat). Sedangkan unsur-unsur tasawuf antara lain, ialah tawakkal, sabar, tekun, khusu’ beribadah memusatkan hatinya hanya kepada Allah swt.
-       * Bertasawuf selalu menjaga keadaan ingat kepada Allah;
-       * Bertasawuf ialah membersihkan hati dan bermujahadah kepada Allah;
   * Bertasawuf yaitu menghias diri dengan akhlaq terpuji, melepas diri dari akhlaq yang tercela dan mendekatkan diri kepada Allah seru sekalian alam;
-  * Bertaswauf orang ingin hatinya dibersihkan Allah dan yang masuk ke dalam hakikat orang yang dapat merasakan lezatnya berdzikir kepada Allah swt.;
-        * Bertasawuf permulaannya ma’rifatullah dan akhirnya mentauhidkan Allah.

Jadi dengan melaksanakan ajaran tasawuf Islam berarti telah mengikuti jalan lurus yang telah ditempuh oleh keempat golongan, yaitu :
    
Para Nabiyullah
Para Nabi Allah merupakan utusan yang pertama dan utama, karena mereka telah menempati ranking tertingi dalam pengabdian kepada Allah swt. dengan tugas memimpin umat ke jalan yang lurus yang ditunjuki-Nya dengan beraneka ragam derita/cobaan yang dialaminya.

        Para Sahabat
Para Sahabat karib Nabi Muhammad saw., yaitu Abu Bakar Siddiq, Umar, Ustman, dan Ali bin Abi Thalib. Cintanya kepada Nabi saw. melebihi cintanya kepada anak dan istrinya. Imannya tak tergoyahkan dalam keadaan bagaimanapun. Mereka benar-benar menjadi tangan kanan Nabi saw. dalam menyiarkan serta mengembangkan ajaran Islam, sehingga agama tersebut dapat berkembang menjadi agama dunia.

        Para Waliyullah
Para Wali Allah yakni mereka yang pada masa hidupnya lebih banyak mengikuti jejak Sahabat Nabi saw. Selalu berkonsentrasi segala ingatan, perasaan, dan tujuannya yang ditujukan semata-mata kepada Allah/dzikirullah selalu, rasa cintanya kepada Allah sangat mendalam.

        Orang-orang yang shaleh.
Berikutnya adalah golongan yang keempat terdiri dari orang-orang shaleh, yaitu orang-orang yang beriman yang mengikuti jejak tiga golongan di atas dam memiliki keahlian tertentu. Keahliannya bukan hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarhanya, melainkan juga untuk kemanusiaan dan agama (mengutamakan mendekatkan diri kepada Allah). Selanjutnya adalah umat Islam yang mengikuti jejak pendahulu mereka yang empat golongan di atas, mereka tidak merasa kebertan sedikitpun dalam enerima syari’at Islam walau harus mengalami ujian yang tidak henti-hentinya. Sejalan dengan Firman Allah ;
faman yuridi allaahu an yahdiyahu yasyrah shadrahu lil-islaami waman yurid an yudhillahu yaj'alshadrahu dhayyiqan harajan ka-annamaa yashsha''adu fii alssamaa-i kadzaalika yaj'alu allaahu alrrijsa 'alaa alladziina laa yu/minuuna
Artinya : Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya503, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.(QS. Al-An”am: 125).

Segi manfaatnya tasawuf merupakan dasar pokok kekuatan batin, pembersih jiwa, pemupuk iman, penyubur amal shaleh semata-mata mencari keridhoan Allah, memperkuat daya juang dengan sifat-sifat; sabar, syukur, ridho, ikhlas, sikap ramah tamah, muka jernih dan bermoral luhur yang kesemuanya itu adalah sifat-sifat yang berniali tinggi. Orang yang lapang dadanya menerima tasawuf Islam pertanda memperoeh hidayah Allah, sebaliknya yang masih merasa berat menerima sebagai pandangan hidupnya, dituntut untuk terus berusaha meraih petunjuk tasawuf/thoriqot itu.

Pandangan yang Keliru terhadap Tarekat

Dari fakta sejarah yang diuraikan, penulisan sejarah Indonesia yang memberikan evaluasi negative terhadap Tarekat, yang dinilai sebagai penyebab utama timbulnya kemunduran Indonesia, adalah keliru. Hasil interpretasi penulis sejarah yang belum memahami hakekat Gerakan Tarekat. Kelompok penulis ini sebenarnya juga tidak mengerti makna eksistensi Tarekat dan aktivitasnya. Dinilai sesederhana yang dilihat hanya pada kegiatan ritualnya semata. Padahal ruang garapan Tarekat seluas kepentingan kehidupan kebersamaan dan kenegaraan. Walau aktivitas utamanya lebih ditamp[akkan merupakan latihan peningkatan pendekatan diri terhadap Allah Robbul Izzati.

Oleh karena itu, akan terlihat Tarekat dengan gerakannya pada setiap zaman mengalami perubahan aktivitasnya. Kurangnya pemahaman hal yang demikian ini akan mengecilkan Gerakan Tarekat hanya sebagai gerakan olah jiwa tenpa terkait dalam kegiatan kebangsaan dan kenegaraan.
Tulisan ini diangkat dengan tujuan untuk membuka kembali realitas sejarah gerakan Tarekat yang tidak hanya sebatas Indonesia, melainkan gambaran tiap gerakannya berkaitan dengan kondisi Internasional.

Tarekat pada Masa Pendudukan Jepang


Pengaruh yang dalam dari kalangan ulama Sufi dan organisasi Tarekat terhadap rakyat tidak terhenti di masa penjajahan Barat, hal ini terbukti pada periode pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945), terlihat perlawanan Ulama Sufi menunjukkan sikap perlawanannya.

Semula kehadiran Jepang di Indonesia karena propagandanya diterima sebagai pembebas. Tetapi kenyataan selanjutnya Jepang yang dihinggapi penyakit mabuk kemenangan, mulai bertindak menindas. Akibatnya adanya blokade dari Sekutu, kondisi kehidupan ekonomi sangat menyedihkan. Sebenarnya kebijakan pendudukan Jepang sangat menguntungkan para ulama Sufi, sebab dalam pembinaan teritorial, Jepang lebih bersedia dengan Ulama non Parpol. Pendekatan terhadap Ulama-ulama Desa, memungkinkan segenap ulama Sufi yang menjadi pimpinan Pondok Pesantren akan mendapat kehormatan. Namun kenyataannya perang Asia Timur Raya menyeret kehidupan umat Islam sangat mengkhawatirkan. Apalagi para petani desa mengalami penyitaan padi miliknya.

Di bawah kondisi kekuatan umat Islam terpecah-pecah, di satu pihak seperti diberikan kesempatan membina organisasi militer modern, 1943 Tentara Pembela Tanah Air (PETA), di lain pihak, para Ulama Sufi mengalami penindasan tentara Jepang terhadap petani. Situasi yang langsung menyakasikan penindasan, menjadikan K.H. Zainal Mustofa dari Pesantren Sukamanah Tasikmalaya, melancarkan gerakan protes pada tanggal 25-2-1944.

Sebelum melancarakan perlawanan fisik, K.H. Zainal Mustofa menyadari kelemahannya. Oleh karena itu, guna menumbuhkan keyakinan dan keberanian tempur maka digunakanlah Metode Dzikir dan Shalawat bagi santri-santri yang bertindak sebagai pasukan sukarela. Selanjutnya K.H. Zainal Mustofa memimpin gerakan protes dengan melancarkan perlawanan bersenjata. Protes ini ternyata mempunyai dampak politik yang mempengaruhi kebijakan pemerintahan Jepang di Tokyo.

Sekalipun tidak berhasil mematahkan kekuatan militer Jepang, pengaruhnya menjadikan Perdana Menteri Koiso menyampaikan perkenan kemerdekaan kelak dikemudian hari (7 September 1944). Bagi Jepang janji ini sebagai sistem persenjataan sosial (sispersos) yang bertujuan melokalisasi pengaruh gerakan protes agar tidak mendapat dukungan dari kalangan politisi. Hasilnya untuk sementara memang benar, kalangan Politisi tidak memberikan dukungan. Kalangan politisi merasa yakin akan tercapainya kemerdekaan Indonesia tanpa dengan mengadakan perlawanan fisik terhadap Jepang.

Setahun kemudian setelah janji tersebut disiarkan, Tentara Peta mengadakan pemberontakan di Blitar (15 Februari 1945). Kedua tokoh, yakni K. Ngahdullah Sirodj dan K. Holil sebagai Ulama Blitar memberikan dukungan terhadap pemberontakan tentara Peta yang dipimpin oleh Supriyadi. Menghadapi perlawanan ini, Jepang kembali melancarkan sispersos yang memungkinkan para politis memfokuskan perhatiannya pada pembentukan Badan Usaha Penyeldik Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), bukan kepada pemberontakan Peta.

Kenyataan sejarah ini, membuktikan Tarekat menjadikan dirinya sebagi kelompok kecil yang kreatif yang menggerakkan mayoritas yang menantikan keteladannya. Gerak kepeloporannya dalam menghadapi penjajah Barat dan Jepang, menghantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaannya. Proklamasi 17 Agustus 1945, bertepatan 9 Ramadhan 1364 H, sebagai puluhan pertama, puluhan rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Sumber : TQN Sejarah, Asal-Usul, dan Perkembangannya (Ponpes Suryalaya).


Hubungan Tarekat dengan Merah Putih

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 27 Januari 2013 | 23.57


Hubungannya gerakan Tarekat dengan Merah Putih yang menjadi cikal bakal bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat dilihat dari budaya mengibarkan merah putih atau membalut merah putih pada bagian atap rumah atau suhunan yag sering disebut juga dengan istilah bubungan.


Istilah suhunan dalam bahasa Indonesia sering kehilangan hu, menjadi Sunan. Para Wali juga bergelar Sunan atau Suhunan. Dengan bertolak dari Hadist Rosullullah saw. :
“Innallaha zawaaliyal ardha masyariqahaa wa magharibahaa, wa’athaniil kanzainil ahmara wa abyadha- sesunguhnya Allah memperlihatkan bumi kepada timur dan baratnya. Allah memberi dua perbendaharaan kepadaku merah dan putih.” (HR. Muslim).

Bertolak dari ajaran ini, betapa besarnya makna dari merah putih. Sehingga dibudayakan di tengah rakyat agar setiap pembangunan rumah diajarkan untuk membalut bagian kerangka atapnya atau suhunannya dengan kain warna merah putih atau dikibarkan bendera merah putih. Dan juga dalam kegiatan selamatan terutama pada peringantan hari besar Islam menggunakan simbolisasi warna merah putih, meskipun hanya pada pewarnaan bubur.

Sumber : TQN Sejarah, Asal-Usul, dan Perkembangannya (Ponpes Suryalaya)

Tarekat di Masa Gerakan Nasional


Memasuki abad ke-20 situasi tantangan berubah secara derastis. Peralihan dari masa imprealisme klasik ke imprealisme modern menjadikan Indonesia sebagai sumber bahan mentah dan pasar dari hasil industri penjajah. Untuk memenuhi kebutuhan ini Belanda menjalankan Politik Pintu Terbuka yang sudah dimulai 1870. Selain itu guna memenihi kebutuhan tenaga kerja yang terdidik dan murah dijalankan Politik Etis (1901).


Menghadapi perubahan ini Kalangan Tarekat tidaklah menentang adanya kebangunan dan kesadaran berpolitik dan berbangsa yang dimulai dengan membanguin organisasi massa dan po;itik serta ekonomi. Untuk menghadapi tantangan pendidikan Belanda terhadap anak pribumi, kalangan Tarekat mengadakan pembaharuan dengan diterimanya pendidikan pesantren yang selama perang tidak sempat dibangun. Dibidang ekonomi kalangan Terekat menampakkan dukungannya terhadap upaya penciptaan kesejahteraan rakyat. Lebih-lebih menghadapi gerakan politik kalangan Ulama Tarekat mendukung sepenuhnya usaha Pemerintahan Sendiri Self Government.

Menghadapi gerakan Komunis yang akan menyusup dalam tubuh Serikat Islam, para Ulama Tarekat tidak ada seorangpun yang menjadi pendukung ideologi komunis. Di luar Tarekat memang terdapat Haji Misbah yang menjadi pendukung utama gerakan komunis.

Kesertaan Ulama Tarekat terhadap gerakan Nasional tidak hanya memberikan dukungan moril terhadap pimpinan oragnisasi Islam. Tetapi sejak lama para Ulama Tarekat ikut serta menciptakan satu bahasa komunikasi. Semula terpenuhi dengan adanya Aksara Kesatuan dengan menggunakan Huruf Arab Melayu atau Arab Jawi, mulai dikembangkan Bahasa Melayu Pasar. Tetapi dengan adanya kebijakan politik bahasa dari pemerintahan Belanda maka umat Islam mengmbangkan Bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Tasawuf Tanpa Thariqah sama dengan Nol

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 22 Januari 2013 | 00.31


Tasawuf Tanpa Thariqah sama dengan Nol

Sebagian orang sering tumpang-tindih dalam memahami tasawuf dan tarekat (thariqah). Kadang, keduanya juga dianggap berdiri sendiri dan terpisah. KH Luqman Hakim yang dikenal sebagai pakar sekaligus pelaku thariqah membeberkan mengenai tasawuf, thariqah, mursyid, mu’tabaroh dan ghoiru mu’tabaroh, dan beberapa hal mengenai thariqah.

Berikut petikan wawancara Abdullah Alawi dari NU Online bersama KH Luqman Hakim beberapa waktu lalu dalam sebuah acara pertemuan para sufi dunia di Jakarta yang diselenggarakan oleh PBNU.

Bagimana kaitan antara tasawuf dan thariqah?

Orang yang bertasawuf tapi tidak bertarekat, itu nol. Orang bertoriqoh, tapi tak bertasawuf, juga nol.

Penjelasannya bagaimana?

Kalau orang bertasawuf saja, tapi tidak berthariqah, dia akan sulit mengamalkan ilmunya. Jadi, ibarat begini, untuk masuk ke dalam Masjidil Haram, lho pintunya kok banyak banget ini. Padahal dia kan butuh satu pintu saja untuk masuk. Nah, kalau dia ngawur, malah dia ingin manjat. Masjidil Haram masa dipanjat. Padahal udah ada pintunya. Atau begini, orang banyak sekali memiliki bumbu. Bumbunya sudah lengkap. Ini ilmunya sudah lengkap. Gimana ya, ngulek ini? Oh, dia butuh seorang pemandu. Kalau bikin sayur asem itu, ini bumbunya. Kalau sayur lodeh itu, ini bumbunya. Kalau dia ngawur, wah, saya punya bumbu lengkap. Saya bikin makanan yang lengkap juga. Semua bumbu diulek semua di situ. Begitu dimasak, rasanya jadi heran. Nggak kemakan. Banyak orang mabuk dia, sinting dia, nah, itu syetan masuk.

Tapi kalau sebaliknya, thariqah tanpa ilmu tasawuf itu bagaimana?

Artinya dia, ibaratnya, dia nggak tahu makanan itu beracun apa nggak. Dia nggak tahu porsi maknnya seberapa. Padahal kalau anda misalnya, mas ini satu meja ini berbagai makanan untuk anda. Kalau orang tidak punya tasawuf, ini milik saya semua. Makan semua kalau begitu. Keracunan dia. Padahal yang dibutuhkan satu piring. Ambil saja yang pas. Udah. Walaupun itu milik anda semua. Masak anda makan semua? Kalau nggak ada ilmunya, bisa-bisa begitu, kan.

Kalau sudah berthariqah, bukannya sudah berguru, dan kalau sudah berguru, bukannya secara otomatis sudah dibimbing?

Artinya, kalau gurunya, pasti sudah bertasawuf. Muridnya juga dibimbing bertasawuf. Diajarin ngaji, ini itu, itu sekaligus bertasawuf. Maksudnya begitu.

Di NU ada Jam’iyah Ahlu Thoriqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman). Nah, di Jatman terdiri dari berbagai thariqah. thariqahnya yang mu’tabaroh. Berarti kalau ada mu’tabaroh ada yang ghairu mu’tabaroh

Jadi, tarekat itu begini, mu’tabaroh dan ghair mu’tabaroh itu hanya soal silsilah, sanad. Ada yang disebut tidak mu’tabaroh karena ada toriqoh yang sanad tidak jelas sampai ke Rasulullah. Kalau silsilah sanadnya ‘an ini ‘an ini sampai Rasulullah, jelas betul, sohibul musnid ini bener-bener diakui, oh ya, ini memang benar dari Rasulullah. Misalnya orang bikin sanad sendiri, nggak jelas, nggak dikenal semua, ya nggak mu’tabar. Gitu aja. Seperti hadist sohih, daif, hasan dan seterusnya.

Yang berhak mengatakan mu'tabaroh dan ghair mu’tabaroh itu siapa?

Itu kesepakatan kaum sufi, seperti kesepakatan ahli hadis. Ahli hadist sendiri menentukan ini sahih, ini daif, itu kan bukan dari Kanjeng Nabi. Itu kan kesepakatan komunitas aja.

Setuju dengan adanya label ghair mu’tabaroh kepada kalangan sufi tertentu? 

NU menolak memasukan sebagai toriqoh mu’tabaroh karena sanadnya ada yang tidak sampai Rasulullah. Jadi seperti itu. Banyak orang, oh saya mau bikin majlis zikir, itu bagus. Tetapi tidak disebut sebagai toriqoh, kan begitu aja. Jadi beginilah, di toriqah itu kan ada amaliyahnya. Amaliyahnya itu memang dari Rasulullah.

Diajarkan langsung?

Iya. Melalui zikir. Zikirnya begini. Rasulullah dulu mengajarkan kepada para sahabat itu ada yang satu per satu dipanggil. Ada yang lima orang dipanggil. Sepuluh orang dipanggil. Nah, dari masing-masing itu, mengajarkan pula kepada tabi’in ada yang satu per satu. Nah, ini kenapa sehingga toriqoh itu jadi banyak.

Tapi kenapa penamaan thariqah, misalnya pas zaman Syeikh Abdul Qodir, sementara dia lahir jauh masa Nabi?

Makanya penamaan itu pun tidak mutlak. Suatu ketika, sebenarnya alurnya ini sama dengan Syekh Abdul Qodir, tapi suatu ketika tokoh utamanya, misalnya Tijani, syekh Tijani. Padahal dia sebelumnya, adalah orang Qodiriyah. Itu contohnya. Jadi, ada yang alurnya nanti sanadnya ada yang melalui Abu Bakar, melalui Sayidina Anas, Sayidina Ali. Nah, ini sanadnya itu tadi, sayidina Umar, sayidina Utsman pun ada. Ada yang Uwais al-Qorony, ada. Nabi itu kenapa berbeda-beda ngajarin zikir karena masing-masing harus mengamalkan menurut format sakilah. Sakilah itu menurut kemampuan indiviidual, spiritual masing-masing yang berbeda-beda. Oh, ini yang pas zikirnya Allah saja. Yang ini La Ilaha Illallah. Ini solawatnya begini. Solawatnya kadang berbeda-beda

Berarti kalau  begitu, Nabi Muhammad itu sebagai, katakanlah seorang mursyid itu mengetahui watak para sahabat?

Lha iya. Dan seorang mursyid yang benar harus tahu si murid, calon murid ini bentuknya gelas, apa piring, apa coet. Oh, kalau piring, nasi isinya. Jangan coca cola. Kalau gelas ya, minuman, jangan diisi sambel.

Tapi ada yang harus dibacakan secara umum oleh murid-murid di seluruh thariqah?

Ya, kalau umum itu, kalau makan itu, ibarat nasinya. Nasinya sama, lauknya yang berbeda-beda. Seorang mursyid harus tahu.

Dan itu sudah ada dalam diri mursyid ya? Nggak bisa dipelajari?

Makanya di Al-Quran, surat Kahfi itu, disebutkan waman yudlil falan tazida lahu, waliyyam mursyida. Siapa yang hidupnya dholalah, tersesat, maka dalam hidupnya tidak akan menemukan waliyyan mursyida. Seorang wali yang mursyid. Syarat seorang mursyid harus wali. Banyak wali, tapi belum tentu mursyid. Banyak mursyid, belum tentu wali.

Bagaimana penjelasannya?

Kan banyak mursyid-mursyid itu. Belum tentu dia itu, memiliki kapasitas waliyyan mursyida.

Kalau begitu, tipikal mursyid itu bagaimana?

Mungkin dia masih punya mursyid lagi. Dia hanya diberi lisensi untuk ngajarin thariqah. Tapi posisinya ini bukan mursyid, sebenarnya. Tapi ada yang mengaku mursyid, begitu.

Kayak khalifah, begitu, ya?

Iya. Khalifah ya khalifah.

Kalau nggak salah, saya pernah mendengar tipikal mursyid yang kamil mukamil? 

Kamil mukamil itu sama dengan waliyyam mursyida.

Ada kamil. Ada mukammil?

Kamil mukamil adalah mursyid yang sudah paripurna. Suduh wushul dia sendiri kepada Allah dan diberi opsional, yang memang dari Allah juga untuk membimbing seseorang supaya sampai juga kepada Allah, jiwanya. Sempurna dan juga bisa menyempurnakan orang lain mukammil lighairih.

Pak, kalau melihat sejarah, tasawuf dan kalangan tarekat pernah dituding sebagai penyebab kemunduran umat Islam? Bagaiamana ini, pak?

Itu akibat tekanan sosial, politik, ekonomi, macam-macam, lalu dia lari ke tarekat, dalam kondisi ekslusif. Ada lagi yang dia memang, dia memerankan betul bahwa thariqah itu sebenarnya Islam yang utuh. Jadi, begini, saya sering menggambarkan proses spiritualnya Nabi, di dalam Isra’ Mi’raj. Nabi, ketika mi’raj itu meninggalkan semuanya. Segala hal selain Allah ditinggalkan. Ketika begitu, kelihatannya ekslusif, nih. Begitu ketemu Allah, rupanya belum puncak. Oleh Allah, kamu sekarang dapat tugas, balik ke dunia. Orang sufi yang benar, dia kembali ke dunia. Iya, menjadi biasa lagi. Tidak tampilnya eksklusif. Ini belum selesai nih tasawufnya. Apalagi yang mazdub, wah… belum selesai. Proses.

Justru ketika Nabi ketemu Tuhan itu bukan puncak, ya? 

Bukan. Puncaknya ya ketika kembali ke dunia. Tapi ke dunia bersama Allah sehingga rahmatan lil alamin.

Anggapan penyebab kemunduran umat Islam itu bagaimana?

Itu yang diamati sufi-sufi yang belum selesai tadi.

Kalau misalnya seseorang, saya misalnya, dengan cara yang entah, kemudian, tiba-tiba bisa ketemu seorang mursyid itu karena apa? 

Ya macam-macam. Orang bertemu seorang mursyid itu karena macam-macam. Faktor itu nggak bisa kita duga. Bisa karena kita mencari, baru ketemu. Ada orang yang ngak sengaj, ketemu. Ada orang yang, begini, ibarat berjalan. Ada orang tiba-tiba ketemu di jalan. Ada yang bisa tiba-tiba-tabrakan di jalan. Lho, siapa ini? Mursyid ternyata.

Itu udah petunjuk Tuhan?

Ya.  Cara Allah saja. Tapi kalau orang yang sedang mencari mursyid, itu biasanya ditaqdirkan berthariqah. Tanda-tandanya begini. Kalau belum ketemu, itu soal lain. Suatu ketika akan berthariqah.

Bapak sendiri pengamal thariqah juga?

Ya ada. Sadziliyah, Qodiriyah, Naqsyabandiyah. Tiga.

Bisa mengikuti tiga thariqah berbarengan?

Asal mursyidnya satu. Ibarat kapal, ini ada kapal, sekoci-sekoci, tapi nakhodanya satu. Kalau oh ini ada kapal, kapal, nakhodanya sendiri-sendiri, nggak bisa. Naik sebelah mana? Atau satu nih, nakhodanya banyak. Bingung. Nggak bisa. Silakan kita belajar kepada ulama, kiai, macam-macam ilmu pengetahuan. Tapi soal toriqoh, mursyidnya harus satu.

Kenapa?

Kalau belajar itu kan ibarat membuat menu yang bagus. Ibarat mobil, bengkel sana yang bagus, bengkel sini yang bagus. Tapi tujuan mobil ini kemana, ini harus ada satu tujuan.

Bukannya tujuan setiap thariqah itu sama?  Menghadap Gusti Allah?

Semua sama. Ini berkaitan dengan mursyid itu harus satu. Hati kita itu menolak untuk terbelah, sebenarnya.

Mursyidnya siapa, Pak?

Syekh Solahudin Abdul Jalil Mustaqin dari Tulung Agung.

Ada tokoh sufi atau buku yang paling dikagumi? 

Saya sangat mengagumi kitab al-Hikam.

Ibnu ‘Athoillah?

Ya.

Kenapa?

Karena Ibnu ‘Athoillah itu menyederhanakan wacana tasawuf yang universal sekali, disederhanakan beliau. Dari satu hikmah ke hikmah lain itu adalah urutan perjalanan psikografic para penempuh jalan Allah. Mengalami semua. Semua pengamal thariqah mana pun, mengalami seperti yang di al-Hikam itu. Ada lagi satu kitab, yang saya terjemah juga ke Indonesia, yaitu Risalatu Qusyairiyyah. Kitabnya al-Qusyairi itu kitab utama dalam dunia sufi. Ada lagi kitabnya Abu Thalib Al-Makki. Saya juga kagum sama tafsirnya Syekh Abdul Qodir Al-Jilani, yang enam jilid, yang baru ditemukan oleh cucunya itu. Kitab tafsir yang terbaik di dunia, sekarang ini, karena memadukan syariat dan tasawuf.

Apa nama tafsirnya, Pak?

Tafsir al-Jilani.

Kok bisa baru ditemukan, Pak?

Ditemukan oleh cucunya selama 30 tahun riset beliau dari berbagai perpustakaan di dunia, dan terbagus, terlengkap di Vatican.

Berceceran begitu, ya?

Iya.

Di Sunda, Manaqib Syekh Abdul Qodir Jilani dinamakan Layang Syekh. Itu sudah menyunda sekali. Orang sudah nggak paham, bahwa dulunya ini kegiatan orang thariqah. Itu bagaimana?

Itu nggak apa-apa. Ibaratnya begini, kalau toriqoh itu sebuah pohon, Qodiriyah, pohon ini, berbuah. Dia hanya memetik salah satu buahnya saja. Tapi tidak bisa diklaim ini adalah sebuah pohon, daun, bunga, dan buah. Salah satu buah saja.

Kalau yang semuanya, ya masuk thariqah itu?

Iya. Kita berharap sebanrnya, pelajaran tasawuf harus mulai masuk kurikulumnya mulai TK  sampai perguruan tinggi Islam.

Pendidikan Akhlak, Akidah Akhlak yang ada sekarang itu nggak cukup?

Nggak cukup. Jadi, karena begini, kalau kita lihat buku agama, itu isinya, iman, islam dan taqwa. Ihsannya itu hilang kemana. Hanya saja bagaimana dirumuskan, tasawuf untuk anak TK itu bagaimana. Sebenarnya yang mengajari akhlak juga sebanrnya buah dari tasawuf juga. Tapi harus lebih diperdalam. Misalnya zikir apa yang bisa membimbing anak-anak itu terus-menerus dengan Allah. Kalau saya begini, ngajarin tasawuf itu dari bayi. Contohnya, biasanya ibu-ibu, kalau punya anak, selalu mengajari anak-anak dengan ucapan bayi pertama kali; papa, mama, ibu, bapak, kalau saya nggak. Kalimat yang diajarkan pertama adalah Allah. Entah kedengarannyaawoh, awoh, awoh. Allah.

Di pelajaran, ada iman, ada Islam, dan ihsannya nggak ada. Apakah itu dimungkinkan karena tasawuf itu tidak terukur? Atau memang bagaimana?

Karena memang belum tersistematisir. Seperti ketika dalam munculnya ilmu tasawuf itu muncul baru di abad ketiga hijriyah. Kenapa tidak muncul di zaman sahabat? Karena, kata NABI, sebaik-baik abadku, khoiru quruni, qorni, tsuma qorni, tsuma qorni, tiga abad. Tiga abad ini, umat Islam masih utuh. Setelah itu, nggak karuan akhlaknya. Inilah, para sufi bergerak untuk mensistematisir, menulis buku tasawuf, ini, dan seterusnya. Dulu kenapa nggak ditulis, nggak kayak fiqih? Lha, orang kepribadiannya masih bagus semua, masih utuh.

Sumber : NU Online

Perkembangan Islam di Nusantara

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 17 Januari 2013 | 05.37


Periode perkembangan Islam, di Nusantara yang mengambil waktu abad ke-13, sering dikacaukan sebagai periode masuknya agama Islam ke Nusantara. Masuknya terjadi pada abad ke-7 M, perkembangannya terjadi ditandai dengan danya kekuasaan politik yang menata masyarakat Islam. Hal ini dimulai pada abad ke-9 M, ditandai dengan berdirinya Perlak. Kemudian sejarah menjelaskan adanya Leran Gresik Jawa Timur di bawah pimpinan Fatimah binti Maimun Hibatullah pada bad ke- 11 M. [1] Dua abad sebelum didirikannya kekuasaaan Majapahit yang mengambil lokasi di Trowulan Mojikerto Jawa Timur pada 1292 M.
Masuk dan perkembangan Islam di Indonesia mempunyai ciri tersendiri. Tidak sebagaimanan yang digambarkan oleh sementara penulis sejarah. Sebaliknya dinyatakan oleh Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam, kedatangannya bukanlah bertindak sebagai penakluk seperti halnya Spanyol di abad ke-16 M. Juga tidak menggunakan pedang sebagai alat memaksa pemindahan agama, atau merebut kekuasaan politik pribumi yang telah ada sebelumnya. Melainkan sebagai pedagang yang mengerahkan segenap kemampuannya dan peradabannya untuk dibaktikan mengembangkan ajaran Islam.[2] Menurut istilah R.A. Kern dalam De Islam In Indonesia penyebaran Islam sebagai the penetration facifique - penetrasi secara damai.[3]

Selain sesuai dengan perkembangan Tarekat mulai mempunyai pengaruh besar di abad ke-6 dan 7 H, di Indonesia gaya perkembangan Islamnya menempuh cara yang sama. Oleh karena itu, Dr. Mukti Ali menyatakan keberhasilan pengembang Islam di Indonesia adalah melauli Tarekat dan Tasawuf. Sejak masuknya Islam bangsa Indonesia mengenal ahli fiqih (fuqoha), ahli theology (mutakallimun), namun yang sangat terkenal dalam sejarah adalah Syaikh al Thariqah :
            Hamzah Fansuri,
            Syamsyudin dari Pase,
Nur al Raniri, Abd al Rauf Singkel.

Kemudian menyusul nama Syaikh Tarekat antara lain ;
            Syaikh Yusuf Tajul Khalwati,
            Sayikh Abdus Shamad al Palimbangi,
Sayikh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein al Banjari,

Pengembang Islam yang terkenal pula sebagai Wali Sanga, sangat dikenal oleh masyarakat Islam Indonesia. Bekerja secara kolektif dengan membagi wilayah dakwahnya atas tiga bagian, dengan pembagian rasionya 5;3;1.

Untuk pengembangan Islam di Indonesia Timur dari Jawa Timur dipimpin oleh lima orang Wali :
Maulana Malik Ibrahim di Gresik
Sunan Ampel atau Sunan Rahmat di Surabaya
Sunan Giri di Gresik
Sunan Bonong atau Mahdum Ibrahim di Tuban
Sunan Drajat di Sedayu dekat Gresik

Untuk wilayah Indonesia Tengah pengembangannya dipimpin dari Jawa Tengah oleh tiga Wali :
Sunan Kudus di Kudus
Sunan Kalijaga atau Sunan Lepen di Demak
Sunan Muria di Muria dekat Kudus.

Penembangan Islam di Indonesia Barat akibat Agama Islam dating dari barat maka cukup dipimpin oleh seorang Wali berkedudukan di Cirebon, Sunan Syarif Hidayatullah yang dikenal kemudian setelah wafat sebagai Sunan Gunung Jati.

Dari keterkenalan nama-nama Wali Sanga ini ditengan masyarakat Islam Indonesia, sebagai indicator bahwa penyebaran Islam di Indonesia dapat diterima oleh masyarakat Indonesia melalui Tarekat. Apalagi sikap hidup dari Syaikh Tarekat yang berpihak pada kepentingan rakyat, nama dan ajarannya sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan pemikiran islamnya rakyat serta para penguasa eksekutif.




[1] N.A. Baloch, The Advent of Islam in Indonesia, National Institute of Historical and Cultural Research, Islamabad, 1990, hal. 29.
[2] Dr. A. Mukti Ali, The Spread of Islam In Indonesia. Nida Jogyakarta, 1970, hal. 10.
[3] Ibid.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger