Latest Post
03.58
TASHOWWUF DAN THORIQOH ITU BERASAL DARI QUR'AN
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 14 September 2018 | 03.58
Diceritakan oleh pengersa Abah Aos, ketika datang utusan dari UII dengan membawa 104 masalah, pertanyaan pertama adalah, "Apa hubungan Tarekat dengan Tasawuf?". Kata Abah, "Islam tidak mengajarkan Tarekat dan Islam tidak Tasawuf. Islam mengajarkan Ath-Thoriqoh dan At-Tashowwuf keduanya kalimah yang berasal dari Al Qur'an.
Thoriqoh itu bukan ajaran baru, thoriqoh bukan bahasa Arab, tapi Qur'an (Firman Alloh), demikian juga Tashowwuf, itu dari Qur'an, yaitu huruf; ta, shod, waw, fa. Kalau Qur'an tidak ada salah satu saja dari huruf ta, shod, waw, fa maka itu bukan Qur'an. Tashowwuf adalah huruf-huruf yang diambil dari Al Qur'an.
Firman Alloh Swt dalam Al Qur'an :
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
Wa an lawistaqoomu 'alath-Thoriiqoti la-asqoinaahum maa-an ghodaqon
"Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)". (QS. Al Jin : 16).
Pertanyaan berikutnya adalah, "Siapa pelaksana ilmu tashowwuf yang pertama kali?". Jawab Abah, "Siapa lagi kalau bukan Rosululloh, Muhammad Saw., adapun kita hanya mengikuti, melanjutkan, melaksanakan bekas beliau, bekas kanjeng Rosululloh Saw.". Sabda Tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani qs., "Ittabi'uu walaa tabtadi'u" (ikuti sunnah-sunnah rosululloh, jangan membuat atau melaksanakan yang tidak dicontohkan dan tidak diperintahkan oleh rosululloh saw.).
Pengamalan tashowwuf inilah yang dinamakan sekarang dengan Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah, disebut Qodiriyyah karena yang menggalakkannya Syekh Abdul Qodir, disebut Naqsyabandiyah, karena yang menggalakkannya ialah Syekh Naqsyabandi. Asalnya dahulu dari "Iqro' Bismi Robbika alladzii kholaq". Iqro' jadi Qodiriyyah Bismi Robbika alladzi kholaq jadi Naqsyabandiyah. Adapun dzikirnya ada 2 (dua), dzikir yang pertama adalah Dzikir Jahar (bersuara) atau disebut juga Dzikir Jasad, letaknya ada di lidah, bibir, suara, kepala, leher, dan di badan (jasad). Dzikir yang kedua, yaitu Dzikir Khofi atau yang disebut juga Dzikir Jiwa yang berada di bawah susu kiri (Qolbu) yang senantiasa tak henti berdenyut, jika berhenti berdenyut berarti jiwa itu telah mati.
وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
Wa an lawistaqoomu 'alath-Thoriiqoti la-asqoinaahum maa-an ghodaqon
"Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)". (QS. Al Jin : 16).
Pertanyaan berikutnya adalah, "Siapa pelaksana ilmu tashowwuf yang pertama kali?". Jawab Abah, "Siapa lagi kalau bukan Rosululloh, Muhammad Saw., adapun kita hanya mengikuti, melanjutkan, melaksanakan bekas beliau, bekas kanjeng Rosululloh Saw.". Sabda Tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani qs., "Ittabi'uu walaa tabtadi'u" (ikuti sunnah-sunnah rosululloh, jangan membuat atau melaksanakan yang tidak dicontohkan dan tidak diperintahkan oleh rosululloh saw.).
Pengamalan tashowwuf inilah yang dinamakan sekarang dengan Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah, disebut Qodiriyyah karena yang menggalakkannya Syekh Abdul Qodir, disebut Naqsyabandiyah, karena yang menggalakkannya ialah Syekh Naqsyabandi. Asalnya dahulu dari "Iqro' Bismi Robbika alladzii kholaq". Iqro' jadi Qodiriyyah Bismi Robbika alladzi kholaq jadi Naqsyabandiyah. Adapun dzikirnya ada 2 (dua), dzikir yang pertama adalah Dzikir Jahar (bersuara) atau disebut juga Dzikir Jasad, letaknya ada di lidah, bibir, suara, kepala, leher, dan di badan (jasad). Dzikir yang kedua, yaitu Dzikir Khofi atau yang disebut juga Dzikir Jiwa yang berada di bawah susu kiri (Qolbu) yang senantiasa tak henti berdenyut, jika berhenti berdenyut berarti jiwa itu telah mati.
Jadi yang disebut thoriqoh itu adalah Dzikir Jahar dan Dzikir Khofi, pekerjaan yang Agung, sebagaimana Firman Alloh Swt.:
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Waladzikrullohi Akbar. Wallohu ya'lamu maa tashna'uuna
Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata :
"Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, ”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Waladzikrullohi Akbar. Wallohu ya'lamu maa tashna'uuna
"Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. Al Ankabut : 46).
Perhatikan, Waladzikrullohi Akbar! Bukan waladzikru alhamduillaah, subhanalloh, allohuakbar, laa ilaaha illalloh, tapi Waladzikru Allohu! Artinya, ibadah yang Agung itu Dzikrulloh (Dzikir kepada Allohu)
Rukun Islam yang 5 (lima) itu adalah ibadah syari'at, wajib dilaksanakan oleh yang mampu. 1). Syahadat, itu ibadah syari'at yang digerakkan dengan lidah dan mesti terdengar oleh telinga, 2). Sholat juga ibadah syari'at ada gerakannya, kaki menginjak sajadah, lutut bertekuk di sajadah, duduk di sajadah, telapak tangan ke sajadah, jidat juga sujud ke sajadah, 3). Zakat dikeluarkan sampai ke tangan orang menerima, 4). Puasa hanya sampai perut lapar dan haus, 5). Haji hanya sampai ke Mekkah dan Madinah kemudian pulang.
Semua ibadah syari'at itu wajib hukumnya bagi yang mampu, suara syahadat wajib jika bisa bicara, gerakan sholat wajib bagi yang sehat, puasa wajib bagi yang sehat, zakat wajib bagi yang mampu, haji juga wajib bagi yang mampu. Jika tidak mampu pergi haji maka semuanya menjadi ibadah haji secara hakikat. Baca syahadat memenuhi panggilan Alloh, melaksanakan sholat memenuhi panggilan Alloh, membayar zakat memenuhi panggilan Alloh, menjalankan puasa memenuhi panggilan Alloh, pergi haji juga memenuhi panggilan Alloh. "Labbaik Allohumma Labbaik" (Ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanmu).
Semua ibadah Syari'at itu tidak akan sampai kepada Alloh jika tidak dengan Thoriqoh. Syahadat hanya sampai telinga orang, sholat hanya sampai sajadah, zakat hanya sampai tangan orang, puasa hanya sampai lapar dan haus, haji juga hanya sampai Mekah dan Madinah. Tapi dengan adanya Thoriqoh maka syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji akan sampai kepada Alloh Subhana huwa ta'ala
Diceritakan pengersa Abah Aos, "Jangan sampai kejadian seperti seorang Profesor, Rektor IKIP Bandung, mengirim surat ke pengersa Abah Anom. Isi suratnya, "Abah saya mau ziarah ke Abah, tapi saya malu karena saya tidak sholat". Dijawab oleh pengersa Abah, "Den, kalau mau ziarah ke Abah jangan malu-malu, siang-malam oleh Abah diterima, karena Abah mah tidak pernah nyuruh sholat". Gayung bersambut, orang yang tidak sholat menerima surat dari seorang Kiyai Gede se kolong langit Indonesia tapi tidak pernah nyuruh sholat, akhirnya datanglah sang profesor. Ketika datang ke Madrosah, membaca salamnya tidak sambil berdiri, tapi sambil merangkak "Assalamu'alaikum". Dijawab oleh pengersa Abah, "Wa'alaikum salam, mari sini silahkan, berdiri, berdiri". Begitu masuk langsung di "skak" oleh pengersa Abah, "Den, Abah mah tidak pernah nyuruh sholat, sebab yang nyuruh sholat mah Alloh, Abah juga disuruh".
Setelah bercakap-cakap, tidak lama langsung Talqin. Setelah Talqin bercakap-cakap lagi, hingga masuklah waktu Dhuhur. Abah Anom lalu berdiri, "Den, permisi Abah mau sholat dhuhur dulu". "Saya ikut Abah", kata profesor. "Bukankah Aden tidak sholat?". Dijawab sama profesor, "Gak bah, saya juga dulu sholat, tapi setelah jadi profesor saya berhenti sholatnya, karena saya mikir, kantor ditinggalkan, dikunci, masuk masjid untuk sholat, tapi sedang sholat inget kantor". Lalu saya berfikir, "Bukankah Rosul memerintahkan sholatlah seperti aku sholat", tapi tidak mungkin sholat rosul seperti ini, makanya saya berherhenti sholat". Nah sekarang saya mau sholat lagi setelah tahu jawabannya dari Abah.
Setelah bercakap-cakap, tidak lama langsung Talqin. Setelah Talqin bercakap-cakap lagi, hingga masuklah waktu Dhuhur. Abah Anom lalu berdiri, "Den, permisi Abah mau sholat dhuhur dulu". "Saya ikut Abah", kata profesor. "Bukankah Aden tidak sholat?". Dijawab sama profesor, "Gak bah, saya juga dulu sholat, tapi setelah jadi profesor saya berhenti sholatnya, karena saya mikir, kantor ditinggalkan, dikunci, masuk masjid untuk sholat, tapi sedang sholat inget kantor". Lalu saya berfikir, "Bukankah Rosul memerintahkan sholatlah seperti aku sholat", tapi tidak mungkin sholat rosul seperti ini, makanya saya berherhenti sholat". Nah sekarang saya mau sholat lagi setelah tahu jawabannya dari Abah.
Jadi, seorang profesor mikir, "ngantor tidak, sholat juga tidak, karena kantor ditinggalkan untuk sholat tapi ketika sedang sholat ingat kepada kantor", itulah pemikiran Profesor H. Oteng Sutisna Rektor IKIP Bandung, beliau menjadi Ikhwan "Totok" sampai akhir hayatnya menjadi murid pengersa Abah Anom. Itu berkat dari hasil pencarian, akhirnya masuk thoriqoh, bukan ganti agama tapi belajar dzikir. Sebab syahadat, sholat, zakat, puasa, haji hanya dikerjakan dengan syari'at. Sedang ibadah syari'at itu terbatas dengan waktu dan tempat, jika sudah ditalqinkan dzikir maka sepanjang hidupnya menjadi ibadah. Sabda pengersa Abah Aos, "Talqin itu menghidupkan orang yang mati, atau membangunkan orang yang sedang tidur. Kita semau sudah ada yang membangunkan, tidak akan tidur lagi, dan tidak akan mati lagi". Alhamdulillaah.
Syari'at itu ibadah Lahir, Thoriqoh itu Ibadah Batin agar sampai kepada Maqom Hakikat yang Ma'rifat kepada Alloh Subhana huwa ta'ala. Sebagaimana dijelaskan oleh para 'Ulama bahwa, "Assyari'atu aqwali, wa ath-thoriqotu af'ali, wal hakikatu ahwali, wal ma'rifatu ro'sul maali" (Syari'at itu perkataanku, thoriqoh itu perbuatanku, hakikat itu keadaanku, dan ma'rifat itulah modal yang utama) yang merujuk kepada hadits :
Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata :
يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ.
قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ.
قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
"Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, ”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”
Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Wallohu'alam Bishshowab.
Al Fakir,
Mahmud J. Al Maghribi
Panongan, 14-09-2018
21.10
THORIQOH PILIHAN
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 13 September 2018 | 21.10
THORIQOH PILIHAN
Sabda pengersa Abah saat memberikan tugas berat tapi mulia kepada saya, "Berikan Talqin Dzikir kepada siapa saja yang Minta dan Mau". Bahkan pengersa Abah menambahkan, "Kalau sama keluarga atau kerabat, tidak perlu ditanya mau atau tidak, berikan saja".
Ada pertanyaan, "Bagaimana kalau orang yang sudah ditalqin tapi kemudian tidak mengamalkannya?".
Pengersa Abah Jagat menjelaskan saat ada pertanyaan serupa dalam forum wakil talqin di Jagat Arsy, "Kita tidak perlu memikirkan apakah diamalkan atau tidak oleh yang bersangkutan, itu sudah tanggung jawab pengersa Abah Aos dengan kejembaran rahmaniyahnya", soal pengamalan nanti juga ada waktunya, kalau sudah ditalqin maka dia tidak akan kemana-mana lagi (Ruhnya sudah digenggam Syekh Mursyid).
Tapi bagi yang tidak mau, pengersa Abah Aos pernah menyampaikan, ketika ada seorang ikhwan bertanya, "Bolehkan keluar dari thoriqoh?". Jawab pengersa, "Jangankan keluar dari Thoriqoh, mau keluar dari agama Islam juga silahkan".
Allah Ta’ala berfirman :
لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ
Laa ikrooha fiddiini qod tabayyanar rusydu minal ghoyyi
“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256).
Nabi Muhammad Saw. telah bersabda, semua umatnya akan masuk surga kecuali bagi yang tidak mau.
Sabda Nabi Saw. :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Kullu ummati yadkhulunal jannata illaa min abaa. Qooluu, "Ya rosululloh waman ya abaa?". Qoola, "Man athoo 'anii dakholal jannata waman 'ashoonii faqod abaa".
“Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasululloh, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).
Sabda Abah Anom, "Ikuti Aos, kalau kalian tidak mau, Abah tidak ngundang kalian datang ke sini".
Shubuh, 10-9-2018
Mahmud J. Al Maghribaen
Sabda pengersa Abah saat memberikan tugas berat tapi mulia kepada saya, "Berikan Talqin Dzikir kepada siapa saja yang Minta dan Mau". Bahkan pengersa Abah menambahkan, "Kalau sama keluarga atau kerabat, tidak perlu ditanya mau atau tidak, berikan saja".
Ada pertanyaan, "Bagaimana kalau orang yang sudah ditalqin tapi kemudian tidak mengamalkannya?".
Pengersa Abah Jagat menjelaskan saat ada pertanyaan serupa dalam forum wakil talqin di Jagat Arsy, "Kita tidak perlu memikirkan apakah diamalkan atau tidak oleh yang bersangkutan, itu sudah tanggung jawab pengersa Abah Aos dengan kejembaran rahmaniyahnya", soal pengamalan nanti juga ada waktunya, kalau sudah ditalqin maka dia tidak akan kemana-mana lagi (Ruhnya sudah digenggam Syekh Mursyid).
Tapi bagi yang tidak mau, pengersa Abah Aos pernah menyampaikan, ketika ada seorang ikhwan bertanya, "Bolehkan keluar dari thoriqoh?". Jawab pengersa, "Jangankan keluar dari Thoriqoh, mau keluar dari agama Islam juga silahkan".
Allah Ta’ala berfirman :
لَا إكْرَاه فِي الدِّين قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْد مِنْ الْغَيّ
Laa ikrooha fiddiini qod tabayyanar rusydu minal ghoyyi
“Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan” (QS. Al Baqarah: 256).
Nabi Muhammad Saw. telah bersabda, semua umatnya akan masuk surga kecuali bagi yang tidak mau.
Sabda Nabi Saw. :
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
Kullu ummati yadkhulunal jannata illaa min abaa. Qooluu, "Ya rosululloh waman ya abaa?". Qoola, "Man athoo 'anii dakholal jannata waman 'ashoonii faqod abaa".
“Seluruh umatku akan masuk jannah, kecuali yang enggan.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasululloh, siapa yang enggan?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang menaatiku maka dia pasti masuk jannah, sedangkan barangsiapa yang mendurhakaiku maka sungguh dia telah enggan (masuk jannah).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).
Sabda Abah Anom, "Ikuti Aos, kalau kalian tidak mau, Abah tidak ngundang kalian datang ke sini".
Shubuh, 10-9-2018
Mahmud J. Al Maghribaen
02.26
Demikianlah, semua kenikmatan itu hendaklah tidak melalaikan kita dari mengingat Alloh Swt. Orang yang sibuk dengan dzikir sehingga ia lupa berdoa kepada Alloh itu lebih baik dari pada orang yang berdoa tapi hatinya lupa kepada Alloh.
TASHAWUF MENJAGA KESEIMBANGAN DUNIA DAN AKHIRAT
MAKNA ZUHUD
Ketika ada seorang ikhwan bertanya kepada Abah Anom tentang makna dari "zuhud", jawab beliau seraya berdo'a, "Allohummaj’al addunyaa fii aydinaa walaa taj’alhaa fii quluubina" (Ya Alloh jadikanlah dunia ini dalam genggamanku, tapi jangan masuk ia ke dalam hatiku).
Belajar thoriqoh bukan berarti harus meninggalkan dunia. Sebab banyak tudingan jika seseorang telah belajar thoriqoh maka dirinya akan disibukkan dengan wiridan, bahkan saking asiknya beribadah sampai-sampai ia melupakan urusan dunia. Dalam salah satu Manqobah Tuan Syekh Abdul Qodir. "Diriwayatkan, pada waktu Syekh menginjak usia muda belia, berusia 18 tahun. Pada suatu hari yaitu hari Arafah bagi kaum muslimin yang naik haji atau sehari sebelum 'Iedul Adha, beliau pergi ke padang rumput menggembalakan seekor unta. Ditengah perjalanan unta tersebut menoleh ke belakang dan berkata kepada beliau : "Hei Abdul Qodir, kamu tercipta bukan sebagai penggembala unta." --- manqobah ke 8.
Sekelumit dari manqobah tersebut di atas dapat kita petik pelajaran, bahwa Tuan Syekh juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu mengembalakan seekor unta di padang rumput. Jadi semua tudingan itu tidaklah benar, sebab dengan belajar thoriqoh justru kita ingin menyeimbangkan antara kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Sabda Abah Anom, "Ingin dunia? Dzikir. Ingin akhirat? Dzikir".
Pengersa Abah Aos menyampaikan, Nabi Saw. bersabda, "Laa khoiro liman taroka dunyahu li aakhirotihi, walaa akhirotahu lidunyati walakin khairukum man akhadza min hadzihi wa hadzihi" (Tidak baik orang yang meninggalkan dunianya untuk akhirat saja, juga tidak baik orang yang meninggalkan akhirat untuk dunia saja, melainkan harus kedua-duanya secara seimbang).
Maka dari itu, bagi ikhwan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya haruslah menjaga keseimbangan antara kehidupan untuk dunianya dan kehidupan untuk akhiratnya. Diceritakan pengersa Abah Aos, ketika ada ikhwan, seorang Petani datang ke pengersa Abah Anom minta ditalqin, kata pengersa Abah Anom, "Kita belajar thoriqot bukan berhenti nyangkul, malah harus semakin dalam nyangkulnya". Artinya harus semakin giat dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Sabda pengersa Abah Aos, "Kita ini bukan makhluk dunia karena akan ke akhirat, kita juga bukan makhluk akhirat karena masih di dunia. Oleh karenanya jangan sampai mengejar dunia melupakan akhirat, sebaliknya jangan mengejar akhirat melupakan dunia. Harus jaga keseimbangan, sebab bila satu orang hilang keseimbangan menghalangi empat puluh orang (ingin) belajar thoriqoh".
Firman Alloh Subhana huwa ta'ala :
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي
الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Wabtaghi fiimaa aataakallohud daarol aakhiroh. Walaa tansa nashiibaka minaddunyaa, wa ahsin kamaa ahsanallohu ilaika, walaa tabghil fasaada fiil ardhi, innalloha laa yuhibbul mufsidiina
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS. Al Qoshos : 77).
Hidup zuhud bukan berarti harus menjauhi dunia, atau berpakaian compang-camping dan hidup miskin. Melainkan hiduplah sewajarnya, engkau boleh mempunyai rumah yang mewah, mobil yang bagus, pakaian yang indah dan makanlah makanan yang gurih dan lezat. Tapi ingatlah jangan engkau lupa kepada Alloh yang telah memberi kenikmatan itu.
Firman Alloh Swt. :
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Yaa banii aadama qod anzalnaa 'alaikum libaasan yuwaariisau aatikum wariisyan, wa libaasut taqwaa dzaalika khoirun, dzaalika min aayaatillaahi la'allahum yadz-dzakkuruuna
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat". (QS. AL A'raf : 26).
Bersabda Syekh Abu al Hasan as Syadzili ra. :
وقد كان أبو الحسن الشاذلي رحمه الله تعالى يقول لأصحابه "كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطأ الفراش والبسوا ألين الثياب فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر"
Artinya, “Syekh Abul Hasan As-Syadzili pernah berkata kepada muridnya, ‘Makanlah hidangan paling enak, reguklah minuman paling nikmat, berbaringlah di atas kasur terbaik, kenakanlah pakaian dengan bahan paling lembut. Bila satu dari kamu melakukannya lalu berucap syukur, ‘alhamdulillah’, maka setiap anggota tubuhnya ikut menyatakan syukur," (Lihat Syekh Abdul Wahhab Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah).
Sabda Rosululloh Saw. :
يقولُ الرَّبُ عزَّوجلَّ من شَخَلَهُ القرْاٰنُ وَذِكْرِی عَنْ مَسْاَلَتِی اَعْطَیْتُهُ اَفْضَلَ مااُعْطِی السَّا ءِلِين افْضَلُ كلا مِ اللهِ علی سا ءِدِ الكلامِ كَفَضْلِ اللهِ علی خَلْقِهِ
Ya quulurrobu 'azza wajalla min syakholatul qur'aanu wa dzikrii 'an mas-alatii a'thoituhu afdholu kalaamillaahi 'alaa saa-idil kalaami kafadh lillaahi 'alaa kholqihi
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : "Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur'an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta". Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya". (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).
Dengan Dzikir kalimat Laa Ilaaha Illalloh Alloh akan meneguhkan iman kita baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana Firman-Nya :
يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Yu tsabbitullohul ladziina aamanuu bilqowlits tsaabiti fiil hayaatid dunyaa wa fiil aakhiroh, wa yudhillullohuzh zhoolimiina, wa yaf 'alullohu maa yasyaa-u
"Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki". (QS. Ibrohim : 27).
Alhamdulillah, semoga kita lulus, mulus, selamat Dunia dan Akhirat, aamiin.
Al Fakir,
Mahmud J. Al Maghribi
13-09-2018
20.18
Ada pertanyaan :
Kalau Imam Ibnu Katsir sezaman dengan pengersa Abah Aos, kira-kira mau ikut siapa?
Saya jawab, "Saya pasti akan ikut pengersa Abah Aos".
Kenapa saya ikut pengersa Abah Aos? Apa jawabnya?
Ya karena saya sekarang sedang belajar Tashawuf.
Pertanyaan ini muncul, ketika perjalanan dari Pesantren Sirnarasa ke Kuningan. Bukan kebetulan, setelah sampai di Kuningan, paginya ada Ibu yang minta di Talqin. Beres talqin, dengan niat mau syi'ar saya posting di Facebook.
Saya sampaikan, hanya orang yang sudah ditakdirkan yang menerima Talqin ini, adapun orang-orang yang tidak ditetapkan oleh Alloh untuk memiliki kalimat ini, ia tidak akan mau dan juga tidak akan ketemu dengan Mursyid. Hal ini berdasarkan Firman Alloh dalan Al Qur'an Surat Al Kahfi ayat 17 :
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Artinya, "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya".
Kemudian postingan tersebut ada yang mengomentari dengan mengutip tafsir Ibnu Katsir terkait dengan QS. Al Kahfi ayat 17. Nah, ada orang yang komen, orang ini adalah teman saya, yang memang pengajiannya lebih menyukai kewahabi-wahabian, walau ia menolak untuk disebut wahabi. Dan memang orang-orang yang sering kita sebut wahabi, mereka tidak mau dirinya disebut wahabi, wallohu'alam.
Ketika kami bertemu tatap muka, beliau itu kembali mengulas, bahkan menyampaikan bahwa Ustadz Khalid Basalamah pernah mengatakan seandainya Imam Ibnu Katsir masih ada sekarang maka jangan ikut pendapat saya, ikutlah pendapat Ibnu Katsir. Spontan saya jawab, "Kalau saya, seandainya Ibnu Katsir sezaman dengan Abah Aos maka saya akan ikut pendapatnya Abah Aos".
Subhanalloh... Baru ini kan? Baru dengar saya juga, belum pernah ada kiyai yang berkata begini.
Tentu saja saya punya alasan yang kuat sehingga berani mengatakan demikian. Ada banyak alasannya :
Yang pertama, saya tidak berguru langsung dengan Imam Ibnu Katsir, sedang saya saat ini sedang berguru kepada pengersa Abah Aos.
Kedua, ada perbedaan ulama Tashawuf dengan ulama tafsir atau ulama fiqih.
Apa perbedaannya?
Kita lihat kitab-kitab karya mereka, kalau ulama tafsir dan fiqih, isinya adalah tentang ilmu dan hukum dalam Islam. Ilmu yang disampaikan adalah berdasarkan pengetahuan yang ada di dalam kepala. Tidak sedikit ulama (ahli ilmu) yang justru tidak tahu cara mengamalkan ilmunya.
Berbeda dengan ulama tashawuf, contoh kitab karya Imam Al Ghazali, atau karya Tuan Syekh Abdul Qodir Jailani, karya pengersa Abah Anom dan juga kitab karya pengersa Abah Aos. Isi yang disampaikan adalah hasil daripada amaliyah. Sehingga cara penyajiannya pun berbeda, tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang ada di kepala, tapi yang disampaikan disertai dengan "Rasa" (bekas dari amaliyah). Makanya kata pengersa Abah, "Kita mah menyampaikan ilmu yang sudah lecek, bekas amaliyah guru-guru kita yang juga sudah kita amalkan".
Walau demikian, penting kita mempelajari ilmu dari ulama fiqih dan tafsir. Pengersa Abah sangat menekankan pentingnya ilmu, tanpa ilmu niscaya kita tidak akan sampai kepada Alloh. Kata pengersa Abah ke saya, ketika usai kuliah subuh di Jagat 'Arsy dengan tema pentingnya ilmu, "Kiyai, itu yang disampaikan tadi, emang sudah dari sononya, Alloh juga pertama mengajarkan kepada Nabi Adam ilmu dulu, bukan amal dulu", seraya beliau mengutip Firman Alloh Swt. :
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa, tsumma 'arodhohum 'alal malaaikati, faqoola ambi-uunii bi asmaa-i haa-ulaa-i in kuntum shoodiqiina
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!
Alhamdulillaah, kita sudah dipertemukan dengan pengersa Abah, seorang Mursyid yang tidak hanya memiliki ilmu yang luas, tapi juga tubuh yang perkasa.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Wa qoola lahum innalloha qod ba'atsa lakum thooluuta malikan. Qooluu annaa yakuunu lahul mulku 'alainaa wa nahnu ahaqqo bil mulki minhu walam yu'ta sa'atan minal maali. Qoola innallohash thofaahu 'alaikum wazaadahu basthotan fil 'ilmi wal jismi. Wallohu yu'tii mulkahu mayyasyaa-u. Wallohu waa si'un 'aliimun
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui".
Meskipun sudah bertahun-tahun bersama, ada di hadapan mata, kalau tidak diberikan petunjuk oleh Alloh maka kita tidak akan tahu kalau pengersa Abah itu adalah mursyid.
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Mahmud J. Al Maghribaen
08-09-2018
MURSYID PILIHAN
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Sabtu, 08 September 2018 | 20.18
Ada pertanyaan :
Kalau Imam Ibnu Katsir sezaman dengan pengersa Abah Aos, kira-kira mau ikut siapa?
Saya jawab, "Saya pasti akan ikut pengersa Abah Aos".
Kenapa saya ikut pengersa Abah Aos? Apa jawabnya?
Ya karena saya sekarang sedang belajar Tashawuf.
Pertanyaan ini muncul, ketika perjalanan dari Pesantren Sirnarasa ke Kuningan. Bukan kebetulan, setelah sampai di Kuningan, paginya ada Ibu yang minta di Talqin. Beres talqin, dengan niat mau syi'ar saya posting di Facebook.
Saya sampaikan, hanya orang yang sudah ditakdirkan yang menerima Talqin ini, adapun orang-orang yang tidak ditetapkan oleh Alloh untuk memiliki kalimat ini, ia tidak akan mau dan juga tidak akan ketemu dengan Mursyid. Hal ini berdasarkan Firman Alloh dalan Al Qur'an Surat Al Kahfi ayat 17 :
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Artinya, "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya".
Kemudian postingan tersebut ada yang mengomentari dengan mengutip tafsir Ibnu Katsir terkait dengan QS. Al Kahfi ayat 17. Nah, ada orang yang komen, orang ini adalah teman saya, yang memang pengajiannya lebih menyukai kewahabi-wahabian, walau ia menolak untuk disebut wahabi. Dan memang orang-orang yang sering kita sebut wahabi, mereka tidak mau dirinya disebut wahabi, wallohu'alam.
Ketika kami bertemu tatap muka, beliau itu kembali mengulas, bahkan menyampaikan bahwa Ustadz Khalid Basalamah pernah mengatakan seandainya Imam Ibnu Katsir masih ada sekarang maka jangan ikut pendapat saya, ikutlah pendapat Ibnu Katsir. Spontan saya jawab, "Kalau saya, seandainya Ibnu Katsir sezaman dengan Abah Aos maka saya akan ikut pendapatnya Abah Aos".
Subhanalloh... Baru ini kan? Baru dengar saya juga, belum pernah ada kiyai yang berkata begini.
Tentu saja saya punya alasan yang kuat sehingga berani mengatakan demikian. Ada banyak alasannya :
Yang pertama, saya tidak berguru langsung dengan Imam Ibnu Katsir, sedang saya saat ini sedang berguru kepada pengersa Abah Aos.
Kedua, ada perbedaan ulama Tashawuf dengan ulama tafsir atau ulama fiqih.
Apa perbedaannya?
Kita lihat kitab-kitab karya mereka, kalau ulama tafsir dan fiqih, isinya adalah tentang ilmu dan hukum dalam Islam. Ilmu yang disampaikan adalah berdasarkan pengetahuan yang ada di dalam kepala. Tidak sedikit ulama (ahli ilmu) yang justru tidak tahu cara mengamalkan ilmunya.
Berbeda dengan ulama tashawuf, contoh kitab karya Imam Al Ghazali, atau karya Tuan Syekh Abdul Qodir Jailani, karya pengersa Abah Anom dan juga kitab karya pengersa Abah Aos. Isi yang disampaikan adalah hasil daripada amaliyah. Sehingga cara penyajiannya pun berbeda, tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang ada di kepala, tapi yang disampaikan disertai dengan "Rasa" (bekas dari amaliyah). Makanya kata pengersa Abah, "Kita mah menyampaikan ilmu yang sudah lecek, bekas amaliyah guru-guru kita yang juga sudah kita amalkan".
Walau demikian, penting kita mempelajari ilmu dari ulama fiqih dan tafsir. Pengersa Abah sangat menekankan pentingnya ilmu, tanpa ilmu niscaya kita tidak akan sampai kepada Alloh. Kata pengersa Abah ke saya, ketika usai kuliah subuh di Jagat 'Arsy dengan tema pentingnya ilmu, "Kiyai, itu yang disampaikan tadi, emang sudah dari sononya, Alloh juga pertama mengajarkan kepada Nabi Adam ilmu dulu, bukan amal dulu", seraya beliau mengutip Firman Alloh Swt. :
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa, tsumma 'arodhohum 'alal malaaikati, faqoola ambi-uunii bi asmaa-i haa-ulaa-i in kuntum shoodiqiina
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!
Alhamdulillaah, kita sudah dipertemukan dengan pengersa Abah, seorang Mursyid yang tidak hanya memiliki ilmu yang luas, tapi juga tubuh yang perkasa.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Wa qoola lahum innalloha qod ba'atsa lakum thooluuta malikan. Qooluu annaa yakuunu lahul mulku 'alainaa wa nahnu ahaqqo bil mulki minhu walam yu'ta sa'atan minal maali. Qoola innallohash thofaahu 'alaikum wazaadahu basthotan fil 'ilmi wal jismi. Wallohu yu'tii mulkahu mayyasyaa-u. Wallohu waa si'un 'aliimun
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui".
Meskipun sudah bertahun-tahun bersama, ada di hadapan mata, kalau tidak diberikan petunjuk oleh Alloh maka kita tidak akan tahu kalau pengersa Abah itu adalah mursyid.
Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Mahmud J. Al Maghribaen
08-09-2018
00.57
Ikhwan wal akhwat yang berbahagia,
An Abi Hurairoh ra. Qoola, qolannabiyyu Saw. "Ya qulullohu ta'alaa; Anaa inda zhonni 'abdii, wa anaa ma'ahu idzaa dzakaronii, fainna dzakaronii fii nafsihii dzakartuhu fii nafsii, wain dzakaronii fii mala-in dzakartuhu fii mala-in khoirin minhum, wain taqorroba ilayya bisyiirin taqorrobu ilaihi dziroo'an, wa in taqorroba ilayya dziroo'an taqorrobu ilaihi baa'an, wain ataanii yamsyii ataituhu harwalatan
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
MAULID ABAH ITU TANDA TAQWA
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 05 September 2018 | 00.57
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin Washolaatu wassalaamu 'alaa syamsil mursaliin wa qomaarin nabiyyin wa sidrotil muntahal 'arifin sayyidina Muhammadin wa 'alaa aalihii washohbihi ajma'iin.
Ikhwan wal akhwat yang berbahagia,
Alhamdulillah, kita semuanya dibisakan, diundang meskipun tidak pakai undangan untuk bisa hadir di sini, di kejembaran rahmaniah, kampung yang senantiasa dirahmati oleh Alloh.
Alloh subhana huwa ta'ala berfirman :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Yaa ayyuhalladziina aamanudz kurulloha dzikron katsiiron wasahbihuu hubukratan wa ashiilan. Huwalladzii yushollii 'alaikum wa malaaikatuhu liyukh rijakum minazh zhulumaati ilannuur. Wa kaana bilmu'miniina rohiima.
Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman". (QS. Al Ahzab : 41-43).
Dalam firman Alloh di atas sudah sangat jelas bahwa dzikir itu akan mendapatkan rahmat Alloh. Maka tempat dimana ada aktivitas dzikir kepada Alloh, itulah tempat yang diliputi rahmat Alloh Swt. (kejembaran rahmaniah).
Apa itu rahmat Alloh itu?
Rahmat Alloh adalah kasih sayang Alloh kepada makhluk-Nya.
Menurut ulama, setidaknya ada 12 makna dari rahmat Alloh :
- Rahmat bermakna agama Islam.
- Rahmat Alloh bermakna Surga.
- Rahmat Alloh bermakna Hujan
- Rahmat Alloh bermakna Kenabian.
- Rahmat bermakna Nikmat.
- Rahmat berarti al-Quran.
- Rahmat bermakna rezeki.
- Rahmat berarti pertolongan dan kemenangan.
- Rahmat bermakna sehat & afiyat.
- Rahmat berarti cinta.
- Rahmat bermakna keimanan.
- Rahmat berarti taufik (pertolongan untuk amal kebaikan).
Tidak ada nikmat yang lebih agung selain nikmat mendapatkan Ridho Alloh Swt. Kesemuanya itu sudah terangkum dalam munajat yang selalu kita baca yaitu :
اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ اَعْطِنِی مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ
"Wahai Tuhanku, Engkaulah yang kumaksud dan ridho-Mu yang aku cari, berilah aku kemampuan untuk bisa mencintai-Mu dan ma'rifat kepada-Mu".
Alhamdulillah, kita semuanya sudah mendapatkan kedua belas rahmat itu, yaitu 12 huruf yang telah mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya, Dia-lah Alloh, Tuhan Semesta Alam, Asma-Nya sudah terpatri di dalam Qolbu, larut di dalam jiwa kita.
مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Apa saja yang Alloh anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Alloh maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir : 2).
Alhamdulillah....
Ikhwan wal akhwat ra.
Setiap tahun disini, di kejembaran rahmaniah selalu diadakan berbagai kegiatan untuk memeriahkan Maulid pengersa Abah, kesemuanya itu kita lakukan sebagai wujud rasa syukur kita atas nikmat dan karunia Alloh kepada kita sebagai murid-murid beliau. Bersama dengan beliau berarti bersama Alloh dan Rasululloh Saw. Alloh Swt. berfirman dalam hadits Qudsi :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »
An Abi Hurairoh ra. Qoola, qolannabiyyu Saw. "Ya qulullohu ta'alaa; Anaa inda zhonni 'abdii, wa anaa ma'ahu idzaa dzakaronii, fainna dzakaronii fii nafsihii dzakartuhu fii nafsii, wain dzakaronii fii mala-in dzakartuhu fii mala-in khoirin minhum, wain taqorroba ilayya bisyiirin taqorrobu ilaihi dziroo'an, wa in taqorroba ilayya dziroo'an taqorrobu ilaihi baa'an, wain ataanii yamsyii ataituhu harwalatan
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُاْلأَنْبِيَاءِ
Al Ulamaa'u warotsatul anbiya-i
Al Ulamaa'u warotsatul anbiya-i
“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda).
Selain bersyukur, kita hadir di sini tentunya juga sebagai ungkapan rasa terima kasih kita kepada beliau, sebagai wujud syukur kita kepada Alloh Swt. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
Laa yasykurulloha man laa yasykurunnaas
Laa yasykurulloha man laa yasykurunnaas
“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Ikhwan wal akhwat yang berbahagia,
Di dalam Islam terdapat banyak peristiwa-peristiwa atau peninggalan bersejarah yang monumental yang mengandung nilai yang tinggi. Peristiwa atau peninggalan itu wajib dipelihara dan diperingati agar manusia dapat mengambil pelajaran.
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Wadzakkir fainnadz dzikroo tanfa'ul mu'miniina
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman". (QS. Ad dzaariyat [51]: 55).
Kegiatan memperingati peristiwa atau peninggalan yang bersejarah itu, di dalam Al Quran disebut Syi'ar, syi'ar dapat berarti tempat, seperti; Ka'bah, Shafa, Marwah, Arafah, dan al-Masy'ar al-Haram; bisa menunjuk pada waktu, seperti; bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, juga dapat pula menunjuk pada amalan-amalan agama.
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Dzaalika waman yu'adzdzim sya'aa irulohi min taqwal quluubi
"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati". (QS. Al Hajj : 32).
Kegiatan mengagungkan syi'ar Alloh pada ayat ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa makna, antara lain :
Pertama, ihtifal.
Bahwa aktivitas keagamaan yang bernilai syiar, perlu dilakukan secara terbuka, meriah, dan penuh antusiasme, tetapi tetap khidmat dan penuh makna.
Pertama, ihtifal.
Bahwa aktivitas keagamaan yang bernilai syiar, perlu dilakukan secara terbuka, meriah, dan penuh antusiasme, tetapi tetap khidmat dan penuh makna.
Kedua, iltizam.
Bahwa mengagungkan syiar itu merupakan kewajiban agama yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim sebagai bagian dari proses tadzkir, yaitu usaha untuk mengingatkan manusia pada keagungan Allah.
Bahwa mengagungkan syiar itu merupakan kewajiban agama yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim sebagai bagian dari proses tadzkir, yaitu usaha untuk mengingatkan manusia pada keagungan Allah.
Ketiga, itmam.
Bahwa syiar harus dilakukan sebaik dan sesempurna mungkin. Sekadar contoh, dalam konteks syiar haji, Rosululloh memberikan 100 ekor unta sebagai kurban.
Dalam hal ini, kegiatan Maulid Abah Aos yang ke-76 telah dilaksanakan secara terbuka, tercatat ada 4 (empat) event besar yang digelar dengan total 18 sub event. Terdiri dari keagamaan, sosial, seni dan budaya, hingga sport tourism. "Pekan Pesona Pesantren dan Maulid Abah Aos ke-76 ini luar biasa. Bukan hanya penuh dengan inspirasi, tapi sangat potensial sebagai pendukung pariwisata Ciamis. Eventnya sangat meriah. Lalu, jumlah pengunjungnya banyak", ungkap Sekretaris Kementerian Pariwisata, Ukus Kuswara, Sabtu (1/9). - Liputan1.com.
Rangkai Acara Maulid Abah Aos ke-76, sbb :
- Pertandingan Kejuaraan Tenis Meja se-Indonesia.
- Pentas Seni (Pencak Silat, Gembyung, Wayang Ajen, dll.).
- Keagamaan (Haflah Tilawatil Qur'an & Dzikir 76 Jam Non Stop, dll.)
- Pentas Tradisi dan Budaya (Gubyak, Pawai Natura, Parade Janur Kuning, Parade Nasi Liwet, dll.).
Rangkaian acara ini diikuti tidak hanya masyarakat dari Ciamis, Jawa Barat saja, akan tetapi dihadiri oleh peserta dari bebagai Provinsi di Indonesia, tercatat hadir dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, dll.
Alhamdulillaah, kami beserta rombongan dari Tangerang - Banten pun dibisakan hadir. "Semua uneg-uneg terjawab sudah, kami pun bercucuran air mata", kata jamaah ikhwan dari Madrosah Panongan. Sepanjang perjalanan (pulang maupun pergi), tak ada habis-habisnya cerita tentang Abah Aos. Memang demikianlah, setiap orang yang pernah berkunjung ke Pesantren Sirnarasa, selalu menyisakan kebahagiaan karena kemuliaan akhlaq pengersa Abah. Beliau sangat memuliakan setiap tamu yang datang dengan menyuguhkan santapan Jasmani dan Rohani yang sangat lezat.
Nabi bersabda,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ
Idzaa marortum biriyaadhil jannahi farta'uu, qooluu wamaa riyaadhul jannati, Qoolu hilaqudz dzikri
“Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya,”Apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab,”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).” (Riwayat At-Tirmidzi).
Di Sinilah Surga itu, di Kaki Gunung Sawal, Puncak Sirnarasa.
Haturnuhuun, haturnuhun, Abah.... Al Faatihah... Ammin.
Al Fakir,
Mahmud J. Al Maghribaen
Taman Surga, 01-09-2018
08.10
LAA ILAAHA ILLALLOH AMALAN BULAN ROMADHON
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 20 Mei 2018 | 08.10
Hikmah Buka Puasa di Masjid Baiturrahman GMC, 20-05-2018.
Oleh: Mahmud J. Al Maghribaen
MUQODIMAH
Shoimin rahimakumulloh,
Bulan romadhon adalah bulan suci, yaitu bulan diturunkannya kitab suci Al Quran dari yang Maha Suci, oleh malaikat yang suci kepada hamba yang suci yaitu kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagaimana Firman Alloh Swt.:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Pada bulan romadhon kita diperintahkan oleh Alloh Swt. untuk berpuasa selama sebulan. Dengan kita berpuasa maka Alloh Swt. akan mengampunkan dosa-dosa kita, sebagaimana Sabda Rosululloh Saw. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760).
Shoimin rohimakumulloh,
Apakah semua dosa kita yang akan diampuni dengan puasa?
Ternyata tidaklah semua dosa yang akan diampuni, melainkan hanyalah dosa-dosa kecil saja yang dimaksud hadits tersebut. Sebab Nabi Saw. juga pernah bersabda:
«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ»
ash sholatul khomsu wal jum'atu ilaal jum'ati wa romadhoonu ilaa romadhoona mukaffirootun maa bainahunna idzaa ijtanabal kabaair
Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa jika ia menjauhi dosa-dosa besar. (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).
Nah berdasarkan hadits tersebut, ternyata ada syaratnya yaitu menjauhi dosa-dosa besar. Bagaimana kalau kita telah terlanjur mempunyai dosa besar? Maka dosa besar tersebut membutuhkan tobat yang khusus (nashuha).
Mari kita simak kutipan sabda Rosullulloh Saw. ketika beliau menyampaikan Khutbah menjelang Romadhon, sbb :
وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا ، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهَا : فَتُسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ
Was taktsiruu fihii min arba'i khishooli: khoshlataini turdhuuna bihimaa rabbakum, wa khoshlataini laa ghinan bikum 'anhumaa, fa'ammal khoshlataanil lataani turdhuuna bihimaa rabbakum, fa syahaadatu an LAA ILAAHA ILLALLAH wa tastaghfiruunahu, wa ammallataani laa ghinaabikum 'anhaa: fa tus-aluunallaahal jannatu wa ta'uudzuuna bihi minannaar
"Perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhoan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laa Ilaaha Illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka".
Dua hal yang yang mendatang ridho Alloh, yaitu:
- Syahadat
- Istighfar
Dua hal yang kita perlukan adalah sbb:
- Masuk Surga
- Bebas dari siksa Neraka
Syhahadat
Di bulan ini kita dianjurkan oleh Rosululloh Saw. untuk memperbanyak syahadat. Meskipun kita sudah bersyahadat, tidak ada jaminan syahadat kita tidak rusak. Sebab konsekuensi syahadat adalah menyakini dalam hati, kemudian diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.
Nah kalau perbuatan kita terkadang bertentangan dengan esensi syahadat, seperti berbuat maksiat, maka sesungguhnya kita telah merusak kemurnian dari syahadat kita. Sebab ketika seseorang berbuat maksiat maka sesungguhnya imannya telah lepas darinya.
إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبَ الخَلِق ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya iman akan rusak dalam diri kalian laksana rusaknya baju, maka mohonlah kepada Allah untuk memperbarui iman dalam kalbu kalian.”
الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمِانَ لاَ يَزِيْدُ وَ لاَ يَنْقُصُ فَاحْذَرُوْه فَإِنَّهُ مُبْتَدِعٌ
“Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa yang meyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.
Karena iman bisa rusak, bertambah dan berkurang maka kita diperintahkan oleh Rosulloh Saw. untuk senantiasa memperbaharuinya dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh, "Jaddidu imaanakum bi katsroti Laa Ilaaha Illaloh".
Iman yang paling tinggi adalah Laa Ilaaha Illaloh:
اlلْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: “Laa Ilaaha Illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman".
Demikian pentingnya syahadat ini sehingga ketika sholat dalam tasyahud (akar kata syahadat) kita disyari'atkan untuk membaca syahadat. Khusus di bulan ramadhan kita dianjurkan oleh Nabi untuk lebih banyak mengamalkannya, maka dari itu kita dianjurkan untuk banyak-banyak mengucapkan Laa Ilaaha Illaah (Dzikrulloh), lebih daripada bulan-bulan selain bulan romadhan. Fungsinya, disamping untuk memperbaharui iman juga akan mendapat ridho Alloh.
Yang kedua, Istighfar
Yang kedua dari dua yang pertama, kata Nabi: hendaklah engkau memohon ampun terhadap dosamu (istighfar).
Setelah kita memperbanyak syahadat, lalu kita memohon ampun kepada Alloh Swt.
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal".
Mengapa kita dianjurkan banyak-banyak istighfar di bulan romadhon? Ingat bukan berarti di bulan lain Alloh tidak Maha Pengampun?
Akan tetapi khusus di bulan Romadhon ini, Alloh Swt. membuka pintu tobat seluas-luasnya bagi hambanya yang ingin bertobat, terutama bertobat dari dosa yang besar. Dosa yang paling besar adalah dosa syirik kepada Alloh, dosa ini tidak akan diampuni Alloh kecuali dengan syahadat: Laa Ilaaha Illalloh.
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Innallaaha laa yaghfiro ayyusyroka bihii wayaghfirumaa, duuna dzaalika limayyasyaa-u, waman yusyrik billaahi faqodif taroo itsman adziima
Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersukutukan) kepadaNya, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allâh, maka sungguh, dia telah mengadakan dosa yang sangat besar. [an-Nisâ’/4:48].
Kalau dosa besar dari yang terbesar saja bisa diampuni, apa lagi dosa-dosa yang lebih kecil di bawahnya. Maka Rosululloh Saw. bersabda, "Sekali mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh dengan benar, 4000 dosa besar akan diampuni". (Al Hadits).
Dan syarat diampuninya dosa adalah dengan syahadat terlebih dahulu. Orang yang tidak bersyahadat maka Alloh tidak akan mengampuni terhadap dosa-dosanya.
Maka di bulan romadhon kita dianjurkan untuk banyak-baayak beristighfar, dan istighfar yang paling utama adalah: Laa Ilaaha Illaloh.
Satu dari dua yang terakhir yang pasti kita membutuhkannya ialah memohon Surga.
Pada bulan ini, rosululloh Saw. menganjurkan kita untuk memperbanyak memohon surga. Karena di bulan ini Alloh membuka seluas-luasnya pintu surga bagi siapa saja yang menginginkannya. Amatlah merugi orang yang tidak memanfaatkan kemuliaan romadhon, mereka diibaratkan, menghadiri sebuah undangan jamuan makan, meski ia hadir, namun tidak ada jaminan akan merasakan kelezatan makanan tersebut tanpa ia berikhtiar untuk memakan makanan yang dihidangkan.
Dari Zaid bin Arqam Radiallahuanhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda yang maksudnya, “Barangsiapa yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ dengan ikhlas, dia akan dimasukkan ke dalam syurga.” Lalu ditanya kepada baginda SAW, “Bagaimanakah yang dimaksudkan dengan ikhlas itu?”
Rasulullah SAW bersabda, “Ikhlas itu ialah yang mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan yang haram.” (Hadis riwayat at-Tabarani).
Perhatikan, lagi-lagi kalimat Laa Ilaaha Illaloh yang akan menghantarkan seseorang untuk masuk surga. "Miftahul jannah, Laa Ilaaha Illalo".
Kemudian, dua dari yang kedua adalah memohon terhindar dari api Neraka.
Di bulan ini kita sangat dianjurkan untuk banyak-banyak memohon agar terhindara dari siksa neraka. Karena di bulan romadhon Alloh Swt. menutup pintu neraka. Itu artinya, Alloh Swt. tidak mengiginkan hamba-Nya disiksa melainkan di bulan ini Alloh membuka pintu rahmat-Nya, ampunannya, dan membebaskan hamba-Nya dari siksa api neraka.
Dari Umar rodhiyallohu ‘anhu ia berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaha illallah. (HR. Hakim – Shohih Targhib wa Tarhib : 1528 ).
Lagi-lagi, kalimat ‘Laa ilaaha ilalloh’ adalah pelindung dari api neraka.
Nah, itulah hadirin empat amalan yang utama, disamping amalan-amalan lainnya di bulan romadhon
Maka pantaslah kiranya dibulan ini kita selalu berdoa:
أشْهَدُ أنْ لاَإلَهَ إلاَّ اللهُ أسْتَغْفِرُ اللهُ أسْألُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Asyhadu allaa ilaaha illallah, astaghfirullah, as aluka ridlaaka wal jannah, wa na’uudzubika minannaar.
Saya bersaksi tidak ada Tuhan Selain Allah, Saya mohon ampun kepada Allah, Saya mohon Ridha-Mu, SurgaMu dan selamatkanlah saya dari neraka.” Mu dan selamatkanlah saya dari neraka.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.






