Latest Post

TASHAWUF MENJAGA KESEIMBANGAN DUNIA DAN AKHIRAT

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 13 September 2018 | 02.26

MAKNA ZUHUD

Ketika ada seorang ikhwan bertanya kepada Abah Anom tentang makna dari "zuhud", jawab beliau seraya berdo'a, "Allohummaj’al addunyaa fii aydinaa walaa taj’alhaa fii quluubina" (Ya Alloh jadikanlah dunia ini dalam genggamanku, tapi jangan masuk ia ke dalam hatiku).

Belajar thoriqoh bukan berarti harus meninggalkan dunia. Sebab banyak tudingan jika seseorang telah belajar thoriqoh maka dirinya akan disibukkan dengan wiridan, bahkan saking asiknya beribadah sampai-sampai ia melupakan urusan dunia.  Dalam salah satu Manqobah Tuan Syekh Abdul Qodir. "Diriwayatkan, pada waktu Syekh menginjak usia muda belia, berusia 18 tahun. Pada suatu hari yaitu hari Arafah bagi kaum muslimin yang naik haji atau sehari sebelum 'Iedul Adha, beliau pergi ke padang rumput menggembalakan seekor unta. Ditengah perjalanan unta tersebut menoleh ke belakang dan berkata kepada beliau : "Hei Abdul Qodir, kamu tercipta bukan sebagai penggembala unta." --- manqobah ke 8.

Sekelumit dari manqobah tersebut di atas dapat kita petik pelajaran, bahwa Tuan Syekh juga bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yaitu mengembalakan seekor unta di padang rumput. Jadi semua tudingan itu tidaklah benar, sebab dengan belajar thoriqoh justru kita ingin menyeimbangkan antara kehidupan di dunia dan kehidupan di akhirat. Sabda Abah Anom, "Ingin dunia? Dzikir. Ingin akhirat? Dzikir".

Pengersa Abah Aos menyampaikan, Nabi Saw. bersabda, "Laa khoiro liman taroka dunyahu li aakhirotihi, walaa akhirotahu lidunyati walakin khairukum man akhadza min hadzihi wa hadzihi" (Tidak baik orang yang meninggalkan dunianya untuk akhirat saja, juga tidak baik orang yang meninggalkan akhirat untuk dunia saja, melainkan harus kedua-duanya secara seimbang).

Maka dari itu, bagi ikhwan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya haruslah menjaga keseimbangan antara kehidupan untuk dunianya dan kehidupan untuk akhiratnya. Diceritakan pengersa Abah Aos, ketika ada ikhwan, seorang Petani datang ke pengersa Abah Anom minta ditalqin, kata pengersa Abah Anom, "Kita belajar thoriqot bukan berhenti nyangkul, malah harus semakin dalam nyangkulnya". Artinya harus semakin giat dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Sabda pengersa Abah Aos, "Kita ini bukan makhluk dunia karena akan ke akhirat, kita juga bukan makhluk akhirat karena masih di dunia. Oleh karenanya jangan sampai mengejar dunia melupakan akhirat, sebaliknya jangan mengejar akhirat melupakan dunia. Harus jaga keseimbangan, sebab bila satu orang hilang keseimbangan menghalangi empat puluh orang (ingin) belajar thoriqoh".

Firman Alloh Subhana huwa ta'ala :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي
الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Wabtaghi fiimaa aataakallohud daarol aakhiroh.  Walaa tansa nashiibaka minaddunyaa, wa ahsin kamaa ahsanallohu ilaika, walaa tabghil fasaada fiil ardhi, innalloha laa yuhibbul mufsidiina
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan". (QS. Al Qoshos : 77).

Hidup zuhud bukan berarti harus menjauhi dunia, atau berpakaian compang-camping dan hidup miskin. Melainkan hiduplah sewajarnya, engkau boleh mempunyai rumah yang mewah, mobil yang bagus, pakaian yang indah dan makanlah makanan yang gurih dan lezat. Tapi ingatlah jangan engkau lupa kepada Alloh yang telah memberi kenikmatan itu.

Firman Alloh Swt. :

يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ ۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ
Yaa banii aadama qod anzalnaa 'alaikum libaasan yuwaariisau aatikum wariisyan, wa libaasut taqwaa dzaalika khoirun, dzaalika min aayaatillaahi la'allahum yadz-dzakkuruuna
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat". (QS. AL A'raf : 26).

Bersabda Syekh Abu al Hasan as Syadzili ra. :

وقد كان أبو الحسن الشاذلي رحمه الله تعالى يقول لأصحابه "كلوا من أطيب الطعام واشربوا من ألذ الشراب وناموا على أوطأ الفراش والبسوا ألين الثياب فإن أحدكم إذا فعل ذلك وقال الحمد لله يستجيب كل عضو فيه للشكر"
Artinya, “Syekh Abul Hasan As-Syadzili pernah berkata kepada muridnya, ‘Makanlah hidangan paling enak, reguklah minuman paling nikmat, berbaringlah di atas kasur terbaik, kenakanlah pakaian dengan bahan paling lembut. Bila satu dari kamu melakukannya lalu berucap syukur, ‘alhamdulillah’, maka setiap anggota tubuhnya ikut menyatakan syukur," (Lihat Syekh Abdul Wahhab Sya’rani, Al-Minahus Saniyyah).

Demikianlah, semua kenikmatan itu hendaklah tidak melalaikan kita dari mengingat Alloh Swt. Orang yang sibuk dengan dzikir sehingga ia lupa berdoa kepada Alloh itu lebih baik dari pada orang yang berdoa tapi hatinya lupa kepada Alloh.

Sabda Rosululloh Saw. :

يقولُ الرَّبُ عزَّوجلَّ من شَخَلَهُ القرْاٰنُ وَذِكْرِی عَنْ مَسْاَلَتِی اَعْطَیْتُهُ اَفْضَلَ مااُعْطِی السَّا ءِلِين افْضَلُ كلا مِ اللهِ علی سا ءِدِ الكلامِ كَفَضْلِ اللهِ علی خَلْقِهِ
Ya quulurrobu 'azza wajalla min syakholatul qur'aanu wa dzikrii 'an mas-alatii a'thoituhu afdholu kalaamillaahi 'alaa saa-idil kalaami kafadh lillaahi 'alaa kholqihi
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman : "Barang siapa yang sibuk membaca Al Qur'an dan dzikir kepada Ku dengan tidak memohon kepada Ku, maka ia Aku beri sesuatu yang lebih utama dari pada apa yang Aku berikan kepada orang yang minta". Kelebihan firman Allah atas seluruh perkataan seperti kelebihan Allah atas seluruh makhlukNya". (Hadits ditakhrij oleh Tirmidzi).

Dengan Dzikir kalimat Laa Ilaaha Illalloh Alloh akan meneguhkan iman kita baik di dunia maupun di akhirat. Sebagaimana Firman-Nya :

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ
Yu tsabbitullohul ladziina aamanuu bilqowlits tsaabiti fiil hayaatid dunyaa wa fiil aakhiroh, wa yudhillullohuzh zhoolimiina, wa yaf 'alullohu maa yasyaa-u
"Alloh meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki". (QS. Ibrohim : 27).

Alhamdulillah, semoga kita lulus, mulus, selamat Dunia dan Akhirat, aamiin.

Al Fakir,
Mahmud J. Al Maghribi
13-09-2018

MURSYID PILIHAN

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Sabtu, 08 September 2018 | 20.18


Ada pertanyaan :
Kalau Imam Ibnu Katsir sezaman dengan pengersa Abah Aos, kira-kira mau ikut siapa?

Saya jawab, "Saya pasti akan ikut pengersa Abah Aos".

Kenapa saya ikut pengersa Abah Aos? Apa jawabnya?
Ya karena saya sekarang sedang belajar Tashawuf.

Pertanyaan ini muncul, ketika perjalanan dari Pesantren Sirnarasa ke Kuningan. Bukan kebetulan, setelah sampai di Kuningan, paginya ada Ibu yang minta di Talqin. Beres talqin, dengan niat mau syi'ar saya posting di Facebook.

Saya sampaikan, hanya orang yang sudah ditakdirkan yang  menerima Talqin ini, adapun orang-orang yang tidak ditetapkan oleh Alloh untuk memiliki kalimat ini, ia tidak akan mau dan juga tidak akan ketemu dengan Mursyid. Hal ini berdasarkan Firman Alloh dalan Al Qur'an Surat Al Kahfi ayat 17 :

مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Artinya, "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya".

Kemudian postingan tersebut ada yang mengomentari dengan mengutip tafsir Ibnu Katsir terkait dengan QS. Al Kahfi ayat 17. Nah, ada  orang yang komen, orang ini adalah teman saya, yang memang pengajiannya lebih menyukai kewahabi-wahabian, walau ia menolak untuk disebut wahabi. Dan memang orang-orang yang sering kita sebut wahabi, mereka tidak mau dirinya disebut wahabi, wallohu'alam.

Ketika kami bertemu tatap muka, beliau itu kembali mengulas, bahkan menyampaikan bahwa Ustadz Khalid Basalamah pernah mengatakan seandainya Imam Ibnu Katsir masih ada sekarang maka jangan ikut pendapat saya, ikutlah pendapat Ibnu Katsir. Spontan saya jawab, "Kalau saya, seandainya  Ibnu Katsir sezaman dengan Abah Aos maka saya akan ikut pendapatnya Abah Aos".

Subhanalloh... Baru ini kan? Baru dengar saya juga, belum pernah ada kiyai yang berkata begini.

Tentu saja saya punya alasan yang kuat sehingga berani mengatakan demikian. Ada banyak alasannya :

Yang pertama, saya tidak berguru langsung dengan Imam Ibnu Katsir, sedang saya saat ini sedang berguru kepada pengersa Abah Aos.

Kedua, ada perbedaan ulama Tashawuf dengan ulama tafsir atau ulama fiqih.

Apa perbedaannya?
Kita lihat kitab-kitab karya mereka, kalau ulama tafsir dan fiqih, isinya adalah tentang ilmu dan hukum dalam Islam. Ilmu yang disampaikan adalah berdasarkan pengetahuan yang ada di dalam kepala. Tidak sedikit ulama (ahli ilmu) yang justru tidak tahu cara mengamalkan ilmunya.

Berbeda dengan ulama tashawuf, contoh kitab karya Imam Al Ghazali, atau karya Tuan Syekh Abdul Qodir Jailani, karya pengersa Abah Anom dan juga kitab karya pengersa Abah Aos. Isi yang disampaikan adalah hasil daripada amaliyah. Sehingga cara penyajiannya pun berbeda, tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang ada di kepala, tapi yang disampaikan disertai dengan "Rasa" (bekas dari amaliyah). Makanya kata pengersa Abah, "Kita mah menyampaikan ilmu yang sudah lecek, bekas amaliyah guru-guru kita yang juga sudah kita amalkan".

Walau demikian, penting kita mempelajari ilmu dari ulama fiqih dan tafsir. Pengersa Abah sangat menekankan pentingnya ilmu, tanpa ilmu niscaya kita tidak akan sampai kepada Alloh. Kata pengersa Abah ke saya, ketika usai kuliah subuh di Jagat 'Arsy dengan tema pentingnya ilmu, "Kiyai, itu yang disampaikan tadi, emang sudah dari sononya, Alloh juga pertama mengajarkan kepada Nabi Adam ilmu dulu, bukan amal dulu", seraya beliau mengutip Firman Alloh Swt. :

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Wa 'allama aadamal asmaa-a kullahaa, tsumma 'arodhohum 'alal malaaikati, faqoola ambi-uunii bi asmaa-i haa-ulaa-i in kuntum shoodiqiina
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!

Alhamdulillaah, kita sudah dipertemukan dengan pengersa Abah, seorang Mursyid yang tidak hanya memiliki ilmu yang luas, tapi juga tubuh yang perkasa.

 وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Wa qoola lahum innalloha qod ba'atsa lakum thooluuta malikan. Qooluu annaa yakuunu lahul mulku 'alainaa wa nahnu ahaqqo bil mulki minhu walam yu'ta sa'atan minal maali. Qoola innallohash thofaahu 'alaikum wazaadahu basthotan fil 'ilmi wal jismi. Wallohu yu'tii mulkahu mayyasyaa-u. Wallohu waa si'un 'aliimun
Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu". Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa". Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui".

Meskipun sudah bertahun-tahun bersama, ada di hadapan mata, kalau tidak diberikan petunjuk oleh Alloh maka kita tidak akan tahu kalau pengersa Abah itu adalah mursyid.

Wassalamu'alaikum Wr Wb.
Mahmud J. Al Maghribaen
08-09-2018

MAULID ABAH ITU TANDA TAQWA

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 05 September 2018 | 00.57

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Foto Bersama Peserta Dzikir 76 Jam Non Stop
Puncak Sirnarasa
Alhamdulillaahi robbil 'aalamiin Washolaatu wassalaamu 'alaa syamsil  mursaliin wa qomaarin nabiyyin wa sidrotil muntahal 'arifin sayyidina Muhammadin wa 'alaa aalihii washohbihi ajma'iin.

Ikhwan wal akhwat yang berbahagia,
Alhamdulillah, kita semuanya dibisakan, diundang meskipun tidak pakai undangan untuk bisa hadir di sini,  di kejembaran rahmaniah, kampung yang senantiasa dirahmati oleh Alloh.
Alloh subhana huwa ta'ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۚ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا
Yaa ayyuhalladziina aamanudz kurulloha dzikron katsiiron wasahbihuu hubukratan wa ashiilan. Huwalladzii yushollii 'alaikum wa malaaikatuhu liyukh rijakum minazh zhulumaati ilannuur. Wa kaana bilmu'miniina rohiima.
Artinya, "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman". (QS. Al Ahzab : 41-43).

Dalam firman Alloh di atas sudah sangat jelas bahwa dzikir itu akan mendapatkan rahmat Alloh. Maka tempat dimana ada aktivitas dzikir kepada Alloh, itulah tempat yang diliputi rahmat Alloh Swt. (kejembaran rahmaniah).

Apa itu rahmat Alloh itu?
Rahmat Alloh adalah kasih sayang Alloh kepada makhluk-Nya.
Menurut ulama, setidaknya ada 12 makna dari rahmat Alloh :
  1. Rahmat bermakna agama Islam.
  2. Rahmat Alloh bermakna Surga.
  3. Rahmat Alloh bermakna Hujan
  4. Rahmat Alloh bermakna Kenabian.
  5. Rahmat bermakna Nikmat.
  6. Rahmat berarti al-Quran.
  7. Rahmat bermakna rezeki.
  8. Rahmat berarti pertolongan dan kemenangan.
  9. Rahmat bermakna sehat & afiyat.
  10. Rahmat berarti cinta.
  11. Rahmat bermakna keimanan.
  12. Rahmat berarti taufik (pertolongan untuk amal kebaikan).
Tidak ada nikmat yang lebih agung selain nikmat mendapatkan Ridho Alloh Swt. Kesemuanya itu sudah terangkum dalam munajat yang selalu kita baca yaitu :

اِلَهِى اَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ اَعْطِنِی مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ
"Wahai Tuhanku, Engkaulah yang kumaksud dan ridho-Mu yang aku cari, berilah aku kemampuan untuk bisa mencintai-Mu dan ma'rifat kepada-Mu".

Alhamdulillah, kita semuanya sudah mendapatkan kedua belas rahmat itu, yaitu 12 huruf yang telah mengeluarkan kita dari kegelapan kepada cahaya, Dia-lah Alloh, Tuhan Semesta Alam, Asma-Nya sudah terpatri di dalam Qolbu, larut di dalam jiwa kita.

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Apa saja yang Alloh anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Alloh maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir : 2).
Alhamdulillah....

Ikhwan wal akhwat ra.
Setiap tahun disini, di kejembaran rahmaniah selalu diadakan berbagai kegiatan untuk memeriahkan Maulid pengersa Abah, kesemuanya itu kita lakukan sebagai wujud rasa syukur kita atas nikmat dan karunia Alloh kepada kita sebagai murid-murid beliau. Bersama dengan beliau berarti bersama Alloh dan Rasululloh Saw. Alloh Swt. berfirman dalam hadits Qudsi :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

An Abi Hurairoh ra. Qoola, qolannabiyyu Saw. "Ya qulullohu ta'alaa; Anaa inda zhonni 'abdii, wa anaa ma'ahu idzaa dzakaronii, fainna dzakaronii fii nafsihii dzakartuhu fii nafsii, wain dzakaronii fii mala-in dzakartuhu fii mala-in khoirin minhum, wain taqorroba ilayya bisyiirin taqorrobu ilaihi dziroo'an, wa in taqorroba ilayya dziroo'an taqorrobu ilaihi baa'an, wain ataanii yamsyii ataituhu harwalatan

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْعُلُمَاءُ  وَرَثَةُاْلأَنْبِيَاءِ
Al Ulamaa'u warotsatul anbiya-i
“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda).

Selain  bersyukur, kita hadir di sini tentunya juga sebagai ungkapan rasa terima kasih kita kepada beliau, sebagai wujud syukur kita kepada Alloh Swt. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ
Laa yasykurulloha man laa yasykurunnaas
“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Ikhwan wal akhwat yang berbahagia,
Di dalam Islam terdapat banyak peristiwa-peristiwa atau peninggalan bersejarah yang monumental yang mengandung nilai yang tinggi. Peristiwa atau peninggalan itu wajib dipelihara dan diperingati agar manusia dapat mengambil pelajaran.

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Wadzakkir fainnadz dzikroo tanfa'ul mu'miniina
"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman". (QS. Ad dzaariyat [51]: 55).

Kegiatan memperingati peristiwa atau peninggalan yang bersejarah itu, di dalam Al Quran disebut Syi'ar, syi'ar dapat berarti tempat, seperti; Ka'bah, Shafa, Marwah, Arafah, dan al-Masy'ar al-Haram; bisa menunjuk pada waktu, seperti; bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab, juga dapat pula menunjuk pada amalan-amalan agama.

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Dzaalika waman yu'adzdzim sya'aa irulohi min taqwal quluubi
"Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati". (QS. Al Hajj : 32).

Kegiatan mengagungkan syi'ar Alloh pada ayat ini dipahami oleh para ulama dalam beberapa makna, antara lain :
Pertama, ihtifal. 
Bahwa aktivitas keagamaan yang bernilai syiar, perlu dilakukan secara terbuka, meriah, dan penuh antusiasme, tetapi tetap khidmat dan penuh makna.
Kedua, iltizam. 
Bahwa mengagungkan syiar itu merupakan kewajiban agama yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim sebagai bagian dari proses tadzkir, yaitu usaha untuk mengingatkan manusia pada keagungan Allah.
Ketiga, itmam. 
Bahwa syiar harus dilakukan sebaik dan sesempurna mungkin. Sekadar contoh, dalam konteks syiar haji, Rosululloh memberikan 100 ekor unta sebagai kurban.

Dalam hal ini, kegiatan Maulid Abah Aos yang ke-76 telah dilaksanakan secara terbuka, tercatat ada 4 (empat) event besar yang digelar dengan total 18 sub event. Terdiri dari keagamaan, sosial, seni dan budaya, hingga sport tourism. "Pekan Pesona Pesantren dan Maulid Abah Aos ke-76 ini luar biasa. Bukan hanya penuh dengan inspirasi, tapi sangat potensial sebagai pendukung pariwisata Ciamis. Eventnya sangat meriah. Lalu, jumlah pengunjungnya banyak", ungkap Sekretaris Kementerian Pariwisata, Ukus Kuswara, Sabtu (1/9). - Liputan1.com.

Rangkai Acara Maulid Abah Aos ke-76, sbb :
  • Pertandingan Kejuaraan Tenis Meja se-Indonesia.
  • Pentas Seni (Pencak Silat, Gembyung, Wayang Ajen, dll.).
  • Keagamaan (Haflah Tilawatil Qur'an & Dzikir 76 Jam Non Stop, dll.)
  • Pentas Tradisi dan Budaya (Gubyak, Pawai Natura, Parade Janur Kuning, Parade Nasi Liwet, dll.).
Rangkaian acara ini diikuti tidak hanya masyarakat dari Ciamis, Jawa Barat saja, akan tetapi dihadiri oleh peserta dari bebagai Provinsi di Indonesia, tercatat hadir dari DKI Jakarta, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, dll.

Alhamdulillaah, kami beserta rombongan dari Tangerang - Banten pun dibisakan hadir. "Semua uneg-uneg terjawab sudah, kami pun bercucuran air mata", kata jamaah ikhwan dari Madrosah Panongan. Sepanjang perjalanan (pulang maupun pergi), tak ada habis-habisnya cerita tentang Abah Aos. Memang demikianlah, setiap orang yang pernah berkunjung ke Pesantren Sirnarasa, selalu menyisakan kebahagiaan karena kemuliaan akhlaq pengersa Abah. Beliau sangat memuliakan setiap tamu yang datang dengan menyuguhkan santapan Jasmani dan Rohani yang sangat lezat.


Nabi bersabda,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

Idzaa marortum biriyaadhil jannahi farta'uu, qooluu wamaa riyaadhul jannati, Qoolu hilaqudz dzikri
“Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya,”Apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab,”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).” (Riwayat At-Tirmidzi).

Di Sinilah Surga itu, di Kaki Gunung Sawal, Puncak Sirnarasa.
Haturnuhuun, haturnuhun, Abah.... Al Faatihah... Ammin.

Al Fakir,
Mahmud J. Al Maghribaen
Taman Surga, 01-09-2018

LAA ILAAHA ILLALLOH AMALAN BULAN ROMADHON

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 20 Mei 2018 | 08.10

Hikmah Buka Puasa di Masjid Baiturrahman GMC, 20-05-2018.
Oleh: Mahmud J. Al Maghribaen

MUQODIMAH
Shoimin rahimakumulloh,
Bulan romadhon adalah bulan suci, yaitu bulan diturunkannya kitab suci Al Quran dari yang Maha Suci, oleh malaikat yang suci kepada hamba yang suci yaitu kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagaimana Firman Alloh Swt.:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Pada bulan romadhon kita diperintahkan oleh Alloh Swt. untuk berpuasa selama sebulan. Dengan kita berpuasa maka Alloh Swt. akan mengampunkan dosa-dosa kita, sebagaimana Sabda Rosululloh Saw. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
”Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760).

Shoimin rohimakumulloh,
Apakah semua dosa kita yang akan diampuni dengan puasa?
Ternyata tidaklah semua dosa yang akan diampuni, melainkan hanyalah dosa-dosa kecil saja yang dimaksud hadits tersebut. Sebab Nabi Saw. juga pernah bersabda:

«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ»
ash sholatul khomsu wal jum'atu ilaal jum'ati wa romadhoonu ilaa romadhoona mukaffirootun maa bainahunna idzaa ijtanabal kabaair
Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa jika ia menjauhi dosa-dosa besar. (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Nah berdasarkan hadits tersebut, ternyata ada syaratnya yaitu menjauhi dosa-dosa besar. Bagaimana kalau kita telah terlanjur mempunyai dosa besar? Maka dosa besar tersebut membutuhkan tobat yang khusus (nashuha).

Mari kita simak kutipan sabda Rosullulloh Saw. ketika beliau menyampaikan Khutbah menjelang Romadhon, sbb :

 وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا ، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهَا : فَتُسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ
Was taktsiruu fihii min arba'i khishooli: khoshlataini turdhuuna bihimaa rabbakum, wa khoshlataini laa ghinan bikum 'anhumaa, fa'ammal khoshlataanil lataani turdhuuna bihimaa rabbakum, fa syahaadatu an LAA ILAAHA ILLALLAH wa tastaghfiruunahu, wa ammallataani laa ghinaabikum 'anhaa: fa tus-aluunallaahal jannatu wa ta'uudzuuna bihi minannaar
"Perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhoan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laa Ilaaha Illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka".

Dua hal yang yang mendatang ridho Alloh, yaitu:
  • Syahadat
  • Istighfar
Dua hal yang kita perlukan adalah sbb:
  • Masuk Surga
  • Bebas dari siksa Neraka

Syhahadat
Di bulan ini kita dianjurkan oleh Rosululloh Saw. untuk memperbanyak syahadat. Meskipun kita sudah bersyahadat, tidak ada jaminan syahadat kita tidak rusak. Sebab konsekuensi syahadat adalah menyakini dalam hati, kemudian diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Nah kalau perbuatan kita terkadang bertentangan dengan esensi syahadat, seperti berbuat maksiat, maka sesungguhnya kita telah merusak kemurnian dari syahadat kita. Sebab ketika seseorang berbuat maksiat maka sesungguhnya imannya telah lepas darinya.

إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبَ الخَلِق ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya iman akan rusak dalam diri kalian laksana rusaknya baju, maka mohonlah kepada Allah untuk memperbarui iman dalam kalbu kalian.”

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمِانَ لاَ يَزِيْدُ وَ لاَ يَنْقُصُ فَاحْذَرُوْه فَإِنَّهُ مُبْتَدِعٌ
“Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa yang meyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.

Karena iman bisa rusak, bertambah dan berkurang maka kita diperintahkan oleh Rosulloh Saw. untuk senantiasa memperbaharuinya dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh, "Jaddidu imaanakum bi katsroti Laa Ilaaha Illaloh".
Iman yang paling tinggi adalah Laa Ilaaha Illaloh:

اlلْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
“Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: “Laa Ilaaha Illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman".

Demikian pentingnya syahadat ini sehingga ketika sholat dalam tasyahud (akar kata syahadat) kita disyari'atkan untuk membaca syahadat. Khusus di bulan ramadhan kita dianjurkan oleh Nabi untuk lebih banyak mengamalkannya, maka dari itu kita dianjurkan untuk banyak-banyak mengucapkan Laa Ilaaha Illaah (Dzikrulloh), lebih daripada bulan-bulan selain bulan romadhan. Fungsinya, disamping untuk memperbaharui iman juga akan mendapat ridho Alloh.

Yang kedua, Istighfar
Yang kedua dari dua yang pertama, kata Nabi: hendaklah engkau memohon ampun terhadap dosamu (istighfar).
Setelah kita memperbanyak syahadat, lalu kita memohon ampun kepada Alloh Swt.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal".

Mengapa kita dianjurkan banyak-banyak istighfar di bulan romadhon? Ingat bukan berarti di bulan lain Alloh tidak Maha Pengampun?
Akan tetapi khusus di bulan Romadhon ini, Alloh Swt. membuka pintu tobat seluas-luasnya bagi hambanya yang ingin bertobat, terutama bertobat dari dosa yang besar. Dosa yang paling besar adalah dosa syirik kepada Alloh, dosa ini tidak akan diampuni Alloh kecuali dengan syahadat: Laa Ilaaha Illalloh.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Innallaaha laa yaghfiro ayyusyroka bihii wayaghfirumaa, duuna dzaalika limayyasyaa-u, waman yusyrik billaahi faqodif taroo itsman adziima
Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersukutukan) kepadaNya, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allâh, maka sungguh, dia telah mengadakan dosa yang sangat besar. [an-Nisâ’/4:48].

Kalau dosa besar dari yang terbesar saja bisa diampuni, apa lagi dosa-dosa yang lebih kecil di bawahnya. Maka Rosululloh Saw. bersabda, "Sekali mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh dengan benar, 4000 dosa besar akan diampuni". (Al Hadits).
Dan syarat diampuninya dosa adalah dengan syahadat terlebih dahulu. Orang yang tidak bersyahadat maka Alloh tidak akan mengampuni terhadap dosa-dosanya.
Maka di bulan romadhon kita dianjurkan untuk banyak-baayak beristighfar, dan istighfar yang paling utama adalah: Laa Ilaaha Illaloh.

Satu dari dua yang terakhir yang pasti kita membutuhkannya ialah memohon Surga.
Pada bulan ini, rosululloh Saw. menganjurkan kita untuk memperbanyak memohon surga. Karena di bulan ini Alloh membuka seluas-luasnya pintu surga bagi siapa saja yang menginginkannya. Amatlah merugi orang yang tidak memanfaatkan kemuliaan romadhon, mereka diibaratkan, menghadiri sebuah undangan jamuan makan, meski ia hadir, namun tidak ada jaminan akan merasakan kelezatan makanan tersebut tanpa ia berikhtiar untuk memakan makanan yang dihidangkan.

Dari Zaid bin Arqam Radiallahuanhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda yang maksudnya, “Barangsiapa yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ dengan ikhlas, dia akan dimasukkan ke dalam syurga.” Lalu ditanya kepada baginda SAW, “Bagaimanakah yang dimaksudkan dengan ikhlas itu?”

Rasulullah SAW bersabda, “Ikhlas itu ialah yang mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan yang haram.” (Hadis riwayat at-Tabarani).

Perhatikan, lagi-lagi kalimat Laa Ilaaha Illaloh yang akan menghantarkan seseorang untuk masuk surga. "Miftahul jannah, Laa Ilaaha Illalo".

Kemudian, dua dari yang kedua adalah memohon terhindar dari api Neraka.
Di bulan ini kita sangat dianjurkan untuk banyak-banyak memohon agar terhindara dari siksa neraka. Karena di bulan romadhon Alloh Swt. menutup pintu neraka. Itu artinya, Alloh Swt. tidak mengiginkan hamba-Nya disiksa melainkan di bulan ini Alloh membuka pintu rahmat-Nya, ampunannya, dan membebaskan hamba-Nya dari siksa api neraka.

Dari Umar rodhiyallohu ‘anhu ia berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaha illallah. (HR. Hakim – Shohih Targhib wa Tarhib : 1528 ).

Lagi-lagi, kalimat ‘Laa ilaaha ilalloh’ adalah pelindung dari api neraka.

Nah, itulah hadirin empat amalan yang utama, disamping amalan-amalan lainnya di bulan romadhon

Maka pantaslah kiranya dibulan ini kita selalu berdoa:

أشْهَدُ أنْ لاَإلَهَ إلاَّ اللهُ أسْتَغْفِرُ اللهُ أسْألُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Asyhadu allaa ilaaha illallah, astaghfirullah, as aluka ridlaaka wal jannah, wa na’uudzubika minannaar.
Saya bersaksi tidak ada Tuhan Selain Allah, Saya mohon ampun kepada Allah, Saya mohon Ridha-Mu, Surga­Mu dan selamatkanlah saya dari neraka.” Mu dan selamatkanlah saya dari neraka.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

SHOLAT NISFU SYA'BAN BUKAN BID'AH

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 01 Mei 2018 | 21.58


SHOLAT NISFU SYA'BAN BUKAN BID'AH


Hidmat Ilmiah Manaqib Panongan, Ahad, 29-04-2018.

Muqodimah
Alhamdulillaah, bulan ini adalah bulan Sya'ban, besok Senin malam Nisfu Sya'ban (pertengahan bulan sya'ban).

Sebagaimana lazim bagi kita ikhwan TQN Suryalaya, amalannya terbagi atas Harian, Mingguan, Bulanan dan Tahunan.
Harian, yaitu sholat fardhu dan sholat-sholat sunnah, serta dzikir setelah sholat.
Mingguan, yaitu selain amalan yang sudah umum, ada juga yang bersifat khusus yakni Khotaman.
Kemudian ada amalan Bulanan, yaitu Manaqiban. Dimana salah satu rangkaian hidmat amaliyah manaqib ialah TANBIH dari ABAH SEPUH yang berisi nasehat untuk keselamatan Dunia dan Akhirat. Sabda Rosululloh Saw. "Barang siapa selama 40 hati tidak mendengarkan nasehat Ulama, maka hatinya akan mengeras, sehingga sulit untuk menerima nasehat tentang kebenaran".
Selanjutnya amalan Tahunan, selain yang sudah umum, di antaranya ialah SHOLAT SUNNAH NISFU SYA'BAN sebanyak 100 Rakaat yang dilaksanakan mulai Maghrib berjamaah sampai dengan selesai, insya Alloh besok malam akan dilaksanakan di Musholla ini.

Di antara sholat sunnat yang termasuk ke dalam yang disunatkan berjamaah ialah sholat sunnah Nisfu Sya'ban, yakni sholat sunat pada tengah-tengah bulan sya'ban (ruwah). "Sya'ban syu'batun khoiron katsiriin", artinya "Cabang-cabang kebaikan". Sholat sunat nisfu sya'ban adalah sholat sunat yang terbanyak rakaatnya dibandingkan dengan sholat sunat lainnya, yakni 100 rakaat.
Hikmahnya, semakin banyak sholat maka semakin dekat kepada Alloh sehingga selalu INGAT kepada-NYA.

Pada tanggal 15 Sya'ban semua umat manusia ditutup "Buku" (catatan perjalanan hidup) setahun yang lalu, dan dengan sendirinya kita memulai lagi lembaran buku tahunan untuk masa yang akan datang.
Kelak buku catatan itu akan dibuka pada hari Kiamat, dimana semua umat manusia akan mempertanggung jawabkan seluruh amal perbuatannya selama di dunia, sebagaimana Firman Alloh dalam QS. Al Jaatsiyah : 28 sbb:
"Wa taraa kulla ummatin jaatsiyatan, kullu ummatin tud'aa ilaa kitaabihaal yauma tujzauna maa kuntum ta'malauuna". Artinya, "Dan pada hari itu kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya. Pada hari itu ku diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan".

Pada malam nisfu sya'ban sangat baik bagi kita untuk mengintrospeksi diri, menghitung-hitung diri sebelum kita dihitung, sebagaimana sabda sayyidina Umar ra. "Haasibu qobla antu hasabu" (Hitunglah dirimu senelum dihitung).
Adapun keistimewaan malam nisfu sya'ban diriwayatkan dari Sahabat Hasan ra. dalam kitab Al Ghunyah Lithoriqi al Haqq, sbb:
  1. Sesungguhnya bagi orang-orang yang mengamalkan sholat nisfu sya'ban, maka Alloh akan melihat kepada orang tersebut 70 kali penglihatan. Dan setiap penglihatan mencukup 70 keperluan kepada orang tersebut.
  2. Barang siapa yang membaca shalawat pada malam nisfu sya'ban, maka para malaikat mendoakan sampai hari kiamat agar orang itu diampuni segala dosanya. Sebagaimana sabda Nabi: "Sholaatukum 'alayya majaaqotun" (Shalawat yang kamu baca bagiku, itu menghilangkan segala dosa-dosamu).
  3. Para malaikat menyeru: "Untung sekali bagi orang-orang yang ruku', sujud, berdoa, berdzikir dan membaca al Quran sedikitnya surat Yaasiin 3 kali pada malam nisfu sya'ban sampai terbit fajar, sehingga Alloh membebaskannya dari siksa Api Neraka. Sabda Nabi : "Yaasiin qolbu al Quran" (Yaasiin itu jantungnya al Quran).
  4. Sungguh tak ternilai harganya, karena pada malam itu Alloh membuka 300 pintu rahmat. Dan Alloh memberi ampunan bagi orang-orang yang bertobat kepada-Nya, serta Alloh menurunkan Maghfiroh (Pengampunan) pada malam nisfu sya'ban bagi orang-orang yang melaksanakan sholat sunat sebanyak-banyaknya.
Hadits tentang sholat sunat Nisfu Sya'ban:

"Fa ammasholaatul waaridatu fii lailatinnishfion sya'baana fa hiya miiatu rok'atin bi alfi marrotin qulhuwallohu ahadun fii kulli tok'atin bi 'asyroo marrootin wa tusammaa haadzihish sholaattul khoiri".

Artinya, "Adapun sholat yang kewarid di dalam nisfu sya'ban banyaknya 100 rakaat, 1000 Qulhuwallohu Ahad. Tiap-tiap rakaat 10 kali Qulhuwallohu Ahad. Sholat ini diberi nama "Sholatul Khoiri", yakni sholat yang sebaik-baiknya".

Ikhwan wal akhwat ra.
Demikianlah keterangan tentang amaliyah nisfu sya'ban. Namun meski demikian, masih ada sebagian umat Islam yang mempermasalahkan amalan ini, mereka menuduh bid'ah, karena menurut mereka tidak ada contoh dari Nabi maupun Sahabat, sehingga perlu dijauhi, bahkan dilarang untuk mengamalkannya, sebab Nabi bersabda : "Kullu bid'atin dholalah, wa kullu dholalati finnaar" (Setiap perkara baru itu sesat, dan setiap yang sesat tempatnya di Neraka).

Perlu saya jelaskan disini, bagaimana sesungguhnya cara memahami hadits tersebut. 
Kullu bid'atin, itu bukan berarti mencakup semuanya sesuatu yang baru? akan tetapi hanya sebagian, sebab pada kata "Bid'ah" ada kata sifat yang dibuang, mengapa dibuang? karena sudah umum dalam bahasa Arab, sebab bid'ah itu isim (kata benda) yang tentu memiliki sifat, sifatnya bisa "baik bisa buruk". Jadi kalimat tersebut seyogyanya dipahami Kullu bid'atin sayyi'ah atau hasanah, dan yang paling tepat adalah sayyi'ah (buruk/jelek), hanya yang "buruk" yang sesat, sedang yang "baik" tidak mungkin sesat. Jadi arti sesungguhnya dari hadits tersebut adalah: "Setiap perkara baru yang buruk itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka". Hanya bid'ah yang buruk yang sesat, sedang bid'ah yang "baik", itu tidaklah sesat, maka Imam Sayfi'i membagi bid'ah menjadi 2 (dua) yakni: Bid'ah yang "Buruk" dan Bid'ah yang "Baik" .

Maka Bid'ah buruk itu dilarang, sedang bid'ah yang baik diperbolehkan sepanjang tidak ada dalil syar'i yang melarangnya. Hal ini berdasarkan hadits :
"Man sanna fil islami sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man 'amila bihaa ba'dahu min ghairi an yanqusha min ujuurihim syai-un. Wa man sanna fil islaami sunnatan sayyi'atan kaana 'alaihi wizruhaa wawizru man 'amila bihaa min ba'dihi min ghairi an yanqusha min auzaarihim syai-un".
Artinya, “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim).

Nah, begitulah cara memahami hadits tersebut, untuk memahaminya dibutuhkan ilmu, jika kita merasa kurang ilmunya, belajarlah kepada orang yang berilmu (Ulama).
Apakah ada dalilnya di dalam Al Quran?
Tentu saja ada, seperti dalam memahami Firman Alloh Swt. : "Ammassafiinatu fakaanat limasaakiina ya'maluuna fil bahri, fa arodtu an a'iibahaa wakanaa waroo ahum malikan ya'khudzuhu kulaa safiinatin ghoshbaa".
Artinya, "Adapun bahtera itu kepunyaan orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada raja yang merampas setiap bahtera". (QS. Al Kahfi : 79).

Perhatikan!
Kata "kulla safiinatin", itu bukan berarti setiap kapal/bahtera, akan tetapi ada kata yang "dibuang" yakni "Jamiilatun" (Bagus). Artinya, hanya kapal yang bagus yang akan dirampas oleh raja, sedangkan kapal yang rusak (dirusak oleh Nabi Khidir) tidak akan dirampas oleh raja karena raja tidak tertarik dengan kapal yang rusak.

Hadirin yang berbahagia,
Riwayat di atas ada di dalam Al Quran Surat al Kahfi ayat 65-82. Ketika Nabi Musa as. berguru kepada Nabi Khidir as. Dikisahkan Nabi Musa as. berkata: "Hal attabi'uka" (bolehkan aku mengikutimu?) supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?. Nabi Khidir as. menjawab: "Lan tastathii'a ma'iya shobron" (Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku). Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu".
Musa berkata: "Insya Alloh kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan apapun".
Nabi Khidir berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?". Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.
Khidir berkata: "Bukankah aku telah berkata bahwa, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku".
Nabi Musa berkata: "Janganlah engkau marah akan daku disebabkan aku lupa (akan syaratmu) dan janganlah engkau memberati daku dengan sesuatu kesukaran dalam urusanku (menuntut ilmu)".

Kemudian keduanya berjalan lagi sehingga apabila mereka bertemu dengan seorang pemuda lalu dia (Khidir) membunuhnya. Nabi Musa berkata: "Patutkah engkau membunuh satu jiwa yang bersih, yang tidak berdosa karena telah membunuh orang?" Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perbuatan yang mungkar!
Dia (Khidir) menjawab: "Bukankah, aku telah katakan kepadamu, bahwa engkau sekali-kali tidak akan dapat bersabar bersamaku?"
Nabi Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu perkara sesudah ini, maka janganlah engkau jadikan daku sahabatmu lagi; sesungguhnya engkau telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku".

Kemudian keduanya berjalan lagi, sehingga apabila mereka sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta makan kepada orang-orang di situ, lalu orang-orang itu enggan menjamu mereka. Kemudian mereka dapati di situ (dalam negeri itu) sebuah tembok yang hendak runtuh, lalu dia (Khidir) menegakkan dinding itu. Nabi Musa berkata: "Jika engkau mau, tentulah engkau berhak mengambil upah mengenainya"!
Dia (Khidir) menjawab: "Inilah masanya perpisahan antaraku denganmu, aku akan terangkan kepadamu maksud (kejadian-kejadian) yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya".

Lalu Nabi Khidir as. menjelaskan alasan-alasan dari perbuatannya yang Nabi Musa as. tidak sabar kepadanya: "Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang-orang miskin yang bekerja di laut; oleh itu, aku bocorkan dengan tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah perahu yang tidak cacat".
"Adapun pemuda itu, kedua ibu bapaknya adalah orang-orang yang beriman, maka kami bimbang bahwa dia akan mendesak mereka (ibu-bapaknya) melakukan perbuatan yang zalim dan kufur". Oleh itu, kami ingin dan berharap, supaya Tuhan mereka menggantikan bagi mereka anak yang lebih baik dari padanya (soleh) tentang kebersihan jiwa dan lebih mesra kasih sayangnya".
Adapun tembok rumah itu, adalah kepunyaan dua orang anak yatim di negeri itu dan di bawahnya ada harta terpendam kepuyaan mereka dan ayahnya adalah orang yang sholeh. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka) dan (ingatlah) aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.

Demikianlah Nabi Musa dan Nabi Khidir telah memberikan pelajaran kepada kita umatnya tentang adab dalam menuntut ilmu Hakikat. Ilmu hakik
at berbeda dengan ilmu syariat, dimana ilmu syariat adalah yang mengatur secara lahiriah sedang ilmu hakikat mengatur tataran batiniah.

Dari kisah ini maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa tidaklah semua yang terlihat secara lahiriah salah itu adalah salah, melainkan harus kita pahami hakekatnya melalui bimbingan seorang Guru yang Mursyid. Kalau Nabi saja masih mau untuk mencari guru, apalagi kita yang bukan siapa-siapa?

Haasibu qobla antu hasabu, hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung!

Wallahu'alam bishshowab
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger