Latest Post

MANUNGGALNG MURID DAN MURSYID Status : KH. Irfan Zidny

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 30 Oktober 2015 | 00.52

Sesaat sebelum saya berdiri memenuhi amanah khidmat ilmiyyah pada Manaqib di Masjid Biru Pondok Indah Jakarta (28-10-2015), Syaikh Mursyid Abah Aos menyodorkan secarik kertas kepada saya, tanpa kata-kata, hanya senyuman penuh kelembutan. 
Kertas itu bertuliskan : 

" Abah mah kumaha ceuk Aos. Ceuk Aos "A"? "A", Ceuk Aos "B", "B".

Tulisan diatas di garis bawahi dan diberi kata :

"38 Huruf".

Selanjutnya kata berikutnya :

"Subhanalloh..Baru hari ini Abah ngitung".
*****
Tentu saja, saat saya sudah memegang mic, hal inilah yang saya sampaikan kepada para jamaah. Mencoba sebisa mungkin untuk menerjemahkan apa yang beliau goreskan.
Dalam bahasa Indonesia, ini artinya "Abah (Abah Anom) sih bagaimana kata Aos (Abah Aos) saja. Kata Aos "A" yaa "A". Kata Aos "B" yaa "B".
Jumlah dalam sabda Abah Anom pada tahun 1983 ini ternyata terdiri dari 38 Huruf..!! Dan Abah 'baru' menghitungnya saat ini.
Adakah yang kebetulan? Kata "kebetulan" adalah kata yang mengandung ketidakpercayaan terhadap kekuasaan Alloh.
*****
Ini hanyalah satu, dari satu disiplin pengetahuan, yang meyakinkan peralihan Kemursyidan TQN PP Suryalaya dari Abah Anom kepada Abah Aos, dari Silsilah Emas (As Silsilatuz Dzahabiyyah) 37 kepada 38. Kebersatuan murid dengan Syaikh Mursyidnya. Murid yang kemudian menjadi syaikh Mursyid pelanjut sang Mursyidnya.

(Radio Dalam, 29-10-2015)


Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1079739528712203&set=a.582823458403815.1073741825.100000284972382&type=3&theater

SEORANG MURID PASTI MENGENALI GURUNYA

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 26 Oktober 2015 | 03.50

Menjelang waktu Dhuhur, sembari menuju Masjid berpapasan dengan seorang Ihkwan, kemudian dia berkata, "Saya ingin berbincang-bincang sebenarnya. Jadi ada seorang yang "Pintar" di lingkungan saya, kepadanya akhirnya saya bertanya tentang "Abah Aos", kemudian orang pintar tersebut mengatakan kepada saya bahwa, "Beliau ini memang seorang Ulama Besar, namun belum dilantik. Ibarat kuliah, semua mata kuliah sudah lulus, namun belum diwisuda". Nah, mendengar pernyataan ini, semakin membuat saya ragu-ragu dengan kemursyidan "Abah Aos".

Kemudian secara singkat saya bertanya kepada ikhwan tersebut, "Siapa yang harusnya melantik atau wisuda? Jawabnya, "Nah itu yang saya belum tahu, nanti akan saya tanyakan kepada orang pintar tersebut”. Pembicaraan kami terputus, dan kamipun menunaikan Sholat Dhuhur berjamaah.

Selesai sholat, kami melanjutkan obrolan. Saya memulainya dengan menanyakan no pin bb, karena saya ingin berbagi jikalau ada info atau maklumat pengersa Abah Aos. Sejurus kemudian kami sudah terlibat obrolan yang serius menyangkut tentang silsilah Mursyid TQN Suryalaya ke 38.

Secara singkat saya mengatakan, bahwa yang melantik/wisuda seorang Mursyid adalah :
  1.  Dilantik oleh Guru Mursyid sebelumnya (Perintah).
  2.  Dilantik oleh Muridnya (Pengakuan).
Sekarang, kalau pengertiannya harus dilantik/wisuda oleh Guru Mursyid sebelumnya, sebagaimana pengertian saudara (secara lahiriah), maka hal tersebut tidaklah mungkin, karena guru mursyid sebelumnya itu telah meninggal dunia. Namun yang mungkin terjadi adalah secara pelantikan hakikat. Sehingga berdasarkan kenyataannya, guru Mursyid wajib di 'lantik' (diakui) oleh "Muridnya". Siapa muridnya itu? Tidak lain adalah Anda sendiri!

Selanjutnya saya menjelaskan, di dalam Kitab al Anwaarul Qudsiyyah diterangkan bahwa, "Jika seorang syeikh mursyid yang membimbing seorang murid meninggal dunia, maka ia wajib mencari penggantinya yang dapat MENERUSKAN BIMBINGANNYA  atau yang dapat MENAMBAH NILAI BIMBINGAN dari mursyid yang pertama.

Dan ada beberapa penjelasan Ulama tentang pengangkatan seorang mursyid, salah satunya menurut Syaikh Sulaiman Zuhdi, dalam kitab Majmu`atur Rosail, pengangkatan seorang mursyid dinyatakan sebagai berikut :
  1. Dengan perintah (Amar) dari Syeikh sebelumnya.
  2. Dengan Wasiat Syeikh sebelumnya.
  3. Di tunjuk oleh Mursyid untuk memimpin thoriqoh di satu daerah yang belum ada mursyidnya.
  4. Diangkat oleh para Kholifah dan murid-muridnya dengan suara bulat (apabila Mursyid sudah meninggal dunia).
Terlepas dari itu semua, sesungguhnya pelanjut dari kemursyidan itu adalah urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana Firman-Nya.: "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang wali yang mursyid." (QS. Al Kahfi : 17).

Para ikhwan TQN Suryalaya menurut saya terbagi beberapa golongan dalam memahami kemursyidan setelah meninggalnya pengersa Anah Anom, yaitu sbb :
  1. Mereka yang sudah meyakini sudah ada silsilah ke 38. Mereka inilah golongan yang mendapatkan petunjuk, sebagaimana Firman Alloh swt. dalam Al Quran Surat Al Kahfi : 17.
  2. Mereka yang meyakini kemursyidan masih pada Abah Anom. Golongan ini seakan bertindak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, mereka seolah-olah tidak memikirkan bagi umat yang akan datang kemudian, padahal mereka sangat membutuhkan seorang Mursyid. Karena ke'egoan'nya, mereka tidak sadar secara tidak langsung telah memutuskan rantai silsilah TQN Suryalaya.
  3. Mereka yang masin mencari-cari siapa mursyid pelanjut Abah Anom? Golongan ini adalah mereka yang selalu "galau", ketika ketemu 'matahari', mereka mengatakan, "Inilah mursyidku, namun ketika 'matahari' tenggelam, mereka mengatakan, "Oh ternyata bukan." Suatu ketika mereka melihat 'bulan', kembali mereka mengatakan, "Inilah mursyidku", namun ketika bulan menghilang di siang hari, mereka mengatakan, "Oh ternyata bukan." Demikianlah, mereka selalu menunggu. Saya tidak paham yang ditunggu mereka apa? Apakah pengumumun?, atau Surat Keputusan?, ataukah Instruksi?, atau apa..?
  4. Dan ada juga yang memanfaatkan kesempatan untuk "kabur", meninggalkan ajaran thoriqoh. Inilah golongan yang mengaku murid akan tetapi bukanlah murid, sepeninggal Abah Anom menjadi kesempatan bagi mereka untuk berhenti untuk mengamalkan ajaran TQN Suryalaya; berhenti berdzikir, berhenti khotaman, berhenti sholat-sholat sunnah. Dan ada juga yang berminat pindah ajaran thoriqoh; mereka lebih percaya kepada orang lain daripada internal TQN Suryalaya. Padahal Abah Sepuh telah menyatakan dalam TANBIH, "Pun kami tempat orang bertanya tentang Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah.
Fakta Kemursyidan Syaikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul ra. (Abah Aos) :
  1. Ketika pamitan kepada Abah Anom, pundak beliau ditepuk, dengan penggalan Firman Alloh Surat Al Baqarah : 247 : "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu."
  2. Beliau diperintah oleh Abah Anom : "Amalkan, Amankan, Lestarikan!"
  3. Beliau juga diperintah oleh Abah Anom : "Kembangkan Manaqiban!"
  4. Dan, masih banyak lagi isyarat-isyarat lainnya, yang tidak mungkin untuk dituliskan, karena seandainya pohonan dijadikan pena, dan lautan dijadikan tinta, niscaya tak akan sanggup untuk menuliskan ilmu-Nya Alloh Subhanahu wa Ta'ala.
Saran saya kepada siapa saja yang ingin belajar mengamalkan TQN Suryalaya, karena kita masih membutuhkan bimbingan mursyid yang masih bisa kita lihat, kita dengar, dan kita sentauh, maka, "Bukalah dada-dadamu dengan seluas-luasnya, dan biarkanlah kebenaran itu memasuki relung-relung hatimu yang terdalam."

MURID PASTI KENAL GURUNYA

"Terima kasih, semoga saya dibukakan", ucap ikhwan tersebut, dan kamipun mengakhiri obrolan.

Pecinta Kesucian Jiwa

BETAH DI ALAM DUNIA KARENA KECINTAANNYA KEPADA MURID

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 15 Oktober 2015 | 21.16


Di dalam kitab Bahjatul Asror meriwayatkan bahwa Syekh Abdul Qodir suatu saat beliau terbang melayang-layang diatas ribuan manusia pada jamaah majelis pengajian yang beliau pimpin. 

Beliau berkata, "Tiada terbit matahari melainkan mengucapkan salam padaku, dan menginformasikan segala kejadian atau peristiwa yang akan terjadi pada tahun itu. Pada setiap datang bulan senantiasa memberi salam padaku dan menceritakan peristiwa apapun yang akan terjadi pada bulan itu. Demikian setiap datang minggu dan hari, minggu dan hari itu memberi salam padaku dan memberitahukan masukan peristiwa yang akan terjadi pada minggu dan hari itu. Demi Dzat Kemuliaan Tuhan orang-orang yang akan mendapat kecelakaan dan kebahagiaan semuanya itu diajukan kepadaku. Pandangan mataku ada di lauhil mahfudz, dan aku tenggelam dalam lautan ilmunya Alloh dan dalam lautan musyahadah-Nya. Akulah yang menjadi hujjah Alloh bagimu. Akulah yang menjadi pengganti dan penerus Rosululloh SAW. Akulah yang menjadi pewarisnya di bumi. Manusia ada gurunya, malaikat ada gurunya, demikian pula jin ada gurunya, dan aku adalah guru semuanya".

Berkata Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, "Manqobah itu berlaku bagi Tuan Syekh yang ada sekarang".

Manqobah Tuan Syekh tersebut mempunyai makna bahwa kedudukan beliau sudah mencapai Maqom Puncak (Haromil Qudsyiah), atau yang disebut Ma'rifatulloh. Hal itu menandakan perjalanan ruhani beliau sudah mencapai beberapa tingkatan lapisan alam, yaitu; alam mulki, alam malakut, dan alam jabarut atau alam lahut. Dimana tingkatan alam yang paling rendah ialah alam mulki atau yang disebut juga alam dunia, alam yang penuh dengan "kehinaan" tempat berdiamnya kebanyakan daripada manusia. 

Pertanyaannnya adalah, "Mengapa beliau betah di alam dunia yang penuh dengan kehinaan? Bukankah lebih nikmat berdiam di alam Jabarut yang penuh dengan kemuliaan?

Bahkan dikisahkan bahwa, "Disaat Nabi Idris berkeliling di surga mendadak Nabi Idris ingin minum air sungai surga. “Bolehkah saya meminumnya? Airnya kelihatan sejuk dan segar sekali.” “Silahkan minum, inilah minuman untuk penghuni surga.” Jawab Izroill. Pelayan surga datang membawakan gelas minuman berupa piala yang terbuat dari emas dan perak. Nabi Idris pun minum air itu dengan nikmat. Dia amat bersyukur bisa menikmati air minum yang begitu segar dan luar biasa enak. Tak pernah terbayangkan olehnya ada minuman selezat itu. “Alhamdulillaah, Alhamdulillaah, Alhamdulillaah,” Nabi Idris mengucap syukur berulang-ulang. Setelah puas melihat surga, tibalah waktunya pergi bagi Nabi Idris untuk kembali ke bumi. Tapi ia tidak mau kembali ke bumi. Hatinya sudah terpikat keindahan dan kenikmatan surga Alloh. “Saya tidak mau keluar dari surga ini, saya ingin beribadah kepada Alloh sampai hari kiamat nanti,” kata Nabi Idris. “Tuan boleh tinggal di sini setelah kiamat nanti, setelah semua amal ibadah di hisab oleh Alloh, baru tuan bisa menghuni surga bersama para Nabi dan orang yang beriman lainnya,” kata Izroil. “Tapi Alloh itu Maha Pengasih, terutama kepada Nabi-Nya. Akhirnya Alloh mengkaruniakan sebuah tempat yang mulia di langit, dan Nabi Idris menjadi satu-satunya Nabi yang menghuni surga tanpa mengalami kematian. 

Firman Alloh Subhanahu wa ta'ala, “Dan ceritakanlah Idris di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi, dan kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Al-Anbiya : 85-86). 

Pada saat peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW. bertemu dengan Nabi Idris. “Siapa orang ini? Tanya Nabi Muhammad Saw. kepada Jibril yang mendampinginya waktu itu. “Inilah Idris,” jawab Jibril. Selanjutnya Rasulullah melanjutkan perjalanan menghadap Alloh tanpa ditemani Jibril. Sesampainya di hadapan Alloh Swt. Rasululloh membaca yang artinya, “Segala penghormatan adalah milik Alloh, segala Rahmat dan kebaikan." Allah berfirman yang artinya: “Keselamatan bagimu wahai seorang nabi, Rahmat dan berkahnya." Rasul membaca lagi yang artinya, “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Alloh yang sholeh. Rasululloh dan umatnya menerima perintah ibadah shalat." Berfirman Alloh SWT, “Hai Muhammad Aku mengambilmu sebagai kekasih sebagaimana Aku telah mengambil Ibrahim sebagai kesayanagan dan Akupun memberi firman kepadamu seperti firman kepada Musa Akupun menjadikan umatmu sebagai umat yang terbaik yang pernah dikeluarkan pada manusia, dan Akupun menjadikan mereka sebagai umat wasath (adil dan pilihan), maka ambillah apa yang aku berikan kepadamu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur“. “Kembalilah kepada umatmu dan sampaikanlah kepada mereka dari Ku”.

Demikanlah kisah tersebut, dimana Nabi Muhammad Saw. rela untuk kembali ke alam dunia (mulki) untuk memberikan kabar kepada umatnya tentang kenikmatan di alam Jabarut dan memerintahkan umatnya untuk melaksanakan sholat. Sabda beliau, "Sholat itu mi'rajnya kaum mu'min". (Al Hadits). Semua itu beliau lakukan demi kecintaannya kepada umatnya. Saking cintanya beliau kepada umatnya, sampai-sampai ketika akan wafat pun beliau masih mengkhawatirkan keadaan umatnya, "Ummati, ummati...". Demikianlah beliau kembali pulang ke hadhirat Alloh Subhanahu wata'ala...

Demikian pula halnya dengan Guru Agung Tuan Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul r.a. Sebagaimana manqobah di atas, beliau adalah Guru daripada penghuni alam mulki yang dihuni oleh manusia, juga guru daripada alam malakut yang dihuni oleh malaikat dan jin, bahkan beliau telah sampai kepada alam jabarut. Mengapa beliau masih betah dan terlihat hal-ihwalnya di alam dunia? Semua itu adalah KARENA KECINTAAN BELIAU KEPADA MURID-MURIDNYA. Sebagaimana KECINTAAN ROSULULLOH KEPADA UMATNYA.


Tafaku Pecinta Kesucian Jiwa
03 Muharom 1437 H

KHUTBAH JUM'AT TENTANG IBADAH QURBAN

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 18 September 2015 | 03.36

Oleh : Mahmud Jonsen
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 لْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُور
وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah Ta’ala atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga dengan rahmat dan karunia itu, kita masih dapat melaksanakan berbagai kewajiban kita, yaitu melaksanakan sholat Jum'at berjamaah di Masjid yang mulia ini.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beserta para keluarga, sahabat, dan semua orang yang mengikutnya hingga hari kemudian.

Selanjutnya marilah kita meningkatkan takwa kita kepada Allah subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Hadirin Rahimakumullah!
Pada bulan Zulhijah setiap kaum Muslim melaksanakan ibadah khusus, yaitu melaksanakan Qurban atau menyembelih Hewan Qurban. Ibadah qurban sangatlah ditekankan dalam Ajaran Islam sebagai bentuk ketaatan kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala dan untuk menyebarkan rahmat Alloh kepada sesama manusia, agar yang mampu dapat berbagi kepada yang tidak mampu, sehingga yang tidak mampu juga dapat merasakan manfaat dari keberadaan orang diberikan kemampuan oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala.

Berkorban merupakan perintah Alloh Subhanahu wa Ta'ala di samping ibadah-ibadah lainnya, sebagaimana Firman-Nya :

Innaa a'thoinaakal kautsar, fasholli lirobbika wanhar, innasyaa niaka huwal abtaru 
Artinya, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus." (QS. Al Kautsar (108) : 1-3).

Berkorban bukanlah hal baru dalam sejarah umat manusia, bahkan sejak zaman Nabi Adam a.s., manusia pertama yang diciptakan oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala pun sudah ada pelaksanaan Qurban, sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur'an :


Artinya, "Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa." (QS. Al Maaidah (5) : 27)

Dalam kisah tersebut dijelaskan dua orang anak manusia sama-sama mempersembahkan korban, namun hanya korban dari Habil yang diterima, sedangkan korban dari Qabil tidak diterima. Mengapa demikian? Karena ternyata tidak semua korban diterima pengorbanannya oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala, melainkan hanya korban yang dipersembahkan dengan ikhlas saja yang diterima pengorbananya. "Faqoola Innamaa yataqobballloohu minal muttaqiina" (Sesungguhnya Alloh hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa).

Hadirin sidang Jum'ah rahimakumullooh,
Ajaran Qurban adalah potret dari sebuah keluarga hamba pilihan yang sangat taat akan perintah Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Seorang ayah yang taat kepada Alloh, seorang Ibu yang taat kepada suami, dan seorang anak yang juga sangat taat kepada kedua orang tuanya, yang ketaatan itu mereka yakini sebagai melaksanakan perintah Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Itulah keluarga Ibrahim a.s. Keluarga yang senantiasa bekerjasama bahu membahu dalam melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Alloh Subhanahu wa Ta'ala, keluarga yang senantiasa siap berkorban di jalan Alloh Subhanahu wa Ta'ala. Sebagaimana juga dikisahkan dalam Al Quran :


Artinya, "Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". (QS. Ash Shofaat (37) 102).

Begitu mulia dan luhurnya ketaatan Nabi Ibrahim a.s. yang telah rela berkorban, bahkan anaknya sekalipun, seorang anak yang ia dambakan kehadirannya setelah sekian tahun tidak diberikan keturunan, anak semata wayang yang sedang beranjak remaja pun rela ia korbankan demi mentaati Tuhannya.

Atas ujian ketaatan tersebut, terbukti Ibrahim dan Ismail taat, maka Alloh Subhanahu wa Ta'ala memberikan balasan berupa tebusan sembelihan yang besar (domba yang besar). Kemudian Alloh abadikan kisah Ibrahim a.s. untuk menjadi contoh, dan disyariatkan dalam ajaran Islam, yaitu menyembelih binatang ternak. Demikian pentingnya ajaran ini sehingga Rosululloh Shalallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللّه صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلاَ يَقرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

Artinya, "Barangsiapa memiliki keluasan rezeki, kemuadian tidak mau berkorban, maka tidak usahlah ia mendekati mushollaku ini". (HR. 

Hadirin yang dirahmati Alloh Subhanahu wa Ta'ala
Mengapa harus binatang ternak?
Barangkali itulah yang ada dibenak kita. Itulah simbol dan isyarat yang penuh dengan makna, yang seharusnya dapat dipetik hikmahnya oleh umat Muhammad Shalallaahu 'alaihi wa sallam. Ibadah korban adalah simbolisasi, sama dengan ibadah haji. Simbolisasi sebagai pesan moral secara khusus dari Alloh Subhanahu wa Ta'ala, Dzat yang Maha Pencipta, kepada umat manusia yang kebanyakan bermental rendah, yakni mental kebinatang jinakan (bahimmiy). 

Mental kebinatangan itulah yang menjadi orientasi hidup kebanyakan manusia, yaitu mengejar kenikmatan badan, seperti makan, minum hura-hura, dan hasrat seksual semata.
Firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala :

Artinya, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (QS. Al A'raf (7) : 179).

Hadirin yang berbahagia..
Makna hakiki dari pelaksanaan korban adalah, menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita, karena boleh jadi wujud kita manusia, tapi bermentalkan kerbau, sapi, kambing dll. Sifat-sifat itulah yang harus kita sembelih untuk selanjutnya kita jadikan kendaraan ruhani menuju Ridho Alloh Subhanahu wa Ta'ala. 

Menyembelih bukan berarti mematikan jiwa, karena jiwa tidak dapat mati. Menyembelih berarti mentransfer jiwa ke alam ruhaniah, sehingga jiwa dapat terbebas dari ikatan badan (jasad). Firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala :

Artinya, "Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al Hajj (22) : 37).

Hadirin rahimakumulloh,
Maka dari itu berbahagialah kiranya yang sudah bisa berkorban, semoga kita menjadi hamba-hamba yang bertaqwa yang selalu siap berkorban. Mengorbankan harta, waktu, tenaga, dan pikiran demi kemaslahatan umat. Mengorbankan harta, waktu, tenaga, dan pikiran dalam rangka mentaati perintah Alloh Subhanahu wa Ta'ala.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ
الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah kedua:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ

Do'a.................

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

REKAMAN LANGKA, CERAMAH NISYFU SYA'BAN ABAH ANOM

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 29 Juli 2015 | 04.33

REKAMAN LANGKA, KULIAH SUBUH ROMADHON ABAH ANOM

TIDAK MENCIUM WANGINYA MURSYID KECUALI BAGI ORANG YANG DIBERI PETUNJUK

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 24 Juli 2015 | 03.29

Anang Hermansyah dg Abah Aos
Dalam amaliyah ilmu Tashowwuf (terlebih dahulu praktek), setelah MENGALAMI  dengan MERASAKAN, baru kemudian mencari dalil, baik di dalam Al Quran maupun Hadits Nabi Muhammad Saw. Mengamalkan ilmu tashowwuf haruslah ada seorang Mursyid. Mursyid adalah Waliyulloh, yang mengangkat dan menjadikannya, hakikatnya adalah Alloh yang diimplementasikan oleh hamba-hamba-Nya (murid). Sekalipun ada hamba yang tidak percaya bahwa sesorang adalah Mursyid, hal tersebut tidak akan menghalangi eksistensi seorang Mursyid selagi masih ada hamba Alloh yang mengakuinya sebagai mursyid.

Dalam amaliyah ilmu tashowwuf, keikhlasan dari pengamalannya tentulah sangat menentukan, namun juga rentang waktu (masa) pengamalannya (mujahadah) juga sangat menentukan keberhasilan dalam mencapai tujuannya. Kata Aba Aos, "Setiap apa yang kita kerjakan harus menuai hasil". Apa tujuan kita mengamalkan ilmu tashowwuf? Tiada lain tujuannya adalah, Yaa Tuhanku, Engkaulah yang kumaksud, dan Ridho-Mu lah yang kucari, berilah aku rasa cinta kepada Engkau dan mengenal Engkau".

Orang-orang yang mencapai Ridho Alloh, tentu adalah orang-orang telah memiliki kedudukan khusus (selain Nabi) di sisi Alloh Swt. Kedudukan khusus inilah yang sebut sebagai Waliyulloh/Auliya Alloh. Qola Abah Aos, "Barang siapa yang ingin dijadikan Alloh sebagai Wali-Nya, maka akan dibukakan pintu dzikir kepadanya. Pintu Dzikir itu ialah Talqin Dzikir". Jadi orang-orang yang mengamalkan ilmu tashawwuf ialah orang-orang yang ingin menjadi Waliyulloh, namun hal ini hanya sekedar untuk diketahui, tidak untuk diakui.

Sebagaimana Firman Alloh dalam Al Quran, "Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu'min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS. Al Fath: 18).

Seorang Wali kedudukannya dibuktikan dengan Karomah, sebagaimana Nabi yang dibuktikan dengan Mukjizat. Karomah itu tampak bagi orang yang belum percaya, ditampakkannya kepadanya dimaksudkan untuk menambahkan keyakinannya. Sedangkan bagi orang yang tidak percaya, maka tidak ada karomah baginya, meskipun Gajah di pelupuk mata takkan kelihatan. Bersyukurlah bagi kita yang telah begitu banyak ditampakkan karomah pengersa Abah, sehingga menambah-nambah keyakinan bagi kita.

Tugas Mursyid ialah menyelamatkan dengan memohonkan ampunan atas dosa-dosa muridnya dan menghantarkan/membimbing seseorang untuk sampai ke Hadhirot Alloh Swt. sebagaimana Firman-Nya, "Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. An Nisa: 64). Dengan mengajarkan Kalimat Laa Ilaaha Illalloh untuk membersihkan jiwa murid-muridnya, Firman Alloh, "Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. (QS. Muhammad: 19).

Fungsi Mursyid adalah untuk membacakan ayat-ayat Alloh, Membersihkan Jiwa, dan mengajarkan kitab Alloh. Firman-Nya, "Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali Imron: 164).

Hanya orang-orang yang diberi petunjuk Alloh yang akan bertemu (mengetahui/meyakini) seorang itu adalah Mursyid, sebagaimana Firman-Nya, "Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (QS. Al Kahfi:17).

Bagi ikhwan TQN Suryalaya semua sudah, maka sepantasnyalah bersyukur kepada Alloh atas segala anugerah-Nya. Qola Abah Aos, "Abah sangat bersyukur punya Guru Pangersa Abah Anom, beliau itu tidak pernah cerita mimpi" dan "Bukan mencari Lailatul Qodar, tapi mensyukuri Lailatul Qodar".
Isyarat di atas pengertiannya sangat dalam, diantaranya adalah, bagi Ikhwan TQN Suryalaya kalau masih membicarakan, "Mencari Lailatul Qodar" atau "Saya bermimpi", itu menjadi "Aib" bagi dirinya, yang seharusnya merasa malu untuk mengatakannya, karena bukankah, "MENCARI BERARTI BELUM KETEMU?" dan "BERMIMPI BERARTI TUKANG TIDUR?".

Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa

SYARAT ORANG YANG DITERIMA TAUBATNYA ADALAH ORANG YANG BERDOSA


Membaca artikel di bawah ini saya teringat hidmat ilmiah pengersa ABAH AOS, "Syarat orang yang diterima taubat nashuha adalah orang yang berdosa, Taubat nashuha tidak berlaku bagi orang yang tidak mempunyai dosa. Jadi amalan tashowuf adalah amalan bagi orang-orang yang mempunyai dosa supaya dapat maghfiroh dari Allah. Tidak bisa taubatan nashuha kalau tidak bertemu seseorang yang bisa memintakan ampunan untuknya, dan orang tersebut adalah utusan Allah yang sekarang sejak Nabi hingga akhir ini dilanjutkan oleh khulafaurosyidin yang disebut Guru Mursyid. (Abah Aos, Suryalaya, 11 Jumadil Akhir 1430 H / Juni 2009)"

DIALOG GUS DUR DAN SANTRI

Santri : "Ini semua gara-gara Nabi Adam, ya Gus!"
Gus Dur : "Loh, kok tiba-tiba menyalahkan Nabi Adam, kenapa Kang."
Santri : "Lah iya, Gus. Gara-gara Nabi Adam dulu makan buah terlarang, kita sekarang merana. Kalau Nabi Adam dulu enggak tergoda Iblis kan kita anak cucunya ini tetap di surga. Enggak kayak sekarang, sudah tinggal di bumi, eh ditakdirkan hidup di Negara terkorup, sudah begitu jadi orang miskin pula. Emang seenak apa sih rasanya buah itu, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak tahulah, saya kan juga belum pernah nyicip. Tapi ini sih bukan soal rasa. Ini soal khasiatnya."
Santri : "Kayak obat kuat aja pake khasiat segala. Emang Iblis bilang khasiatnya apa sih, Gus? Kok Nabi Adam bisa sampai tergoda?"
Gus Dur : "Iblis bilang, kalau makan buah itu katanya bisa menjadikan Nabi Adam abadi."
Santri : "Anti-aging gitu, Gus?"
Gus Dur : "Iya. Pokoknya kekal."
Santri : "Terus Nabi Adam percaya, Gus? Sayang, iblis kok dipercaya."
Gus Dur : "Lho, Iblis itu kan seniornya Nabi Adam."
Santri : "Maksudnya senior apa, Gus?"
Gusdur : "Iblis kan lebih dulu tinggal di surga dari pada Nabi Adam dan Siti Hawa."
Santri : "Iblis tinggal di surga? Masak sih, Gus?"
Gus Dur : "Iblis itu dulunya juga penghuni surga, terus di usir, lantas untuk menggoda Nabi Adam, iblis menyelundup naik ke surga lagi dengan berserupa ular dan mengelabui merak sang burung surga, jadi iblis bisa membisik dan menggoda Nabi Adam."
Santri : "Oh iya, ya. Tapi, walau pun Iblis yang bisikin, tetap saja Nabi Adam yang salah. Gara–garanya, aku jadi miskin kayak gini."
Gus Dur : "Kamu salah lagi, Kang. Manusia itu tidak diciptakan untuk menjadi penduduk surga. Baca surat Al-Baqarah : 30. Sejak awal sebelum Nabi Adam lahir… eh, sebelum Nabi Adam diciptakan, Tuhan sudah berfirman ke para malaikat kalo Dia mau menciptakan manusia yang menjadi khalifah (wakil Tuhan) di bumi."
Santri : "Lah, tapi kan Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di surga?"
Gus Dur : "Iya, sempat, tapi itu cuma transit. Makan buah terlarang atau tidak, cepat atau lambat, Nabi Adam pasti juga akan diturunkan ke bumi untuk menjalankan tugas dari-Nya, yaitu memakmurkan bumi. Di surga itu masa persiapan, penggemblengan. Di sana Tuhan mengajari Nabi Adam bahasa, kasih tahu semua nama benda. (lihat Al- Baqarah : 31).
Santri : "Jadi di surga itu cuma sekolah gitu, Gus?"
Gus Dur : "Kurang lebihnya seperti itu. Waktu di surga, Nabi Adam justru belum jadi khalifah. Jadi khalifah itu baru setelah beliau turun ke bumi."
Santri : "Aneh."
Gus Dur : "Kok aneh? Apanya yang aneh?"
Santri : "Ya aneh, menyandang tugas wakil Tuhan kok setelah Nabi Adam gagal, setelah tidak lulus ujian, termakan godaan Iblis? Pendosa kok jadi wakil Tuhan."
Gus Dur : "Lho, justru itu intinya. Kemuliaan manusia itu tidak diukur dari apakah dia bersih dari kesalahan atau tidak. Yang penting itu bukan melakukan kesalahan atau tidak melakukannya. Tapi bagaimana bereaksi terhadap kesalahan yang kita lakukan. Manusia itu pasti pernah keliru dan salah, Tuhan tahu itu. Tapi meski demikian nyatanya Allah memilih Nabi Adam, bukan malaikat."
Santri : "Jadi, tidak apa-apa kita bikin kesalahan, gitu ya, Gus?"
Gus Dur : "Ya tidak seperti itu juga. Kita tidak bisa minta orang untuk tidak melakukan kesalahan. Kita cuma bisa minta mereka untuk berusaha tidak melakukan kesalahan. Namanya usaha, kadang berhasil, kadang enggak."
Santri : "Lalu Nabi Adam berhasil atau tidak, Gus?"
Gus Dur : "Dua-duanya."
Santri : "Kok dua-duanya?"
Gus Dur : "Nabi Adam dan Siti Hawa melanggar aturan, itu artinya gagal. Tapi mereka berdua kemudian menyesal dan minta ampun. Penyesalan dan mau mengakui kesalahan, serta menerima konsekuensinya (dilempar dari surga), adalah keberhasilan."
Santri : "Ya kalo cuma gitu semua orang bisa. Sesal kemudian tidak berguna, Gus."
Gus Dur : "Siapa bilang? Tentu saja berguna dong. Karena menyesal, Nabi Adam dan Siti Hawa dapat pertobatan dari Tuhan dan dijadikan khalifah (lihat Al-Baqarah: 37). Bandingkan dengan Iblis, meski sama-sama diusir dari surga, tapi karena tidak tobat, dia terkutuk sampe hari kiamat."
Santri : "Ooh…"
Gus Dur : "Jadi intinya begitulah. Melakukan kesalahan itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ya yang iblisi itu kalau sudah salah tapi tidak mau mengakui kesalahannya justru malah merasa bener sendiri, sehingga menjadi sombong."
Santri : "Jadi kesalahan terbesar Iblis itu apa, Gus? Tidak mengakui Tuhan?"
Gus Dur : "Iblis bukan atheis, dia justru monotheis. Percaya Tuhan yang satu."
Santri : "Masa sih, Gus?"
Gus Dur : "Lho, kan dia pernah ketemu Tuhan, pernah dialog segala kok."
Santri : "Terus, kesalahan terbesar dia apa?"
Gus Dur : "Sombong, menyepelekan orang lain dan memonopoli kebenaran."
Santri : "Wah, persis cucunya Nabi Adam juga tuh."
Gus Dur : "Siapa? Ente?"
Santri : "Bukan. Cucu Nabi Adam yang lain, Gus. Mereka mengaku yang paling bener, paling sunnah, paling ahli surga. Kalo ada orang lain berbeda pendapat akan mereka serang. Mereka tuduh kafir, ahli bid'ah, ahli neraka. Orang lain disepelekan. Mereka mau orang lain menghormati mereka, tapi mereka tidak mau menghormati orang lain. Kalau sudah marah nih, Gus. Orang-orang ditonjokin, barang-barang orang lain dirusak, mencuri kitab kitab para ulama. Setelah itu mereka bilang kalau mereka pejuang kebenaran. Bahkan ada yang sampe ngebom segala loh."
Gus Dur : "Wah, persis Iblis tuh."
Santri : "Tapi mereka siap mati, Gus. Karena kalo mereka mati nanti masuk surga katanya."
Gus Dur : "Siap mati, tapi tidak siap hidup."
Santri : "Bedanya apa, Gus?"
Gus Dur : "Orang yang tidak siap hidup itu berarti tidak siap menjalankan agama."
Santri : "Lho, kok begitu?"
Gus Dur : "Nabi Adam dikasih agama oleh Tuhan kan waktu diturunkan ke bumi (lihat Al- Baqarah: 37). Bukan waktu di surga."
Santri : "Jadi, artinya, agama itu untuk bekal hidup, bukan bekal mati?"
Gus Dur : "Pinter kamu, Kang!"
Santri : "Santrinya siapa dulu dong? Gus Dur."

Copas, sumber : Perpustakaan Universitas Menyan Indonesia (UMI)

SUARA HALUS: MAU SELAMAT? IKUTI MURSYID YANG MASIH HIDUP

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 23 Juli 2015 | 02.09

Suara halus, berhati-hatilah! Hendaklah kita selalu peka terhadap suara halus dari orang-orang yang sholeh...

Terkadang tanpa kita sadari, akibat dari amal perbuatan kita yang tidak sengaja kita perbuat, menimbulkan suara yang halus dari saudara kita sesama muslim. Adakalanya suara halus itu berdampak positif bagi kita, namun ada kalanya suara yang halus itu berdampak negatif bagi kita sehingga menimbulkan berbagai kesusahan hidup baik yang bersifat dunia maupun yang bersifat akhirat...

Kita mungkin tidak sengaja, atau bahkan dengan mudahnya kita melakukan amal perbuatan, tanpa kita sadari ternyata menyakiti perasaan orang lain atau paling tidak  membuat orang lain kurang berkenan dengan amal perbuatan kita tersebut. Hal tersebut akhirnya berdampak kepada perjalanan hidup kita. Kita semua hampir tak bisa luput dari hal-hal ini semua. Selama kita masih berinteraksi dengan sesama manusia, maka kejadia-kejadi serupa tak dapat kita hindarkan kecuali dengan kita peka terhadap suara-suara yang halus...

Rosululloh Saw. bersabda, “Hati- hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah. “(HR Tirmidzi).

Dari Mu’adz bin Jabal r.a., bahwasanya Rosulullah Saw. bersabda, “Artinya : Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”.(HR. Muslim).

Demikianlah kita semua haruslah senantiasa peka terhadap segala amal perbuatan kita terutama ketika kita berinteraksi dengan sesama manusia makhluk ciptaan Alloh Swt. sebagaimana Firman Alloh dalam Al Quran: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (keuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (QS.al-Hijr:75).

Bagaimana supaya kita selamat?
Dikarenakan kita hampir tak bisa lepas dari hal tersebut di atas maka kalau mau aman dan terbebas dari itu semua, kita perlu untuk berlindung kepada Alloh dengan mengikuti seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, karena beliau yang akan membimbing dan menyelamatkan kita dari adzab Alloh yang dapat saja turun akibat menyinggung perasaan Wali-Nya atau orang sholeh yang mungkin saja saudara kita, istri kita, anak kita, tetangga kita, teman kita, atau siapa saja orang di sekitar kita yang luput dari perhatian kita.

Hal ini seperti dalam hadits Qudsi, "Dan tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan atasnya, dan senantiasalah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya bila Aku telah mencintainya, maka Aku-lah pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia memukul, kaki yang dengannya ia berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku pasti memberikannya dan bila ia berlindung kepada-Ku, niscaya aku pasti melindunginya" (HR.al-Bukhari).

Mengapa kita perlu mengikuti Mursyid (silsilah) yang masih hidup?
Karena seorang Mursyid hanya akan melindungi dan bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan muridnya selama ia masih berada di tengah-tengah mereka. Adapun ketika seorang Mursyid sudah kembali kepada Alloh (wafat) maka ia tidak lagi bertanggung jawab terhadap segala amal perbuatan murid-muridnya. Sebagaimana Nabi Isa a.s. tidak bertanggung jawab terhadap sepak terjang umatnya setelah beliau diangkat di sisi Alloh Swt. sebagaimana Firman-Nya, "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?' Isa menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.'" (QS. Al Maaidah: 116-117).

Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
7 Syawal 1435 H / 23 Juli 2015

KULTUM MALAM PERTAMA RAMADHAN 1436 H

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 18 Juni 2015 | 02.17

Asaalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Alhamdulillah, wassholatu wasalaamu 'alaa rosuulillaah wa'alaa aalihi washohbihii waman waalah
Asyahaaduan laa ilaaha illalloh wahdahuu laa syariikalahu, wa-asyhaduannaa Muhammadan 'abduhuu warosuuluhu.
Amma ba'du,
Qolallohu ta'alaa: Yaa ayyuhalladziina aamanu kutiba 'alaikumushshiaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qoblikum la'allakum tattaquuna.
Waqola 'adhon, Syahru romadhoona alladzii unzilafiihi alqur'aanu hudallinnaas wabayyinatin minalhuda wal furqoon. Iqro' Bismi Robbikalladzii kholaq!

Hadirin, bapak-bapak, ibu-ibu, serta adik-adik, jemaah yang dirahmati Alloh SWT.

Puji syukur ke Hadirat Alloh SWT. yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita semua, sehingga dengan rahmat dan karunia-Nya itu, kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh barokah, dan bulan yang penuh maghfiroh Alloh SWT.

Pada bulan Ramadhan kita diwajibkan oleh Alloh untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, agar kalian bertaqwa. Namun demikian tidak semua orang yang diwajibkan, akan tetapi ada beberapa kemudahan dari Alloh untuk tidak berpuasa, yaitu bagi:

  1. Orang yang sedang sakit, maka boleh tidak berpuasa, tetapi wajib baginya untuk mengganti (qodho) di hari lain (di luar ramadhan) sebanyak hari yang ditinggalkan.
  2. Orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), maka boleh tidak berpuasa, tetapi wajib baginya untuk mengganti (qodho) di hari lain (di luar ramadhan) sebanyak hari yang ditinggalkan.
  3. Orang yang susah (berat melaksanakan) puasa, seperti orang yang lanjut usia (kakek-nenek) yang sudah jompo, orang yang sakit kronis, dan orang yang bekerja berat dalam mendapatkan rejeki, maka boleh tidak berpuasa, tetapi wajib baginya untuk membayarkan fidyah, yaitu memberi makan satu orang fakis-miskin sebanyak hari yang ditinggalkan.
  4. Ibu-ibu yang mengamdung dan menyusui, maka boleh ia tidak berpuasa, tetapi wajib membayar fidyah atau qodho, dan/atau fidyah qodho sebanyak hari yang ditinggalkan.
    • Imam Hanafi berpendapat bahwa ibu hamil/menyusui dikategorikan orang yang sakit, maka hukumnya Qodho.
    • Ibnu Abbas r.a. dan Ibnu Umar r.a. berpendapat bahwa ibu yang hamil/menyusui kategori orang yang susah/berat berpuasa, maka hukumnya membayarkan fidyah.
    • Imam Syafi'i berpendapat, bahwa ibu yang sedang hamil/menyusui, terbagi dua macam, yaitu:
      • Kalau ia mengkhawatirkan anaknya, maka ia membayar fidyah sekaligus mengganti puasanya di hari yang lain (Qodho), karena selain dalam kategori susuah/berat berpuasa, ia juga telah meninggalkan puasanya.
      • Kalau ia mengkhawatirkan bayi dan dirinya, maka ia cukup mengganti puasanya di hari yang lain (Qodho), karena ia termasuk ke dalam kategori orang yang sakit.

Selain itu, pada bulan Ramadhan, pasangan suami-istri juga dilarang bersetubuh di siang hari, kecuali di malam hari bila tidak sedang i'tikaf. Jika hal tersebut di langgar sedang ia dalam keadaan berpuasa, maka ia wajib membayar Kifarat, yaitu berpuasa selama 60 hari berturut-turut di luar bulan Ramadhan.

Hadirin yang dirahmati Alloh...
Mengenai hal tersebut di atas Allod SWT. jelasa di dalam Al Qur'an Surat Al Baaqaroh ayat 183-187:



[2:183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
 
 

[2:184] (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
 
 

[2:185] (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
 
 

[2:186] Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
 
 

[2:187] Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Hadirin jamaah rahiimakumulloh,
Kalau kita melaksanakan puasa di bulam suci Ramadhan dengan sempurna maka kita kita semua kembali kepada kesucian (fitrah). Tetapi ingat yang mensucikan jiwa seseorang itu bukan bulannya.

  • Tetapi apa? yaitu AL QUR'AN yang DITURUNKAN pada bulan RAMADHAN. 
  • Kapan? tidak ada dalil yang qot'i. Pendapat jumhur 'ulama yaitu tanggal 17 Ramadhan. Namun yang pasti, Al Qur'an diturunkan di bulan Ramadhan, Firman Alloh: "Syahru romadhoona alladzii unzilafiihi alqur'aanu hudallinnaas wabayyinatin minalhuda wal furqoon."
  • Dimana diturunkan? Di Gua Hira'.
  • Nabi Muhammad SAW. sedang apa? Bukan sedang sholat, karena perintah sholat belum ada, akan tetapi Nabi sedang uzlah,tafakur, dan memperbanyak berpuasa.
  • Apa yang diturunkan? yaitu IQRO' BISMI ROBBIKALLADZII KHOLAQ! Ketika Nabi menerima Wahyu ini dari Malaikat Jibril a.s. beliau terkejut, tertegun, bahkan mungkin juga ada rasa takut, ketika Jibril memerintahkan menyampaikan Iqro' (Baca!). Rosululloh SAW. tidak tahu apa yang harus dibaca? Maka setelah tiga kali Jibril menyampaikan, kemudian dilanjutkan dengan Bismi Robbikalladzii Kholaq (Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptkan).
Bapak dan Ibu yang berbahagia,
Iqro' adalah perintah Alloh untuk membaca, maka di bulan suci Ramadhan ini marilah kita memperbanyak untuk membaca Al Qur'an. Alloh SWT. Berfirman:


[47:19] Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Bismi Robbikalladzii kholaq, adalah menyebut nama Alloh di dalam jiwa. Firman Alloh SWT.:

[7:205] Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatiumu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termask orang-orang yang lalai.

Jadi jiwa seseorang menjadi suci karena ia senatiasa berdzikir kepada Alloh, BACA artinya Dzikir Jahar:"LAA ILAAHA ILLALLOH", SEBUT artinya"DZIKIR KHOFI".

Beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan diri (jiwanya). Firman-Nya:

[87:14] Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
 
 

[87:15] dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.

Dzikir itulah yang akan menyampaikan kita kepada Alloh SWT. Syahadat kita, sholat kita, zakat kita, puasa kita, haji kita, semua akan terbawa sampai kepada Alloh kalau ada dzikirnya. Sabda Rosululloh SAW., "Dzikrullohi Syifa'ul qulub". (Dikir kepada Alloh adalah Ruh nya ibadah).

Kalau tidak ada Dzikirulloh maka Syahadat kita hanya sampai di ujung lidah, sholat hanya sampai di ujung sajadah, zakat hanya sampai di tangan orang, puasa hanya dapat lapar dan haus, haji hanya sampai ke Mekah, tidak sampai kepada Alloh SWT.

Demikianlah, mari kita laksanakan shalat Tarowih berjamaah.

Wabillaahi Taufiq wal hiidayah, wassalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.




AKIBAT MEMUSUHI WALI ALLOH

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 21 Mei 2015 | 05.13



Tugas utama dari Para Nabi dan Rosullulloh adalah menyeru kepada semua manusia agar menyembah hanya kepada Alloh dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Alloh, "Laa Ilaaha Illalloh". Sabda Rosullulloh Saw., "Afdholu maaqulta ana wanabiyana, min qauli Laa Ilaaha Illalloh"- Yang paling utama kuucapkan dan yang diucapkan nabi-nabi terdahulu, ialah Tidak ada Tuhan selain Alloh.

Demikian Agungnya kalimat tersebut, kalimat yang hanya kepada manusia di amanahkan, sebagaimana Firman Alloh Swt. dalam Al Qur'an Surat Al Ahzab ayat 72-73, "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS al-Ahzab [33]: 72-73).

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, bahwa beliau berkata: “Aku mendengar junjungan manusia Muhammad bersabda: Junjungan Malaikat, Jibril berkata: Aku tidak turun dengan membawa satu kalimat yang lebih agung dari kalimat Laa ilaaha IllaLlah. Dengan kalimat tersebut langit, bumi, gunung, pohon-pohon, daratan dan lautan muncul ke permukaan. Ingatlah kalimat tersebut adalah kalimat keselamatan ia adalah kalimat yang tinggi." (Miftahus Shudur, KH. A. Shahibul Wafa Tajul ‘Arifin)

Bahwa Syaiyidina "Ali k.w. bertanya kepada nabi : "Ya Rosulullah tunjukilah aku jalan yang sependek-pendeknya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hambaNya pada sisi Allah?. Maka bersabdalah Rosulullah : "Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal (dzikir dawam) dan ucapan yang paling utama pernah kulakukan dan dilakukan oleh Nabi-nabi sebelum aku, yaitu Laa Ilaaha Illallaah. Jika ditmbang tujuh petaka langit dan bumi dalam satu daun timbangan, dan kalimat Laa Ilaaha Illallaah dalam satu timbangan yang lainnya, maka akan lebih berat kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam daun timbangan yang lain".

Sebagaimana diuraikan di atas bahwa tugas para Nabi yang kemudian diteruskan oleh Para Wali Alloh adalah menegakkan kalimat Tauhid, kalimat yang akarnya menghujam ke bumi daunnya menjulang ke langit yang senantiasa memberikan buahnya pada setiap musim, sebagaimana Firman Alloh, "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim:24-25).

Maka sesungguhnya menjadi tugas para Wali Alloh untuk mensyiarkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh, karena para Ulama adalah penerus para Nabi, sebagaimana Sabda Rosullulloh Saw., "Al 'ulama-u warosatul anbiya". Tentu saja dalam menegakkan kalimat tersebut pasti ada tantangan dan rintangan dari golongan manusia yang tidak ingin tegaknya kalimat yang Agung, yang biasanya datang dari kaum yang kafir atau dari golongan orang-orang munafik. Namun ingatlah, jikalau istiqomah dalam perjuangan dakwah insya Alloh akan selalu mendapatkan pertolongan oleh Alloh Swt. Bersabda Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, "Meskipun orang-orang sampai jungkir balik, tidak akan mampu.menghalang-halangi tegaknya kalimat yang Agung."

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya”. HSR al-Bukhari (5/2384, no. 6137).

Hati-hati, jangan coba-coba memusuhi Wali-Nya. Maka akan menyebabkan anda mendapatkan bermacam-macam kesusahan, dari yang terkecil hingga yang terbesar. Seandainya hati pengersa Abah Aos tidak penuh dengan rasa kasih sayang, niscaya akan banyak orang yang akan menderita dan mendapatkan berbagai kesusahan akibat dari memusuhi beliau. Yang kaya menjadi miskin, yang sehat menjadi sakit, yang lapang menjadi sempit, yang alim menjadi bodoh, yang arif menjadi pendengki, yang mulia menjadi hina, yang tinggi derajatnya menjadi rendah, yang bijak menjadi zholim. Itulah akibat dari memusuhi Wali-Nya, adaikan tidak dihapus oleh kemuliaan Akhlaq dan Lautan Mahabbah (Cinta) para Wali dan para Nabi kepada umatnya, hati yang diliputi rasa cinta niscaya Alloh Swt. akan menurunkan azab-Nya. Cinta dan kasih sayang yang dalam itulah yang menjadi penyebab Alloh Swt. manahan Azab-Nya.

Firman Allâh Azza wa Jalla (dalam hadits di atas), yang artinya, "Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan hal-hal yang Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya."

Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Ingatlah wali-wali Allâh itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” [Yûnus/10:62-63]

Dan Firman Alloh Swt., “(Orang-orang yang bertakwa adalah) orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan kesalahan (orang lain). Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali ‘Imran: 134).

Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).'” (HR. Muslim, no. 2588 dan imam-imam lainnya).

Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa

IKUT SAJA BERSAMA GURU AGUNG

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 20 Mei 2015 | 03.35


Sunan Ampel
Pasca Kemursyidan Abah Anom (Silsilah ke 37), satu-satunya Murid beliau yang diakui sebagai Mursyid (Silsilah ke 38) oleh Ikhwan TQN Suryalaya adalah, Pengersa Abah Aos, Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi al Kamil, Qs. 

Berkata pengersa Abah di hadapan ribuan Ikhwan di Masjid Istiqlal Jakarta, Muhammad adalah nama yang diberikan oleh kedua orang tua beliau, Gaos adalah nama pemberian dari Syekh Muhammad Kahfi (Mursyid Thoriqoh Syathoriyah) yang tidak lain adalah Kakek beliau sendiri, nama tersebut diberikan kepada Ibunda beliau (Siti Muslihah) dua tahun sebelum beliau dilahirkan. Saefulloh Maslul adalah nama yang diberikan oleh Guru Agung Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin, Qs. (Abah Anom), Al Qodiri, adalah nama yang diberikan oleh Syekh Hashimuddin (Cucu Syekh Abdul Qodir Jailani) di Baghdad Iraq, An Naqsyabandi, adalah nama yang diberikan oleh Syekh Afeefuddin (Cucu Syekh Abdul Qodir Jailani) di Malaysia, dan Al Kamil, adalah nama yang diberikan oleh Syekh Muhammad Fadhil Jailani (Cucu Syekh Abdul Qodir Jailani) di Turky.

Menyikapi Kemursyidan pengersa Abah Aos, Pondok Pesantren Suryalaya, berserta jajaran Pengurus Yayasan Serba Bakti (YSB), dan sebagian besar Wakil Talkin Abah Anom, tidak menerima Kemursyidan pengersa Abah Aos, bagi mereka kemursyidan TQN Suryalaya hingga saat ini masih ada pada Abah Anom, sampai Alloh SWT. menentukan Wali/Guru Mursyid lain di kemudian hari.

Masalah kemursyidan adalah menyangkut tentang keyakinan, tentu saja kita harus memaklumi bagi orang yang tidak sepaham dengan keyakinan kita. Sebagai ikhwan TQN Suryalaya, kita harus senantiasa berpegang teguh pada isi Tanbih dari Syekh Abdulloh Mubarok Bin Nur Muhammad Qs. (Abah Sepuh). Jaga persatuan dan kesatuan, hormat kepada yang lebih tinggi, jangan bersengketa, rendah hati, gotong royong, jangan berselisih, jangan menghina, jangan angkuh, harus kasih sayang, manis budi, ramah tamah, murah tangan. Jangan membenci kepada ulama yang sezaman, jangan memeriksa murid orang lain, jangan menyalahkan pengajaran orang lain, jangan berubah sikap meskipun disakiti orang lain, harus menyayangi orang yang membenci kepadamu. Sabda Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul Al Qodiri An Naqsyabandi Al Kamil, Qs., Mursyid TQN PPS silsilah ke 38 yang kini telah memiliki 89 Wakil Talkin tersebar di Indonesia, Malaysia, hingga Jeddah Arab Saudi: "Tak Terkejar Tetapi Tidak Ada Yang Tertinggal". Tentu saja sabda beliau itu ditujukan kepada siapa saja Yang Mau Ikut.

Sebagai Mursyid TQN Suryalaya, pengersa Abah Aos beberapa kali mengeluarkan Maklumat sebagai penyempurnaan ajaran TQN Suryalaya guna meningkatkan amaliyah sekalian ikhwan. maklumat tersebut antara lain:
  • Di Sirnarasa, beliau menghimbau seluruh ikhwan agar melaksanakan amaliyah sholat sunnah isti'anah sebanyak 4 rakaat, 2 kali salam berikut dengan doa, setelah isro', istiadah, istiharoh. 
  • Di Spanyol, beliau menetapkan keseragaman Lagam dalam Khotaman.
  • Bandara Abu Dhabi, 21 Oktober 2014, Pukul 06.34 waktu setempat / 09.34 WIB. (Sholat Sunah "Syukur Ni'mat). pengersa Abah menyatakan: "Sholat Syukur Ni'mat lakukan dengan 2 roka'at, sebanyak-banyaknya (tak terhingga), dimana saja dan kapan saja. Bacaan ayat setelah Surat Alfatihah adalah ayat.ke 34 surat Ibrohim, pada rokaat pertama: "Wa aataakum min kulli maa sa-altumuuhu, wa inta'udduu ni'matallohi laa tuh shuuhaa". Pada roka'at kedua: "Innal insaana lazholuumun kaffar". Setelah salam lalu sujud dengan membaca: "Allohuma laka sajadtu, wabika aamantu walaka aslamtu sajada wajhiya lilladzi kholaqohu wa showarohu wa syaqqo sam'ahu wa bashorohu bi haulihi waquwwatihi tabaarokallohu ahsanul khooliqiin".
  • Di Turky, Jumat, 24 Oktober 2014 di dalam bis, Kusadasi, Pukul 10.34 waktu setempat. Maklumat Abah Aos: "Pra Manaqib, bacakan Al Fatihah, Al Ikhlash, Al Falaq dan An Nas Untuk Peradaban Dunia. Setelah "Untuk Kejayaan Agama dan Negara" (baca: Untuk Kejayaan Agama dan Negara untuk Peradaban Dunia, Al Fatihah...).
  • Istambul, Turky. Selasa, 28 Oktober 2014. Maklumat Abah Aos; "Al Fatihah ke-4 Khotaman atau Tawassul, kalimat; "Wa Muslimin wa Muslimatin", dicukupkan (tidak digunakan). Sehingga menjadi: " ... wa ila arwahi kulli waliyyin wa waliyatin, min masyariqil ardhi...).
  • Pada Manaqib di Masjid Istiqlal tanggal 21 Februari 2015 pengersa Abah Aos mengeluarkan maklumat, bahwa disetiap manaqib yang dilaksanakan adalah dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, dimanapun dan kapanpun juga.
  • Di Jakarta, beliau menghimbau seluruh ikhwan TQN PPS di mana saja berada, sendiri atau berjamaah, mulai Jumat tanggal 6-14 Maret 2015, setiap ba'da sholat ashar melaksanakan Khotaman dengan membaca Yaa Lathif sebanyak 129 kali.
  • Madinah, 07 Maret 2015. Jam 22.00 WAS. Beliau mengucapkan sholawat dan salam kepada Baginda. Dan beliau maklumatkan agar hal ini didawamkan setiap malam sesudah sholat dan zikir malam.
  • Di Madinah-Mekah, tanggal 9 Maret 2015, pengersa Abah menyampaikan mulai hari ini:
    • Setiap masuk kamar kecil atau kamar mandi langsung berwudhu.
    • Waktu pelaksanaan sholat Duha dikembalikan lagi seperti pada zaman Syeikh Abdulloh Mubarok Bin Nur Muhammad (Abah Sepuh), yakni jam 07.00 pagi.
  • Di Sirnarasa, mulai hari Selasa, 7 April 2015, beliau menghimbau seluruh ikhwan agar sebelum tidur membaca, "Bismillaahirrohmaanirrohiim,. Naruddu bikal a'daau minkulli wijhatin wabil ismi tarmihim minal  bu'di bissatat. Allohuma Haafizhun Hayyun Laa Yanam", sampai tertidur.
  • Di Prapanca, Selasa 21 April 2015. Pengersa Abah mengijazahkan uluk salam Rijalul Ghoib. Catatan dari KH. Muhammad Sholeh Hujatul Arifin: Sebelum membaca Rijalul Ghoib, agar beruluk salam terlebih dahulu kepada pengersa Abah Aos.
  • Di Jagat 'Arsy, Rabu, 22 April 2015 jam 08.00 pagi. Semua ikhwan diminta untuk puasa Rojab, pada hari Kamis, kemudian malamnya sholat malam Jumat pertama di bulan Rojab.
  • Di Bandung, beliau menghimbau dan mengingatkan agar para Ikhwan dan Akhwat sekalian terhitung Selasa , 12 Mei 2015, untuk mengucapkan/menjawab, "Aamiin" secara nyaring, kompak, dan berjamaah seluruh bait doa Hadrotu Syeikh Abdulloh Mubarok Bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) di setiap pembacaan Tanbih.
  • Kepada seluruh Ikhwan-Akhwat TQN PP Suryalaya. Abah menghimbau terhitung Rabu, 13 Mei 2015 agar menyeragamkan amaliyah pembacaan tawasul terhadap seluruh Ahli Silsilah TQN PPs yang tertera dalam untaian Dzikir Harian, Khotaman, dan Tawasul dengan merujuk pada bimbingan redaksi dari Pengersa Abah Sepuh berikut ini: "Tsumma ila arwaahi ahli silsilatil Qodiriyyah Naqsyabandiyah Ma'had Suryalaya wa jami'i ahlit thuruqi..dst".
Satu demi satu bimbingan pengersa Abah untuk semua murid-murinya, agar senantiasa meningkat amaliyahnya yang akan menghantarkan si murid sampai kepada Alloh SWT. Tidak mungkin seseorang akan sampai kepada Alloh hanya sekedar bermodalkan amal yang sedikit juga jauh dari keikhlasan (penuh dengan rasa cinta). Apalagi diiringi dengan sifat-sifat yang buruk mendominasi hati seseorang, seperti; rasa kebencian, lisan yang tak terjaga, kesombongan, dll. Kesemuanya itu akan menutupi hati kita, oleh karenanya menjadi gelap, sehingga tidak mampu melihat cahaya yang terang benderang dari Tuhan-nya. Sebagaimana Firman Alloh SWT. dalam Surat An Nur ayat 35: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

Terima kasih wahai Guruku Yang Agung, meskipun tertatih-tatih diri ini mengikuti jejak-jejak langkahmu... terkadang merayap, terkadang merangkak, terkadang duduk, terkadang berdiri, terkadang berjalan cepat, berlari kencang, kemudian jatuh kembali (terseok-seok). Ternyata jangankan untuk mengejar, berada di belakangmu saja diri ini tak mampu. Namun aku tetap berharap agar di akui sebagai murid walau sesungguhnya hanya menjadi beban bagimu...

Sampai akhirnya engkau bersabda, "Tak Terkejar Tetapi Tidak Ada Yang Tertinggal, Ikut Saja Bersama Guru Agung". Isro' dan Mi'roj Nabi Muhammad SAW. terjadi disaat orang lain masih tidur. Maka kalau ingin meningkat, "Disaat orang lain sudah tidur, kita masih bangun. Saat orang lain belum bangun kita sudah bangun. Hati ini hanya mencintai Abah Anom, Mata ini hanya melihat Abah Anom, Telinga ini hanya mendengarkan Abah Anom”. Demikianlah ungkapan beliau yang sudah fana fi syeikh, dirinya telah lebur bersama Gurunya Yang Agung. Firman Alloh dalam Al Qur’an Surat Al A’raf ayat 179: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Beruraian air mata ini menyesali kebodohan dan kemalasan. Semoga terbonceng di atas kendaraanmu yang Agung agar sampai ke Hadirot Alloh Azza Wa Jalla, aamiin.

Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa

Rojab 1436 H / Mei 2015
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger