Latest Post

LAA ILAAHA ILLALLOH AMALAN BULAN ROMADHON

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 20 Mei 2018 | 08.10

Hikmah Buka Puasa di Masjid Baiturrahman GMC, 20-05-2018.
Oleh: Mahmud J. Al Maghribaen

MUQODIMAH
Shoimin rahimakumulloh,
Bulan romadhon adalah bulan suci, yaitu bulan diturunkannya kitab suci Al Quran dari yang Maha Suci, oleh malaikat yang suci kepada hamba yang suci yaitu kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagaimana Firman Alloh Swt.:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ


Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Pada bulan romadhon kita diperintahkan oleh Alloh Swt. untuk berpuasa selama sebulan. Dengan kita berpuasa maka Alloh Swt. akan mengampunkan dosa-dosa kita, sebagaimana Sabda Rosululloh Saw. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu akan diampuni”. (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim no. 760).

Shoimin rohimakumulloh,
Apakah semua dosa kita yang akan diampuni dengan puasa?
Ternyata tidaklah semua dosa yang akan diampuni, melainkan hanyalah dosa-dosa kecil saja yang dimaksud hadits tersebut. Sebab Nabi Saw. juga pernah bersabda:

«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ»
ash sholatul khomsu wal jum'atu ilaal jum'ati wa romadhoonu ilaa romadhoona mukaffirootun maa bainahunna idzaa ijtanabal kabaair
Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan merupakan penghapus dosa-dosa jika ia menjauhi dosa-dosa besar. (HR al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Nah berdasarkan hadits tersebut, ternyata ada syaratnya yaitu menjauhi dosa-dosa besar. Bagaimana kalau kita telah terlanjur mempunyai dosa besar? Maka dosa besar tersebut membutuhkan tobat yang khusus (nashuha).

Mari kita simak kutipan sabda Rosullulloh Saw. ketika beliau menyampaikan Khutbah menjelang Romadhon, sbb :

 وَاسْتَكْثِرُوا فِيهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ : خَصْلَتَيْنِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهُمَا ، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تُرْضُونَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَتَسْتَغْفِرُونَهُ ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لا غِنًى بِكُمْ عَنْهَا : فَتُسْأَلُونَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ، وَتَعُوذُونَ بِهِ مِنَ النَّارِ
Was taktsiruu fihii min arba'i khishooli: khoshlataini turdhuuna bihimaa rabbakum, wa khoshlataini laa ghinan bikum 'anhumaa, fa'ammal khoshlataanil lataani turdhuuna bihimaa rabbakum, fa syahaadatu an LAA ILAAHA ILLALLAH wa tastaghfiruunahu, wa ammallataani laa ghinaabikum 'anhaa: fa tus-aluunallaahal jannatu wa ta'uudzuuna bihi minannaar
"Perbanyaklah melakukan empat hal di bulan ini, yang dua hal dapat mendatangkan keridhoan Tuhanmu, dan yang dua hal kamu pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu syahadah (Laa Ilaaha Illallaah) dan beristighfar kepada Allah, dan dua hal yang pasti kalian memerlukannya yaitu mohonlah kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka".

Dua hal yang yang mendatang ridho Alloh, yaitu:
  • Syahadat
  • Istighfar
Dua hal yang kita perlukan adalah sbb:
  • Masuk Surga
  • Bebas dari siksa Neraka

Syhahadat
Di bulan ini kita dianjurkan oleh Rosululloh Saw. untuk memperbanyak syahadat. Meskipun kita sudah bersyahadat, tidak ada jaminan syahadat kita tidak rusak. Sebab konsekuensi syahadat adalah menyakini dalam hati, kemudian diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Nah kalau perbuatan kita terkadang bertentangan dengan esensi syahadat, seperti berbuat maksiat, maka sesungguhnya kita telah merusak kemurnian dari syahadat kita. Sebab ketika seseorang berbuat maksiat maka sesungguhnya imannya telah lepas darinya.

إِنَّ الإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبَ الخَلِق ، فَاسْأَلُوا اللهَ أَنْ يُجَدِّدَ الإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ
“Sesungguhnya iman akan rusak dalam diri kalian laksana rusaknya baju, maka mohonlah kepada Allah untuk memperbarui iman dalam kalbu kalian.”

الإِيْمِانُ قَوْل وَ عَمَلٌ يَزِيْدُ وَ يَنْقُصُ فَمَنْ زَعَمَ أَنَّ الإِيْمِانَ لاَ يَزِيْدُ وَ لاَ يَنْقُصُ فَاحْذَرُوْه فَإِنَّهُ مُبْتَدِعٌ
Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. Siapa yang meyakini iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang maka berhati-hatilah terhadapnya karena ia adalah seorang ahli bid’ah.

Karena iman bisa rusak, bertambah dan berkurang maka kita diperintahkan oleh Rosulloh Saw. untuk senantiasa memperbaharuinya dengan mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh, "Jaddidu imaanakum bi katsroti Laa Ilaaha Illaloh".
Iman yang paling tinggi adalah Laa Ilaaha Illaloh:

اlلْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ
Iman itu lebih dari tujuh puluh atau lebih dari enampuluh. Yang paling utama adalah perkataan: “Laa Ilaaha Illa Allah” dan yang terendah adalah membersihkan gangguan dari jalanan dan rasa malu adalah satu cabang dari iman".

Demikian pentingnya syahadat ini sehingga ketika sholat dalam tasyahud (akar kata syahadat) kita disyari'atkan untuk membaca syahadat. Khusus di bulan ramadhan kita dianjurkan oleh Nabi untuk lebih banyak mengamalkannya, maka dari itu kita dianjurkan untuk banyak-banyak mengucapkan Laa Ilaaha Illaah (Dzikrulloh), lebih daripada bulan-bulan selain bulan romadhan. Fungsinya, disamping untuk memperbaharui iman juga akan mendapat ridho Alloh.

Yang kedua, Istighfar
Yang kedua dari dua yang pertama, kata Nabi: hendaklah engkau memohon ampun terhadap dosamu (istighfar).
Setelah kita memperbanyak syahadat, lalu kita memohon ampun kepada Alloh Swt.

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal".

Mengapa kita dianjurkan banyak-banyak istighfar di bulan romadhon? Ingat bukan berarti di bulan lain Alloh tidak Maha Pengampun?
Akan tetapi khusus di bulan Romadhon ini, Alloh Swt. membuka pintu tobat seluas-luasnya bagi hambanya yang ingin bertobat, terutama bertobat dari dosa yang besar. Dosa yang paling besar adalah dosa syirik kepada Alloh, dosa ini tidak akan diampuni Alloh kecuali dengan syahadat: Laa Ilaaha Illalloh.

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا
Innallaaha laa yaghfiro ayyusyroka bihii wayaghfirumaa, duuna dzaalika limayyasyaa-u, waman yusyrik billaahi faqodif taroo itsman adziima
Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersukutukan) kepadaNya, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allâh, maka sungguh, dia telah mengadakan dosa yang sangat besar. [an-Nisâ’/4:48].

Kalau dosa besar dari yang terbesar saja bisa diampuni, apa lagi dosa-dosa yang lebih kecil di bawahnya. Maka Rosululloh Saw. bersabda, "Sekali mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh dengan benar, 4000 dosa besar akan diampuni". (Al Hadits).
Dan syarat diampuninya dosa adalah dengan syahadat terlebih dahulu. Orang yang tidak bersyahadat maka Alloh tidak akan mengampuni terhadap dosa-dosanya.
Maka di bulan romadhon kita dianjurkan untuk banyak-baayak beristighfar, dan istighfar yang paling utama adalah: Laa Ilaaha Illaloh.

Satu dari dua yang terakhir yang pasti kita membutuhkannya ialah memohon Surga.
Pada bulan ini, rosululloh Saw. menganjurkan kita untuk memperbanyak memohon surga. Karena di bulan ini Alloh membuka seluas-luasnya pintu surga bagi siapa saja yang menginginkannya. Amatlah merugi orang yang tidak memanfaatkan kemuliaan romadhon, mereka diibaratkan, menghadiri sebuah undangan jamuan makan, meski ia hadir, namun tidak ada jaminan akan merasakan kelezatan makanan tersebut tanpa ia berikhtiar untuk memakan makanan yang dihidangkan.

Dari Zaid bin Arqam Radiallahuanhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda yang maksudnya, “Barangsiapa yang mengucapkan ‘La ilaha illallah’ dengan ikhlas, dia akan dimasukkan ke dalam syurga.” Lalu ditanya kepada baginda SAW, “Bagaimanakah yang dimaksudkan dengan ikhlas itu?”

Rasulullah SAW bersabda, “Ikhlas itu ialah yang mencegah dari melakukan perbuatan-perbuatan yang haram.” (Hadis riwayat at-Tabarani).

Perhatikan, lagi-lagi kalimat Laa Ilaaha Illaloh yang akan menghantarkan seseorang untuk masuk surga. "Miftahul jannah, Laa Ilaaha Illalo".

Kemudian, dua dari yang kedua adalah memohon terhindar dari api Neraka.
Di bulan ini kita sangat dianjurkan untuk banyak-banyak memohon agar terhindara dari siksa neraka. Karena di bulan romadhon Alloh Swt. menutup pintu neraka. Itu artinya, Alloh Swt. tidak mengiginkan hamba-Nya disiksa melainkan di bulan ini Alloh membuka pintu rahmat-Nya, ampunannya, dan membebaskan hamba-Nya dari siksa api neraka.

Dari Umar rodhiyallohu ‘anhu ia berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
Sungguh aku akan mengajarkan sebuah kalimat, tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan benar dari hatinya, lalu ia mati diatas keyakinan itu, kecuali (Allah) mengharamkan tubuhnya dari api neraka. Yaitu kalimat laa ilaha illallah. (HR. Hakim – Shohih Targhib wa Tarhib : 1528 ).

Lagi-lagi, kalimat ‘Laa ilaaha ilalloh’ adalah pelindung dari api neraka.

Nah, itulah hadirin empat amalan yang utama, disamping amalan-amalan lainnya di bulan romadhon

Maka pantaslah kiranya dibulan ini kita selalu berdoa:

أشْهَدُ أنْ لاَإلَهَ إلاَّ اللهُ أسْتَغْفِرُ اللهُ أسْألُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ
Asyhadu allaa ilaaha illallah, astaghfirullah, as aluka ridlaaka wal jannah, wa na’uudzubika minannaar.
Saya bersaksi tidak ada Tuhan Selain Allah, Saya mohon ampun kepada Allah, Saya mohon Ridha-Mu, Surga­Mu dan selamatkanlah saya dari neraka.” Mu dan selamatkanlah saya dari neraka.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

SHOLAT NISFU SYA'BAN BUKAN BID'AH

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 01 Mei 2018 | 21.58


SHOLAT NISFU SYA'BAN BUKAN BID'AH


Hidmat Ilmiah Manaqib Panongan, Ahad, 29-04-2018.

Muqodimah
Alhamdulillaah, bulan ini adalah bulan Sya'ban, besok Senin malam Nisfu Sya'ban (pertengahan bulan sya'ban).

Sebagaimana lazim bagi kita ikhwan TQN Suryalaya, amalannya terbagi atas Harian, Mingguan, Bulanan dan Tahunan.
Harian, yaitu sholat fardhu dan sholat-sholat sunnah, serta dzikir setelah sholat.
Mingguan, yaitu selain amalan yang sudah umum, ada juga yang bersifat khusus yakni Khotaman.
Kemudian ada amalan Bulanan, yaitu Manaqiban. Dimana salah satu rangkaian hidmat amaliyah manaqib ialah TANBIH dari ABAH SEPUH yang berisi nasehat untuk keselamatan Dunia dan Akhirat. Sabda Rosululloh Saw. "Barang siapa selama 40 hati tidak mendengarkan nasehat Ulama, maka hatinya akan mengeras, sehingga sulit untuk menerima nasehat tentang kebenaran".
Selanjutnya amalan Tahunan, selain yang sudah umum, di antaranya ialah SHOLAT SUNNAH NISFU SYA'BAN sebanyak 100 Rakaat yang dilaksanakan mulai Maghrib berjamaah sampai dengan selesai, insya Alloh besok malam akan dilaksanakan di Musholla ini.

Di antara sholat sunnat yang termasuk ke dalam yang disunatkan berjamaah ialah sholat sunnah Nisfu Sya'ban, yakni sholat sunat pada tengah-tengah bulan sya'ban (ruwah). "Sya'ban syu'batun khoiron katsiriin", artinya "Cabang-cabang kebaikan". Sholat sunat nisfu sya'ban adalah sholat sunat yang terbanyak rakaatnya dibandingkan dengan sholat sunat lainnya, yakni 100 rakaat.
Hikmahnya, semakin banyak sholat maka semakin dekat kepada Alloh sehingga selalu INGAT kepada-NYA.

Pada tanggal 15 Sya'ban semua umat manusia ditutup "Buku" (catatan perjalanan hidup) setahun yang lalu, dan dengan sendirinya kita memulai lagi lembaran buku tahunan untuk masa yang akan datang.
Kelak buku catatan itu akan dibuka pada hari Kiamat, dimana semua umat manusia akan mempertanggung jawabkan seluruh amal perbuatannya selama di dunia, sebagaimana Firman Alloh dalam QS. Al Jaatsiyah : 28 sbb:
"Wa taraa kulla ummatin jaatsiyatan, kullu ummatin tud'aa ilaa kitaabihaal yauma tujzauna maa kuntum ta'malauuna". Artinya, "Dan pada hari itu kamu lihat tiap-tiap umat berlutut. Tiap-tiap umat dipanggil untuk melihat buku catatan amalnya. Pada hari itu ku diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan".

Pada malam nisfu sya'ban sangat baik bagi kita untuk mengintrospeksi diri, menghitung-hitung diri sebelum kita dihitung, sebagaimana sabda sayyidina Umar ra. "Haasibu qobla antu hasabu" (Hitunglah dirimu senelum dihitung).
Adapun keistimewaan malam nisfu sya'ban diriwayatkan dari Sahabat Hasan ra. dalam kitab Al Ghunyah Lithoriqi al Haqq, sbb:
  1. Sesungguhnya bagi orang-orang yang mengamalkan sholat nisfu sya'ban, maka Alloh akan melihat kepada orang tersebut 70 kali penglihatan. Dan setiap penglihatan mencukup 70 keperluan kepada orang tersebut.
  2. Barang siapa yang membaca shalawat pada malam nisfu sya'ban, maka para malaikat mendoakan sampai hari kiamat agar orang itu diampuni segala dosanya. Sebagaimana sabda Nabi: "Sholaatukum 'alayya majaaqotun" (Shalawat yang kamu baca bagiku, itu menghilangkan segala dosa-dosamu).
  3. Para malaikat menyeru: "Untung sekali bagi orang-orang yang ruku', sujud, berdoa, berdzikir dan membaca al Quran sedikitnya surat Yaasiin 3 kali pada malam nisfu sya'ban sampai terbit fajar, sehingga Alloh membebaskannya dari siksa Api Neraka. Sabda Nabi : "Yaasiin qolbu al Quran" (Yaasiin itu jantungnya al Quran).
  4. Sungguh tak ternilai harganya, karena pada malam itu Alloh membuka 300 pintu rahmat. Dan Alloh memberi ampunan bagi orang-orang yang bertobat kepada-Nya, serta Alloh menurunkan Maghfiroh (Pengampunan) pada malam nisfu sya'ban bagi orang-orang yang melaksanakan sholat sunat sebanyak-banyaknya.
Hadits tentang sholat sunat Nisfu Sya'ban:

"Fa ammasholaatul waaridatu fii lailatinnishfion sya'baana fa hiya miiatu rok'atin bi alfi marrotin qulhuwallohu ahadun fii kulli tok'atin bi 'asyroo marrootin wa tusammaa haadzihish sholaattul khoiri".

Artinya, "Adapun sholat yang kewarid di dalam nisfu sya'ban banyaknya 100 rakaat, 1000 Qulhuwallohu Ahad. Tiap-tiap rakaat 10 kali Qulhuwallohu Ahad. Sholat ini diberi nama "Sholatul Khoiri", yakni sholat yang sebaik-baiknya".

Ikhwan wal akhwat ra.
Demikianlah keterangan tentang amaliyah nisfu sya'ban. Namun meski demikian, masih ada sebagian umat Islam yang mempermasalahkan amalan ini, mereka menuduh bid'ah, karena menurut mereka tidak ada contoh dari Nabi maupun Sahabat, sehingga perlu dijauhi, bahkan dilarang untuk mengamalkannya, sebab Nabi bersabda : "Kullu bid'atin dholalah, wa kullu dholalati finnaar" (Setiap perkara baru itu sesat, dan setiap yang sesat tempatnya di Neraka).

Perlu saya jelaskan disini, bagaimana sesungguhnya cara memahami hadits tersebut. 
Kullu bid'atin, itu bukan berarti mencakup semuanya sesuatu yang baru? akan tetapi hanya sebagian, sebab pada kata "Bid'ah" ada kata sifat yang dibuang, mengapa dibuang? karena sudah umum dalam bahasa Arab, sebab bid'ah itu isim (kata benda) yang tentu memiliki sifat, sifatnya bisa "baik bisa buruk". Jadi kalimat tersebut seyogyanya dipahami Kullu bid'atin sayyi'ah atau hasanah, dan yang paling tepat adalah sayyi'ah (buruk/jelek), hanya yang "buruk" yang sesat, sedang yang "baik" tidak mungkin sesat. Jadi arti sesungguhnya dari hadits tersebut adalah: "Setiap perkara baru yang buruk itu sesat, dan setiap yang sesat itu di neraka". Hanya bid'ah yang buruk yang sesat, sedang bid'ah yang "baik", itu tidaklah sesat, maka Imam Sayfi'i membagi bid'ah menjadi 2 (dua) yakni: Bid'ah yang "Buruk" dan Bid'ah yang "Baik" .

Maka Bid'ah buruk itu dilarang, sedang bid'ah yang baik diperbolehkan sepanjang tidak ada dalil syar'i yang melarangnya. Hal ini berdasarkan hadits :
"Man sanna fil islami sunnatan hasanatan falahu ajruha wa ajru man 'amila bihaa ba'dahu min ghairi an yanqusha min ujuurihim syai-un. Wa man sanna fil islaami sunnatan sayyi'atan kaana 'alaihi wizruhaa wawizru man 'amila bihaa min ba'dihi min ghairi an yanqusha min auzaarihim syai-un".
Artinya, “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim).

Nah, begitulah cara memahami hadits tersebut, untuk memahaminya dibutuhkan ilmu, jika kita merasa kurang ilmunya, belajarlah kepada orang yang berilmu (Ulama).
Apakah ada dalilnya di dalam Al Quran?
Tentu saja ada, seperti dalam memahami Firman Alloh Swt. : "Ammassafiinatu fakaanat limasaakiina ya'maluuna fil bahri, fa arodtu an a'iibahaa wakanaa waroo ahum malikan ya'khudzuhu kulaa safiinatin ghoshbaa".
Artinya, "Adapun bahtera itu kepunyaan orang miskin yang bekerja di laut, aku bermaksud merusaknya karena di hadapan mereka ada raja yang merampas setiap bahtera". (QS. Al Kahfi : 79).

Perhatikan!
Kata "kulla safiinatin", itu bukan berarti setiap kapal/bahtera, akan tetapi ada kata yang "dibuang" yakni "Jamiilatun" (Bagus). Artinya, hanya kapal yang bagus yang akan dirampas oleh raja, sedangkan kapal yang rusak (dirusak oleh Nabi Khidir) tidak akan dirampas oleh raja karena raja tidak tertarik dengan kapal yang rusak.

Hadirin yang berbahagia,
Riwayat di atas ada di dalam Al Quran Surat al Kahfi ayat 65-82. Ketika Nabi Musa as. berguru kepada Nabi Khidir as. Dikisahkan Nabi Musa as. berkata: "Hal attabi'uka" (bolehkan aku mengikutimu?) supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?. Nabi Khidir as. menjawab: "Lan tastathii'a ma'iya shobron" (Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku). Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu".
Musa berkata: "Insya Alloh kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan apapun".
Nabi Khidir berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".

Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidir melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?". Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.
Khidir berkata: "Bukankah aku telah berkata bahwa, "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku".
Nabi Musa berkata: "Janganlah engkau marah akan daku disebabkan aku lupa (akan syaratmu) dan janganlah engkau memberati daku dengan sesuatu kesukaran dalam urusanku (menuntut ilmu)".

Kemudian keduanya berjalan lagi sehingga apabila mereka bertemu dengan seorang pemuda lalu dia (Khidir) membunuhnya. Nabi Musa berkata: "Patutkah engkau membunuh satu jiwa yang bersih, yang tidak berdosa karena telah membunuh orang?" Sesungguhnya engkau telah melakukan satu perbuatan yang mungkar!
Dia (Khidir) menjawab: "Bukankah, aku telah katakan kepadamu, bahwa engkau sekali-kali tidak akan dapat bersabar bersamaku?"
Nabi Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu perkara sesudah ini, maka janganlah engkau jadikan daku sahabatmu lagi; sesungguhnya engkau telah cukup mendapat alasan-alasan berbuat demikian disebabkan pertanyaan-pertanyaan dan bantahanku".

Kemudian keduanya berjalan lagi, sehingga apabila mereka sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka meminta makan kepada orang-orang di situ, lalu orang-orang itu enggan menjamu mereka. Kemudian mereka dapati di situ (dalam negeri itu) sebuah tembok yang hendak runtuh, lalu dia (Khidir) menegakkan dinding itu. Nabi Musa berkata: "Jika engkau mau, tentulah engkau berhak mengambil upah mengenainya"!
Dia (Khidir) menjawab: "Inilah masanya perpisahan antaraku denganmu, aku akan terangkan kepadamu maksud (kejadian-kejadian) yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya".

Lalu Nabi Khidir as. menjelaskan alasan-alasan dari perbuatannya yang Nabi Musa as. tidak sabar kepadanya: "Adapun perahu itu adalah ia dipunyai oleh orang-orang miskin yang bekerja di laut; oleh itu, aku bocorkan dengan tujuan hendak mencacatkannya, kerana di belakang mereka nanti ada seorang raja yang merampas tiap-tiap sebuah perahu yang tidak cacat".
"Adapun pemuda itu, kedua ibu bapaknya adalah orang-orang yang beriman, maka kami bimbang bahwa dia akan mendesak mereka (ibu-bapaknya) melakukan perbuatan yang zalim dan kufur". Oleh itu, kami ingin dan berharap, supaya Tuhan mereka menggantikan bagi mereka anak yang lebih baik dari padanya (soleh) tentang kebersihan jiwa dan lebih mesra kasih sayangnya".
Adapun tembok rumah itu, adalah kepunyaan dua orang anak yatim di negeri itu dan di bawahnya ada harta terpendam kepuyaan mereka dan ayahnya adalah orang yang sholeh. Maka Tuhanmu menghendaki supaya mereka cukup umur dan dapat mengeluarkan harta mereka yang terpendam itu, sebagai satu rahmat dari Tuhanmu (kepada mereka) dan (ingatlah) aku tidak melakukannya menurut kemauanku sendiri. Demikianlah penjelasan tentang maksud dan tujuan perkara-perkara yang engkau tidak dapat bersabar mengenainya.

Demikianlah Nabi Musa dan Nabi Khidir telah memberikan pelajaran kepada kita umatnya tentang adab dalam menuntut ilmu Hakikat. Ilmu hakik
at berbeda dengan ilmu syariat, dimana ilmu syariat adalah yang mengatur secara lahiriah sedang ilmu hakikat mengatur tataran batiniah.

Dari kisah ini maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa tidaklah semua yang terlihat secara lahiriah salah itu adalah salah, melainkan harus kita pahami hakekatnya melalui bimbingan seorang Guru yang Mursyid. Kalau Nabi saja masih mau untuk mencari guru, apalagi kita yang bukan siapa-siapa?

Haasibu qobla antu hasabu, hitung-hitunglah dirimu sebelum kamu dihitung!

Wallahu'alam bishshowab

Hanya Orang Berilmu yang Memuliakan Orang Yang Berilmu

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 12 Januari 2018 | 03.28

Assalamualaikum wrwb
Alhamdulillaah, washsholaatu wassalaamu 'alaa rosuulillaah, wa 'alaa aalihii wa shohbihii wa man waalah.
Asyhaduan laa ilaaha illalloh wahdahu laa syarikalah wa asyhaduannaa muhammadan 'abduhuu wa rosuuluhu laa nabiyya ba'da.
Allaahumma sholli wa sallim 'alaa sayyidina muhammadin wa 'alaa aalihi wa shohbihii aj'ma'iin. Amma ba'du.
Faqaalallaahu ta'ala fii kitaabihil kariim, a'udzubillaahi minasysyaithonirrojim bismilaahirrohmaanirrohiim.
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Syahidallaahu annahuu laa ilaaha illaa huwa, wal malaaikatu wa ulul 'ilmi qooimam bilqisthi laa ilaaha illaa huwal 'aziizul hakiim. (Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).
Waqaalannabiyyu sholallaahu 'alaihi wa sallam.
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Tholabul 'ilmi fariidhotun alaa kulli muslim (Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslimin).
اطْلُبُوْا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
Uthlubul 'ilma minal mahdi ilal lahdi (Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur).
Shodaqollaahul 'azhiim wa shodaqo rosuluhun nabiyyul kariim wa nahnu 'alaa dzaalika laminasysyahidiina wasysyakiriina walhamdulillaahirobbil'aalamiin.
Ilaahi anta maqshudi wa ridhoka mathlubi a'thinii mahabbataka wa ma'rifataka.
Ilaa hadhroti ahli silsilatil qodiriyyah naqsyabandiyah pondok pesantren suryalaya, bilkhusus syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, qs. Al faatihah...

Para ikhwan wal akhwat,
Kita sering mendengar pengersa Abah memberikan apresiasi kepada para Ahli ilmu (Profesor Doktor) yang telah memberikan ilmunya kepada kita.
Mengapa? 
Karena pengersa Abah perlu dengan ilmunya mereka untuk kita para ikhwan yang kurang ilmu, tapi memiliki cita-cita yang tinggi untuk mencapai ridho Alloh. Ahli Ilmu itu diperlukan oleh pengersa Abah dalam rangka membantu beliau dalam mengamalkan, mengamankan dan melestarikan ajaran TQN PPS. 
Dalam hal ini pengersa Abah pernah mengatakan, "Sebagaimana nabi Musa yang memohon agar dibantu oleh nabi Harun, maka demikian pula dengan Abah, Abah juga memohon agar dibantu oleh para Harun-harun (Ahli ilmu)".

Nabi Musa as. Berdoa kepada Alloh dalam (QS. Thaaha : 25-35) :
قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ وَاجْعَلْ لِّيْ وَزِيْرًا مِّنْ أَهْلِيْ هٰرُوْنَ أَخِى اشْدُدْ بِهٖ أَزْرِيْ وَأَشْرِكْهُ فِيْ أَمْرِيْ ۙ كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيْرًا ۙ وَنَذْكُرَكَ كَثِيْرًا إِنَّكَ كُنْتَ بِنَا بَصِيْرًا
Robbisy rohlii shodri, wayassirlii amrii, wahlul 'uqdatammil lisaani, yafqohuu qoulii. Waj'al lii waziirom min ahlii haaruuna akhiisydud bihi azrii, wa-asyrik-hu fii amrii, kay nusabbihaka katsiiron, wa nadz kuroka katsiiron, innaka kunta binaa bashiiron
Dia (Musa) berkata, "Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia, dan jadikanlah dia teman dalam urusanku, agar kami banyak bertasbih kepada-Mu, dan banyak mengingat-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Melihat (keadaan) kami."
Itulah makanya saya sering mengatakan, "Hanya orang yang berilmu yang memuliakan Ilmu beserta Ahlinya". Artinya hanya orang yang bodoh yang tidak memuliakan Ilmu dan Ahlinya. Tuan Syekh Abdul Qodir bersabda, "Seberapapun tingginya ilmu yang disampaikan, bagi orang bodoh yang tidak peduli dengan ilmu maka ilmu tersebut tidaklah ada manfaat baginya". Demikan pentingnya ilmu, sebab tidak akan sampai seseorang kepada Alloh tanpa dengan ilmu. 
Kita ini, sebagai ikhwan terkadang terlalu pede, menganggap dirinya sudah sampai kepada Alloh lalu mengabaikan ilmu. Sebagai contoh, ketika pengersa Abah menyampaikan maklumat untuk membaca Manqobah ke-15 selama 15 kali dalam manaqib, yang di dalam manqobah tersebut ada ungkapan "Namamu dibuat seperti Nama-Ku". Nah, tanpa didasari dengan ilmu, ada sebagian ikhwan berpendapat bahwa dzikir khofi bisa dengan sebutan "Abah-Abah". Hal ini saya dengar dari Kiyai Rusydi. Kata beliau tidaklah benar demikian, dan ternyata pendapat Kiyai Rusydi tersebut juga dibenarkan oleh pengersa Abah. Ketika itu spontan saya katakan kepada beliau, itulah perlunya Ahli Ilmu yang menjadi saksi.
Ada lagi pendapat kepedean yang pernah saya dengar dari ikhwan, "Kita mah sudah merdeka, tinggal bermain-main saja di dunia ini, sebab kita sudah dijamin pasti selamat". Nah, ungkapan seperti ini kalau dipahami secara umum maka sangatlah keliru dan akan berakibat fatal.. Seperti saya juga pernah kepedean dalam memahami Manqobah Tuan Syekh Abdul Qodir, "Muridku tidak akan diambil nyawanya kecuali dia dalam keadaan bertobat". Saking pedenya, manqobah tersebut saya pahami, bahwa kalau kita sedang bermaksiat maka nyawa kita tidak akan diambil. Hati-hati, kalau kita memahami tidak dengan ilmu maka kita akan terjerumus, beruntung di tengah-tengah kita ada pengersa Abah yang selalu membimbing kita kepada jalan yang benar, yaitu jalan oarang-orang yang lurus.
Ingat do'a yang sudah dikemas oleh pengersa Guru Agung untuk kita (QS. Al Fath:10), itu maksudnya agar kita selalu mengingat Janji/Bay'at (Talqin) yang telah kita lakukan.
إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُونَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُونَ اللَّهَ يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.
Perhatikan, "Faman nakatsa fainnamaa yankutsu 'alaa nafsihi" (maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri. Bai'at sama halnya dengan Jual-Beli, kalau kita mengamalkan apa yang sudah kita perjual belikan, maka "Fastabshiruu bi bai'ikumulladzii baya'tumbih" (Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu), sebaliknya jika kita tidak mengamalkannya maka akibatnya akan menimpa pada diri kita.
Para ikhwan yang berbahagia,
Pada umumnya, hubungan Alloh dengan hamba-Nya adalah hubungan Al Kholiq dan Makhluk Ciptaan-Nya, dimana sebagai makhluk ciptaan kita diwajibkan menyembah Sang Pencipta. "Wamaa kholaqtul jinna wal insa illaa liya'buduun" (Tidak Aku jadikan Jin dan Manusia itu kecuali hanyalah untuk menyembah-Ku). Ini hubungan secara umum, tapi ada hubungan secara khusus, ibarat pedagang dengan pembeli, dimana si pedagang menjual dan si pembeli membeli
Mudah-mudahan kita selalu dalam bimbingan pengersa Abah Aos, al faatihah....
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

KEUTAMAAN DZIKIR

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 04 Oktober 2017 | 03.30

Kajian Dhuha di Masjid Al Barokah
Cluster Permata Karawaci, 24-09-2017.
Oleh, Mahmud J. Al Maghribaen
Muqodimah :
Bismillaahirrohmaanirrohiim,
Alaa inna auliyaa Allohi laa khaufun 'alaihim walaa hum yahzanuun, alladziina aamanuu wakaanu yattaquuna, lahumul busyroo fiddunyaa wafil aakhiroh, laa tabdiila likalimaatillaahi dzalika huwal fauzul azhiimu

Artinya, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Alloh itu tidak ada rasa kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa, bagi mereka berita gembira dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat. Tidak ada perubahan dalam kalimat (janji-janji Alloh), yang demikian itu adalah kemenangan yang besar". (QS. Yunus : 62-64).
Yaa ayyuhannaasu, innaa kholaqnaakum min dazakin wa untsaa. Waja'alnaakum syubuuan wa qobaa ila lita'aarofuu. Innaa akroomakum indallohi atqookum. Innalloha haliimun khobiirun
(Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui dan Maha Mengenal).
Sebagaimana Firman Alloh di atas, mudah-mudahan silaturahmi kita ini membawa keberkahan, sebab pertemuan kita ini bukan hanya saling mengenal, akan tetapi lebih daripada itu yaitu pertemuan ini dalam suatu majelis, yaitu majelis ilmu. Dimana keutamaannya sudah kita ketahui bersama. Seperti biasa, sebelum memulai tausiah, saya biasa memperkenalkan diri terlebih dahulu, karena ada pepatah, "Tak kenal maka tak sayang". Nama saya Mahmud Jonsen, kemudian Guru saya menambahkan Al Maghribaen. Aktivitas saya sehari-hari sebagai pegawai di Perusahaan swasta, juga menyambi sebagai Dosen di Unpri, salah satu mata kuliah yang saya ajar adalah agama Islam. Bersama dengan rekan saya ini, yang menjadi wasilah saya hadir di majelis dhuha ini. Beliau ini adalah Kajur saya. Adapun aktivitas pengajian saya, adalah di TQN PPS Suryalaya, bukan kebetulan pula saya dipercaya oleh Syekh Mursyid pengersa Abah Aos untuk mewakili beliau dalam memberikan Talqin Dzikir.

Hadirin yang dirahmati Alloh,
Alloh menjadikan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kita saling mengenal, mengenal dalam arti mengenal budaya, adat istiadat, bahkan berbagi ilmu, sebab ilmu Alloh itu sangat luas, kita hanya diberikan sidikit dari ilmu Alloh, dari sedikit ilmu Alloh itu maka dititipkan ke masing-masing diri kita, sehingga hari ini saya sebagai pembicara di hadapan Bapak dan ibu, esok hari bisa jadi Bapak dan ibu di hadapan saya untuk menyapaikan ilmu yang dimilikinya. Belajar-mengajar itu hal yang biasa, bisa jadi hari ini sebagai dosen, besok lusa kita sebagai mahasiswa, itu hal biasa. Tetapi ingatlah, orang yang lebih mulia di Sisi Alloh itu adalah yang paling Bertaqwa, "Inna akromakum indallohi atqookum" (Sesusungguhnya orang yang paling mulia di Sisi Alloh ialah orang yang paling bertqwa di antara kalian). Sedangkan Rosululloh Saw. bersabda, "At Taqwa haahuna, attaqwa haahuna, attaqwa haahuna", seraya beliau memberikan isyarat dengan jari telunjuknya ke bawah susu kiri. Disitulah letak Qolbu, pusat Ruh, atau jiwa manusia.
Rosululloh Saw., bersabda: "Alaa inna fil jasaadi mudhghoh. Idzaa sholuhat, sholuha jasadu kulluhu, wa idza fasadat, fasada jasadu kulluhu. Alaa wahiyal qolbu".
Artinya: Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh jasad dan jika ia rusak, rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah qolbu.

Hati yang baik itu ialah hati yang bersih dari penyakit, sedang alat untuk membersihkan hati adalah Dzikir, "Dzikrulloha syifaa'ulqulub". (Dzikir kepada Alloh adalah Obat Hati).
Firman Alloh Swt.:
Alladziina yadzkuruunalloha qiiyaaman waqu'uudan wa 'alaa junuubihim. Wa yatafakkaruuna fii kholqis samaawaati wal ardhi. Robbanaa maa kholaqta haadzaa bathilaa subhaanaka faqinaa adzaabannar
Artinya, "(yaitu), orang-orang yang mengingat Alloh sambi berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring. Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya mereka berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau dan peliharalah kami dari siksa neraka". (Qs. Ali Imron:191).
Bahkan sesungguhnya semua makhluk itu bertasbih kepada Alloh.
Firman Alloh Swt.: "Tusabbihu lahussamaa waatussab'u wal ardhu waman fiihinna waim min syai-in illaa yusabbihu bihamdihii walaa killaa tafqohuuna tasbiihahum innahuu kaana haliiman ghofuuron".
(Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun). (Qs. Al Isro':44).

Hadirin jamaah yang berbahagia,
Kemuliaan manusia itu jika dibandingkan dengan makhluk lainnya ialah dengan ingatnya kepada Alloh. Ketika ia ingat kepada Alloh ketika itu ia dekat dengan Alloh, ketika ia lupa kepada Alloh maka ia jauh dari Alloh. Dekat-Jauh hamba kepada Alloh bukan karena jarak, tapi dengan ingatnya kepada Alloh. Dekat bukan milimeter jauh bukan kilometer, kata Guru saya Abah Aos, Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi al Kamil an Muwaffaq al Mutaqi. Al Quthbu al Shomadany, Qs. Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya, Silsilah ke-38. Silsilah ke-37 ialah Abah Anom, ke-36 ialah Abah Sepuh, dan yang ke-35 ialah Syekh Tolhah Kalisapu Cirebon, ke-34 ialah Syekh Ahmad Khotib Sambas ibnu Abdul Ghofar ra. beliau ini dimakamkan di Mekah, Dosen di Masjidil Harom pada masanya, beliaulah yang menggabungkan Thoriqoh Qodiriyah dan Tahoriqoh Naqsyabandiyah menjadi Thoriqoh Qodiriyah Naqsyanadiyah, yang awalnya hanya berkembang di Indonesia. Thoriqoh itu banyak, ratusan bahkan ribuan, di Indonesia saja ada 42 lebih. Ada thoriqoh samaniyah, ada kholidiyah, ada sanusiyah, ada naqsyabadiyah, ada qodiriyah, ada syaziliyah, ada khalwatitah, ada tijaniyah, dll.
Maka dari itu saya berharap pertemuan kita ini dapat membawa manfaat, tidak hanya sekedar puas dengan ilmu. Sesuai dengan tema yang diminta, yaitu "Keutamaan dzikir", saya berharap bapak dan ibu tidak hanya puas dengan dalil-dalil tentang dzikir, seperti tadi ayat yang dibaca oleh Qori: "Alladziina aamanu wa tathmainnul qulubuhum bidzikrillaah, alaa bidzikrillaahi tath mainnul qulub" (Yaitu orang-orang beriman yang hatinya selalu berdzikir (kepada Alloh), ketahuilah dzikir (kepada Alloh) itu menetramkan hati), lebih dari sekedar itu, tetapi kita harus mampu mempraktekkan dizikir tersebut dalam setiap detik waktu di kehidupan kita. Karena kita semuanya ini sedang mengontrak di dalam tubuh ini. Ketika masa kontrakan itu telah habis, maka siap tidak siap, suka tidak suka, mau tidak mau, senang tidak senang, kita wajib keluar dari tubuh ini. Kalau kita tidak siap, maka akan dipaksa oleh malaikat maut, tapi kalau kita siap, bukan dipaksa, melainkan dijemput oleh malaikat maut, seperti ketika Rosululloh Saw., akan wafat, malaikat datang dengan baik-baik, memberi salam sebelum masuk ke rumah Rosul, Aisyah berkata: "Ya Rosululloh di luar ada tamu, tapi aku belum pernah melihatnya sebelumnya". Itulah malaikat maut, yang datang hendak menjemput Rosul.
Bapak-bapak, Ibu-ibu yang berbahagia,
Dzikir tidak akan berfaidah kalau tidak di talqinkan. Sabda Nabi: "Wakaana dzikru laa yufiidu faaidatan taammatan illa bittalqin". (Adalah dzikir tidak akan membawa faidah yang sempurna kecuali dengan Talqin). Makanya Rosullulloh Saw. merintahkan kepada Ahlinya: "Laqqinu mautakum bikatsrotin qouli Laa Ilaaha Illaah". (Talqinkan kepada orang yang mau mati itu kalimat Laa Ilaaha Illalloh). Perhatikan, orang yang mau mati, silahkan ngacung, siapa yang merasa dirinya tidak akan mati? Tentu kita semuanya pasti mengalami mati, "Kullu nafsyi dzaaiqotul maut". Jadi talqin itu bukan di atas kuburan ketika orang sudah dikubur, juga bukan talqin ketika orang sedang sekarat, akan tetapi talqin itu ketika kita masih hidup, sehingga kalimat talqin itu masih bisa kita amalkan sebanyak-banyaknya selagi kita hidup. Perintah Allo: "Yaa ayyuhalladziina aamanudz kurulloha dzikron katsiiron" (Wahai orang yang beriman, berdzikirlah kepada Alloh dengan dzikir sebanyak-banyaknya).
Talqin itu menyimpan 12 huruf kalimat Laa Ilaaha Illalloh di dalam Ruh Jismani, 4 huruf dari 12 huruf di Ruh Ruhani, dan 1 huruf dari 4 huruf di dalam Ruh Sulthoni. Ika Ruh sudah ditalqin, maka ia akan keluar dengan sendiri, didorong oleh Laa Ilaaha Illalloh, disambut oleh Laa Ilaaha Illaalloh, diantar oleh Laa Ilaaha Illalloh, menuju Laa Ilaaha Illalloh.
Mengapa Rosululloh Saw. memerintahkan untuk ditalqin? Itu karena saking pentingnya untuk menyelamatkan umat, sebab beliau bersabda: "Man qoola akhiru kalamihi Laa Ilaaha Illalloh dakholal jannah" (Barang siapa diakhir hayatnya mengucapkan Laa Ilaaha Illaloh pasti masuk surga). Talqin itu mengajarkan dzikir, berbeda dengan mengajarkan ilmu, itu namanya taklim. Kalau dizikir sudah ditanamkan ke dalam jiwa, maka tidak ada waktu lagi yang sia-sia dalam hidup kita walau satu detik. Itulah "Laylatul qodar". Talqin pertama oleh malaikat Jibril kepada Muhammad adalah di Gua Hiro', ketika itu malaikat Jibril meminta Nabi Muhammad "Iqro'", Nabi menjawab "Ma ana bi qiroin" (apa yang harus au baca), "Iqro bismi robbikalladzi kholaq" (Baca dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan).
Iqro' = Fa'lam annahuu Laa Ilaaha Illalloh (Qs. Muhammad:19).
Bi Ismi = Wadzkur robbaka fii nafsika (Qs. Al A'raf:205).
Dzikir itu ada 2, yaitu Dzikir Jahar dan dzikir Khofi. Dzikir Jahar adalah kalimat Laa Ilaaha Illalloh merupakan Rajanya Dzikir, berdasarkan Sabda Risululloh Saw., "Afdholu dzikri Laa Ilaaha Illalloh". Semua Nabi, sejak Nabi Adam, as. sampai dengan Nabi Muhammad Saw. semuanya mengusung kalimat Laa Ilaaha Illalloh. Sabda Nabi, "Afdhoolu maa qulta ana wannabiyyuna min qobli Laa Ilaaha Illalloh" (Yang paling utama pernah kuucapkan dan diucapkan NabiNabi sebelumku adalah Laa Ilaaha Illalloh).
Bapak dan Ibu yang dimuliakan Alloh,
Kalau saya mengajar Mahasiswa, tidak banyak yang saya sampaikan, hanya tiga cabang ilmu dalam Islam, yaitu satu hadits tentang Iman, islam, Ihsan. Karena ajaran Islam mencakup ketiga hal tersebut. Tersebutlah sebuah kisah yang sudah berusia ribuan tahun, dimuat didalam Jalaluddin Rumi, dan di kitab Tanwirul Qulub, Syekh Amin al Kudri, ada tiga orang buta ingin mengenal Gajah, pergilah mereka ke kandang gajah, masing-masing meraba-raba untuk mengenal gajah. Ada yang memegang kaki gajah, ada yang memegang telinga gajah, ada juga yang memegang belalai gajah. Lalu mereka pulang dan menjelaskan tentang gajah menurut pemahamannya masing-masing. Akhirnya orang-orang tersesat mengenal gajah. Itulah gambaran orang belajar Agama Islam, sebab islam itu terdiri dari Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih dan Ilmu Tasawwuf. Tidak bisa hanya dipahami secara terpisah melainkan harus utuh ketiga-tiganya, itulah Islam.
Hadits Iman, Islam, Ihsan :
Hadits Rosululloh Saw. :
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ،
Al Islamu antasy haduan laa ilaaha illalloh wa anna Muhammadar Rosuululloh wa tuqiimashsholaata wa tu' tiyazzakaata wa tashuuma romadhona wa tahujjal baita inis tatho'ta ilaihi sabiilan
فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ،
Antu'mina billaahi wa malaaikatihi wa kutubihi wa rosulihi wal yaumil aakhiri wa tu'mina bilqodri khoirihi wa syarrohi
قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .
Anta'budalloha ka annaka taroohu fain lam takuntaroohu fainnahuu yarooka
Hadirin jamaah rohimakululloh,
Iman itu Tauhid, rukun iman ulama sudah sepakat ada enam, yaitu iman kepada Alloh, iman kepada malaikat, iman kepada kitabulloh, iman kepada rosululloh, iman kepada hari kiamat, dan iman kepada ketetapan baik dan buruk Alloh. Mengapa harus enam, bukankah sudah cukup percaya kepada Alloh saja? Percaya kepada Alloh saja tidak cukup, bukankah Fir'aun juga percaya kepada Alloh. Iman letaknya dihati, sehingga ulama sepakat iman harus diikrarkan dengan lisan. Iman yang benar itu ialah diyakini dengan hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan dalam perbuatan.
Kemudian Islam, itulah ilmu syariat yaitu bersyahadat, sholat, zakat, puasa, haji jika mampu. Ilmu syariat ini meliputi kajian ilmu fiqih, baik fiqih Ibadah maupun fiqih Muamalah, seperti dagang, nikah, waris, hudud, jinayat, qishos, dll.
Terakhir adalah Ihsan, ihsan adalah ilmu Tasawwuf. Atau ilmu Rasa, yaitu rasa dilihat oleh Alloh. Perhatikan, tidak akan sampai ke tingkat rasa kalau tidak ingat kepada Alloh. Sedangkan ingat kepada Alloh itu wajib ditalqinkan.
Sabda Rosululloh Saw.,
"انتع بد الله كانك تراه فان لم تكن تراه ف انها يرك
Anta'budalloha ka annaka taroohu faillam takun taroohu fainnahuu yarooka (Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau).
Bapak dan Ibu sekalian,
Mungkin itu yang dapat saya sampaikan, semoga ada manfaatnya. Saya tidak banyak menyampaikan dalil tentang dzikir, hanya diantaranya di dalam Al Quran, sbb :
Perintah banyak berdzikir :
Yaa ayyuhalladziina aamanudz kurulloha dzikron katsiiro
(Wahai orang-orang beriman, berdzikirlah kepada Alloh dengan dzikir yang banyak).
Ingat tanda syukur :
Fadzkurnii adzkurkum wasykuruulii walaa takfuruuni
Maka berdzikirlah kepada Ku maka Aku berdzikir (mengingat) kepadamu. Bersyukulah kamu kepada Ku, dan janganlah kamu kufur kepada Ku. (Qs. Al Baqoroh:105).
Tidak akan ketemu dengan dzikir ini kecuali orang yang mendapat petunjuk Alloh Swt. "Man yahdillaahu fahuwal muhtadi, waman yudhlil falan tajida lahu waliyan mursidan". (Barang siapa yang mendapat petunjuk maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorangpun pemimpin yang dapat memberikan petunjuk).
Maka perlunya kita mencari seorang yang Mursyid sebagai penerus Rosululloh Saw. "Alaikum bisunnati wasunnatil khulafaair rosyidin" (Kalian ikutilah sunnahku dan sunnahnya khalifah setelahku). Merekalah sebagai wasilah kita untuk sampai kepada Alloh. Sebagaiman Firman-Nya:
Ya ayyuhalladzina aamanuttaqulloha wabtaghuu ilahil wasiilata wajaahidu fii sabiilihii la'allakum tuflihuuna
(Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh dan carilah jalan mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya, suapaya kamu mendapatkan keberuntungan).
Kalau sudah ketemu maka ikutilah jalannya, Firman Alloh :
Wattabi' sabiila man anaaba ilayya
(Ikutilah jalan orang-orang yang telah kembali).
Terima kasih atas perhatiannya, saya akhiri Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Sesi tanya jawab :
1. Ustadz, tolong jelaskan apakah memang dianjurkan dzikir bersuara/bersama-sama setelah sholat fardhu?
Jawab:
Sederhana jawaban saya, kalau seandainya Bapak memiliki murid atau jamaah yang dzikirnya sama, mana yg lebih baik, sendiri atau bersama-sama? Tentu bersama-sama ya kan? Dengan begitu maka dzikir kita bisa dawam, gak setelah salam langsung pergi. Tapi kalau mau dalil, apakah ada dalilnya, tentu ada diantaranya:
Perintah berdzikir setelah sholat :
Faidzaa qodhoi tumushsholaata fadzkurulloh
Maka apabila kamu selesai mengerjakan sholat maka berdzikirlah kepada Alloh (Qs. An Nisa:103).
Dalil berdzikir dengan suara yang keras :
Inna rof'ashauti bi dzikri hiina yanshorifun naasu minal maktubaati kaana 'alaa 'ahdi rosuulillaahi shollallohu 'alihi wa sallam. Kuntu 'alamu idzaa ansharafuu bi dzaalika idzaa sami'tuhu
Artinya, "Sesungguhnya mengangkat suara didalam berdzikir ketika manusia-manusia selesai sholat fardhu yang lima waktu,bemar-benar terjadi zaman Nabi Saw. Saya (kata Ma'bud bin Abbas) mengetahui hal itu karena saya mendengarnya". (HR. Bukhori).
Dalil menyebut Nama Alloh di Masjid :
Fii buyuutin adzinallohu antur fa'a wayudzkaro fiihaasmuhu yusabbihulahu fiihaa bilghuduwwi wal asholi
Bertasbih kepada Alloh di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan petang," (QS. An Nur : 36)
Berikut adalah ayat yang menerangkan dengan gamblang perihal mereka yang berupaya menghancurkan tempat untuk mengingat Allah Ta’ala tersebut:
“Dan siapakah yang lebih aniaya dari orang yang menghalangi menyebut nama-Nya di dalam masjid-masjid Allah dan berupaya merusaknya? Mereka itu tidak layak masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut. Bagi mereka di dunia ada kehinaan dan bagi mereka di akhirat tersedia azab yang besar” (Al-Baqoroh 115).
2. Apakah talqin itu sama dengan Bai'at?
Jawab:
Identik, tetapi tak sama. Kalau jaman dulu bai'at itu identik dengan perang. Bapak-bapak dan Ibu jangan elergi dengan kata Bai'at, bai'a itu janji setia. Sebagaimana difirmankan oleh Alloh dalam QS. At Taubah:111, : " Fastabsiruu bibai'ikumulladzii baya'tumbih wab dzaalika wa huwal fauzul azhiim" (maka bergembiralah kamu atas janji setiamu kepada-Nya, dan yang demikian itulah kemenangan yang besar). Dan juga Firman-Nya : "Laqod rodhiyallohu 'anil mu'miniina idz yubaayi'unaka tahtasy syajaroti fa aliima maa fii quluubihim fa anzalassakiinatahu 'alaihim wa atsaabahum fathan qoriiba" (Sungguh Alloh telah ridho kepada orang yang beriman yang telah berjanji setia kepadmu (Muhammad) di bawah pohon itu, maka Alloh mengetahui apa yang ada di hati mereka, lalu Alloh menurunkan ketenangan kepada mereka. Dan kepada mereka dijanjikan kemenangan dalam waktu yang dekat). Dan juga Firman-Nya, "Innallladziina yubaayi'unaka innama yubaayi'unalloh. Yadullohi fauqo aidhiihim faman nakatsa fainnama yankusu 'ala nafsihii waman aufaa bima 'ahada alaihulloha fasayu'tihii ajron azhiima" (Sesungguhnya orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya ia berjanji setia kepada Alloh, barang siapa yang mengingkari janjinya maka akibat dari pengibgkarannya itu akan menimpa dirinya sendiri. Dan barang siapa yang menepati janjinya, maka Allaoh akan memberinya keberuntungan yang sangat besar).
Itulah diantara ayat yang menerangkan salah satu bai'at dizaman Nabi, yaitu yang dikenal dengan Bai'at Hudaibiya atau Bai'atur Ridwan.
Jadi talqin dzikir itu ketika ditanya "Mau ditalqin Dzikir, dan Mau Mengamalkannya", itulah bai'at.
Demikian yang dapat saya sampaikan terima kasih.

TEMALAM DI BUMI BADUY DALAM

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 20 September 2017 | 03.19

"TEMALAM DI BUMI BADUY DALAM"
Alhamdulillaah, cerita ini aku awali dengan rasa syukur yang tak terhingga karena dengan izin Alloh telah diperjalankan oleh pengersa Abah Aos dan diberi kesempatan untuk bisa menginap di Bumi Baduy Dalam, kampung Cikeusik, Desa Kenekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Prov. Banten.
Perjalanan ini sudah direncanakan sebelumnya oleh panitia (ikhwan Banten). Rombongan dibagi menjadi dua Kafilah. Kafilah-1, dibatasi hanya 50 orang untuk menginap di 10 rumah Baduy Dalam. Kafilah ini berangkat hari Sabtu, 09 September 2017, dan sampai di pemukiman Baduy Dalam menjelang Maghrib. Kemudian menyusul kafilah-2 dengan jumlah orang yang lebih banyak, diperkirakan sekitar 115 orang yang diberangkatkan pada hari Minggu, 10 September 2017 memasuki tanah Baduy dan langsung menuju Huma, lokasi tempat manaqib.
Kami berlima, ikhwan dari Panongan berangkat dari Panongan Tangerang menuju titik kumpul. Sesampainya di tempat titik kumpul, yaitu di Masjid Nurul Iman, Desa Pasir Bungur, Kec. Cimarga, Kab. Rangkas Bitung, ternyata jumlah ikhwan yang hadir sudah banyak, diperkirakan jumlahnya lebih dari 75 orang (melebihi quota), oleh karena itu sesaat sebelum menunaikan sholat Dhuhur berjamaah, sambil berjalan masuk masjid Kiyai Abdul Manan (salah satu Wakil Talqin Abah Aos di Banten) berbisik, "Kiyai, terpaksa kiyai harus tinggal di perbatasan untuk memimpin ikhwan yang tidak bisa masuk ke dalam, nanti ba'diyah Isya' sekalian bisa langsung memberikan talqin dzikir".
Selesai sholat, saya langsung berkoordinasi dengan ikhwan dari Panongan, dan kami sepakat bahwa kami semua akan menunggu di perbatasan dan mempersilahkan ikhwan lainnya untuk masuk ke wilayah Baduy Dalam. Namun, sesampainya di perbatasan ternyata kami berlima diputuskan untuk tetap masuk untuk menginap di Baduy Dalam oleh Panitia karena memang sudah terdaftar sebelumnya. Lalu berangkatlah kami Kafilah-1 yang berjumlah 50 orang menuju Baduy Dalam. Setelah menempuh perjalanan kaki naik turun bukit lebih kurang 1 (satu) jam, sampailah kami di Bumi Baduy menjelang Maghrib tiba. Saat memasuki kampung ini, kampung terkesan sepi, rumah-rumah banyak yang tertutup bahkan terkesan tak berpenghuni, hanya terdapat beberapa anak-anak Baduy yang duduk di depan rumah sambil menatap kami dengan polos. Kami pun terus masuk ke dalam melewati celah-celah rumah, di bawah atap-atap teras rumah yang terbuat dari daun kelapa yang dikeringkan. Terdapat juga beberapa rumah yang sudah dihuni oleh wisatawan yang kebanyakan para wanita. Mereka duduk-duduk di teras (sorosoan), mereka menyapa kami, namun terkesan sangat berisik, berbeda kontras dengan warga Baduy yang kebanyakan diam.
Rombongan terus berjalan menyusuri rumah-rumah, dan sesampainya di tengah kampung, kami disambut oleh Jaro dan diatur untuk ditempatkan di dalam rumah-rumah yang sudah disediakan. Dengan cekatan Jaro berserta 2 orang pembantunya mengatur dan mengantarkan, "Silahkan, bisa 10 atau 20 orang, apakah cukup?", begitu ujarnya sesekali berbahasa Indonesia, sesekali mereka berbisik-bisik, tampak kecemasan dari mereka kalau-kalau masih ada rombongan yang belum mendapatkan rumah. Ternyata tidak seperti dugaan semula bahwa untuk menginap hanya dibatasi hanya 50 orang, namun ternyata boleh lebih, bahkan setelah kami sampaikan bahwa masih ada orang yang tinggal di perbatasan, mereka terkejut dan menawarkan untuk dijemput.
Jadilah akhirnya rombongan tersebar di beberapa rumah, ada yang berjumlah 5 orang ada juga yang 10 orang atau lebih, tidak kebetulan kami dari ikhwan Panongan akhirnya terkumpul dalam satu rumah. Setelah kami semua menaruh perbekalan, selanjutnya kami menuju sungai/kali untuk membersihkan diri, ada yang mandi, ada juga yang hanya sekedar membersihkan sebagian badannya, berwudhu dan bersiap melaksanakan ibadah amaliyah di masing-masing rumah, yaitu; sholat maghrib berjamaah, dzikir, khotaman, sholat-sholat sunnah, sampai dengan sholat isya' berjamaah, ba'diyah isya', dzikir, sholat sunnah lidaf'il bala'i, dan khotaman, lalu bermushofahah.
Alhamdulillaah, seluruh rangkaian amaliyah yang kami laksanakan ditonton/dilihat oleh tuan rumah, tuan rumah yang kami tempati ialah sepasang suami-istri muda yang belum mempunyai anak keturunan dan seorang kakak laki-laki dari sang suami, mereka bertiga melihat aktivitas ibadah yang kami lakukan, tak jarang mereka berdua berbisik-bisik, demikian juga istrinya yang sedang menyulut api dan memasak sesuatu di tungku, terkadang juga sambil duduk di belakang kami, dengan suara lirih sesekali terdengar, ikut menimpali percakapan suaminya yang bernama Hatak dan kakaknya yang bernama Jamak, mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Mungkin juga bagi mereka aktivitas ibadah kami bukanlah sesuatu yang berharga, atau mungkin mereka juga heran dengan sholat kami dan dzikir kami, sebab mereka sendiri telah memiliki keyakinan dan tata cara ibadahnya sendiri. Dalam hatiku berbisik, "Oh beginilah tantangan dakwah para Wali Songo, dimana mereka datang ke Nusantara menyebarkan ajaran Islam, sedang di Nusantara sendiri sudah memiliki agama dan kepercayaan, seperti Hindu, Budha, Kejawen, Wiwitan, dll. Diajak sholat mereka sudah sembahyang, dikenlakalkan Alloh mereka sudah punya Tuhan, dikenalkan Nabi mereka sudah punya Nabi, dikenalkan Mursyid mereka sudah punya Pu'un, dll".
Selesai amaliyah, dengan cekatan kang Hatak mengambil posisi duduk menghadap kami, sejenak kemudian ia pun menawarkan kepada kami berlima untuk makan seraya mengeluarkan bakul yang penuh dengan nasi dan sepiring ikan asin. Di atas bakul nasi terdapat daun pisang yang digunakan untuk mencengkam nasi ke daun pisang yang digunakan sebagai piring (meskipun mereka juga menyediakan piring beling). Akhirnya ikhwan makan bersama, sedang saya tidak, karena memang belum terasa lapar. Tuan rumah juga ikut makan, sedang istrinya makan sendiri di kamar yang juga dijadikan dapur (tungku). Tidak ada lauk selain ikan asin, tidak ada garam, cabai, tomat, apalagi sambal.
Selesai makan kami melanjutkan percakapan. Banyak hal yang kami tanyakan, semuanya dijawab dengan baik oleh Hatak. Dia benar-benar melayani dengan sepenuh hati, tidak ada satu pun pertanyaan dari kami yang tidak dijawab, meskipun terkadang karena keingintahuan kami bertanya berbarengan, sehingga ia terlihat bingung mana dulu yang harus dijawab, namun perlahan tapi pasti semuanya dijawab dengan jujur, jauh sekali dari kesan sifat munafik atau politis, semua jawaban polos dan jujur.
Ditengah-tengah percakapan, ada seorang ikhwan yang ingin buang hajat, yang mengharuskannya ke 'kali', dengan sigap tuan rumah berdiri menawarkan diri untuk mengantarkan ke 'kali'. Ternyata ikhwan lainnya juga mau ikut. Tinggallah saya sendiri yang bingung, sebab di dalam rumah hanya ada istri Hatak, melihat itu Hatak meyakinkan saya, ia berkata, "Bapak tidak apa-apa tidak ikut, di rumah saja tidak apa-apa", katanya. Tapi akhirnya untuk menjaga dari hal-hal yang tidak baik, saya putuskan untuk menyusul rombongan yang masih terlihat di ujung kampung, saya berlari kecil di atas tumpukan bebatuan dengan bertelanjang kaki sambil berteriak kecil memanggil, mereka pun akhirnya menunggu saya. Lalu kami menuju ke kali bersama-sama menyusuri jalan yang penuh dengan bebatuan dibawah keremangan cahaya lampu senter yang kami bawa.
Sepulang dari 'kali' kami pun melanjutkan obrolan. Terlihat dan terkesan bahwa orang Baduy memiliki kerahmah-tamahan, disiplin, jujur, sama sekali tak terlihat ada gurat-gurat kemarahan. Sehingga saya pun tertarik bertanya, "Apakah sesama saudara pernah ribut atau berantem?", dijawab, "Tidak". Betul, mereka sungguh santun, jauh sekali dari sifat kasar. Tidak seperti kebanyakan orang di luar sana, yang penuh dengan amarah dan kata-kata kotor, termasuk saya ini. Sepanjang malam tak terdengar suara pertengkaran ataupun teriakan anak-anak. Semuanya hening dan syahdu. Di sela-sela obrolan, kami pun sempat bertanya, "Apa yang menjadi agama mereka?", dijawab oleh Hatak, "Agama kami adalah kepercayaan Sunda Wiwitan, Nabi kami adalah Adam, pemimpin kami adalah Pu'un. Kami tidak pernah sekolah, hanya diajari adat oleh orang tua kami. Kami tidak berani untuk melanggar aturan adat, kalau sampai melanggar maka akan muncul rasa menyesal selamanya", begitu ia memaparkan.
Itulah makanya, saya tetap menahan diri untuk tidak berfoto bersama, ketika saya mencoba beberapa kali mohon izin untuk berfoto bersama di dalam rumahnya, ia tetap dengan lembut namun tegas mengatakan, "Tidak boleh", itu tentu atas perintah Pu'un mereka. Walaupun pada keesokan harinya, ada ikhwan yang baru datang, setengah memaksa mengajak mereka berfoto di dalam rumahnya, saya tetap menahan diri untuk tidak ikut difoto bersama tuan rumah meskipun mereka tidak menolaknya, kecuali di luar rumah dengan warga Baduy lainnya. Sebenarnya mereka hanya memperbolehkan ambil gambar di luar kampung, diperbatasan. Namun untuk rombongan kami ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya wilayah Banten mereka memperbolehkan di Huma lokasi Manaqib.
Memang demikianlah, mereka tidak pernah menolak suatu permintaan. Termasuk ketika disela-sela perbincangan, Hatak menunjukkan dua buah Bedoq (Golok) yang merupakan pakaiannya sehari-hari, ketika awalnya saya tanya, "Apakah golok ini dijual?". "Tidak, silahkan beli di Baduy luar", katanya. Namun, setelah berbincang panjang, ketika ingin rebahan dan golok akan disimpan, kembali saya meminta agar golok tersebut bisa diberikan kepada saya sebagai kenang-kenangan. Saya katakan, "Bahwa saya ingin golok yang dari tangan orang Baduy Dalam, bukan beli golok yang didagangkan". Hatak menatap saya, lalu sambil tersenyum ia menganggukkan kepalanya tanda ia setuju, lalu saya tanya, "Berapa harganya?". Dengan senyum dia menjawab, "150 ribu, tapi 100 ribu saja sama Bapak". Alhamdulillaah, akhirnya saya juga membeli beberapa kerajinan Baduy, seperti Koja dan Langkan Putih yang merupakan ciri khas Baduy Dalam dengan tidak ada satupun barang yang saya tawar harganya.
Demikianlah gambaran singkat dari orang Baduy Dalam, mereka juga tidak berternak Sapi dan Kambing, bahkan mereka tidak boleh memakan daging Kambing sampai sekarang. Dalam hal pernikahan, mereka kebanyakan dijodohkan oleh orang tuanya sesama orang Baduy Dalam, bisa satu kampung Cikeusik, atau dengan kampung Baduy Dalam lainnya, yaitu kampung Cibeo dan kampung Cikertawarna. Karena ternyata Baduy Dalam itu terdiri dari tiga kampung, dan kampung Cikeusik adalah kampung yang tertua. Warga Baduy Dalam tidak boleh menikah dengan orang luar, kalaupun terjadi maka ia harus keluar dari Baduy Dalam dan tidak lagi diakui sebagai orang Baduy Dalam, meskipun itu sangat sulit bisa terjadi.
Tak terasa saking asik berbincang, malam semakin larut, saya pun sudah bersiap untuk merentangkan tubuh, tiba- tiba ada suara dari luar yang memberitahukan bahwa barusan ada warga Baduy yang meninggal. Saya pun bergegas keluar, bersama dengan salah seorang Wakil Talqin kami meluncur ke kediaman yang terkena musibah walau hanya berdiri di depan rumah. Terdengar suara tangisan pilu yang menyayat hati, sementara warga Baduy berkerumun di dalam rumah sampai ke teras rumah, mereka hanya duduk dan diam. Kami pun demikian hanya diam menatap jauh di dalam lubuk hati, muncul rasa iba dan kasihan dengan orang Baduy yang karena keluguannya, mereka tidak mengenal ajaran Islam, agama samawi yang diturunkan oleh Alloh SWT. sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Ditengah lamunanku, tiba-tiba ada suara halus menyapaku, "Eh bapak kesini juga", spontan saya menoleh, tenyata Hatak yang menyapaku. "Iya, barangkali bisa meringankan", jawabku. "Sudah, Bapak pulang saja istirahat, tidak apa-apa", katanya sembari mengantarkan kami pulang ke rumah.
Kali ini aku benar-benar merebahkan punggung untuk tidur, masih terdengar sayup-sayup suara tangisan memecah keheningan malam, sesekali terdengar lolongan anjing menggonggong, memang dengan suasana di kampung yang sunyi dan temaram seperti ini, malam terasa cepat larut, kemudian kami pun tertidur. Tengah malam aku terbangun, karena mendengar percakapan dua orang ikhwan dengan Hatak dan Jamak, ternyata mereka masih belum tidur, aku melihat jam di tanganku menunjukkan pukul setengah satu. Terasa damai, cuaca sejuk dan tidak ada nyamuk membuatku tertidur kembali. Menjelang dini hari aku terbangun, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 03 dini hari. Kuambil dua gelas air aqua, kemudian aku keluar, tak satupun terlihat ada orang di luar, diteras aku mengambil air wudhu dari gelas aqua, belum selesai terdengar rombongan di rumah sebelah keluar dengan membawa senter untuk ke kali, dan aku pun akhirnya ikut ke Kali.
Sepulang dari Kali aku bergegas melaksanakan qiyamul lail sambil menunggu waktu shubuh tiba. Kamipun kembali berjamaah sholat shubuh, selesai dzikir kemudian tawajuh menunggu waktu isro' tiba, setelah isro', istiadzah, istikhoroh dan isti'anah, lalu lanjut dengan sholat dhuha. Jam sudah menunjukkan pukul 07 pagi, kami pun bermushofahah. Melihat rangkaian ibadah amailyah yang kami lakukan sudah selesai, kembali Hatak mempersilahkan kami untuk sarapan yang sudah disiapkan dengan menu yang sama yaitu nasi sebakul dan sepiring ikan asin. Sedang aku sendiri sejak siang sampai dengan pagi ini tidak terasa lapar sehingga aku tidak ikut makan, melainkan hanya makan sebuah roti tawar yang aku bawa.
Menjelang jam 08 pagi, kamipun bergegas menuju Huma lokasi yang akan diadakan manaqiban. Menyusuri jalan yang berada di belakang kampung dengan hutan lebat, setelah melalui jalanan yang menanjak bukit, sampailah kami di lokasi huma, dimana di sana telah menunggu Oyot Jaro masyarakat Baduy. Setelah kumpul kami pun mulai melaksanakan amaliyah manaqib yang dihadiri oleh kurang lebih 145 orang. Selesai manaqib kami semua kembali ke kampung untuk makan siang dan beramah tamah dengan masyarakat Baduy, terutama kafilah-2 yang belum berinteraksi dengan masyarakat Baduy. Saat interaksi dengan masyakat Baduy inilah, entah mengapa aku merasa menjadi tuan rumah, membantu mengawasi dagangan kerajinan orang Baduy agar tidak hilang. Banyak yang melihat dagangan, ada yang membeli ada yang cuma melihat-lihat. Ada juga yang karena ketidaktahuannya setengah memaksa untuk memiliki barang pribadi yang dipakai oleh warga Baduy. Terlihat jelas sebuah ketamakan, keserakahan nafsu, juga sebaliknya juga juga terlihat keindahan akhlak, kesemuanya dipertontonkan, seperti beberapa ikhwan dan akhwat yang dengan penuh perhatian memberikan hadiah berupa uang dan makanan kepada masyarakat Baduy, "Ini ada uang mohon diterima, khawatir yang lain lupa", ujar seorang ibu-ibu tua kepada salah seorang istri warga Baduy. Alhamdulillaah, mata ini diperlihatkan oleh-Nya sehingga mampu melihat bermacam-macam peristiwa, yang kesemuanya mengandung pelajaran yang berharga.
Saya memaknai perjalanan ini adalah bagian dari proses belajar disamping berdakwah. Sebagaiman Firman Alloh SWT. :
Yaa ayyuhannaasu, innaakholaqnaakum min dazakin wa untsaa. Waja'alnaakum syubuuan wa qobaa ila lita'aarofuu. Innaa akroomakum indallohi atqookum. Innalloha haliimun khobiirun
Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.

Yah, adanya perbedaan suku dan bangsa, ada yang berbadan besar dan kecil, ada kulitnya putih ada yang hitam, rambut yang lurus dan rambut keriting, bahasa yang bemacam-macam, geografi yang berlainan, kesemuanya itu agar kita saling mengenal satu sama lainnya. Mengenal dalam arti kita saling menyapa, memahami adat-istiadat, keperibadian, budaya kehidupan sehari-hari untuk salaing belajar. Namun yang lebih mulia di Sisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa diantara manusia. Taqwa itu karena sudah ada iman di dalam dada. "Attaqwa hahuna" (Taqwa itu di sini). Orang-orang yang bertaqwa lah yang menjadi sebaik-baik golongan atau umat, sebagaimana Firman Alloh SWT. :
Kuntum khoiru ummatin ukhrijat linnaasi, ta'muruuna bil ma'ruuf wa tanhauna 'anilmunkari wa tu'minu billaahi.
Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh.

Boleh jadi orang sudah beramal ma'ruf dan bernahi munkar, tetapi ia tidak beriman kepada Alloh, sebaliknya ia sudah beriman kepada Alloh akan tetapi masih belum tampak yang ma'ruf dan juga tidak mencegah dari yang munkar. Sehingga kita belum bisa dikategorikan sebagai umat yang terbaik di antara umat di dunia ini. Islam tidaklah hanya sekedar ajaran Tauhid, tetapi juga menyangkut masalah syariat dan ihsan. Ketiga-tiganya harus tampil di dalam diri seorang mu'min yang sejati. Ihsan adalah akhlak, yaitu akhlak kepada Alloh, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlaq kepada lingkungan. Akhlak kepada Alloh (Hablumminalloh), yaitu semua rangkaian aktivitas ibadah vertikal menyembah Alloh seakan-akan melihat-Nya, jika tidak mampu melihat maka engkau dilihat oleh-Nya. Akhlak kepada sesama manusia (Hablumminannaas), yaitu hubungan baik dengan sesama manusia. Hidup rukun dan damai, salaing harga menghargai, hormat menghormati, bergotong royong, tidak timbul kekecewaan dan keretakan, tetapi janganlah ikut campur. Akhlak kepada lingkungan, yaitu menjaga alam sebagai anugerah Alloh, tidak merusak.
Sebagaimana Firman Alloh SWT. :
Tusabbihuu lahussamaa waatissab'u wal ardhu. Wa inmin syai-in yusabbihuu bihamdihii. Walaa killaa tafqohuuna tasbiihahum. Innahuu kaana haliiman ghofuuron.
Tujuh petaka langit, bumi dan apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Alloh Maha penyantun lagi Maha Pengampun.

Pendek kata, akhlak yang baik itu ialah, Alloh hadir di setiap aktivitas perbuatan kita, baik saat beribadah kepada Alloh maupun saat sedang bermu'amalah kepada sesama manusia dan lingkungan. Sabda Rosululloh Saw. "Sebaik-baik umatku ialah yang paling baik akhlaknya". Dan orang yang paling sempurna akhlaknya ialah Nabi Muhammad Saw. 
Firman Alloh SWT. :
"Wainnaka khuluqul 'azhiim"
Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berbudi pekerti yag agung

Maka kalau ingin mencontoh akhlak yang baik ialah, contohlah akhlak Rosululooh Saw. Sebagaimana Firman AllohSWT. :
"Laqodkaana lakum fii rosuulillaahi ustwatun hasanah. Laman kaana yarjulloha wal yaumil aakhiro wadzaakarolloha katsiiron"
Sungguh pada diri Rosululloh itu terdapat suri tauladan yang baik, bagi orang yang senantiasa menggantungkan diri kepada Alloh dan percaya pada hari akhir dan dia banyak menyebut Alloh.

Mencontoh Rosululloh Saw. itu tidak hanya sekedar informasi, akan tetapi harus disertai dengan praktek. Kita butuh Figur yang sudah mencontoh Rosul, yaitu orang yang melihat Rosul, dan orang yang melihat orang yang melihat Rosul, dan orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihat Rosul, terus hingga sampai dengan sekarang. Siapakah mereka? Mereka ialah; Sahabat, Tabi'in, Tabi'it Tabi'in dan seterusnya sampai kepada khalifah yang mursyid. Alhamdulillaah, kita sudah mendapatkan seorang Guru yang Mursyid, yang senantiasa membimbing kita secara dhohir dan batin untuk wushul kepada Alloh. Karena hanya orang yang mendapat petunjuklah yang dapat bertemu dengan Mursyid.
Sebagaiman Firman-Nya :
Man yahdhillaahu fa huwal muhtadi, waman yudhlil falan tajida lahuu walyan mursyidan
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Catatan singkat di Bumi Baduy Dalam, 9-10 September 2017
Mahmud J. Al Maghribaen"TEMALAM DI BUMI BADUY DALAM"
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger