Latest Post

Silaturahmi Ketua DPR RI Agung Laksono ke Abah Anom

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 05 April 2013 | 02.12


KUNJUNGAN KETUA DPR RI

Agung Bersama Abah sesaat setelah tiba di Madrasah
Acara ngobrol santai hingga menjelang Isya

Ketua Dewan Perwakilan rakyat (DPR) HR. Agung Laksono beserta beberapa orang pengurus GOLKAR Tasikmalaya tiba di pondok pesantren Suryalaya malam tadi sekitar pukul 18.30 WIB. Agung disambut Pangersa Abah Anom di Madrasah yang didampingi oleh KH. Zaenal Abidin Anwar, H. Dudun dan H. Baban serta seorang pengurus Yayasan Serba Bakti pusat. Rencananya, Agung akan menghadiri salah satu acara di Universitas Galuh, Ciamis hari ini (26/3). Untuk itu, dia meminta do'a kepada Pangersa Abah Anom untuk keselamatan dan kelancaran tugasnya. Rombongan meninggalkan Suryalaya usai melaksanakan shalat Isya berjamaah.

Silaturahmi Gubernur DKI Sutiyoso ke Abah Anom


KUNJUNGAN GUBERNUR DKI JAKARTA
Sutiyoso; "Suryalaya Potret Islam Rahmatan Lil 'Alamin." 

Kedatangan Bang Yos disambut dengan senyuman Abah
Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Suryalaya, Jumat (11/05). Rombongan tiba pukul 09.15 wib, langsung diterima oleh Sesepuh Pontren Suryalaya, Syaikh Haji Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin, ra. (Abah Anom) yang didampingi keluarga besar Pontren Suryalaya, dan para ustadz/ustadzah, bertempat di madrasah Pontren Suryalaya. Tampak hadir diantara rombongan gubernur itu, artis komedi, Bang Miing, dan sejumlah pejabat teras propinsi DKI Jakarta.
Kata-kata ucapan selamat datang disampaikan, KH. Zaenal Abdin Anwar mewakili Sesepuh. Dalam ucapan selamatnya, Abah menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan atas kunjungan dan silaturrahmi Bapak Gubernur DKI Jakarta. Abah juga berharap, kunjungan Bapak Gubernur ini, menjadi motivasi bagi Pontren Suryalaya untuk lebih meningkatkan perannya dalam pembangunan bangsa dan negara. Sementara Gubernur DKI Jakarta, yang akrab dipanggil Bang Yos, menjelaskan tujuan kunjungan ke Suryalaya. Saya ingin, katanya, melihat secara langsung Pontren Suryalaya. Saya sudah lama mengenal Suryalaya dan berbagai aktivitasnya dari berbagai media, baru sekarang ini dapat berkunjung langsung. Menurut Bang Yos, � Suryalaya adalah potret Islam rahmatan lil �alamin�. Ini bisa kita lihat dari aktivitas yang dilakukan. Pesantren Suryalaya, tambahnya, telah mampu berperan sebagai pesantren yang banyak memberikan manfaat bagi masyarakat secara umum, Kalau Islam di Indonesia demikian adanya, saya yakin, Islam di Indonesia akan mampu menjadi figur Islam di dunia, tuturnya.
Bang Yos berbicara dihadapan keluarga besar Pondok Pesantren Suryalaya diantaranya para pengurus Yayasan Serba Bakti Pusat
Selain itu, Sutiyoso juga menceritakan panjang lebar tentang kerja kerasnya merubah "Kramat Tunggak" menjadi Islamic Center. Saking semangatnya, Sutiyoso salah menyebutkan PSK menjadi PKS. "Pe-Es-Ka. Pekerja Seks Komersial, bukan PKS", kata Miing membetulkan kesalahan tersebut sambil disambut tawa semua yang hadir di Madrasah. Ikhwan dan Akhwat yang sudah berada di Mesjid Nurul Asror untuk melaksanakan shalat Jum'at tidak mau ketinggalan menyalami Gubernur DKI yang sudah dua kali menjabat ini sebelum meninggalkan Suryalaya.

Silaturahmi Menteri Perhubungan Jusman Syafi'i Djamal ke Abah Anom


KUNJUNGAN MENTERI PERHUBUNGAN

Setelah Gubernur DKI Jakarta yang datang Jum'at kemarin (11/4), kini Jusman Syafi�i Djamal, Menteri Perhubungan yang baru diangkat beberapa waktu yang lalu juga datang menemui Pangersa Abah Anom di Madrasah Sabtu (12/4) sekitar pukul 08.30 wib. Jusman turun dari kendaraan dengan nomor polisi RI 26 ditemani oleh Rachmat Gobel. Mereka disambut Pangersa Abah dan H. Baban, sekretaris pribadi beliau. Usai sarapan pagi, Jusman yang baru pertama kali berkunjung ke Suryalaya ini memohon do�a kepada Abah supaya dapat melaksanakan tugas yang baru diembannya tesebut dalam keadaan selamat dan dijauhkan dari malapetaka. �Terutama dari bahaya fitnah�, kata Rahmat Gobel menambahkan.
Menteri Perhubungan yang baru, Jusman Syafi'i Djamal mendengarkan dengan seksama "amalan" yang sedang diberikan oleh Abah
KONTAN TERTAWA; setelah Rahmat Gobel meminta "amalan" kepada Abah supaya bisa menjadi menteri.
Sebelum pamitan, Abah memberikan sebuah �amalan� untuk Jusman yang bisa dibaca setiap saat. Mendengar Abah memberikan amalan untuk Jusman, Rahmat Gobel dengan nada guyon berkata, �Abah, saya juga minta amalan supaya bisa jadi menteri�. Kontan saja semua yang hadir disitu tertawa, dan Abahpun tersenyum.

Silaturahmi Presiden Soeharto ke Abah Anom


KUNJUNGAN PRESIDEN SOEHARTO
KE PONDOK PESANTREN SURYALAYA

Presiden Soeharto berkunjung ke pondok pesantren Suryalaya pada tahun 1995. Tampak Pangersa Abah Anom masih terlihat muda.

Kini mantan Presiden RI ke-2 tersebut telah wafat. Silahkan membaca maklumat Pangersa Abah yang terbaru di menu Tausiyah Sesepuh > Maklumat.

Silaturahmi Gubernur Jawa Barat (Danny Setiawan) ke Abah Anom


KUNJUNGAN GUBERNUR JAWA BARAT

Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan tiba di pondok pesantren Suryalaya Kamis (7/2) pagi sekitar pukul 09.30 WIB. Danny ditemani salah seorang da'i kondang asal Garut, Jujun Junaedi. Beberapa putera Pangersa Abah Anom : H. Dudun, H. Didin, H. Endang dan H. Baban serta Umi menyambut kedatangan rombongan ini, tampak pula KH. Zaenal Abidin Anwar salah seorang Pengemban Amanah Sesepuh. Kedatangan orang nomor 1 di Jawa Barat tersebut tidak menampakkan adanya kesibukan di pesantren, semua terlihat biasa-biasa saja.
H. Baban, Sekretaris Pribadi Abah Anom menyambut kedatangan Gubernur Jawa Barat di depan Madrasah
Selain bersilaturahmi, kunjungan Gubernur ini dimaksudkan untuk meminta do'a dan restu kepada Pangersa Abah sehubungan dengan akan berakhirnya masa jabatan serta keinginannya untuk kembali mencalonkan diri sebagai Gubernur Jawa Barat periode mendatang berpasangan dengan Mayjen TNI (Purn) Iwan Ridwan Sulanjana; mantan Pangdam III Siliwangi yang sudah ditetapkan oleh DPD Partai Golkar Jawa Barat. Usai berdo'a, Gubernur dan rombongan dipersilahkan menikmati sarapan pagi. Di temani KH. Zaenal Abidin Gubernur berbincang-bincang hingga pukul 11.00 WIB. kemudian meninggalkan pesantren.
Bincang-bincang
Do'a bersama
Sarapan pagi

Abah Anom Terima Gelar Polisi Kehormatan


PANGERSA ABAH TERIMA GELAR
POLISI KEHORMATAN

Karena tak kuasa menahan tangis, KAPOLWIL (Kepala Kepolisian Wilayah) Priangan yang baru, Drs. Anton Charliyan, MPKN terlihat menyeka kedua matanya sambil mengamini ketika Pangersa Abah Anom berdo'a untuknya. "Ini Kapolwil Baru, Bah. Mohon dido'akan supaya diberi kelancaran dan keselamatan dalam melaksanakan tugas", kata KH. Zaenal Abidin Anwar. Anton tiba di Suryalaya pukul 10.30 WIB. Sejak pagi, Pangersa Abah sudah duduk di kursinya di Madrasah ditemani Umi untuk menyambut kedatangan tamu-tamu ini. Sementara itu, 2 dari 3 orang Pengemban Amanah Sesepuh, KH. Zaenal Abidin Anwar dan H. Dudun Noor Saiduddin Ar. (Putera tertua Abah) serta Sekretaris Pribadi Abah, H. Baban Ahmad Jihad S.B. Ar. (putera Abah juga) berbincang-bincang dengan beberapa orang pejabat di jajaran Kapolres Tasikmalaya dan Kapolsek Pagerageung yang sudah tiba di Suryalaya sekitar pukul 10.00 WIB.
Usai menyampaikan kata-kata sambutan, KH. Zaenal Abidin Anwar mempersilahkan Kapolwil untuk menyampaikan maksud dan kedatangannya. "Saya hanya ingin bersilaturahmi dan memohon do'a kepada Abah sehubungan dengan tugas saya yang baru", kata Kombes Pol. Drs. Anton Charliyan, memulai sambutannya. Seisi Madrasah dibuatnya tertegun setelah Anton memberitahu bahwa dia adalah asli dari Panumbangan. Panumbangan adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Ciamis yang berjarak hanya beberapa km saja dari Suryalaya. Kedua tempat ini dipisahkan oleh Sungai Citanduy yang membatasi Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis. Melihat kiprah Suryalaya dalam menanggulangi para korban penyalahgunaan Narkotika dan kenakalan remaja, Kapolwil memberikan gelar kehormatan berupa Honorary Police (Polisi Kehormatan) kepada Pangersa Abah. "Mohon maaf, Abah, saya ingin memasangkan topi ini untuk Abah", kata Anton yang tadinya terlihat tidak berani tapi kemudian diizinkan oleh H. Baban, "Silahkan pak, laksanakan, ini tugas Bapak". Selain Abah, Kapolwil juga memberikan Piagam Penghargaan kepada 3 orang Pengemban Amanah Sesepuh dan Sekretaris Pribadi Sesepuh. Dalam piagam penghargaan itu disebutkan bahwa mereka telah berperan serta ikut sebagai pelopor menciptakan situasi Kamtibmas yang kondusif di wilayah Priangan. Sambil istirahat, pesantren menyiapkan jamuan makan siang. Usai melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah, rombongan kemudian meninggalkan Suryalaya.

Silaturahmi Wakil Presiden H. Muhammad Yusuf Kalla ke Abah Anom


KUNJUNGAN KERJA WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KE PONDOK PESANTREN SURYALAYA


Jum'at, 26 Juni 2009. Wakil Presiden Republik Indonesia DR (HC) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla beserta Ibu Mufidah Jusuf berkunjung ke Pondok Pesantren Suryalaya. Sebelumnya, beliau mengunjungi Kampus Latifah Mubarokiyah Pondok Pesantren Suryalaya untuk menyampaikan Kuliah Umum dengan mengambil tema "KEBIJAKAN PENDIDIKAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI". Pada acara kuliah umum tersebut dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa Institut Agama Islam dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Latifah Mubarokiyah Pondok Pesantren Suryalaya serta kurang lebih seribu tamu undangan dari berbagai lapisan masyarakat. Dalam acara tersebut beliau meresmikan pembangunan ruang belajar Gedung Universitas Latifah Mubarokiyah (ULAMA) Pondok Pesantren Suryalaya secara simbolik..
Seusai acara kuliah umum, selanjutnya rombongan RI 2 tersebut menuju Pondok Pesantren Suryalaya untuk bersilaturahmi dengan sesepuh Pondok,Syaikh KH. Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom). Kedatangan beliau disambut langsung oleh Keluarga Besar Pondok Pesantren Suryalaya, putera puteri, cucu, cicit, pengurus YSB Pusat, serta jamaah dan para penduduk di sekitar Pondok Pesantren. Dalam kesempatan ini pula beliau belajar (Talqin) dzikir TQN dari Abah Anom.
Menyampaikan Kuliah Umum
Bersilaturahmi dengan keluarga Besar Pondok Pesantren Suryalaya
Memohon restu dan do'a dari Abah Anom setelah Talqin Dzikir
Sekitar pukul 10.30 WIB rombongan meninggalkan Pondok untuk melanjutkan perjalanan menuju Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, kemudian ke Pondok Pesantren Silalatul Huda di Paseh Tasikmalaya serta ke Pondok Pesantren Cipasung, Singaparna Tasikmalaya.

Silaturahmi Menteri Agama H. Suryadharma Ali ke Abah Anom


KUNJUNGAN MENTERI AGAMA


Jum'at, 24/9/10. Sekitar pukul 17.00 WIB Menteri Agama RI Drs. H. Suryadharma Ali bersama istri berkunjung ke Pondok Pesantren Suryalaya untuk bersilaturahmi dengan Pangersa Abah. Kedatangan beliau langsung diterima oleh Pangera Abah, Umi, dan H. Baban Ahmad Jihad S.B. Ar. selaku sekretaris pribadi Pangersa Abah..
Di sela kesibukannya beliau masih menyempatkan diri untuk datang ke suryalaya dalam rangka kunjungan kerja sekaligus mengucapkan selamat atas Milad Suryalaya yang ke-105 tahun. Pada kesempatan ini pula H. Baban sebagai sekretaris Pondok Pesantren mengundang beliau untuk hadir pada acara puncak milad 105 suryalaya yang akan dilaksanakan pada 10 Oktober mendatang..
Lepas dari pukul 17.30 WIB rombongan kendaraan RI 33 itu meninggalkan Pondok Pesantren untuk kembali ke kediamannya di Jakarta.

Silaturahmi Menteri Pendidikan Nasional Muhammad Nuh ke Abah Anom


KUNJUNGAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL


Setelah hari kemarin, jum'at, 24/9/10, Pondok Pesantren Suryalaya kedatangan Menteri Agama RI, pada hari ini, sabtu, 25/09/10 sekitar pukul 18.15 WIB, Suryalaya kedatangan Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh untuk bersilaturahmi dengan Pangersa Abah. Kedatangan beliau diterima langsung oleh Sekretaris Pribadi Pangersa Abah H. Baban Ahmad Jihad S.B. Ar, dan Salah seorang Pengemban Amanah Pangersa Abah KH. Zaenal Abidin Anwar dan pada kesempatan itu pula beliau langsung bisa bertemu dengan Pangersa Abah..
Sambil ngobrol-ngobrol ringan di madrasah H. Baban sebagai sekretaris Pondok Pesantren Suryalaya mengundang Bapak Menteri untuk bisa hadir pada acara Wisuda Sarjana Latifah Mubarokiyah 7 Oktober mendatang dan pada acara puncak Milad 105 Suryalaya 10 Oktober mendatang..
Selepas shalat Isya, Bapak Menteri belajar dzikir (Talqin Dzikir) untuk sama-sama belajar mengamalkan ajaran TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Setelah talqin dzikir beliau meninggalkan Pondok untuk kembali ke kediamannya di Jakarta.

Putusan Lengkap Komite Etik KPK Soal Kasus Sprindik Anas

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 04 April 2013 | 19.23


Rabu, 03/04/2013 16:50 WIB

Ini Putusan Lengkap Komite Etik KPK Atas Kasus Sprindik Anas

Moksa Hutasoit - detikNews
Jakarta - Komite Etik KPK merampungkan tugasnya. Keputusan ringan hingga berat diambil terkait kasus bocornya konsep Sprindik Anas Urbaningrum. Keputusan itu dibacakan anggota Komite Etik KPK secara bergantian.

"Bahwa telah terbukti terjadi pembocoran dokumen KPK berupa konsep Surat Perintah Penyidikan atas nama Anas Urbaningrum dengan pelaku pembocoran Wiwin Suwandi yang wewenang untuk memeriksa dan menjatuhkan sanksinya berada di tangan Majelis Dewan Pertimbangan Pegawai KPK," jelas Ketua Komite Etik Anies Baswedan dalam jumpa pers di KPK, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Rabu (3/4/2013).

Seperti dikutip dari KPK.go.id, berikut kesimpulan dan amar putusan Komite Etik yang bertugas selama 1 bulan:

Kesimpulan

[4.1] Bahwa telah terbukti terjadi pembocoran dokumen KPK berupa konsep Surat Perintah Penyidikan atas nama Anas Urbaningrum dengan pelaku pembocoran Wiwin Suwandi yang wewenang untuk memeriksa dan menjatuhkan sanksinya berada di tangan Majelis Dewan Pertimbangan Pegawai
KPK;

[4.2] Bahwa Terperiksa I Abraham Samad tidak terbukti secara langsung membocorkan Dokumen Sprin Dik, tetapi perbuatan dan sikap Terperiksa I Abraham Samad yang tidak sesuai dengan Kode Etik Pimpinan KPK dalam berkomunikasi dan dalam memimpin, menciptakan situasi dan kondisi terjadinya kebocoran Sprin Dik dan informasi mengenai status Anas Urbaningrum sebagai tersangka; dan oleh karenanya harus dijatuhi sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya.

[4.3] Bahwa Terperiksa II Adnan Pandu Praja tidak terbukti telah ikut melakukan pembocoran Dokumen KPK yang berupa Sprin Dik Anas Urbaningrum, akan tetapi Terperiksa II Adnan pandu Praja terbukti telah melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan ketentuan Kode Etik Pimpinan KPK dan oleh karenanya harus dijatuhi sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya;

[4.4] Bahwa Komite Etik menemukan berbagai masalah yang perlu mendapat perhatian dan demi perbaikan internal KPK, Komite Etik perlu menyampaikan beberapa Rekomendasi yang harus ditindaklanjuti oleh Pimpinan KPK sebagai berikut:

Petikan Putusan Komite Etik:

1. Komite Etik merekomendasikan agar Nilai-Nilai Dasar Pribadi Pimpinan yang tercermin dan diwujudkan dalam bentuk sikap, pandangan, ucapan, tindakan dan perilaku Pimpinan KPK yang sekarang sedang disempurnakan KPK harus segera dilaksanakan dalam waktu selambatnya 3 (tiga) bulan sejak rekomendasi ini ditetapkan. Direkomendasikan juga proses reinternalisasi atas etik dan perilaku itu dilakukan secara berkala dan bersinambungan.

2. Komite Etik merekomendasikan agar segera diimplementasikan hal-hal yang ditujukan untuk menjamin zero tolerance perwujudan nilai dasar, kode etik dan perilaku, yaitu:
a. Pelaksanaan Sistem Manajemen Keamanan Informasi,
b. Penguatan Pengawas Internal untuk melakukan pengawasan pelaksanaan SOP, kode etik dan peraturan kepegawaian, dan
c. Kode etik perlu mengadopsi prinsip pemberian sanksi yang lebih berat atas
pengulangan pelanggaran kode etik dan kode perilaku.

3. Komite Etik merekomendasikan agar Pimpinan KPK meniadakan privasinya dan menyadari bahwa seluruh sikap dan tindakannya bukan sebagai hanya sekedar sebagai seorang pribadi tetapi selalu melekat dalam kapasitasnya sebagai Pimpinan KPK. Oleh karena itu semua fasilitas dan kepemilikan pribadi yang digunakan dalam pekerjaan dan jabatan Pimpinan KPK (seperti : alat komunikasi, komputer, dan alat transportasi) diperlakukan sebagai fasilitas
lembaga dan bersifat aksesibel untuk kepentingan Pengawasan Internal. Termasuk, Peraturan Komisi yang mengizinkan Pimpinan untuk membawa atau mengajukan seseorang yang bukan berasal dari pegawai KPK untuk menjadi sekretaris, ajudan atau supir atau jabatan lain yang berhubungan langsung dengan pekerjaannya sebagai Pimpinan agar ditinjau kembali.

[4.5] Bahwa Komite Etik meminta kepada seluruh Pimpinan, Penasihat, dan Pegawai KPK untuk mengawal dan memastikan rekomendasi ini dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Amar Putusan:

Dengan mengingat dan memperhatikan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, Kode Etik Pimpinan KPK, dan Hukum Acara Pemeriksaan Komite Etik KPK, Komite Etik KPK menjatuhkan Putusan yang bersifat final dan mengikat sebagai berikut:
[5.1] Menyatakan Terperiksa I Abraham Samad melakukan pelanggaran sedang terhadap Pasal 4 huruf b dan d, Pasal 6 ayat (1) huruf b, huruf e, huruf r dan huruf v Kode Etik Pimpinan KPK dan oleh karena itu menjatuhkan Sanksi berupa 'PERINGATAN TERTULIS' yaitu Terperiksa I Abraham Samad harus memperbaiki sikap, tindakan dan perilaku:

a. memegang teguh prinsip keterbukaan, kebersamaan,
b. perilaku yang bermartabat dan berintegritas,
c. mampu membedakan hubungan yang bersifat pribadi dan professional, serta
d. menjaga ketertiban dalam berkomunikasi dan kerahasiaan KPK.

[5.2] Menyatakan Terperiksa II Adnan Pandu Praja melakukan pelanggaran ringan terhadap Pasal 6 ayat (1) huruf e Kode Etik Pimpinan KPK dan oleh karena itu menjatuhkan sanksi berupa 'PERINGATAN LISAN'

[5.3] Memerintahkan kepada Pimpinan KPK untuk melaksanakan Putusan ini. Demikianlah diputuskan dalam Sidang Komite Etik KPK yang terbuka untuk umum pada hari Selasa tanggal 2 April 2013 oleh lima orang Anggota Komite Etik KPK, masing-masing Anies Baswedan sebagai Ketua merangkap Anggota, Tumpak H. Panggabean sebagai Wakil Ketua merangkap Anggota, Abdul Mukthie Fadjar, Bambang Widjojanto, dan Abdullah Hehamahua sebagai Anggota, serta didamping oleh Lilyani Harsulistyati sebagai Sekretaris dengan kehadiran para Terperiksa. 

(mok/ndr)

Pernyataan Lengkap Tim Investigasi TNI AD Soal Kasus LP Cebongan


VIDEO: Pernyataan Lengkap TNI Soal Oknum Kopassus Serbu Lapas

11 anggota Kopassus mengaku menembak mati 4 tahanan Lapas Cebongan.

ddd
Jum'at, 5 April 2013, 07:33Anggi Kusumadewi
Ketua Tim Investigasi TNI AD, Brigjen TNI (CM) Unggul K. Yudhoyono.
Ketua Tim Investigasi TNI AD, Brigjen TNI (CM) Unggul K. Yudhoyono.(ANTARA/M Agung Rajasa)
VIVAnews – Markas Besar TNI Angkatan Darat mengumumkan, pelaku penyerbuan Lembaga Pemasyarakatan Cebongan di Sleman, DIY, adalah benar 11 oknum Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Penyerangan dan pembunuhan terhadap 4 tahanan di dalam Lapas dilakukan setelah para pelaku mendengar salah satu anggota Kopassus, Serka Heru Santosa, dikeroyok dan dibunuh secara brutal oleh keempat preman itu.

Lihat pernyataan resmi TNI soal penyerangan Lapas Sleman oleh oknum Kopassus itu di tautan video ini.

Berikut teks pernyataan lengkapnya:

Saya, Unggul K. Yudhoyono, Ketua Tim Investigasi TNI AD, pada kesempatan ini akan menyampaikan hasil tim investigasi yang dibentuk oleh KSAD dan dipimpin langsung oleh saya. Sebelum saya menyampaikan hasil investigasi, perlu saya sampaikan bahwa pelaksanaan investigasi, alhamdulillah berjalan lancar dan dapat menetapkan kesimpulan awal dalam masa kerja enam hari, karena semua proses dilandasi oleh kejujuran dan keterbukaan pelaku.

Menjadi catatan khusus bahwa para pelaku secara kesatria telah mengakui perbuatannya sejak hari pertama penyelidikan, Minggu 31 Maret 2013. Adapun hasil-hasil investigasi yang kami peroleh:

Pertama, bahwa secara kesatria dan dilandasi kejujuran yang tinggi serta tanggung jawab, serangan ke Lapas pada Sabtu, 23 Maret 2013, pukul 00.15 WIB, diakui dilakukan oleh oknum anggota TNI AD Grup Dua Kopassus Kartosuro, yang mengakibatkan terbunuhnya 4 tahanan preman, yaitu pelaku pembunuhan atas nama Serka Heru Santoso, dan pembacokan terhadap mantan anggota Kopassus Sertu Sriyono oleh kelompok yang sama.

Kedua, peristiwa penyerangan ke Lapas Cebongan tersebut benar sebagai akibat pembunuhan yang dilakukan kelompok preman terhadap Serka Heru Santoso, Selasa 19 Maret 2013, dan pembacokan terhadap Sertu Sriyono yang salah satunya mantan anggota Kopassus. Penyerangan tersebut bermotif tindakan reaktif karena kuatnya jiwa korps dan membela kehormatan kesatuan.

Ketiga, serangan melibatkan 11 orang, terdiri dari 1 orang eksekutor berinisial U, 8 orang pendukung yang menggunakan dua unit kendaran Avanza biru dan Suzuki APV hitam, serta 2 orang menggunakan kendaraan Daihatsu Feroza yang berusaha mencegah tindakan rekan-rekannya tersebut. Dari 11 orang ini, 3 di antaranya berasal dari daerah latihan Gunung Lawu.

Empat, serangan tersebut menggunakan 6 pucuk senjata yang terdiri dari 3 pucuk jenis AK-47, dua pucuk AK-47 replika yang dibawa dari daerah latihan, dan 1 pucuk pistol Sig Sauer replika.

Lima, penyerangan tersebut merupakan tindakan seketika yang dilatari jiwa korps dan membela kehormatan kesatuan setelah mendapat berita pembunuhan sadis, brutal, oleh kelompok preman terhadap anggota Kopassus, jabatan bintara pleton, atasan langsung pelaku yang juga pernah berjasa menyelamatkan jiwa pelaku saat melaksanakan operasi. Juga dilatarbelakangi oleh pembacokan Sertu Sriyono yang merupakan rekan pelaku saat latihan komando.

Keenam, dilatarbelakangi jiwa korps yang kuat, roh militer. Namun penerapan tersebut adalah penerapan jiwa yang tidak tepat.

Ketujuh, pelaku menyatakan dengan penuh kesadaran siap mempertanggungjawabkan apapun risiko atas dasar kehormatan prajurit kesatria.

Kedelapan, atas dasar investigasi, proses hukum selanjutnya akan dilaksanakan pusat Polisi Militer Angkatan Darat (Puspom AD).

Kunjungan Al Syaikh Hashimuddin Al-Gaylani

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 02 April 2013 | 06.18


AL-SHEIKH HASHIMUDDIN AL-GAYLANI BERKUNJUNG
KE PONDOK PESANTREN SURYALAYA 


Al-Sheikh Hashimuddin Al-Gaylani dan H. Dahlan Iskan diterima oleh Pengemban Amanah Sesepuh Pontren Suryalaya
Al-Sheikh Hashimuddin Al-Gaylani dan H. Dahlan Iskan berziarah ke makam Abah Sepuh dan Abah Anom


Suryalaya, (12/10/2012) Al-Sheikh Hashimuddin Al-Gaylani itulah nama lengkap beliau yang merupakan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Beliau datang ke Indonesia khususnya ke Pondok Pesantren Suryalaya ini dengan tujuan ingin bersilaturahmi dengan Keluarga Besar Pondok Pesantren Suryalaya, setelah sebelumnya berkunjung ke TQN Centre pimpinan KH. Wahfiudin, MBA., yang juga sebagai Wakil Talqin TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Tentunya tak ada seorang pun yang menyangka kedatangan beliau ke Indonesia ini tiada lain semuanya itu atas kehendak Allah Swt yang telah mengatur segalanya. Bersamaan dengan hal tersebut, H. Dahlan Iskan yang sekarang ini menjabat sebagai Menteri BUMN juga berkunjung ke Pondok Pesantren Suryalaya.


Al-Sheikh Hashimuddin Al-Gaylani tiba di Pondok Pesantren Suryalaya pada pukul 03.00 WIB yang langsung disambut oleh Keluarga Besar Pondok Pesantren Suryalaya sekaligus dipersilahkannya masuk ke Madrasah untuk beristirahat sejenak mengingat perjalanan yang jauh ditempuhnya.

Sekitar pukul 09.00 WIB Al-Sheikh Hashimuddin Al-Gaylani beserta rombongan yang didampingi oleh H. Dahlan Iskan menyempatkan untuk berziarah ke makam Abah Sepuh dan Abah Anom, kemudian rombongan langsung menuju ke Kampus Latifah Mubarokiyah tepatnya di Gedung Sukriya Bakti untuk mengisi Kuliah Umum (Studium General) yang dihadiri kurang lebih 2000 orang terdiri dari Dosen-dosen beserta Mahasiswa/I Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Latifah Mubarokiyah (STEILM) Pondok Pesantren Suryalaya, Seluruh Komponen Lembaga Pendidikan Formal yang ada di lingkungan Pontren Suryalaya seperti MTs, MA, SMPI, SMA dan SMK Plus YSB Pondok Pesantren Suryalaya, Wakil Talqin TQN Pontren Suryalaya beserta para tamu undangan lainnya.


Al-Sheikh Hashimuddin Al-Gaylani dan H. Dahlan Iskan memberikan kuliah umum (Studium General) di Kampus Latifa Mubarokiyah Pontren Suryalaya


Kuliah Umum kali ini tentunya menarik perhatian banyak orang khususnya mereka yang hadir dan mengikuti kuliah umum tersebut, karena pematerinya berasal dari Baghdad yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Syekh Hashim, demikianlah nama sapaannya, beliau ke Pondok Pesantren Suryalaya ini tidak di undang, melalui perantara H. Dahlan Iskan inilah beliau datang ke Pondok Pesantren Suryalaya. ini berawal dari H. Dahlan Iskan yang sempat melaksanakan Idul Fitrinya .di Baghdad, disana beliau bertemu dengan Syekh Hashim, ketika sedang berbincang-bincang dengan Syekh Hashim dalam benak beliau terbayang nama Suryalaya, yang akhirnya beliau berinisiatif untuk mengundang Syekh Hashim untuk mengunjungi beberapa tempat yang ada di Indonesia diantaranya ke Pondok Pesantren Suryalaya, karena Pondok Pesantren Suryalaya ini sebagai pusat pengamal Tarekat Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) dan akhirnya jadwal kunjungan pun ditentukan dengan secepatnya. “katanya”.

Pemateri selanjutnya di isi oleh Al-Sheikh Hashimuddin Al-Gaylani, berhubung beliau berbicaranya memakai Bahasa Inggris karena tidak semua yang hadir di Gedung Sukriya Bakti ini bisa mengerti bahasa yang di ucapkan oleh beliau, akhirnya H. Dahlan Iskan-lah yang menterjemahkan pembicaraan yang di sampaikan oleh Syekh Hashim tersebut.

Setelah mengisi kuliah umum, beliau langsung menuju ke Madrasah untuk bersiap-siap melaksanakan shalat jumat di Mesjid Nurul Asror, selama itu pula beliau mengikuti dzikir bersama-sama dengan Ikhwan/Akhwat lainnya.

Sumber : 

Tanbih dari Syaikhuna Alm. Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad

Tanbih
Tanbih ini dari Syaekhuna Almarhum Syaikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad yang bersemayam di Patapan Suryalaya Kajembaran Rahmaniyah.
Sabda beliau kepada khususnya segenap murid-murid pria maupun wanita, tua maupun muda :
“Semoga ada dalam kebahagiaan, dikaruniai Allah Subhanahu Wata’ala kebahagiaan yang kekal dan abadi dan semoga tak akan timbul keretakan dalam lingkungan kita sekalian.
Pun pula semoga Pimpinan Negara bertambah kemuliaan dan keagungannya supaya dapat melindungi dan membimbing seluruh rakyat dalam keadaan aman, adil dan makmur dhohir maupun bathin.
Pun kami tempat orang bertanya tentang Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, menghaturkan dengan tulus ikhlas wasiat kepada segenap murid-murid : berhati-hatilah dalam segala hal jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan agama maupun negara.
Ta’atilah kedua-duanya tadi sepantasnya, demikianlah sikap manusia yang tetap dalam keimanan, tegasnya dapat mewujudkan kerelaan terhadap Hadlirat Illahi Robbi yang membuktikan perintah dalam agama maupun negara.

Insyafilah hai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan setan, waspadalah akan jalan penyelewengan terhadap perintah agama maupun negara, agar dapat meneliti diri, kalau kalau tertarik oleh bisikan iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita.

Lebih baik buktikan kebajikan yang timbul dari kesucian :
  1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik dlohir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun dan saling menghargai.
  2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya, jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati, bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama maupun negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaan, kalau-kalau kita terkena firman-Nya “Adzabun Alim”, yang berarti duka-nestapa untuk selama-lamanya dari dunia sampai dengan akhirat (badan payah hati susah).
  3. Terhadap oarang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah hendak menghinakannya atau berbuat tidak senonoh, bersikap angkuh, sebaliknya harus belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya, jangan sampai merasa takut dan liar, bagaikan tersayat hatinya, sebaliknya harus dituntun dibimbing dengan nasehat yahng lemah-lembut yang akan memberi keinsyafan dalam menginjak jalan kebaikan.
  4. Terhadap fakir-miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa hati kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan, oleh karena itu janganlah acuh tak acuh, hanya diri sendirilah yang senang, karena mereka jadi fakir-miskin itu bukannya kehendak sendiri, namun itulah kodrat Tuhan.
Demikanlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran, meskipun terhadap orang-orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam a. s. mengingat ayat 70 Surat Irso yang artinya :
“Sangat kami mulyakan keturunan Adam dan kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga kami mengutamakan mereka lebih utama dai makhluk lainnya.”
Kesimpulan dari ayat ini, bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat Surat Al-Maidah yang artinya :
“Hendaklah tolong menolong dengan sesama dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan dengan sungguh-sungguh terhadap agama maupun negara, sebaliknya janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah agama maupun negara".
Adapun soal keagamaan, itu terserah agamanya masing-masing, mengingat Surat Al-Kafirun ayat 6 :”Agamamu untuk kamu, agamaku untuk aku”,
Maksudnya jangan terjadi perselisihan, wajiblah kita hidup rukun dan damai, saling harga menghargai, tetapi janganlah sekali-kali ikut campur.
Cobalah renungakan pepatah leluhur kita:
“ Hendaklah kita bersikap budiman, tertib dan damai, andaikan tidak demikian, pasti sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna”. Karena yang menyebabkan penderitaan diri pribadi itu adalah akibat dari amal perbuatan diri sendiri.
Dalam surat An-Nahli ayat 112 diterangkan bahwa :
“Tuhan yang Maha Esa telah memberikan contoh, yakni tempat maupun kampung, desa maupun negara yang dahulunya aman dan tenteram, gemah ripah loh jinawi, namun penduduknya/ penghuninya mengingkari nikmat-nikmat Allah, maka lalu berkecamuklah bencana kelaparan, penderitaan dan ketakutan yang disebabkan sikap dan perbuatan mereka sendiri”.
Oleh karena demikian, hendaklah segenap murid-murid bertindak teliti dalam segala jalan yang ditempuh, guna kebaikan dlohir-bathin, dunia maupun akhirat, supaya hati tenteram, jasad nyaman, jangan sekali-kali timbul persengketaan, tidak lain tujuannya “ Budi Utama-Jasmani Sempurna “ (Cageur-Bageur).
Tiada lain amalan kita, Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah, amalkan sebaik-baiknya guna mencapai segala kebaikan, menjauhi segala kejahatan dhohir bathin yang bertalian dengan jasmani maupun rohani, yang selalu diselimuti bujukan nafsu, digoda oleh perdaya syetan.
Wasiat ini harus dilaksanakan dengan seksama oleh segenap murid-murid agar supaya mencapai keselamatan dunia dan akhirat.
Amin.
Patapan Suryalaya, 13 Pebruari 1956
Wasiat ini disampaikan kepada sekalian ikhwan

(KH.A Shohibulwafa Tadjul Arifin)

Apa itu Manaqib?

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Sabtu, 30 Maret 2013 | 07.04

Manaqib
Manaqib adalah suatu bentuk kegiatan khidmat amaliah dan ilmiah, dan sudah melembaga dan membudaya di tengah sebagian besar masyarakat Islam Indonesia. Terutama sekali di kalangan ikhwan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya. Kegiatan khidmat itu merupakan bagian pengamalan dan pengenjawantahan dari Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah. Pelaksanaannya secara rutin sesuai dengan jadwal waktu yang telah ditentukan bertempat di majlis-majlis manakiban dan khotaman.
Manaqib itu sendiri berasal dari bahasa Arab, dari lafad “manqobah” yang berarti : kisah tentang kesolehan dan keutamaan ilmu dan amal seseorang.

Suasana Manaqib di Pondok Pesantren Suryalaya Tempo Dulu
Syaikh Abdul Qodir Jaelani pernah berkata : "Dimana saja dibacakan manaqib-ku aku hadir padanya". Oleh karena itu pada waktu pelaksanaannya para ikhwan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya harus hadir untuk mengikuti jalannya kegiatan tersebut.

Susunan acara manakiban sebagai berikut :
1. Pembukaan
2. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an
3. Pembacaan Tanbih
4. Tawasul
5. Pembacaan Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jaelani
6. Da’wah/Tabliqul Islam oleh Mubaligh Pondok Pesantren Suryalaya
7. Pembacaan Sholawat Bani Hasyim 3 (tiga) kali


Silahturahmi dengan Abah Anom

Demikianlah pelaksanaan manaqib, yang dapat menciptakan dan mewujudkan kondisi dinamis, serta tata nilai yang berharga, untuk itulah perlu adanya usaha yang sungguh-sungguh dan terus menerus dikembangkan dan dilestrarikan dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. 


Tampak ikhwan sedang menikmati makan malam
yang disediakan oleh Pondok Pesantren Suryalaya


Ikhwan yg datang pada saat Manaqib, datang dari berbagai daerah di Indonesia
Sumber : http://www.suryalaya.org/ver2/manakib.html

Makhluk Misterius di Hutan Sumatera


SOROT 233

“Orang Pendek” Sumatera: Manusia atau Kera?

Banyak saksi melihatnya di hutan Sumatera. DNA mirip manusia?
Jum'at, 29 Maret 2013, 20:21 WIB
Arfi Bambani Amri, Amal Nur Ngazis, Tommy Adi Wibowo, Eri Naldi (Padang), AAN (Lampung), Arjuna Nusantara (Padang), Ramond EPU (Jambi)
Penampilan “orang-orang pendek” itu seperti manusia purba. (Ant Wallis/Centre for Fortean Zoology)

VIVAnews--Hampir setiap hari para polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, berjalan kaki menyusuri hutan perawan di wilayah seluas 125 ribu hektar. Itu tugas rutin, berpatroli mengawasi tiga area besar taman konservasi, Way Kanan, Way Bungur, dan Kuala Penet.  Setiap area itu dibagi lagi menjadi empat resor.
Mereka menjaga taman nasional dari pembalakan liar, atau perburuan liar. Hutan di Way Kambas adalah tempat konservasi badak, harimau sumatera, dan juga gajah. Di sana bahkan ada sekolah gajah pertama di Indonesia.

Sekali patroli, para polisi hutan itu bisa berjalan kaki selama dua pekan, atau bahkan sebulan. “Mereka membawa makanan, dan juga tenda”, ujar juru bicara Taman Nasional Way Kambas, Sukatmoko kepada VIVAnews.   

Tapi satu regu patroli di resor Rawa Bunder, Way Kanan, menemukan hal mengejutkan pada Ahad, 17 Maret 2013 lalu. Di petang hari itu, di saat tubuh mulai lelah, tujuh polisi hutan terperangah: ada sekelompok makhluk mirip manusia namun ukurannya lebih kecil melintas di rawa.

Mereka sontak terkesiap. Para polisi hutan dan kelompok “orang pendek” itu berhadap-hadapan dengan jarak sekitar 30 meter.  Kaget, dan tak menyangka bersua makhluk aneh, para polisi hutan itu terpacak diam. Hening. Sekejap kemudian, gerombolan “orang pendek” itu berlari masuk ke dalam rimbun hutan. Hilang.

Barulah para polisi hutan sadar, seharusnya mereka mengabadikan gambar “orang-orang pendek” itu. Mereka hanya bisa mengingat “orang-orang pendek” itu bertelanjang, sebagian memegang kayu berbentuk tombak, dan bahkan ada yang menggendong bayi. Diduga saat itu, mereka sedang mencari ikan atau mencari air minum.

Penasaran dengan apa yang mereka lihat, tiga hari kemudian, grup itu kembali berpatroli di tempat sama. Tim sengaja memilih waktu persis saat mereka bertemu makhluk aneh, menjelang malam. Dan betul, “orang-orang pendek” yang dihitung lebih dari sepuluh orang itu terlihat lagi. “Suasana dan lokasinya sama saat petugas patroli melihat yang pertama dan yang kedua,” kata Sukatmoko. Namun, lagi-lagi, polisi kalah cepat memotret mereka.

Dari penampakan kedua ini, tim memastikan, penampilan “orang-orang pendek” itu seperti manusia purba. “Mereka tidak memakai baju, berambut gimbal panjang dan memegang tombak kayu panjang. Tidak bisa juga dibedakan yang masih dewasa atau anak-anak, namun petugas kami melihat ada di antaranya seperti yang perempuan sedang menggendong bayi,” Sukatmoko menambahkan.

Hari itu juga, polisi hutan Taman Nasional memasang 15 kamera pengintai bersensor inframerah di sekitar lokasi itu. Kamera ini biasa digunakan untuk menangkap gambar aktifitas satwa liar, dan bisa menangkap objek bergerak yang melewatinya baik siang maupun malam.

“Nanti kalau sudah ada bukti secara visual kami baru bisa bicara. Karena selama ini kami hanya mengandalkan bukti penglihatan mata petugas, maka kami saja belum berani melaporkannya ke kementerian kehutanan secara resmi,” kata Sukatmoko.

Ini sebetulnya bukan kali pertama “orang-orang pendek” itu terlihat. Pada 1995, satu regu pendaki di Gunung Singgalang pernah bersua dengan makhluk serupa yang dilihat para polisi hutan di Way Kambas.  Denni, seorang anggota pendaki itu, menghubungi VIVAnews setelah berita temuan “orang-orang pendek” itu dimuat di media. “Saya pernah melihat ‘orang pendek’”, ujarnya.

Dia berkisah, pada suatu pagi,  dia mendaki gunung setinggi 2.887 meter itu. Sekitar pinggang gunung, di sebuah kawasan yang agak datar, tiba-tiba Denni dan temannya kaget campur takjub melihat sepasang makhluk seperti monyet tapi berjalan dengan dua kaki. Tangannya mengayun khas seperti manusia. “Bulunya berwarna emas, berjalan tegak, berpegangan tangan,” kata Denni. Denni dan temannya berhenti berjalan, lalu mengamati.

Tinggi makhluk tak berekor itu sepinggangnya atau kira-kira 1 meter. Sepasang makhluk itu berjalan kira-kira 30 meter di dekat mereka berdua. Semua badannya berbulu, kecuali mukanya. Bulu di kepalanya sedikit lebih panjang. “Mukanya agak rata,” kata Denni.

Meski perawakan seperti manusia, namun bulu tipis di sekujur badannya membuatnya tampak lebih seperti monyet daripada manusia, kata Denni.

Karena tak pernah melihat makhluk macam itu sebelumnya, Denni yang menenteng kamera saku pun bergerak cepat hendak memotret. Namun seperti tahu mau dipotret, kedua makhluk itu bergerak lebih cepat, menghilang di balik rimbun pepohonan. Dia gagal mengambil gambar dari temuan langka itu.

“Orang Pendek” Kerinci

Tapi Deborah Martyr, perempuan peneliti asal Inggris yang beberapa kali menyaksikan ”orang pendek” di Taman Nasional Kerinci Seblat, meragukan makhluk yang dilihat polisi hutan di Way Kambas adalah “orang pendek” yang sama.

Debbie, begitu panggilan perempuan itu, menyatakan “orang-orang pendek” yang dilihatnya di sejumlah hutan di Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat umumnya soliter, tidak bergerombol lebih dari tiga orang.

“Saat melihat ‘orang pendek’, dia hanya sendiri. Tidak pernah saya melihat mereka berkelompok hingga belasan,” kata Pemimpin Tim Fauna & Flora International's Tiger Protection & Conservation Units di Sumatera itu. (Baca juga bagian 4—Wawancara Debbie Martyr)

Perkenalan Debbie dengan “orang pendek” dimulai dari tahun 1989, ketika dia saat itu bekerja sebagai jurnalis sebuah media di Inggris, dan berlibur ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi yakni Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Saat itu, Debbie mendengar kisah Orang Pendek. Dia pun penasaran. Namun baru tahun 1994, Debbie bersama Jeremy Holden dari Fauna dan Flora International-IP dan Achmad Yanuar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menggelar Project Orang Pendek.

“Awalnya saya juga beranggapan sama, itu hanya mitos. Namun setelah melihat, saya yakin itu bukan mitos,” katanya saat diwawancara jurnalis VIVAnews, Eri Naldi dan Arjuna Nusantara, di kediamannya di Sungai Penuh, Jambi, Rabu 27 Maret 2013.

Debbie pertama kali melihat “orang pendek” tahun 1994 di kawasan Gunung Tujuh dan kemudian di Gunung Kerinci, masih di Taman Nasional Kerinci Seblat. Tahun 1995, saat memasuki bagian Sumatera Barat dari taman nasional itu, di Solok Selatan, kembali Debbie melihat makhluk soliter ini. Tahun itu juga dia kembali menyaksikan makhluk itu di hutan lindung di perbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara. Terakhir, pada 1996, Debbie melihatnya lagi di sebuah hutan produksi di Mukomuko, Bengkulu, dan di Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Namun tak satu pun yang berhasil dipotretnya. Padahal mereka sudah memakai kamera pengintai paling canggih yang biasa memotret harimau sumatera. Alhasil, tim penelitian ini lebih banyak mengandalkan penelitian berdasarkan pandangan mata saksi, termasuk mereka sendiri.

 “Badannya agak besar, tinggi sekitar 130 cm. Warna kulitnya madu tua, bulu di kepala sedikit tebal. Perawakan wajahnya hampir sama dengan orangutan tapi tidak mirip dengan manusia,” kata Debbie menceritakan ciri-cirinya, mirip seperti yang dilihat Denni di Gunung Singgalang.

Yanuar yang meraih gelar master dari Universitas Cambridge, Inggris, atas penelitian primata di Kerinci ini juga mengalami hal yang sama, hanya bisa melihat namun tak bisa mengabadikan gambar “orang pendek” ini. Bahkan Yanuar lebih dulu melihat “orang pendek” ini daripada Debbie. Kali pertama, seperti diungkapkannya dalam sebuah laporan terkait Project Orang Pendek, adalah di Provinsi Lampung di tahun 1993.

 “Jelas sekali berjalan dengan dua kaki, memperlihatkan ayunan tangannya,” kata Yanuar. “Warna (bulu)nya coklat agak keemasan.”

Meski tak mendapatkan gambar meyakinkan, Project Orang Pendek ini berhasil mengumpulkan spesimen rambut, feses, jejak telapak kakinya, serta bentuk pemukimannya. Rambutnya kemudian ada yang dikirim ke Inggris untuk diekstrak DNA-nya. Jejak kaki juga dicetak, memperlihatkan lekuk seperti telapak kaki manusia, namun lebih pendek, lebih lebar dan jempolnya agak besar dan mencelat.

“Jempol menonjol keluar dan beban sepertinya dibagi rata untuk menghasilkan kombinasi kera besar dan manusia. Saya mencatat beberapa persamaan, berdasarkan bentuk kaki,” Yanuar menulis di laporan riset.

Satu kali, dalam riset lapangan, tim sempat mendapatkan feses segar “orang pendek”. Baunya seperti feses manusia. Analisis atas feses ini, disimpulkan orang pendek itu adalah omnivora meski lebih banyak memakan sayur, buah-buahan dan akar-akaran. Orang pendek juga memangsa serangga seperti ulat pohon dan larva. “Tapi sepertinya dia tidak makan cabai,” kata Debbie lalu tertawa.

Kemudian tim juga mengumpulkan hasil wawancara dengan penduduk yang pernah bertemu makhluk itu. Narasumber ini macam-macam pekerjaannya, 57 persen petani, 18 persen pemburu atau pengumpul gaharu, 14 persen pegawai pemerintah, 4 persen ahli kehutanan dan lainnya sekitar 8 persen.

Ada variasi penampakan “orang pendek” di mata narasumber riset. Ada yang melihatnya berjalan dengan empat kaki, tapi umumnya dua kaki. Tapi semuanya konsisten melihat makhluk ini berjalan di atas tanah, tak ada yang melayang dari pohon ke pohon seperti dilakukan kera, beruk atau orangutan.

Sementara warna bulu di badannya, umumnya berwarna coklat meski ada sedikit yang melihatnya kemerahan atau keemasan. Bulu di kepala lebih panjang dan tebal, sementara di bagian dada dan perut lebih tipis sehingga memperlihatkan warna kulit mereka.

Umumnya mereka ditemui sedang berjalan, kemudian makan, dan sedikit yang bertemu sedang berbaring. Sementara tinggi badan, ada yang melihat di bawah 1 meter, namun ada yang sampai 130 sentimeter. (Lihat Bagian 2—Infografik)

Narasumber ini tersebar di sepanjang Bukit Barisan dari utara Sumatera Barat sampai ke selatan Bengkulu, baik dari dataran rendah sampai pegunungan di atas 1.000 meter di atas permukaan laut. Penamaannya pun beragam.

Di Sumatera Barat, “orang pendek” itu juga dikenal sebagai Si Bigau. Di Jambi sendiri, selain disebut Uhang Pandak (dialek lain dari ‘Orang Pendek’), juga disebut Antu Pandak dan Si Gugu.

William Marsden, yang menghabiskan masa mudanya di Sumatera antara tahun 1754 sampai 1836, sudah menyinggung soal Si Gugu ini dalam bukunya berjudul “History of Sumatra”. Dalam buku edisi tahun 1811, Marsden yang juga dari Inggris menceritakan bahwa di antara Palembang dan Jambi, ada dua suku yang hidup di hutan yakni suku Kubu dan Gugu. Gugu, dijelaskan Marsden, kecil dan berbulu di sekujur tubuhnya.

Seorang warga Sungai Penuh, Kerinci, Iskandar Zakaria, adalah salah satu warga yang percaya dengan keberadaan Orang Pendek. Di tahun 1990-an akhir, Iskandar yang kini berusia 71 tahun melihat betul Orang Pendek. Saat itu, Iskandar memang sengaja menjelajah hutan di kaki Kerinci dengan niat mencari makhluk legenda itu.

Di hari ketiga pencariannya, menjelang Subuh, Iskandar yang saat itu mau buang air besar di pinggir sungai di sebuah perkebunan melihat yang dicari-carinya. Orang Pendek terlihat turun dari bukit menuju sungai. "Saya terkejut dan hanya bisa diam saja. Karena, Uhang Pandak itu berjalan tepat di hadapan saya. Pada saat itu jaraknya hanya sekitar dua atau tiga meter saja dari saya," katanya.
  
"Pada saat melintas di depan saya, Uhang Pandak ini melirik saya. Kejadian itu cepat sekali. Karena, setelah melintas di hadapan saya, Uhang Pandak hilang ke dalam hutan lagi," katanya.
  
Dari pengamatan itulah, Iskandar menyatakan, wajah Orang Pendek sama sekali tidak menyerupai manusia. Sekujur tubuh mahluk dengan ketinggian sekitar 80 sentimeter ini ditutupi bulu seperti orangutan. Dan satu hal lagi, dia berjalan dengan telapak kaki ke depan, bukan terbalik seperti selama ini menjadi mitos di masyarakat

"Tempat tinggal Uhang Pandak ini semak rimbun. Makanannya kulit kayu yang ada di hutan. Karena, dari yang saya temui di sekitar tempat tinggal Uhang Pandak ini banyak bekas kupasan kulit kayu," katanya.

Kera atau Orang?

“Mereka tergolong primata, bukan manusia,” kata Debbie yakin, saat ditanya soal klasifikasi “Orang Pendek” ini. Orang Pendek, kata Debbie, adalah primata yang belum tercatat dalam ilmu pengetahuan.

“Asumsi saya dia lebih dekat ke Siamang. Mereka tidak berkelompok tapi tumbuh dalam keluarga kecil—satu ibu dan anak-anak tanpa pejantan.” Karena asumsi inilah Debbie meragukan gerombolan yang di Way Kambas adalah “Orang Pendek” yang sama dengan yang ditelitinya bertahun-tahun.

David Chivers, ahli primata dari Universitas Cambridge, telah menganalisis jejak telapak kaki yang dikumpulkan Debbie dan kawan-kawan. “Sangat tak biasa, karena mereka merupakan campuran karakter dari semua jenis kera dan manusia,” kata Chivers seperti dilansir majalahEdge Science edisi #7, April-Juni 2011. “Mereka punya jari yang lebih pendek, hampir seperti manusia.” Antropolog biologis dari Universitas Idaho, Jeff Meldrum, juga melihat jejak kaki itu menandakan bipedalisme atau berjalan dengan dua kaki.

Sementara analisis atas DNA rambut, ahli hewan Hans Bruner dari Universitas Deakin, Australia, menyatakan rambut itu milik primata tak dikenal. Tahun 2010, jebolan genetika Universitas Oxford Tom Gilbert melakukan tes DNA sendiri atas rambut tersebut. Peneliti di Centre for GeoGenetics, bagian dari Natural History Museum of Denmark, itu menyatakan DNA makhluk itu adalah manusia, atau setidaknya berhubungan dekat dengan manusia. Jika pendapat ini diterima, “orang pendek” bisa berdiri sejajar dengan Homo neanderthal, Homo floresiensis dan Homo sapiens alias masuk jajaran “manusia”. (Baca juga Bagian 3—Berburu “Hobbit” di Gua Flores)

Lembaga riset genetika di Indonesia, Eijkman Institute for Molecular Biology sendiri skeptis dengan status manusia atas “orang pendek” ini. Deputi Direktur Lembaga Eijkman  Prof Herawati Sudoyo menyatakan, pertanyaan soal genetika “orang pendek” belum bisa dijawab karena tak ada gambar yang jadi bukti keberadaan mereka. Jika keberadaannya sudah pasti, barulah kemudian bisa lanjut kepada pengambilan sampel DNA, kata Herawati.

Soal gambar dan habitat “orang pendek” inilah yang menjadi pekerjaan bertahun-tahun sejumlah pemerhati flora dan fauna. Fauna Flora International (FFI) yang melakukan monitoring harimau sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat belum pernah mendapat gambar “orang pendek” dari seratusan kamera trap yang terpasang di enam lokasi sejak tahun 2004.

“Jika memang ada, mungkin sudah tertangkap kamera pengintai kami,” ujar Yoan Dinata, Manager FFI areal Sumatera Barat pada VIVAnews.

 “’Orang pendek’ itu sepertinya punya kemampuan mendeteksi benda listrik,” kata Suwandi Ahmad, yang pernah membantu dokumentasi tim Debbie saat mengumpulkan data “orang pendek”. “Indra pendengaran dan penciuman mereka sepertinya tajam sekali,” kata Suwandi.

Dia lalu menceritakan sebuah kisah unik seorang fotografer alam bebas yang sudah delapan bulan mengikuti Debbie, berusaha memotret “orang pendek”. “Setelah delapan bulan, pada suatu saat, baterai kameranya habis, dia lalu mengganti baterenya,” kata Suwandi. “Saat itulah, beberapa “orang pendek” datang mengerubungi fotografer itu. Dia gemetaran saat mengisi baterai, namun ketika sudah terisi, ‘orang pendek’nya pergi lagi. Seminggu lamanya setelah itu si fotografer ngambek,” kata Wandi tertawa.

Dosen Biologi Universitas Andalas, Dr. Wilson Novarino, salah satu ilmuwan yang yakin akan keberadaan “orang pendek”, menyebut insting makhluk menghindari dari manusia itu mungkin bagian dari kunci survivalnya. “Karena kondisinya yang sangat sensitif dan tidak mau bertemu manusia, bisa jadi populasinya semakin mengerucut,” kata Wilson.

Orang Pendek, kata Wilson, sangat besar kemungkinan salah satu dari banyak hewan yang masih misterius. Hingga kini baru 1,9 juta spesies telah teridentifikasi. Dalam studi yang dipublikasikan Selasa, 23 Agustus 2011 di jurnal PLoS Biology, ilmuwan menghitung ada nyaris 8,8 juta spesies di Bumi. Dari jumlah itu, 6,5 juta berada di daratan dan 2,2 juta di lautan.  Kerajaan hewan mendominasi dengan 7,8 juta spesies, fungi (jamur) sekitar 611.000 dan tanaman sekitar 300.000 spesies.

Jika benar ada 8,8 juta spesies, "Itu angka yang brutal," kata Direktur Eksekutif Ensiklopedi Kehidupan, Erick Mata. "Kita bisa menghabiskan waktu 400 sampai 500 tahun untuk mendokumentasikan spesies yang benar-benar hidup di planet kita," katanya.

Bisa jadi, “orang pendek” adalah salah satu makhluk yang masih luput terdata itu. (np
)
Sumber : http://sorot.news.viva.co.id/news/read/401197--orang-pendek--sumatera--manusia-atau-kera-
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger