Latest Post
03.35
IKUT SAJA BERSAMA GURU AGUNG
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 20 Mei 2015 | 03.35
![]() |
| Sunan Ampel |
Pasca Kemursyidan Abah Anom (Silsilah ke 37),
satu-satunya Murid beliau yang diakui sebagai Mursyid (Silsilah ke 38) oleh
Ikhwan TQN Suryalaya adalah, Pengersa Abah Aos, Syekh Muhammad Abdul Gaos
Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi al Kamil, Qs.
Berkata pengersa Abah di
hadapan ribuan Ikhwan di Masjid Istiqlal Jakarta, Muhammad adalah nama yang
diberikan oleh kedua orang tua beliau, Gaos adalah nama pemberian dari Syekh
Muhammad Kahfi (Mursyid Thoriqoh Syathoriyah) yang tidak lain adalah Kakek beliau
sendiri, nama tersebut diberikan kepada Ibunda beliau (Siti Muslihah) dua tahun
sebelum beliau dilahirkan. Saefulloh Maslul adalah nama yang diberikan oleh
Guru Agung Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin, Qs. (Abah Anom), Al Qodiri,
adalah nama yang diberikan oleh Syekh Hashimuddin (Cucu Syekh Abdul Qodir
Jailani) di Baghdad Iraq, An Naqsyabandi, adalah nama yang diberikan oleh Syekh
Afeefuddin (Cucu Syekh Abdul Qodir Jailani) di Malaysia, dan Al Kamil, adalah
nama yang diberikan oleh Syekh Muhammad Fadhil Jailani (Cucu Syekh Abdul Qodir
Jailani) di Turky.
Menyikapi Kemursyidan pengersa Abah Aos, Pondok Pesantren Suryalaya,
berserta jajaran Pengurus Yayasan Serba Bakti (YSB), dan sebagian besar Wakil
Talkin Abah Anom, tidak menerima Kemursyidan pengersa Abah Aos, bagi mereka
kemursyidan TQN Suryalaya hingga saat ini masih ada pada Abah Anom, sampai
Alloh SWT. menentukan Wali/Guru Mursyid lain di kemudian hari.
Masalah kemursyidan adalah menyangkut tentang keyakinan, tentu saja kita
harus memaklumi bagi orang yang tidak sepaham dengan keyakinan kita. Sebagai
ikhwan TQN Suryalaya, kita harus senantiasa berpegang teguh pada isi Tanbih
dari Syekh Abdulloh Mubarok Bin Nur Muhammad Qs. (Abah Sepuh). Jaga persatuan dan kesatuan, hormat kepada
yang lebih tinggi, jangan bersengketa, rendah hati, gotong royong, jangan
berselisih, jangan menghina, jangan angkuh, harus kasih sayang, manis budi,
ramah tamah, murah tangan. Jangan membenci kepada ulama yang sezaman, jangan
memeriksa murid orang lain, jangan menyalahkan pengajaran orang lain, jangan
berubah sikap meskipun disakiti orang lain, harus menyayangi orang yang membenci
kepadamu. Sabda Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh
Maslul Al Qodiri An Naqsyabandi Al Kamil, Qs., Mursyid TQN PPS silsilah ke 38
yang kini telah memiliki 89 Wakil Talkin tersebar di Indonesia, Malaysia,
hingga Jeddah Arab Saudi: "Tak Terkejar Tetapi Tidak Ada Yang
Tertinggal". Tentu saja sabda beliau itu ditujukan kepada siapa
saja Yang Mau Ikut.
Sebagai Mursyid TQN Suryalaya, pengersa Abah Aos beberapa kali mengeluarkan
Maklumat sebagai penyempurnaan ajaran TQN Suryalaya guna meningkatkan amaliyah
sekalian ikhwan. maklumat tersebut antara lain:
- Di Sirnarasa,
beliau menghimbau seluruh ikhwan agar melaksanakan amaliyah sholat sunnah
isti'anah sebanyak 4 rakaat, 2 kali salam berikut dengan doa, setelah isro', istiadah, istiharoh.
- Di
Spanyol, beliau menetapkan keseragaman Lagam dalam Khotaman.
- Bandara
Abu Dhabi, 21 Oktober 2014, Pukul 06.34 waktu setempat / 09.34 WIB.
(Sholat Sunah "Syukur Ni'mat). pengersa Abah menyatakan: "Sholat
Syukur Ni'mat lakukan dengan 2 roka'at, sebanyak-banyaknya (tak
terhingga), dimana saja dan kapan saja. Bacaan ayat setelah Surat
Alfatihah adalah ayat.ke 34 surat Ibrohim, pada rokaat pertama: "Wa
aataakum min kulli maa sa-altumuuhu, wa inta'udduu ni'matallohi laa tuh
shuuhaa". Pada roka'at kedua: "Innal insaana
lazholuumun kaffar". Setelah salam lalu sujud dengan
membaca: "Allohuma laka sajadtu, wabika aamantu walaka aslamtu
sajada wajhiya lilladzi kholaqohu wa showarohu wa syaqqo sam'ahu wa
bashorohu bi haulihi waquwwatihi tabaarokallohu ahsanul khooliqiin".
- Di
Turky, Jumat, 24 Oktober 2014 di dalam bis, Kusadasi, Pukul 10.34 waktu
setempat. Maklumat Abah Aos: "Pra Manaqib, bacakan Al Fatihah, Al
Ikhlash, Al Falaq dan An Nas Untuk Peradaban Dunia. Setelah "Untuk
Kejayaan Agama dan Negara" (baca: Untuk Kejayaan Agama dan Negara
untuk Peradaban Dunia, Al Fatihah...).
- Istambul,
Turky. Selasa, 28 Oktober 2014. Maklumat Abah Aos; "Al Fatihah ke-4
Khotaman atau Tawassul, kalimat; "Wa Muslimin wa
Muslimatin", dicukupkan (tidak digunakan). Sehingga menjadi: " ... wa ila arwahi kulli
waliyyin wa waliyatin, min masyariqil ardhi...).
- Pada
Manaqib di Masjid Istiqlal tanggal 21 Februari 2015 pengersa Abah Aos
mengeluarkan maklumat, bahwa disetiap manaqib yang dilaksanakan adalah
dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, dimanapun dan kapanpun
juga.
- Di
Jakarta, beliau menghimbau seluruh ikhwan TQN PPS di mana saja berada,
sendiri atau berjamaah, mulai Jumat tanggal 6-14 Maret 2015, setiap ba'da
sholat ashar melaksanakan Khotaman dengan membaca Yaa
Lathif sebanyak 129 kali.
- Madinah,
07 Maret 2015. Jam 22.00 WAS. Beliau mengucapkan sholawat dan salam
kepada Baginda. Dan beliau maklumatkan agar hal ini didawamkan setiap
malam sesudah sholat dan zikir malam.
- Di
Madinah-Mekah, tanggal 9 Maret 2015, pengersa Abah menyampaikan mulai hari
ini:
- Setiap
masuk kamar kecil atau kamar mandi langsung berwudhu.
- Waktu
pelaksanaan sholat Duha dikembalikan lagi seperti pada zaman Syeikh
Abdulloh Mubarok Bin Nur Muhammad (Abah Sepuh), yakni jam 07.00 pagi.
- Di
Sirnarasa, mulai hari Selasa, 7 April 2015, beliau menghimbau seluruh
ikhwan agar sebelum tidur membaca, "Bismillaahirrohmaanirrohiim,.
Naruddu bikal a'daau minkulli wijhatin wabil ismi tarmihim minal
bu'di bissatat. Allohuma Haafizhun Hayyun Laa Yanam", sampai tertidur.
- Di
Prapanca, Selasa 21 April 2015. Pengersa Abah mengijazahkan uluk salam
Rijalul Ghoib. Catatan dari KH. Muhammad Sholeh Hujatul Arifin: Sebelum
membaca Rijalul Ghoib, agar beruluk salam terlebih dahulu kepada pengersa
Abah Aos.
- Di
Jagat 'Arsy, Rabu, 22 April 2015 jam 08.00 pagi. Semua ikhwan diminta
untuk puasa Rojab, pada hari Kamis, kemudian malamnya sholat malam Jumat
pertama di bulan Rojab.
- Di
Bandung, beliau menghimbau dan mengingatkan agar para Ikhwan dan Akhwat
sekalian terhitung Selasa , 12 Mei 2015, untuk mengucapkan/menjawab, "Aamiin" secara nyaring, kompak, dan
berjamaah seluruh bait doa Hadrotu Syeikh Abdulloh Mubarok Bin Nur
Muhammad (Abah Sepuh) di setiap pembacaan Tanbih.
- Kepada
seluruh Ikhwan-Akhwat TQN PP Suryalaya. Abah menghimbau terhitung Rabu, 13
Mei 2015 agar menyeragamkan amaliyah pembacaan tawasul terhadap seluruh
Ahli Silsilah TQN PPs yang tertera dalam untaian Dzikir Harian, Khotaman, dan Tawasul dengan merujuk pada bimbingan
redaksi dari Pengersa Abah Sepuh berikut ini: "Tsumma ila arwaahi ahli
silsilatil Qodiriyyah Naqsyabandiyah Ma'had Suryalaya wa jami'i ahlit
thuruqi..dst".
Satu demi satu bimbingan pengersa Abah untuk semua murid-murinya, agar
senantiasa meningkat amaliyahnya yang akan menghantarkan si murid sampai kepada
Alloh SWT. Tidak mungkin seseorang akan sampai kepada Alloh hanya sekedar
bermodalkan amal yang sedikit juga jauh dari keikhlasan (penuh dengan rasa
cinta). Apalagi diiringi dengan sifat-sifat yang buruk mendominasi hati
seseorang, seperti; rasa kebencian, lisan yang tak terjaga, kesombongan, dll.
Kesemuanya itu akan menutupi hati kita, oleh karenanya menjadi gelap, sehingga
tidak mampu melihat cahaya yang terang benderang dari Tuhan-nya. Sebagaimana
Firman Alloh SWT. dalam Surat An Nur ayat 35: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya
Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada
pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang
bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang
berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu)
dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir
menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah
memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu".
Terima kasih wahai Guruku Yang Agung, meskipun tertatih-tatih diri ini
mengikuti jejak-jejak langkahmu... terkadang merayap, terkadang merangkak,
terkadang duduk, terkadang berdiri, terkadang berjalan cepat, berlari kencang,
kemudian jatuh kembali (terseok-seok). Ternyata jangankan untuk mengejar,
berada di belakangmu saja diri ini tak mampu. Namun aku tetap berharap agar di
akui sebagai murid walau sesungguhnya hanya menjadi beban bagimu...
Sampai akhirnya engkau bersabda, "Tak Terkejar
Tetapi Tidak Ada Yang Tertinggal, Ikut Saja Bersama Guru Agung". Isro' dan Mi'roj Nabi Muhammad SAW. terjadi disaat orang lain masih tidur.
Maka kalau ingin meningkat, "Disaat orang lain sudah tidur, kita masih
bangun. Saat orang lain belum bangun kita sudah bangun. Hati ini hanya
mencintai Abah Anom, Mata ini hanya melihat Abah Anom, Telinga ini hanya
mendengarkan Abah Anom”. Demikianlah ungkapan beliau yang sudah fana fi syeikh, dirinya telah lebur
bersama Gurunya Yang Agung. Firman Alloh dalam Al Qur’an Surat Al A’raf ayat
179: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk
(isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati,
tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Beruraian
air mata ini menyesali kebodohan dan kemalasan. Semoga terbonceng di atas
kendaraanmu yang Agung agar sampai ke Hadirot Alloh Azza Wa Jalla, aamiin.
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
Rojab 1436 H / Mei 2015
06.12
Manaqib Masjid Istiqlal 21 Februari 2015 Hidmat Ilmiah: KH. Jujun J
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 24 Februari 2015 | 06.12
<iframe width="640" height="390" src="https://www.youtube.com/embed/iTdsz4YGBvE" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
06.10
Manaqib Masjid Istiqlal 21 Februari 2015 Hidmat Ilmiah; KH. Dadang M
<iframe width="640" height="390" src="https://www.youtube.com/embed/5eJJEzF4hws" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
03.26
GUGURLAH IA DARI PANGKAT KEWALIANNYA (Manqobah itu Berlaku Bagi Syekh)
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 06 Februari 2015 | 03.26
Sadar atau tidak, suka ataupun tidak,bahwa siapa saja yang tidak mengakui Kewalian dari seseorang Wali penerus Kewalian dari Rajanya Wali Syekh Abdul Qodir Jailani Qs., meskipun ia seorang Wali maka kewaliannya akan gugur dicabut oleh Alloh Swt.
Hal ini berdasarkan Manqobah ke-12 Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.
"Diriwayatkan dalam kitab Roudhotun Nadhirin fii Manaqibi As-Syaikh Abdul Qodir, pada masa periode keenam dari zaman Abi Ali Al-Hassan As-Sirri, sampai pada masa kelahiran Syekh Abdul Qodir, tidak ada seorang 'alim ulama, kecuali pada umumnya mereka membicarakan tentang keagungan pangkat kewalian Syekh dan akan menginjak pundak para waliyulloh. Para 'alim ulama itu menerima isi dari pengumuman tersebut, kecuali seorang wali dari kota Asfahan ia menolak isi dari pengumuman itu. Dengan adanya penolakan tentang kewalian Syekh, pada saat itu juga GUGURLAH IA DARI PANGKAT KEWALIANNYA. Hampir tigaratus tahun lagi Syekh Abdul Qodir akan lahir, kedudukan pangkat kewaliannya sudah masyhur dikenal masyarakat."
اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان
Alloohhummansyur 'alaihhi rohmataw waridhwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.
Hal ini berdasarkan Manqobah ke-12 Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.
"Diriwayatkan dalam kitab Roudhotun Nadhirin fii Manaqibi As-Syaikh Abdul Qodir, pada masa periode keenam dari zaman Abi Ali Al-Hassan As-Sirri, sampai pada masa kelahiran Syekh Abdul Qodir, tidak ada seorang 'alim ulama, kecuali pada umumnya mereka membicarakan tentang keagungan pangkat kewalian Syekh dan akan menginjak pundak para waliyulloh. Para 'alim ulama itu menerima isi dari pengumuman tersebut, kecuali seorang wali dari kota Asfahan ia menolak isi dari pengumuman itu. Dengan adanya penolakan tentang kewalian Syekh, pada saat itu juga GUGURLAH IA DARI PANGKAT KEWALIANNYA. Hampir tigaratus tahun lagi Syekh Abdul Qodir akan lahir, kedudukan pangkat kewaliannya sudah masyhur dikenal masyarakat."
Ini berlaku juga bagi Wali yang ada sekarang, yaitu Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya, yang mulia Guru Agung Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi al Kamil, Qs.
Siapa saja yang tidak mengakui PANGKAT KEWALIAN SYEKH, meskipun ia seorang WAKIL TALKIN apalagi BUKAN WAKIL TALKIN, maka GUGURLAH IA DARI PANGKAT KEWALIANNYA!
Yang Alim jadi BODOH, yang Arif jadi PENDENGKI, yang Tinggi jadi RENDAH, yang Melihat jadi BUTA.
Ibarat kata pepatah, "Semut di seberang lautan kelihatan, GAJAH di pelupuk mata tak kelihatan". Dan kata pepatah, "Majelis-Majelis Udang, Tahi di Kepala".
***
اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان
Alloohhummansyur 'alaihhi rohmataw waridhwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.
Wallohu'alambishshowab.
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
03.37
APAKAH ADA BID'AH DI SURYALAYA?
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 28 Januari 2015 | 03.37
Tulisan ini terinspirasi setelah membaca hidmat Ilmiah Manaqib Tuan Syekh Abdul Qodir Jailani Qs. di Pondok Pesantren Suryalaya. Salah satu kutipan ceramahnya adalah, "Apakah setelah mati basyarnya, kalian akan lari meninggalkan beliau ? Apakah setelah mati basyarnya, padahal ruhnya tidak mati dan ruhnya terus menjalankan peran kemursyidan, kalian akan lari meninggalkan Suryalaya? Apakah setelah Abah Anom mati basyarnya ruhnya tetap hidup dan terus menjalankan bimbingan ruhani terhadap qalbu-qalbu kita, kalian akan meninggalkan amaliah beliau?
Apakah kalian akan manambah-nambah ajaran beliau?
Apakah kalian merasa perlu mencari orang lain pengganti beliau?
Apakah kalian akan meninggalkan Muhammad SAW hanya karena beliau terbunuh?".
Perdebatan di kalangan para Ulama seputar masalah Bid'ah sampai sekarang tidak ada habis-habisnya, sebagian mengatakan bid'ah adalah sesat, maka tempatnya di Neraka. Sebagian lagi mengatakan bid'ah terbagi menjadi dua, yaitu; Bid'ah Dholalah dan Bid'ah Hasanah. Baiklah mari kita cermati pengertian singkat tentang bid'ah berikut ini.
Sabda Rosulululloh Saw.: Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].
Golongan Pertama
Berdasarkan hadist tersebut maka bid'ah (setiap) dikatakan sesat. Mengada-adakan sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad Saw.itu adalah bid'ah, contoh; doa qunut subuh, membaca usholli ketika memulai sholat, peringatan maulid, nuzul qur'an, sholat tarowih 20 rakaat, isro' mi'raj, dll. Bagi golongan ini melaksanakan hal tersebut haram hukumnya dan harus di "perangi", tidak boleh berkembang di dalam umat Islam. Kelompok ini diantaranya, adalah; paham wahabi yang berkembang di Arab, serta kelompok-kelompok lainnya seperti; 'hizbut tahrir', jamaah 'salafi', sebagian 'PKS', 'Persis', 'Muhammadiyah', dll. Tokoh utamanya ialah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama pendukungnya. Mayoritas kelompok ini bermazhabkan Imam Ahmad Ibnu Hambal di bidang Fiqih.
Golongan Kedua
Mereka membagi pemahaman bid'ah menjadi dua, yaitu; bid'ah hasanah dan bid'ah dholalah. Bid'ah hasanah adalah sesuatu perkara yang baru namun perkara tersebut perkara yang baik (terpuji). Sedangkan bid'ah dholalah adalah sesuatu perkara yang baru namun bertentangan dengan ajaran pokok Islam (Syar'i). Kesimpulannya kelompok ini menerima bid'ah dalam kategori hasanah seperti disebut dalam contoh di atas dan menolak hal baru yang bertentangan dengan aqidah/syari'ah Islam. Kelompok ini adalah Ahlussunnah Waljamaah, seperti; NU, dan kelompok Thoriqoh dalam Tashowwuf (Sufi). Tokoh utamannya ialah Hujatul Islam Imam Ghazali, Syekh Abdul Qodir Jailani, dll. Umumnya kelompok ini bermazhabkan Imam Syafi'i di bidang Fiqih.
Berdasarkan penjelasan singkat tersebut di atas, maka dapat dipastikan pemahaman TQN Pondok Pesantren Suryalaya adalah berada dalam pemahaman yang kedua, yaitu memahami bid'ah dalam dua terminologi. Artinya TIDAK MEMBID'AHKAN SESUATU (AJARAN) YANG BARU setelah wafatnya GURU MURSYID.
Maka kalau ada yang berpendapat bahwa, ajaran Guru Mursyid terdahulu tidak boleh ditambah (diperbaharui) dan beranggapan telah sempurna untuk selamanya, paham tersebut menyalahi PEMAHAMAN BID'AH di kalangan AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH.
Sabda Rosululloh Saw. "Ulama adalah penurus para Nabi". Risalah akan terus berlanjut sampai hari kemudian, silih berganti, membimbing umat dari masa ke masa sesuai dengan masanya masing-masing.
Bibarokati ahli silsilah TQN PPS, wabil khusus Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, Qs. Al Faatihah.....
Tafaku Pecinta Kesucian Jiwa
Januari 2015
Apakah kalian akan manambah-nambah ajaran beliau?
Apakah kalian merasa perlu mencari orang lain pengganti beliau?
Apakah kalian akan meninggalkan Muhammad SAW hanya karena beliau terbunuh?".
Perdebatan di kalangan para Ulama seputar masalah Bid'ah sampai sekarang tidak ada habis-habisnya, sebagian mengatakan bid'ah adalah sesat, maka tempatnya di Neraka. Sebagian lagi mengatakan bid'ah terbagi menjadi dua, yaitu; Bid'ah Dholalah dan Bid'ah Hasanah. Baiklah mari kita cermati pengertian singkat tentang bid'ah berikut ini.
Sabda Rosulululloh Saw.: Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].
Golongan Pertama
Berdasarkan hadist tersebut maka bid'ah (setiap) dikatakan sesat. Mengada-adakan sesuatu yang tidak ada di zaman Nabi Muhammad Saw.itu adalah bid'ah, contoh; doa qunut subuh, membaca usholli ketika memulai sholat, peringatan maulid, nuzul qur'an, sholat tarowih 20 rakaat, isro' mi'raj, dll. Bagi golongan ini melaksanakan hal tersebut haram hukumnya dan harus di "perangi", tidak boleh berkembang di dalam umat Islam. Kelompok ini diantaranya, adalah; paham wahabi yang berkembang di Arab, serta kelompok-kelompok lainnya seperti; 'hizbut tahrir', jamaah 'salafi', sebagian 'PKS', 'Persis', 'Muhammadiyah', dll. Tokoh utamanya ialah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan ulama pendukungnya. Mayoritas kelompok ini bermazhabkan Imam Ahmad Ibnu Hambal di bidang Fiqih.
Golongan Kedua
Mereka membagi pemahaman bid'ah menjadi dua, yaitu; bid'ah hasanah dan bid'ah dholalah. Bid'ah hasanah adalah sesuatu perkara yang baru namun perkara tersebut perkara yang baik (terpuji). Sedangkan bid'ah dholalah adalah sesuatu perkara yang baru namun bertentangan dengan ajaran pokok Islam (Syar'i). Kesimpulannya kelompok ini menerima bid'ah dalam kategori hasanah seperti disebut dalam contoh di atas dan menolak hal baru yang bertentangan dengan aqidah/syari'ah Islam. Kelompok ini adalah Ahlussunnah Waljamaah, seperti; NU, dan kelompok Thoriqoh dalam Tashowwuf (Sufi). Tokoh utamannya ialah Hujatul Islam Imam Ghazali, Syekh Abdul Qodir Jailani, dll. Umumnya kelompok ini bermazhabkan Imam Syafi'i di bidang Fiqih.
Berdasarkan penjelasan singkat tersebut di atas, maka dapat dipastikan pemahaman TQN Pondok Pesantren Suryalaya adalah berada dalam pemahaman yang kedua, yaitu memahami bid'ah dalam dua terminologi. Artinya TIDAK MEMBID'AHKAN SESUATU (AJARAN) YANG BARU setelah wafatnya GURU MURSYID.
Maka kalau ada yang berpendapat bahwa, ajaran Guru Mursyid terdahulu tidak boleh ditambah (diperbaharui) dan beranggapan telah sempurna untuk selamanya, paham tersebut menyalahi PEMAHAMAN BID'AH di kalangan AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH.
Sabda Rosululloh Saw. "Ulama adalah penurus para Nabi". Risalah akan terus berlanjut sampai hari kemudian, silih berganti, membimbing umat dari masa ke masa sesuai dengan masanya masing-masing.
Bibarokati ahli silsilah TQN PPS, wabil khusus Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, Qs. Al Faatihah.....
Tafaku Pecinta Kesucian Jiwa
Januari 2015
02.46
Saat Imam Ahmad Menangis Di Majelis Seorang Sufi
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 14 Januari 2015 | 02.46
Imam Ahmad bin Hambal dikenal termasuk ulama yang sensitif terhadap hal-hal yang berbau bid’ah. Di zamannya, ada seorang ulama Sufi yang sangat kesohor, yaitu Imam al-Harits al-Muhasibi. Diantara keduanya dikenal terdapat perselisihan. Namun bukan itu yang akan kita tulis di sini. Akan tetapi kita akan coba melihat betapa Imam Ahmad meskipun memiliki perbedaan dengan ulama lain, namun beliau tidak dapat mengingkari kebenaran yang ada pada ulama tersebut.
Imam al-Khatib al-Bagdadi dalam tariknya, dan Imam Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad dan Shaid al-Khatir, meriwayatkan dengan sanad sahih, dari Ismail bin Ishak al-Sarraj, dia berkata,
“Suatu hari Ahmad bin Hanbal pernah berkata kepadaku: “Aku mendengar kabar bahwa al-Harits al-Muhasibi memiliki jamaah membludak. Apakah bisa kamu mengundangnya ke rumahmu dan menyediakan untukku tempat duduk sekiranya ia tidak dapat melihat keberadaanku, sehingga aku bisa mendengarkan ceramahnya?” Aku menjawab: “Baik wahai Abu Abdillah, akan saya laksanakan.” Sungguh permintaan Abu Abdillah (Imam Ahmad) ini membuatku senang. Kemudian aku pergi menemui al-Harits al-Muhasibi dan memintanya untuk datang ke rumahku pada malam itu juga. Aku memintanya agar mengajak jamaahnya juga. Ia berkata: “Wahai Ismail, jamaahku sangat banyak. Jangan terlalu repot menyediakan jamuan, cukup air minum dan kurma saja.” Lantas aku pun menyediakan sesuai permintaannya
Setelah itu, aku menemui Abu Abdillah dan mengabarkan mengenai hal itu. Ia pun datang ke rumahku ba’da Magrib. Lantas ia masuk ke kamar bagian atas di rumahku dengan terus membaca wiridnya hingga selesai. Kemudian datanglah al-Harits al-Muhasibi. Mereka langsung makan, lantas menunaikan shalat Isya’ tanpa langsung menunaikan shalat sunnah ba’diyah. Mereka duduk di hadapan al-Harits dengan sangat khusyuk, tak terdengar satu pun yang berbicara hingga pertengahan malam. Lantas ada seorang jamaah yang bertanya tentang suatu permasalahan. Al-Harits pun akhirnya menjawabnya dengan panjang lebar, sedangkan jamaahnya diam khusyuk seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung. Diantara mereka ada yang menangis dan ada yang pingsan saat al-Harits tengah menjelaskan permasalahan yang ditanyakan.
Kemudian aku naik ke kamar atas untuk melihat keadaan Abu Abdillah, ternyata ia juga menangis tersedu dan diam tertegun. Lantas aku pun kembali ke majelis dan mereka tetap dalam kondisi yang sangat khusyuk itu hingga waktu Subuh pun tiba. Kemudian mereka menunaikan shalat Subuh, lantas pulang ke rumah masing-masing. Aku naik dan menemui Abu Abdillah, dan keadaannya sudah berubah. Aku bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut Anda wahai Abu Abdillah?”. Dengan penuh kekaguman –ia menjawab: “Aku tidak pernah melihat kumpulan orang-orang seperti ini sebelumnya. Dan aku tidak pernah mendengar ilmu hakikat seperti yang telah disampaikan oleh lelaki ini. Berdasarkan apa yang saya dengar dan lihat kondisi mereka, maka sebaiknya kamu tidak berteman dengan mereka.” Kemudian ia berdiri dan keluar rumah.” (Tarikh Bagdad 8/214, Manaqib Imam Ahmad, hlm: 185).
Terkait pernyataan Imam Ahmad agar tidak berteman dengan al-Harits al-Muhasibi dan jamaahnnya, Imam Tajuddin al-Subki dalam Thabaqât al-Syafiiyyah dan Imam al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzib al-Tahdzib, menjelaskan bahwa Imam Ahmad melarang untuk berteman dengan mereka lantaran beliau mengetahui akan maqâm (kedudukan/kondisi) mereka yang sangat sempit dan tidak dapat dilalui oleh sembarang orang. Dan beliau tahu orang yang berjalan di dalamnya tidak akan benar-benar mampu memberikan haknya. (disarikan dari kitab Risâlah al-Mustarsyidîn, tahkik dan komentar Abdul Fattah Abu Ghuddah). Saifullah/mosleminfo.com)
Sumber : http://mosleminfo.com/islamia/tasawuf/saat-imam-ahmad-menangis-di-majelis-seorang-sufi/
Imam al-Khatib al-Bagdadi dalam tariknya, dan Imam Ibnul Jauzi dalam Manaqib Imam Ahmad dan Shaid al-Khatir, meriwayatkan dengan sanad sahih, dari Ismail bin Ishak al-Sarraj, dia berkata,
“Suatu hari Ahmad bin Hanbal pernah berkata kepadaku: “Aku mendengar kabar bahwa al-Harits al-Muhasibi memiliki jamaah membludak. Apakah bisa kamu mengundangnya ke rumahmu dan menyediakan untukku tempat duduk sekiranya ia tidak dapat melihat keberadaanku, sehingga aku bisa mendengarkan ceramahnya?” Aku menjawab: “Baik wahai Abu Abdillah, akan saya laksanakan.” Sungguh permintaan Abu Abdillah (Imam Ahmad) ini membuatku senang. Kemudian aku pergi menemui al-Harits al-Muhasibi dan memintanya untuk datang ke rumahku pada malam itu juga. Aku memintanya agar mengajak jamaahnya juga. Ia berkata: “Wahai Ismail, jamaahku sangat banyak. Jangan terlalu repot menyediakan jamuan, cukup air minum dan kurma saja.” Lantas aku pun menyediakan sesuai permintaannya
Setelah itu, aku menemui Abu Abdillah dan mengabarkan mengenai hal itu. Ia pun datang ke rumahku ba’da Magrib. Lantas ia masuk ke kamar bagian atas di rumahku dengan terus membaca wiridnya hingga selesai. Kemudian datanglah al-Harits al-Muhasibi. Mereka langsung makan, lantas menunaikan shalat Isya’ tanpa langsung menunaikan shalat sunnah ba’diyah. Mereka duduk di hadapan al-Harits dengan sangat khusyuk, tak terdengar satu pun yang berbicara hingga pertengahan malam. Lantas ada seorang jamaah yang bertanya tentang suatu permasalahan. Al-Harits pun akhirnya menjawabnya dengan panjang lebar, sedangkan jamaahnya diam khusyuk seakan-akan kepala mereka dihinggapi burung. Diantara mereka ada yang menangis dan ada yang pingsan saat al-Harits tengah menjelaskan permasalahan yang ditanyakan.
Kemudian aku naik ke kamar atas untuk melihat keadaan Abu Abdillah, ternyata ia juga menangis tersedu dan diam tertegun. Lantas aku pun kembali ke majelis dan mereka tetap dalam kondisi yang sangat khusyuk itu hingga waktu Subuh pun tiba. Kemudian mereka menunaikan shalat Subuh, lantas pulang ke rumah masing-masing. Aku naik dan menemui Abu Abdillah, dan keadaannya sudah berubah. Aku bertanya kepadanya: “Bagaimana menurut Anda wahai Abu Abdillah?”. Dengan penuh kekaguman –ia menjawab: “Aku tidak pernah melihat kumpulan orang-orang seperti ini sebelumnya. Dan aku tidak pernah mendengar ilmu hakikat seperti yang telah disampaikan oleh lelaki ini. Berdasarkan apa yang saya dengar dan lihat kondisi mereka, maka sebaiknya kamu tidak berteman dengan mereka.” Kemudian ia berdiri dan keluar rumah.” (Tarikh Bagdad 8/214, Manaqib Imam Ahmad, hlm: 185).
Terkait pernyataan Imam Ahmad agar tidak berteman dengan al-Harits al-Muhasibi dan jamaahnnya, Imam Tajuddin al-Subki dalam Thabaqât al-Syafiiyyah dan Imam al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Tahdzib al-Tahdzib, menjelaskan bahwa Imam Ahmad melarang untuk berteman dengan mereka lantaran beliau mengetahui akan maqâm (kedudukan/kondisi) mereka yang sangat sempit dan tidak dapat dilalui oleh sembarang orang. Dan beliau tahu orang yang berjalan di dalamnya tidak akan benar-benar mampu memberikan haknya. (disarikan dari kitab Risâlah al-Mustarsyidîn, tahkik dan komentar Abdul Fattah Abu Ghuddah). Saifullah/mosleminfo.com)
Sumber : http://mosleminfo.com/islamia/tasawuf/saat-imam-ahmad-menangis-di-majelis-seorang-sufi/
10.30
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bismillaah, alhamdulillaah, washsholaatu wassalaamu ‘alaa rosulillaah wa ‘alaa aalihi washohbihii waman waalah.
Asyhaduan laa ilaaha illalloh wa asyhaduanna Muhammadan ‘abduhuu warosuuluhu laa nabiyya ba’da.
Faqoolallohu ta’ala fikitabihil kariim, a’udzubillaahi minasyaithonirrojiim, “Fii buyuutin adzinallohu antarfa’a wayudzkaro fiihasmuhuu yusabbihu lahuu fiihaa bil ghuduwwi wal ashooli”. Waqoolan nabiyyu SAW., “Idza marortum bi riyadhil jannati farta’u. Qola: Yaa Rosuululloh, wama riyadhul jannah? Qola: Majalisu Dzikri”.
Shodaqollohul’adziim wa shodaqo rosuuluhul habiibul kariim wa nahnu ‘ala dzaalika laminasysyahidiin was syakiriina walhamdulillaahi robbil’aalamiin.
Ikhwan Akhwat rohiimakumulloh,
Puji syukur ke hadirot Alloh SWT. yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita semua, sehingga dengan rahmat dan karunianya itu kita masih dapat mengamalkan berbagai amaliyah yang kita terima dari Guru Mursyid.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW., juga kepada keluarganya, sahabatnya, para ulama dan segenap Waliyulloh, juga kepada umatnya yang sholeh hingga akhir zaman. Aamiin.
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan, bahwa sesungguhnya dalam amaliyah Manaqib itu memiliki berbagai kemuliaan, dengan manaqib akan mendapatkan rahmat Alloh SWT., senantiasa diliputi ketenangan dan ketentraman, dihadiri oleh para kekasih Alloh, dikelilingi oleh para malaikat dan semua yang hadir dipuji-puji Alloh SWT. dihadapan para malaikat-Nya. Semua itu dikaruniakan Alloh SWT. dikarenakan dalam manaqib senantiasa dipenuhi dengan nuansa dzikir kepada Alloh.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh ra. Dari Nabi SAW., beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari Majelis-Majelis Zikir. Apabila mereka mendapati satu Majelis Zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit.
Beliau melanjutkan: Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menanyakan mereka (padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka): Dari manakah kamu sekalian? Mereka menjawab: Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia yang sedang mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada Engkau. Allah bertanya lagi: Apa yang mereka mohonkan kepada Aku? Para malaikat itu menjawab: Mereka memohon surga-Mu. Allah bertanya lagi: Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku? Para malaikat itu menjawab: Belum wahai Tuhan kami. Allah berfirman: Apalagi jika mereka telah melihat surga-Ku? Para malaikat itu berkata lagi: Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu. Allah bertanya: Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku? Para malaikat menjawab: Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya: Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat menjawab: Belum. Allah berfirman: Apalagi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat itu melanjutkan: Dan mereka juga memohon ampunan dari-Mu. Beliau bersabda kemudian Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka dan sudah memberikan apa yang mereka minta dan Aku juga telah memberikan perlindungan kepada mereka dari apa yang mereka takutkan.
Beliau SAW. melanjutkan lagi lalu para malaikat itu berkata: “Faya quuluuna robbi fiihim fulaanu “abdu khotoo’u innamaa marro wajalasa ma’ahum. Qola: “Faya quuluu ghofartu humul qoumu laa yasyqo bihim jaliisuhum”. Artinya: “Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan yaitu seorang yang penuh dosa yang kebetulan lewat lalu duduk ikut berzikir bersama mereka. Beliau berkata lalu Allah menjawab: Aku juga telah mengampuninya karena mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Ikhwan dan akhwat yang berbahagia,
Mengapa orang-orang yang hadir di majelis dzikir/manaqib ialah orang-orang yang telah mendapatkan ampunan dan perlindungan dari Alloh SWT.? Itu karena mereka telah berjanji setia (Talkin) kepada Alloh melalui Kekasih-Nya (Mursyid) untuk senantiasa berdzikir kepada Aloh SWT. sebagaimana Firman-Nya: “Laqod rodhiyallohu ‘anil mu’miniina idz yubaa yiuunaka tahtasy-syajarooti fa’aliima maafii quluubihim, fa-anzalas-sakiinata ‘alaihim wa atsaa bahum fathan qoriiban”. (QS. Al Fath:18). Artinya: “Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberikan balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. Majelis mereka adalah taman-taman surga, sehingga kepada mereka telah diberikan kenikmatan dalam berdzikir dan beribadah kepada Alloh SWT.
Rosululloh SAW. Berssabda: “Idza marortum biriyadhil jannati farta’u. Qola: “Yaa rosuululloh, wama riyadhul jannah? Qola: “Majalisu Dzikri”. (HR. Ahmad dan At Tirmidzi). Artinya: “Apabila kalian melewati taman-taman surga, singgahlah. Bertanya sahabat: “Wahai rosululloh, apakah taman-taman surga? Rosululloh SAW. Menjawab: “Majelis Dzikir”.
Bapak-bapak, Ibu-ibu yang berbahagia,
Menghadiri manaqib/majelis dzikir adalah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu. Mencari ilmu sangatlah penting, karena akan dapat meningkatkan derajat seseorang di sisi Alloh SWT. Sebagaimana Firman Alloh SWT.: “Yaa ayyuhalladzina aamanu idza qiilalakum tafassahu fiil majaalisi fafsahuu yafsahillahu lakum, wa idza qiilan syuzuu fan syuzuu yarfa illahulladziina aamanuu minkum, walladziina uutul ‘ilma darojaati, wallohu bimaa ta’maluuna khobiiro”. (QS. Al Mujaadila:11). Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Hadist rosululloh SAW.: ”Dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai Abu Dzar. Hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari satu ayat dari kitab Allah, lebih baik bagimu daripada kamu shalat 100 rakaat. Dan hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan ataupun belum dapat diamalkan, adalah lebih baik daripada kamu shalat 1.000 rakaat.” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).
Tentang keutamaan lainnya dari majelis ta’klim dapat pula kita fahami dari nasehat Luqmanul Hakim kepada puteranya:
”Hai anakku, ketika kamu melihat jamaah tengah berzikir (mengingat Allah atau membicarakan ilmu) maka duduklah bersama mereka. Jika engkau pandai, maka bermanfaatlah ilmumu, dan jika engkau bodoh, maka kau dapat menimba ilmu dari mereka. Sedangkan mereka mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan rahmat Allah, sehingga engkau akan memperoleh bagian pula.
Dan jika kamu melihat kelompok yang tidak berzikir, maka hati hatilah, jangan mendekati mereka. Jika engkau pandai tiada manfaat ilmu yang ada padamu, sedangkan jika engkau bodoh, maka itu akan menambah kesesatanmu. Ada kemungkinan mereka akan menerima marah Allah, sehingga engkau akan ikut tertimpa marah Nya”.
Dalam kitab Tanbihul Ghofiliin diterangkan, bahwa orang yang duduk menghadiri Majelis Dzikir/Ta’lim, sekalipun tidak dapat mengingat ilmu yang disampaikan, akan meperoleh tujuh kemuliaan:
1. Kemuliaan orang yang menuntut ilmu
2. Mengekang kelakuan dosa selama duduk dalam majelis
3. Ketika berangkat menuju majelisnya dilimpahi rahmat Allah
4. Akan ikut memperoleh rahmat yang dilimpahkan Allah kepada majelis
5. Dituliskan sebagai amal kebajikan sepanjang memperhatikan apa yang dibicarakan
6. Diliputi para malaikat dengan sayapnya
7. Setiap langkah ditulis sebagai kebaikan dan sebagai penebus dosa.
Bahkan jika ia dapat menyimak apa yang dibahas dalam majelis maka ia akan mendapatkan kemuliaan yang lebih, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khatab ra.: ”Terkadang orang keluar rumah dengan menanggung dosa sebesar gunung Thihamah. Tetapi ketika ia mendengarkan ilmu yang dibahas di Majelis Ta’lim, dia merasa takut dan bertaubat. Maka ketika pulang dia menjadi bersih dari segala dosa. Oleh karena itu dekatilah Majelis Ta’lim, hadirlah setiap ada manaqib, karena di dalamnya ada dzikir kepada Alloh dan kajian-kajian ilmu (Majelis Ta’lim)”.
Hadanallohu waiyyakum ajmaiin, wassalaamu’alaikum waroh matullohi wabarkatuh.
Hidmat Ilmiah Manaqib (Minggu, 28 Desember 2014)
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 28 Desember 2014 | 10.30
KEMULIAAN MAJELIS DZIKIR
Oleh : Mahmud Jonsen
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bismillaah, alhamdulillaah, washsholaatu wassalaamu ‘alaa rosulillaah wa ‘alaa aalihi washohbihii waman waalah.
Asyhaduan laa ilaaha illalloh wa asyhaduanna Muhammadan ‘abduhuu warosuuluhu laa nabiyya ba’da.
Faqoolallohu ta’ala fikitabihil kariim, a’udzubillaahi minasyaithonirrojiim, “Fii buyuutin adzinallohu antarfa’a wayudzkaro fiihasmuhuu yusabbihu lahuu fiihaa bil ghuduwwi wal ashooli”. Waqoolan nabiyyu SAW., “Idza marortum bi riyadhil jannati farta’u. Qola: Yaa Rosuululloh, wama riyadhul jannah? Qola: Majalisu Dzikri”.
Shodaqollohul’adziim wa shodaqo rosuuluhul habiibul kariim wa nahnu ‘ala dzaalika laminasysyahidiin was syakiriina walhamdulillaahi robbil’aalamiin.
Ikhwan Akhwat rohiimakumulloh,
Puji syukur ke hadirot Alloh SWT. yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita semua, sehingga dengan rahmat dan karunianya itu kita masih dapat mengamalkan berbagai amaliyah yang kita terima dari Guru Mursyid.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW., juga kepada keluarganya, sahabatnya, para ulama dan segenap Waliyulloh, juga kepada umatnya yang sholeh hingga akhir zaman. Aamiin.
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan, bahwa sesungguhnya dalam amaliyah Manaqib itu memiliki berbagai kemuliaan, dengan manaqib akan mendapatkan rahmat Alloh SWT., senantiasa diliputi ketenangan dan ketentraman, dihadiri oleh para kekasih Alloh, dikelilingi oleh para malaikat dan semua yang hadir dipuji-puji Alloh SWT. dihadapan para malaikat-Nya. Semua itu dikaruniakan Alloh SWT. dikarenakan dalam manaqib senantiasa dipenuhi dengan nuansa dzikir kepada Alloh.
Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairoh ra. Dari Nabi SAW., beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari Majelis-Majelis Zikir. Apabila mereka mendapati satu Majelis Zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit.
Beliau melanjutkan: Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menanyakan mereka (padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka): Dari manakah kamu sekalian? Mereka menjawab: Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia yang sedang mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada Engkau. Allah bertanya lagi: Apa yang mereka mohonkan kepada Aku? Para malaikat itu menjawab: Mereka memohon surga-Mu. Allah bertanya lagi: Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku? Para malaikat itu menjawab: Belum wahai Tuhan kami. Allah berfirman: Apalagi jika mereka telah melihat surga-Ku? Para malaikat itu berkata lagi: Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu. Allah bertanya: Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku? Para malaikat menjawab: Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya: Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat menjawab: Belum. Allah berfirman: Apalagi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat itu melanjutkan: Dan mereka juga memohon ampunan dari-Mu. Beliau bersabda kemudian Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka dan sudah memberikan apa yang mereka minta dan Aku juga telah memberikan perlindungan kepada mereka dari apa yang mereka takutkan.
Beliau SAW. melanjutkan lagi lalu para malaikat itu berkata: “Faya quuluuna robbi fiihim fulaanu “abdu khotoo’u innamaa marro wajalasa ma’ahum. Qola: “Faya quuluu ghofartu humul qoumu laa yasyqo bihim jaliisuhum”. Artinya: “Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan yaitu seorang yang penuh dosa yang kebetulan lewat lalu duduk ikut berzikir bersama mereka. Beliau berkata lalu Allah menjawab: Aku juga telah mengampuninya karena mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara orang yang ikut duduk bersama mereka.” (HR. Bukhori dan Muslim).
Ikhwan dan akhwat yang berbahagia,
Mengapa orang-orang yang hadir di majelis dzikir/manaqib ialah orang-orang yang telah mendapatkan ampunan dan perlindungan dari Alloh SWT.? Itu karena mereka telah berjanji setia (Talkin) kepada Alloh melalui Kekasih-Nya (Mursyid) untuk senantiasa berdzikir kepada Aloh SWT. sebagaimana Firman-Nya: “Laqod rodhiyallohu ‘anil mu’miniina idz yubaa yiuunaka tahtasy-syajarooti fa’aliima maafii quluubihim, fa-anzalas-sakiinata ‘alaihim wa atsaa bahum fathan qoriiban”. (QS. Al Fath:18). Artinya: “Sesungguhnya Alloh telah ridho terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Alloh mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberikan balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. Majelis mereka adalah taman-taman surga, sehingga kepada mereka telah diberikan kenikmatan dalam berdzikir dan beribadah kepada Alloh SWT.
Rosululloh SAW. Berssabda: “Idza marortum biriyadhil jannati farta’u. Qola: “Yaa rosuululloh, wama riyadhul jannah? Qola: “Majalisu Dzikri”. (HR. Ahmad dan At Tirmidzi). Artinya: “Apabila kalian melewati taman-taman surga, singgahlah. Bertanya sahabat: “Wahai rosululloh, apakah taman-taman surga? Rosululloh SAW. Menjawab: “Majelis Dzikir”.
Bapak-bapak, Ibu-ibu yang berbahagia,
Menghadiri manaqib/majelis dzikir adalah salah satu cara untuk mendapatkan ilmu. Mencari ilmu sangatlah penting, karena akan dapat meningkatkan derajat seseorang di sisi Alloh SWT. Sebagaimana Firman Alloh SWT.: “Yaa ayyuhalladzina aamanu idza qiilalakum tafassahu fiil majaalisi fafsahuu yafsahillahu lakum, wa idza qiilan syuzuu fan syuzuu yarfa illahulladziina aamanuu minkum, walladziina uutul ‘ilma darojaati, wallohu bimaa ta’maluuna khobiiro”. (QS. Al Mujaadila:11). Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majelis", maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
Hadist rosululloh SAW.: ”Dari Abu Dzar, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: ”Wahai Abu Dzar. Hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari satu ayat dari kitab Allah, lebih baik bagimu daripada kamu shalat 100 rakaat. Dan hendaklah engkau pergi, lalu engkau mempelajari suatu bab ilmu yang dapat diamalkan ataupun belum dapat diamalkan, adalah lebih baik daripada kamu shalat 1.000 rakaat.” (HR Ibnu Majah dengan sanad hasan).
Tentang keutamaan lainnya dari majelis ta’klim dapat pula kita fahami dari nasehat Luqmanul Hakim kepada puteranya:
”Hai anakku, ketika kamu melihat jamaah tengah berzikir (mengingat Allah atau membicarakan ilmu) maka duduklah bersama mereka. Jika engkau pandai, maka bermanfaatlah ilmumu, dan jika engkau bodoh, maka kau dapat menimba ilmu dari mereka. Sedangkan mereka mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan rahmat Allah, sehingga engkau akan memperoleh bagian pula.
Dan jika kamu melihat kelompok yang tidak berzikir, maka hati hatilah, jangan mendekati mereka. Jika engkau pandai tiada manfaat ilmu yang ada padamu, sedangkan jika engkau bodoh, maka itu akan menambah kesesatanmu. Ada kemungkinan mereka akan menerima marah Allah, sehingga engkau akan ikut tertimpa marah Nya”.
Dalam kitab Tanbihul Ghofiliin diterangkan, bahwa orang yang duduk menghadiri Majelis Dzikir/Ta’lim, sekalipun tidak dapat mengingat ilmu yang disampaikan, akan meperoleh tujuh kemuliaan:
1. Kemuliaan orang yang menuntut ilmu
2. Mengekang kelakuan dosa selama duduk dalam majelis
3. Ketika berangkat menuju majelisnya dilimpahi rahmat Allah
4. Akan ikut memperoleh rahmat yang dilimpahkan Allah kepada majelis
5. Dituliskan sebagai amal kebajikan sepanjang memperhatikan apa yang dibicarakan
6. Diliputi para malaikat dengan sayapnya
7. Setiap langkah ditulis sebagai kebaikan dan sebagai penebus dosa.
Bahkan jika ia dapat menyimak apa yang dibahas dalam majelis maka ia akan mendapatkan kemuliaan yang lebih, sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin Khatab ra.: ”Terkadang orang keluar rumah dengan menanggung dosa sebesar gunung Thihamah. Tetapi ketika ia mendengarkan ilmu yang dibahas di Majelis Ta’lim, dia merasa takut dan bertaubat. Maka ketika pulang dia menjadi bersih dari segala dosa. Oleh karena itu dekatilah Majelis Ta’lim, hadirlah setiap ada manaqib, karena di dalamnya ada dzikir kepada Alloh dan kajian-kajian ilmu (Majelis Ta’lim)”.
Hadanallohu waiyyakum ajmaiin, wassalaamu’alaikum waroh matullohi wabarkatuh.
03.45
MAKNA "LESTARIKAN" dan "JANGAN BERGESER SEMILIMETERPUN"
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 23 Desember 2014 | 03.45
Banyak Ikhwan yang tidak MEMAHAMI makna dari "AMALKAN, AMANKAN, LESTARIKAN AJARAN TQN SURYALAYA dan JAGAN BERGESER SEMILIMETERPUN".
Jauh sebelum Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin qs. (Abah Anom) meninggal dunia, 05 September 2011, yaitu dalam Tabaruk Miftahussudur di Masjid Nurul Ulum Kampus IAILM Suryalaya Tahun 2010. Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, ra. menyampaikan; "Sabda Pengersa Abah Anom kepada saya, "Amalkan, Amankan, Lestarikan". Lestarikan artinya itu nanti setelah Abah sabdanya itu, saya berdoa di Suryalaya "semoga Suryalaya tetap di Suryalaya".
PERHATIKAN! Kata-kata itu, sekali lagi, kata-kata itu SUDAH DIUCAPKAN oleh beliau sejak pengersa Abah Anom masih hidup, bukan baru sekarang. Bahasa Lestarikan itu nanti setelah Abah. Namun banyak para ikhwan yang tidak paham bahasa Lestarikan.
LESTARIKAN, itulah HIRQOH KEMURSYIDAN, kenapa? Karena itu untuk kita, MURID yang SUDAH, SEDANG dan AKAN mengamalkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya.
Pasca meninggalnya pengersa Abah Anom, kembali ke Haribaan Alloh SWT. diberbagai kesempatan, salah satunya di Pesantren Internasional Jagat Arsy April 2013, pengersa Abah Aos bersabda, "Tidak ada yang bisa mendikte saya, kecuali Guru saya, saya tidak akan bergeser semilimeterpun dari Kloter 37".
PERHATIKAN! Makna dari tidak akan bergeser, itulah TANDA KEMURSYIDAN, mengapa? Karena yang sudah PASTI TIDAK AKAN BERGESER itulah MURID SEJATI, yang HANYA SATU, yang TUNDUK dan PATUH kepada GURUNYA.
CATAT!
Ada cerita dari seorang ikhwan, bahwa ia berimpi ditalkin oleh Abah Aos, kemudian ia menghubungi pengersa Abah Aos via telepon untuk menceritakan mimpi tersebut, Abah Aos menjawab, "Jangan Bergeser". Atas dasar itu maka ikhwan tersebut memahami pernyataan tersebut untuk tetap di Kloter 37. Padahal sebenarnya makna dari pernyataan tersebut ialah, setelah ia ditalkin maka jangan bergeser untuk ikut melestarikan TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Perlu diketahui, seorang Mursyid TIDAK AKAN MENGAKU sebagai MURSYID.
*Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa*
Jauh sebelum Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin qs. (Abah Anom) meninggal dunia, 05 September 2011, yaitu dalam Tabaruk Miftahussudur di Masjid Nurul Ulum Kampus IAILM Suryalaya Tahun 2010. Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, ra. menyampaikan; "Sabda Pengersa Abah Anom kepada saya, "Amalkan, Amankan, Lestarikan". Lestarikan artinya itu nanti setelah Abah sabdanya itu, saya berdoa di Suryalaya "semoga Suryalaya tetap di Suryalaya".
PERHATIKAN! Kata-kata itu, sekali lagi, kata-kata itu SUDAH DIUCAPKAN oleh beliau sejak pengersa Abah Anom masih hidup, bukan baru sekarang. Bahasa Lestarikan itu nanti setelah Abah. Namun banyak para ikhwan yang tidak paham bahasa Lestarikan.
LESTARIKAN, itulah HIRQOH KEMURSYIDAN, kenapa? Karena itu untuk kita, MURID yang SUDAH, SEDANG dan AKAN mengamalkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya.
Pasca meninggalnya pengersa Abah Anom, kembali ke Haribaan Alloh SWT. diberbagai kesempatan, salah satunya di Pesantren Internasional Jagat Arsy April 2013, pengersa Abah Aos bersabda, "Tidak ada yang bisa mendikte saya, kecuali Guru saya, saya tidak akan bergeser semilimeterpun dari Kloter 37".
PERHATIKAN! Makna dari tidak akan bergeser, itulah TANDA KEMURSYIDAN, mengapa? Karena yang sudah PASTI TIDAK AKAN BERGESER itulah MURID SEJATI, yang HANYA SATU, yang TUNDUK dan PATUH kepada GURUNYA.
CATAT!
- Kalau yang SUDAH dan SEDANG mengamalkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, mungkin masih boleh mengatakan, "Kemursyidan TQN Suryalaya hingga saat ini masih ada pada Abah Anom, sampai Allah SWT. menentukan Wali/ Guru Mursyid lain di kemudian hari".Tapi kalau yang AKAN mengamalkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, mereka itu BUTUH MURSYID (Bukan Wakil Talkin, Muballigh, apalagi Pengurus Yayasan), akan tetapi Mursyid yang masih HIDUP, yang bisa mereka DENGAR, LIHAT , dan SENTUH untuk dicontoh AJARANNYA. itulah MAKNA LESTARIKAN. Untuk itu bagi yang mau MELESTARIKAN TQN Pondok Pesantren Suryalaya, IKUTLAH Pengersa ABAH AOS, Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, ra. yang SUDAH DITENTUKAN oleh ALLOH SWT. selaku Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya Silsilah ke 38.
- Yang tidak akan bergeser dari PERINTAH Gurunya sudah PASTI itu MURSYID. Sedangkan yang bukan Mursyid (seperti misalnya; para wakil talkin, muballigh, sesepuh, pengurus yayasan, ikhwan), tidak ada jaminan mereka tidak akan bergeser dan akan tunduk dan patuh hanya kepada gurunya. Untuk itu bagi yang mau agar TIDAK BERGESER DARI TQN Pondok Pesantren Suryalaya, IKUTLAH pengersa ABAH AOS.
Ada cerita dari seorang ikhwan, bahwa ia berimpi ditalkin oleh Abah Aos, kemudian ia menghubungi pengersa Abah Aos via telepon untuk menceritakan mimpi tersebut, Abah Aos menjawab, "Jangan Bergeser". Atas dasar itu maka ikhwan tersebut memahami pernyataan tersebut untuk tetap di Kloter 37. Padahal sebenarnya makna dari pernyataan tersebut ialah, setelah ia ditalkin maka jangan bergeser untuk ikut melestarikan TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Perlu diketahui, seorang Mursyid TIDAK AKAN MENGAKU sebagai MURSYID.
*Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa*
21.17
SIAPA SAJA YANG SEHARUSNYA MELAKSANKAN THORIQOH
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 22 Desember 2014 | 21.17
PENGERTIAN TENTANG THORIQOH DAN SIAPA SAJA YANG SEHARUSNYA MELAKSANAKAN-NYA
ان الطريقة عندهم هي الأخذ بالاحواط في سائر الاعمال ولا يأخذ بالرخص والطريقة ايضا اعتماد السالك علي حالة شاقة كرياضة اي تذليل النفس من قلة اكل وشرب ومن تباعد عن فضول المباحات
"Thoriqoh adalah melakukan / mengamalkan sesuatu dengan cara lebih berhati'' dalam mengamalkan seluruhamalan,dan tidak melakukan hal-hal yang mendapatkan kemurahan (ruhsoh/keringanan) .Thoriqoh juga berpegang teguh pada pengamalan secara istiqomah pada hal-hal yang berat seperti riyadloh,yaitu mengalahkan hawa nafsu dengan sedikit makan dan minum dan menjauhi hal-hal yang di lakukan (mubakhaat)". Dalam keterangan lain di jelaskan :
الطريقة هي العمل بالشريعة والاخذ بعزائمها والبعد عن التساهل فيما ينبغي التساهل فيه وان شئت قلت اجتناب المنهيات ظاهرا او باطنا وامتثال الامر الالهية بقدر الطاقة اوهي اجتناب المحرمات والمكروهات وفضول المباحات واداء الفرائض ومااستطاع من النوافل تحت الرعاية عارف من اهل النهاية
"Thoriqoh adalah mengamalkan syari'at islam dengan cara beersungguh'', menjauhi anggapan-anggapan ringan dari suatu yang tidak ada keringanan apapun,dan kalau kita mau mengatakan,menjauhi semua larangan, Baik secara nyata atau sembunyi (samar). melaksanakan semua perintah alloh menurut kadar kemampuannya,atau Thoriqoh adalah menjauhi semua yang di haramkan.semua larangan dan mengutamakan hal-hal yang boleh oleh syara'.melaksanakan semua perkara yang wajib,dan yang mampu dari perkara sunnah, semua di lakukan atas petunjuk dan bimbingan orang yang 'arif (ma'rifat/yang telah mengetahui hakikat keIlahiyahan yang haq serta kamil mukammil) dari orang-orang yang telah mencapai puncak pencapaian (warid)".
Thoriqoh ( Tarekat ) menurut lughot mempuyai arti jalan dan penambahan huruf Ta’ marbutoh (Ilahiyah) berfaedah menunjukkan kehususan pada tujuan ubudiyah kepada alloh.
Sedangkan makna thoriqoh menurut istilah Tashawwuf adalah Thoriqoh bisa diartikan jalan yang ditempuh seorang hamba ( al-‘abdu / al-saalik ) menuju Ridlo Alloh SWT. Ada pula yang mempersempit pengertian Thoriqoh dengan mendefinisikannya sebagai jalan menuju Ma’rifat billah.
Melihat definisi diatas, maka jelas sekali bahwa pengertian Thoriqoh sangat luas. Thoriqoh tidak hanya dengan berdzikir saja, atau dengan berbagai bentuk wiridan saja, namun bisa juga dengan berbagai bentuk ibadah yang dapat mendekatkan diri kita kepada Alloh SWT. sang pencipta alam semesta. Bisa berupa wirid, dzikir, puasa, ta’lim ( mengajar ), ta’allum ( belajar ) dan berbagai bentuk amal kebajikan lainnya ( lihat risalah al-thoriq fillah ) karya syeikh abu mudhoffar Ra.
Ada juga yang berpendapat bahwasanya : Thoriqoh menurut pandangan berbagai Ulama’ adalah jalan atau bisa disebut Madzhab mengetahui adanya jalan, perlu pula mengetahui "cara" melintasi jalan itu agar tidak kesasar/tersesat. Tujuan Thoriqoh adalah mencari kebenaran ‘indalloh swt , maka cara melintasinya jalan itu juga harus dengan cara yang benar. Untuk itu harus sudah ada persiapan batin, yakni sikap yang benar. Sikap hati yang demikian tidak akan tampil dengan sendirinya, maka perlu latihan-latihan batin tertentu dengan cara-cara yang tertentu pula.
Dan di jelaskan dalam al-qur’an :
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا
Artinya :
"Jika mereka benar-benar istiqomah - (tetap pendirian/terus-menerus diatas Thoriqoh (jalan) itu, sesungguhnya akan Kami beri minum mereka dengan air (hikmah) yang berlimpah-limpah.
(Q.S. Al-Jin : 16)
Dalam pertumbuhan thoriqoh para Ulama Thoriqoh berpendapat dari jumlah Thoriqoh yang tersebar di dunia Islam, khususnya di Indonesia, ada Thoriqoh yang Mu'tabaroh (diakui) dan ada pula Thoriqoh Ghairu Mu'tabaroh (tidak diakui keberadaannya/ keshohehannya / silsilah sanadnya).
Seseorang yang menganut/mengikuti Thoriqoh tertentu dinamai saalik (orang yang berjalan) sedang cara yang mereka tempuh menurut cara-cara tertentu dinamakan suluk. Banyak hal-hal yang hams dilakukan oleh seorang salik bila ingin sampai kepada tujuan yang dimaksud.
Thoriqoh ini merupakan salah satu amaliyah keagamaan dalam Islam yang sebenarnya sudah ada sejak jaman Nabi Muhammad SAW. Bahkan perilaku kehidupan beliau sehari-hari adalah praktek kehidupan rohani yang di jadikan rujukan utama oleh para pengamal thoriqoh dari generasi ke generasi sampai sekarang ini untuk mengkaji ahlak al-karimah dalam berubudiyah ....
Dalam menempuh jalan (thoriqoh) bertujuan untuk mengenal rahasia (sirri) dan mengerti akan haqiqat dinding (hijab) pada DIRI maka mereka mengadakan pengajian, kegiatan batin muamalah ilmu & matla’ah ilmu, riyadoh (latihan-latihan) dan mujahadah (perjuangan) keruhaniyan. Perjuangan yang demikian dinamakan suluk, dan orang yang mengerjakan dinamakan "salik".
Maka cukup jelaslah bahwa Thoriqoh itu suatu sistem atau metode awal untuk menempuh jalan yang pada akhirnya mengenal dan menemukan keyaqinan (haq-al-yaqin) tentangadanya alloh swt .
Dimana seseorang dapat melihat Alloh dengan mata hatinya (ainul bashiroh) sesuai dengan hadist sebagai berikut :
Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata :
Pada suatu hari, Rasululloh saw. muncul di antara kaum muslimin.
Lalu datang seorang laki-laki dan bertanya: Wahai oasululloh, apakah Iman itu? Rosululloh saw. menjawab: Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
pertemuan dengan-Nya, rosul-rosul-Nya dan kepada hari berbangkit.
Orang itu bertanya lagi: Wahai Rosululloh, apakah Islam itu?
Rasululloh saw. menjawab:
Islam adalah engkau beribadah kepada Alloh dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, mendirikan sholat fardu, menunaikan zakat wajib dan berpuasa di bulan Romadhon.
Orang itu kembali bertanya: Wahai Rosululloh, apakah Ihsan itu???
Rosululloh saw. menjawab: Engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu. Orang itu bertanya lagi:
Wahai Rosululloh, kapankah hari kiamat itu ?
Rosululloh saw. menjawab: Orang yang ditanya mengenai masalah ini tidak lebih tahu dari orang yang bertanya. Tetapi akan aku ceritakan tanda-tandanya: Apabila budak perempuan melahirkan anak tuannya, maka itulah satu di antara tandanya.
Apabila orang yang miskin papa menjadi pemimpin manusia, maka itu tarmasuk di antara tandanya. Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung.
Itulah sebagian dari tanda-tandanya yang lima, yang hanya diketahui oleh Alloh.
Kemudian Rosululloh saw bersabda dengan firman Alloh Taala:
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Sesungguhnya Alloh, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat: dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati.Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Lukman ayat 34). Kemudian orang itu berlalu, maka Rosululloh saw. bersabda: Panggillah ia kembali ... Para sahabat beranjak hendak memanggilnya, tetapi mereka tidak melihat seorang pun. Rosululloh saw. bersabda: Ia adalah Jibril, ia datang untuk mengajarkan manusia masalah agama mereka.
(HR Bukhari dan Muslim).
Hadist tersebut jelas merupakan tujuan bagi semua orang yang mengaku dan menyatakan muslim, tidak hanya sekedar iman dan islam tetapi juga dituntut untuk menjadi jati diri yang “IHSAN” dan ath-Thariqoh adalah merupakan jalan yang untuk menggapai derajat ihsan dengan baik sesuai tuntunan Alloh dan Rasul-Nya yang di ikat dengan tal-qinHal yang demikian didasarkan pertanyaan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra kepada Rosululloh SAW. Ya Rosululloh, manakah jalan yang paling dekat untuk menuju Tuhan.
Jawab Rosululloh : Tidak ada lain, kecuali dengan dzikrulloh.
Dalam hal ini pun Alloh SWT juga menegaskan dalam Firman-Nya di dalam Al-Qur’an Kariim :
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Alloh. Ingatlah, hanya dengan mengingati Alloh-lah hati menjadi tenteram.
(QS Ar-Ra’d ayat 28)
Perlu diketahui oleh semua para pencari jalan suluk (thoriqoh), mubaya’ah (baiat) dalam arti talqin dzikir dari seorang guru mursyid kepada muridnya bukan mubaya’ah (janji setia) seperti yang dilakukan oleh Rosululloh kepada shahabat-shahabatnya.
Dalam Bai‘at ar-Ridhwan, atau baiatnya seorang rakyat kepada imam atau kepala Negara terpilih seperti baiatnya para shahabat yang mengangkat Sayyidina Abu Bakar menjadi kholifah Rosululloh. Sebab, mubaya’ah dalam thoriqot shufi adalah bentuk talqin dzikir seperti yang dilakukan Rosululloh yang mentalqin dzikir para shahabatnya.
Adapun mubaya’ah para shahabat yang baru saja disinggung di atas adalah mubaya’ah janji setia menjalankan Islam atau janji setia dan tunduk patuh kepada imam terpilih.
Sanad hadits tentang bai’at thoriqot adalah hadits riwayat dari Hasan al-Bashri yang berbai'at dzikir dari Sayyidina Ali dari Rosulalloh (dalam ilmu tasawuf disebut talqin dzikir) dan sanad hadits tentang lubsul khirqoh (berperilaku sebagai shufi yang bersimbol dengan pakaian sederhana) juga diriwayatkan dari Hasan al-Bashri dari Ali, Sanad talqin dzikir dari Hasan al-Bashri tersebut adalah talqin dzikir oleh Rosululloh kepada Sayyidina Ali secara sendirian Sedangkan sanad talqin dzikir secara bersama-sama adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bazzar, ath-Thabaroni dan lain-lain dengan sanad hasan. Lihat Lawaqih al-Anwar al-Qudtsiyyah hlm. 11. Hadits talqin tersebut sebagaimana dikatakan syeikh asy-Sya'roni adalah diriwayatkan oleh Syaikh Yusuf al-Ajami, seorang syaikh thoriqot, dalam salah satu risalahnya yang disebutkan dengan sanad yang muttasil sampai Sayyidina Ali.
Namun, sebenarnya hadits tentang dua masalah tersebut, sebagaimana disebutkan oleh syeich Ibnu Hajar al-‘Asqolani dan muridnya, syeich as-Suyuthi adalah hadits yang shohih (muttasil) dan perawinya tsiqah-tsiqah. Artinya juga bahwa Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali dan itu adalah pendapat yang shohih. (Lihat hujjah-hujjah as-Suyuthi dalam membela pendapat bahwa Hasan al-Bashri pernah bertemu dengan Sayyidina Ali dalam al-Hawi lil Fatawi 2/96-98.dan Lawaqih al-Anwar al-Qudtsiyyah hal 12 dan 24.
MARI MENGAJI & MENGKAJI SELALU SEMOGA SELALU DALAM LINDUNGAN HIDAYAHNYA SELALU
Sumber : https://www.facebook.com/groups/kumpulan.khidmat.ilmiah.manaqib/1610969389131122/?comment_id=1610972509130810¬if_t=group_comment_reply








