Home » » TASHOWWUF DAN THORIQOH ITU BERASAL DARI QUR'AN

TASHOWWUF DAN THORIQOH ITU BERASAL DARI QUR'AN

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 14 September 2018 | 03.58

Diceritakan oleh pengersa Abah Aos, ketika datang utusan dari UII dengan membawa 104 masalah, pertanyaan pertama adalah, "Apa hubungan Tarekat dengan Tasawuf?". Kata Abah, "Islam tidak mengajarkan Tarekat dan Islam tidak Tasawuf. Islam mengajarkan Ath-Thoriqoh dan At-Tashowwuf  keduanya kalimah yang berasal dari Al Qur'an.
Thoriqoh itu bukan ajaran baru, thoriqoh bukan bahasa Arab, tapi Qur'an (Firman Alloh), demikian juga Tashowwuf, itu dari Qur'an, yaitu huruf; ta, shod, waw, fa. Kalau Qur'an tidak ada salah satu saja dari huruf ta, shod, waw, fa maka itu bukan Qur'an. Tashowwuf adalah huruf-huruf yang diambil dari Al Qur'an.

Firman Alloh Swt dalam Al Qur'an :

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
Wa an lawistaqoomu 'alath-Thoriiqoti la-asqoinaahum maa-an ghodaqon
"Dan bahwasanya: jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)". (QS. Al Jin : 16).

Pertanyaan berikutnya adalah, "Siapa pelaksana ilmu tashowwuf yang pertama kali?". Jawab Abah, "Siapa lagi kalau bukan Rosululloh, Muhammad Saw., adapun kita hanya mengikuti, melanjutkan, melaksanakan bekas beliau, bekas kanjeng Rosululloh Saw.". Sabda Tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani qs., "Ittabi'uu walaa tabtadi'u" (ikuti sunnah-sunnah rosululloh, jangan membuat atau melaksanakan yang tidak dicontohkan dan tidak diperintahkan oleh rosululloh saw.).

Pengamalan tashowwuf inilah yang dinamakan sekarang dengan Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyah, disebut Qodiriyyah karena yang menggalakkannya Syekh Abdul Qodir, disebut Naqsyabandiyah, karena yang menggalakkannya ialah Syekh Naqsyabandi. Asalnya dahulu dari "Iqro' Bismi Robbika alladzii kholaq". Iqro' jadi Qodiriyyah Bismi Robbika alladzi kholaq jadi Naqsyabandiyah. Adapun dzikirnya ada 2 (dua), dzikir yang pertama adalah Dzikir Jahar (bersuara) atau disebut juga Dzikir Jasad, letaknya ada di lidah, bibir, suara, kepala, leher, dan di badan (jasad). Dzikir yang kedua, yaitu Dzikir Khofi atau yang disebut juga Dzikir Jiwa yang berada di bawah susu kiri (Qolbu) yang senantiasa tak henti berdenyut, jika berhenti berdenyut berarti jiwa itu telah mati.

Jadi yang disebut thoriqoh itu adalah Dzikir Jahar dan Dzikir Khofi, pekerjaan yang Agung, sebagaimana Firman Alloh Swt.:

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Waladzikrullohi Akbar. Wallohu ya'lamu maa tashna'uuna
"Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". (QS. Al Ankabut : 46).
Perhatikan, Waladzikrullohi Akbar! Bukan waladzikru alhamduillaah, subhanalloh, allohuakbar, laa ilaaha illalloh, tapi Waladzikru Allohu! Artinya, ibadah yang Agung itu Dzikrulloh (Dzikir kepada Allohu)
Rukun Islam yang 5 (lima) itu adalah ibadah syari'at, wajib dilaksanakan oleh yang mampu. 1). Syahadat, itu ibadah syari'at yang digerakkan dengan lidah dan mesti terdengar oleh telinga, 2). Sholat juga ibadah syari'at ada gerakannya, kaki menginjak sajadah, lutut bertekuk di sajadah, duduk di sajadah, telapak tangan ke sajadah, jidat juga sujud ke sajadah, 3). Zakat dikeluarkan sampai ke tangan orang menerima, 4). Puasa hanya sampai perut lapar dan haus, 5). Haji hanya sampai ke Mekkah dan Madinah kemudian pulang. 
Semua ibadah syari'at itu wajib hukumnya bagi yang mampu, suara syahadat wajib jika bisa bicara, gerakan sholat wajib bagi yang sehat, puasa wajib bagi yang sehat, zakat wajib bagi yang mampu, haji juga wajib bagi yang mampu. Jika tidak mampu pergi haji maka semuanya menjadi ibadah haji secara hakikat. Baca syahadat memenuhi panggilan Alloh, melaksanakan sholat memenuhi panggilan Alloh, membayar zakat memenuhi panggilan Alloh, menjalankan puasa memenuhi panggilan Alloh, pergi haji juga memenuhi panggilan Alloh. "Labbaik Allohumma Labbaik" (Ya Alloh, Aku datang memenuhi panggilanmu). 
Semua ibadah Syari'at itu tidak akan sampai kepada Alloh jika tidak dengan Thoriqoh. Syahadat hanya sampai telinga orang, sholat hanya sampai sajadah, zakat hanya sampai tangan orang, puasa hanya sampai lapar dan haus, haji juga hanya sampai Mekah dan Madinah. Tapi dengan adanya Thoriqoh maka syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji akan sampai kepada Alloh Subhana huwa ta'ala
Diceritakan pengersa Abah Aos, "Jangan sampai kejadian seperti seorang Profesor, Rektor IKIP Bandung, mengirim surat ke pengersa Abah Anom. Isi suratnya, "Abah saya mau ziarah ke Abah, tapi saya malu karena saya tidak sholat". Dijawab oleh pengersa Abah, "Den, kalau mau ziarah ke Abah jangan malu-malu, siang-malam oleh Abah diterima, karena Abah mah tidak pernah nyuruh sholat". Gayung bersambut, orang yang tidak sholat menerima surat dari seorang Kiyai Gede se kolong langit Indonesia tapi tidak pernah nyuruh sholat, akhirnya datanglah sang profesor. Ketika datang ke Madrosah, membaca salamnya tidak sambil berdiri, tapi sambil merangkak "Assalamu'alaikum". Dijawab oleh pengersa Abah, "Wa'alaikum salam, mari sini silahkan, berdiri, berdiri". Begitu masuk langsung di "skak" oleh pengersa Abah, "Den, Abah mah tidak pernah nyuruh sholat, sebab yang nyuruh sholat mah Alloh, Abah juga disuruh"
Setelah bercakap-cakap, tidak lama langsung Talqin. Setelah Talqin bercakap-cakap lagi, hingga masuklah waktu Dhuhur. Abah Anom lalu berdiri, "Den, permisi Abah mau sholat dhuhur dulu". "Saya ikut Abah", kata profesor. "Bukankah Aden tidak sholat?". Dijawab sama profesor, "Gak bah, saya juga dulu sholat, tapi setelah jadi profesor saya berhenti sholatnya, karena saya mikir, kantor ditinggalkan, dikunci, masuk masjid untuk sholat, tapi sedang sholat inget kantor". Lalu saya berfikir, "Bukankah Rosul memerintahkan sholatlah seperti aku sholat", tapi tidak mungkin sholat rosul seperti ini, makanya saya berherhenti sholat". Nah sekarang saya mau sholat lagi setelah tahu jawabannya dari Abah. 
Jadi, seorang profesor mikir, "ngantor tidak, sholat juga tidak, karena kantor ditinggalkan untuk sholat tapi ketika sedang sholat ingat kepada kantor", itulah pemikiran Profesor H. Oteng Sutisna Rektor IKIP Bandung, beliau menjadi Ikhwan "Totok" sampai akhir hayatnya menjadi murid pengersa Abah Anom. Itu berkat dari hasil pencarian, akhirnya masuk thoriqoh, bukan ganti agama tapi belajar dzikir. Sebab syahadat, sholat, zakat, puasa, haji hanya dikerjakan dengan syari'at. Sedang ibadah syari'at itu terbatas dengan waktu dan tempat, jika sudah ditalqinkan dzikir maka sepanjang hidupnya menjadi ibadah. Sabda pengersa Abah Aos, "Talqin itu menghidupkan orang yang mati, atau membangunkan orang yang sedang tidur. Kita semau sudah ada yang membangunkan, tidak akan tidur lagi, dan tidak akan mati lagi". Alhamdulillaah.
Syari'at itu ibadah Lahir, Thoriqoh itu Ibadah Batin agar sampai kepada Maqom Hakikat yang Ma'rifat kepada Alloh Subhana huwa ta'ala. Sebagaimana dijelaskan oleh para 'Ulama bahwa, "Assyari'atu aqwali, wa ath-thoriqotu af'ali, wal hakikatu ahwali, wal ma'rifatu ro'sul maali" (Syari'at itu perkataanku, thoriqoh itu perbuatanku, hakikat itu keadaanku, dan ma'rifat itulah modal yang utama) yang merujuk kepada hadits :

Dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata :
Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata :

يَا مُحَمَّدُ أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِسْلاَمِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم : اَلإِسْلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَإِ لَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ, وَتُقِيْمُ الصَّلاَةَ, وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ, وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ, وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً. قَالَ : صَدَقْتُ. فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْئَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ.
قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ.
قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِحْسَانِ, قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

"Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Islam adalah, engkau bersaksi tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasul Allah; menegakkan shalat; menunaikan zakat; berpuasa di bulan Ramadhan, dan engkau menunaikan haji ke Baitullah, jika engkau telah mampu melakukannya,” lelaki itu berkata, ”Engkau benar,” maka kami heran, ia yang bertanya ia pula yang membenarkannya.

Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,” ia berkata, “Engkau benar.”

Dia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang ihsan”.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ”Hendaklah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya. Kalaupun engkau tidak melihatNya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Wallohu'alam Bishshowab.

Al Fakir,
Mahmud J. Al Maghribi
Panongan, 14-09-2018
Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger