Latest Post

Rahasia Diantara Dua Lautan

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 27 Mei 2014 | 20.29

Dikisahkan dalam sebuah riwayat, "Suatu ketika Nabi Musa berkhutbah di tengah-tengah Bani Israil, lalu ia ditanya, “Siapakah manusia yang paling dalam ilmunya?” Ia menjawab, “Sayalah orang yang paling dalam ilmunya.” Maka Allah Swt. menyalahkannya karena tidak mengembalikan ilmu kepada-Nya. Allah Swt. kemudian mewahyukan kepadanya yang isinya, “Bahwa salah seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku yang tinggal di tempat bertemunya dua lautan lebih dalam ilmunya daripada kamu.” Musa berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana cara menemuinya?” Maka dikatakan kepadanya, “Bawalah ikan (yang sudah mati) dalam sebuah keranjang. Apabila engkau kehilangan ikan itu, maka orang itu berada di sana.”

Jalan Menuju Alloh
Menurut shahih Bukhori, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab menceritakan bahwa beliau mendengar nabi Muhammad Saw. bersabda, “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu beliau ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku”. Mengenai hal ini Imam Ja’far ash-Shadiq menuturkan bahwa setelah Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa, menurunkan Taurat kepadanya, dan memberinya berbagai karunia dan mukjizat, sifat kesombongannya yang manusiawi timbul hingga bertuturlah ia, “Aku tidak melihat ciptaan yang lebih berilmu dari padaku”. Lalu Allah Swt. menegur Nabi Musa A.s dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada dipertemuan dua lautan dan dia lebih berilmu daripada kamu.

Mendengar teguran Alloh Swt. itu Nabi Musa A.s sadar akan kesalahannya, dan Nabi Musa A,s memohon kepada Alloh, “Ya Allah, di mana orang ini bisa saya temui? Saya ingin bertemu dengannya dan belajar darinya,” tanya Nabi Musa A.s antusias. Lalu kemudian Allah Swt. menunjukkan sebuah tempat di mana Nabi Musa A.s dapat menemui orang berilmu tersebut, yaitu di pertemuan antara dua lautan, di balik sebuah batu. Agar lebih yakin dan tak salah mengenali orang, Nabi Musa A.s pun meminta tanda identitas orang tersebut. Kemudian Alloh Swt. memerintahkan Nabi Musa A.s membawa seekor ikan dalam wadah berisi air. Ikan tersebut akan menunjukkan arah di mana keberadaan sang ahli ilmu Khidir. Sebagaimana dikisahkan Alloh Swt. dalam Al-Qur'an, surat Kahfi, ayat (60-65) :

Artinya, "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya. "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".


Artinya, "Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu."

Artinya, "Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini."

Artinya, "Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mecari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."

Artinya, "Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula." 

Artinya, "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."

Ayat-ayat di atas mengisahkan perbedaan sudut pandang Nabi Khidir yang telah disingkapkan kepadanya alam gaib dan Nabi Musa yang hanya melihat secara indrawi. Kisah ini secara sederhana ingin mengemukakan sedikitnya tiga hal : pertama, alam eksistensi terdiri dari aspek yang tampak (syahadah) dan aspek tak tampak (ghaib); kedua, dua aspek ini saling berhubungan dan saling mempengaruhi; dan ketiga, pengetahuan seseorang tentang aspek gaib pasti akan mempengaruhi perilakunya di alam nyata. Oleh karena itu, makin luas ilmu gaib yang diberikan Allah pada seseorang, makin berbeda pula perilaku orang itu di alam indrawi. Begitulah pengandaian Nabi Muhammad Saw. yang terekam dalam surah al-A’raf, ayat (188) :

Artinya, "Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfa'atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".

Rahasia Diantara Dua Lautan Tanpa Tepi
Kisah di atas sudah lama terjadi (dulu), akan tetapi bukanlah berarti tidak relevan dengan keadaan sekarang, bukankah "Dulu" itu karena disebutnya sekarang? "Sekarang" pun kalau disebut dikemudian hari menjadi "Dulu". Padahal ayat-ayat Alloh Swt. didalam Al-Qur'an tetap berlaku sejak dari DULU hingga AKHIR nanti. 

Kisah tersebut diabadikan dalam Al Qur'an, bukanlah berarti merupakan kekurangan dari Nabi Musa A.s. Bukankah Nabi itu Ma'sum? Kisah tersebut dimaksudkan sebagai pelajaran bagi kita Umat Nabi Muhammad Saw. agar kita dapat mengambil hikmah dari setiap kejadian yang dikisahkan di dalam Al-Qur'an.

Dengan demikian, kalau dikaitkan dengan sekarang, kisah tersebut dapatlah juga kita kaitkan dengan penomena Kemursyidan dalam Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesatren Suryalaya pasca wafatnya Guru Agung Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul 'Arifin Q.s (Abah Anom).

Bagi Ikhwan TQN Suryalaya, kita semua meyakini bahwa beliau pengersa Abah Anom adalah Mursyid Kamil Mukammil, artinya beliau mursyid yang telah sempurna dan dapat menyempurnakan. Sebagai seorang mursyid yang telah sempurna, tentu tingkat keikhlasan beliau dalam beribadah kepada Alloh sangat luar biasa, dirinya telah melebur dalam kehendak-Nya. Demikian juga tingkat keyakinan beliau kepada Alloh pun sudah sedemikian tinggi, sehingga beliau sudah tidak memiliki kehendak lagi, segala sesuatu mengalir mengikuti kehendak Alloh Swt. Bukankah di dalam Khotaman kita senantiasa bermunajat, "Allohumma yaa qoodiyal hajat", yang artinya "Wahai Dzat yang memenuhi segala kebutuhan". Sebagai mursyid kamil mukammil, apakah masih pantas kalau beliau masih banyak meminta berdasarkan keinginannya?

Bahkan, termasuk masalah siapakah yang menjadi penerus beliau nantinya sebagai Mursyid TQN PPS ke 38? sampai ketika beliau wafat pun, beliau tidak menunjuk siapa yang menjadi penerusnya. Artinya, semua sudah dipasrahkan kepada Alloh Swt. Bukankah Thoriqoh itu kepunyaan Alloh Swt. Sebagaimana Firman Allah (Q.S. Al-Jin: 16) :
وَأَنْ لَوِاسْتَقَامُوْا عَلَى الطَّرِيْقَةِ لأَسْقَنَاهُمْ مَآءً غَدَقًا
Artinya: “Sekiranya mereka itu tetap berjalan (bertarekat) di atas jalan yang benar (Tarekat yang benar) niscaya Aku (Allah) akan memberikan kepada mereka meniman yang menghilangkan haus (petunjuk/Tarekat yang menghilangkan kesesatan)”

Kemudian, sebagai mursyid yang dapat menyempurnakan, tentu saja berarti beliau mampu untuk menyempurnakan muridnya, sehingga pasti ada muridnya yang telah sempurna dan mampu untuk meneruskan silsilah kemursyidan setelah beliau. Selanjutnya, "Sang Murid yang Disempurnakan" tentu saja Beliau pun tahu kalau ia telah disempurnakan. Jadi hakekatnya yang tahu bahwa pengersa Abah Anom itu kamil mukammil, hanyalah seorang MURID yang telah DISEMPURNAKAN, sedangkan kita ini hanya sekedar ikut saja.

Sebagai Murid yang disempurnakan (kamil), sama halnya dengan Gurunya, tingkat keyakinan dan keikhlasannya dalam beribadah kepada Alloh Swt. juga sudah sangat tinggi sekali. Sebagaimana gurunya pengersa Abah Anom, beliau pun sudah pasrahkan segala urusannya kepada Alloh Swt., sebagaimana sabdanya, "TDAK PERLU perlu apa-apa, TIDAK TAHU apa-apa, TIDAK MAU apa-apa".

Perlu diketahui bahwa apabila seorang mursyid meninggal dunia maka wajib bagi murid untuk mencari mursyid yang masih hidup sebagai penerus silsilah yang akan membi,bing si murid dalam melanjutkan perjalanan ruhaninya untuk sampai kepada Alloh Swt. melalui jalan thoriqoh, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Abdul Wahab As-Sya'roni di dalam kitabnya Al Anwarul Qudsyiah, sbb :

وَ من الواجب عليه إذا مات شيخه أن يتخذ له شيخا يربيه 
زيادة على ما رباه به الشيخ الأول (كتاب: الأنوار القدسية

"Dan wajiblah bagi murid, jika telah mati gurunya, mencari guru lain yang akan membimbingnya sebagai tambahan atas apa yang telah diajarkan oleh guru sebelumnya".

Kriteria Mursyid Kamil Mukammil menurut Kitab Khozinatul Asror hal. 194, ialah :
  1. Seorang yang pintar (alim), karena yang bodoh tidak akan mampu memberi Irsyad (Petunjuk)
  2. Tidak mencintai dunia dan pangkat
  3. Baik dalam mendidik Nafsunya (Riyadlotun-Nafsi), seperti sedikit makan dan minum, serta berbicara dan banyak shalat, shadaqah serta berpuasa.
  4. Mempunyai sifat dan akhlaq terpuji, seperti : sabar, syukur, tawakkal, yakin, pemurah, qanaah, pengasih, rawadhu, shiddiq, haya, wafa, wiqor dan syukur (untuk lebih jelasnya lihat kitab tersebut).
Sedangkan menurut kitab Tanwirul Qulub karangan Syeikh Muhammad Amin Kurdi disebutkan bahwa syarat seorang Guru Mursyid Kamil itu ada 24 syarat, yang ringkasnya adalah Sirah Guru Mursyid tersebut seperti sirah (perilaku) Rasulullah SAW. Diantaranya yang 24 itu adalah :
  1. Harus seorang yang alim dalam segala keilmuan yang dibutuhkan oleh para murid.
  2. Harus seorang yang arif terhadap kesempurnaan kalbu dan adab-adabnya, serta mengetahui segala bencana dan penyakit nafsu serta cara menyembuhkannya.
  3. Seorang yang lemah lembut, pemurah kepada kaum muslimin, khususnya kepada para muridnya. Apabila melihat para muridnya belum mampu untuk melawan nafsunya dan kebiasaannya yang jelak misalnya, Beliau lapang dada terhadap mereka setelah menasehatinya dan bersikap lemah lembut kepadanya sampai mereka mendapat petunjuk.
  4. Selalu menutupi segala yang timbul dari aib yang menimpa para muridnya.
  5. Bersih dari harta para muridnya serta tidak tamak terhadap apa-apa yang ada ditangan para muridnya
  6. Selalu melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan Allah, sehingga segala perkataannya berbekas pada diri para muridnya.
  7. Tidak banyak bergaul dengan para muridnya kecuali sekedar perlu dan selalu mengingatkan hal-hal yang baru dalam hal tarekat dan syariah sebagai upaya membersihkan jiwa dan agar beribadah kepada Allah dengan ibadah yang benar.
  8. Perkataannya bersih dari berbagai kotoran hawa nafsu, senda gurau, dan dari segala yang tidak bermanfaat.
  9. Lemah lembut dan seimbang dalam hak dirinya, sehingga kebesaran dan kehebatannya tidak mempengaruhi dirinya.
  10. Selalu memberi petunjuk kepada para muridnya dalam hal-hal yang dapat memperbaiki keadaannya.

Dengan demikian selayaknyalah bagi Ikhwan Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah mengetahu siapa Guru ruhaninya yang Zhohir karena kita ini hanya sekedar ikut. Terlebih kita ini masih berada di alam tajrid (nyata), kita membutuhkan pembimbing yang masih dapat DILIHAT, DISENTUH, dan DIDENGAR  secara zhohir. Janganlah kita merasa SOMBONG dengan mengatakan bahwa tidak perlu mursyid yang masih hidup, atau menganggap diri kita masih bisa robithoh dengan mursyid yang sudah kembali/pindah alam. Bukankah yang TAHU itu cuma SATU yaitu Mursid yang Kamil Mukammil? yang diberitahu oleh yang MAHA TAHU, yaitu Alloh Swt.

Sebagaimana layaknya di alam zhohir, maka untuk mengetahui siapa yang menjadi penerus (estafeta) Mursyid TQN PPS Suryalaya? disamping secara batin, kita juga perlu mencarinya secara zhohir, bisa melalui media-media atau dengan bertemu secara langsung dengan yang kita yakini atau yang diyakini sebagai MURID yang telah disempurnakan sebagai MURSYID dengan disertai keikhlasan membuka HATI kita selapang-lapangnya dan membiarkan kebenaran apa saja untuk memasukinya.

"BUKALAH DADA KITA UNTUK MENERIMA KEBENARAN"

Rahasia Diantara Dua Lautan : Syekh Ahmad Shohibul Wafa'Tajul Arifin, Qs. (Abah Anom) - Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, Qs. (Abah Aos).

Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa" 
27 Rojab 1435 H

Syekh Siti Jenar, Wali Allah & Pejuang Islam Yang Difitnah SESAT (Copas)

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 15 April 2014 | 18.22

Syaikh Siti Jenar adalah seorang sayyid atau habib keturunan dari Rasulullah Saw. Nasab lengkapnya adalah Syekh Siti Jenar [Sayyid Hasan ’Ali] bin Sayyid Shalih bin Sayyid ’Isa ’Alawi bin Sayyid Ahmad Syah Jalaluddin bin Sayyid ’Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik Azmat Khan bin Sayyid 'Alwi 'Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin Sayyid 'Ali Khali Qasam bin Sayyid 'Alwi Shohib Baiti Jubair bin Sayyid Muhammad Maula Ash-Shaouma'ah bin Sayyid 'Alwi al-Mubtakir bin Sayyid 'Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid 'Isa An-Naqib bin Sayyid Muhammad An-Naqib bin Sayyid 'Ali Al-'Uraidhi bin Imam Ja'far Ash-Shadiq bin Imam Muhammad al-Baqir bin Imam 'Ali Zainal 'Abidin bin Imam Husain Asy-Syahid bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad Rasulullah Saw.

Syaikh Siti Jenar lahir sekitar tahun 1404 M di Persia, Iran. Sejak kecil ia berguru kepada ayahnya Sayyid Shalih dibidang Al-Qur’an dan Tafsirnya. Dan Syaikh Siti Jenar kecil berhasil menghafal Al-Qur’an usia 12 tahun.

Kemudian ketika Syaikh Siti Jenar berusia 17 tahun, maka ia bersama ayahnya berdakwah dan berdagang ke Malaka. Tiba di Malaka ayahnya, yaitu Sayyid Shalih, diangkat menjadi Mufti Malaka oleh Kesultanan Malaka dibawah pimpinan Sultan Muhammad Iskandar Syah. Saat itu. Kesultanan Malaka adalah di bawah komando Khalifah Muhammad 1, Kekhalifahan Turki Utsmani.

Akhirnya Syaikh Siti Jenar dan ayahnya bermukim di Malaka.

Kemudian pada tahun 1424 M, Ada perpindahan kekuasaan antara Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sekaligus pergantian mufti baru dari Sayyid Sholih [ayah Siti Jenar] kepada Syaikh Syamsuddin Ahmad.

Pada akhir tahun 1425 M. Sayyid Shalih beserta anak dan istrinya pindah ke Cirebon. Di Cirebon Sayyid Shalih menemui sepupunya yaitu Sayyid Kahfi bin Sayyid Ahmad.

Posisi Sayyid Kahfi di Cirebon adalah sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dari sanad Utsman bin ’Affan. Sekaligus Penasehat Agama Islam Kesultanan Cirebon. Sayyid Kahfi kemudian mengajarkan ilmu Ma’rifatullah kepada Siti Jenar yang pada waktu itu berusia 20 tahun. Pada saat itu Mursyid Al-Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyah ada 4 orang, yaitu:

  1. Maulana Malik Ibrahim, sebagai Mursyid Thariqah al-Mu’tabarah al-Ahadiyyah, dari sanad sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq, untuk wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, dan sekitarnya
  2. Sayyid Ahmad Faruqi Sirhindi, dari sanad Sayyidina ’Umar bin Khattab, untuk wilayah Turki, Afrika Selatan, Mesir dan sekitarnya,
  3. Sayyid Kahfi, dari sanad Sayyidina Utsman bin ’Affan, untuk wilayah Jawa Barat, Banten, Sumatera, Champa, dan Asia tenggara
  4. Sayyid Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Ja’far al-Bilali, dari sanad Imam ’Ali bin Abi Thalib, untuk wilayah Makkah, Madinah, Persia, Iraq, Pakistan, India, Yaman.

Kitab-Kitab yang dipelajari oleh Siti Jenar muda kepada Sayyid Kahfi adalah Kitab Fusus Al-Hikam karya Ibnu ’Arabi, Kitab Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli, Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali, Risalah Qushairiyah karya Imam al-Qushairi, Tafsir Ma’rifatullah karya Ruzbihan Baqli, Kitab At-Thawasin karya Al-Hallaj, Kitab At-Tajalli karya Abu Yazid Al-Busthamiy. Dan Quth al-Qulub karya Abu Thalib al-Makkiy.

Sedangkan dalam ilmu Fiqih Islam, Siti Jenar muda berguru kepada Sunan Ampel selama 8 tahun. Dan belajar ilmu ushuluddin kepada Sunan Gunung Jati selama 2 tahun.

Setelah wafatnya Sayyid Kahfi, Siti Jenar diberi amanat untuk menggantikannya sebagai Mursyid Thariqah Al-Mu’tabarah Al-Ahadiyyah dengan sanad Utsman bin ’Affan. Di antara murid-murid Syaikh Siti Jenar adalah: Muhammad Abdullah Burhanpuri, Ali Fansuri, Hamzah Fansuri, Syamsuddin Pasai, Abdul Ra’uf Sinkiliy, dan lain-lain.

KESALAHAN SEJARAH TENTANG SYAIKH SITI JENAR YANG MENJADI FITNAH adalah:
  1. Menganggap bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Sejarah ini bertentangan dengan akal sehat manusia dan Syari’at Islam. Tidak ada bukti referensi yang kuat bahwa Syaikh Siti Jenar berasal dari cacing. Ini adalah sejarah bohong. Dalam sebuah naskah klasik, Serat Candhakipun Riwayat jati ; Alih aksara; Perpustakaan Daerah Propinsi Jawa Tengah, 2002, hlm. 1, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas, “Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.” [Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia yang akrab dengan rakyat jelata, bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….  
  2. “Ajaran Manunggaling Kawulo Gusti” yang diidentikkan kepada Syaikh Siti Jenar oleh beberapa penulis sejarah Syaikh Siti Jenar adalah bohong, tidak berdasar alias ngawur. Istilah itu berasal dari Kitab-kitab Primbon Jawa. Padahal dalam Suluk Syaikh Siti Jenar, beliau menggunakan kalimat “Fana’ wal Baqa’. Fana’ Wal Baqa’ sangat berbeda penafsirannya dengan Manunggaling Kawulo Gusti. Istilah Fana’ Wal Baqa’ merupakan ajaran tauhid, yang merujuk pada Firman Allah: ”Kullu syai’in Haalikun Illa Wajhahu”, artinya “Segala sesuatu itu akan rusak dan binasa kecuali Dzat Allah”. Syaikh Siti Jenar adalah penganut ajaran Tauhid Sejati, Tauhid Fana’ wal Baqa’, Tauhid Qur’ani dan Tauhid Syar’iy.
  3. Dalam beberapa buku diceritakan bahwa Syaikh Siti Jenar meninggalkan Sholat, Puasa Ramadhan, Sholat Jum’at, Haji dsb. Syaikh Burhanpuri dalam Risalah Burhanpuri halaman 19 membantahnya, ia berkata, “Saya berguru kepada Syaikh Siti Jenar selama 9 tahun, saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, bahwa dia adalah pengamal Syari’at Islam Sejati, bahkan sholat sunnah yang dilakukan Syaikh Siti Jenar adalah lebih banyak dari pada manusia biasa. Tidak pernah bibirnya berhenti berdzikir “Allah..Allah..Allah” dan membaca Shalawat nabi, tidak pernah ia putus puasa Daud, Senin-Kamis, puasa Yaumul Bidh, dan tidak pernah saya melihat dia meninggalkan sholat Jum’at”.
  4. Beberapa penulis telah menulis bahwa kematian Syaikh Siti Jenar, dibunuh oleh Wali Songo, dan mayatnya berubah menjadi anjing. Bantahan saya: “Ini suatu penghinaan kepada seorang Waliyullah, seorang cucu Rasulullah. Sungguh amat keji dan biadab, seseorang yang menyebut Syaikh Siti Jenar lahir dari cacing dan meninggal jadi anjing. Jika ada penulis menuliskan seperti itu. Berarti dia tidak bisa berfikir jernih. Dalam teori Antropologi atau Biologi Quantum sekalipun. Manusia lahir dari manusia dan akan wafat sebagai manusia. Maka saya meluruskan riwayat ini berdasarkan riwayat para habaib, ulama’, kyai dan ajengan yang terpercaya kewara’annya. Mereka berkata bahwa Syaikh Siti Jenar meninggal dalam kondisi sedang bersujud di Pengimaman Masjid Agung Cirebon. Setelah sholat Tahajjud. Dan para santri baru mengetahuinya saat akan melaksanakan sholat shubuh.
  5. Cerita bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Sembilan Wali adalah bohong. Tidak memiliki literatur primer. Cerita itu hanyalah cerita fiktif yang ditambah-tambahi, agar kelihatan dahsyat, dan laku bila dijadikan film atau sinetron. Bantahan saya: Wali Songo adalah penegak Syari’at Islam di tanah Jawa. Padahal dalam Maqaashidus syarii’ah diajarkan bahwa Islam itu memelihara kehidupan [Hifzhun Nasal wal Hayaah]. Tidak boleh membunuh seorang jiwa yang mukmin yang di dalam hatinya ada Iman kepada Allah. Tidaklah mungkin 9 waliyullah yang suci dari keturunan Nabi Muhammad akan membunuh waliyullah dari keturunan yang sama.” Tidak bisa diterima akal sehat.
Penghancuran sejarah ini, menurut ahli Sejarah Islam Indonesia (Azyumardi Azra) adalah ulah Penjajah Belanda, untuk memecah belah umat Islam agar selalu bertikai antara Sunni dengan Syi’ah, antara Ulama’ Syari’at dengan Ulama’ Hakikat. Bahkan Penjajah Belanda telah mengklasifikasikan umat Islam Indonesia dengan Politik Devide et Empera [Politik Pecah Belah] dengan 3 kelas:
  1. Kelas Santri [diidentikkan dengan 9 Wali]
  2. Kelas Priyayi [diidentikkan dengan Raden Fattah, Sultan Demak]
  3. Kelas Abangan [diidentikkan dengan Syaikh Siti Jenar]
Wahai kaum muslimin...melihat fenomena seperti ini, maka kita harus waspada terhadap upaya para kolonialist, imprealis, zionis, freemasonry yang berkedok orientalis terhadap penulisan sejarah Islam. Hati-hati....jangan mau kita diadu dengan sesama umat Islam. Jangan mau umat Islam ini pecah. Ulama’nya pecah. Mari kita bersatu dalam naungan Islam untuk kejayaan Islam dan umat Islam.

Sumber : https://www.facebook.com/notes/syekh-mufti-kesultanan-palembang-darussalam/syekh-siti-jenar-wali-allah-pejuang-islam-yang-difitnah-sesat/313789778771982

FENOMENA HAJAR ASWAD

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 18 Maret 2014 | 02.52

Meskipun banyak pandangan yang berbeda menyikapi sebuah fakta tentang Hajar Aswad, yaitu mengenai jenis batu apa? dan dari mana ia berasal?
Akan tetapi saya sebagai seorang muslim meyakini bahwa Hajar Aswad bukan batu sembarangan karena ia memiliki keutamaan di sisi Alloh swt. 
Apa saja keistimewaan Hajar Aswad dan Rukun Yamani? Kenapa setiap orang yang berthowaf dianjurkan untuk mengusapnya? Simak penjelasan Yahya bin Syarf An Nawawi Asy Syafi’i rahimahullah berikut ini :
An Nawawi rahimahullah menjelaskan :
Ketahuilah bahwa Ka’bah itu memiliki empat rukun. Pertama adalah rukun Hajar Aswad. Kedua adalah rukun Yamani. Rukun Hajar Aswad dan rukun Yamani disebut dengan Yamaniyaani. Adapun dua rukun yang lain disebut dengan Syamiyyaani.

Rukun Hajar Aswad memiliki dua keutamaan, yaitu: [1] di sana adalah letak qowa’id (pondasi) Ibrahim ‘alaihis salam, dan [2] di sana terdapat Hajar Aswad. Sedangkan rukun Yamani memiliki satu keutamaan saja yaitu karena di sana adalah letak qowa’id (pondasi) Ibrahim. Sedangkan di rukun yang lainnya tidak ada salah satu dari dua keutamaan tadi. Oleh karena itu, Hajar Aswad dikhususkan dua hal, yaitu mengusap dan menciumnya karena rukun tersebut memiliki dua keutamaan tadi. Sedangkan rukun Yamani disyariatkan untuk mengusapnya dan tidak menciumnya karena rukun tersebut hanya memiliki satu keutamaan. Sedangkan rukun yang lainnya tidak dicium dan tidak diusap. Wallahu a’lam. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392, 9/14)
Berikut beberapa hadist mengenai Hajar Aswad :

Umar bin Al Khattab radhiyallahu ‘anhuu ketika mencium Hajar Aswad, ketika itu beliau mengatakan, Memang aku tahu bahwa engkau hanyalah batu, tidak dapat mendatangkan manfaat atau bahaya. Jika bukan karena aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciummu, aku tentu tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari 1597 dan Muslim 1270)

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hajar aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu. Dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam”. ( HR. Tirmidzi no. 877. Shahih menurut Syaikh Al Albani)
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai hajar Aswad, “Demi Allah, Allah akan mengutus batu tersebut pada hari kiamat dan ia memiliki dua mata yang bisa melihat, memiliki lisan yang bisa berbicara dan akan menjadi saksi bagi siapa yang benar-benar menyentuhnya.” (HR. Tirmidzi no. 961, Ibnu Majah no. 2944 dan Ahmad 1: 247.
Berikut ini fakta tulisan tentang Hajar Aswad :
Hajar Aswad Merupakan Super Konduktor
Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda :
" Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam ".
Selamat malam rekan-rekan, semoga kita semua masih diberikan kesehatan untuk melakukan kebaikan di muka bumi ini, Aamiin..
Tulisan ini diambil dari berbagai sumber yang saya dengan keimanan yang saya miliki mempercayai kebenarannya..
Neil Amstrong telah membuktikan bahwa kota Mekah adalah pusat dari planet Bumi.
Fakta ini telah di diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah.
Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet Bumi, dia berkata, " Planet Bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungnya?, "
Para astronot telah menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi, secara resmi mereka mengumumkannya di Internet, tetapi sayangnya 21 hari kemudian website tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan website tersebut..
Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Ka'bah.
Yang mengejutkan adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berujung), hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut terus.
Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka'bah di planet Bumi dengan Ka'bah di alam akhirat.
Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama 'Zero Magnetism Area', artinya adalah apabila kita mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.
Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Mekah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi.
Oleh sebab itulah ketika kita mengelilingi Ka'bah, maka seakan-akan diri kita di-charged ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.
Penelitian lainnya mengungkapkan bahwa batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air.
Di sebuah musium di negara Inggris, ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka'bah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Encyclopedia Americana menulis: " Sekiranya orang-orang Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun sholat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yang berpusat di Hajar Aswad, tidak lagi memencarkan gelombang elektromagnetik ".
Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas, menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yang ada.
Beberapa astronot yang mengangkasa melihat suatu sinar yang teramat terang mememancar dari bumi dan setelah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka'bah.
Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.
Prof Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis: " Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam, sholat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu ".
Subhanallah, Alhamdulillah, Laa Illaha illallah, Allahu Akbar...!
~ Admin Cinta Hakiki ~
[[ Fauzan Arif ]]
http://www.facebook.com/muh.arif.fauzan
HAJAR ASWAD Tanda CINTA dari ALLOH
Sekiranya orang Islam berhenti melaksanakan Sholat ataupun Tawaf di muka bumi ini,niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini,karena rotasi dari super konduktor yg berpusat di Hajar Aswad tidak lagi memancarkan gelombang elektromagnetik.
Beberapa Astronot tlah membuktikan bahwa Mekah adalah pusat(latifah) dari planet Bumi.Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian Ilmiah,ketika mereka melakukan perjalanan ke luar angkasa untuk mengambil gambar Planet Bumi,mereka berkata :"Planet Bumi ternyata menggantung di area yg sangat gelap,tetapi tanah suci Kabah terlihat seperti bintang bersinar,sungguh sangat mengagumkan".
Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas: Menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yg mempunyai kadar logam yg sangat tinggi,yaitu 23.000 kali dari baja yg ada,setiap antariksawan yg mengangkasa melihat sesuatu sinar yg teramat terang memancar dari bumi dan setelah diteliti ternyata bersumber dari hajar aswad yg brada di Baitulloh atau Kabah.
Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yg berfungsi bagai mikrofon yg sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.
Prof.Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis: "Sungguh kita berhutang besar kpd orang Islam,sholat tepat waktu,tawaf mengelilingi kabah itu menjaga keseimbangan gelombang elektro magnetik yg ada di hajar aswad sebagai super konduktor yg menjaga keseimbangan alam semesta."
Hasil penelitian lebih lanjut,bahwa di planet bumi ada radiasi refleksi cahaya,dan ternyata berpusat di kota Mekah, tepatnya berasal dari Kabah.Yg mengejutkan adalah radiasi pancaran gelombang cahaya elektro magnetik tersebut bersifat infinite(tidak berujung),hal ini terbuktikan ketika mereka mengambil foto planet Mars,radiasi tersebut masih berlanjut terus.Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Kabah di Planet Bumi yg berpusat di hajar aswad dg Kabah di alam akhirat yg berpusat di "HATI ROSULULLOH SAW",,,,! dan dilanjutkan pada Hati Warosatul Anbiya.
sebagai QUTUBUL ALAMIN (Mursyid) yg menjadi sentral titik pusatnya Ruh alam semesta.
Batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengambang di air.Di sebuah musium di Inggris ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Kabah) dan pihak musium juga mengatakan bahwa bongkahan batu2 tersebut bukan berasal dari sistem tata surya kita.
Dalam salah satu sabdanya,Rosulullah SAW bersabda,"Hajar Aswad itu diturunkan dari surga,warnanya lebih putih daripada susu dan dosa2 anak cucu Adamlah yg menjadikannya hitam." ( Jami al-Tirmidzi al-Hajj 877 )
dan Hajar Aswad ditubuh kita adalah HATI...! Hatilah yg memimpin seluruh tubuh untuk sholat yg arahnya ke KIBLAT yaitu ke kabah yg akan menyambungkan gelombang cahaya elektro magnetik itu ke hati kita maka HATI KITA Seperti di Charger atau di cash sehingga hiduplah hati nurani kita memancarkan gelombang elektromagnetik cahaya illahiah,dg syarat mendirikan sholatnya harus khusu sambil INGAT HATI "DZIKRULLOH" kepada pencipta dan pemilik Hajar aswad itu yaitu ALLOH.
Subhanalloh,Alhamdulillah,Allohu Akbar,Laa Illaha illalloh,Betapa bergetar hati kita melihat dahsyatnya kekuasaan Alloh yg telah meletakan Latifah bumi atau titik sentral super konduktor pada hajar aswad di kabah sebagai pusat gelombang elektro magnetik yg menjaga alam semesta dari kehancuran yg dahsyat atau kiamat dan sekaligus menjaga hati kita dari padamnya cahaya Illahi.
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber di Internet

Daftar Wakil Talqin TQN PPS

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 16 Maret 2014 | 20.17



Untuk membantu mengamalkan, mengamankan, dan melestarikan Ajaran Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya (TQN PPS), Abah Aos, ra. mengangkat beberapa Wakil Talqin (Khalifah Mursyid), yaitu pada tanggal 14 Oktober 2013, 14 November 2013, dan 12 Desember 2013.

Wakil Talqin (Khalifah Mursyid) yang dilantik tanggal 14 Oktober 2013 sbb :

1. KH. Mustofa (Jedah, Arab Saudi)

2. KH. Masqi (Provinsi Banten)

3. Prof. DR KH Asep Usman Ismail, Dosen Tasawuf UIN Jakarta

4. DR. KH Jujun Junaedi M (Bandung)

5. KH. Ubaidillah (Daerah Ambarawa)

6. KH. Dadang Muliawan (Panjalu, Ciamis)

7. KH. As'ad (Palembang)

8. KH. Ali Asyiq Masruri (Bekasi)

9. KH. Ayi Burhanudin. (Pelabuhan Ratu, Sukabumi)


Dan pada tanggal 14 November 2013, Syekh Mursyid Abah Aos, ra. melantik 10 lagi Wakil Talqin (Khalifah Mursyid), sbb :

1. Prof. KH. Nasarudin Umar (Wakil Menteri Agama Republik Indonesia)

2. KH. Abdulloh munif (Pasuruan, Jawa Timur)

3. KH. Iqro Abdurro'uf ( daerah Lampung)

4. KH. M. Hasan (Bangkalan Madura)

5. KH. Irfan Zidni (DKI Jakarta)

6. KH. Syafi'i Abrori (Purbalingga)

7. KH. Syamsul Bahri (Pasuruan)

8. KH. Rofiqul Khoir (Daerah Malang)

9. KH. Anshori (Selangor-Malaysia)

10. KH. Ahmad Jalaludin (Majenang)

Sedangkan Wakil Talqin (Khalifah Mursyid) yang diangkat pada tanggal 12 Desember 2013 oleh Syekh Mursyid Abah Aos, ra. ialah sbb :

1. KH. Saefudin Hamzah (Banjarnegara)

2. KH. Asep Tanjungjaya (Singaparna, Tasikmalaya)

3. KH. Jajang Arum (Tasikmalaya)

4. KH. Dede ( Banjar, Ciamis)

5. KH. Adnan (Banten)

6. KH. Akbar (Kabupaten Bogor)

7. KH. Reda Matovani Kejaksaan Agung RI (DKI Jakarta)

8. KH. Hasan, Dosen Universitas Islam Negeri (UIN Bandung)

9. KH. Yusuf (Daerah Cirebon)

10. KH. Sahid Arifin, cucu Macan Suryalaya (Majalengka)

Dan dipenghujung akhir tahun 2013, Hadrotus Syekh Mursyid Abah Aos, ra. (Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul al Qodiri an Naqsyabandi, ra.), Sang Pelestari Cahaya, mengangkat Bapak DR. Ari Ginanjar Sebastian sebagai Wakil Talkin (Khalifah Mursyid). Beliau adalah pemilik Gedung Menara 165, di jalan TB Simatupang, DKI Jakarta-Indonesia (Owner ESQ).

Bak Menggarami Laut di Lautan Tanpa Tepi

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 25 Februari 2014 | 07.01

Dahulu sewaktu pengersa Abah Anom masih ada di dunia, banyak orang para muridnya bertanya-tanya, "Siapakah kelak yang akan menjadi penerus beliau, jika kelak beliau wafat?
Pada waktu itu, jauh sebelum beliau wafat, menurut saya setidaknya ada sebelas orang wakil talqin yang masih hidup, dari delapan puluh sembilan wakil talqin muridnya pengersa abah Anom yang lebih menonjol dari yang lainnya, ialah : 
  1. H. Ali bin Haji Mohammed (Wakil Talqin) dari Singapore.
  2. Hj. Mohd. Zuki As Syujak bin Syafie (Wakil Talqin) dari Malaysia.
  3. KH. Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul (Wakil Talqin) dari Ciamis.
  4. KH. Zaenal Abidin Anwar (Wakil Talqin) dari Suryalaya.
  5. KH. Zainal Abidin Bazul Asyhab (Wakil Talqin) dari Sukabumi
  6. Prof. Dr. Juhaya S. Praja (Wakil Talqin) dari Bandung.
  7. KH. Arief Ikhwanie AS (Wakil Talqin) dari Bandung.
  8. Drs. H. Wahfiudin MBA. (Wakil Talqin) dari Jakarta.
  9. Prof. Dr. H. A. Tafsir, MA (Wakil Talqin) dari Bandung
  10. KH. Muhammad Sholeh (Wakil Talqin) dari Jakarta.
  11. KH. Moch. Ali Hanafiah (Wakil Talqin) dari Surabaya.
Dari sebelas orang wakil talqin tersebut yang paling menonjol kelebihannya dibanding dengan yang lainnya, ialah Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul al Qodiri an-Naqsyabandi r.a. Kelebihan-kelebihannya sbb :
  1. Masih hidup hingga saat ini (syaikhul hayyi).
  2. Murid generasi awal, sejak tahun 1968.
  3. Selalu bersama-sama Abah Anom.
  4. Menguasai ilmu-ilmu agama yang luas.
  5. Mewarisi ilmu dan amaliah mursyid.
  6. Produktif menulis kitab (buku).
  7. Setia, menjadikan gurunya, satu-satunya figur sebagai panutan pada zamannya.
  8. Selalu berjuang untuk mengagungkan ajaran gurunya.
  9. Digemari oleh murid-murid.
  10. Istiqomah.
Nah, dari beberapa kelebihan-kelebihan tersebut maka tidaklah heran jika sejak pengersa abah Anom masih hidup pun, bahwa tentang siapa yang menjadi calon penerus beliau kelak sebenarnya sudah mulai terlihat, yakni mengarah kepada pengersa abah Aos. Hal ini ditandai dengan banyaknya ikhwan bertanya kepada belaiu tentang siapakah nanti yang akan menjadi penerus pengersa abah Anom? Dan terhadap pertanyaan ini, beliau dengan tegas menjawab, bahwa "penerus pengersa abah pasti ada, siapa? yaitu pasti muridnya.”

Sekali lagi, keyakinan bahwa pengersa abah Aos sebagai penerus pengersa abah Anom sebenarnya sudah banyak diyakini oleh para ikhwan, namun karena banyaknya birokrasi diseputar pengersa abah Anom, seperti instrumen yayasan misalnya, lembaga kepesantrenan, dll. Keberadaan birokrasi tersebut lah yang membuat keyakinan tersebut sedikit memudar mengingat betapa sulitnya menembus hirarki Pondok Pesantren Suryalaya. Keraguan-keraguan itu kemudian muncul, seperti; apakah ajengan Gaos mampu menembus hirarki pondok pesantren Suryalaya? dan apakah ajengan gaos mampu dikenal banyak kalangan seperti pengersa Abah Anom?

Pasca kepergian pengersa abah Anom, pertanyaan serupa "Siapakah penerus Abah anom?" semakin menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat, terutama para ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Mengapa?, sebab pengersa abah Anom tidak meninggalkan pesan sebagai bukti otentik tentang siapa yang menjadi penerusnya sebagai Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang ke 38. Pertanyaan tersebut tidak ada yang mampu menjawabnya, kecuali pengersa Abah Aos sendiri. Akhirnya setelah setelah beberapa bulan berjalan, akhirnya pertanyaan tersebut terjawab sudah dengan pernyataan-pernyataan Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul al Qodiri an-Naqsyabandi ra. 

Berikut ini jawaban-jawaban beliau, baik tersirat maupun tersurat, sbb:
  1. Sejak tahun 1957 sudah diminta oleh pengersa Abah Anom kepada Ibunda beliau, Hj. Siti Muslihah.
  2. Sejak tahun 1968 sampai tahun 1973 (lima tahun) setiap hari berjalan kaki dari Panjalu ke Suryalaya untuk berguru kepada pengersa Abah Anom.
  3. Selama tujuh tahun, setiap malam duduk disamping kiri pengersa Abah Anom. Baru berhenti setelah di ijazahkan secara simbolis berupa sebuah cicin batu akik dari Abah Anom.
  4. Pada tahun 1989 disaksikan beberapa ikhwan pengersa Abah Anom penepuk pundak beliau dengan mengucapkan penggalan ayat Al-Quran Surat Al-Baqoroh, ayat 247.
  5. Mendapatkan perintah dari pengersa abah Anom, "Goreskan itu Manaqib".
  6. Mendapat perintah dari pengersa abah Anom, "kembangkan manaqib, itu program abah".
  7. Mendapat perintah untuk berdakwah sebagai Panglima dari pengersa Abah Anom.
  8. Mendapat restu dari Abah Anom, “Abah mah kumaha ceuk Aos. Ceuk Aos “A”, A. Ceuk Aos “B”, B.
  9. Perintah pengersa Abah Anom, "tuturkeun aos".
  10. Diharapkan oleh pengersa Abah Anom, "aos mah kudu didie".
  11. Mendapat perintah dari pengersa abah Anom, "amalkan, amankan, lestarikan TQN Pondok Pesantren Suryalaya. Kalau bukan kita siapa lagi?"
Dengan jawaban dari beliau ini, bagi ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya sudah sangat jelas siapa yang menjadi penerus pengersa Abah Anom, Syekh Ahmad Shohibulwafa' Tajul Arifin r.a. sebagai Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang ke 38, sebagai mana sayapun mengakui beliau sejak 22 Agustus 2013 yang say tuangkan dalam tulisan “Cahaya Yang Tak Pernah Padam”, pengakuan ini berdasarkan perenungan saya sebelumnya yang saya tuangkan dalam tulisan, “Perjalanan Murid Mengenali Gurunya” dan juga berdasarkan kesaksian saya, yang saya tulis dalam, “Kesaksianku Untuk Dia”.
Karomah pengersa abah Aos, banyak sekali, yang menandakan kebenaran beliau, diantaranya :
  1. Mampu mengamalkan, mengamankan, dan melestarikan ajaran TQN Pondok Pesantren Suryalaya sendiri, dengan dibantu salah seorang wakil talqin pengersa abah Anom.
  2. Mampu membimbing dan meningkatkan amal ibadah muridnya, baik secara kuantitas dan kualitas.
  3. Mampu menghadapi rintangan yang menghambat baik yang datang dari para ikhwan, wakil talqin, dan ahlul bait.
  4. Mampu melaksanakan manaqib di masjid-masjid raya di Indonesia.
  5. Mampu mengadakan manaqib di masjid-masjid jami' Internasional.
  6. Diterima di madrasah tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani q.s. di Baghdad Iraq sebagai Mursyid TQN Pondok Pesantren Suryalaya.
  7. Mendapat pengakuan sebagai murid Syekh Abdul Qodir al Jailani q.s. dari pewaris Madrasah beliau yaitu Syaikh Hashimuddin al Jailani r.a. dan menadapat gelar Al Qodiri.
  8. Mendapat kunjungan kehormatan dari cucu ke 25 tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani q.s. yaitu Syaikh Muhammad Fadil al Jajilani r.a. (penyusun kitab tafsir abdul qodir jailani) dan mendapat pengakuan Mursyid Kamil Mukammil.
  9. Mendapat kunjungan kehormatan dari cucu tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani q.s. yaitu Syaikh Afeefuddin al Jailani r.a. Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah di Malaysia, dan mendapat gelar An-Naqsyabandi.
  10. Mendapatkan pengakuan dari para tokoh di pemerintah dan kalangan profesional, diantaranya; H. Dahlan Iskan (Menteri BUMN), yang mengatakan, "saya adalah timba yang mencari sumur, sumur itu adalah pengersa abah Aos", Prof. DR. Nasaruddin Umar MA (Wakil Menag/Wk. Talqin), yang mengatakan "membela abah Aos sama dengan membela abah Anom", Prof. DR. Asep Usman Ismail (Dosen UIN Jakarta/Wk. Talqin) yang mengatakan, "mursyid itu estafeta, abah Aos sebagai penerus abah Anom sudah tepat", dan Dr. (HC) Ary Ginanjar (Owner ESQ/Wk. Talqin), yang mengatakan, "saya datang kesini bukan untuk ceramah, tetapi untuk belajar kepada pengersa Abah Aos".

Namun demikian, ternyata masih ada golongan ikhwan yang ibarat, "Bak menabur garam di lautan tanpa tepi". Siapa golongan tersebut, ialah sebagaimana yang saya tulis di, “Strategi Di Atas Para Raja”.

Dikutip Februari 2014
Masih ada saja yang berpikiran "rasionalisme" yang menganggap "Imitasi" bahkan menginginkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya dibelah dua menjadi TQN Sirnarasa.
Terhadap tuduhan ini, Abah Aos menjawab, "Dalam tanbih, jangan timbul keretakan, retak saja tidak boleh apalagi dibelah! maka yang menginginkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya dibelah itu, adalah penghianat tanbih. Tidak ada TQN Sirnarasa, yang ada hanya TQN Pondok Pesantren Suryalaya, karena di dalam tanbih, “Pun kami tempat orang bertanya tentang thoriqoh qodiriyyah wa naqsyabandiyah pondok pesantren suryalaya."

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjC9UVtWIMOe23ZfbyHVk1zmz_PIg4LXUoiiREA6ShXnVk2axixZPVLcZK-wvj6HgKZFzzm2gOQg7d2AhYax0Ed51_Ya-fVNnDSJbLaUEutcHA9HHxm_o25AubmMHdjaQKpcURbvamRILQ/s1600/wahfiudin.png
                                  Dikutip Februari 2014

Bahkan dengan nafsunya ia berani mengatakan :
  • "Sehingga banyak orang terbawa tanpa sadar". à  Inilah yang saya katakan "bak menggarami laut", bagaimana mungkin saya yang menjalani koq orang lain yang merasakan?
  • "Memancing ikan di akuarium tetangga, karena sang pemilik bisa marah, lebih baik memancing di lautan tanpa tepi". à Bagaimana mungkin dapat menghakimi para murid pengamal TQN Pondok Pesantren Suryalaya dikatakan tetangga sebelah?
  • "... selain faktor wilayah (kewalian dari langit) juga faktor khilaafah (kepemimpinan, organisasi, dan manajemen). Apabila kedua faktor itu menyatu, maka tak ada lagi yang dapat merintangi". à Bagaimana mungkin meragukan kekuasaan Alloh, apakah tidak cukup dipahami itu sudah ketentuan Alloh (dari langit) saja?
  • ".....banyak tarekat-tarekat yang hanya dijadikan batu pijakan oleh para broker politik...". à Bagaimana mungkin bisa berprasangka buruk seperti demikian, bukankah pengersa Abah Anom telah mengajarkan untuk senantiasa menjalin hubungan dengan Pemerintah termasuk juga dengan Partai Politik?
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZI5ePqhyB4oIa1us09w9FZptMiPopcFYsDSKJMzmbbzByrh1qv3k5jYSeq_LE7Nvz4JT0ugrFgaVjqWxRDnN2LaCcHvL-Vg5NqVV5CAQnuqnhDcw4_PmCVAtrJHD8k5ucXGTQ0NcQMzY/s1600/wahfi.png
                                                Dikutip Februari 2104
  • "....pertanyaannya : bagaimana jika apa yang telah diajarkan oleh gurunya terdahulu (guru yang kamil mukammil adalah pelajaran yang sudah sempurna, masihkah diperlukan penambahan? à Bagaimana mungkin menganggap tidak perlu lagi menambah kualitas dan kuantitas ibadah?, Bagaimana mungkin mengganggap bahwa pintu kewalian telah tertutup?
Dan yang sangat membuat saya terkejut, adalah ketika saya akan melihat kembali jalinan silaturahim di sosial media facebook, ternyata saya sudah di remove dari pertemanan olehnya. Masya Alloh, hanya karena saya berbeda pendapat dan menyarankan kepada beliau (yang juga sebenarnya saya kagumi) sbb :
  1. Berbaiksangkalah terhadap isu politik.
  2. Menegaskan Kemursyidan pengersa Abah Aos sebagai penerus abah Anom.
  3. Menyarankan agar membuat status yang lebih bijak dan bersikap seperti para wakil talqin yang lainnya.
  4. Menyarankan agar berkarya nyata sebagaimana pengersa Abah Aos mengadakan manaqiban di masjid Istiqlal dengan menggandeng para tokoh nasional dan internasional.
  5. Saya nerpendapat bahwa, beliau dulu tidak seaktif seperti sekarang ini.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjA1ADzLsRk8YuUnivxS4BZbOY3A_NTOhXKnK7ExSFPshO_soprisLsDxnfml96sHyXX8vygsTllofjB5-D8YotV6HzagJwf466YiZ4m2CwR7z9Uh2zWiYPf7v5swT05KrxwZj5uVV2Wag/s1600/wah.pngLebih terkejut lagi saya ketika melihat komentar :



                                                Dikutip Februari 2014
  • "Bila ada yang berkomentar jahat, hapus saja komentar itu. Yang bersangkutan pun di unfriend saja, karena dia memang tidak berniat untuk menjadi friend. Kehadirannya hanya untuk mengintip-intip (tajassus)". à Bagaimana mungkin menghakimi bahwa orang yang berniat memberi nasihat/berbeda pendapat langsung divonis jahat dan tajassus? Apakah tidak menyadari siapa tahu orang tersebut memang berniat baik untuk menjalin silaturahmi walau hanya lewat facebook? Apakah tidak menyadari kalau orang tersebut barangkali dapat memetik hikmah darinya dengan jalinan silaturahmi di facebook?
Almukarrom al Ustadz Wahfiudin, saya friend dengan bapak jauh sebelum saya mengakui kemursyidan Abah Aos. Sejak dahulu saya sesungguhnya mengagumi dan membanggakan bapak, bahkan kami di wilayah Tangerang pernah sangat bangga atas kehadiran bapak di majelis manaqib memenuhi undangan dari yayasan,  pada waktu itu bapak mengatakan, "yang namanya manaqib tidak ada istilah diundang, tapi kewajiban untuk menghadirinya.”

Bahkan merupakan kebangaan saya juga kepada bapak, sehingga tentang bapak saya masukkan ke dalam blog pribadi saya, ini membuktikan bahwa saya termasuk salah seorang yang mengagumi bapak.

Tapi, ya sudahlah... saya teringat kata orang bijak, "terkadang tanpa kita sadari atas sikap kita itu dapat terlihat sesungguhnya kita berada di maqom apa?, dan ada kalanya orang itu tidak tersohor di penghuni bumi, namun ia sangat tersohor di penghuni langit, sebaliknya ada kalanya orang itu sangat tersohor di penghuni bumi, namun ia tidak tersohor di penghuni langit". Wallaahu'alam Bishshowab.


Mohon maaf, tulisan ini tidak bermaksud apa-apa, namun semata hanya karena dorongan yang kuat yang berasal dari hati. Haadanalloh wa iyyakum ajma'in, wassalamu'alaikum wr. wb.


Kajian Kitab Miftahussudur Ooeh Prof. DR. Asep Usman Ismail

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Kamis, 09 Januari 2014 | 21.18




Alhamdulillahilladzi azdhaba 'anna hazan inna robbana laghofurun syakur

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 08 Januari 2014 | 03.15




Hidmat Ilmiah Tahun 2005 oleh Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul al Qodiri RA.

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 07 Januari 2014 | 01.34




 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger