Home » » HIKMAH MALAM KE-25 21-06-2020

HIKMAH MALAM KE-25 21-06-2020

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 22 Juni 2020 | 02.56

HIKMAH MALAM KE 25
TUJUAN TALQIN DAN BAI'AT
Assalamu'alikum wrwb.
Sahabat budiman,
Pada malam ini saya posting kembali, apa tujuan Talqin dan Bai'at, berikut dalil Al Quran dan Haditsnya.
Talqin, itu peringtan guru kepada murid, sedang Bai'at --yang juga dinamakan 'ahad-- adalah sanggup dan setia murid di hadapan gurunya untuk mengamalkan dan mengerjakan segala kebaikan yang diperintahkannya.
Talqin", asal kata dari laqqana, yulaqqinu, talqiinan, artinya "Menuntun, atau tuntunan". Dan merupakan peringatan/tuntunan guru kepada muridnya yang harus diikuti dengan seksama.
Dengan ditalqin dzikir kita akan dapat tuntunan/peringatan. Dengan dasar Firman Allh swt. :
وَّذَكِّرْ فَاِ نَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ
wa zakkir fa innaz-zikroo tangfa'ul-mu`miniin
Artinya : Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya perinagatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Adz-Dzariyyah : 55).
Sahabat,
Talqin, perintah Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya :
لقنواموتكم لااله الاالله
Laqqinuu mautaakum Laa ilaaha illoh
Artinya, "Talqinkanlah oleh kamu orang-orang yang akan mati dengan kalimat Laa Ilaaha Illalaah". (HR. Muslim).
Maksud yang akan mati disini ialah kita orang-orang yang masih hidup yang hatinya belum mampu berdzikir/mengingat Allah, maka segera ditalqinkan/tanyakan kepada Ahlinya/Guru Mursyid.
Hadist tersebut menunjukkan betapa pentingnya "Talqin Dzikir" harus mulai dari sekarang supaya hati kita selalu hidup dan mampu mengingat Allah, baik dalam keadaaan sehat maupun pada waktu akan lepasnya nyawa yang kita cintai.
Jadi talqin dzikir itu bukan hanya penting pada sakaratul maut saja. Karena jika hanya mengandalkan pada waktu akhir hayat, belum tentu dia mampu mengucapkan dzikrullah, karena bukanlah lisan yang bicara semata tetapi harus disertai hati dengan keimanannya.
Sahabat yang budiman,
Banyak hadits yang menerangkan kejadian Nabi mengambil 'ahad pada waktu membai'atkan sahabat-sahabatnya.
Diriwayatkan oleh Ahmad r.a. dan Tabrani r.a. bahwa Rosululloh Sholallohu 'alaihi wa sallam pernah mentalqin sahabat-sahabatnya baik secara berombongan maupun perseorangan.
Talqin berombongan pernah diceritakan oleh Syaddad bin 'Aus r.a. : "Pada suatu ketika kami berada dekat Nabi Sholallohu 'alaihi wa sallam, Beliau bersabda :
هَلْ فِيْكُمْ غَرِيْبْ؟ يَعْنِي مِنْ اَهْلِ الْكِتَابَ؟ فَقُلْتُ : لَا. فَاَمَرَ بِغَلْقِ الْبَابِ وَقَالَ : اَرْفَعُوْ اَيْدِيَكُمْ، وَقُوْلُوُا لَا اِلٰهَ اِلَّا اللَّهُ
Hal fiikum ghoriib? (yakni min ahlil kitaab). Fa qultu : Laa. Fa amaro bi gholqil baabi, wa qoola : arfa'uu aidiikum, wa quuluu Laa ilaaha illalloh.
"Apakah ada Ahli Kitab di antara kalian? Aku menjawab : Tidak ada. Lalu Risululloh Saw. menyuruhku menuyup pintu, dan beliau bersabda : angkat tangan kalian dan ucapkan Laa Ilaaha Illalloh".
Seterusnya Beliau bersabda, "Segala puji bagi Alloh wahai Tuhanku, Engkau telah mengutus aku dengan kalimat ini dan Engkau menjadikan dengan ucapannya karunia Surga kepadaku dan bahwa Engkau tidak sekali-kali menyalahi janji". Kemudian Beliau bersabda pula, "Belumkah aku memberi kabar gembira kepadamu bahwa Alloh telah mengampuni bagimu semua?".
Maka Rosulullah SAW, bersabda :
ما من قوم إجتمعوا يذكرون الله تعالى لايريدون ذالك الا وجهه اللا نادهم مناد من السماء قوموا مغفورلكم قد بد لت لكم حسنات
Artinya, "Tidaklah ada segolongan manusiapun yang berkumpul dan melakukan dzikir dengan tidak ada niat lain melainkan untuk Tuhan semata, kecuali akan datang suara dari langit. Bangkitlah kamu semua, kamu sudah diampuni segala dosamu dan sudah ditukar kejahatannya yang lampau dengan kebajikan".
Sahabat,
Adapun tentang bai'at perseorangan pernah diceritakan oleh Yusuf al Kurani r.a. dan ulama lainnya dengan sanad yang shahih, ia berkata bahwa :
ان عليا سءل النبي صل الله عليه وسلم: يارسول الله دلنى على اقرب الطرق الى الله واسهالها على اباده وافضالها عند الله.
Sesungguhnya 'Ali bertanya kepada Nabi SAW.: "Tunjukkanlah kepadaku jalan terdekat kepada Alloh, yang termudah bagi hamba-hamba-Nya, dan yang paling utama menurut Alloh".
فقال انبي صل الله عليه وسلم: عليك بمداومة ذكر الله
Nabi menjawab: "Engkau harus mendawamkan dzikir kepada Alloh".
افضل ماقلت انا ونبيون من قبل لااله ال الله
Dzikir yang paling utama yang aku baca dan dibaca para nabi sebelum aku Laa Ilaaha Illaloh.
لو ات السماوات السبع والارضين السبع فى كفة ولا اله الا الله فى كفة لر جحت بهن
(Seandainya tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi berada dalam satu daun timbangan, dan Laa Ilaaha Illalloh berada dalam timbangan lain, niscaya timbangan terakhir mengalahkan timbangan yang pertama).
ثم قال: يا علي لاتقوم الساعة وعلى وجه الارض من يقول : الله الله
(Kemudian beliau bersabda: "Wahai 'Ali, kiamat tak akan terjadi pada saat di muka bumi masih ada orang yang berdzikir Allohu Alloh).
قال علي: كيف اذكريا رسول الله؟ فقال النبي صل الله عليه وسلم: غمض عنيك وسمع مني ثلاث مرات ثم قل انت ثلاث مرات و انا اسمع
(Berkata 'Ali Kw.: "Bagaimana aku berdzikir, ya Rasululloh?". Nabi menjawab: "Pejamkan matamu, dengarkan dariku tiga kali, saya akan perdengarkan").
فقال: لا اله الا الله ثلاث مرات مغمضا عينيه, رفعا، صوته، وعلي يسمع. ثم قال: علي لا اله الا الله كذلك، وانبي يسمع
(Lalu Nabi membaca Laa Ilaaha Illaloh tiga kali dengan memejamkan mata dan mengeraskan suaranya, sementara 'Ali mendengarkan. Kemudian 'Ali pun mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh juga, sementara Nabi mendengarkan).
Demikian cara talqin yang disampiakan oleh 'Ali bin Abi Tholib k.w. yang kemudian diterangkan, bahwa talqin dzikir hati yang bersifat batiniyah, dilakukan dengan Isbat tidak dengan Nafi, yaitu dengan lafadz Isim Dzat seperti difirmankan oleh Alloh dalam Al Quran :
قل الله ثم درهم في حوضيهم يلعبون
"Katakanlah "Alloh", kemudian tinggalkan sifat mereka bermain-main didalam kesesatan" (QS. Al An'am : 91).
Nabi memperingatkan Sayyidina 'Ali k.w. dalam sabdanya :
وَلِقَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِعَلِيِّ كَرَمَ اللَّهُ وَجْهَهُ: يَا عَلِيُّو اِغْمِضْ عَنَيْكَ وَالْصَكْ شَفَيْكَ وَاَعْلِ لِسَانَكّ وَقُلْ اللَّهُ اللَّهُ.
وَهَذِهِ نِسْبَةُ الصَدِّيْقِ الْاَعْظَمِ الَّتِيْ اَخَذَهَا بَاطِنًاعَنِ النَّبِيِّ
Wa liqaulihi 'alaihissalaamu li'aliyyi karomallohu wajhah : Yaa Aliyyu ighmidh 'anaika wal shok syafaika wa a'li lisaanaka wa qul Allohu Alloh.
Wa hadzihi nisbahush shiddiiqil a'zhomil latii akho dzaha baathinan 'aninnbiyyi
Artinya, "Juga berdasarkan sabda Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam kepada 'Ali, semoga Alloh memuliakan wajahnya : "Wahai Ali, pejamkan matamu, lekatkan kedua bubirmu, dan lipatkan lidah pada langit-langit mulut dan katakan Allohu Alloh".
"Inilah asal usul dzikir yang diambil oleh Abu Bakar ash Shiddiq secara batin dari Nabi Muhammad Saw."
Sahabat yang mulia,
Manusia pertama yang menerima talqin dzikir ialah Nabi Adam a.s. Sebagaimana digariskan dalam Al-Qur'an :
فَتَلَقّٰۤى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَا بَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
fa talaqqooo aadamu mir robbihii kalimaating fa taaba 'alaiih, innahuu huwat-tawwaabur-rohiim
"Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 37).
Ilham itu kalimat Thayyibah Laa Ilaaha Illallaah yang diajarkan kepada Nabi Adam a.s. dipatuhinya. Sedangkan Nabi Muhammad saw. menerima talqin dzikir di Gua Hira', sesuai dengan wahyu pertama surat Al-Alaq ayat 1-2 sebagai berikut :
اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ
iqro` bismi robbikallazii kholaq
خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ ۚ
kholaqol-ingsaana min 'alaq
Artinya : "Bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan! Yang menciptakan manusia dari segumpal darah". (QS. Al-Alaq :1-2).
Diikrarkan dengan lisan, kemudian hati membenarkan dengan tawajjuh (menghadapkan) diri kita ke hadirat Ilahi Rabbi.
Sahabat yang budiman,
Maksud dan rencana itu tidak akan berhasil, manakala umat manusia tidak ditauhidkan, disatukan hati dan jiwanya dalam satu aqidah yang pantas dan berhak, tidak boleh ada tandingannya, apa dan siapapun yaitu Allah swt. Allah memutuskan dan menetapkan, bahwa hanya Dia sendiri Zat yang harus di-ibadati, dimitoskan dan dikultuskan, tanpa ada tandingan apa atau siapapun. Dengan riset dan observasi yang cermat, teliti, bahwa Dzat Maha Akbar itu adalah Allah sendiri, sebagai Malikal Mulki dan sebagai Rabbu Ma'bud, dimana mendengar dan mentaati-Nya adalah mutlak.
Oleh karena itu Allah berfirman :
فَا سْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
fastabsyiruu bibai'ikumullazii baaya'tum bih, wa zaalika huwal-fauzul-'azhiimu
Artinya : " Maka bergembiralah kami dengan bai'atmu yang telah kamu lakukan itu adalah kejayaan yang agung". (QS. At-Taubah : 111).
Karena inilah Nabi memuji Syaiyyidina Abu Bakar r.a. bukan karena banyak puasa dan shalat, tetapi karena sesuatu yang terhujamkan dalam hatinya.
Firman Allah dalam Al-Quran :
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
allaziina aamanuu wa tathma`innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma`innul-quluub
Artinya : "Dan mereka yang mempunyai iman yang teguh serta tetap tenang hatinya dengan dzikrullah, bukankah dzikrullah itu menenangkan dan menentramkan hati?". QS. Ar-Ra'du : 28).
Jalan atau Thariqah yang kedua macam ini tentang dzikir jahar dan khafi adalah pokok daripada seluruh Thariqah, kemudian tersiarlah dalam pencariannya dengan kurnia Tuhan Yang Maha Pemurah.
Sumber : Kitab Miftahushshudur.
Petani Pohon Anti Gempa
Mahmud J. Al Maghribaen
TQN Ma'had Suryalaya
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger