Latest Post

Idul Fitri adalah Talqin Dzikir

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 24 Juli 2017 | 22.01

Mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin, bukanlah perkara yang bid'ah sebagaimana dituduhkan, melainkan ucapan itu adalah do'a, tidak ada salahnya berdo'a.
Kata Idul Fitri, ada yang mengartikannya hanyalah sebatas bahasa :

Aada, ya'uudu, 'id = Kembali
Afthoro, yufthiru, fitri = Berbuka

Berdasarkan pemahaman ini maka dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Idul Fitri itu artinya Kembali Berhari Raya, yaitu berbuka tidak lagi puasa. Pemahaman seperti ini tidaklah salah, akan tetapi sangat dangkal.

Adapun pemahaman yang kedua adalah Idul Fitri itu artinya Kembali Fitrah. Dan pemahaman seperti inilah yang banyak diyakini oleh umat Islam di Indonesia. Sebagaimana sabda Rosululloh Saw. "Kullu maulidin yuuladu 'alal fithroti. Fa abaawahu yuhawwida nihi, yunash shiro nihi, au yumaj jisa nihi". (Setiap bayi dilahirkan atas dasar fithrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashroni atau Majusi).
Fitrah juga disebut Islam sebagaimana Alloh Swt. Berfirman QS. Ar Ruum:30, "Fa aqim wajhaka liddiini haniifan. Fithrotallohil latii fataronnaasa 'alaiha. Laa tabdhiila li kholqillaah, dzaalikad diinul qoyyimu walaa kinna aktsaron naasi laa ta'lamuuna". (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui).
Demikianlah dijelaskan bahwa manusia sesungguhnya fitrah (suci), sebelum ia dilahirkan ia telah Berjanji untuk patuh dan tunduk kepada Alloh sebagaimana Firman Alloh dalam QS. Al 'A'raff:172, "Wa idz akhoda robbuka min banii aadama min zhuhuurihim dzurriy yatahum wa asyhadahum 'alaa anfusihim. Alastu birobbikum. Qooluu balaa syahidna. Anta quulu yaumal qiyaamati inaa kunna haadzaa ghoofiliina". (Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
Namun ketika manusia terlahir ke dunia kemudian ia menekuni kehidupan dunia, maka ia lupa kepada janjinya kepada Alloh, ia ingkar (kufur) kepada Alloh. Ia terlena dengan kehidupan dunia, ia sibuk mengejar dunia, padahal sesungguhnya ia seperti mengejar bayang-bayang (makin dikejar ia lari) atau ibarat meminum air di laut (semakin diminum semakin haus), itulah kehidupan dunia.
Demikianlah, maka setelah ditempa melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh di bilan Romadhon, diharapkan ia akan kembali suci seperti bayi baru dilahirkan. Itulah makna Minal 'Aidinal Faaizin. Sebagai mana Sabda Rosululloh Saw. Dari Salamah bin Abdurahman bin Auf, ayahku berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah SWT telah mewajibkan ibadah puasa Ramadhan, dan disunahkan untuk melakukan salat sunah, maka barang siapa mengerjakannya karena iman dan melakukan intropeksi, makan dia keluar dari dosa dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan".
Minal Aidin artinya Kembali, kembali kemana? Tentu bukan kembali berhari raya sebagimana pendapat pertama tadi, akan tetapi yang dimaksud adalah Kembali mengingat Perjanjian kita kepada Alloh setelah kita tersesat, yaitu Bertobat kepada Alloh dengan melaksanakan janji kita untuk taat kepada Alloh, "Innalladziina yubaayi'uunaka innamaa yubaayi'uunalloh yadullohi fauqo aidiihim. Faman nakatsa fainnama yan qusu'alaa nafsihii, waman aufaa bimaa aahada alaihulloh fasyau' tiihi ajron 'azhiima". (Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar).

Bagaiaman caranya agar kembali kepada Alloh? 
Caranya adalah dengan bertobat, bertaqwa dengan bertauhid kepada Alloh. 
Alloh Swt. Berfirman dalam QS. Ar Ruum:31, "Muniibiina ilaihi wattaquuhu wa aqiimush sholaata, walaa takuunu minal musrikiina". (Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakan sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh).

Bapak-bapak hadirin yang berbahagia, tobat itu butuh usaha gak? Tentu saja butuh! Kalau begitu bisa gak orang bertobat sendiri, tanpa belajar? 
Ketika orang bertobat tentu ia akan Belajar kembali kepada tuntunan Alloh. Belajar itulah yang disebut Datang kepada orang yang Telah Kembali. Alloh Swt. Berfirman dalam QS. An Nisa:64, "Wamaa arsalnaa min rosuulin illaa liyu thoo'a bi idznillaah. Walau annahum idz zholamuu anfusahum jaa- uka fastaghfarulloha was taghfaro lahumur rosuulu lawa jadulloha tawaabar rohiima". (Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).

Maka dari itu datangi pengajian, belajar, cari guru yang akan membimbing kita. "Wattabi' sabiila man anaaba ilayya" (Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku). (QS. Luqman:15).
Orang yang telah kembali yang harus kita ikuti, itulah Mursyid. Sehingga Orang yang mengikuti Mursyid itulah disebut orang yang bertobat dan mendapat petunjuk Alloh. "Man yahdhillaahu fahuwal muhtadi, waman yudhlil falan tajidalahuu waliyyan mursyiida" (Barangsiapa yang mendapatkan petunjuk maka ialah yang mendapat petunjuk. Barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh maka ia tidak akan mendapatkan orang yang memapu memberi petunjuk kepadanya". QS. Al Kahfi:17.

Kemudian Wal Faaizin, artinya Menang.
Di dalam Surat Al Hasyr:18-20, "Yaa ayyuhalladziina aamanut taqulloha wal tan zhur nafsummaa qoddamat lighod. Wattaqulloh innalloha khobiirun bimaa ta'maluuna. Wala takuunuukal ladziina nasulloha fa ansaahum an fusahum. Ulaa ika humul faasikuuna. Laa yastawii ash haabunnaari wa ash haabul jannati. Ash haabul jannati humul faaizuuna". (Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Alloh. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kalian seperti orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh membuat mereka lupa pada dirinya, mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga, penghuni surga itulah orang yang menang (beruntung).

Jalan taqwa itulah jalan Mursyid, mengapa? Karena Mursyidlah yang menunjukan letak taqwa itu dimana? "At Taqwa haahuna" (Taqwa itu di sini/qolbu). "Alaa inna fil jasaadi mudhghoh, idzaa sholuhat, sholuhal jasadu kulluhu, wa idzaa fasadat, fasadal jasadu kulluhu, 'alaa wahiyal qolbu". Hatinya baik maka baiklah seluruh jasadnya. Sehingga orang yang Baik itulah orang yang Taqwa. Orang yang taqwa ialah orang yang selalu Mengingat Alloh, baik secara Jahar (Nyata) maupun Khofi (sembunyi) Alloh mengetahuinya. Dengan dzikirnya itulah ia senantiasa Muhasabah (introspeksi) sehingga ia selalu merasa bersama (dilihat) Alloh (Muroqobah). Sebaliknya orang yang Lupa kepada Alloh itulah orang yang Fasik.
Nah itulah mengapa pengersa Abah Aos mengatakan, Idul Fitri itu adalah Talqin Dzikir, yaitu untuk mengingat kembali kepada Alloh. Tidak akan Idul Fitri kalau tidak ditalqin. Sama halnya tidak ketemu lay latul qodar kalau tidak ditalqin dzikir.
Man qoola Laa Ilaaha Illaloh dakholal jannah (Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh pasti masuk surga). Orang yang masuk surga itulah orang yang Faaiz (menang).

Mahmud J. Al Maghribaen
Manaqib MTQN Panongan, 23 Juli 2017

JANJI ALLOH ADALAH PASTI BUKAN INSYA ALLOH

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 22 Februari 2017 | 23.37

JANJI ALLOH ADALAH PASTI BUKAN INSYA ALLOH
Sejak akhir bulan Januari saya memang sangat suka dan sering sekali menceritakan Manqobah ke 15. Bukan kebetulan kalau Abah juga mengeluarkan Maklumat agar membaca Manqobah ini sebanyak 15 kali manaqib.
Ada seorang Sahabat saya ketika saya sampaikan hadits "Man qoola Laa Ilaaha Illalloh dakholatul jannah" (Barang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh Pasti masuk Surga). Saya katakan "PASTI", tapi Sahabat saya menjawab "Insya Alloh".
Lalu saya sampaikan Firman Alloh: "Innalloohas taroo minal mukminiina anfusahum wa amwalahum bi 'anna lahumul jannah".
Kemudian saya tanya, ayat tersebut menurut Bapak Insya Alloh atau Pasti. Beliau jawab, "Insya Alloh". Lalu saya sampaikan kembali Firman Alloh: "Waman aufa bi'ahdihii minallooh?"
Inilah sekelumit cerita tentang perjalanan Thoriqoh, seeorang tidak akan sampai ke tingkat "Haqqul yaqin" kepada Alloh jika tidak "Haqqul yaqin" kepada Guru Mursyid.
Diceritakan seorang Murid perempuan yg berprofesi sebagai Nelayan pergi melaut sambil membawa anaknya. Namun malang, anaknya tenggelam ke dasar laut. Perempuan itu adalah seorang murid yang sudah Haqqul yakin kepada Gurunya. Mendapat musibah tersebut, ia tidak datang ke Tim Sar tapi datang ke Gurunya, yakin bahwa Gurunya mampu mengembalikan anaknya yang tenggelam. "Wahai Guruku yang Agung, engkau mampu menghidupkan kembali anakku yang tenggelam".
Seorang Guru yang bertanggung jawab Dunia Akhirat terhadap muridnya, per detik langsung memenuhi hajat muridnya, tidak sempat untuk berfikir, dia langsung mengambil tanggung jawab itu. "Baik, pulanglah anakmu sudah di rumah". Seorang murid yang haqqul yakin juga tidak sempat berfikir, langsung pulang. Namun sesampainya di rumah anaknya belum ada. Dia lantas kembali lagi kepada Gurunya, sedikitpun tidak terlintas keraguan, kembali dia mengadukan, "Wahai Guru Agungku, anakku belum ada". Kembali Gurunya menyanggupi hajat muridnya, "Pulanglah, sekarang sudah ada". Dengan patuh ia pun kembali, namun anaknya masih belum ada. Hal tersebut tidaklah menggoyahkan keyakinannya, kembali ia datang ke Gurunya dan mengadukan, "Masih belum ada". Lalu Gurunya menunduk sejenak, "Sekarang pulanglah, pasti anakmu sudah di rumah".
Bersabda Tuan Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, Qs. "Manqobah itu juga berlaku terhadap Syekh yang ada ditengah-tengah kita sekarang".
Suatu ketika, saya mempunyai hajat namun sulit, sejak pagi sampai waktu maghrib belum ada solusinya, ternyata saya seharian lupa kepada Guru Agungku pengersa Abah Aos. Menjelang waktu 'Isya saya robithoh, mengadukan masalahku kepada beliau, "Abah, saya mempunyai hajat, namun saya tidak yakin apakah saya mampu untuk mewujudkannya". Seketika, nampak jelas (ebreh-ebreh) 'ceto welo-welo' (meminjam istilah Abah Dahlan Iskan), kata Abah, "Mau, ambil".
Alhamdulillaah, seketika juga akhirnya aku mampu meraih apa yang menjadi hajatku. Baru kemudian aku teringat bahwa pengersa Abah pernah menyampaikan sebuah hadits Qudsi, "Annalloohu laa ilaaha illaa ana, aquulu lisyai'i kun fayakun. Athi'ni aj'aluka taquulu lisyai'i kun fayakun". (Aku adalah Alloh, tiada Tuhan selain Aku, jika Aku menginginkan sesuatu itu Jadi maka Jadilah sesuatu. Taatlah kamu kepada Ku, jika kamu ingin sesuatu Jadi maka Jadilah sesuatu).
Kata Guruku, "Jika kamu mau, ambillah". Itulah Guru Agung yang tidak akan pernah menolak semua hajat murid-muridnya. Kun (ada) Fayakun (maka ada). Artinya, semua itu sudah ada, Alloh sudah mempersiapkan segala kebutuhan hamba-hambaNya. Kalau hambaNya taat maka Alloh akan mewujudkan apa saja yang ingin ia ingin wujudkan (memenuhi segala kebutuhannya).
Itulah makna dari Surga yang telah dijanjikan oleh Alloh, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya". (QS. Al Bayyinah : 7-8).
Dan siapakah yang lebih menepati janji selain dari pada Alloh? Janji Alloh itu Pasti, bahkan sudah. Sabda pengersa Abah, "Surga itu sekarang, bukan nanti. Bahagia itu sekarang, bukan nanti. Yang mau kaya datang ke Sini, yang mau sehat datang ke Sini".
Alhamdulillaah... terima kasih Abah... sepenuh langit dan bumi.. Surga adalah selalu bersama Mu di Sini..
(Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa).
Mahmud J al-Maghribaen, 23-2-2017

MAKNA "HALAL BI HALAL"

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 03 Agustus 2016 | 03.27

Halal Bihalal adalah budaya di Indonesia, khususnya umat Islam setelah melaksanakan Puasa Romadhan, sebagian umat Islam melaksanakan acara Halal Bihalal, baik di lingkungan perumahan, di Instansi dan tempat kerja masing-masing.

Menurut M. Quraish Shihab di dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al Qur'an (lihat : http://www.islamnyamuslim.com/2013/07/pengertian-dan-makna-halalbihalal.html), setidaknya ada tiga pengertian Halal Bihalal, yaitu :
  1. Kata Halal Bihalal berasal dari kata 'halla' atau halal yang bisa berarti menyelesaikan persoalan atau problem, meluruskan benang kusut, mencairkan air yang keruh, dan melepaskan ikatan yang membelenggu.
  2. Kata Halal digunakan sebagai lawan dari kata haram dan makruh. Dengan pengertian ini maka Halal Bihalal mengandung arti kekinian setiap orang yang berhalalbihalal untuk membebaskan diri dari perbuatan yang haram dan makruh, atau membebaskan diri dari perbuatan dosa.
  3. Kata Halal Bihalal bisa digunakan untuk menjelaskan pesan yang dikandung oleh tradisi tersebut. Dalam konteks ini halalbihalal merupakan media yang paling efektif untuk merajut kembali hubungan yang membeku dengan cara saling memaafkan dan menyadari kekhilafan masing-masing.
Setelah bulan Romadhan berlalu, memasuki bulan Syawal, khususnya tanggal 1-2 Syawal ('Idul Fitri), umat Islam di saling kunjung-mengunjungi untuk saling maaf-memaafkan (Halal Bihalal). Dalam berhalal bihalal, sebagai ungkapan rasa, masyarakat Islam terbiasa mengucapkan "Minal 'Aidin wal Faaizin, mohon maaf lahir dan batin".

Tentang Maaf-Memaafkan
Di kalangan umat Islam, masih banyak yang memahami, bahwa kewajiban kita adalah meminta maaf, bukan memaafkan kesalahan orang lain. Pemahaman yang benar adalah, kita harus memaafkan kesalahan orang lain, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepada kita.

Firman Alloh Swt., "... Fa'fu'anhum wastghfirlahum..." Artinya, "Karena itu maafkanlah mereka, dan mohonkanlah ampun bagi mereka". (QS. Ali Imron (3) : 159).

Sangat jelas dalam ayat tersebut bahwa, kita selaku umat Islam, diperintahkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Sebagaimana Firman Alloh Swt. "Khudzil afwa wa'mur bil 'urfi wa a'ridh 'aanil jaahiliina". Artinya, "Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh".

Juga Firman Alloh Swt., "...Wal ya'fuu wal yashfahuu alaa tuhibbuuna ayyaghfirollohu lakum..". Artinya, ".. Dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?".

Namun demikian, bahaya dosa kepada sesama manusia sangatlah besar. Bahkan Alloh tidak akan mengampuni dosa hamba sesama manusia, sebelum manusia tersebut saling maaf-memaafkan, sebagaimana Hadits Rasululloh Saw. dari Anas bin Malik r.a. : "Kezaliman itu terbahagi kepada tiga. Pertama kezaliman tidak diampunkan Allah. Kedua kezaliman diampunkan Allah dan ketiga kezaliman yang Allah tidak ikut campur dalam hal itu. Kezaliman tidak diampunkan Allah adalah syirik. Kezaliman diampunkan Allah adalah dosa manusia ke atas dirinya dan tuhannya. Kezaliman yang Allah tidak ikut campur adalah dosa di antara manusia dengan manusia, sehingga mereka menyelesaikannya terlebih dulu".

Hadits Rosululloh Saw. "Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari).

Berkata Sayyid Abah Aos, "Ada dosa yang tidak diampuni oleh Alloh, tapi bisa hilang karena diambil oleh orang lain, manakala ia dighibah maka dosanya dipikul oleh orang yang mengghibahnya".

Terkait dengan hal ini, ada orang yang berkata, "Yang penting kan saya sudah minta maaf, kalau dia tidak memaafkan, itu urusan dia". Ungkapan ini, kalau ditelaah tidaklah sesederhana itu, justru kita harus khawatir kalau-kalau kesalahan kita tidak dimaafkan olehnya. Maka dari itu, berhati-hatilah kita dalam bertindak, jangan sampai kita zholim terhadap orang lain.

Tentang Minal 'Aidin wal Faaizin
Secara bahasa, minal 'aidin artinya adalah 'orang-orang yang kembali', sedangkan wal faaizin, adalah 'menang/beruntung'.

Tentang ucapan ini, sebagian umat Islam mempermasalahkan ucapan ini, bahkan ada yang menuduh bahwa ucapan tersebut adalah termasuk perkara yang Bid'ah. Mengingat tidak ada satu riwayat pun dari Nabi Muhammad Saw. tentang bagaimana ucapan beliau ketika bersalaman di Hari Raya 'Idul Fitri. Namun ada riwayat dari para Sahabat, bahwa mereka mengucapkan, "Taqobbalallohu Minna wa Minkum". Artinya, "Semoga Alloh menerima amalku dan amal kalian".

Sebenarnya tidaklah salah kalau kita mengucapkan Minal 'Aidin Wal Faazin, kalau hal tersebut kita yakini sebagai Do'a kita kepada orang yang kita ajak bersalaman. Yang salah adalah, jika ucapan tersebut kita yakini sebagai aturan Syar'i yang dicontoh oleh Rosululloh Saw. Sepanjang hal tersebut kita yakini sebagai doa, maka ucapan tersebut bukanlah termasuk perkara yang Bid'ah. Jadi kita, umat Islam khususnya di Indonesia tidak perlu ragu untuk mengucapkan Minal 'Aidin Wal Faaizin ketika kita berlebaran. Ucapan Minal 'Aidin Wal Faaizin, kita yakini sebagai doa kepada saudara kita bahwa kita berprasangka baik kepadanya karena telah melaksanakan Ibadah Puasa di Bulan Romadhan.

Pertanyaannya adalah, siapa yang sudah kembali? dan bagaimana orang yang menang/beruntung?

Orang-orang yang kembali :
Orang yang sudah kembali adalah orang-orang yang telah mampu mengendalikan Hawa Nafsunya. Coba kita perhatikan Firman Alloh sbb:
"Yaaa ayyatuhan-nafsul muthma-innatu irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyatan fadkhulii fii 'ibaadii wadkhulli jannati". Artinya, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di Ridhoi-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syuga-Ku". (QS. Al Fajr (89) : 27-30).

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang senantiasa berdzikir kepada Alloh, sebagaimana Firman-Nya, "Alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikrillaahi alaa bidzikrillaahi tathma-innu alquluubu". Artinya, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram". (QS. Ar Ra'du (13) : 28).

Orang yang senantiasa berdzikir kepada Alloh adalah orang yang beruntung, sebagaimana Firman-Nya, "Qod aflaha man tazakkaa wadzakarosma Robbihii fashollaa". Artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sholat". Dan Firman-Nya, "Qad aflaha man zakkaahaa". Artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu". (QS. Asy Syamsi (91) : 9).

Untuk membersihkan diri/jiwa adalah dengan cara selalu mengingat Alloh Swt. (Dzikrulloh), sebagaimana Firman-Nya, "Wadzkur Robbaka fii nafsika tadharru'an wakhiifatan waduunaal jahri minalqauli bil ghuduwwi waal-ashooli walaa takun minal ghaafiliina". Artinya, "Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termask orang-orang yang lalai". (QS. Al A'raaf (7) : 205).

Bagaimana caranya berdzikir?
Berdzikir harus melalui Talqin Dzikir, sebagaimana Sabda Rosululloh Saw., "Laqqinuu mautakum bi LAA ILAAHA ILLALLOH".  Artinya, "Talkinkan (ajarkan) oleh kamu kepada orang yang akan mati, dengan LAA ILAAHA ILLALOH". (Al Hadits).

Jadi kesimpulannya, orang yang kembali adalah orang yang sudah di talqin dzikir dan sudah mampu mengendalikan dirinya (nafsunya) dengan selalu berdzikir, lalu ia mengenal Tuhannya dengan cara senantiasa berdzikir kepada Alloh.

Bagaimana agar kita bisa menang?
  • Kita harus beriman yang benar, percaya kepada Alloh (LAA ILAAHA ILLALLOH), Sebagaimana Hadits, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillalloh’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim). Iman yang benar adalah, meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan melaksanakan dengan perbuatan. Beriman kepada Alloh, kosekuensinya adalah mentaati perintah-Nya yaitu percaya kepada malaikat, percaya kepada kitabulloh, percaya kepada rosululloh, percaya kepada hari kiamat, dan percaya kepada ketetpan baik dan buruk (enam rukun iman).
  • Senantiasa berhijrah dari keburukan menuju kepada kebaikan.
  • Senantiasa berjihad, yaitu berjuang dengan harta, benda, dan jiwa.
Sebaimana Firman-Nya :
"Alladziina aamanuu wahaajaruu wajaahaduu fii sabiilillaahi bi-amwaalihim wa-anfusihim a'zhamu darajatan 'indallaahi wa ulaa-ika humul faa-izuuna". Artinya, "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". (QS. At Taubah (9) : 20).


Jadi kesimpulannya, orang yang menang atau beruntung adalah orang yang telah selamat dari Neraka dan telah masuk ke Syurga. Sebagaimana Firman-Nya, "Laa yastawii ash-haabun-naari wa-ash-haabul jannati ash-haabul jannati humul faa-izuuna" Artinya, "Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung". (QS. Al Hasyr (59) : 20).

Hadist Rosululloh Saw., "Man Qoola LAA ILAAHA ILLALLOH dakholatul jannah". Artinya, "Barang siapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALOH pasti masuk Syurga".

Kuncinya Syurga adalah LAA ILAAHA ILLALOOH.

Itulah Makna Halal Bi Halal.

Permainan Abah Anom : Hanya 5 Menit Abah Aos Membungkam 83 Ulama

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 20 Juli 2016 | 02.10


"Permainan" Abah Anom
Hanya 5 Menit Abah Aos "Membungkam" 83 Ulama
Di Malaysia, hanya 6 keterangan. Profesor menghadapi Kiyai di sana sudah sampai 1 jam, sudah sampai jam satu (dini hari). Satu jam debat alot, debat kusir namanya. Masalahnya adalah, “Laa Ilaaha Illalloh” tidak sempurna kalau tidak diteruskan Muhammadur Rosululloh”, hanya segitu. Jadi kesempurnaan dzikir Laa Ilaaha Illalloh itu kalau diteruskan Muhammadur Rosululloh, itu kata Ulama wakil dari 83 Ulama dari 83 Desa, di Sabah.
Dari Suryalaya, Profesor DR. Juhaya S. Praja, beliau ini masih ada sekarang, bisa ditanyakan, apakah betul 1 Jam, sudah sampai demplek? Kalau sudah pada loyo, dia lupa kesepakatan awal, bahwa Tim harus hadir semua, jika dibuka tanya jawab, kalau tidak terjawab, kita jawab ramai-ramai. Beliau lupa, dihadapi terus.
Akhirnya Abah memaksakan diri, mencolek betisnya Profesor. Sontak Profesor berdiri, “Oh ya, ini ada Ajengan ‘daripada’ Gaos ingin menambahkan”. Coba perhatikan bahasanya, “Ajengan daripada Gaos”, itu saking gugupnya ketika dicolek itu.
“Oh tidak, tidak ingin menambahkan”, kata Abah. Sudah satu jam, sudah banyak, saya cuma mau pinjam ‘mic’ nya saja. Lalu diambil spidolnya dan menulis di papan, sebagai berikut :
1 “Fa’lam annahu Laa Ilaaha Illalohu wastaghfir lidzambika wa lilmu’miniina wal mu’minaat..”. (QS. Muhammad (47) : 19).
2 “Innahum kaanuu idzaa qiilalahum Laa Ilaaha Illalohu yastakbiruuna”. (QS. Ash Shooffaat (37) : 35).
3 “Jaddiduu Imanakum, bi katsrotin Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
4 “Afdholu ma qultu ana wan nabiyyuuna min qabli Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
5 “Laqqinuu mautakum Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
6 “Man kana akhiru kalamihi Laa Ilaaha Illaloh, dakholatul jannah”. (Al Hadits).
Lalu, kata Abah, “Kiyai kesini, ini spidolnya, silahkan ditambahkan disini “Muhammadur Rosululloh”, ini Surat Muhammad kekurangan, ada yang menjarah ini, ternyata Qur’an Shugro itu bohong, ini terlihat nomornya, tapi gak ada.., katanya Alloh Sempurna, ternyata Alloh kekurangan ini,? Spontan Kiyai itu menjawab, “Oh tidak-tidak”, sambil mengangkat tangan. Kata Abah, katanya kurang sempurna, ini kurang ini, silahkan ditambahkan. “Oh, tidak-tidak”, katanya. Lalu bagaimana?, kata Abah. Toleh kanan, toleh kiri, akhirnya Talqin semuanya.
Hanya 5 menit bapak..., ini permainan Abah Anom. Yang ini mah hanya gerak lidah saja. Sejak tahun ’83 lidah ini sudah lidah Abah Anom, mulut ini sudah mulut suci Abah Anom, suara keluar dari sini, suara suci Abah Anom, yang wajib didengar oleh telinga ini, orang lain mau dengar silahkan, tidak mau dengan terserah, itu telinganya sendiri-sendiri, Tapi yang wajib mendengar adalah telinga yang ini, telinga kanan dan telinga kiri. Sampai hari ini pun, tidak pernah mendengar suara siapa pun, kecuali suara Abah Anom.

TIDAK PUNYA APA-APA, TIDAK TAHU APA-APA, TIDAK MAU APA-APA

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 22 Juni 2016 | 23.44

Rahasia 2 Maghrib

Sabda Abah Aos: "Alhamdulillaah pada bulan ini, dinaikkan Manaqib, Abah memohon kepada Alloh agar Ki Jonsen, Mahmud Jonsen Al Maghribain, pada hari ini, mohon bantu Abah untuk mengembangkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya kepada siapa saja yang MAU dan MINTA. Jadi Abah tugaskan BERAT TAPI MULIA, mudah-mudahan diterima oleh Alloh Ta'ala. 

Hari ini 6 Romadhon 1437 H, Abah mengangkat PETANI POHON ANTI GEMPA, semoga Alloh berkahi, al Faatihah"..... Aamiin.




HIKMAH BUKA PUASA BERSAMA

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 08 Juni 2016 | 00.04

HIKMAH BUKA PUASA BERSAMA

By: Achmad Fathir
Kutipan ceramah saat melaksanakan amanah sebagai badal dari Almukarrom al Ustadz Kiyai Muhammad Bakri Alwi (Tuan Guru ) di Majelis Ta’lim Jembo Cable, 07 Juni 2016.

Alhamdulillah puji syukur ke Hadirot Alloh SWT. karena pada tahun ini, bulan ini, jam ini, detik ini, kita masih diberikan kesempatan oleh Alloh untuk beribadah puasa di bulan Suci Romadhon. Diharapkan dengan beribadah puasa di bulan Romadhon, kita menjadi hamba yang bertaqwa kepada Alloh SWT. Taqwa ialah menjalankan segala perintah Alloh dan menjauhi segala larangan Alloh. Kalau di bulan yang lain kita mampu menjalankan ‘sepuluh’ perintah Alloh, setelah Romadhon menjadi ‘limabelas’, kalau di bulan yang lain kita mampu menjauhi larangan Alloh ‘sepuluh’, setelah Romadhon menjadi ‘duapuluh’? atau ‘duabelas’?

Ternyata menjauhi larangan itu sepertinya lebih sulit daripada melaksanakan perintah, maka dahulu saya diijazahkan oleh Guru kita Kyai Muhammad Bakri Alwi, ketika itu saya minta saran beliau bagaimana caranya agar kita selalu dapat taat kepada Alloh. Beliau menjawab, “Beribadah jangan sendiri, tapi libatkan Alloh bersama kita’. Kemudian beliau mengajar sebuah doa, “Allohumma arinal haqqo haqqon warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj tinabah” (Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya).

Kita semua yang hadir disini tentu masih banyak bermaksiat kepada Alloh, hanya saja Alloh menutupi aib kita sehingga kita terlihat sebagai orang yang sholeh. Untuk itu maka, janganlah suka menceritakan aib orang lain, kalau aib kita ingin ditutupi oleh Alloh. Sebagaimana Rosululloh SAW. bersabda, “Man sattaro musliman, sattarohu Alloh” (Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya).

Memang terkadang godaannya luar biasa agar kita menceritakan aibnya orang lain, ada orang yang senang sekali menceritakan aib orang lain, seolah-olah semua orang tidak ada benarnya di mata dia. Untuk itu, di bulan Romadhon ini kita di didik agar terhindah dari hal-hal yang bersifat ghibah. Sabda Rosululloh SAW. “Atadruuna maalghiibatu, qooluu, "Allohu wa rosuuluhu a'lamu, qoola, "Dzikruka akhooka bimaa yakrohu, qoola, "Afaro aita inkaana fii akhii maa aquulu? Qoola, "Inkaana fiihii maa taquulu faqod aghtabtahu wa illam yakun fiihi faqod bahattahu” (Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Nabi berkata: “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat anda jika padanya ada apa saya bicarakan?” Beliau menjawab: “Jika ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau telah mengghibahnya, dan jika tidak ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau berbuat fitnah terhadapnya).

Jelas sekali, meskipun yang diceritakan adalah benar adanya, itu adalah ghibah, apa lagi tidak benar adanya, maka itu adalah fitnah. Hati-hati, fitnah lebih kejam daripada ‘pembunuhan’. Bisa jadi engkau bertobat dan meminta maaf atas fitnah yang telah kamu lakukan, namun engkau tidak mampu untuk mengendalikan kabar yang telah engkau hembuskan, ia seperti bulu-bulu yang sudah terbang ditiup angin, niscaya engkau tak kan mampu untuk memungutnya kembali.

Alloh SWT. telah berfirman, “Walaa tajassasuu walaa yaghtab ba'dhukum ba'dhan ayuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhiihi maytan fakarihtumuuhu waittaquu allaaha inna allaaha tawwaabun rahiimun” (Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).

Itulah diantara hikmah puasa di bulan Romadhon. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, namun ia juga harus memelihara mulut, mata, dan telinga. Bisa jadi ia berpuasa, yaitu mulai dari terbit fajar hinggga terbenamnya matahari, namun ia tidak mendapatkan pahala dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan haus. Sabda Rosululloh SAW. “Kam min shoimin laisa lahuu min shiyaamihi illaljuu’ wal athos” (Banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga).

Makan sahur disunnahkan dalam puasa, namun jika seseorang tidak sempat sahur, maka puasanya tetaplah syah asalkan sudah ada niat untuk berpuasa keesokan harinya sebelum terbit fajar. Kalau tidak ada niat untuk berpuasa sebelumnya, kemudian ia kesiangan, maka puasanya tidaklah syah. Berbeda dengan puasa sunnah, meskipun tidak ada niat sebelumnya untuk berpuasa, kemudian keesokan harinya dia ingin berpuasa maka syah puasanya.

Sebagai upaya agar puasa kita berhasil, setidaknya ada beberapa persiapan yang harus kita lakukan :
  1. Persiapan Ruh atau jiwa atau hati. Menyambut bulan romadhon ini hati kita harus merasa gembira. Sabda Rosululloh SAW. “Man fariha bidukhuuli romadhoona, harromallohu jasadahu ‘alanniiron” (Barangsiapa merasa gembira dengan masuknya bulan romadhon, Alloh mengharamkan jasadnya masuk api neraka). Dan juga sabda Nabi SAW. “Man shouma romadhoona imaanan wahti sya’ban, ghufirolahu maa taqoddama min dzambik” (Barangsiapa puasa di bulan romadhon karena iman dan mengharapkan perhitungan (pahala) dari Alloh, maka Alloh akan mengampuni dosanya yang telah lalu).
  2. Persiapan ilmu. Agar puasa kita sempurna, tentu kita harus memiliki ilmu tentang puasa romadhon. Firman Alloh SWT. QS. Al Baqoroh : 183-184 : “Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba 'alaykumu alshshiyaamu kamaa kutiba 'alaa alladziina min qablikum la'allakum tattaquuna, ayyaaman ma'duudaatin faman kaana minkum mariidhan aw 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhara wa'alaa alladziina yuthiiquunahu fidyatun tha'aamu miskiinin faman tathawwa'a khayran fahuwa khayrun lahu wa-an tashuumuu khayrun lakum in kuntum ta'lamuuna” (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui).
  3. Persiapan fisik. Fisik kita harus jaga, jangan sering ‘begadang’ perbanyaklah ibadah-ibadah sunnah, terutama sholat sunnah rawatib, disamping sholat-sholat sunnah lainnya. Sholat sunnah rawatib yang mu’akkadah ada sepuluh rakaat, yaitu; 2 rakaat sebelum sholat shubuh, 2 rakaat sebelum sholat dhuhur, 2 rakaat setelah sholat dhuhur, 2 rakaat setelah sholat maghrib, dan 2 rakaat setelah sholat isya’. Makanlah makanan yang bergizi, tidak harus mahal tetapi memenuhi kebutuhan gizi, daging bisa diganti dengan tempe atau telur.
  4. Persiapan Harta. Maksudnya, janganlah hidup berpoya-poya, belanjakan harta sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebih-lebihan.

By; Achmad Fathir

Amalkan, Amankan, Lestarikan : Mengikuti Rosululloh SAW.

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 16 Mei 2016 | 03.49

Khidmat Manaqib

MENGIKUTI RASULULLAH SAW.
KH. Abdul Gaos SM.

Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk mengikuti Manaqib di Suryalaya ini. Kita tidak tahu apakah besok atau lusa masih diberi kesempatan lagi oleh-Nya untuk hidup. Sabda Nabi Muhammad Saw. "Sesungguhnya kehidupan hari ini adalah hari Akhir, bagi siapa saja yang tidak tidak tahu apakah masih hidup sampai esok". Kalau kita tidak kembali kepada Allah hari ini, kapan lagi? Oleh karena itu kita harus bisa menjaga diri supaya tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri kita sendiri. Allah Swt. berfirman :"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul, melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".(QS. an-Nisaa' : 64).
Alhamdulillah, kita sudah dipertemukan dengan Tuan Syeikh Ahmad Shohibulwafa Tajul 'Arifin, seorang ulama pewaris para Nabi. Dengan mengamalkan Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah kita berharap semoga Allah Swt. memberikan ampunan kepada kita. Kita taat kepada semua perintah guru kita pada hakikatnya kita mentaati Rasulullah Saw. Inilah salah satu tugas seorang Guru Mursyid untuk mengajak manusia mengikuti seorang utusan Allah. "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. Yaasiin : 20-21). Pernahkah kita diminta uang oleh Pangersa Abah ketika ikut Manaqiban di Suryalaya? Apakah untuk mendapatkan Talqin Dzikir TQN ini diharuskan membayar sekian rupiah? Tidak!. Jangankan meminta balasan jasa atau upah dari manusia, orang-orang seperti ini, kepada Allah pun tidak pernah meminta upah atau pahala atau ganjaran. Siapapun yang datang dengan membawa dosa dan kesalahan kemudian menemui Abah, maka beliau akan menunjukkan jalan kepada Allah supaya Dia memberikan ampunan-Nya. Thoriqoh inilah jalannya, jalan yang paling dekat kepada Allah, paling mudah dilaksanakan tetapi paling utama menurut Allah Swt. Dengan dzikir ini kita mengharapkan pengampunan dari Allah, kita ingin dibersihkan dari dosa-dosa sehingga kembali suci dan bersih seperti seorang bayi yang baru lahir. Kita tidak ingin dibersihkan oleh Allah Swt. dari dosa dan kesalahan di alam barzah atau di neraka nanti. Tiada lain jalan yang harus kita tempuh adalah mendatangi pengganti Rasulullah Saw. seperti tertulis pada surat an-Nisaa' ayat 64 di atas. Salah satu do'a yang dibaca oleh Tuan Syeikh Abdul Qodir al-Jailani ketika berada di atas sungai Tigris (di atas sungai menghamparkan sajadahnya), "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan hak Nabimu Muhammad Saw., janganlah Engkau mencabut nyawa murid-muridku kecuali dalam keadaan taubat". Amalkanlah dzikir ini sesuai dengan tuntunan dan contoh dari Guru Mursyid kemudian sebarluaskan kepada yang lain; "amalkan, amankan, lestarikan", sehingga ketika ajal datang menjemput, mudah-mudahan kita ada dalam keselamatan.

Sumber : http://www.suryalaya.org/manakib-buletin-isi.php?ID=93

Amalkan, Amankan, Lestarikan : Alat Pembaharu Iman

ALAT PEMBAHARU IMAN
KH. ABDUL GAOS SM.

27 tahun yang lalu di Serawak Malaysia, kami pernah diundang oleh para ulama. Dalam salah satu acara tersebut ada seorang ulama yang hanya akan berdzikir dengan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadurrosulullah...Laa ilaha illallah Muhammadurrosulullah dst. Kemudian saya memberikan penjelasan bahwa kalimat tersebut ada didalam al-Quran dan al-Hadits tetapi tidak menggunakan Muhammadurrosulullah, diantaranya : surat Muhammad : 19, surat as-saaffaat : 35, serta beberapa hadits Nabi.



"Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang diucapkan oleh nabi-nabi sebelumku yaitu : Laa ilaaha illallaah. "Barang siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas, pasti masuk surga". "Jaddiduu iimaanakum aktsiru min qouli Laa ilaaha illallaah". "Talqinkan kepada orang-orang yang akan mati, kalimat Laa ilaaha illallaah". dll. "Jadi tidak ada muhammadurrosulullah. Kalau tuan mau menambahkannya silahkan saja, berarti tuan telah menambah al-quran dan hadits". Kata saya. Akhirnya ulama tersebut meminta talqin dzikir TQN diikuti oleh ulama yang lainnya.
Tidak ada kalimat lain yang dapat memperbaharui iman kecuali Laa ilaaha illallaah. Alhamdulillah kita telah mendapatkan kalimat ini langsung dari Pangersa Abah Anom yang merupakan silsilah ke-37 TQN pontren Suryalaya. Dalam sebuah hadits diterangkan : "Sesungguhnya Allah akan membangkitkan atau mengutus untuk umat ini setiap 100 tahun seorang peneguh iman umat (pembaharu iman mereka)". (HR. Abu Dawud, al-Hakim, dan al-Baihaqi dari Abi Hurairah). Bagi kita Pangersa Abah itulah pembaharu iman kita dengan memberikan kalimat Laa ilaaha illallaah. Laksanakan dzikir tersebut seperti apa yang diajarkannya.
Nabi Muhammad Saw. telah dipilih oleh Allah untuk dijadikan suri tauladan bagi kita umatnya. Beliau sudah meninggalkan kita. Tetapi ada penggantinya. "Ulama adalah pewaris para nabi". Oleh karena itu mari kita contoh Nabi Muhammad, mari kita contoh Guru Mursyid kita, pangersa Abah Anom baik dalam sikap, tutur kata dan perbuatannya.





"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (QS. al-Ahzab : 21). "Sesungguhnya pada diri mereka itu ada teladan yang baik bagimu..." (QS. al-Mumtahanah : 6).

Sumber : http://www.suryalaya.org/manakib-buletin-isi.php?ID=103

ABAH AOS DI MASJID AGUNG AL BANTANI - BANTEN

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 19 April 2016 | 01.13


DI BAWAH BENDERA TIGA DELAPAN, TQN SURYALAYA SEMAKIN BERKIBAR

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 06 Januari 2016 | 04.14

Di bawah bimbingan Mursyid ke 38, bendera TQN Suryalaya semakin berkibar. Manaqib dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., Ketahanan NKRI, Kejayaan Agama dan Negara, dan Peradaban Dunia, semakin ramai dilaksanakan di seantero negeri, bak jamur merang yang tumbuh di musim hujan.

Dalam Mengamalkan, Mengamankan, dan Melestarikan Ajaran TQN Suryalaya, Mursyid Silsilah ke 38, Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul r.a. kini telah mengangkat 96 Wakil Talkin untuk membantu beliau dalam memberikan Talkin Dzikir, mereka berasal dari bebragai kalangan, ada yang berlatar berlakang Kyai, Ustadz, Pedagang, Petani, Pendidik, Pengusaha, Pegawai Negeri, sampai kalangan Cendikiawan yang bergelar Profesor, Doktor.

Sabda Abah Aos, "Sebagaimana doa Nabi Musa a.s., memohon agar dibantu oleh saudaranya Nabi Harun a.s.", demikian juga Abah juga minta dibantu dalam mengamalkan, mengamankan, melestarikan ajaran TQN Suryalaya".

Firman Alloh SWT. :
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaahaa (20) : 25-35).

Sabda Rasulullah SAW. beliau berkata kepada ‘Ali, “Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba).

Sehingga dengan bantuan para "Harun-Harun" inilah TQN Suryalaya semakin Mencuat bukan Menciut. Sabda Abah Aos, "Semakin jelas, semakin tegas, semakin lugas. Semakin mudah dimengerti, bahwa kita disini, bukan milik kita. Tidak ada yang bukan dari Alloh, semuanya adalah perbuatan-Nya. Kita tidak bisa apa-apa, Alloh lah yang menentukan. Sebelum ada kata menentukan, Alloh sudah menentukan kita mesti berkumpul disini, dan semakin banyak, tidak semakin menciut, tetapi semakin mencuat".

Wakil Talkin Adalah Murid Pembantu Mursyid
Para Wakil Talkin adalah Pembantu Abah Aos dalam memberikan Talkin. Ditunjuk sebagai wakil talkin oleh Mursyid tidaklah serta merta menunjukkan posisi maqom seseorang, atau maqomnya lebih tinggi dari para Ikhwan umumnya. Berkata KH. Dadang Muliawan kepada KH. Jujun Djunaidi, "Ak, kata Abah, jadi wakil talkin teh Riyadhoh". 

Sabda Abah Aos pada saat mengangkat wakil talkin, "Hari ini, tepatnya kemaren Abah mengangkat Pembantu, jadi Petani Pohon Anti Gempa istilah Abah, para wakil talkin istilah Abah Anom".

Berkaca dari kloter sebelumnya, ternyata tidak semua wakil talkin Abah Anom berada di Gerbong Kloter 38. Sabda Abah Aos, "Dari sekian jumlah wakil talkin Abah Anom, hanya satu wakil talkin yang lulus, yakni KH. Muhammad Sholeh Hujatul Arifin". Nah ini menandakan bahwa kedudukan seseorang sebagai wakil talkin, ternyata tidak berbanding lurus dengan maqom seseorang.

Sehingga dengan demikian, kuranglah bijak kalau seandainya para ikhwan menuntut berlebihan kepada para wakil talkin, sebab mereka bukanlah Mursyid, bahkan wakil mursyid pun bukan, mereka tidak lebih hanya sebagai murid yang diberikan tugas oleh Mursyid untuk membantu perjuangan dakwahnya. Sebagaimana juga para Da'i / Da'iyah, Pemangku dan Penyangga Manaqib, serta para ikhwan-akhwat pada umumnya, yang juga ikut berjuang bersama-sama dengan Mursyid. 

Sabda Abah Aos, "Kita doakan semua, karena disini, ngetem dua hari itu tidak cukup, sudah semakin banyak, yang tidak diduga-duga, karena Internet dan Pacebok pun ikut dakwah".

Maka dari itu, kepada seluruh ikhwan marilah kita luruskan niat dan tujuan kita, bahwa kita hanya ingin mendapatkan Ridho Alloh dengan cara meraih cinta-Nya agar mengenal diri-Nya semata. Sabda Abah Aos, "Sudah sama.. kita, tidak ada yang beda. Profesor, ini! Doktor, ini!, Kopral, ini!, Jenderal, ini!, semua sama! Jauh bukan kilometer, dekat bukan milimeter".

"Inna akromakum indalloohi atqookum"
(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu).

Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa

WALI YANG TERTUKAR

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 03 Januari 2016 | 19.53

Seperti biasa aku menghadiri Majelis Agung Tuan Syekh. Sesampainya di Madrosah, terlihat kesibukan yang tidak seperti biasanya, di depan pintu gerbang aku melihat beberapa orang yang terlihat sedikit gelisah, seperti menanti seseorang.
Sejenak kemudian aku melihat kedatangan seseorang yang terlihat sederhana memasuki area majelis. Kemudian, orang tersebut menghampiri petugas yang sedang gelisah, terjadilah sedikit perbincangan, sepertinya hanya sekedar tegur sapa. Tampak jelas bahasa tubuh dari petugas tersebut, agaknya ia sedikit terganggu dengan kehadiran orang tersebut, dan ingin segera mengakhiri percakapan.
Selanjutnya orang yang terlihat sederhana itu kemudian memasuki majelis, ia langsung menyibukkan dirinya dengan berbagai amaliyah. Setelah rangkaian amaliyah telah selesai dikerjakan, di penghujung acara, terlihat rombongan beberapa orang diiringi oleh petugas datang memasuki majelis, yang ternyata adalah seorang yang terkenal...
Oh, ternyata inilah kiranya penyebab mengapa tadi beberapa petugas yang terlihat gelisah, ternyata sedang menunggu seseorang.. hatiku berbisik, "Allohu Asy- Syaahid! Andaikan Alloh menyingkapkan Hijab-Nya, maka tentu petugas itu akan mengetahui hakekat siapa sesungguhnya yang layak ditunggu-tunggu kehadirannya".
'Abasa watawallaa an jaa-ahul a'maa wamaa yudrika la'allahuu yazzakkaa auyadzakkaru fatan fa'ahudzdzikroo ammaa manistaghnaa fa-anta lahuu tashoddaa wamaa alaika allaa yazzakkaa wa ammaa man jaa-aka yas'aa wahuwa yaghsyaa fa-anta 'anhu talahhaa kallaa innahaa tadzkirotun.
Bikaromati pengersa Abah Aos, Al Faatihah...

MENGENAL AHLI SILSILAH TQN SURYALAYA KE-34 SYEKH AHMAD KHATIB SAMBAS IBN ABDUL GHAFFAR

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 28 Desember 2015 | 01.58

Syeh Ahmad Khatib Sambas (1803-1875), Guru para Ulama Nusantara
Diposkan oleh Ahmad Jember di 11.59 

Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin
Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.

Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Guru-gurunya :
1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.
2. Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari
3. Syeh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)
4. Syeh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)
5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami
6. Syeh Ahmad al-Marzuqi
7. Syeh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.

Syeikh Ahmad Khatob Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.

Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.

Peranan dan Karyanya
Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN nang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.

Murid-Muridnya antara lain :
1. Syeh Nawawi Al Bantani
2. Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura
3. Syeh Abdul Karim Banten
4. Syeh Tolhah Cirebon

Syeh Nawawi Al Bantani dan Syeh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syeh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syeh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah.

Sepeninggal Syeh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syeh Muhammad Kholil, Syeh Abdul Karim dan Syeh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Murid murid Syeh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb.

Sebagai contoh, Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain :

1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional.
2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.
3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.
5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah
6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.
7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.
9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.
10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.
11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.
12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.
13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.
14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.
15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan
16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.
17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.
18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.
19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.
20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.
21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.
22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.
23. KH. Zainudin : Nganjuk
24. KH. Maksum : Lasem
25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung
26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.
27. KH. Munajad : Kertosono
28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang
29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang
30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura
31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi
32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.
33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso
34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat
35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik
36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.

Syekh Tolhah bin Tolabuddin Cirebon, Mursyid TQN Suryalaya Silsilah ke 35, mempunyai murid di antaranya yang sangat terkenal adalah :

1. Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) : Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, Jawa Barat. Mursyid TQN Suryalaya Silsilah ke 36.
2. Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin (Abah Anom) : Penerus TQN Suryalaya Silsilah ke 37.
3. Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul (Abah Aos) : Pengasuh Pesantren Sirnarasa. Pelestari TQN Suryalaya Silsilah ke 38.

Salah satu sumber dari : http://ahmad-nu.blogspot.co.id/2011/07/syeh-ahmad-khatib-sambas-1803-1875-guru.html?showComment=1451290886957#c7046190927634034840

GEMBIRA ATAS KELAHIRAN NABI

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 18 Desember 2015 | 04.08

Pada bulan Robi'ul Awwal (Maulud) ini, banyak kalangan umat Islam yang memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. dengan cara mengadakan acara baik Masjid-masjid maupun di rumah-rumah, mengundang banyak orang untuk bersama-sama bersilaturahmi, berdzikir, membaca Al Qur'an, membacakan cerita tentang sejarah kehidupan Nabi, bersedekah dengan membagi-bagikan makanan, semua itu dilakukan sebagai ungkapan kegembiraan rasa syukur karena telah lahir (datang) seorang Nabi yang berakhlak mulia yang patut untuk dicontoh keangungan akhlaknya.

Sebagaimana Firman Alloh Swt. di dalam Al Qur'an, kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Alloh Swt. kepada kita. Maka sepantasnyalah kitapun bergembira atas rahmat dan karunia diutusnya Nabi dan Rosul kepada kita umatnya.

Firman Alloh Swt. tentang diutus-Nya seorang Rosul sebagai karunia Alloh :

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Artinya, "Sungguh Alloh telah memberi kurnia kepada orang-orang yang beriman, ketika Alloh mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Alloh, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata". (QS. Ali Imron (3) : 164).

Salah satu contoh bahwa kedatangan Nabi/Rosul itu adalah karunia Alloh SWT :
Sebelum datang Islam, seluruh umat manusia memandang hina kaum wanita. Jangankan memuliakannya, menganggapnya sebagai manusia saja tidak.
  1. Orang-orang Yunani menganggap wanita sebagai sarana kesenangan saja.
  2. Orang-orang Romawi memberikan hak atas seorang ayah atau suami menjual anak perempuan atau istrinya.
  3. Orang Arab memberikan hak atas seorang anak untuk mewarisi istri ayahnya. Mereka tidak mendapat hak waris dan tidak berhak memiliki harta benda. Hal itu juga terjadi di Persia, Hidia dan negeri-negeri lainnya. Orang-orang Arab ketika itu pun biasa mengubur anak-anak perempuan mereka hidup-hidup tanpa dosa dan kesalahan, hanya karena ia seorang wanita! Allah berfirman tentang mereka :
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُمْ بِالْأُنْثَى ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ . يَتَوَارَى مِنَ الْقَوْمِ مِنْ سُوءِ مَا بُشِّرَ بِهِ أَيُمْسِكُهُ عَلَى هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَابِ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Artinya, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl [16]: 58).

Pasca kedatangan Nabi Muhammad SAW, kaum wanita dimuliakan dan diberikan hak yang sama dengan kaum laki-laki, sebagaimana Firman-Nya :

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya, “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi laki-laki, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Baqarah [2]: 228).

Sehingga, tidaklah dapat dipungkiri bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah rahmat atau anugerah Tuhan kepada manusia yang tiada taranya, sebagaimana Firman-Nya :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ
Artinya, "Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam". (QS. Al-Anbiya (21) : 107).

Oleh karena itu, kita diperintahkan oleh Alloh agar bergembira (bersyukur) atas karunia dan rahmat-Nya :
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya, "Katakanlah! (Muhammad), dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan."  (QS.Yunus (10) : 58).

Diadakannya peringatan kelahiran Nabi ini ditujukan tidak lain adalah untuk mencontoh akhlak dan mengikuti ajarannya, sebagaimana Firman-Nya :

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُ رَّحِيمُ
Artinya, "Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka se-sungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali Imran (3) : 31).

Orang-orang yang benar-benar mencintai Alloh diperintahkan untuk mengikuti seruan Rosululloh SAW. “Ikutilah aku”. Pertanyaannya, "Apakah benar kita mencintai Alloh? Sudah sejauh manakan cinta kita kepada Alloh?

Di dalam sebuah hadits Rosululloh SAW. bersabda, “Alaa matu hubbillaahi hubbu dzikrillah, wa ‘alaa matu bugh-dhillaahi bagh-dhi dzikrillaahi” Artinya, "Tanda cinta Allah adalah menyukai dzikrullah (dzikir kepada Allah). Dan tanda kebencian Allah adalah membenci dzikrullah azza wajalla." (HR. Baihaqi).

Disebutkan juga dalam suatu riwayat, bahwa Nabi Musa a.s. pernah bertanya kepada Alloh swt., "Ya Tuhanku, bagaimana cara mengetahui perbedaan antara kekasih-Mu dan kebencian- Mu?" Alloh swt. berfirman, "Hai Musa bagi kekasih-Ku ada dua tanda bukti : pertama, mudah berdzikir (mengingat dan menyebut-Ku), sehingga Aku juga dzikir kepadanya. Kedua, terpelihara dari segala yang haram dan kemarahan-Ku, sehingga ia selamat dari marah dan siksa-Ku. Demikian pula bagi kebencian-Ku ada dua tanda bukti : pertama, mudah lalai dzikir kepada-Ku. Kedua, mudah menuruti hawa nafsu sehingga terjerumus dalam kemaksiatan".

Firman Alloh SWT :
فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَ اشْكُرُوْا لِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْن
Artinya, “Maka ingatlah kepadaKu, niscaya Aku akan ingat pula kepadamu; dan bersyukurlah!! kepadaKu dan janganlah Kamu menjadi kufur." (QS. Al Baqarah (2) : 152).
Kalau kita ingin mengikuti Rosululloh, tentu kita juga menyukai dzikrulloh, sebab Rosululloh saw. banyak berdzikir kepada Alloh, sebagaimana Firman-Nya :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Artinya, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (QS. Al Ahzab (33) : 21).
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya.
Dalam sebuah hadist disebutkan:

قَدْ رُؤِيَ أَبُوْ لَهَبٍ بَعْدَ مَوْتِهِ فِي النَّوْمِ فَقِيْلَ لَهُ مَا حَالُكَ ؟ فَقَالَ فِي النَّارِ إِلاَّ أَنَّهُ يُخَفَّفُ عَنِّي كُلَّ لَيْلَةِ اثْنَيْنِ وَأَمُصُّ مِنْ بَيْنِ أُصْبُعِي مَاءً بِقَدْرِ هَذَا-  وَأَشَارَ لِرَأْسِ أُصْبُعِهِ - وَأَنَّ ذَلِكَ بِإِعْتَاقِي لِثُوَيْبَةَ عِنْدَ مَا بَشَّرَتْنِي بِوِلاَدَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِإِرْضَاعِهَا لَهُ.
Artinya, "Salah seorang keluarga (Abbas bin Abdul Mutholib r.a.) bermimpi bertemu Abu Lahab setelah kematiannya. Ada yang bertanya kepadanya: Bagaimana keadaanmu? Abu Lahab berkata: Saya di neraka. Hanya saja (siksa) diringankan bagi saya setiap hari senin dan saya meminum air dari jari saya seukuran ini (ia menunjuk ujung jarinya). Hal itu karena saya memerdekakan budak Tsuwaibah ketika dia memberi kabar gembira pada saya tentang kelahiran Nabi Muhammad, dan karena ia menyusui Nabi Muhammad SAW”. (HR. Bukhari).

Siapa Abu Lahab? Abu Lahab adalah salah satu paman Nabi, ia selalu menghalang-halangi dakwah Nabi, sehingga ia dicela dan diabadikan di dalam Al Qur’an.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم:
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
مَا أَغْنَى عَنْهُ مَالُهُ وَمَا كَسَبَ
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
سَيَصْلَى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar.
فِي جِيدِهَا حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi saw. pernah pergi ke tanah lapang, lalu beliau mendaki bukit seraya berseru: “Wahai sekalian kaum.” Kemudian orang-orang Quraisy berkumpul mendatangi beliau, kemudian beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika aku memberitahu kalian bahwa musuh akan menyerang kalian di pagi atau sore hari, apakah kalian mempercayaiku?” “Ya,” jawab mereka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan adzab yang sangat pedih.”
Lalu Abu Lahab berkata: “Apakah untuk ini engkau kumpulkan kami? Kebinasaanlah bagimu.” Lalu Allah menurunkan tabbat yadaa abii lahabiw watabb (binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa). Yang pertama sebagai kutukan baginya, sedangkan yang kedua sebagai pemberitahuan mengenai keadaannya.

Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah saw. yang nama aslinya adalah ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muththalib dan nama kun-yahnya adalah Abu ‘Utaibah. Disebut Abu Lahab karena wajahnya yang memancarkan cahaya. Dia termasuk orang yang menyakiti, membenci, mencaci, dan merendahkan Rasulullah saw. dan juga agama beliau.

Imam Ahmad meriwayatkan, Ibrahim bin Abil ‘Abbas memberitahu kami, ‘Abdurrahman bin Abiz Zinad memberitahu kami, dari ayahnya, dia berkata: “Ada seseorang yang bernama Rabi’ah bin ‘Abbad dari bani ad-Dail –yang dulunya dia seorang Jahiliyyah yang kemudian masuk Islam- memberitahuku, dimana dia berkata: ‘Aku pernah melihat Nabi saw. pada masa jahiliyah di pasar Dzul Majaz, beliau bersabda: ‘Wahai sekalian manusia, katakanlah: Laa Ilaaha Illalloh, niscaya kalian beruntung.’ Dan orang-orang pun berkumpul menemuinya sedang di belakangnya terdapat seseorang yang wajahnya bersinar terang, yang memiliki dua tanda mengatakan: ‘Sesungguhnya dia (Rasulullah) adalah seorang pemeluk Shabi’ah lagi pendusta.’ Dia mengikuti beliau kemana saja beliau pergi. Kemudian aku tanyakan mengenai dirinya, maka orang-orang menjawab: ‘Ini adalah pamannya, Abu Lahab.’ Kemudian diriwayatkan dari Syuraih dari Ibnu Abiz Zinad dari ayahnya, lalu dia menyebutkannya. Abuz Zinad berkata: “Aku katakan kepada Rabi’ah, ‘Apakah pada saat itu engkau masih kecil?’ Dia menjawab: ‘Tidak, demi Allah. Sesungguhnya pada saat itu aku sudah berakal.’” Diriwayatkan oleh Ahmad seorang diri.

Dengan demikian, firman Allah Ta’ala: tabbat yadaa abii lahabiw watabb, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Yakni benar-benar merugi lagi gagal, amal perbuatan dan usahanya pun telah tersesat. ‘Watabb’ yakni binasa lagi benar-benar terbukti kerugian dan kebinasaannya.

Firman-Nya: maa aghnaa ‘an humaa luhuu wamaa kasab (tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan). Ibnu ‘Abbas dan lainnya mengatakan, wa maa kasab (dan apa yang ia usahakan) yakni anaknya. Dan hal senada juga diriwayatkan dari ‘Aisyah, Mujahid, ‘Atha’, al-Hasan, dan Ibnu Sirin. Dan disebutkan juga dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika Rasulullah saw. mengajak kaumnya untuk beriman, Abu Lahab berkata: “Jika apa yang dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka aku akan menebus diriku dari siksaan pada hari kiamat kelak dengan harta dan anakku. Maka Allah Ta’ala pun menurunkan: maa aghnaa ‘an humaa luhuu wa maa kasab (tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan).

Firman-Nya: Sayashlaa naaron dzaata lahab (kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak). Yakni api yang memiliki bunga api yang besar dan daya bakarnya sangat panas. Wamro-atuhuu hammaa latal hatab (dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar). Dan istrinya termasuk kaum wanita Quraisy yang terhormat, yaitu Ummu Jamil dan namanya Arwa binti Harb bin Umayyah, yang merupakan saudara Abu Sufyan, dia menjadi pembantu setia suaminya dalam kekufuran, keingkaran dan perlawanannya. Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak diapun akan menjadi pembantu suaminya dalam menjalani siksaan-Nya di Neraka Jahanam. Oleh karena itu Allah berfirman : Hammaalatal hathabi fii jiidihaa hamblum mim masad (“Dan begitu [pula] istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”), yakni dia biasa membawa kayu bakar dan menyerahkannya kepada suaminya untuk menambah (berat) apa yang dia alami itu, sedang dia senantiasa siap melakukan hal tersebut.

Fii jiidihaa hablum mim masad (“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) Mujahid dan ‘Urwah mengatakan: “Dari sabut neraka.” Dari Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, ats-Tsauri, dan as-Suddi, hammaalatal hathab (“pembawa kayu bakar”) dimana istrinya ini biasa berkeliling untuk melancarkan adu domba. Dan pendapat ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.
Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ‘Athiyyah al-Jadali, adl-Dlahhak, dan Ibnu Zaid: “Dia biasa meletakkan duri di jalanan (yang dilalui) Rasulullah saw.” Dan yang benar adalah pendapat pertama. Wallahu a’lam. Sa’id bin al-Musayyab mengatakan: “Dia memiliki kalung yang sangat mewah. Dan dia mengatakan: ‘Aku akan dermakan kalungku ini untuk memusuhi Muhammad.’ Yakni, sehingga Allah akan menimpakan (azab) dengan meletakkan tali di lehernya yang terbuat dari sabut neraka.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Al-Masad berarti serabut.” ‘Urwah bin az-Zubair mengatakan: “Al-Masad berarti rantai yang panjangnya 70 hasta.”
Mengenai firman-Nya: Fii jiidihaa hablum mim masad (“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) Mujahid mengatakan: “Yakni kalung dari besi.” Sedangkan Ibnu Abi Hatim pernah meriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakr, dia berkata: “Ketika turun ayat: Tabbat yadaa abii lahabiw watabb (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab”), seorang wanita yang buta sebelah matanya, Ummu Jamil binti Harb muncul, dimana dia mempunyai lengkingan (suara) yang sangat tinggi sedang di tangannya terdapat batu. Dia mengatakan: “Mudzammaman abainaa, wadiihuhu qallainaa, wa amruhu ‘ashainaa.” (“Dia orang hina yang kami abaikan, agamanya kami remehkan, dan perintahnyapun kami durhakai.”).

Dan Rasulullah saw. duduk di sebuah masjid bersama Abu Bakr. Ketika melihatnya (istri Abu Lahab), Abu Bakr berkata: “Wahai Rasulullah, dia telah muncul sedang aku khawatir dia akan melihatmu.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya dia tidak akan pernah melihatku.” Dan beliau membaca al-Qur’an yang berliau pegang teguh. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: “Wa idzaa qara’tal qur-aana ja’alnaa bainaka wa bainal ladziina laa yu’minuuna bil aakhirati hijaabam masthuuraa” (“Dan apabila kamu membacakan al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.”) (al-Isra: 45). Kemudian dia datang sehingga berhenti dekat Abu Bakr tanpa melihat Rasulullah saw. lalu dia berkata: “Wahai Abu Bakr, sesungguhnya aku beritahu bahwa sahabatmu telah mencaciku.” Abu Bakr berkata: “Tidak. Demi Rabb Pemelihara rumah ini, dia tidak mencacimu.” Kemudian dia berpaling seraya berkata: “Kaum Quraisy telah mengetahui kalau aku anak perempuan pemukanya.”

Para ulama mengatakan: “Dan di dalam surat ini terkandung mukjizat yang sangat nyata dan dalil yang sangat jelas tentang kenabian, dimana sejak firman Allah Ta’ala ini turun: “Sayashlaa naarong dzaatal lahab. Wamra atuhuu hammaalatal hathab. Fii jiidihaa hablum mim masad.” (“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) (Melalui ayat ini) Allah mengabarkan bahwa keduanya akan mendapat kesengsaraan dan tidak akan beriman. Keduanya atau salah satu dari keduanya tidak akan pernah beriman, baik lahir maupun batin, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dan hal itu merupakan bukti yang paling kuat dan jelas yang menunjukkan kenabian.

Jika Abu Lahab (paman Nabi) saja, yang yang jelas-jelas kafir dan dicela oleh Al-Qur’an, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasululloh Saw. Ketika Tsuwaibah, budak perempuan Abu Lahab menyampaikan berita gembira tentang kelahiran sang Cahaya Alam Semesta itu, Abu Lahab pun memerdekakannya sebagai tanda suka cita. Maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah Saw.? Tentu akan mendapatkan balasan yang lebih baik lagi daripada Abu Lahab.
Demikianlah penjelasan-penjelasan tentang peringatan (perayaan) kelahiran (maulid) Nabi Muhammad Saw. termasuk sesuatu yang boleh dilakukan. Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan sholawat, sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, semuanya itu merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh Syari’at Islam.

Alloh swt. berfirman :
وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ
Artinya, "Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu". (QS.Hud (11) :120).
Isyarat bahwa Rosululloh Saw. memuliakan hari kelahiran, dapat diambil kiyas dari keterangan hadits tersebut di bawah ini.

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari r.a. bahwa Rasululloh Saw. pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR. Muslim).

Hadanalloh waiyyakum ajma'in, wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger