Latest Post
02.09
SUARA HALUS: MAU SELAMAT? IKUTI MURSYID YANG MASIH HIDUP
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 23 Juli 2015 | 02.09
Suara halus, berhati-hatilah! Hendaklah kita selalu peka terhadap suara halus dari orang-orang yang sholeh...
Terkadang tanpa kita sadari, akibat dari amal perbuatan kita yang tidak sengaja kita perbuat, menimbulkan suara yang halus dari saudara kita sesama muslim. Adakalanya suara halus itu berdampak positif bagi kita, namun ada kalanya suara yang halus itu berdampak negatif bagi kita sehingga menimbulkan berbagai kesusahan hidup baik yang bersifat dunia maupun yang bersifat akhirat...
Kita mungkin tidak sengaja, atau bahkan dengan mudahnya kita melakukan amal perbuatan, tanpa kita sadari ternyata menyakiti perasaan orang lain atau paling tidak membuat orang lain kurang berkenan dengan amal perbuatan kita tersebut. Hal tersebut akhirnya berdampak kepada perjalanan hidup kita. Kita semua hampir tak bisa luput dari hal-hal ini semua. Selama kita masih berinteraksi dengan sesama manusia, maka kejadia-kejadi serupa tak dapat kita hindarkan kecuali dengan kita peka terhadap suara-suara yang halus...
Rosululloh Saw. bersabda, “Hati- hatilah dengan firasat orang yang beriman, karena dia melihat dengan cahaya Allah. “(HR Tirmidzi).
Dari Mu’adz bin Jabal r.a., bahwasanya Rosulullah Saw. bersabda, “Artinya : Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”.(HR. Muslim).
Demikianlah kita semua haruslah senantiasa peka terhadap segala amal perbuatan kita terutama ketika kita berinteraksi dengan sesama manusia makhluk ciptaan Alloh Swt. sebagaimana Firman Alloh dalam Al Quran: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (keuasaan Kami) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (QS.al-Hijr:75).
Bagaimana supaya kita selamat?
Dikarenakan kita hampir tak bisa lepas dari hal tersebut di atas maka kalau mau aman dan terbebas dari itu semua, kita perlu untuk berlindung kepada Alloh dengan mengikuti seorang Mursyid yang Kamil Mukammil, karena beliau yang akan membimbing dan menyelamatkan kita dari adzab Alloh yang dapat saja turun akibat menyinggung perasaan Wali-Nya atau orang sholeh yang mungkin saja saudara kita, istri kita, anak kita, tetangga kita, teman kita, atau siapa saja orang di sekitar kita yang luput dari perhatian kita.
Hal ini seperti dalam hadits Qudsi, "Dan tidaklah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan sesuatu lebih Aku cintai dari apa yang telah Aku wajibkan atasnya, dan senantiasalah hamba-Ku bertaqarrub kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, hingga Aku mencintainya bila Aku telah mencintainya, maka Aku-lah pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia memukul, kaki yang dengannya ia berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, niscaya Aku pasti memberikannya dan bila ia berlindung kepada-Ku, niscaya aku pasti melindunginya" (HR.al-Bukhari).
Mengapa kita perlu mengikuti Mursyid (silsilah) yang masih hidup?
Karena seorang Mursyid hanya akan melindungi dan bertanggung jawab terhadap perbuatan-perbuatan muridnya selama ia masih berada di tengah-tengah mereka. Adapun ketika seorang Mursyid sudah kembali kepada Alloh (wafat) maka ia tidak lagi bertanggung jawab terhadap segala amal perbuatan murid-muridnya. Sebagaimana Nabi Isa a.s. tidak bertanggung jawab terhadap sepak terjang umatnya setelah beliau diangkat di sisi Alloh Swt. sebagaimana Firman-Nya, "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: 'Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?' Isa menjawab: 'Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya, maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakannya) yaitu: 'Sembahlah Allah, Tuhanku, dan Tuhanmu,' dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.'" (QS. Al Maaidah: 116-117).
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
7 Syawal 1435 H / 23 Juli 2015
02.17
KULTUM MALAM PERTAMA RAMADHAN 1436 H
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 18 Juni 2015 | 02.17
Asaalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Alhamdulillah, wassholatu wasalaamu 'alaa rosuulillaah wa'alaa aalihi washohbihii waman waalah
Asyahaaduan laa ilaaha illalloh wahdahuu laa syariikalahu, wa-asyhaduannaa Muhammadan 'abduhuu warosuuluhu.
Amma ba'du,
Qolallohu ta'alaa: Yaa ayyuhalladziina aamanu kutiba 'alaikumushshiaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qoblikum la'allakum tattaquuna.
Waqola 'adhon, Syahru romadhoona alladzii unzilafiihi alqur'aanu hudallinnaas wabayyinatin minalhuda wal furqoon. Iqro' Bismi Robbikalladzii kholaq!
Hadirin, bapak-bapak, ibu-ibu, serta adik-adik, jemaah yang dirahmati Alloh SWT.
Puji syukur ke Hadirat Alloh SWT. yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita semua, sehingga dengan rahmat dan karunia-Nya itu, kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh barokah, dan bulan yang penuh maghfiroh Alloh SWT.
Pada bulan Ramadhan kita diwajibkan oleh Alloh untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, agar kalian bertaqwa. Namun demikian tidak semua orang yang diwajibkan, akan tetapi ada beberapa kemudahan dari Alloh untuk tidak berpuasa, yaitu bagi:
Selain itu, pada bulan Ramadhan, pasangan suami-istri juga dilarang bersetubuh di siang hari, kecuali di malam hari bila tidak sedang i'tikaf. Jika hal tersebut di langgar sedang ia dalam keadaan berpuasa, maka ia wajib membayar Kifarat, yaitu berpuasa selama 60 hari berturut-turut di luar bulan Ramadhan.
Hadirin yang dirahmati Alloh...
Mengenai hal tersebut di atas Allod SWT. jelasa di dalam Al Qur'an Surat Al Baaqaroh ayat 183-187:
Hadirin jamaah rahiimakumulloh,
Kalau kita melaksanakan puasa di bulam suci Ramadhan dengan sempurna maka kita kita semua kembali kepada kesucian (fitrah). Tetapi ingat yang mensucikan jiwa seseorang itu bukan bulannya.
Bismi Robbikalladzii kholaq, adalah menyebut nama Alloh di dalam jiwa. Firman Alloh SWT.:
Jadi jiwa seseorang menjadi suci karena ia senatiasa berdzikir kepada Alloh, BACA artinya Dzikir Jahar:"LAA ILAAHA ILLALLOH", SEBUT artinya"DZIKIR KHOFI".
Beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan diri (jiwanya). Firman-Nya:
Dzikir itulah yang akan menyampaikan kita kepada Alloh SWT. Syahadat kita, sholat kita, zakat kita, puasa kita, haji kita, semua akan terbawa sampai kepada Alloh kalau ada dzikirnya. Sabda Rosululloh SAW., "Dzikrullohi Syifa'ul qulub". (Dikir kepada Alloh adalah Ruh nya ibadah).
Kalau tidak ada Dzikirulloh maka Syahadat kita hanya sampai di ujung lidah, sholat hanya sampai di ujung sajadah, zakat hanya sampai di tangan orang, puasa hanya dapat lapar dan haus, haji hanya sampai ke Mekah, tidak sampai kepada Alloh SWT.
Demikianlah, mari kita laksanakan shalat Tarowih berjamaah.
Wabillaahi Taufiq wal hiidayah, wassalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.

Alhamdulillah, wassholatu wasalaamu 'alaa rosuulillaah wa'alaa aalihi washohbihii waman waalah
Asyahaaduan laa ilaaha illalloh wahdahuu laa syariikalahu, wa-asyhaduannaa Muhammadan 'abduhuu warosuuluhu.
Amma ba'du,
Qolallohu ta'alaa: Yaa ayyuhalladziina aamanu kutiba 'alaikumushshiaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qoblikum la'allakum tattaquuna.
Waqola 'adhon, Syahru romadhoona alladzii unzilafiihi alqur'aanu hudallinnaas wabayyinatin minalhuda wal furqoon. Iqro' Bismi Robbikalladzii kholaq!
Hadirin, bapak-bapak, ibu-ibu, serta adik-adik, jemaah yang dirahmati Alloh SWT.
Puji syukur ke Hadirat Alloh SWT. yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepada kita semua, sehingga dengan rahmat dan karunia-Nya itu, kita masih diberikan kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang penuh rahmat, bulan yang penuh barokah, dan bulan yang penuh maghfiroh Alloh SWT.
Pada bulan Ramadhan kita diwajibkan oleh Alloh untuk berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat terdahulu, agar kalian bertaqwa. Namun demikian tidak semua orang yang diwajibkan, akan tetapi ada beberapa kemudahan dari Alloh untuk tidak berpuasa, yaitu bagi:
- Orang yang sedang sakit, maka boleh tidak berpuasa, tetapi wajib baginya untuk mengganti (qodho) di hari lain (di luar ramadhan) sebanyak hari yang ditinggalkan.
- Orang yang sedang dalam perjalanan (musafir), maka boleh tidak berpuasa, tetapi wajib baginya untuk mengganti (qodho) di hari lain (di luar ramadhan) sebanyak hari yang ditinggalkan.
- Orang yang susah (berat melaksanakan) puasa, seperti orang yang lanjut usia (kakek-nenek) yang sudah jompo, orang yang sakit kronis, dan orang yang bekerja berat dalam mendapatkan rejeki, maka boleh tidak berpuasa, tetapi wajib baginya untuk membayarkan fidyah, yaitu memberi makan satu orang fakis-miskin sebanyak hari yang ditinggalkan.
- Ibu-ibu yang mengamdung dan menyusui, maka boleh ia tidak berpuasa, tetapi wajib membayar fidyah atau qodho, dan/atau fidyah qodho sebanyak hari yang ditinggalkan.
- Imam Hanafi berpendapat bahwa ibu hamil/menyusui dikategorikan orang yang sakit, maka hukumnya Qodho.
- Ibnu Abbas r.a. dan Ibnu Umar r.a. berpendapat bahwa ibu yang hamil/menyusui kategori orang yang susah/berat berpuasa, maka hukumnya membayarkan fidyah.
- Imam Syafi'i berpendapat, bahwa ibu yang sedang hamil/menyusui, terbagi dua macam, yaitu:
- Kalau ia mengkhawatirkan anaknya, maka ia membayar fidyah sekaligus mengganti puasanya di hari yang lain (Qodho), karena selain dalam kategori susuah/berat berpuasa, ia juga telah meninggalkan puasanya.
- Kalau ia mengkhawatirkan bayi dan dirinya, maka ia cukup mengganti puasanya di hari yang lain (Qodho), karena ia termasuk ke dalam kategori orang yang sakit.
Selain itu, pada bulan Ramadhan, pasangan suami-istri juga dilarang bersetubuh di siang hari, kecuali di malam hari bila tidak sedang i'tikaf. Jika hal tersebut di langgar sedang ia dalam keadaan berpuasa, maka ia wajib membayar Kifarat, yaitu berpuasa selama 60 hari berturut-turut di luar bulan Ramadhan.
Hadirin yang dirahmati Alloh...
Mengenai hal tersebut di atas Allod SWT. jelasa di dalam Al Qur'an Surat Al Baaqaroh ayat 183-187:
[2:183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
|
[2:184] (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
|
[2:185] (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
|
[2:186] Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
|
[2:187] Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
|
Hadirin jamaah rahiimakumulloh,
Kalau kita melaksanakan puasa di bulam suci Ramadhan dengan sempurna maka kita kita semua kembali kepada kesucian (fitrah). Tetapi ingat yang mensucikan jiwa seseorang itu bukan bulannya.
- Tetapi apa? yaitu AL QUR'AN yang DITURUNKAN pada bulan RAMADHAN.
- Kapan? tidak ada dalil yang qot'i. Pendapat jumhur 'ulama yaitu tanggal 17 Ramadhan. Namun yang pasti, Al Qur'an diturunkan di bulan Ramadhan, Firman Alloh: "Syahru romadhoona alladzii unzilafiihi alqur'aanu hudallinnaas wabayyinatin minalhuda wal furqoon."
- Dimana diturunkan? Di Gua Hira'.
- Nabi Muhammad SAW. sedang apa? Bukan sedang sholat, karena perintah sholat belum ada, akan tetapi Nabi sedang uzlah,tafakur, dan memperbanyak berpuasa.
- Apa yang diturunkan? yaitu IQRO' BISMI ROBBIKALLADZII KHOLAQ! Ketika Nabi menerima Wahyu ini dari Malaikat Jibril a.s. beliau terkejut, tertegun, bahkan mungkin juga ada rasa takut, ketika Jibril memerintahkan menyampaikan Iqro' (Baca!). Rosululloh SAW. tidak tahu apa yang harus dibaca? Maka setelah tiga kali Jibril menyampaikan, kemudian dilanjutkan dengan Bismi Robbikalladzii Kholaq (Dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptkan).
Bapak dan Ibu yang berbahagia,
Iqro' adalah perintah Alloh untuk membaca, maka di bulan suci Ramadhan ini marilah kita memperbanyak untuk membaca Al Qur'an. Alloh SWT. Berfirman:
[47:19] Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.
|
Bismi Robbikalladzii kholaq, adalah menyebut nama Alloh di dalam jiwa. Firman Alloh SWT.:
[7:205] Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatiumu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termask orang-orang yang lalai.
|
Jadi jiwa seseorang menjadi suci karena ia senatiasa berdzikir kepada Alloh, BACA artinya Dzikir Jahar:"LAA ILAAHA ILLALLOH", SEBUT artinya"DZIKIR KHOFI".
Beruntunglah orang yang senantiasa membersihkan diri (jiwanya). Firman-Nya:
[87:14] Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman),
|
[87:15] dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang.
|
Dzikir itulah yang akan menyampaikan kita kepada Alloh SWT. Syahadat kita, sholat kita, zakat kita, puasa kita, haji kita, semua akan terbawa sampai kepada Alloh kalau ada dzikirnya. Sabda Rosululloh SAW., "Dzikrullohi Syifa'ul qulub". (Dikir kepada Alloh adalah Ruh nya ibadah).
Kalau tidak ada Dzikirulloh maka Syahadat kita hanya sampai di ujung lidah, sholat hanya sampai di ujung sajadah, zakat hanya sampai di tangan orang, puasa hanya dapat lapar dan haus, haji hanya sampai ke Mekah, tidak sampai kepada Alloh SWT.
Demikianlah, mari kita laksanakan shalat Tarowih berjamaah.
Wabillaahi Taufiq wal hiidayah, wassalaamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
05.13
Tugas utama dari Para Nabi dan Rosullulloh adalah menyeru kepada semua manusia agar menyembah hanya kepada Alloh dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Alloh, "Laa Ilaaha Illalloh". Sabda Rosullulloh Saw., "Afdholu maaqulta ana wanabiyana, min qauli Laa Ilaaha Illalloh"- Yang paling utama kuucapkan dan yang diucapkan nabi-nabi terdahulu, ialah Tidak ada Tuhan selain Alloh.
Demikian Agungnya kalimat tersebut, kalimat yang hanya kepada manusia di amanahkan, sebagaimana Firman Alloh Swt. dalam Al Qur'an Surat Al Ahzab ayat 72-73, "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS al-Ahzab [33]: 72-73).
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, bahwa beliau berkata: “Aku mendengar junjungan manusia Muhammad bersabda: Junjungan Malaikat, Jibril berkata: Aku tidak turun dengan membawa satu kalimat yang lebih agung dari kalimat Laa ilaaha IllaLlah. Dengan kalimat tersebut langit, bumi, gunung, pohon-pohon, daratan dan lautan muncul ke permukaan. Ingatlah kalimat tersebut adalah kalimat keselamatan ia adalah kalimat yang tinggi." (Miftahus Shudur, KH. A. Shahibul Wafa Tajul ‘Arifin)
Bahwa Syaiyidina "Ali k.w. bertanya kepada nabi : "Ya Rosulullah tunjukilah aku jalan yang sependek-pendeknya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hambaNya pada sisi Allah?. Maka bersabdalah Rosulullah : "Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal (dzikir dawam) dan ucapan yang paling utama pernah kulakukan dan dilakukan oleh Nabi-nabi sebelum aku, yaitu Laa Ilaaha Illallaah. Jika ditmbang tujuh petaka langit dan bumi dalam satu daun timbangan, dan kalimat Laa Ilaaha Illallaah dalam satu timbangan yang lainnya, maka akan lebih berat kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam daun timbangan yang lain".
Maka sesungguhnya menjadi tugas para Wali Alloh untuk mensyiarkan kalimat Laa Ilaaha Illalloh, karena para Ulama adalah penerus para Nabi, sebagaimana Sabda Rosullulloh Saw., "Al 'ulama-u warosatul anbiya". Tentu saja dalam menegakkan kalimat tersebut pasti ada tantangan dan rintangan dari golongan manusia yang tidak ingin tegaknya kalimat yang Agung, yang biasanya datang dari kaum yang kafir atau dari golongan orang-orang munafik. Namun ingatlah, jikalau istiqomah dalam perjuangan dakwah insya Alloh akan selalu mendapatkan pertolongan oleh Alloh Swt. Bersabda Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, "Meskipun orang-orang sampai jungkir balik, tidak akan mampu.menghalang-halangi tegaknya kalimat yang Agung."
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya”. HSR al-Bukhari (5/2384, no. 6137).
AKIBAT MEMUSUHI WALI ALLOH
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 21 Mei 2015 | 05.13
Tugas utama dari Para Nabi dan Rosullulloh adalah menyeru kepada semua manusia agar menyembah hanya kepada Alloh dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Alloh, "Laa Ilaaha Illalloh". Sabda Rosullulloh Saw., "Afdholu maaqulta ana wanabiyana, min qauli Laa Ilaaha Illalloh"- Yang paling utama kuucapkan dan yang diucapkan nabi-nabi terdahulu, ialah Tidak ada Tuhan selain Alloh.
Demikian Agungnya kalimat tersebut, kalimat yang hanya kepada manusia di amanahkan, sebagaimana Firman Alloh Swt. dalam Al Qur'an Surat Al Ahzab ayat 72-73, "Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima tobat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS al-Ahzab [33]: 72-73).
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib Karramallahu wajhah, bahwa beliau berkata: “Aku mendengar junjungan manusia Muhammad bersabda: Junjungan Malaikat, Jibril berkata: Aku tidak turun dengan membawa satu kalimat yang lebih agung dari kalimat Laa ilaaha IllaLlah. Dengan kalimat tersebut langit, bumi, gunung, pohon-pohon, daratan dan lautan muncul ke permukaan. Ingatlah kalimat tersebut adalah kalimat keselamatan ia adalah kalimat yang tinggi." (Miftahus Shudur, KH. A. Shahibul Wafa Tajul ‘Arifin)
Bahwa Syaiyidina "Ali k.w. bertanya kepada nabi : "Ya Rosulullah tunjukilah aku jalan yang sependek-pendeknya kepada Allah dan yang semudah-mudahnya dan yang paling utama dapat ditempuh oleh hambaNya pada sisi Allah?. Maka bersabdalah Rosulullah : "Hendaknya kamu lakukan dzikrullah yang kekal (dzikir dawam) dan ucapan yang paling utama pernah kulakukan dan dilakukan oleh Nabi-nabi sebelum aku, yaitu Laa Ilaaha Illallaah. Jika ditmbang tujuh petaka langit dan bumi dalam satu daun timbangan, dan kalimat Laa Ilaaha Illallaah dalam satu timbangan yang lainnya, maka akan lebih berat kalimat Laa Ilaaha Illallah dalam daun timbangan yang lain".
Sebagaimana diuraikan di atas bahwa tugas para Nabi yang kemudian diteruskan oleh Para Wali Alloh adalah menegakkan kalimat Tauhid, kalimat yang akarnya menghujam ke bumi daunnya menjulang ke langit yang senantiasa memberikan buahnya pada setiap musim, sebagaimana Firman Alloh, "Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim:24-25).
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali (kekasih)-Ku maka sungguh Aku telah mengumumkan peperangan kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu (amal shaleh) yang lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang Aku wajibkan kepadanya (dalam Islam), dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal tambahan (yang dianjurkan dalam Islam) sehingga Aku-pun mencintainya. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya. Tidaklah Aku ragu melakukan sesuatu yang mesti aku lakukan seperti keraguan untuk (mencabut) nyawa seorang yang beriman (kepada-Ku), dia tidak menyukai kematian dan Aku tidak ingin menyakitinya”. HSR al-Bukhari (5/2384, no. 6137).
Hati-hati, jangan coba-coba memusuhi Wali-Nya. Maka akan menyebabkan anda mendapatkan bermacam-macam kesusahan, dari yang terkecil hingga yang terbesar. Seandainya hati pengersa Abah Aos tidak penuh dengan rasa kasih sayang, niscaya akan banyak orang yang akan menderita dan mendapatkan berbagai kesusahan akibat dari memusuhi beliau. Yang kaya menjadi miskin, yang sehat menjadi sakit, yang lapang menjadi sempit, yang alim menjadi bodoh, yang arif menjadi pendengki, yang mulia menjadi hina, yang tinggi derajatnya menjadi rendah, yang bijak menjadi zholim. Itulah akibat dari memusuhi Wali-Nya, adaikan tidak dihapus oleh kemuliaan Akhlaq dan Lautan Mahabbah (Cinta) para Wali dan para Nabi kepada umatnya, hati yang diliputi rasa cinta niscaya Alloh Swt. akan menurunkan azab-Nya. Cinta dan kasih sayang yang dalam itulah yang menjadi penyebab Alloh Swt. manahan Azab-Nya.
Firman Allâh Azza wa Jalla (dalam hadits di atas), yang artinya, "Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada dengan hal-hal yang Aku wajibkan. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya."
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, "Ingatlah wali-wali Allâh itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” [Yûnus/10:62-63]
Dan Firman Alloh Swt., “(Orang-orang yang bertakwa adalah) orang-orang yang menahan marahnya dan memaafkan kesalahan (orang lain). Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS Ali ‘Imran: 134).
Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).'” (HR. Muslim, no. 2588 dan imam-imam lainnya).
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
03.35
IKUT SAJA BERSAMA GURU AGUNG
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 20 Mei 2015 | 03.35
![]() |
| Sunan Ampel |
Pasca Kemursyidan Abah Anom (Silsilah ke 37),
satu-satunya Murid beliau yang diakui sebagai Mursyid (Silsilah ke 38) oleh
Ikhwan TQN Suryalaya adalah, Pengersa Abah Aos, Syekh Muhammad Abdul Gaos
Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi al Kamil, Qs.
Berkata pengersa Abah di
hadapan ribuan Ikhwan di Masjid Istiqlal Jakarta, Muhammad adalah nama yang
diberikan oleh kedua orang tua beliau, Gaos adalah nama pemberian dari Syekh
Muhammad Kahfi (Mursyid Thoriqoh Syathoriyah) yang tidak lain adalah Kakek beliau
sendiri, nama tersebut diberikan kepada Ibunda beliau (Siti Muslihah) dua tahun
sebelum beliau dilahirkan. Saefulloh Maslul adalah nama yang diberikan oleh
Guru Agung Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin, Qs. (Abah Anom), Al Qodiri,
adalah nama yang diberikan oleh Syekh Hashimuddin (Cucu Syekh Abdul Qodir
Jailani) di Baghdad Iraq, An Naqsyabandi, adalah nama yang diberikan oleh Syekh
Afeefuddin (Cucu Syekh Abdul Qodir Jailani) di Malaysia, dan Al Kamil, adalah
nama yang diberikan oleh Syekh Muhammad Fadhil Jailani (Cucu Syekh Abdul Qodir
Jailani) di Turky.
Menyikapi Kemursyidan pengersa Abah Aos, Pondok Pesantren Suryalaya,
berserta jajaran Pengurus Yayasan Serba Bakti (YSB), dan sebagian besar Wakil
Talkin Abah Anom, tidak menerima Kemursyidan pengersa Abah Aos, bagi mereka
kemursyidan TQN Suryalaya hingga saat ini masih ada pada Abah Anom, sampai
Alloh SWT. menentukan Wali/Guru Mursyid lain di kemudian hari.
Masalah kemursyidan adalah menyangkut tentang keyakinan, tentu saja kita
harus memaklumi bagi orang yang tidak sepaham dengan keyakinan kita. Sebagai
ikhwan TQN Suryalaya, kita harus senantiasa berpegang teguh pada isi Tanbih
dari Syekh Abdulloh Mubarok Bin Nur Muhammad Qs. (Abah Sepuh). Jaga persatuan dan kesatuan, hormat kepada
yang lebih tinggi, jangan bersengketa, rendah hati, gotong royong, jangan
berselisih, jangan menghina, jangan angkuh, harus kasih sayang, manis budi,
ramah tamah, murah tangan. Jangan membenci kepada ulama yang sezaman, jangan
memeriksa murid orang lain, jangan menyalahkan pengajaran orang lain, jangan
berubah sikap meskipun disakiti orang lain, harus menyayangi orang yang membenci
kepadamu. Sabda Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh
Maslul Al Qodiri An Naqsyabandi Al Kamil, Qs., Mursyid TQN PPS silsilah ke 38
yang kini telah memiliki 89 Wakil Talkin tersebar di Indonesia, Malaysia,
hingga Jeddah Arab Saudi: "Tak Terkejar Tetapi Tidak Ada Yang
Tertinggal". Tentu saja sabda beliau itu ditujukan kepada siapa
saja Yang Mau Ikut.
Sebagai Mursyid TQN Suryalaya, pengersa Abah Aos beberapa kali mengeluarkan
Maklumat sebagai penyempurnaan ajaran TQN Suryalaya guna meningkatkan amaliyah
sekalian ikhwan. maklumat tersebut antara lain:
- Di Sirnarasa,
beliau menghimbau seluruh ikhwan agar melaksanakan amaliyah sholat sunnah
isti'anah sebanyak 4 rakaat, 2 kali salam berikut dengan doa, setelah isro', istiadah, istiharoh.
- Di
Spanyol, beliau menetapkan keseragaman Lagam dalam Khotaman.
- Bandara
Abu Dhabi, 21 Oktober 2014, Pukul 06.34 waktu setempat / 09.34 WIB.
(Sholat Sunah "Syukur Ni'mat). pengersa Abah menyatakan: "Sholat
Syukur Ni'mat lakukan dengan 2 roka'at, sebanyak-banyaknya (tak
terhingga), dimana saja dan kapan saja. Bacaan ayat setelah Surat
Alfatihah adalah ayat.ke 34 surat Ibrohim, pada rokaat pertama: "Wa
aataakum min kulli maa sa-altumuuhu, wa inta'udduu ni'matallohi laa tuh
shuuhaa". Pada roka'at kedua: "Innal insaana
lazholuumun kaffar". Setelah salam lalu sujud dengan
membaca: "Allohuma laka sajadtu, wabika aamantu walaka aslamtu
sajada wajhiya lilladzi kholaqohu wa showarohu wa syaqqo sam'ahu wa
bashorohu bi haulihi waquwwatihi tabaarokallohu ahsanul khooliqiin".
- Di
Turky, Jumat, 24 Oktober 2014 di dalam bis, Kusadasi, Pukul 10.34 waktu
setempat. Maklumat Abah Aos: "Pra Manaqib, bacakan Al Fatihah, Al
Ikhlash, Al Falaq dan An Nas Untuk Peradaban Dunia. Setelah "Untuk
Kejayaan Agama dan Negara" (baca: Untuk Kejayaan Agama dan Negara
untuk Peradaban Dunia, Al Fatihah...).
- Istambul,
Turky. Selasa, 28 Oktober 2014. Maklumat Abah Aos; "Al Fatihah ke-4
Khotaman atau Tawassul, kalimat; "Wa Muslimin wa
Muslimatin", dicukupkan (tidak digunakan). Sehingga menjadi: " ... wa ila arwahi kulli
waliyyin wa waliyatin, min masyariqil ardhi...).
- Pada
Manaqib di Masjid Istiqlal tanggal 21 Februari 2015 pengersa Abah Aos
mengeluarkan maklumat, bahwa disetiap manaqib yang dilaksanakan adalah
dalam rangka Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw, dimanapun dan kapanpun
juga.
- Di
Jakarta, beliau menghimbau seluruh ikhwan TQN PPS di mana saja berada,
sendiri atau berjamaah, mulai Jumat tanggal 6-14 Maret 2015, setiap ba'da
sholat ashar melaksanakan Khotaman dengan membaca Yaa
Lathif sebanyak 129 kali.
- Madinah,
07 Maret 2015. Jam 22.00 WAS. Beliau mengucapkan sholawat dan salam
kepada Baginda. Dan beliau maklumatkan agar hal ini didawamkan setiap
malam sesudah sholat dan zikir malam.
- Di
Madinah-Mekah, tanggal 9 Maret 2015, pengersa Abah menyampaikan mulai hari
ini:
- Setiap
masuk kamar kecil atau kamar mandi langsung berwudhu.
- Waktu
pelaksanaan sholat Duha dikembalikan lagi seperti pada zaman Syeikh
Abdulloh Mubarok Bin Nur Muhammad (Abah Sepuh), yakni jam 07.00 pagi.
- Di
Sirnarasa, mulai hari Selasa, 7 April 2015, beliau menghimbau seluruh
ikhwan agar sebelum tidur membaca, "Bismillaahirrohmaanirrohiim,.
Naruddu bikal a'daau minkulli wijhatin wabil ismi tarmihim minal
bu'di bissatat. Allohuma Haafizhun Hayyun Laa Yanam", sampai tertidur.
- Di
Prapanca, Selasa 21 April 2015. Pengersa Abah mengijazahkan uluk salam
Rijalul Ghoib. Catatan dari KH. Muhammad Sholeh Hujatul Arifin: Sebelum
membaca Rijalul Ghoib, agar beruluk salam terlebih dahulu kepada pengersa
Abah Aos.
- Di
Jagat 'Arsy, Rabu, 22 April 2015 jam 08.00 pagi. Semua ikhwan diminta
untuk puasa Rojab, pada hari Kamis, kemudian malamnya sholat malam Jumat
pertama di bulan Rojab.
- Di
Bandung, beliau menghimbau dan mengingatkan agar para Ikhwan dan Akhwat
sekalian terhitung Selasa , 12 Mei 2015, untuk mengucapkan/menjawab, "Aamiin" secara nyaring, kompak, dan
berjamaah seluruh bait doa Hadrotu Syeikh Abdulloh Mubarok Bin Nur
Muhammad (Abah Sepuh) di setiap pembacaan Tanbih.
- Kepada
seluruh Ikhwan-Akhwat TQN PP Suryalaya. Abah menghimbau terhitung Rabu, 13
Mei 2015 agar menyeragamkan amaliyah pembacaan tawasul terhadap seluruh
Ahli Silsilah TQN PPs yang tertera dalam untaian Dzikir Harian, Khotaman, dan Tawasul dengan merujuk pada bimbingan
redaksi dari Pengersa Abah Sepuh berikut ini: "Tsumma ila arwaahi ahli
silsilatil Qodiriyyah Naqsyabandiyah Ma'had Suryalaya wa jami'i ahlit
thuruqi..dst".
Satu demi satu bimbingan pengersa Abah untuk semua murid-murinya, agar
senantiasa meningkat amaliyahnya yang akan menghantarkan si murid sampai kepada
Alloh SWT. Tidak mungkin seseorang akan sampai kepada Alloh hanya sekedar
bermodalkan amal yang sedikit juga jauh dari keikhlasan (penuh dengan rasa
cinta). Apalagi diiringi dengan sifat-sifat yang buruk mendominasi hati
seseorang, seperti; rasa kebencian, lisan yang tak terjaga, kesombongan, dll.
Kesemuanya itu akan menutupi hati kita, oleh karenanya menjadi gelap, sehingga
tidak mampu melihat cahaya yang terang benderang dari Tuhan-nya. Sebagaimana
Firman Alloh SWT. dalam Surat An Nur ayat 35: "Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya
Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada
pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang
bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang
berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu)
dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir
menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis),
Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah
memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu".
Terima kasih wahai Guruku Yang Agung, meskipun tertatih-tatih diri ini
mengikuti jejak-jejak langkahmu... terkadang merayap, terkadang merangkak,
terkadang duduk, terkadang berdiri, terkadang berjalan cepat, berlari kencang,
kemudian jatuh kembali (terseok-seok). Ternyata jangankan untuk mengejar,
berada di belakangmu saja diri ini tak mampu. Namun aku tetap berharap agar di
akui sebagai murid walau sesungguhnya hanya menjadi beban bagimu...
Sampai akhirnya engkau bersabda, "Tak Terkejar
Tetapi Tidak Ada Yang Tertinggal, Ikut Saja Bersama Guru Agung". Isro' dan Mi'roj Nabi Muhammad SAW. terjadi disaat orang lain masih tidur.
Maka kalau ingin meningkat, "Disaat orang lain sudah tidur, kita masih
bangun. Saat orang lain belum bangun kita sudah bangun. Hati ini hanya
mencintai Abah Anom, Mata ini hanya melihat Abah Anom, Telinga ini hanya
mendengarkan Abah Anom”. Demikianlah ungkapan beliau yang sudah fana fi syeikh, dirinya telah lebur
bersama Gurunya Yang Agung. Firman Alloh dalam Al Qur’an Surat Al A’raf ayat
179: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk
(isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati,
tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Beruraian
air mata ini menyesali kebodohan dan kemalasan. Semoga terbonceng di atas
kendaraanmu yang Agung agar sampai ke Hadirot Alloh Azza Wa Jalla, aamiin.
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
Rojab 1436 H / Mei 2015
06.12
Manaqib Masjid Istiqlal 21 Februari 2015 Hidmat Ilmiah: KH. Jujun J
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 24 Februari 2015 | 06.12
<iframe width="640" height="390" src="https://www.youtube.com/embed/iTdsz4YGBvE" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
06.10
Manaqib Masjid Istiqlal 21 Februari 2015 Hidmat Ilmiah; KH. Dadang M
<iframe width="640" height="390" src="https://www.youtube.com/embed/5eJJEzF4hws" frameborder="0" allowfullscreen></iframe>
03.26
GUGURLAH IA DARI PANGKAT KEWALIANNYA (Manqobah itu Berlaku Bagi Syekh)
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 06 Februari 2015 | 03.26
Sadar atau tidak, suka ataupun tidak,bahwa siapa saja yang tidak mengakui Kewalian dari seseorang Wali penerus Kewalian dari Rajanya Wali Syekh Abdul Qodir Jailani Qs., meskipun ia seorang Wali maka kewaliannya akan gugur dicabut oleh Alloh Swt.
Hal ini berdasarkan Manqobah ke-12 Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.
"Diriwayatkan dalam kitab Roudhotun Nadhirin fii Manaqibi As-Syaikh Abdul Qodir, pada masa periode keenam dari zaman Abi Ali Al-Hassan As-Sirri, sampai pada masa kelahiran Syekh Abdul Qodir, tidak ada seorang 'alim ulama, kecuali pada umumnya mereka membicarakan tentang keagungan pangkat kewalian Syekh dan akan menginjak pundak para waliyulloh. Para 'alim ulama itu menerima isi dari pengumuman tersebut, kecuali seorang wali dari kota Asfahan ia menolak isi dari pengumuman itu. Dengan adanya penolakan tentang kewalian Syekh, pada saat itu juga GUGURLAH IA DARI PANGKAT KEWALIANNYA. Hampir tigaratus tahun lagi Syekh Abdul Qodir akan lahir, kedudukan pangkat kewaliannya sudah masyhur dikenal masyarakat."
اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان
Alloohhummansyur 'alaihhi rohmataw waridhwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.
Hal ini berdasarkan Manqobah ke-12 Syekh Abdul Qodir Jailani Qs.
"Diriwayatkan dalam kitab Roudhotun Nadhirin fii Manaqibi As-Syaikh Abdul Qodir, pada masa periode keenam dari zaman Abi Ali Al-Hassan As-Sirri, sampai pada masa kelahiran Syekh Abdul Qodir, tidak ada seorang 'alim ulama, kecuali pada umumnya mereka membicarakan tentang keagungan pangkat kewalian Syekh dan akan menginjak pundak para waliyulloh. Para 'alim ulama itu menerima isi dari pengumuman tersebut, kecuali seorang wali dari kota Asfahan ia menolak isi dari pengumuman itu. Dengan adanya penolakan tentang kewalian Syekh, pada saat itu juga GUGURLAH IA DARI PANGKAT KEWALIANNYA. Hampir tigaratus tahun lagi Syekh Abdul Qodir akan lahir, kedudukan pangkat kewaliannya sudah masyhur dikenal masyarakat."
Ini berlaku juga bagi Wali yang ada sekarang, yaitu Mursyid Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah Pondok Pesantren Suryalaya, yang mulia Guru Agung Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi al Kamil, Qs.
Siapa saja yang tidak mengakui PANGKAT KEWALIAN SYEKH, meskipun ia seorang WAKIL TALKIN apalagi BUKAN WAKIL TALKIN, maka GUGURLAH IA DARI PANGKAT KEWALIANNYA!
Yang Alim jadi BODOH, yang Arif jadi PENDENGKI, yang Tinggi jadi RENDAH, yang Melihat jadi BUTA.
Ibarat kata pepatah, "Semut di seberang lautan kelihatan, GAJAH di pelupuk mata tak kelihatan". Dan kata pepatah, "Majelis-Majelis Udang, Tahi di Kepala".
***
اللهم انشر عليه رحمة ورضوانا وءمدنا باسرره فى كل وقت ومكان
Alloohhummansyur 'alaihhi rohmataw waridhwaana waamiddana bi asrorihhi fii kulli waqti wamakaan.
Wallohu'alambishshowab.
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa





