Latest Post

Amalkan, Amankan, Lestarikan : Mengikuti Rosululloh SAW.

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 16 Mei 2016 | 03.49

Khidmat Manaqib

MENGIKUTI RASULULLAH SAW.
KH. Abdul Gaos SM.

Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk mengikuti Manaqib di Suryalaya ini. Kita tidak tahu apakah besok atau lusa masih diberi kesempatan lagi oleh-Nya untuk hidup. Sabda Nabi Muhammad Saw. "Sesungguhnya kehidupan hari ini adalah hari Akhir, bagi siapa saja yang tidak tidak tahu apakah masih hidup sampai esok". Kalau kita tidak kembali kepada Allah hari ini, kapan lagi? Oleh karena itu kita harus bisa menjaga diri supaya tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri kita sendiri. Allah Swt. berfirman :"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul, melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".(QS. an-Nisaa' : 64).
Alhamdulillah, kita sudah dipertemukan dengan Tuan Syeikh Ahmad Shohibulwafa Tajul 'Arifin, seorang ulama pewaris para Nabi. Dengan mengamalkan Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah kita berharap semoga Allah Swt. memberikan ampunan kepada kita. Kita taat kepada semua perintah guru kita pada hakikatnya kita mentaati Rasulullah Saw. Inilah salah satu tugas seorang Guru Mursyid untuk mengajak manusia mengikuti seorang utusan Allah. "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. Yaasiin : 20-21). Pernahkah kita diminta uang oleh Pangersa Abah ketika ikut Manaqiban di Suryalaya? Apakah untuk mendapatkan Talqin Dzikir TQN ini diharuskan membayar sekian rupiah? Tidak!. Jangankan meminta balasan jasa atau upah dari manusia, orang-orang seperti ini, kepada Allah pun tidak pernah meminta upah atau pahala atau ganjaran. Siapapun yang datang dengan membawa dosa dan kesalahan kemudian menemui Abah, maka beliau akan menunjukkan jalan kepada Allah supaya Dia memberikan ampunan-Nya. Thoriqoh inilah jalannya, jalan yang paling dekat kepada Allah, paling mudah dilaksanakan tetapi paling utama menurut Allah Swt. Dengan dzikir ini kita mengharapkan pengampunan dari Allah, kita ingin dibersihkan dari dosa-dosa sehingga kembali suci dan bersih seperti seorang bayi yang baru lahir. Kita tidak ingin dibersihkan oleh Allah Swt. dari dosa dan kesalahan di alam barzah atau di neraka nanti. Tiada lain jalan yang harus kita tempuh adalah mendatangi pengganti Rasulullah Saw. seperti tertulis pada surat an-Nisaa' ayat 64 di atas. Salah satu do'a yang dibaca oleh Tuan Syeikh Abdul Qodir al-Jailani ketika berada di atas sungai Tigris (di atas sungai menghamparkan sajadahnya), "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan hak Nabimu Muhammad Saw., janganlah Engkau mencabut nyawa murid-muridku kecuali dalam keadaan taubat". Amalkanlah dzikir ini sesuai dengan tuntunan dan contoh dari Guru Mursyid kemudian sebarluaskan kepada yang lain; "amalkan, amankan, lestarikan", sehingga ketika ajal datang menjemput, mudah-mudahan kita ada dalam keselamatan.

Sumber : http://www.suryalaya.org/manakib-buletin-isi.php?ID=93

Amalkan, Amankan, Lestarikan : Alat Pembaharu Iman

ALAT PEMBAHARU IMAN
KH. ABDUL GAOS SM.

27 tahun yang lalu di Serawak Malaysia, kami pernah diundang oleh para ulama. Dalam salah satu acara tersebut ada seorang ulama yang hanya akan berdzikir dengan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadurrosulullah...Laa ilaha illallah Muhammadurrosulullah dst. Kemudian saya memberikan penjelasan bahwa kalimat tersebut ada didalam al-Quran dan al-Hadits tetapi tidak menggunakan Muhammadurrosulullah, diantaranya : surat Muhammad : 19, surat as-saaffaat : 35, serta beberapa hadits Nabi.



"Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang diucapkan oleh nabi-nabi sebelumku yaitu : Laa ilaaha illallaah. "Barang siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas, pasti masuk surga". "Jaddiduu iimaanakum aktsiru min qouli Laa ilaaha illallaah". "Talqinkan kepada orang-orang yang akan mati, kalimat Laa ilaaha illallaah". dll. "Jadi tidak ada muhammadurrosulullah. Kalau tuan mau menambahkannya silahkan saja, berarti tuan telah menambah al-quran dan hadits". Kata saya. Akhirnya ulama tersebut meminta talqin dzikir TQN diikuti oleh ulama yang lainnya.
Tidak ada kalimat lain yang dapat memperbaharui iman kecuali Laa ilaaha illallaah. Alhamdulillah kita telah mendapatkan kalimat ini langsung dari Pangersa Abah Anom yang merupakan silsilah ke-37 TQN pontren Suryalaya. Dalam sebuah hadits diterangkan : "Sesungguhnya Allah akan membangkitkan atau mengutus untuk umat ini setiap 100 tahun seorang peneguh iman umat (pembaharu iman mereka)". (HR. Abu Dawud, al-Hakim, dan al-Baihaqi dari Abi Hurairah). Bagi kita Pangersa Abah itulah pembaharu iman kita dengan memberikan kalimat Laa ilaaha illallaah. Laksanakan dzikir tersebut seperti apa yang diajarkannya.
Nabi Muhammad Saw. telah dipilih oleh Allah untuk dijadikan suri tauladan bagi kita umatnya. Beliau sudah meninggalkan kita. Tetapi ada penggantinya. "Ulama adalah pewaris para nabi". Oleh karena itu mari kita contoh Nabi Muhammad, mari kita contoh Guru Mursyid kita, pangersa Abah Anom baik dalam sikap, tutur kata dan perbuatannya.





"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (QS. al-Ahzab : 21). "Sesungguhnya pada diri mereka itu ada teladan yang baik bagimu..." (QS. al-Mumtahanah : 6).

Sumber : http://www.suryalaya.org/manakib-buletin-isi.php?ID=103

ABAH AOS DI MASJID AGUNG AL BANTANI - BANTEN

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 19 April 2016 | 01.13


DI BAWAH BENDERA TIGA DELAPAN, TQN SURYALAYA SEMAKIN BERKIBAR

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 06 Januari 2016 | 04.14

Di bawah bimbingan Mursyid ke 38, bendera TQN Suryalaya semakin berkibar. Manaqib dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., Ketahanan NKRI, Kejayaan Agama dan Negara, dan Peradaban Dunia, semakin ramai dilaksanakan di seantero negeri, bak jamur merang yang tumbuh di musim hujan.

Dalam Mengamalkan, Mengamankan, dan Melestarikan Ajaran TQN Suryalaya, Mursyid Silsilah ke 38, Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul r.a. kini telah mengangkat 96 Wakil Talkin untuk membantu beliau dalam memberikan Talkin Dzikir, mereka berasal dari bebragai kalangan, ada yang berlatar berlakang Kyai, Ustadz, Pedagang, Petani, Pendidik, Pengusaha, Pegawai Negeri, sampai kalangan Cendikiawan yang bergelar Profesor, Doktor.

Sabda Abah Aos, "Sebagaimana doa Nabi Musa a.s., memohon agar dibantu oleh saudaranya Nabi Harun a.s.", demikian juga Abah juga minta dibantu dalam mengamalkan, mengamankan, melestarikan ajaran TQN Suryalaya".

Firman Alloh SWT. :
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaahaa (20) : 25-35).

Sabda Rasulullah SAW. beliau berkata kepada ‘Ali, “Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba).

Sehingga dengan bantuan para "Harun-Harun" inilah TQN Suryalaya semakin Mencuat bukan Menciut. Sabda Abah Aos, "Semakin jelas, semakin tegas, semakin lugas. Semakin mudah dimengerti, bahwa kita disini, bukan milik kita. Tidak ada yang bukan dari Alloh, semuanya adalah perbuatan-Nya. Kita tidak bisa apa-apa, Alloh lah yang menentukan. Sebelum ada kata menentukan, Alloh sudah menentukan kita mesti berkumpul disini, dan semakin banyak, tidak semakin menciut, tetapi semakin mencuat".

Wakil Talkin Adalah Murid Pembantu Mursyid
Para Wakil Talkin adalah Pembantu Abah Aos dalam memberikan Talkin. Ditunjuk sebagai wakil talkin oleh Mursyid tidaklah serta merta menunjukkan posisi maqom seseorang, atau maqomnya lebih tinggi dari para Ikhwan umumnya. Berkata KH. Dadang Muliawan kepada KH. Jujun Djunaidi, "Ak, kata Abah, jadi wakil talkin teh Riyadhoh". 

Sabda Abah Aos pada saat mengangkat wakil talkin, "Hari ini, tepatnya kemaren Abah mengangkat Pembantu, jadi Petani Pohon Anti Gempa istilah Abah, para wakil talkin istilah Abah Anom".

Berkaca dari kloter sebelumnya, ternyata tidak semua wakil talkin Abah Anom berada di Gerbong Kloter 38. Sabda Abah Aos, "Dari sekian jumlah wakil talkin Abah Anom, hanya satu wakil talkin yang lulus, yakni KH. Muhammad Sholeh Hujatul Arifin". Nah ini menandakan bahwa kedudukan seseorang sebagai wakil talkin, ternyata tidak berbanding lurus dengan maqom seseorang.

Sehingga dengan demikian, kuranglah bijak kalau seandainya para ikhwan menuntut berlebihan kepada para wakil talkin, sebab mereka bukanlah Mursyid, bahkan wakil mursyid pun bukan, mereka tidak lebih hanya sebagai murid yang diberikan tugas oleh Mursyid untuk membantu perjuangan dakwahnya. Sebagaimana juga para Da'i / Da'iyah, Pemangku dan Penyangga Manaqib, serta para ikhwan-akhwat pada umumnya, yang juga ikut berjuang bersama-sama dengan Mursyid. 

Sabda Abah Aos, "Kita doakan semua, karena disini, ngetem dua hari itu tidak cukup, sudah semakin banyak, yang tidak diduga-duga, karena Internet dan Pacebok pun ikut dakwah".

Maka dari itu, kepada seluruh ikhwan marilah kita luruskan niat dan tujuan kita, bahwa kita hanya ingin mendapatkan Ridho Alloh dengan cara meraih cinta-Nya agar mengenal diri-Nya semata. Sabda Abah Aos, "Sudah sama.. kita, tidak ada yang beda. Profesor, ini! Doktor, ini!, Kopral, ini!, Jenderal, ini!, semua sama! Jauh bukan kilometer, dekat bukan milimeter".

"Inna akromakum indalloohi atqookum"
(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu).

Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa

WALI YANG TERTUKAR

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 03 Januari 2016 | 19.53

Seperti biasa aku menghadiri Majelis Agung Tuan Syekh. Sesampainya di Madrosah, terlihat kesibukan yang tidak seperti biasanya, di depan pintu gerbang aku melihat beberapa orang yang terlihat sedikit gelisah, seperti menanti seseorang.
Sejenak kemudian aku melihat kedatangan seseorang yang terlihat sederhana memasuki area majelis. Kemudian, orang tersebut menghampiri petugas yang sedang gelisah, terjadilah sedikit perbincangan, sepertinya hanya sekedar tegur sapa. Tampak jelas bahasa tubuh dari petugas tersebut, agaknya ia sedikit terganggu dengan kehadiran orang tersebut, dan ingin segera mengakhiri percakapan.
Selanjutnya orang yang terlihat sederhana itu kemudian memasuki majelis, ia langsung menyibukkan dirinya dengan berbagai amaliyah. Setelah rangkaian amaliyah telah selesai dikerjakan, di penghujung acara, terlihat rombongan beberapa orang diiringi oleh petugas datang memasuki majelis, yang ternyata adalah seorang yang terkenal...
Oh, ternyata inilah kiranya penyebab mengapa tadi beberapa petugas yang terlihat gelisah, ternyata sedang menunggu seseorang.. hatiku berbisik, "Allohu Asy- Syaahid! Andaikan Alloh menyingkapkan Hijab-Nya, maka tentu petugas itu akan mengetahui hakekat siapa sesungguhnya yang layak ditunggu-tunggu kehadirannya".
'Abasa watawallaa an jaa-ahul a'maa wamaa yudrika la'allahuu yazzakkaa auyadzakkaru fatan fa'ahudzdzikroo ammaa manistaghnaa fa-anta lahuu tashoddaa wamaa alaika allaa yazzakkaa wa ammaa man jaa-aka yas'aa wahuwa yaghsyaa fa-anta 'anhu talahhaa kallaa innahaa tadzkirotun.
Bikaromati pengersa Abah Aos, Al Faatihah...

MENGENAL AHLI SILSILAH TQN SURYALAYA KE-34 SYEKH AHMAD KHATIB SAMBAS IBN ABDUL GHAFFAR

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 28 Desember 2015 | 01.58

Syeh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875), Guru para Ulama Nusantara
Diposkan oleh Ahmad Jember di 11.59 

Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin
Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Guru-gurunya :
1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
2. Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari
3. Syeh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)
4. Syeh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)
5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami
6. Syeh Ahmad al-Marzuqi
7. Syeh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Syeikh Ahmad Khatob Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan dan Karyanya
Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN nang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.

Murid-Muridnya antara lain :
1. Syeh Nawawi Al Bantani
2. Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura
3. Syeh Abdul Karim Banten
4. Syeh Tolhah Cirebon

Syeh Nawawi Al Bantani dan Syeh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syeh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syeh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah.

Sepeninggal Syeh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syeh Muhammad Kholil, Syeh Abdul Karim dan Syeh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Murid murid Syeh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb.

Sebagai contoh, Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain :

1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional.
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah
6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.
7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.
9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.
10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.
12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.
14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.
23. KH. Zainudin : Nganjuk
24. KH. Maksum : Lasem
25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.
27. KH. Munajad : Kertosono
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang
29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang
30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura
31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.
33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso
34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat
35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik
36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.

Syekh Tolhah bin Tolabuddin Cirebon, Mursyid TQN Suryalaya Silsilah ke 35, mempunyai murid di antaranya yang sangat terkenal adalah :

1. Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) : Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Jawa Barat. Mursyid TQN Suryalaya Silsilah ke 36.
2. Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin (Abah Anom) : Penerus TQN Suryalaya Silsilah ke 37.
3. Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul (Abah Aos) : Pengasuh Pesantren Sirnarasa. Pelestari TQN Suryalaya Silsilah ke 38.

Salah satu sumber dari : http://ahmad-nu.blogspot.co.id/2011/07/syeh-ahmad-khatib-sambas-1803-1875-guru.html?showComment=1451290886957#c7046190927634034840

GEMBIRA ATAS KELAHIRAN NABI

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 18 Desember 2015 | 04.08

Pada bulan Robi'ul Awwal (Maulud) ini, banyak kalangan umat Islam yang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. dengan cara mengadakan acara baik Masjid-masjid maupun di rumah-rumah, mengundang banyak orang untuk bersama-sama bersilaturahmi, berdzikir, membaca Al Qur'an, membacakan cerita tentang sejarah kehidupan Nabi, bersedekah dengan membagi-bagikan makanan, semua itu dilakukan sebagai ungkapan kegembiraan rasa syukur karena telah lahir (datang) seorang Nabi yang berakhlak mulia yang patut untuk dicontoh keangungan akhlaknya.

Sebagaimana Firman Alloh Swt. di dalam Al Qur'an, kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Alloh Swt. kepada kita. Maka sepantasnyalah kitapun bergembira atas rahmat dan karunia diutusnya Nabi dan Rosul kepada kita umatnya.

Firman Alloh Swt. tentang diutus-Nya seorang Rosul sebagai karunia Alloh :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya, "Sungguh Alloh telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman, ketika Alloh mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata". (QS. Ali Imron (3) : 164).

Salah satu contoh bahwa kedatangan Nabi/Rosul itu adalah karunia Alloh SWT :
Sebelum datang Islam, seluruh umat manusia memandang hina kaum wanita. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak.
  1. Orang-orang Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja.
  2. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami menjual anak perempuan atau istrinya.
  3. Orang Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. Mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Hal itu juga terjadi di Persia, Hidia dan negeri-negeri lainnya. Orang-orang Arab ketika itu pun biasa mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya karena ia seorang wanita! Allah berfirman tentang mereka :
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ . يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Artinya, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl [16]: 58).

Pasca kedatangan Nabi Muhammad SAW, kaum wanita dimuliakan dan diberikan hak yang sama dengan kaum laki-laki, sebagaimana Firman-Nya :

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah [2]: 228).

Sehingga, tidaklah dapat dipungkiri bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah rahmat atau anugerah Tuhan kepada manusia yang tiada taranya, sebagaimana Firman-Nya :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
Artinya, "Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam". (QS. Al-Anbiya (21) : 107).

Oleh karena itu, kita diperintahkan oleh Alloh agar bergembira (bersyukur) atas karunia dan rahmat-Nya :
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya, "Katakanlah! (Muhammad), dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."  (QS.Yunus (10) : 58).

Diadakannya peringatan kelahiran Nabi ini ditujukan tidak lain adalah untuk mencontoh akhlak dan mengikuti ajarannya, sebagaimana Firman-Nya :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُ رَّحِيمُ
Artinya, "Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka se-sungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran (3) : 31).

Orang-orang yang benar-benar mencintai Alloh diperintahkan untuk mengikuti seruan Rosululloh SAW. “Ikutilah aku”. Pertanyaannya, "Apakah benar kita mencintai Alloh? Sudah sejauh manakan cinta kita kepada Alloh?

Di dalam sebuah hadits Rosululloh SAW. bersabda, “Alaa matu hubbillaahi hubbu dzikrillah, wa ‘alaa matu bugh-dhillaahi bagh-dhi dzikrillaahi” Artinya, "Tanda cinta Allah adalah menyukai dzikrullah (dzikir kepada Allah). Dan tanda kebencian Allah adalah membenci dzikrullah azza wajalla." (HR. Baihaqi).

Disebutkan juga dalam suatu riwayat, bahwa Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Alloh swt., "Ya Tuhanku, bagaimana cara mengetahui perbedaan antara kekasih-Mu dan kebencian- Mu?" Alloh swt. berfirman, "Hai Musa bagi kekasih-Ku ada dua tanda bukti : pertama, mudah berdzikir (mengingat dan menyebut-Ku), sehingga Aku juga dzikir kepadanya. Kedua, terpelihara dari segala yang haram dan kemarahan-Ku, sehingga ia selamat dari marah dan siksa-Ku. Demikian pula bagi kebencian-Ku ada dua tanda bukti : pertama, mudah lalai dzikir kepada-Ku. Kedua, mudah menuruti hawa nafsu sehingga terjerumus dalam kemaksiatan".

Firman Alloh SWT :
فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْن
Artinya, “Maka ingatlah kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu; dan bersyukurlah!! kepadaKu dan janganlah Kamu menjadi kufur." (QS. Al Baqarah (2) : 152).
Kalau kita ingin mengikuti Rosululloh, tentu kita juga menyukai dzikrulloh, sebab Rosululloh saw. banyak berdzikir kepada Alloh, sebagaimana Firman-Nya :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (QS. Al Ahzab (33) : 21).
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya.
Dalam sebuah hadist disebutkan:

قَدْ رُؤِيَ أَبُوْ لَهَبٍ بَعْدَ مَوْتِهِ فِي النَّوْمِ فَقِيْلَ لَهُ مَا حَالُكَ ؟ فَقَالَ فِي النَّارِ إِلاَّ أَنَّهُ يُخَفَّفُ عَنِّي كُلَّ لَيْلَةِ اثْنَيْنِ وَأَمُصُّ مِنْ بَيْنِ أُصْبُعِي مَاءً بِقَدْرِ هَذَا-  وَأَشَارَ لِرَأْسِ أُصْبُعِهِ - وَأَنَّ ذَلِكَ بِإِعْتَاقِي لِثُوَيْبَةَ عِنْدَ مَا بَشَّرَتْنِي بِوِلاَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِإِرْضَاعِهَا لَهُ.
Artinya, "Salah seorang keluarga (Abbas bin Abdul Mutholib r.a.) bermimpi bertemu Abu Lahab setelah kematiannya. Ada yang bertanya kepadanya: Bagaimana keadaanmu? Abu Lahab berkata: Saya di neraka. Hanya saja (siksa) diringankan bagi saya setiap hari senin dan saya meminum air dari jari saya seukuran ini (ia menunjuk ujung jarinya). Hal itu karena saya memerdekakan budak Tsuwaibah ketika dia memberi kabar gembira pada saya tentang kelahiran Nabi Muhammad, dan karena ia menyusui Nabi Muhammad SAW”. (HR. Bukhari).

Siapa Abu Lahab? Abu Lahab adalah salah satu paman Nabi, ia selalu menghalang-halangi dakwah Nabi, sehingga ia dicela dan diabadikan di dalam Al Qur’an.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم:
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.
فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi saw. pernah pergi ke tanah lapang, lalu beliau mendaki bukit seraya berseru: “Wahai sekalian kaum.” Kemudian orang-orang Quraisy berkumpul mendatangi beliau, kemudian beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika aku memberitahu kalian bahwa musuh akan menyerang kalian di pagi atau sore hari, apakah kalian mempercayaiku?” “Ya,” jawab mereka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan adzab yang sangat pedih.”
Lalu Abu Lahab berkata: “Apakah untuk ini engkau kumpulkan kami? Kebinasaanlah bagimu.” Lalu Allah menurunkan tabbat yadaa abii lahabiw watabb (binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa). Yang pertama sebagai kutukan baginya, sedangkan yang kedua sebagai pemberitahuan mengenai keadaannya.

Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah saw. yang nama aslinya adalah ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muththalib dan nama kun-yahnya adalah Abu ‘Utaibah. Disebut Abu Lahab karena wajahnya yang memancarkan cahaya. Dia termasuk orang yang menyakiti, membenci, mencaci, dan merendahkan Rasulullah saw. dan juga agama beliau.

Imam Ahmad meriwayatkan, Ibrahim bin Abil ‘Abbas memberitahu kami, ‘Abdurrahman bin Abiz Zinad memberitahu kami, dari ayahnya, dia berkata: “Ada seseorang yang bernama Rabi’ah bin ‘Abbad dari bani ad-Dail –yang dulunya dia seorang Jahiliyyah yang kemudian masuk Islam- memberitahuku, dimana dia berkata: ‘Aku pernah melihat Nabi saw. pada masa jahiliyah di pasar Dzul Majaz, beliau bersabda: ‘Wahai sekalian manusia, katakanlah: Laa Ilaaha Illalloh, niscaya kalian beruntung.’ Dan orang-orang pun berkumpul menemuinya sedang di belakangnya terdapat seseorang yang wajahnya bersinar terang, yang memiliki dua tanda mengatakan: ‘Sesungguhnya dia (Rasulullah) adalah seorang pemeluk Shabi’ah lagi pendusta.’ Dia mengikuti beliau kemana saja beliau pergi. Kemudian aku tanyakan mengenai dirinya, maka orang-orang menjawab: ‘Ini adalah pamannya, Abu Lahab.’ Kemudian diriwayatkan dari Syuraih dari Ibnu Abiz Zinad dari ayahnya, lalu dia menyebutkannya. Abuz Zinad berkata: “Aku katakan kepada Rabi’ah, ‘Apakah pada saat itu engkau masih kecil?’ Dia menjawab: ‘Tidak, demi Allah. Sesungguhnya pada saat itu aku sudah berakal.’” Diriwayatkan oleh Ahmad seorang diri.

Dengan demikian, firman Allah Ta’ala: tabbat yadaa abii lahabiw watabb, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Yakni benar-benar merugi lagi gagal, amal perbuatan dan usahanya pun telah tersesat. ‘Watabb’ yakni binasa lagi benar-benar terbukti kerugian dan kebinasaannya.

Firman-Nya: maa aghnaa ‘an humaa luhuu wamaa kasab (tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan). Ibnu ‘Abbas dan lainnya mengatakan, wa maa kasab (dan apa yang ia usahakan) yakni anaknya. Dan hal senada juga diriwayatkan dari ‘Aisyah, Mujahid, ‘Atha’, al-Hasan, dan Ibnu Sirin. Dan disebutkan juga dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika Rasulullah saw. mengajak kaumnya untuk beriman, Abu Lahab berkata: “Jika apa yang dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka aku akan menebus diriku dari siksaan pada hari kiamat kelak dengan harta dan anakku. Maka Allah Ta’ala pun menurunkan: maa aghnaa ‘an humaa luhuu wa maa kasab (tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan).

Firman-Nya: Sayashlaa naaron dzaata lahab (kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak). Yakni api yang memiliki bunga api yang besar dan daya bakarnya sangat panas. Wamro-atuhuu hammaa latal hatab (dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar). Dan istrinya termasuk kaum wanita Quraisy yang terhormat, yaitu Ummu Jamil dan namanya Arwa binti Harb bin Umayyah, yang merupakan saudara Abu Sufyan, dia menjadi pembantu setia suaminya dalam kekufuran, keingkaran dan perlawanannya. Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak diapun akan menjadi pembantu suaminya dalam menjalani siksaan-Nya di Neraka Jahanam. Oleh karena itu Allah berfirman : Hammaalatal hathabi fii jiidihaa hamblum mim masad (“Dan begitu [pula] istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”), yakni dia biasa membawa kayu bakar dan menyerahkannya kepada suaminya untuk menambah (berat) apa yang dia alami itu, sedang dia senantiasa siap melakukan hal tersebut.

Fii jiidihaa hablum mim masad (“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) Mujahid dan ‘Urwah mengatakan: “Dari sabut neraka.” Dari Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, ats-Tsauri, dan as-Suddi, hammaalatal hathab (“pembawa kayu bakar”) dimana istrinya ini biasa berkeliling untuk melancarkan adu domba. Dan pendapat ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.
Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ‘Athiyyah al-Jadali, adl-Dlahhak, dan Ibnu Zaid: “Dia biasa meletakkan duri di jalanan (yang dilalui) Rasulullah saw.” Dan yang benar adalah pendapat pertama. Wallahu a’lam. Sa’id bin al-Musayyab mengatakan: “Dia memiliki kalung yang sangat mewah. Dan dia mengatakan: ‘Aku akan dermakan kalungku ini untuk memusuhi Muhammad.’ Yakni, sehingga Allah akan menimpakan (azab) dengan meletakkan tali di lehernya yang terbuat dari sabut neraka.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Al-Masad berarti serabut.” ‘Urwah bin az-Zubair mengatakan: “Al-Masad berarti rantai yang panjangnya 70 hasta.”
Mengenai firman-Nya: Fii jiidihaa hablum mim masad (“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) Mujahid mengatakan: “Yakni kalung dari besi.” Sedangkan Ibnu Abi Hatim pernah meriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakr, dia berkata: “Ketika turun ayat: Tabbat yadaa abii lahabiw watabb (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab”), seorang wanita yang buta sebelah matanya, Ummu Jamil binti Harb muncul, dimana dia mempunyai lengkingan (suara) yang sangat tinggi sedang di tangannya terdapat batu. Dia mengatakan: “Mudzammaman abainaa, wadiihuhu qallainaa, wa amruhu ‘ashainaa.” (“Dia orang hina yang kami abaikan, agamanya kami remehkan, dan perintahnyapun kami durhakai.”).

Dan Rasulullah saw. duduk di sebuah masjid bersama Abu Bakr. Ketika melihatnya (istri Abu Lahab), Abu Bakr berkata: “Wahai Rasulullah, dia telah muncul sedang aku khawatir dia akan melihatmu.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya dia tidak akan pernah melihatku.” Dan beliau membaca al-Qur’an yang berliau pegang teguh. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: “Wa idzaa qara’tal qur-aana ja’alnaa bainaka wa bainal ladziina laa yu’minuuna bil aakhirati hijaabam masthuuraa” (“Dan apabila kamu membacakan al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.”) (al-Isra: 45). Kemudian dia datang sehingga berhenti dekat Abu Bakr tanpa melihat Rasulullah saw. lalu dia berkata: “Wahai Abu Bakr, sesungguhnya aku beritahu bahwa sahabatmu telah mencaciku.” Abu Bakr berkata: “Tidak. Demi Rabb Pemelihara rumah ini, dia tidak mencacimu.” Kemudian dia berpaling seraya berkata: “Kaum Quraisy telah mengetahui kalau aku anak perempuan pemukanya.”

Para ulama mengatakan: “Dan di dalam surat ini terkandung mukjizat yang sangat nyata dan dalil yang sangat jelas tentang kenabian, dimana sejak firman Allah Ta’ala ini turun: “Sayashlaa naarong dzaatal lahab. Wamra atuhuu hammaalatal hathab. Fii jiidihaa hablum mim masad.” (“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) (Melalui ayat ini) Allah mengabarkan bahwa keduanya akan mendapat kesengsaraan dan tidak akan beriman. Keduanya atau salah satu dari keduanya tidak akan pernah beriman, baik lahir maupun batin, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dan hal itu merupakan bukti yang paling kuat dan jelas yang menunjukkan kenabian.

Jika Abu Lahab (paman Nabi) saja, yang yang jelas-jelas kafir dan dicela oleh Al-Qur’an, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasululloh Saw. Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya sebagai tanda suka cita. Maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah Saw.? Tentu akan mendapatkan balasan yang lebih baik lagi daripada Abu Lahab.
Demikianlah penjelasan-penjelasan tentang peringatan (perayaan) kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw. termasuk sesuatu yang boleh dilakukan. Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan sholawat, sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, semuanya itu merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh Syari’at Islam.

Alloh swt. berfirman :
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
Artinya, "Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu". (QS.Hud (11) :120).
Isyarat bahwa Rosululloh Saw. memuliakan hari kelahiran, dapat diambil kiyas dari keterangan hadits tersebut di bawah ini.

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari r.a. bahwa Rasululloh Saw. pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR. Muslim).

Hadanalloh waiyyakum ajma'in, wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

MANUNGGALNG MURID DAN MURSYID Status : KH. Irfan Zidny

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 30 Oktober 2015 | 00.52

Sesaat sebelum saya berdiri memenuhi amanah khidmat ilmiyyah pada Manaqib di Masjid Biru Pondok Indah Jakarta (28-10-2015), Syaikh Mursyid Abah Aos menyodorkan secarik kertas kepada saya, tanpa kata-kata, hanya senyuman penuh kelembutan. 
Kertas itu bertuliskan : 

" Abah mah kumaha ceuk Aos. Ceuk Aos "A"? "A", Ceuk Aos "B", "B".

Tulisan diatas di garis bawahi dan diberi kata :

"38 Huruf".

Selanjutnya kata berikutnya :

"Subhanalloh..Baru hari ini Abah ngitung".
*****
Tentu saja, saat saya sudah memegang mic, hal inilah yang saya sampaikan kepada para jamaah. Mencoba sebisa mungkin untuk menerjemahkan apa yang beliau goreskan.
Dalam bahasa Indonesia, ini artinya "Abah (Abah Anom) sih bagaimana kata Aos (Abah Aos) saja. Kata Aos "A" yaa "A". Kata Aos "B" yaa "B".
Jumlah dalam sabda Abah Anom pada tahun 1983 ini ternyata terdiri dari 38 Huruf..!! Dan Abah 'baru' menghitungnya saat ini.
Adakah yang kebetulan? Kata "kebetulan" adalah kata yang mengandung ketidakpercayaan terhadap kekuasaan Alloh.
*****
Ini hanyalah satu, dari satu disiplin pengetahuan, yang meyakinkan peralihan Kemursyidan TQN PP Suryalaya dari Abah Anom kepada Abah Aos, dari Silsilah Emas (As Silsilatuz Dzahabiyyah) 37 kepada 38. Kebersatuan murid dengan Syaikh Mursyidnya. Murid yang kemudian menjadi syaikh Mursyid pelanjut sang Mursyidnya.

(Radio Dalam, 29-10-2015)


Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1079739528712203&set=a.582823458403815.1073741825.100000284972382&type=3&theater

SEORANG MURID PASTI MENGENALI GURUNYA

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 26 Oktober 2015 | 03.50

Menjelang waktu Dhuhur, sembari menuju Masjid berpapasan dengan seorang Ihkwan, kemudian dia berkata, "Saya ingin berbincang-bincang sebenarnya. Jadi ada seorang yang "Pintar" di lingkungan saya, kepadanya akhirnya saya bertanya tentang "Abah Aos", kemudian orang pintar tersebut mengatakan kepada saya bahwa, "Beliau ini memang seorang Ulama Besar, namun belum dilantik. Ibarat kuliah, semua mata kuliah sudah lulus, namun belum diwisuda". Nah, mendengar pernyataan ini, semakin membuat saya ragu-ragu dengan kemursyidan "Abah Aos".

Kemudian secara singkat saya bertanya kepada ikhwan tersebut, "Siapa yang harusnya melantik atau wisuda? Jawabnya, "Nah itu yang saya belum tahu, nanti akan saya tanyakan kepada orang pintar tersebut”. Pembicaraan kami terputus, dan kamipun menunaikan Sholat Dhuhur berjamaah.

Selesai sholat, kami melanjutkan obrolan. Saya memulainya dengan menanyakan no pin bb, karena saya ingin berbagi jikalau ada info atau maklumat pengersa Abah Aos. Sejurus kemudian kami sudah terlibat obrolan yang serius menyangkut tentang silsilah Mursyid TQN Suryalaya ke 38.

Secara singkat saya mengatakan, bahwa yang melantik/wisuda seorang Mursyid adalah :
  1.  Dilantik oleh Guru Mursyid sebelumnya (Perintah).
  2.  Dilantik oleh Muridnya (Pengakuan).
Sekarang, kalau pengertiannya harus dilantik/wisuda oleh Guru Mursyid sebelumnya, sebagaimana pengertian saudara (secara lahiriah), maka hal tersebut tidaklah mungkin, karena guru mursyid sebelumnya itu telah meninggal dunia. Namun yang mungkin terjadi adalah secara pelantikan hakikat. Sehingga berdasarkan kenyataannya, guru Mursyid wajib di 'lantik' (diakui) oleh "Muridnya". Siapa muridnya itu? Tidak lain adalah Anda sendiri!

Selanjutnya saya menjelaskan, di dalam Kitab al Anwaarul Qudsiyyah diterangkan bahwa, "Jika seorang syeikh mursyid yang membimbing seorang murid meninggal dunia, maka ia wajib mencari penggantinya yang dapat MENERUSKAN BIMBINGANNYA  atau yang dapat MENAMBAH NILAI BIMBINGAN dari mursyid yang pertama.

Dan ada beberapa penjelasan Ulama tentang pengangkatan seorang mursyid, salah satunya menurut Syaikh Sulaiman Zuhdi, dalam kitab Majmu`atur Rosail, pengangkatan seorang mursyid dinyatakan sebagai berikut :
  1. Dengan perintah (Amar) dari Syeikh sebelumnya.
  2. Dengan Wasiat Syeikh sebelumnya.
  3. Di tunjuk oleh Mursyid untuk memimpin thoriqoh di satu daerah yang belum ada mursyidnya.
  4. Diangkat oleh para Kholifah dan murid-muridnya dengan suara bulat (apabila Mursyid sudah meninggal dunia).
Terlepas dari itu semua, sesungguhnya pelanjut dari kemursyidan itu adalah urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Firman-Nya.: "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang wali yang mursyid." (QS. Al Kahfi : 17).

Para ikhwan TQN Suryalaya menurut saya terbagi beberapa golongan dalam memahami kemursyidan setelah meninggalnya pengersa Anah Anom, yaitu sbb :
  1. Mereka yang sudah meyakini sudah ada silsilah ke 38. Mereka inilah golongan yang mendapatkan petunjuk, sebagaimana Firman Alloh swt. dalam Al Quran Surat Al Kahfi : 17.
  2. Mereka yang meyakini kemursyidan masih pada Abah Anom. Golongan ini seakan bertindak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, mereka seolah-olah tidak memikirkan bagi umat yang akan datang kemudian, padahal mereka sangat membutuhkan seorang Mursyid. Karena ke'egoan'nya, mereka tidak sadar secara tidak langsung telah memutuskan rantai silsilah TQN Suryalaya.
  3. Mereka yang masin mencari-cari siapa mursyid pelanjut Abah Anom? Golongan ini adalah mereka yang selalu "galau", ketika ketemu 'matahari', mereka mengatakan, "Inilah mursyidku, namun ketika 'matahari' tenggelam, mereka mengatakan, "Oh ternyata bukan." Suatu ketika mereka melihat 'bulan', kembali mereka mengatakan, "Inilah mursyidku", namun ketika bulan menghilang di siang hari, mereka mengatakan, "Oh ternyata bukan." Demikianlah, mereka selalu menunggu. Saya tidak paham yang ditunggu mereka apa? Apakah pengumumun?, atau Surat Keputusan?, ataukah Instruksi?, atau apa..?
  4. Dan ada juga yang memanfaatkan kesempatan untuk "kabur", meninggalkan ajaran thoriqoh. Inilah golongan yang mengaku murid akan tetapi bukanlah murid, sepeninggal Abah Anom menjadi kesempatan bagi mereka untuk berhenti untuk mengamalkan ajaran TQN Suryalaya; berhenti berdzikir, berhenti khotaman, berhenti sholat-sholat sunnah. Dan ada juga yang berminat pindah ajaran thoriqoh; mereka lebih percaya kepada orang lain daripada internal TQN Suryalaya. Padahal Abah Sepuh telah menyatakan dalam TANBIH, "Pun kami tempat orang bertanya tentang Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah.
Fakta Kemursyidan Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul ra. (Abah Aos) :
  1. Ketika pamitan kepada Abah Anom, pundak beliau ditepuk, dengan penggalan Firman Alloh Surat Al Baqarah : 247 : "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu."
  2. Beliau diperintah oleh Abah Anom : "Amalkan, Amankan, Lestarikan!"
  3. Beliau juga diperintah oleh Abah Anom : "Kembangkan Manaqiban!"
  4. Dan, masih banyak lagi isyarat-isyarat lainnya, yang tidak mungkin untuk dituliskan, karena seandainya pohonan dijadikan pena, dan lautan dijadikan tinta, niscaya tak akan sanggup untuk menuliskan ilmu-Nya Alloh Subhanahu wa Ta'ala.
Saran saya kepada siapa saja yang ingin belajar mengamalkan TQN Suryalaya, karena kita masih membutuhkan bimbingan mursyid yang masih bisa kita lihat, kita dengar, dan kita sentauh, maka, "Bukalah dada-dadamu dengan seluas-luasnya, dan biarkanlah kebenaran itu memasuki relung-relung hatimu yang terdalam."

MURID PASTI KENAL GURUNYA

"Terima kasih, semoga saya dibukakan", ucap ikhwan tersebut, dan kamipun mengakhiri obrolan.

Pecinta Kesucian Jiwa

BETAH DI ALAM DUNIA KARENA KECINTAANNYA KEPADA MURID

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 15 Oktober 2015 | 21.16


Di dalam kitab Bahjatul Asror meriwayatkan bahwa Syekh Abdul Qodir suatu saat beliau terbang melayang-layang diatas ribuan manusia pada jamaah majelis pengajian yang beliau pimpin. 

Beliau berkata, "Tiada terbit matahari melainkan mengucapkan salam padaku, dan menginformasikan segala kejadian atau peristiwa yang akan terjadi pada tahun itu. Pada setiap datang bulan senantiasa memberi salam padaku dan menceritakan peristiwa apapun yang akan terjadi pada bulan itu. Demikian setiap datang minggu dan hari, minggu dan hari itu memberi salam padaku dan memberitahukan masukan peristiwa yang akan terjadi pada minggu dan hari itu. Demi Dzat Kemuliaan Tuhan orang-orang yang akan mendapat kecelakaan dan kebahagiaan semuanya itu diajukan kepadaku. Pandangan mataku ada di lauhil mahfudz, dan aku tenggelam dalam lautan ilmunya Alloh dan dalam lautan musyahadah-Nya. Akulah yang menjadi hujjah Alloh bagimu. Akulah yang menjadi pengganti dan penerus Rosululloh SAW. Akulah yang menjadi pewarisnya di bumi. Manusia ada gurunya, malaikat ada gurunya, demikian pula jin ada gurunya, dan aku adalah guru semuanya".

Berkata Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, "Manqobah itu berlaku bagi Tuan Syekh yang ada sekarang".

Manqobah Tuan Syekh tersebut mempunyai makna bahwa kedudukan beliau sudah mencapai Maqom Puncak (Haromil Qudsyiah), atau yang disebut Ma'rifatulloh. Hal itu menandakan perjalanan ruhani beliau sudah mencapai beberapa tingkatan lapisan alam, yaitu; alam mulki, alam malakut, dan alam jabarut atau alam lahut. Dimana tingkatan alam yang paling rendah ialah alam mulki atau yang disebut juga alam dunia, alam yang penuh dengan "kehinaan" tempat berdiamnya kebanyakan daripada manusia. 

Pertanyaannnya adalah, "Mengapa beliau betah di alam dunia yang penuh dengan kehinaan? Bukankah lebih nikmat berdiam di alam Jabarut yang penuh dengan kemuliaan?

Bahkan dikisahkan bahwa, "Disaat Nabi Idris berkeliling di surga mendadak Nabi Idris ingin minum air sungai surga. “Bolehkah saya meminumnya? Airnya kelihatan sejuk dan segar sekali.” “Silahkan minum, inilah minuman untuk penghuni surga.” Jawab Izroill. Pelayan surga datang membawakan gelas minuman berupa piala yang terbuat dari emas dan perak. Nabi Idris pun minum air itu dengan nikmat. Dia amat bersyukur bisa menikmati air minum yang begitu segar dan luar biasa enak. Tak pernah terbayangkan olehnya ada minuman selezat itu. “Alhamdulillaah, Alhamdulillaah, Alhamdulillaah,” Nabi Idris mengucap syukur berulang-ulang. Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya pergi bagi Nabi Idris untuk kembali ke bumi. Tapi ia tidak mau kembali ke bumi. Hatinya sudah terpikat keindahan dan kenikmatan surga Alloh. “Saya tidak mau keluar dari surga ini, saya ingin beribadah kepada Alloh sampai hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris. “Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah di hisab oleh Alloh, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Izroil. “Tapi Alloh itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya. Akhirnya Alloh mengkaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit, dan Nabi Idris menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. 

Firman Alloh Subhanahu wa ta'ala, “Dan ceritakanlah Idris di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya : 85-86). 

Pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW. bertemu dengan Nabi Idris. “Siapa orang ini? Tanya Nabi Muhammad Saw. kepada Jibril yang mendampinginya waktu itu. “Inilah Idris,” jawab Jibril. Selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Alloh tanpa ditemani Jibril. Sesampainya di hadapan Alloh Swt. Rasululloh membaca yang artinya, “Segala penghormatan adalah milik Alloh, segala Rahmat dan kebaikan." Allah berfirman yang artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya." Rasul membaca lagi yang artinya, “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Alloh yang sholeh. Rasululloh dan umatnya menerima perintah ibadah shalat." Berfirman Alloh SWT, “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“. “Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.

Demikanlah kisah tersebut, dimana Nabi Muhammad Saw. rela untuk kembali ke alam dunia (mulki) untuk memberikan kabar kepada umatnya tentang kenikmatan di alam Jabarut dan memerintahkan umatnya untuk melaksanakan sholat. Sabda beliau, "Sholat itu mi'rajnya kaum mu'min". (Al Hadits). Semua itu beliau lakukan demi kecintaannya kepada umatnya. Saking cintanya beliau kepada umatnya, sampai-sampai ketika akan wafat pun beliau masih mengkhawatirkan keadaan umatnya, "Ummati, ummati...". Demikianlah beliau kembali pulang ke hadhirat Alloh Subhanahu wata'ala...

Demikian pula halnya dengan Guru Agung Tuan Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul r.a. Sebagaimana manqobah di atas, beliau adalah Guru daripada penghuni alam mulki yang dihuni oleh manusia, juga guru daripada alam malakut yang dihuni oleh malaikat dan jin, bahkan beliau telah sampai kepada alam jabarut. Mengapa beliau masih betah dan terlihat hal-ihwalnya di alam dunia? Semua itu adalah KARENA KECINTAAN BELIAU KEPADA MURID-MURIDNYA. Sebagaimana KECINTAAN ROSULULLOH KEPADA UMATNYA.


Tafaku Pecinta Kesucian Jiwa
03 Muharom 1437 H
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger