Home » » MURSYID PILIHAN

MURSYID PILIHAN

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Sabtu, 08 September 2018 | 20.18


Ada pertanyaan :
Kalau Imam Ibnu Katsir sezaman dengan pengersa Abah Aos, kira-kira mau ikut siapa?

Saya jawab, "Saya pasti akan ikut pengersa Abah Aos".

Kenapa saya ikut pengersa Abah Aos? Apa jawabnya?
Ya karena saya sekarang sedang belajar Tashawuf.

Pertanyaan ini muncul, ketika perjalanan dari Pesantren Sirnarasa ke Kuningan. Bukan kebetulan, setelah sampai di Kuningan, paginya ada Ibu yang minta di Talqin. Beres talqin, dengan niat mau syi'ar saya posting di Facebook.

Saya sampaikan, hanya orang yang sudah ditakdirkan yang  menerima Talqin ini, adapun orang-orang yang tidak ditetapkan oleh Alloh untuk memiliki kalimat ini, ia tidak akan mau dan juga tidak akan ketemu dengan Mursyid. Hal ini berdasarkan Firman Alloh dalan Al Qur'an Surat Al Kahfi ayat 17 :

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Artinya, "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya".

Kemudian postingan tersebut ada yang mengomentari dengan mengutip tafsir Ibnu Katsir terkait dengan QS. Al Kahfi ayat 17. Nah, ada  orang yang komen, orang ini adalah teman saya, yang memang pengajiannya lebih menyukai kewahabi-wahabian, walau ia menolak untuk disebut wahabi. Dan memang orang-orang yang sering kita sebut wahabi, mereka tidak mau dirinya disebut wahabi, wallohu'alam.

Ketika kami bertemu tatap muka, beliau itu kembali mengulas, bahkan menyampaikan bahwa Ustadz Khalid Basalamah pernah mengatakan seandainya Imam Ibnu Katsir masih ada sekarang maka jangan ikut pendapat saya, ikutlah pendapat Ibnu Katsir. Spontan saya jawab, "Kalau saya, seandainya  Ibnu Katsir sezaman dengan Abah Aos maka saya akan ikut pendapatnya Abah Aos".

Subhanalloh... Baru ini kan? Baru dengar saya juga, belum pernah ada kiyai yang berkata begini.

Tentu saja saya punya alasan yang kuat sehingga berani mengatakan demikian. Ada banyak alasannya :

Yang pertama, saya tidak berguru langsung dengan Imam Ibnu Katsir, sedang saya saat ini sedang berguru kepada pengersa Abah Aos.

Kedua, ada perbedaan ulama Tashawuf dengan ulama tafsir atau ulama fiqih.

Apa perbedaannya?
Kita lihat kitab-kitab karya mereka, kalau ulama tafsir dan fiqih, isinya adalah tentang ilmu dan hukum dalam Islam. Ilmu yang disampaikan adalah berdasarkan pengetahuan yang ada di dalam kepala. Tidak sedikit ulama (ahli ilmu) yang justru tidak tahu cara mengamalkan ilmunya.

Berbeda dengan ulama tashawuf, contoh kitab karya Imam Al Ghazali, atau karya Tuan Syekh Abdul Qodir Jailani, karya pengersa Abah Anom dan juga kitab karya pengersa Abah Aos. Isi yang disampaikan adalah hasil daripada amaliyah. Sehingga cara penyajiannya pun berbeda, tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang ada di kepala, tapi yang disampaikan disertai dengan "Rasa" (bekas dari amaliyah). Makanya kata pengersa Abah, "Kita mah menyampaikan ilmu yang sudah lecek, bekas amaliyah guru-guru kita yang juga sudah kita amalkan".

Walau demikian, penting kita mempelajari ilmu dari ulama fiqih dan tafsir. Pengersa Abah sangat menekankan pentingnya ilmu, tanpa ilmu niscaya kita tidak akan sampai kepada Alloh. Kata pengersa Abah ke saya, ketika usai kuliah subuh di Jagat 'Arsy dengan tema pentingnya ilmu, "Kiyai, itu yang disampaikan tadi, emang sudah dari sononya, Alloh juga pertama mengajarkan kepada Nabi Adam ilmu dulu, bukan amal dulu", seraya beliau mengutip Firman Alloh Swt. :

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa, tsumma 'arodhohum 'alal malaaikati, faqoola ambi-uunii bi asmaa-i haa-ulaa-i in kuntum shoodiqiina
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!

Alhamdulillaah, kita sudah dipertemukan dengan pengersa Abah, seorang Mursyid yang tidak hanya memiliki ilmu yang luas, tapi juga tubuh yang perkasa.

 وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Wa qoola lahum innalloha qod ba'atsa lakum thooluuta malikan. Qooluu annaa yakuunu lahul mulku 'alainaa wa nahnu ahaqqo bil mulki minhu walam yu'ta sa'atan minal maali. Qoola innallohash thofaahu 'alaikum wazaadahu basthotan fil 'ilmi wal jismi. Wallohu yu'tii mulkahu mayyasyaa-u. Wallohu waa si'un 'aliimun
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui".

Meskipun sudah bertahun-tahun bersama, ada di hadapan mata, kalau tidak diberikan petunjuk oleh Alloh maka kita tidak akan tahu kalau pengersa Abah itu adalah mursyid.

Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Mahmud J. Al Maghribaen
08-09-2018
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger