Latest Post
03.23
Read more: http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/06/tentang-tahlilan-hari-ke-3ke-7-atau-ke.html#ixzz2Sh9ySa2L
Tentang Tahlilan
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 08 Mei 2013 | 03.23
TENTANG TAHLILAN HARI KE-3,KE-7 atau KE-40 apakah Bid'ah?
POSTED BY SURIYANTO ALMALIKI POSTED ON JUMAT, JUNI 22, 2012 WITH 19 COMMENTS
(Dokumen no.214 Pertanyaan Ani Sumarni):
Teman-teman bagaimana pendapat anda tentang kebiasaan masyarakat qt yg suka mengadakan tahlil/membaca yasin di rumah orang yg baru saja mengalami duka krn sanak saudarax meninggal dunia, biasax peringatanx pd hari ke 3 ke 7 atau ke 40 hrx, ada yg mengatakan itu bid'ah mhn pendapatnya!
Wahyu Pratama :
Budaya selamatan setelah hari kematian seseorang dengan tahlilan dan walimahan—baik dalam 7 hari, 40 hari, 100 hari atau 1000 hari—adalah salah satu budaya masyarakat Nahdhiyyin di Indonesia yang sangat diingkari oleh kaum Wahhabi dan yang sefaham dengannya serta dituduh sebagai budaya bid’ah dan sesat. Berbagai buku yang bermuatan kritik dan hinaan terhadap budaya tersebut banyak ditulis oleh orang-orang menisbatkan dirinya penganut faham salaf atau Wahhabi. Mereka juga mengatakan dan memberi bukti tuduhannya bahwa budaya tersebut adalah warisan budaya agama Hindu, terbukti dengan diadakannya konggres yang dilakukan oleh petinggi-petinggi umat Hindu se-Asia pada tahun 2006 di Lumajang, Jawa Timur. Dan salah satu point pembahasannya adalah membicarakan tentang ungkapan syukur atas keberhasilan menyebarkan budaya acara-acara setelah kematian seperti 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari. (Lihat buku Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah Para Wali, karangan H. Mahrus Ali ) Berikut ini, akan kami kupas hadits dan dalil tentang melaksanakan budaya di atas. Jawaban tentang masalah ini kami ambil dari kitab Qurrah al-’Ain bi Fatawi Isma’il Zain al-Yamani halaman 175 cetakan Maktabah al-Barakah dan kitab al-Hawi lil Fatawi karya al-Hafizh Jalaluddin as-Suyuthi juz 2 halaman 179 cetakan Darul Kutub, Bairut.
Syaikh Isma’il Zain al-Yamani menulis sebagai berikut (kami kutib secara garis besar): Dalam Sunan Abu Dawud hadits nomer 2894 dituliskan:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ أَخْبَرَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَجُلٍ مِنْ اْلأَنْصَارِ قَالَخَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْقَبْرِ يُوصِي الْحَافِرَ أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رِجْلَيْهِ أَوْسِعْ مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَلَمَّا رَجَعَ اسْتَقْبَلَهُ دَاعِي امْرَأَةٍ فَجَاءَ وَجِيءَ بِالطَّعَامِ فَوَضَعَ يَدَهُ ثُمَّ وَضَعَ الْقَوْمُ فَأَكَلُوا فَنَظَرَ آبَاؤُنَا رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَيَلُوكُ لُقْمَةً فِي فَمِهِ ثُمَّ قَالَ أَجِدُ لَحْمَ شَاةٍ أُخِذَتْ بِغَيْرِ إِذْنِ أَهْلِهَا فَأَرْسَلَتْ الْمَرْأَةُ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَرْسَلْتُ إِلَى الْبَقِيعِ يَشْتَرِي لِي شَاةً فَلَمْ أَجِدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى جَارٍ لِي قَدْ اشْتَرَى شَاةً أَنْ أَرْسِلْ إِلَيَّ بِهَا بِثَمَنِهَا فَلَمْ يُوجَدْ فَأَرْسَلْتُ إِلَى امْرَأَتِهِ فَأَرْسَلَتْ إِلَيَّ بِهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَطْعِمِيهِ اْلأُسَارَى “Muhammad bin al-‘Ala’ menceritakan dari (Abdullah) bin Idris dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya (Kulaib) dari seorang laki-laki Anshar (shahabat), berkata: ‘Aku keluar bersama Rasulallah berta’ziyah ke salah satu jenazah. Selanjutnya aku melihat Rasulallah di atas kubur berpesan kepada penggali kubur (dengan berkata): ‘Lebarkanlah bagian arah kedua kaki dan lebarkan pula bagian arah kepala!’ Setelah Rasulallah hendak kembali pulang, tiba-tiba seseorang yang menjadi pesuruh wanita (istri mayit) menemui beliau, mengundangnya (untuk datang ke rumah wanita tersebut). Lalu Rasulallah pun datang dan diberi hidangan suguhan makanan. Kemudian Rasulallah pun mengambil makanan tersebut yang juga diikuti oleh para shahabat lain dan memakannya. Ayah-ayah kami melihat Rasulallah mengunyah sesuap makanan di mulut beliau, kemudian Rasulallah berkata: ’Aku merasa menemukan daging kambing yang diambil dengan tanpa izin pemiliknya?!’ Kemudian wanita itu berkata: ’Wahai Rasulallah, sesungguhnya aku telah menyuruh untuk membeli kambing di Baqi,[1] tapi tidak menemukannya, kemudian aku mengutus untuk membeli dari tetangga laki-laki kami dengan uang seharga (kambing tersebut) untuk dikirimkan kepada saya, tapi dia tidak ada dan kemudian saya mengutus untuk membeli dari istrinya dengan uang seharga kambing tersebut lalu oleh dia dikirimkan kepada saya.’ Rasulallah kemudian menjawab: ’Berikanlah makanan ini kepada para tawanan!’” Hadits Abu Dawud tersebut juga tercatat dalam Misykah al-Mashabih karya Mulla Ali al-Qari bab mukjizat halaman 544 dan tercatat juga dalam as-Sunan al-Kubra serta Dala’il an-Nubuwwah, keduanya karya al-Baihaqi.
Komentar Syaikh Ismail tentang status sanad hadits di atas, beliau berkata bahwa dalam Sunan Abu Dawud tersebut, Imam Abu Dawud diam tidak memberi komentar mengenai statusnya, yang artinya secara kaidah (yang dianut oleh ulama termasuk an-Nawawi dalam mukaddimah al-Adzkar) bahwa hadits tersebut boleh dibuat hujjah, artinya status haditsnya berkisar antara hasan dan shahih. Al-Hafizh al-Mundziri juga diam tidak berkomentar, yang artinya bahwa hadits tersebut juga boleh dibuat hujjah. Perawi yang bernama Muhammad bin al-‘Ala’ adalah guru Imam al-Bukhari, Muslim dan lain-lain dan jelas termasuk perawi shahih. Abdullah bin Idris dikomentari oleh Ibnu Ma’in sebagai perawi tsiqah dan di katakan oleh Imam Ahmad sebagai orang yang tidak ada duanya (nasiju wahdih). Sementara ‘Ashim, banyak yang komentar dia adalah perawi tsiqah dan terpercaya, haditsnya tidak mengapa diterima, orang shalih dan orang mulia penduduk Kufah. Sedangkan laki-laki penduduk Madinah yang di maksud adalah shahabat Nabi yang semuanya adalah adil tanpa ada curiga sama sekali. Dari keterangan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa hadits di atas adalah hadits hasan yang bisa dibuat hujjah.
Sedangkan dari sisi isinya, hadits tersebut mengandung beberapa faidah dan hukum penting, di antaranya: v Menunjukkan mukjizat Rasulallah yang dapat mengetahui haram tidaknya sesuatu tanpa ada seseorang yang memberi tahu. Oleh karena itu, al-Baihaqi dalam Dala’il an-Nubuwwah menyebutkan hadits ini dalam bab Mukjizat. v Jual belinya seseorang yang bukan pemilik atau wakil (bai’ fudhuli) adalah tidak sah dan bathil. Oleh karennya, Abu Dawud menyebutkan hadits ini dalam Sunan-nya di bagian bab Jual Beli. v Akad yang mengandung syubhat seyogianya dihindari agar tidak jatuh pada limbah keharaman. v Diperbolehkannya bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimah dan mengundang orang lain untuk hadir memakannya. Bahkan, jika difahami dari hadits tersebut, melakukan walimah tersebut adalah termasuk qurbah (ibadah). Sebab, adakalanya memberi makan bertujuan mengharapkan pahala untuk si mayit -termasuk utama-utamanya qurbah- serta sudah menjadi kesepakatan bahwa pahalanya bisa sampai kepada mayit. Mungkin pula bertujuan menghormati tamu dan niat menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah agar tidak lagi larut dalam kesedihan. Baik jamuan tersebut dilakukan saat hari kematian, seperti yang dilakukan oleh istri mayit dalam hadits di atas, atau dilakukan di hari-hari berikutnya. (Mungkin maksud Syaikh Ismail adalah hari ke-7, 40, 100 dan 1000).
Hadits di atas juga di nilai tidak bertentangan dengan hadits masyhur berikut: إِصْنَعُوا لِآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُنَّ مَا يُشْغِلُهُنَّ أَوْ أَتَاهُمْ مَا يُشْغِلُهُمْ “Buatlah makanan untuk keluarga Ja‘far, karena anggota keluarga yang wanita sedang sibuk atau anggota keluarga laki-laki sedang sibuk.”
Menurut Syaikh Isma‘il, hadits tersebut (keluarga Ja'far) ada kemungkinan (ihtimal) khusus untuk keluarga Ja‘far, karena Rasulallah melihat keluarga Ja‘far tersebut sedang dirundung duka sehingga anggota keluarganya tidak sempat lagi membuat makanan. Kemudian Rasulallah menyuruh anggota keluarga beliau untuk membuatkan makanan bagi keluarga Ja‘far. Selain itu juga, tidak ada hadits yangsharih (jelas) yang menjelaskan bahwa Rasulallah melarang bagi keluarga mayit membuat hidangan atau walimahan untuk pentakziyah. Pernyataan ini dikuatkan dengan riwayat dalam Shahih al-Bukhari dari Aisyah:
عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ إِذَا مَاتَ الْمَيِّتُ مِنْ أَهْلِهَا فَاجْتَمَعَ لِذَلِكَ النِّسَاءُ ثُمَّ تَفَرَّقْنَ إِلاَّ أَهْلَهَا وَخَاصَّتَهَا أَمَرَتْ بِبُرْمَةٍ مِنْ تَلْبِينَةٍ فَطُبِخَتْ ثُمَّ صُنِعَ ثَرِيدٌ فَصُبَّتْ التَّلْبِينَةُ عَلَيْهَا ثُمَّ قَالَتْ كُلْنَ مِنْهَا فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ التَّلْبِينَةُ مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيضِ تَذْهَبُ بِبَعْضِ الْحُزْنِ
“Dari Aisyah, istri Rasulallah, ketika salah satu keluarganya ada yang meninggal, para wanita-wanita berkumpul dan kemudian pergi kecuali anggota keluarganya dan orang-orang tertentu. Kemudian beliau memerintahkan untuk membawakannya periuk berisi sup yang terbuat dari tepung yang dicampuri dengan madu kemudian dimasak. Kemudian dibuatlah bubur sarid dan sup tadi dimasukkan ke dalam bubur tersebut. Lalu beliau berkata: ‘Makanlah makanan ini karena aku mendengar dari Rasulallah bersabda bahwa bahwa sup dapat melegakan hati orang yang sedang sakit; menghilangkan sebagian kesusahan.” Orang yang mengerti kaidah syari’at berpandangan bahwa walimah yang dibuat oleh keluarga mayit adalah tidak dilarang selama mereka membuat walimah tersebut karena taqarrub kepada Allah, menghibur keluarga yang sedang mendapat musibah dan menghormat para tamu yang datang untuk bertakziyah. Tentunya, semua itu jika harta yang digunakan untuk walimah tersebut tidak milik anak yatim, yakni jika salah satu keluarga yang ditinggalkan mayit ada anak yang masih kecil (belum baligh).
Adapun menanggapi perkataan (hadits) al-Jarir bin Abdillah yang mengatakan bahwa berkumpul dengan keluarga mayit dan membuatkan hidangan untuk mereka adalah termasuk niyahah (meratapi mayit) yang diharamkan, Syaikh Isma‘il memberi jawaban: “Maksud dari ucapan Jarir tersebut adalah mereka berkumpul dengan memperlihatkan kesedihan dan meratap. Hal itu terbukti dari redaksi ucapan Jarir yang menggunakan kata niyahah. Hal itu menunjukkan bahwa keharaman tersebut dipandang dari sisi niyahah dan bukan dari berkumpulnya. Sedangkan apabila tidak ada niyahah tentu hal tersebut tidak di haramkan.” Sedangakan menjawab komentar ulama-ulama yang sering digunakan untuk mencela budaya di atas[2] (tentang hukum sunah bagi tetangga keluarga mayit membuat atau menyiapkan makanan bagi keluarga mayit sehari semalam) yang dimaksudkan adalah obyek hukum sunah tersebut adalah bagi keluarga mayit yang sedang kesusahan seperti yang dialami keluarga Ja‘far. Oleh karena itu, tidak ada dalil tentang hukum makruh membuat walimah oleh keluarga mayit secara mutlak kecuali dari (memahami) hadits keluarga Ja‘far dan hadits Jarir di atas. Ada kemungkinan juga ulama-ulama tersebut belum pernah melihat hadits ‘Ashim di atas yang menerangkan tentang bolehnya membuat walimah bagi keluarga mayit. Al-‘Allamah Mulla Ali al-Qari mengatakan: “Zhahir dari hadits ‘Ashim tersebut menentang apa yang diputuskan oleh para ulama kita (ashhabuna) tentang dimakruhkannya membuat walimah di hari pertama, ketiga atau setelah seminggu.”
Adapun dalil bahwa pahala shadaqah yang dihadiahkan kepada mayit itu sampai kepadanya adalah riwayat al-Bukhari dari Aisyah:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
“Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah Saw.: ‘Ibu saya telah meninggal, dan aku berprasangka andai dia bisa berbicara pasti dia akan bersedekah, maka apakah dia mendapat pahala jika aku bersedekah untuknya?’ Rasulallah menjawab: ‘Benar.’”
Hadits shahih ini adalah hujjah tentang pahala shadaqah yang sampai kepada mayit. Maka dari itu, pembaca jangan terperdaya dengan ‘pandangan’ H. Mahrus Ali dalam bukunya yang berjudul Mantan Kyai NU Menggugat Tahlilan, Istighatsahan dan Ziarah para Wali. Mahrus Ali mengatakan bahwa hadits-hadits tentang pahala shadaqah tersebut adalah dha‘if dan secara isyarah dia melemahkan hadits shahih al-Bukhari di atas. Sungguh brutal dan ‘ngawur’ sekali! Bukan dalang tapi mendalang. Bukan ahli hadits tapi menilai hadits. Apalagi sampai mendhaifkan hadits dalam shahih Bukhari yang mempunyai sanad (bukan mu’allaq) dan sudah menjadi kesepakatan ulama termasuk hadits shahih.
Fatwa as-Suyuthi: Terdapat keterangan ulama bahwa mayit difitnah (ditanya malaikat Munkar dan Nakir) di dalam kuburnya adalah selama 7 hari (setelah hari penguburan) sebagaimana tersirat dalam hadits yang dibawakan oleh beberapa ulama. Hadits yang dibuat landasan tersebut adalah: Hadits riwayat Ahmad dalam az-Zuhd dari Thawus. Hadits riwayat Abu Nu’aim al-Ashbahani dari Thawus. Hadits riwayat Ibnu Juraij dalam al-Mushannaf dari ‘Ubaid bin ‘Umair (sebagian berkomentar dia adalah pembesar tabi’in dan sebagian yang lain mengatakan dia seorang shahabat). Al-Hafizh Ibnu Rajab menisbatkan pada Mujahid dan ‘Ubaid bin ‘Umair.
Hadits-hadits tersebut adalah: قَالَ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي كِتَابِ الزُّهْدِ لَهُ حَدَّثَنَا هَاشِمٌ بْنُ اْلقَاسِمِ قَالَ ثَنَا اْلأَشْجَعِي عَنْ سُفْيَانَ قَالَ قَالَ طَاوُوسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعِمُوا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ قَالَ الْحَافِظُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ بْنِ مَالِكٍ ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ ابْنُ حَنْبَلَ ثَنَا أُبَيُّ ثَنَا هَاشِمٌ بْنُ الْقَاسِمِ ثَنَا اْلأَشْجَعِي عَنْ سُفْيَانَقَالَ قاَلَ طَاوُوسُ إِنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامَ ذِكْرُ الرِّوَايَةِ الْمُسْنَدَةِ عَنْ عُبَيْدٍ بْنِ عُمَيْرٍ: قاَلَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مَصَنَّفِهِ عَنِ الْحَارِثِ ابْنِ أَبِي الْحَارِثِ عَنْ عُبَيْدٍ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ يُفْتَنُ رَجُلاَنِ مُؤْمِنٌ وَمُنَافِقٌ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ فَيُفْتَنُ سَبْعًا “Imam Ahmad dalam az-Zuhd berkata: ‘Hasyim bin Qasim bercerita kepadaku dari al-Asyja‘i dari Sufyan dari Thawus, dia berkata: Sesungguhnya mayit di dalam kuburnya terfitnah (ditanyai Malaikat Munkar dan Nakir) selama 7 hari. Dan mereka menganjurkan supaya membuat (walimahan) dengan memberi makan (orang-orang), (yang pahalanya dihadiahkan) untuk si mayit tersebut di hari-hari tersebut.”Selanjutnya hadits riwayat berikutnya adalah sama secara makna.
Sebelum membahas isi dari hadits ini, marilah kita bahas terlebih dahulu diri sisi sanadnya, sehingga kita akan tahu layak dan tidaknya hadits ini untuk dibuat hujjah. Perawi-perawi hadits yang pertama adalah shahih dan Thawus adalah termasuk pembesar tabi’in. Hadits yang diriwayatkan dan tidak mungkin dari hasil ijtihad shahabat atau tabi’in hukumnya adalah marfu’ bukan mauquf, seperti hadits yang menerangkan tentang alam barzakh, akhirat dan lain-lain sebagaimana yang sudah maklum dalam kaidah ushul hadits. Atsar Thawus tersebut adalah termasuk hadits marfu’ yang mursal dan sanadnya shahih serta boleh dibuat hujjah menurut Abu Hanifah, Malik dan Ahmad secara mutlak tanpa syarat. Sedangkan menurut asy-Syafi‘i juga boleh dibuat hujjah jika ada penguat seperti ada riwayat yang sama atau riwayat dari shahabat yang mencocokinya. Syarat tersebut telah terpenuhi, yaitu dengan adanya riwayat dari Mujahid dan ‘Ubaid bin ‘Umair dan keduanya seorang tabi’in besar (sebagian mengatakan ‘Ubaid adalah shahabat Rasulallah). Dua hadis riwayat selanjutnya adalah hadits mursal yang menguatkan hadits mursal di atas. Menurut kaidah ushul, kata-kata “mereka menganjurkan memberi makan di hari-hari itu” adalah termasuk ucapan tabi’in. Artinya, kata “mereka” berkisar antara shahabat Rasulallah, di zaman Rasulallah, dan beliau taqrir (setuju) terhadap prilaku tersebut atau artinya adalah shahabat tanpa ada penisbatan sama sekali kepada Rasulallah. Ulama juga berselisih apakah hal itu adalah ikhbar (informasi) dari semua shahabat yang berarti menjadi ijma’ atau hanya sebagian dari shahabat saja. Dari hadits di atas dapat difahami dan digunakan sebagai: Dasar tentang i’tiqad bahwa fitnah kubur adalah selama 7 hari. Penetapan hukum syara' tentang disunahkannya bershadaqah dan memberi makan orang lain di hari-hari tersebut. Serta, dapat dijadikan dalil bahwa budaya memberi makan warga Nahdhiyyin saat hari pertama sampai hari ketujuh dari hari kematian adalah terdapat dalil yang mensyariatkannya. As-Suyuthi juga mengatakan: “Sunah memberi makan selama 7 hari tersebut berlaku sampai sekarang di Makkah dan Madinah, dan secara zhahirnya hal itu sudah ada dan tidak pernah ditinggalkan masyarakat sejak zaman shahabat sampai sekarang. Dan mereka mengambilnya dari salaf-salaf terdahulu.” Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Abul Fath Nashrullah bin Muhammad bahwa Nashr al-Maqdisi wafat di hari Selasa tanggal 9 Muharram tahun 490 hijriyyah di Damaskus dan kami menetap di makamnya selama 7 hari membaca al-Qur’an sebanyak 20 khataman. Adapun melakukan acara 40 hari, 100 hari atau 1000 hari dari kematian dengan melakukan tahlilan dan bershadaqah memang tidak ada dalil yang mengatakan sunah. Namun demikian, melakukan budaya tersebut diperbolehkan menurut syariat. Dan seyogianya bagi yang mengadakan acara tersebut tidak mengi’tiqadkan bahwa hal tersebut adalah sunnah dari Rasulallah, tetapi cukup berniat untuk bershadaqah dan membacakan Al-Qur’an, yang mana pahalanya dihadiahkan kepada mayit, sebagaimana keterangan di atas. Sedangkan untuk menanggapi syubhat dari H. Mahrus Ali yang mengatakan bahwa tahlilan kematian dan budaya 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari adalah budaya Hindu dan melakukannya adalah syirik karena menyerupai orang kafir (dia juga membawakan hadits tentang tasyabbuh riwayat ath-Thabarani dan Abu Dawud), kami menjawab sebagai berikut:
Sebagian dari pernyataannya tentang acara selamatan 7 hari yang katanya adalah merupakan salah satu dakwah (ajaran syari’at) umat Hindu sudah terbantah dengan hadits-hadits di atas. Andai anggapan tersebut benar adanya, bahwasannya budaya walimah kematian 7 hari, 40 hari dan sebagainya tersebut adalah bermula dari budaya warisan umat Hindu Jawa, sebagaimana yang di yakini oleh bebarapa Kyai dan ahli sejarah babat tanah Jawa, dan di saat ajaran Islam yang di bawa Wali Songo datang, budaya tersebut sudah terlanjur mendarah daging dengan kultur masyarakat Jawa kala itu. Kemudian dengan dakwah yang penuh hikmah dan kearifan dari para wali, budaya yang berisi kemusyrikan tersebut di giring dan di arahkan menjadi budaya yang benar serta sesuai dengan ajaran Islam, yaitu dengan diganti dengan melakukan tahlilan, kirim do’a untuk orang yang telah meninggal atau arwah laluhur dan bersedekah. Maka sebenarnya jika kita kembali membaca sejarah Islam bahwasannya methode dakwah wali 9 yang mengganti budaya Hindu tersebut dengan ajaran yang tidak keluar dari tatanan syariat adalah sesuai dengan apa yang di lakukan oleh Rasulallah yang mengganti budaya Jahiliyyah melumuri kepala bayi yang di lahirkan dengan darah hewan sembelihan dan diganti dengan melumuri kepala bayi dengan minyak zakfaron. Apa yang di lakukan Rasulallah tersebut tersirat dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, Abu Dawud dalam Sunan-nya, Imam Malik dalam al-Muwaththa’ dan al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubrayang semuanya di riwayatkan dari shahabat Abu Buraidah al-Aslami berikut: كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَّخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً وَنَحْلِقُ رَأْسَهُوَنَلْطَخُهُ بِزَعْفَرَانٍ “Saat kami masih hidup di zaman Jahiliyyah; saat salah satu dari kami melahirkan seorang bayi, maka kami menyembelih seekor kambing dan kepala bayi kami lumuri dengan darah kambing tersebut. Namun saat Allah mendatangkan Islam, kami menyembelih kambing, kami cukur rambut kepala bayi dan kami lumuri kepalanya dengan minyak zakfaron”
Read more: http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/06/tentang-tahlilan-hari-ke-3ke-7-atau-ke.html#ixzz2Sh9ySa2L
Label:
Kajian Tasawuf
23.21
Secuil Kisah Bersama KH. Uci Turtusi
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 07 Mei 2013 | 23.21
Pada malam itu, sehabis shalat Isya' berjamaah di Masjid, ketika keluar dari Masjid mau pulang, ada dua orang jamaah mengajak untuk pengajian, "Pengajian yuk, ada abah Uci dari Cilongok". Mendengar nama KH. Uci disebut, saya langsung tertarik, karena nama KH. Uci sudah sangat populer dikalangan umat Islam, khususnya di Tangerang dan sekitarnya.
Sebenarnya saya sudah sering mendengar nama beliau, baik dari ustadz maupun dari teman dan ikhwan, bahkan saya sering diajak agar mengikuti Majelis Beliau yang diadakan setiap hari Minggu pagi di Pesantren. Namun sampai dengan saat ini saya masih belum pernah dapat hadir dalam majelis beliau, akan tetapi meskipun saya belum sempat bersilaturahmi, saya merasa tidak asing dengan beliau, karena secara pemahaman saya memiliki banyak persamaan dengan ajaran beliau, sehingga mendengar ajakan tersebut saya langsung bersedia untuk datang ke pengajian.
Kamipun akhirnya berangkat menuju tempat pengajian yang letaknya lebih kurang empat kilometer dari kediaman saya. Setelah sampai di lokasi, ternyata lokasinya di sebuah Pondok Pesentren, di dalamnya sudah terdapat banyak jamaah, rupanya tuan rumah sedang mengadakan resepsi (hajatan). Kemudian kami dipersilahkan masuk dan menempati tempat yang telah disediakan. Tak berapa lama acara pun dimulai, dimulai dengan pembukaan oleh pembawa acara, pembawa acaranya sepertinya seorang ustadz yang sangat 'faseh' dalam membawa acara, setelah pembukaan dilanjutkan dengan ceramah pendahuluan oleh seorang Ustadz. Kemudian acara utamapun dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh tiga orang Qori secara duet dan tunggal. Bacaannya sangat indah dan enak sekali didengar, sehingga saya membatin, "subhanallah, saya sangat beruntung malam ini bisa hadir disini".
Waktu berjalan semakin larut, namun sang Kyai masih belum terlihat. Sampai kemudian, pembawa acara menyampaikan kalau KH. Uci sudah sampai di lokasi, namun masih kesulitan masuk ke area Pesantren karena jamaah yang berdesak-desakan. Tak berapa lama kemudian, mulailah terlihat rombongan memasuki area pesantren yang didahului masuknya para Santri yang cukup banyak, dan mengambil tempat (duduk) di depan. Sejenak kemudian terlihatlah KH. Uci Turtusi memasuki ruangan, memakai jubah putih, kudung putih, beliau terlihat agung berjalan dengan kawalan yang cukup ketat. Saya memutar pandangan ke sekeliling, terlihat jamaah 'bergejolak' berebut untuk dapat mendekati beliau untuk bersalaman.
Beliau langsung 'diamankan' ke dalam, sementara sang pembawa acara terus melantunkan shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW. Setelah suasana kondusif, barulah pembawa acara mempersilahkan KH. Uci untuk naik ke mimbar yang disana sudah tersedia kursi ukuran panjang, rupanya demikianlah gaya KH. Uci, ternyata setiap ceramah beliau lebih sering duduk bersila di atas kursi. Disaat beliau duduk, beliau menyibak-nyibakkan jubahnya dan membetulkan posisi kudungnya, terlihat oleh saya kulit lengan beliau yang putih mulus, seakan bercahaya. Saya membatin, "itulah kebersihan beliau yang senantiasa menjaga wudlu".
Terdengar suara yang berat dari beliau saat memulai ceramah, beliau memulai ceramah dengan membaca shalawat kepada kanjeng Nabi Muhammad SAW., yaitu shalawat Ibrahimiyah. Cukup lama shalawat dilantunkan yang diikuti oleh para jamaah, lantunan suara shalawat terdengar seakan mengelegar dimalam itu. Kemudian beliau melanjutkan ceramahnya, yang inti dari ceramah beliau adalah "Allah itu tergantung pada prasangka hamba-Nya". Dalam meyampaikan ceramahnya, beliau menyampaikannya dengan bercerita, suara beliau pun berubah-ubah menirukan lakon dalam cerita. Disini saya membatin kembali, "Beginilah kalau kakasih Allah berceramah, yang selalu sejuk untuk didengarkan". Dalam ceramah tersebut, beliau memakai bahasa Sunda khas beliau dalam berceramah. Anehnya saya dapat mengerti isi ceramahnya, meskipun saya tidak pandai dalam bahasa Sunda.
Selesai ceramah, beliau turun dari mimbar. Pada sat beliau turun terjadi lagi jamaah yang merangsek mendekati beliau untuk bersalaman, karena banyaknya jamaah, kemuadian beliau berkata, "Cukup, cukup, cukup ya..". Saya pun sedikit kecewa karena tidak sempat bersalaman dengan beliau. Kemudian beliau langsung meninggalkan lokasi untuk pulang beserta rombongan. Kami pun bersama jamaah lainnya secara berangsur-angsur bubar pulang ke rumah masing-masing. Diperjalanan, saya mendengar para ibu-ibu menirukan ucapan ceramah KH. Uci dengan maksud mengingatkan temannya. Saya melihat jamaah banyak sekali, membaur, baik anak-anak, remaja, bahkan ibu-ibu yang awam.
Dari pengalaman ini, saya teringat beberapa tahun yang lalu saya pernah berjumpa dengan dua orang Ulama, ketika itu saya merasakan 'sesuatu' seperti yang saya rasakan saat berjumpa dengan KH. Uci Turtusi dari Cilongok.
Label:
dunia islam
23.40
Susno Duadji Akhirnya Menyerahkan Diri
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 02 Mei 2013 | 23.40
Kejaksaan Agung pagi ini menggelar konferensi pers soal Susno.
ddd
Jum'at, 3 Mei 2013, 08:55Anggi Kusumadewi
Susno Duadji saat gagal dieksekusi Kejaksaan.(ANTARA/Agus Bebeng)
VIVAnews – Komisaris Jenderal Pol (Purn) Susno Duadji dikabarnya menyerahkan diri kepada Kejaksaan Agung, Jumat 3 Mei 2013. Susno telah menjadi buron selama empat hari terhitung Senin, 29 April 2013.
Terpidana kasus korupsi PT Salmah Arowana Lestari dan korupsi dana pengamanan Pilkada Jawa Barat 2008 itu masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) setelah menolak dieksekusi oleh tim gabungan jaksa yang mendatangi rumahnya di Bandung, Rabu 24 April 2013.
Kejaksaan Agung akan menjelaskan simpang-siur kabar soal penyerahan diri Susno ini,. “Kami akan konferensi pers jam 09.00 WIB pagi ini,” kata Wakil Ketua Kejaksaan Agung, Darmono.
Terpidana kasus korupsi PT Salmah Arowana Lestari dan korupsi dana pengamanan Pilkada Jawa Barat 2008 itu masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) setelah menolak dieksekusi oleh tim gabungan jaksa yang mendatangi rumahnya di Bandung, Rabu 24 April 2013.
Kejaksaan Agung akan menjelaskan simpang-siur kabar soal penyerahan diri Susno ini,. “Kami akan konferensi pers jam 09.00 WIB pagi ini,” kata Wakil Ketua Kejaksaan Agung, Darmono.
Seluruh pertanyaan soal Susno, kata dia, akan dijawab dalam jumpa pers di gedung Kejaksaan Agung.
Sebelumnya, Susno menolak untuk dieksekusi Kejaksaan dengan dua alasan. Pertama, tidak ada perintah pemidanaan atau penahanan di putusan Susno, baik di putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hingga Mahkamah Agung, sehingga hal ini menyalahi Pasal 197 ayat 1 huruf k Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Adapun keputusan MK yang menganulir Pasal 197 ia anggap tidak berlaku surut. Dengan demikian, menurut mantan kapolda Jabar itu, putusan MA atas Susno batal demi hukum.
Kedua, nomor perkara antara di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Mahkamah Agung berbeda. Di Pengadilan Tinggi, nomor perkara milik orang lain, tapi putusan perkara milik Susno. Maka jika jaksa eksekutor bersikukuh hendak melakukan eksekusi, Susno minta jaksa menempuh upaya Peninjauan Kembali atas putusan terhadapnya untuk mengoreksi putusan itu.
Senin malam di hari yang sama dengan penetapan dirinya menjadi buron, Susno tiba-tiba muncul dalam sebuah video rekaman di laman YouTube. Dalam rekaman tersebut, mantan Kabareskrim Polri itu mengatakan masih berada di Indonesia, tepatnya di daerah pemilihannya, Jawa Barat I. Susno membantah sengaja menghilang apalagi melarikan diri dari kejaran Kejaksaan dan Polri.
Susno mengatakan sengaja tidak muncul di muka umum untuk menghindari eksekusi liar oleh Kejaksaan Agung. Ia berpendapat, eksekusi jaksa di rumahnya di Bandung pada Rabu, 24 April 2013, dilakukan tanpa dasar hukum. “Jaksa telah mempertotonkan eksekusi tanpa dasar hukum. Putusan perkara semua batal demi hukum,” kata dia.
Sebelumnya, Susno menolak untuk dieksekusi Kejaksaan dengan dua alasan. Pertama, tidak ada perintah pemidanaan atau penahanan di putusan Susno, baik di putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hingga Mahkamah Agung, sehingga hal ini menyalahi Pasal 197 ayat 1 huruf k Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Adapun keputusan MK yang menganulir Pasal 197 ia anggap tidak berlaku surut. Dengan demikian, menurut mantan kapolda Jabar itu, putusan MA atas Susno batal demi hukum.
Kedua, nomor perkara antara di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan Mahkamah Agung berbeda. Di Pengadilan Tinggi, nomor perkara milik orang lain, tapi putusan perkara milik Susno. Maka jika jaksa eksekutor bersikukuh hendak melakukan eksekusi, Susno minta jaksa menempuh upaya Peninjauan Kembali atas putusan terhadapnya untuk mengoreksi putusan itu.
Senin malam di hari yang sama dengan penetapan dirinya menjadi buron, Susno tiba-tiba muncul dalam sebuah video rekaman di laman YouTube. Dalam rekaman tersebut, mantan Kabareskrim Polri itu mengatakan masih berada di Indonesia, tepatnya di daerah pemilihannya, Jawa Barat I. Susno membantah sengaja menghilang apalagi melarikan diri dari kejaran Kejaksaan dan Polri.
Susno mengatakan sengaja tidak muncul di muka umum untuk menghindari eksekusi liar oleh Kejaksaan Agung. Ia berpendapat, eksekusi jaksa di rumahnya di Bandung pada Rabu, 24 April 2013, dilakukan tanpa dasar hukum. “Jaksa telah mempertotonkan eksekusi tanpa dasar hukum. Putusan perkara semua batal demi hukum,” kata dia.
Label:
berita
23.39
Silaturahmi Ustadz Jefri Al Bukhori ke Abah Anom
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 01 Mei 2013 | 23.39
UJ, PENUHI UNDANGAN
PERNIKAHAN CUCU ABAH
Ustadz Jefry, yang kerap tampil di TV sebagai "Da'i Gaul" hadir dalam salah satu acara pernikahan cucu Pangersa Abah Anom. Seperti cucu-cucu Abah yang lainnya, rangkaian acara pernikahan sudah digelar beberapa hari sebelum hari H, Minggu, 27 Januari 2008. Seperti Hajat Kampung; mengundang semua warga kampung Godebag (Suryalaya) dengan memberikan nasi kotak, Marhabaan; membaca kitab al-Barjanji oleh ibu-ibu Bella Suryalaya, Mapag Mayang, Siraman, Seserahan, dll. UJ, tampil di panggung yang terletak di samping Pos Kamtib pada malam Sabtu, pukul 22.00 - 24.00 WIB. Dengan gaya Dakwahnya yang khas, UJ menyampaikan beberapa pesan dakwah yang diselingi beberapa buah lagu dari album-albumnya diiringi grup Marawis Nurul Falah, santri pondok pesantren Suryalaya. "Ibu-ibu kuat tiga jam?", tanya UJ ke ibu-ibu yang ingin terus mendengarkan tausiyahnya. "Kuat....", serempak ibu-ibu menjawab. Sejenak, hadirinpun terdiam, kemudian sadar sambil tertawa apa maksud "Ibu-ibu kuat 3 jam bersama UJ". "Masya Allah....", lanjut UJ.



Prosesi akad nikah
Abah membacakan do'a
Kedua pengantin Sungkeman kepada Abah dan Umi dilanjutkan kepada orang tua dan keluarga lainnya
Seperti biasa, akad nikah dilaksanakan di mesjid Nurul Asror sekitar pukul 08.45 WIB. dan resepsi pernikahannya di gedung Sukriya Bakti kampus Latifah Mubarokiyah Suryalaya hingga pukul 14.00 WIB. Bertindak sebagai wali, ayah kandung Irna sendiri, H. Didin Khidir Arifin, putera ke-4 Pangersa Abah Anom. Usai akad nikah, Pangersa Abah membacakan do'a untuk kedua mempelai Irna Nur Sufifi Sirnayati, SH (Cucu Abah) dan H. Muhammad Luthfi Dharmawan, S.Ked. (putera H. Iwan Dharmawan, SE.) jajaka dari Bandung.
PERNIKAHAN CUCU ABAH
Prosesi akad nikah
|
Abah membacakan do'a
|
Kedua pengantin Sungkeman kepada Abah dan Umi dilanjutkan kepada orang tua dan keluarga lainnya
|
Seperti biasa, akad nikah dilaksanakan di mesjid Nurul Asror sekitar pukul 08.45 WIB. dan resepsi pernikahannya di gedung Sukriya Bakti kampus Latifah Mubarokiyah Suryalaya hingga pukul 14.00 WIB. Bertindak sebagai wali, ayah kandung Irna sendiri, H. Didin Khidir Arifin, putera ke-4 Pangersa Abah Anom. Usai akad nikah, Pangersa Abah membacakan do'a untuk kedua mempelai Irna Nur Sufifi Sirnayati, SH (Cucu Abah) dan H. Muhammad Luthfi Dharmawan, S.Ked. (putera H. Iwan Dharmawan, SE.) jajaka dari Bandung.
Label:
berita

