Latest Post
02.52
Meskipun banyak pandangan yang berbeda menyikapi sebuah fakta tentang Hajar Aswad, yaitu mengenai jenis batu apa? dan dari mana ia berasal?
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)
FENOMENA HAJAR ASWAD
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 18 Maret 2014 | 02.52
Meskipun banyak pandangan yang berbeda menyikapi sebuah fakta tentang Hajar Aswad, yaitu mengenai jenis batu apa? dan dari mana ia berasal?
Akan tetapi saya sebagai seorang muslim meyakini bahwa Hajar Aswad bukan batu sembarangan karena ia memiliki keutamaan di sisi Alloh swt.
Apa saja keistimewaan Hajar Aswad dan Rukun Yamani? Kenapa setiap orang yang berthowaf dianjurkan untuk mengusapnya? Simak penjelasan Yahya bin Syarf An Nawawi Asy Syafi’i rahimahullah berikut ini :
An Nawawi rahimahullah menjelaskan :
Ketahuilah bahwa Ka’bah itu memiliki empat rukun. Pertama adalah rukun Hajar Aswad. Kedua adalah rukun Yamani. Rukun Hajar Aswad dan rukun Yamani disebut dengan Yamaniyaani. Adapun dua rukun yang lain disebut dengan Syamiyyaani.
Rukun Hajar Aswad memiliki dua keutamaan, yaitu: [1] di sana adalah letak qowa’id (pondasi) Ibrahim ‘alaihis salam, dan [2] di sana terdapat Hajar Aswad. Sedangkan rukun Yamani memiliki satu keutamaan saja yaitu karena di sana adalah letak qowa’id (pondasi) Ibrahim. Sedangkan di rukun yang lainnya tidak ada salah satu dari dua keutamaan tadi. Oleh karena itu, Hajar Aswad dikhususkan dua hal, yaitu mengusap dan menciumnya karena rukun tersebut memiliki dua keutamaan tadi. Sedangkan rukun Yamani disyariatkan untuk mengusapnya dan tidak menciumnya karena rukun tersebut hanya memiliki satu keutamaan. Sedangkan rukun yang lainnya tidak dicium dan tidak diusap. Wallahu a’lam. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 9/14)
Rukun Hajar Aswad memiliki dua keutamaan, yaitu: [1] di sana adalah letak qowa’id (pondasi) Ibrahim ‘alaihis salam, dan [2] di sana terdapat Hajar Aswad. Sedangkan rukun Yamani memiliki satu keutamaan saja yaitu karena di sana adalah letak qowa’id (pondasi) Ibrahim. Sedangkan di rukun yang lainnya tidak ada salah satu dari dua keutamaan tadi. Oleh karena itu, Hajar Aswad dikhususkan dua hal, yaitu mengusap dan menciumnya karena rukun tersebut memiliki dua keutamaan tadi. Sedangkan rukun Yamani disyariatkan untuk mengusapnya dan tidak menciumnya karena rukun tersebut hanya memiliki satu keutamaan. Sedangkan rukun yang lainnya tidak dicium dan tidak diusap. Wallahu a’lam. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 9/14)
Berikut beberapa hadist mengenai Hajar Aswad :
Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhuu ketika mencium Hajar Aswad, ketika itu beliau mengatakan, “Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari 1597 dan Muslim 1270)
Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhuu ketika mencium Hajar Aswad, ketika itu beliau mengatakan, “Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari 1597 dan Muslim 1270)
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai hajar Aswad, “Demi Allah, Allah akan mengutus batu tersebut pada hari kiamat dan ia memiliki dua mata yang bisa melihat, memiliki lisan yang bisa berbicara dan akan menjadi saksi bagi siapa yang benar-benar menyentuhnya.” (HR. Tirmidzi no. 961, Ibnu Majah no. 2944 dan Ahmad 1: 247.
Berikut ini fakta tulisan tentang Hajar Aswad :
Hajar Aswad Merupakan Super Konduktor
Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda :
" Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam ".
" Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam ".
Selamat malam rekan-rekan, semoga kita semua masih diberikan kesehatan untuk melakukan kebaikan di muka bumi ini, Aamiin..
Tulisan ini diambil dari berbagai sumber yang saya dengan keimanan yang saya miliki mempercayai kebenarannya..
Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi.
Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, " Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya?, "
Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, " Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya?, "
Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayangnya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut..
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka'bah.
Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berujung), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.
Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berujung), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.
Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka'bah di planet Bumi dengan Ka'bah di alam akhirat.
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama 'Zero Magnetism Area', artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi.
Oleh sebab itulah ketika kita mengelilingi Ka'bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Oleh sebab itulah ketika kita mengelilingi Ka'bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air.
Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka'bah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka'bah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Encyclopedia Americana menulis: " Sekiranya orang-orang Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun sholat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yang berpusat di Hajar Aswad, tidak lagi memencarkan gelombang elektromagnetik ".
Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas, menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yang ada.
Beberapa astronot yang mengangkasa melihat suatu sinar yang teramat terang mememancar dari bumi dan setelah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka'bah.
Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.
Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.
Prof Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis: " Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam, sholat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu ".
Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha illallah, Allahu Akbar...!
HAJAR ASWAD Tanda CINTA dari ALLOH
Sekiranya orang Islam berhenti melaksanakan Sholat ataupun Tawaf di muka bumi ini,niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini,karena rotasi dari super konduktor yg berpusat di Hajar Aswad tidak lagi memancarkan gelombang elektromagnetik.
Beberapa Astronot tlah membuktikan bahwa Mekah adalah pusat(latifah) dari planet Bumi.Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah,ketika mereka melakukan perjalanan ke luar angkasa untuk mengambil gambar Planet Bumi,mereka berkata :"Planet Bumi ternyata menggantung di area yg sangat gelap,tetapi tanah suci Kabah terlihat seperti bintang bersinar,sungguh sangat mengagumkan".
Beberapa Astronot tlah membuktikan bahwa Mekah adalah pusat(latifah) dari planet Bumi.Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah,ketika mereka melakukan perjalanan ke luar angkasa untuk mengambil gambar Planet Bumi,mereka berkata :"Planet Bumi ternyata menggantung di area yg sangat gelap,tetapi tanah suci Kabah terlihat seperti bintang bersinar,sungguh sangat mengagumkan".
Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas: Menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yg mempunyai kadar logam yg sangat tinggi,yaitu 23.000 kali dari baja yg ada,setiap antariksawan yg mengangkasa melihat sesuatu sinar yg teramat terang memancar dari bumi dan setelah diteliti ternyata bersumber dari hajar aswad yg brada di Baitulloh atau Kabah.
Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yg berfungsi bagai mikrofon yg sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.
Prof.Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis: "Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam,sholat tepat waktu,tawaf mengelilingi kabah itu menjaga keseimbangan gelombang elektro magnetik yg ada di hajar aswad sebagai super konduktor yg menjaga keseimbangan alam semesta."
Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yg berfungsi bagai mikrofon yg sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.
Prof.Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis: "Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam,sholat tepat waktu,tawaf mengelilingi kabah itu menjaga keseimbangan gelombang elektro magnetik yg ada di hajar aswad sebagai super konduktor yg menjaga keseimbangan alam semesta."
Hasil penelitian lebih lanjut,bahwa di planet bumi ada radiasi refleksi cahaya,dan ternyata berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Kabah.Yg mengejutkan adalah radiasi pancaran gelombang cahaya elektro magnetik tersebut bersifat infinite(tidak berujung),hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars,radiasi tersebut masih berlanjut terus.Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Kabah di Planet Bumi yg berpusat di hajar aswad dg Kabah di alam akhirat yg berpusat di "HATI ROSULULLOH SAW",,,,! dan dilanjutkan pada Hati Warosatul Anbiya.
sebagai QUTUBUL ALAMIN (Mursyid) yg menjadi sentral titik pusatnya Ruh alam semesta.
sebagai QUTUBUL ALAMIN (Mursyid) yg menjadi sentral titik pusatnya Ruh alam semesta.
Batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air.Di sebuah musium di Inggris ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Kabah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu2 tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Dalam salah satu sabdanya,Rosulullah SAW bersabda,"Hajar Aswad itu diturunkan dari surga,warnanya lebih putih daripada susu dan dosa2 anak cucu Adamlah yg menjadikannya hitam." ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj 877 )
dan Hajar Aswad ditubuh kita adalah HATI...! Hatilah yg memimpin seluruh tubuh untuk sholat yg arahnya ke KIBLAT yaitu ke kabah yg akan menyambungkan gelombang cahaya elektro magnetik itu ke hati kita maka HATI KITA Seperti di Charger atau di cash sehingga hiduplah hati nurani kita memancarkan gelombang elektromagnetik cahaya illahiah,dg syarat mendirikan sholatnya harus khusu sambil INGAT HATI "DZIKRULLOH" kepada pencipta dan pemilik Hajar aswad itu yaitu ALLOH.
dan Hajar Aswad ditubuh kita adalah HATI...! Hatilah yg memimpin seluruh tubuh untuk sholat yg arahnya ke KIBLAT yaitu ke kabah yg akan menyambungkan gelombang cahaya elektro magnetik itu ke hati kita maka HATI KITA Seperti di Charger atau di cash sehingga hiduplah hati nurani kita memancarkan gelombang elektromagnetik cahaya illahiah,dg syarat mendirikan sholatnya harus khusu sambil INGAT HATI "DZIKRULLOH" kepada pencipta dan pemilik Hajar aswad itu yaitu ALLOH.
Subhanalloh,Alhamdulillah,Allohu Akbar,Laa Illaha illalloh,Betapa bergetar hati kita melihat dahsyatnya kekuasaan Alloh yg telah meletakan Latifah bumi atau titik sentral super konduktor pada hajar aswad di kabah sebagai pusat gelombang elektro magnetik yg menjaga alam semesta dari kehancuran yg dahsyat atau kiamat dan sekaligus menjaga hati kita dari padamnya cahaya Illahi.
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber di Internet
20.17
Untuk membantu mengamalkan, mengamankan, dan melestarikan Ajaran Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya (TQN PPS), Abah Aos, ra. mengangkat beberapa Wakil Talqin (Khalifah Mursyid), yaitu pada tanggal 14 Oktober 2013, 14 November 2013, dan 12 Desember 2013.
Wakil Talqin (Khalifah Mursyid) yang dilantik tanggal 14 Oktober 2013 sbb :
1. KH. Mustofa (Jedah, Arab Saudi)
2. KH. Masqi (Provinsi Banten)
3. Prof. DR KH Asep Usman Ismail, Dosen Tasawuf UIN Jakarta
4. DR. KH Jujun Junaedi M (Bandung)
5. KH. Ubaidillah (Daerah Ambarawa)
6. KH. Dadang Muliawan (Panjalu, Ciamis)
7. KH. As'ad (Palembang)
8. KH. Ali Asyiq Masruri (Bekasi)
9. KH. Ayi Burhanudin. (Pelabuhan Ratu, Sukabumi)
Dan pada tanggal 14 November 2013, Syekh Mursyid Abah Aos, ra. melantik 10 lagi Wakil Talqin (Khalifah Mursyid), sbb :
1. Prof. KH. Nasarudin Umar (Wakil Menteri Agama Republik Indonesia)
2. KH. Abdulloh munif (Pasuruan, Jawa Timur)
3. KH. Iqro Abdurro'uf ( daerah Lampung)
4. KH. M. Hasan (Bangkalan Madura)
5. KH. Irfan Zidni (DKI Jakarta)
6. KH. Syafi'i Abrori (Purbalingga)
7. KH. Syamsul Bahri (Pasuruan)
8. KH. Rofiqul Khoir (Daerah Malang)
9. KH. Anshori (Selangor-Malaysia)
10. KH. Ahmad Jalaludin (Majenang)
Sedangkan Wakil Talqin (Khalifah Mursyid) yang diangkat pada tanggal 12 Desember 2013 oleh Syekh Mursyid Abah Aos, ra. ialah sbb :
1. KH. Saefudin Hamzah (Banjarnegara)
2. KH. Asep Tanjungjaya (Singaparna, Tasikmalaya)
3. KH. Jajang Arum (Tasikmalaya)
4. KH. Dede ( Banjar, Ciamis)
5. KH. Adnan (Banten)
6. KH. Akbar (Kabupaten Bogor)
7. KH. Reda Matovani Kejaksaan Agung RI (DKI Jakarta)
8. KH. Hasan, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN Bandung)
9. KH. Yusuf (Daerah Cirebon)
10. KH. Sahid Arifin, cucu Macan Suryalaya (Majalengka)
Dan dipenghujung akhir tahun 2013, Hadrotus Syekh Mursyid Abah Aos, ra. (Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi, ra.), Sang Pelestari Cahaya, mengangkat Bapak DR. Ari Ginanjar Sebastian sebagai Wakil Talkin (Khalifah Mursyid). Beliau adalah pemilik Gedung Menara 165, di jalan TB Simatupang, DKI Jakarta-Indonesia (Owner ESQ).
Daftar Wakil Talqin TQN PPS
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 16 Maret 2014 | 20.17
Wakil Talqin (Khalifah Mursyid) yang dilantik tanggal 14 Oktober 2013 sbb :
1. KH. Mustofa (Jedah, Arab Saudi)
2. KH. Masqi (Provinsi Banten)
3. Prof. DR KH Asep Usman Ismail, Dosen Tasawuf UIN Jakarta
4. DR. KH Jujun Junaedi M (Bandung)
5. KH. Ubaidillah (Daerah Ambarawa)
6. KH. Dadang Muliawan (Panjalu, Ciamis)
7. KH. As'ad (Palembang)
8. KH. Ali Asyiq Masruri (Bekasi)
9. KH. Ayi Burhanudin. (Pelabuhan Ratu, Sukabumi)
Dan pada tanggal 14 November 2013, Syekh Mursyid Abah Aos, ra. melantik 10 lagi Wakil Talqin (Khalifah Mursyid), sbb :
1. Prof. KH. Nasarudin Umar (Wakil Menteri Agama Republik Indonesia)
2. KH. Abdulloh munif (Pasuruan, Jawa Timur)
3. KH. Iqro Abdurro'uf ( daerah Lampung)
4. KH. M. Hasan (Bangkalan Madura)
5. KH. Irfan Zidni (DKI Jakarta)
6. KH. Syafi'i Abrori (Purbalingga)
7. KH. Syamsul Bahri (Pasuruan)
8. KH. Rofiqul Khoir (Daerah Malang)
9. KH. Anshori (Selangor-Malaysia)
10. KH. Ahmad Jalaludin (Majenang)
Sedangkan Wakil Talqin (Khalifah Mursyid) yang diangkat pada tanggal 12 Desember 2013 oleh Syekh Mursyid Abah Aos, ra. ialah sbb :
1. KH. Saefudin Hamzah (Banjarnegara)
2. KH. Asep Tanjungjaya (Singaparna, Tasikmalaya)
3. KH. Jajang Arum (Tasikmalaya)
4. KH. Dede ( Banjar, Ciamis)
5. KH. Adnan (Banten)
6. KH. Akbar (Kabupaten Bogor)
7. KH. Reda Matovani Kejaksaan Agung RI (DKI Jakarta)
8. KH. Hasan, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN Bandung)
9. KH. Yusuf (Daerah Cirebon)
10. KH. Sahid Arifin, cucu Macan Suryalaya (Majalengka)
Dan dipenghujung akhir tahun 2013, Hadrotus Syekh Mursyid Abah Aos, ra. (Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi, ra.), Sang Pelestari Cahaya, mengangkat Bapak DR. Ari Ginanjar Sebastian sebagai Wakil Talkin (Khalifah Mursyid). Beliau adalah pemilik Gedung Menara 165, di jalan TB Simatupang, DKI Jakarta-Indonesia (Owner ESQ).
07.01
Sekali lagi, keyakinan bahwa pengersa abah Aos sebagai penerus pengersa abah Anom sebenarnya sudah banyak diyakini oleh para ikhwan, namun karena banyaknya birokrasi diseputar pengersa abah Anom, seperti instrumen yayasan misalnya, lembaga kepesantrenan, dll. Keberadaan birokrasi tersebut lah yang membuat keyakinan tersebut sedikit memudar mengingat betapa sulitnya menembus hirarki Pondok Pesantren Suryalaya. Keraguan-keraguan itu kemudian muncul, seperti; apakah ajengan Gaos mampu menembus hirarki pondok pesantren Suryalaya? dan apakah ajengan gaos mampu dikenal banyak kalangan seperti pengersa Abah Anom?
Namun demikian, ternyata masih ada golongan ikhwan yang ibarat, "Bak menabur garam di lautan tanpa tepi". Siapa golongan tersebut, ialah sebagaimana yang saya tulis di, “Strategi Di Atas Para Raja”.
Bahkan merupakan kebangaan saya juga kepada bapak, sehingga tentang bapak saya masukkan ke dalam blog pribadi saya, ini membuktikan bahwa saya termasuk salah seorang yang mengagumi bapak.
Tapi, ya sudahlah... saya teringat kata orang bijak, "terkadang tanpa kita sadari atas sikap kita itu dapat terlihat sesungguhnya kita berada di maqom apa?, dan ada kalanya orang itu tidak tersohor di penghuni bumi, namun ia sangat tersohor di penghuni langit, sebaliknya ada kalanya orang itu sangat tersohor di penghuni bumi, namun ia tidak tersohor di penghuni langit". Wallaahu'alam Bishshowab.
Bak Menggarami Laut di Lautan Tanpa Tepi
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 25 Februari 2014 | 07.01
Dahulu sewaktu
pengersa Abah Anom masih ada di dunia, banyak orang para muridnya
bertanya-tanya, "Siapakah kelak yang akan menjadi penerus beliau, jika
kelak beliau wafat?
Pada waktu itu, jauh
sebelum beliau wafat, menurut saya setidaknya ada sebelas orang wakil talqin
yang masih hidup, dari delapan puluh sembilan wakil talqin muridnya pengersa
abah Anom yang lebih menonjol dari yang lainnya, ialah :
- H. Ali bin Haji Mohammed (Wakil
Talqin) dari Singapore.
- Hj. Mohd. Zuki As Syujak bin
Syafie (Wakil Talqin) dari Malaysia.
- KH. Muhammad Abdul Gaos
Saefullah Maslul (Wakil Talqin) dari Ciamis.
- KH. Zaenal Abidin Anwar (Wakil
Talqin) dari Suryalaya.
- KH. Zainal Abidin Bazul Asyhab
(Wakil Talqin) dari Sukabumi
- Prof. Dr. Juhaya S. Praja
(Wakil Talqin) dari Bandung.
- KH. Arief Ikhwanie AS (Wakil
Talqin) dari Bandung.
- Drs. H. Wahfiudin MBA. (Wakil
Talqin) dari Jakarta.
- Prof. Dr. H. A. Tafsir, MA
(Wakil Talqin) dari Bandung
- KH. Muhammad Sholeh (Wakil
Talqin) dari Jakarta.
- KH. Moch. Ali Hanafiah (Wakil
Talqin) dari Surabaya.
Dari sebelas orang
wakil talqin tersebut yang paling menonjol kelebihannya dibanding dengan yang
lainnya, ialah Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul al Qodiri
an-Naqsyabandi r.a. Kelebihan-kelebihannya sbb :
- Masih hidup hingga saat ini
(syaikhul hayyi).
- Murid generasi awal, sejak
tahun 1968.
- Selalu bersama-sama Abah Anom.
- Menguasai ilmu-ilmu agama yang
luas.
- Mewarisi ilmu dan amaliah
mursyid.
- Produktif menulis kitab (buku).
- Setia, menjadikan gurunya,
satu-satunya figur sebagai panutan pada zamannya.
- Selalu berjuang untuk
mengagungkan ajaran gurunya.
- Digemari oleh murid-murid.
- Istiqomah.
Nah, dari beberapa
kelebihan-kelebihan tersebut maka tidaklah heran jika sejak pengersa abah Anom
masih hidup pun, bahwa tentang siapa yang menjadi calon penerus beliau kelak
sebenarnya sudah mulai terlihat, yakni mengarah kepada pengersa abah Aos. Hal
ini ditandai dengan banyaknya ikhwan bertanya kepada belaiu tentang siapakah
nanti yang akan menjadi penerus pengersa abah Anom? Dan terhadap pertanyaan
ini, beliau dengan tegas menjawab, bahwa "penerus pengersa abah
pasti ada, siapa? yaitu pasti muridnya.”
Sekali lagi, keyakinan bahwa pengersa abah Aos sebagai penerus pengersa abah Anom sebenarnya sudah banyak diyakini oleh para ikhwan, namun karena banyaknya birokrasi diseputar pengersa abah Anom, seperti instrumen yayasan misalnya, lembaga kepesantrenan, dll. Keberadaan birokrasi tersebut lah yang membuat keyakinan tersebut sedikit memudar mengingat betapa sulitnya menembus hirarki Pondok Pesantren Suryalaya. Keraguan-keraguan itu kemudian muncul, seperti; apakah ajengan Gaos mampu menembus hirarki pondok pesantren Suryalaya? dan apakah ajengan gaos mampu dikenal banyak kalangan seperti pengersa Abah Anom?
Pasca kepergian
pengersa abah Anom, pertanyaan serupa "Siapakah penerus Abah anom?"
semakin menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat, terutama para ikhwan TQN
Pondok Pesantren Suryalaya. Mengapa?, sebab pengersa abah Anom tidak
meninggalkan pesan sebagai bukti otentik tentang siapa yang menjadi penerusnya
sebagai Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang ke 38. Pertanyaan tersebut
tidak ada yang mampu menjawabnya, kecuali pengersa Abah Aos sendiri. Akhirnya
setelah setelah beberapa bulan berjalan, akhirnya pertanyaan tersebut terjawab
sudah dengan pernyataan-pernyataan Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul
al Qodiri an-Naqsyabandi ra.
Berikut ini
jawaban-jawaban beliau, baik tersirat maupun tersurat, sbb:
- Sejak tahun 1957 sudah diminta
oleh pengersa Abah Anom kepada Ibunda beliau, Hj. Siti Muslihah.
- Sejak tahun 1968 sampai tahun
1973 (lima tahun) setiap hari berjalan kaki dari Panjalu ke Suryalaya
untuk berguru kepada pengersa Abah Anom.
- Selama tujuh tahun, setiap
malam duduk disamping kiri pengersa Abah Anom. Baru berhenti setelah di
ijazahkan secara simbolis berupa sebuah cicin batu akik dari Abah Anom.
- Pada tahun 1989 disaksikan
beberapa ikhwan pengersa Abah Anom penepuk pundak beliau dengan
mengucapkan penggalan ayat Al-Quran Surat Al-Baqoroh, ayat 247.
- Mendapatkan perintah dari
pengersa abah Anom, "Goreskan itu Manaqib".
- Mendapat perintah dari pengersa
abah Anom, "kembangkan manaqib, itu program abah".
- Mendapat perintah untuk
berdakwah sebagai Panglima dari pengersa Abah Anom.
- Mendapat restu dari Abah Anom,
“Abah mah kumaha ceuk Aos. Ceuk Aos “A”, A. Ceuk Aos “B”, B.
- Perintah pengersa Abah Anom,
"tuturkeun aos".
- Diharapkan oleh pengersa Abah
Anom, "aos mah kudu didie".
- Mendapat perintah dari pengersa
abah Anom, "amalkan, amankan, lestarikan TQN Pondok Pesantren
Suryalaya. Kalau bukan kita siapa lagi?"
Dengan jawaban dari beliau ini, bagi
ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya sudah sangat jelas siapa yang menjadi
penerus pengersa Abah Anom, Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin r.a. sebagai
Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang ke 38, sebagai mana sayapun
mengakui beliau sejak 22 Agustus 2013 yang say tuangkan dalam tulisan “Cahaya
Yang Tak Pernah Padam”, pengakuan ini berdasarkan perenungan saya sebelumnya
yang saya tuangkan dalam tulisan, “Perjalanan Murid Mengenali Gurunya” dan juga
berdasarkan kesaksian saya, yang saya tulis dalam, “Kesaksianku Untuk Dia”.
Karomah pengersa abah
Aos, banyak sekali, yang menandakan kebenaran beliau, diantaranya :
- Mampu mengamalkan, mengamankan,
dan melestarikan ajaran TQN Pondok Pesantren Suryalaya sendiri, dengan
dibantu salah seorang wakil talqin pengersa abah Anom.
- Mampu membimbing dan
meningkatkan amal ibadah muridnya, baik secara kuantitas dan kualitas.
- Mampu menghadapi rintangan yang
menghambat baik yang datang dari para ikhwan, wakil talqin, dan ahlul
bait.
- Mampu melaksanakan manaqib di
masjid-masjid raya di Indonesia.
- Mampu mengadakan manaqib di
masjid-masjid jami' Internasional.
- Diterima di madrasah tuan Syekh
Abdul Qodir al Jailani q.s. di Baghdad Iraq sebagai Mursyid TQN Pondok
Pesantren Suryalaya.
- Mendapat pengakuan sebagai
murid Syekh Abdul Qodir al Jailani q.s. dari pewaris Madrasah beliau yaitu
Syaikh Hashimuddin al Jailani r.a. dan menadapat gelar Al Qodiri.
- Mendapat kunjungan kehormatan
dari cucu ke 25 tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani q.s. yaitu Syaikh
Muhammad Fadil al Jajilani r.a. (penyusun kitab tafsir abdul qodir
jailani) dan mendapat pengakuan Mursyid Kamil Mukammil.
- Mendapat kunjungan kehormatan
dari cucu tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani q.s. yaitu Syaikh Afeefuddin al
Jailani r.a. Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah di Malaysia, dan mendapat gelar
An-Naqsyabandi.
- Mendapatkan pengakuan dari para
tokoh di pemerintah dan kalangan profesional, diantaranya; H. Dahlan Iskan
(Menteri BUMN), yang mengatakan, "saya adalah timba yang mencari
sumur, sumur itu adalah pengersa abah Aos", Prof. DR. Nasaruddin Umar
MA (Wakil Menag/Wk. Talqin), yang mengatakan "membela abah Aos sama
dengan membela abah Anom", Prof. DR. Asep Usman Ismail (Dosen UIN
Jakarta/Wk. Talqin) yang mengatakan, "mursyid itu estafeta, abah Aos
sebagai penerus abah Anom sudah tepat", dan Dr. (HC) Ary Ginanjar
(Owner ESQ/Wk. Talqin), yang mengatakan, "saya datang kesini bukan
untuk ceramah, tetapi untuk belajar kepada pengersa Abah Aos".
Namun demikian, ternyata masih ada golongan ikhwan yang ibarat, "Bak menabur garam di lautan tanpa tepi". Siapa golongan tersebut, ialah sebagaimana yang saya tulis di, “Strategi Di Atas Para Raja”.
Masih ada saja yang
berpikiran "rasionalisme" yang menganggap "Imitasi" bahkan
menginginkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya dibelah dua menjadi TQN Sirnarasa.
Terhadap tuduhan ini, Abah Aos menjawab,
"Dalam tanbih, jangan timbul keretakan, retak saja tidak boleh apalagi
dibelah! maka yang menginginkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya dibelah itu,
adalah penghianat tanbih. Tidak ada TQN Sirnarasa, yang ada hanya TQN Pondok
Pesantren Suryalaya, karena di dalam tanbih, “Pun kami tempat orang bertanya
tentang thoriqoh qodiriyyah wa naqsyabandiyah pondok pesantren suryalaya."
Dikutip Februari 2014
Bahkan dengan nafsunya
ia berani mengatakan :
- "Sehingga
banyak orang terbawa tanpa sadar". à Inilah yang saya katakan "bak menggarami laut", bagaimana
mungkin saya yang menjalani koq orang lain yang merasakan?
- "Memancing
ikan di akuarium tetangga, karena sang pemilik bisa marah, lebih baik memancing di lautan
tanpa tepi". à Bagaimana mungkin dapat menghakimi para
murid pengamal TQN Pondok Pesantren Suryalaya dikatakan tetangga sebelah?
- "...
selain faktor wilayah (kewalian dari langit) juga faktor khilaafah
(kepemimpinan, organisasi, dan manajemen). Apabila kedua faktor itu
menyatu, maka tak ada lagi yang dapat merintangi". à Bagaimana mungkin meragukan kekuasaan
Alloh, apakah tidak cukup dipahami itu sudah ketentuan Alloh (dari langit)
saja?
- ".....banyak
tarekat-tarekat yang hanya dijadikan batu pijakan oleh para broker
politik...". à Bagaimana mungkin bisa berprasangka
buruk seperti demikian, bukankah pengersa Abah Anom telah mengajarkan
untuk senantiasa menjalin hubungan dengan Pemerintah termasuk juga dengan
Partai Politik?
Dikutip
Februari 2104
- "....pertanyaannya
: bagaimana jika apa yang telah diajarkan oleh gurunya terdahulu (guru
yang kamil mukammil adalah pelajaran yang sudah sempurna, masihkah
diperlukan penambahan? à Bagaimana mungkin menganggap tidak perlu lagi
menambah kualitas dan kuantitas ibadah?, Bagaimana mungkin mengganggap
bahwa pintu kewalian telah tertutup?
Dan yang sangat
membuat saya terkejut, adalah ketika saya akan melihat kembali jalinan
silaturahim di sosial media facebook, ternyata saya sudah di remove dari
pertemanan olehnya. Masya Alloh, hanya karena saya berbeda pendapat dan
menyarankan kepada beliau (yang juga sebenarnya saya kagumi) sbb :
- Berbaiksangkalah terhadap isu
politik.
- Menegaskan Kemursyidan pengersa
Abah Aos sebagai penerus abah Anom.
- Menyarankan agar membuat status
yang lebih bijak dan bersikap seperti para wakil talqin yang lainnya.
- Menyarankan agar berkarya nyata
sebagaimana pengersa Abah Aos mengadakan manaqiban di masjid Istiqlal
dengan menggandeng para tokoh nasional dan internasional.
- Saya nerpendapat bahwa, beliau
dulu tidak seaktif seperti sekarang ini.
Dikutip
Februari 2014
- "Bila
ada yang berkomentar jahat, hapus saja komentar itu. Yang bersangkutan pun
di unfriend saja, karena dia memang tidak berniat untuk menjadi friend.
Kehadirannya hanya untuk mengintip-intip (tajassus)". à Bagaimana mungkin menghakimi bahwa orang yang
berniat memberi nasihat/berbeda pendapat langsung divonis jahat dan
tajassus? Apakah tidak menyadari siapa tahu orang tersebut memang berniat
baik untuk menjalin silaturahmi walau hanya lewat facebook? Apakah tidak
menyadari kalau orang tersebut barangkali dapat memetik hikmah darinya
dengan jalinan silaturahmi di facebook?
Almukarrom al Ustadz
Wahfiudin, saya friend dengan bapak jauh sebelum saya mengakui kemursyidan Abah
Aos. Sejak dahulu saya sesungguhnya mengagumi dan membanggakan bapak, bahkan
kami di wilayah Tangerang pernah sangat bangga atas kehadiran bapak di majelis
manaqib memenuhi undangan dari yayasan, pada waktu itu bapak mengatakan,
"yang namanya manaqib tidak ada istilah diundang, tapi kewajiban untuk
menghadirinya.”
Bahkan merupakan kebangaan saya juga kepada bapak, sehingga tentang bapak saya masukkan ke dalam blog pribadi saya, ini membuktikan bahwa saya termasuk salah seorang yang mengagumi bapak.
Tapi, ya sudahlah... saya teringat kata orang bijak, "terkadang tanpa kita sadari atas sikap kita itu dapat terlihat sesungguhnya kita berada di maqom apa?, dan ada kalanya orang itu tidak tersohor di penghuni bumi, namun ia sangat tersohor di penghuni langit, sebaliknya ada kalanya orang itu sangat tersohor di penghuni bumi, namun ia tidak tersohor di penghuni langit". Wallaahu'alam Bishshowab.
Mohon maaf,
tulisan ini tidak bermaksud apa-apa, namun semata hanya karena dorongan yang kuat
yang berasal dari hati. Haadanalloh wa iyyakum ajma'in, wassalamu'alaikum wr.
wb.
21.18
Kajian Kitab Miftahussudur Ooeh Prof. DR. Asep Usman Ismail
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 09 Januari 2014 | 21.18
Label:
Gallery Video
03.15
Alhamdulillahilladzi azdhaba 'anna hazan inna robbana laghofurun syakur
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 08 Januari 2014 | 03.15
01.34
Hidmat Ilmiah Tahun 2005 oleh Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul al Qodiri RA.
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 07 Januari 2014 | 01.34
Label:
Gallery Video
23.47
Pengangkatan Ari Ginanjar Sebagai Wakil Talqin TQN PPS
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 29 Desember 2013 | 23.47
Label:
Gallery Video
21.00
Sumber: Majalah Alkisah
Re-post dari : http://sufiroad.blogspot.com/2013/07/mengkritisi-mazhab-panggilan-hati_12.html
Mengkritisi Mazhab Panggilan Hati: Dialog Al Bouti vs Al-Bani
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 26 Desember 2013 | 21.00
Assalamualaikum..
Setiap orang apabila menemui suatu masalah fiqiyah, pilihanya hanya dua, yaitu antara berfikir dan berijtihad sendiri sambil terus mencari dalil yang dapat menjawab atau bertaqlid mengikuti pendapat mujtahid terdahulu.
Pilihan berijtihad tidak diperuntukan kesemua orang karena tidak mungkin semua orang harus menggunakan waktunya untuk mencari, berfikir, mempelajari perangkat2 ijtihad yang akan memakan waktu lama. Ijtihad tidak bisa hanya sekedar membaca satu-dua buku, apalagi buku terjemahan, dan bahkan tanpa guru yang memiliki sanad keilmuan. Bila itu terjadi maka rusaklah syareat agama.
Berikut adalah potongan perdebatan mengenai ijtihad ini antara Syaikh Muhammad Said Ramadhan Al-Bouthi dengan Syaikh Nashirudin Al Bani tokoh pemuka Salafi-Wahabi yang terkenal berfaham anti mazhab. Diskusi ini diambil dari kitab Syeikh Al Bouthi yang berjudul "Al-La Mazhabiyah Akhthar Bid'ah Tuhaddid asy-Syariah al-Islamiyah" - Faham tak bermazhab adalah bid'ah paling berbahaya yang dapat menghancurkan syariat Islam".
Berikut adalah isi Jalanya diskusi tersebut:
Al-Bouti : Bagaimana cara anda memahami hukum Allah ? Apakah anda langsung mengambil dari Al-Qur’an dan Sunnah ataukah anda mengambilnya dari para imam mujtahid ?
Al-Bani: Saya akan meneliti pendapat para imam mujtahid serta dalil-dalilnya kemudian saya akan mengambil keterangan yang dalilnya paling mendekati Al-Qur’an dan Sunnah.
Al-Bouti : Seandainya anda mempunyai uang 5000 Lira Syria dan uang tersebut anda simpan selama enam bulan, lalu anda menggunakannya membeli barang-barang untuk diperdagangkan. Kapankah anda membayar zakat harta perdagangan tersebut ? Apakah setelah enam bulan kedepan ataukah setelah satu tahun ?
Al-Bani : Maksud tuan apakah harta perdagangan itu wajib dizakati ?
Al-Bouti : Saya sekedar bertanya dan saya berharap anda menjawabnya dengan cara anda sendiri. Perpustakaan ada didepan anda. Disitu terdapat kitab-kitab tafsir, kitab-kitab hadits dan juga kitab-kitab para imam mujtahidin.
Al-Bani: Hai Saudaraku ! Ini adalah masalah agama, bukan soal mudah yang dapat dijawab seketika. Memerlukan waktu untuk mempelajarinya dengan seksama (teliti). Kedatangan kami kesini adalah untuk membahas masalah yang lain !
Al-Bouti : Baiklah..! kami ingin bertanya Apakah setiap muslim wajib menyelidiki dalil-dalil para imam mujtahid kemudian mengambil mana yang lebih cocok dengan Al-Qur’an dan hadits ?
Al-Bani: Ya benar !
Al-Bouti : Kalau begitu semua orang harus memiliki kemampuan ijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab. Bahkan mereka harus memiliki kemampuan yang lebih sempurna karena orang-orang yang mampu memutuskan pendapat para imam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sudah barang tentu lebih pandai dari semua imam itu.
Al-Bani : Sesungguhnya manusia itu ada tiga macam : Mukallid, Muttabi’ dan Mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab kemudian memilih mana yang lebih dekat kepada Al Qur’an dan Sunnah adalah Muttabi’ yakni pertengahan antara Mukallid dan Mujtahid.
(Al-bani menyebut muttabi' berada diantara muqallid dan mujtahid, tapi kapasitas muttabi disini menjadi lebih unggul dari mujtahid, karena mujtahid sendiripun tidak membanding-bandingkan mazhab, menyaring pendapat imam mazhab lalu memutuskan pendapat para imam mazhab tersebut sesuai dengan Al-Quran dan sunnah. inilah yang dimaksud Al Bouthi sebagai "Sudah tentu lebih pandai dari semua imam itu" Tapi Albani tidak menjawab peratnyaan Al Bouthi, apakah setiap orang islam harus sedekimian itu)
Al-Bouti : Apa sebenarnya kewajiban Mukallid ?
Al-Bani : Dia taqlid kepada imam mujtahid yang cocok dengannya.
Al-Bouti : Apakah berdosa jika ia taqlid kepada seorang imam secara terus menerus dan tidak mau pindah kepada imam yang lain ?
Al-Bani : Ya, hal itu hukumnya haram !
Al-Bouti : Kalau yang demikian itu haram, apakah dalilnya ?
Al-Bani : Dalilnya adalah karena dia menetapi sesuatu yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah ‘azza wajalla.
Al-Bouti : Dari tujuh macam qiro’at, qiro’at apa yang anda pakai untuk membaca Al Qur’an ?
Al-Bani : Qiro’at imam Hafash .
Al-Bouti : Apakah anda selalu membaca Al Qur’an dengan qira’at imam Hafash ataukah anda membaca Al Qur’an setiap harinya dengan qiro’at yang berbeda-beda ?
Al-Bani : Tidak, saya selalu membaca Al-Qur’an dengan qiro’at imam Hafash saja.
(golongan anti madzhab ini sendiri memegang satu macam qiro’at dari tujuh macam yang ada, mengapa mereka tidak mengharamkan hal ini ?, sedangkan golongan selain golongannya bila memegang satu amalan dari satu madzhab terus menerus maka mereka haramkan, beginilah sifat mereka selalu membenarkan golongannya sendiri dan mensesatkan golongan lainnya bila tidak sepaham dengan mereka, walaupun tidak ada dalil yang mengharamkannya ! pen.) .
Al-Bouti : Mengapa anda selalu menetapi qiro’at imam Hafash ?, sedangkan menurut riwayat yang diterima dari Nabi saw. secara mutawatir bahwa Allah hanya mewajibkan anda untuk membaca Al-Qur’an !
Al-Bani : Karena saya belum mempelajari qiro’at-qiro’at yang lain dengan sempurna. Dan tidak mudah bagi saya untuk membaca Al Qur’an kecuali dengan qiro’at imam Hafash !
Al-Bouti : Demikian pula halnya dengan orang yang mempelajari fiqh menurut madzhab Syafi’i. Dia juga tidak cukup sempurna dalam mempelajari madzhab-madzhab yang lain dan tidak mudah baginya untuk mempelajari hukum agama selain dari madzhab Syafi’i. Kalau anda mewajibkan kepadanya untuk mengetahui ijtihad para imam dan mengambil semuanya, ini berarti anda pun wajib mempelajari semua qiro’at itu. Kalau anda beralasan tidak mampu, maka begitu juga halnya si mukallid tadi. Singkatnya kami ingin mengatakan, apa alasan anda sehingga mewajibkan para mukallid untuk berpindah-pindah dari madzhab yang satu ke madzhab yang lain ?, sedangkan Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian ! Artinya sebagaimana Allah swt. tidak pernah mewajibkan untuk mengikuti satu madzhab secara terus-menerus, begitu juga Allah tidak pernah mewajibkan untuk terus menerus pindah satu madzhab ke madzhab yang lain !
Al-Bani : Sesungguhnya yang haram itu ialah kalau seseorang mempunyai I’tikad (keyakinan) bahwa Allah memerintahkannya untuk terus-menerus menetapi madzhab tertentu.
Al-Bouti : Ini masalah lain dan itu memang benar, tidak ada perbedaan pendapat. Akan tetapi apakah ia berdosa kalau terus-menerus mengikuti imam tertentu sedangkan dia juga tahu bahwa Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian kepadanya ?
Al-Bani : Kalau seperti itu tidaklah dia berdosa !
Al-Bouti: Tetapi buku Syeikh Khajandi yang anda pelajari itu menyebutkan hal yang berbeda dengan apa yang anda katakan. Khajandi secara tegas mengharamkan yang demikian bahkan pada beberapa bagian dari buku itu ia menyatakan kafir kepada orang yang terus-menerus mengikuti seorang imam tertentu dan tidak mau pindah kepada yang lain !
Al-Bani : Mana…,? Selanjutnya ia berpikir tentang tulisan Syeikh Khajandi yang berbunyi : “Bahkan siapa saja yang mengikuti seorang imam secara terus-menerus dalam setiap masalah, maka dia termasuk orang fanatik yang salah serta telah taqlid secara membabi buta dan dialah orang yang telah mencerai-beraikan agama dan menjadikan diri mereka berkelompok-kelompok”. Lalu dia berkata bahwa yang dimaksud dengan mengikuti secara terus-menerus disitu adalah mengi’tikadkan wajibnya yang demikian dari sudut pandang agama. Didalam pernyataan itu terdapat pembuangan.
Al-Bouti: Apakah buktinya kalau Syeikh Khajandi itu bermaksud demikian? Mengapa anda tidak mengatakan bahwa Syeikh Khajandi itu telah melakukan kesalahan ?
(Terhadap pertanyaan Syeik Sa’id ini kelompok anti madzhab itu tetap bersikeras bahwa apa yang dikatakan Syeikh Khajandi itu benar karena didalam ucapannya itu terdapat pembuangan kalimat.)
Al-Bouti melanjutkan : Akan tetapi meskipun anda memperkirakan adanya pembuangan kalimat pada ucapan Syeikh Khajandi itu (yakni kalimat apabila dia mengi’tikadkan wajibnya mengikuti seorang imam secara terus menerus ) tetap saja ucapan tersebut tidak memiliki makna apa-apa karena setiap muslim mengetahui bahwa seorang imam tertentu dari keempat imam madzhab itu bukanlah termasuk kewajiban syari’at melainkan atas dasar pilihan orang itu sendiri.
Al-Bani: Bagaimana bisa demikian ? Saya mendengar dari banyak orang dan juga dari sebagian ahli ilmu bahwa diwajibkan secara syari’at mengikuti madzhab tertentu secara terus menerus dan tidak boleh berpindah kepada madzhab yang lain !
Al-Bouti : Coba anda sebutkan kepada kami nama satu orang saja dari kalangan awam atau ahli ilmu yan menyatakan demikian ! (Terhadap permintaan Syeikh Sa’id ini kelompok anti madzhab itu terdiam sejenak. Ia heran kalau-kalau ucapan Syeikh Sa’id itu benar, dan dia [anti madzhab] pun mulai ragu-ragu tentang kebenaran atas pernyataannya sendiri yakni perkataan mereka bahwa sebagian besar manusia mengharam kan berpindah-pindah madzhab.).
Selanjutnya Al-Bouti mengatakan : Anda tidak akan menemukan satu orang pun yang beranggapan keliru seperti ini. Memang pernah diriwayatkan bahwa pada masa terakhir Dinasti Utsmaniyyah mereka keberatan kalau ada orang yang bermadzhab Hanafi pindah ke madzhab lain. Hal ini kalau memang benar adalah termasuk fanatik buta yang tercela.
Hanya Dua Kategori!
Al-Bouti :Dari mana Anda mengetahui perbedaan antara muqallid dan muttabi'?
Al-Bani : Perbedaannya ialah dari segi bahasa,
(Lalu Al-Buthi mengambil kitab-kitab bahasa agar Al-Albani dapat menetapkan perbedaan makna bahasa darl dua kalimat tersebut, tetapi la tidak menemul apa-apa. Al-Buthi kembali melanjutkan pembicaraan).
Al-Bouti : Sayyidina Abu Bakar RA pernah berkata kepada seorang Arab badwi yang menentang pajak dan perkataannya ini diakui segenap sahabat, "Apabila para muhajirin telah rela, hendaknya kalian menyepakatinya (mengikuti)."
Abu Bakar mengatakan taba'un (mengikuti), yang berarti muwafaqah (menyepakati).
Al-Bani : Kalau begitu, perbedaan makna kedua kata tersebut adalah dari segi istilah, dan bukan hak saya untuk membuat suatu Istilah.
Al-Bouti : Silakan saja Anda membuat istilah, tetapi Istilah yang Anda buat tetap tak akan mengubah hakikat sesuatu. Orang yang Anda sebut muttabi', kalau ia mengetahui dalil dan cara melakukan istinbath darinya, berarti ia seorang mujtahid. Tetapi apabila orang itu dalam suatu masalah tidak tahu dan tidak mampu ber-istinbath, berarti ia mujtahid dalam sebahagian masalah dan muqallid dalam masalah lain. Oleh karena itu, bagaimanapun juga pembahagian tingkatan seseorang hanya ada dua macam, mujtahid dan muqallid. Ini hukumnya sudah cukup jelas dan telah diketahui.
Al-Bani: Sesungguhnya muttabi' adalah orang yang mampu membedakan pendapat mujtahidin dan dalil-dalilnya, kemudian menguatkan salah satu daripadanya. Tingkatan ini berbeda dengan taqlld.
Al-Bouti : Kalau yang Anda maksudkan "membedakan pendapat para imam mujtahid ialah membedakan mana yang kuat dan mana yang lemah dari segi dalil, berarti tingkat ini adalah lebih tinggi dari ijtihad (lebih unggul darl Imam mujtahid). Apakah Anda mampu berbuat demikian?
Al-Bani : Saya akan melakukannya sejauh kemampuan saya.
(Kata-kata Al-Albani itu sesungguhnya secara tidak langsung menunjukkan bahwa la mempunyai kemampuan lebih tinggi dari para imam ijtihad, sebab ia mampu membedakan pendapat mujtahidin dan dalil-dalilnya, meski dengan catatan: "sejauh kemampuan saya". Al-Buthi rhencoba mengangkat contoh kasus yang akan menunjukkan kekeliruan cara pandang sepertl itu).
Talak Tiga : Contoh Kasus
Al-Bouti : Kami mendengar Anda telah berfatwa bahwa talak tiga yang dljatuhkan dalam satu kesempatan yang jatuh satu talak saja. Apakah sebelum menyampaikan fatwa Anda talah meneliti pendapat para Imam madzhab serta dalil-dalil mereka, kemudian Anda memilih salah satu dari pendapat mereka lalu baru Anda berfatwa?
Ketahuilah bahwa Uwalmlr Al-ljlanl telah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya di hadapan Rasulullah SAW. Setelah ia bersumpah li’an dangan istrinya, ia barkata, "Saya jadi berbohong kepadanya, ya Rasulullah, blla saya menahannya, dan saya jatuhkan talak tiga." Bagaimana pengetahuan Anda tentang hadlts inl dan kedudukannya dalam masalah Ini, serta pengertianya menurut madzhab sebagian besar ulama dan menurut madzhab Ibnu Taimiyyah?
Al-Bani : Saya belum pernah melihat hadits Ini.
Al-Bouti : Bagaimana Anda bisa memfatwakan suatu masalah yang bertentangan dengan apa yang telah disepakati ke empat imam madzhab, padahal Anda belum mengetahui dallil-dalil mereka, serta tingkatan kekuatan dalil-dalilnya? Kalau begitu Anda telah meninggalkan prinsip yang Anda anut, yaitu ittiba', menurut istilah yang Anda katakan sendiri. (Ya, jawaban Al-Albani bertentangan dengan pemyataan awalnya sendiri, "Saya akan meneliti pendapat para imam mujtahid serta dalil-dalilnya, kemudian saya mengambil keterangan yang paling mendekati dalil Al-Qur'an dan sunnah." Berikutnya, la pun memberikan alasan akan hal itu).
Al-Bani : Pada waktu itu saya tidak memiliki kitab yang cukup untuk melihat dalil dari imam-imam madzhab.
Al-Bouti : Kalau begitu apa yang mendorong Anda tergesa-gesa memberi fatwa yang menyelisihi pendapat jumhur kaum muslimin padahal Anda belum memeriksa dalil-dalll mereka?
Al-Bani: Apa yang harus saya perbuat ketika saya ditanya mengenai masalah tersebut sedangkan kitab yang ada pada saya terbatas sekali?
Al-Bouti : Sesungguhnya cukup bagi Anda untuk mengatakan "Saya tidak tahu tertang masalah ini", atau Anda terangkan saja pendapat madzhab empat kepada si penanya serta pendapat mereka yang berbeda dengan madzhab empat imam harus memberlkan fatwa kepadanya dangan salah satu pendapat yang demikian ini sudah cukup untuk Anda dan memang sampai di situlah kewajlban anda. Apatah lagi masalah itu tidak langsung berkaitan dengan diri Anda mengapa bisa sampai Anda berfatwa dengan pendapat yang menyalahi Ijma' keempat imam tanpa mengetahui dalil-dalil yang dijadlkan hujjah oleh mereka, dengan Anda menganggap cukup pada dalil yang ada di plhak yang bertentangan dengan madzhab yang empat. Anda berada di puncak kefanatikan sebagaimana yang selalu Anda tuduhkan kepada kami.
Al-Bani : Saya telah menelaah pendapat ke empat imam dalam Subul as-Salam, karya Asy-Syaukani, dan Flqh as-Sunnah, karya Sayyid Sabiq.
Al-Bouti : Kitab yang Anda sebutkan adalah kitab yang memusuhi ke empat imam madzhab dalam masalah ini. Apakah Anda rela menjatuhkan hukuman kepada salah seorang tertuduh hanya dengan mendengarkan keterangan saksi-saksi dan keluarganya tanpa mendengarkan keterangan lain dari tertuduh?
Al-Bani : Saya kira, apa yang telah saya lakukan tak patut dicela. Saya telah berfatwa kepada orang yang bertanya, dan itulah batas kemampuan pemahaman saya.
Al-Bouti : Anda telah menyatakan sebagai muttabi dan kita semua hendaknya menjadi muttabi'. Anda telah menafsirkan bahwa ittiba' ialah meneliti semua pendapat madzhab dan mempelajari dalil-dalil yang dikemukakan, ialu mengambil mana yang paling mendekati dalil yang benar. Namun apa yang telah Anda lakukan ternyata bertolak belakang.
Anda mengetahui, madzhab yang empat telah ijma’ bahwa talak yang dijatuhkan tiga sekaligus berarti jatuh tiga. Anda mengetahui bahwa keempat imam madzhab mempunyai dalil tentang masalah ini, hanya saja Anda belum mendapatinya. Namun demikian, Anda berpaling dari ijma' mereka dan mengambil pendapat yang sesuai dengan keinginan Anda. Apakah Anda sejak mula telah yakin bahwa dalil-dalil ke empat imam madzhab itu tidak dapat diterima?
Al-Bani : Tldak, cuma saya tidak mendapal nya karena saya tidak memiliki kitab-kitab tersebut.
Al-Bouti : Mengapa Anda tidak mau menunggu? Mengapa Anda tergesa-gesa padahal Allah SWT tidak memaksakan Anda untuk berbuat demikian? Apakah karena Anda tldak mendapati dalil-dalil para ulama jumhur yang dapat digunakan sebagai alasan untuk menguatkan pendapat Ibnu Taimlyyah? Apakah fanatik yang Anda anggap dusta itu tidak lain ialah apa yang Anda telah lakukan?
Al-Bani : Pada kitab-kitab yang ada pada saya, saya telah mendapatkan dalil-dalil yang cukup memuaskan dan Allah tidak membebani saya lebih dari itu.
Al-Bouti : Apabila seorang muslim mendapati satu dalil dalam kitab yang dibacanya, apakah cukup dengan dalil tersebut ia meninggalkan semua mazhab yang berbeda dengan pemahamannya sekalipun ia belum mendapati dalil-daiil madzdzhab-madzhab tersebut?
Al-Bani: Ya, cukup.
Seorang Muallaf; sebuah analog
Al-Bouti : Ada seorang pemuda yang baru saja memeluk agama Islam, la sama sekali tak mengetahui pendldlkan agama Islam, Laiu ia membaca firman Allah 'Azza wa Jalla, yang artinya, "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat; maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas (Rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui." QS Al-Baqarah 115. Pemuda tersebut lalu beranggapan bahwa setiap orang yang hendak shalat boleh menghadap ke arah mana saja sebagaimana dttunjukkan oleh zhahirnya redaksi ayat Al-Quran Itu.
Kemudian ia mendengar bahwa keempat imam madzhab telah bersepakat bahwa seorang yang shalat harus menghadap Ka'bah. la sadar, para imam mempunyal dalil untuk masalah ini, hanya saja ia belum mendapatlnya. Apakah yang harus dilakukan oleh pemuda tersebut sewaktu la hendak mengerjakan shalat? Apakah cukup dengan mengikuti panggiian hatinya karena ia telah menemukan ayat Al-Qur'an tersebut, atau ia harus mengikuti pendapat para imam yang berbeda dengan pemahamannya?
Al-Bani: Cukup dengan menglkuti panggilan hatinya.
Al-Bouti : Meskipun dengan menghadap ke arah timur misalnya? Apakah shalatnya dianggap sah?
Al-Bani : Ya, karena ia wajib menglkuti panggilan hatinya.
Al-Bouti : Andai kata panggilan hati pemuda itu mengilhami dlrinya sehingga ia merasa tidak apa-apa berbuat zina dengan istri tetangganya, memenuhi perutnya dengan khamar dan merampas harta manusla tanpa hak, apakah Allah akan memberlkan syafa'at kepadanya lantaran pangilan hatinya itu?
(Terdiam sejenak, laiu berkata) : Al-Bani : Sebenarnya contoh-contoh yang Tuan tanyakan hanyalah khayalan dan tidak ada buktinya.
Al-Bouti : Bukan khayalan atau dugaan semata-mata, bahkan selalu terjadl hal seperti itu ataupun lebih aneh lagi.
Bagaimana tidak begitu, seorang pemuda yang tak punya kelayakan pengetahuan tentang Islam, Al-Qur’an dan sunnah, kemudian membaca sepotong ayat Al-Qur'an yang ia pahami menurut apa adanya. la kemudian berpendapat boleh saja shalat menghadap ke arah mana saja meskipun ia tahu bahwa shalat harus menghadap kiblat. Pada kasus Ini apakah Anda tetap berpendirian bahwa shalatnya sah karena manganggap cukup dengan alasannya bisikan hati nurani atau panggilan jiwa si pemuda tersebut?
Di samping itu, menurut Anda, bisikan hati, panggiian jiwa, dan kepuasan moril dapat memutuskan segala urusan (dijadikan sumbar untuk mangeluarkan hukum). Kenyataan ini jelas bertentangan dengan prinsip Anda bahwa manusia terbagi atas tiga kelompok; mujtahid, muqallid, dan muttabi’ (karena dengan modal panggilan hati itu nyatanya semua manusia adalah muttabi’/mujtahld, termasuk si muallaf tadi).
Al-Bani : Semestinya pemuda itu membahas dan meneliti. Apakah ia tidak mambaca hadits atau ayat lainnya?
Al-Bouti : Ia tidak memiliki cukup bahan untuk mambahas sebagaimana halnya Anda ketika membahas ihwal masalah talak. ia tak sempat membaca ayat-ayat lain yang berhubungan dengan masalah kiblat selain di atas. Dalam hal ini apakah ia tetap harus mengikuti bisikan hatinya dengan meninggalkan ljma' para ulama?
Al-Bani : Memang seharusnya begitu kalau ia tidak mampu membahas dan menganalisis. Baginya cukuplah berpegang pada hasil pikirannya sendiri dan ia tidaklah salah.
(Pandangan ini jelas menyimpan potensi yang membahayakan. Itulah mengapa Al-Buthi sampai menulis sebuah kitab berjudul Al-la Madzhabiyah Akhthar Bid'ah Tuhaddid asy-Sari'ah al-lslam-iyah - Paham tak Bermadzhab adalah Bid'ah Paling Barbahaya yang dapat Menghancurkan Syariat islam. Betapa tidak? Bayangkan saja, saandainya para muallaf atau orang-orang islam awam membuka lembaran-lembaran Al-Quran, lalu membaca Surah At-Tawbah ayat ke-5, yang artinya, "Bunuhlah mereka (orang-orang musyrik) di mana saja kamu menjumpai mereka", atau ayat-ayat yang redaksinya semacam Itu, lalu orang-orang tersebut tak mau bertanya kepada yang lebih paham tentang makna ayat tersebut dan serta merta bertekad bulat akan memenuhl panggiian hatinya untuk “menjalankan perintah Allah" ini, dapatkah Anda membayangkan apa yang akan terjadi?
Tak aneh bila banyak pengamat menllai bahwa embrio radikalisme acap bermula dari paham ala tekstualis seperti ini. Rupanya metoda pokok istinbath (penyimpulan) hukum salah satu tokoh pemuka ala madzhabiyyah (non-mazhab) Ini adalah mengikuti panggilan hati. Dan cocoklah kiranya bila klta menamai madzhab" ala Al-Albani Ini dangan madzhab panggiian hati”).
Al-Bouti : Ucapan Anda ini amat sangat berbahaya dan mengejutkan. Kami akan siarkan.
Al-Bani : Silakan Tuan menyiarkan pendapat saya dan saya tidak takut.
Al-Bouti : Bagalmana Anda akan takut kepada saya sedangkan Anda tidak takut kepada Allah SWT? Sesungguhnya dengan ucapan tersebut Anda telah membuang firman Allah SWT, yang artinya, "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai ilmu jika kamu tidak mangetahui - OS-An Nahi: 43.
Al-Bani : Tuan, para imam tidaklah ma’shum - terpelihara dari kesalahan. Bolehkah ia (si muallaf) meninggalkan yang ma'shum (Maksudnya nash-nash agama sepertl Al qur’an dan hadlts Rasulullah SAW) dan berpegang pada orang yang tidak ma'shum?
Al-Bouti :Yang terpelihara dari kesalahan adalah makna yang hakiki yang dikehendaki Allah Azza wa Jaila dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat" Akan tetapi pemahaman pemuda yang jauh sekali dari pendidikan Islam sama sekali tidak ma'shum?
Jadi masalahnya ialah perbandingan antara dua pemahaman, yaitu pemahaman atau pemikiran seorang pemuda yang jahil dengan pemahaman atau pemikiran para Imam mujtahid, yang keduanya tidak ma'shum. Perbedaannya hanyalah yang satu terlalu jahil dan yang satu lagi sangat dalam ilmunya.
Al-Bani : Sesungguhnya Allah SWT tidak membebaninya melebihi kemampuannya.
Dokter don Brosur: Analog! Lainnya
Al-Bouti : Tolong Jawab pertanyaan ini. Sese orang mempunyai anak kecil yang sedang sakit panas. Menurut saran semua dokter yang ada di kota itu, la harus diberi obat khusus dan mereka melarang orangtua si anak untuk mengobatinya dengan antibiotik. Mereka pun telah memberi tahu kepada orangtua si anak bahwa, sekiranya saran ini dilanggar, mungkin saja itu menyebabkan kematian si anak. Suatu ketika si orangtua membaca selebaran brosur kesehatan dan manemukan keterangan bahwa antibiotik terkadang barmanfaat untuk mengobati sakit panas. Berdasarkan isi selebaran itu, orangtua tersebut tidak memperhatikan lagi saran dokter. Dengan panggilan hatinya, ia merawat anaknya dengan antibiotik hingga mangakibatkan kematian si anak. Dengan tindakan ini, apakah orangtua tersebut berdosa atau tidak?
Al-Bani : Saya kira, masalah itu lain dengan masalah ini dan maksudnya pun berbeda dengan persoalan yang sedang kita bicarakan. (Di sini tampaknya Al-Albani gagal menangkap analogi yang sederhana ini. Lalu, bagaimana ia mampu membandingkan hujjah-huijah para imam madzhab?)
Al-Bouti : Masalah ini pada hakikatnya sama dengan hat yang tengah kita bicarakan.
Coba Anda perhatikan. Orangtua tersebut sudah mendengarkan ijma (kesepakatan) para dokter, sebagaimana pemuda tadi juga telah mendengar ijma' para ulama. Akan tetapi lantaran tak tahu landasan dan teori-teori medis dunia kedokteran) orangtua itu bepegang pada brosur kesehatan yang ia baca dan hatinya kemudian condong padanya, sebagaimana pemuda tersebut melaksanakan panggilan hatinya.
Al-Bani :Tuan, Al-Quran adalah nur (cahaya). Nur AI-Qur'an tidak dapat disamakan dengan yang lain.
Al-Bouti : Apakah pantulan cahaya Al-Qur'an itu dapat dipahami oleh setiap yang membaca Al-Qur'an dengan pemahaman yang tepat sebagaimana yang dlkehendakl Allah SWT? Kalau begitu, apa bedanya antara ahli ilmu dan yang bukan ahli ilmu dalam menerima cahaya Al-Qur'an?
Al-Bani : Panggilan hati adalah yang paling asas/pokok,
Al-Bouti : Orangtua tersebut telah melaksanakan panggilan hatinya hingga menyebabkan kematian anaknya. Apakah ada pertanggungjawaban bagi orangtua itu baik dari sagi syari'at maupun tuntunan hukum?
Al-Ban : Dia tidak dituntut apa-apa.
Al-Bouti : Dengan pernyataan Anda seperti ini, saya kira diskusi ini kita cukupkan saja sampai di sini. Sudah putus jalan untuk menemukan pendapat kami dengan Anda. Dengan Jawaban Anda yang sangat ganjil itu, cukuplah kiranya kalau Anda telah kaluar dari ijma' kaum muslimin.
(Demikian ucap Al-Buthl mengakhiri diskusinya dengan Al-Albani. Dari jawaban terakhir Al-Albani, tampaknya Al-Buthi telah menangkap sesuatu sehingga ia merasa tak perlu lagi memperpanjang pembicaraan).
Sumber: Majalah Alkisah
Re-post dari : http://sufiroad.blogspot.com/2013/07/mengkritisi-mazhab-panggilan-hati_12.html
Label:
Kajian Tasawuf








.jpg)


