Latest Post

HIKMAH MALAM KE-20 16-06-2020

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 22 Juni 2020 | 02.52

HIKMAH MALAM KE-20
SETALAH MALAM TERBITLAH SIANG
Sahabat budiman,
Setelah malam terbitlah siang, maka lanjutkanlah perjalananmu, jangan berhenti, sebab perjalanan kita masih jauh untuk sampai kepada tujuan kita.
Alloh SubhanahubwabTa'alaa berfirman :
تُوْلِجُ الَّيْلَ فِى النَّهَا رِ وَتُوْلِجُ النَّهَا رَ فِى الَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَـيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَـيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ
tuulijul-laila fin-nahaari wa tuulijun-nahaaro fil-laili wa tukhrijul-hayya minal-mayyiti wa tukhrijul-mayyita minal-hayyi wa tarzuqu mang tasyaaa`u bighoiri hisaab
"Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Dan Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa perhitungan."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 27).
Setelah qiyaamul lail seyoyanya tidak tidur lagi, tunggu sampai waktu shubuh tiba dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya. Karena ketika seseorang menunggu sholat maka ia akan dido'akan oleh malaikat.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا دَامَتِ الصَّلاَةُ تَحْبِسُهُ ، لاَ يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلاَّ الصَّلاَةُ
“Salah seorang di antara kalian dianggap terus menerus di dalam shalat selama ia menunggu shalat di mana shalat tersebut menahannya untuk pulang. Tidak ada yang menahannya untuk pulang ke keluarganya kecuali shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Setelah adzan kumandang shubuh, laksanakan sholat sunnah qobliyah shubuh, sebab keutamaan sholat qobliyah shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim).
Setelah itu laksanakanlah sholat shubuh secara berjamaah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ ۗ اِنَّ قُرْاٰ نَ الْـفَجْرِ كَا نَ مَشْهُوْدًا
aqimish-sholaata liduluukisy-syamsi ilaa ghosaqil-laili wa qur`aanal-fajr, inna qur`aanal-fajri kaana masy-huudaa
"Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) subuh. Sungguh, sholat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 78).
Sahabat,
Setelah sholat shubuh, janganlah engkau tidur setelah waktu shubuh, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wa sallam :
Dalam riwayat sahabat Ibnu Abbas sebagaimana diriwayatkan Imam Thabrani, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِذا صَلَّيْتُمُ الفَجْرَ فَلَا تَنامُوا عَن طَلَبِ أرزاقكم
"Idza shalaytumul-fajra fala tanamuu 'an thalabi arzuqakum,".
Yang artinya: "Ketika kalian sudah selesai melakukan shalat subuh, janganlah (mementingkan) tidur yang menjadi penyebab hilangnya rezekimu,".
Lebih baik lanjutkan amaliyah dengan memperbanyak berdzikir kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
Man shollal ghadaata fii jamaa'atin, tsumma qa'ada yadzkurulloha tathlu'asy syamsu, tsumma shollaa rak'ataini kaanat lahu ka ajri hajjatin wa'umrotin. Qala Rosululloh Saw. "Tammatin, tammatin, tammatin".
Artinya, "Barangsiapa yang melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah lalu ia duduk sambil berdzikir pada Allah hingga matahari terbit, kemudian ia melaksanakan shalat dua raka’at, maka ia seperti memperoleh pahala haji dan umroh.” Beliau pun bersabda, “Pahala yang sempurna, sempurna dan sempurna". (HR. Tirmidzi).
Sahabat,
Aktivitas dzikir diantaranya adalah memperbanyak membaca Laa Ilaaha Illalloh, bertasbih, tahmid dan takbir, tilawah al Quran dan taklim, sampai matahari terbit. Tapi ingat, jangan kalian sholat pas ketika matahari terbit, sebab hal itu dilarang, sholatlah setelah matahari terbit sekira sehasta.
Sebagaimana sebuah hadits dari 'Amr saat bertemu Nabi Sholallohu 'alaihi wa sallam di Madinah ini, ‘Amr bertanya kepada beliau tentang shalat maka beliau memberi jawaban:
صَلِّ صَلاَةَ الصُّبْحِ ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ حَتَّى تَرْتَفِعَ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ حِيْنَ تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ؛ ثُمَّ صَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُودَةٌ مَحْضُوْرَةٌ، حَتَّى يَسْتَقِلَّ الظِّلُّ بِالرُّمْحِ، ثُمَّّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّ حِيْنَئِذٍ تُسْجَرُ جَهَنَّمُ. فَإِذَا أَقْبَلَ الْفَيْءُ فَصَلِّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ مَشْهُوْدَةٌ مَحْضُورَةٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ الْعَصْرَ، ثُمَّ أَقْصِرْ عَنِ الصَّلاَةِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ، فَإِنَّهَا تَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ شَيْطَانٍ، وَحِيْنَئِذٍ يَسْجُدُ لَهَا الْكُفَّارُ
“Kerjakanlah shalat subuh kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat ketika matahari terbit sampai tinggi karena matahari terbit di antara dua tanduk setan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari. Kemudian shalatlah karena shalat itu disaksikan dihadiri (oleh para malaikat) hingga tombak tidak memiliki bayangan, kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat karena ketika itu neraka Jahannam dinyalakan/dibakar dengan nyala yang sangat. Apabila telah datang bayangan (yang jatuh ke arah timur/saat matahari zawal) shalatlah karena shalat itu disaksikan dihadiri (oleh para malaikat) hingga engkau mengerjakan shalat ashar (terus boleh mengerjakan shalat sampai selesai shalat ashar, pent.), kemudian tahanlah dari mengerjakan shalat hingga matahari tenggelam karena matahari tenggelam di antara dua tanduk syaitan dan ketika itu orang-orang kafir sujud kepada matahari.” (HR. Muslim).
TUNTUNAN AMALIYAH ISYROQ
Sahabat, berikut ini adalah amaliyah setelah Matahari Terbit (Isyroq) :
Pilihan Waktu : Jam 06.00
1. Shalat Isyraq
• Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ الْإِشْرَاقِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnatal Isyroqi rok‘ataini lillaahi ta’alaa
• Jumlah Raka’at : 2 Raka’at
• Bacaan Shalat :
○ Raka’at pertama “Surat An-Nuur ayat 35” :
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَا حٌ ۗ الْمِصْبَا حُ فِيْ زُجَا جَةٍ ۗ اَلزُّجَا جَةُ كَاَ نَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍ ۙ يَّـكَا دُ زَيْتُهَا يُضِيْٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَا رٌ ۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍ ۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ۙ
allohu nuurus-samaawaati wal-ardh, masalu nuurihii kamisykaating fiihaa mishbaah, al-mishbaahu fii zujaajah, az-zujaajatu ka`annahaa kaukabung durriyyuy yuuqodu ming syajarotim mubaarokating zaituunatil laa syarqiyyatiw wa laa ghorbiyyatiy yakaadu zaituhaa yudhiii`u walau lam tamsas-hu naar, nuurun 'alaa nuur, yahdillaahu linuurihii may yasyaaa`, wa yadhribullohul-amsaala lin-naas, wallohu bikulli syai`in 'aliim
"Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS. An-Nur 24: Ayat 35).
• Raka’at kedua “Surat An-Nuur ayat 36-38” :
فِيْ بُيُوْتٍ اَذِنَ اللّٰهُ اَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ ۙ يُسَبِّحُ لَهٗ فِيْهَا بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ ۙ
fii buyuutin azinallohu ang turfa'a wa yuzkaro fiihasmuhuu yusabbihu lahuu fiihaa bil-ghuduwwi wal-aashool
"(Cahaya itu) di rumah-rumah yang di sana telah diperintahkan Allah untuk memuliakan dan menyebut nama-Nya, di sana bertasbih (menyucikan) nama-Nya pada waktu pagi dan petang,"
(QS. An-Nur 24: Ayat 36)
رِجَا لٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَا رَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِ قَا مِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَا فُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَا لْاَ بْصَا رُ ۙ
rijaalul laa tul-hiihim tijaarotuw wa laa bai'un 'ang zikrillaahi wa iqoomish-sholaati wa iitaaa`iz-zakaati yakhoofuuna yaumang tataqollabu fiihil quluubu wal-abshoor
"orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),"
(QS. An-Nur 24: Ayat 37).
لِيَجْزِيَهُمُ اللّٰهُ اَحْسَنَ مَا عَمِلُوْا وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ
liyajziyahumullohu ahsana maa 'amiluu wa yaziidahum ming fadhlih, wallohu yarzuqu may yasyaaa`u bighoiri hisaab
"(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas."
(QS. An-Nur 24: Ayat 38).
2. Shalat Isti’adzah
Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ الْإِسْتِعَاذَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnatal isti’adzati rok’ataini lilllaahi ta’alaa
• Jumlah Raka’at : 2 Raka’at
• Bacaan Shalat :
• Raka’at pertama Surat Al Falaq
• Raka’at kedua Surat An Naas
3. Shalat Istikharah 2 Raka’at
Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ الْإِسْتِخَارَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnatal istikhoroti rok’ataini lillaahi ta’alaa
• Jumlah Raka’at : 2 Raka’at (dengan posisi duduk)
• Bacaan Shalat : Setiap Raka’at Ayat kursi 1 kali, Surah Al ikhlas 7 kali
Selesai Salam (Sambil duduk terus membaca) :
قَلْبِي قُطْبِي ؛ وَقَالَبِي لُبْنَانِي ؛ سِرِّي حَضِرِي ؛ عَيْنُهُ عِرْفَانِي؛ هَارُوْنُ عَقْلِي ؛ وَكَلِيْمِي رُوْحِي؛ وَفِرْعَوْنُ نَفْسِي ؛ وَالْهَوَى هَامَانِي (x7)
اَللّٰهُمَّ نَوِّرْ قَلْبِي بِنُوْرِ هِدَايَتِكَ ؛ كَمَا نَوَّرْتَ الْأَرْضَ بِنُوْرِ شَمْسِكَ اَبَدًا.
Qolbii quthbii, waqoolabii lubnaani, sirrii hadhirii, ‘ainuhu ‘irfaanii, Haaruunu aqlii, wakalimii ruuhii, wa fir’aunii nafsii, wal hawaa haamaanii (7x)
Alloohumma nawwir qolbii bi nuuri hidaayatika, ka maa nawwartal ardho bi nuuri syamsika abadan.
Hatiku adalah qutubku, acuanku adalah kehendakku, rahasiaku adalah kehadiranku, dimana penglihatannya adalah pengetahuanku, Nabi Harun menjadi akalku, yang berbicara kepadaku adalah ruhku, Fir'aun adalah nafsuku dan keinginan nafsuku menjadi seperti Haman bagiku.
Ya Alloh cahayailah hatiku dengan Cahaya Hidayah-Mu, sebagaimana Engkau cahayai bumi selamanya dengan cahaya matahari-Mu.
4. Sholat Isti'anah
Shalat Isti'anah adalah shalat untuk memohon pertolongan mengenai masalah dan kebutuhan apapun. Dilakukan 4 rakaat dengan 2 kali salam.ًWaktu pelaksanaannya kapan saja, dan lebih baik dilakukan setelah shalat Isyroq.
Niatnya sebagai berikut :
اُصَلِّى سُنَّةً اِسْتِعَانَهْ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى اَللهُ اَكْبَرُ
Surat yang dibaca setelah Al Fatihah adalah : Al Kautsar (17x), Al Ikhlash (5x), Al Falaq (1x) dan An Nas (1x).
Selesai shalat membaca istighfar di bawah ini 3 x :
اَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ اَلَّذِيْ لاَ الَهَ اِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَ اَتُوْبُ اِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا وَلاَ مَوْتًا وَلاَ حَيَاةً وَلاَ نُشُوْرًا
Astaghfiruhal adzim allazi laa ilaaha illa huwal hayul qoyyuum wa atuubu ilaihi taubatan 'abdin zhoolimin laa yamliku linafsihii dhoron wa laa naf'an wa laa mautan wa laa hayaatan wa laa nusyuuron
Setelah itu membaca doa di bawah ini 3x :
اَللهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ ادْفَعْ عَنَّا مِنَ الْبَلاءِ اْلمُبْرَمِ اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ . ااَللُمَّ اِنِّى اَعُوْذُبِكَ بِكَلِمَاتِكَ التَّامَّاتِ كُلِّهَا مِنَ الرِّيْحِ اْلاَحْمَرِ وَ مِنَ الدَّاءِ اْلاَكْبَرِ فِى النَّفْسِ وَ الدَّمِ وَ اللَّحْمِ وَ الْعَظْمِ وَ الْجُلُوْدِ وَ الْعُرُوْقِ . سُبْحَانَكَ اِذَا قَضَيْتَ اَمْرًا اَنْ تَقُوْلَ لَهُ كُنْ فَيَكُوْنُ . اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Allohumma sholli wa sallim 'ala sayyidina Muhammadin wadfa' annaa minal balaa-ilmubroomi innaka 'alaa kulli syain qodiir. Allohumma inni a'uudzu bika bikalimaatikattaammaati kullihaa minarriihil ahmari wa minadda-il akbari finnafsi waddami wallahmi wal'uzhmi waljuluudi wal'urrqi subhaanaka idzaa qodhoyta amron antaquula lahuu kun fayakuun.. Alloohu akbar 3x
Birohmatika yaa arhamarrohimiin.
Boleh do'a tambahan, sesuai hajat.
Demikian, semoga hari ini lebih baik dari hari kemaren, dan hari esok lebih baik dari hari ini, aamiin.
Malam ke-20, 16 Juni 2020
Mahmud J. Al Maghribaen
Petani Pohon Anti Gempa 108
TQN Ma'had Suryalaya
Al Fakir,
MJ🍒

HIKMAH MALAM KE-19 15-06-2020

HIKMAH MALAM KE-19
QODHO DAN QODAR
Assalamu'alaikum wr wb,
Para sahabat yang budiman,
Sesuai dengan request dari salah satu sahabat saya di facebook, bahwa beliau minta dibahas seputar Qodho dan Qodar.
Qodho dan Qodar termasuk ke dalam salah satu Rukun Iman yang Enam. Sebagaimana Sabda Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wa sallam, ketika dialog dengan Malaikat Jibril as. :
قَالَ : فَأَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ, قَالَ : أَنْ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ. قَالَ : صَدَقْتَ
Kemudian ia bertanya lagi: “Beritahukan kepadaku tentang Iman”.
Nabi menjawab, ”Iman adalah, engkau beriman kepada Allah; malaikatNya; kitab-kitabNya; para RasulNya; hari Akhir, dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk” ia berkata, “Engkau benar".
Pembahasan Qodho dan Qodar termasuk ke dalam ranah Ilmu Tauhid, atau Ushuluddiin, atau juga di sebut Ilmu Kalam.
Terdapat beberapa pendapat di kalangan para ulama Tauhid (mutakallimin) tentang Qodho dan Qodar.
Sebagaimana dalam bidang ilmu Fiqih dan ilmu Tashawwuf, ilmu Kalam juga terdapat beberapa 'madzhab'.
Di bawah ini saya akan menjelaskan pengertian Qodho dan Qodar menurut 'Ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Syekh Muhammad Nawawi al-Banteni memberikan contoh konkret tentang Qodho dan Qadar menurut kelompok Asy'ariyyah. Qodho adalah putusan Allah pada azali bahwa kelak kita akan menjadi apa. Sementara Qodar adalah realisasi Allah atas qadha terhadap diri kita sesuai kehendak-Nya.
فإرادة الله المتعلقة أزلا بأنك تصير عالما قضاء وإيجاد العلم فيك بعد وجودك على وفق الإرادة قدر
“Kehendak Allah yang berkaitan pada azali, misalnya kau kelak menjadi orang alim atau berpengetahuan, itu adalah Qodha. Sementara penciptaan ilmu di dalam dirimu setelah ujudmu hadir di dunia sesuai dengan kehendak-Nya pada azali, itulah yang disebut dengan Qadar,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 12).
Sahabat yang bahagia,
Pengertian Qodho menurut bahasa dan istilah adalah: Ketentuan atau Ketetapan Hukum yang sudah ditetapkan kepada makhluk-Nya sejak zaman Azali sesuai dengan kehendak Alloh Subhanahu wa Ta'alaa.
Sedang Qodar ialah, Kepastian atau Perwujudan atas ketentuan yang sudah ditetapkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta'ala.
Jadi, segala sesuatu itu telah ditetapkan dalam Qodho dan Qodar sesuai dengan kehendak-Nya.
Rosululloh Shalallohu 'alaihi wa sallam bersabda :
قالرسول الله عليه وسلم: السعيد سعيد في بطن أميه، والسقي واسقي في بطن أميه
Qoola Rosuulullooh sholallohu 'alaihi wa sallam: "Assa'iidu sa'iidun fii bathni ummiihi, wassaqiyyu saqqiiyun fii bathni ummiihi".
Bersabda Rosululloh sholallohu 'alaihi wa sallam, "Orang yang bahagia ditakdirkan bahagia sejak dalam perut ibunya. Orang yang menderita sudah ditakdirkan me derita sejak dalam perut ibunya".
Sahabat,
Siapa pun tidak akan bisa mencari tahu tentang takdir ini. Sebab, hal itu termasuk bagian dari rahasia takdir. Dan siapa pun tidak boleh menjadikan rahasia takdir sebagai alasan untuk meninggalkan amal sholeh. Seperti alasan, "Jika zaman azali aku sudah ditakdirkan menderita, tidak ada gunanya bagiku beramal sholeh. Dan, jika aku ditakdirkan bahagia maka tidaklah masalah bagiku untuk melakukan amal buruk".
Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk tidak memikirkan rahasia takdir, agar ia tidak terjerumus ke dalam ambiguitas dan khawatir akan jatuh ke dalam kezindikan. Seorang muslim wajib meyakini bahwa Alloh Yang Maha Mulia Asma-Nya adalah Dzat Yang Maha Bijaksana.
Kita harus meyakini, bahwa kemampuan kita untuk beramal baik, itu semata-mata merupakan pertolongan Alloh Subhanahu wa Ta'ala, sebaliknya amal buruk yang kita perbuat, itu adalah akibat dari kesalahan kita sendiri.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَا نَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَا نٍ فَكَفَرَتْ بِاَ نْعُمِ اللّٰهِ فَاَ ذَا قَهَا اللّٰهُ لِبَا سَ الْجُـوْعِ وَا لْخَـوْفِ بِمَا كَا نُوْا يَصْنَعُوْنَ
wa dhoroballohu masalang qoryatang kaanat aaminatam muthma`innatay ya`tiihaa rizquhaa roghodam ming kulli makaaning fa kafarot bi`an'umillaahi fa azaaqohallohu libaasal-juu'i wal-khoufi bimaa kaanuu yashna'uun
"Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 112).
Jika kita menyandarkan dosa dan maksiat yang kita lakukan atas kesalahan diri sendiri, maka kita termasuk orang yang beruntung dan selamat, ketimbang menganggap dosa berasal dari Alloh Subhanahu wa Ta'ala, meskipun pada hakikatnya Alloh yang menciptakan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَا حِشَةً اَوْ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَا سْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
wallaziina izaa fa'aluu faahisyatan au zholamuuu angfusahum zakarulloha fastaghfaruu lizunuubihim, wa may yaghfiruz-zunuuba illalloh, wa lam yushirruu 'alaa maa fa'aluu wa hum ya'lamuun
"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui"
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 135).
Sahabat,
Kemudian ada sahabat yang bertanya, "Apakah Takdir bisa dirubah?".
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita perhatikan ayat Al Quran berikut ini :
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ وَاِ ذَاۤ اَرَا دَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْٓءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّا لٍ
lahuu mu'aqqibaatum mim baini yadaihi wa min kholfihii yahfazhuunahuu min amrillaah, innalloha laa yughoyyiru maa biqoumin hattaa yughoyyiruu maa bi`angfusihim, wa izaaa aroodallohu biqouming suuu`ang fa laa marodda lah, wa maa lahum ming duunihii miw waal
"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd 13: Ayat 11).
Sahabat yang budiman,
Tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani Qs. menjelaskannya sebagai berikut :
"Ketahuilah, sesungguhnya derita berubah menjadi bahagia, atau sebaliknya bahagia berubah menjadi derita, itu akibat dari didikan. Sebagaimana Sabda Nabi Sholallohu 'alaihi wa sallam, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Hadits ini menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki potensi menjadi bahagia maupun menderita (di akhirat). Maka tidak boleh mengatakan, "Orang ini pasti bahagia atau pasti menderita". Tetapi hendaknya mengatakan, "Orang ini bahagia jika amal baiknya mengalahkan amal buruknya dan sebaliknya".
Lebih jauh Tuan Syeikh mengatakan :
ومن غير هذه فقد ضل لأنه اعتقد أن من الناس من يضخل الجنة بلا عمل وتوبة،، أو يضخل النار بلا معضية
Wa man ghoiro haadzihii faqod dholla li annahu i'taqoda anna minannaasi man yadhkhulul jannah bilaa 'amalin wa taubatin. Au yadhkhulunnaaro bilaa ma'dhiyatin
"Siapa yang menentang prinsip ini berarti ia sesat. Karena ia meyakini bahwa orang masuk surga tanpa amal dan tobat atau masuk neraka tanpa maksiat (tapi dengan takdir).
Pendapat seperti ini bertentangan dengan nas, karena Alloh Subhanahu wa Ta'alaa menjanjikan surga bagi orang-orang yang beramal sholeh, dan neraka bagi orang-orang yang ahli maksiat, musyrik dan kafir.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَا لِحًـا فَلِنَفْسِهٖ وَمَنْ اَسَآءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّا مٍ لِّلْعَبِيْدِ
man 'amila shoolihang falinafsihii wa man asaaa`a fa 'alaihaa, wa maa robbuka bizhollaamil lil-'abiid
"Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-(Nya)."
(QS. Fussilat 41: Ayat 46)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَ لْيَوْمَ تُجْزٰى كُلُّ نَـفْسٍ بِۢمَا كَسَبَتْ ۗ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَرِيْعُ الْحِسَا بِ
al-yauma tujzaa kullu nafsim bimaa kasabat, laa zhulmal-yauum, innalloha sarii'ul-hisaab
"Pada hari ini, setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya."
(QS. Ghafir 40: Ayat 17).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاَ نْ لَّيْسَ لِلْاِ نْسَا نِ اِلَّا مَا سَعٰى ۙ
wa al laisa lil-ingsaani illaa maa sa'aa
"dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,"
وَاَ نَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰى ۖ
wa anna sa'yahuu saufa yuroo
"dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya),"
(QS. An-Najm 53: Ayat 39-40).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
ثُمَّ يُجْزٰٮهُ الْجَزَآءَ الْاَ وْفٰى ۙ
summa yujzaahul-jazaaa`al-aufaa
"kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna,"
(QS. An-Najm 53: Ayat 41).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تُوا الزَّکٰوةَ ۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَ نْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaah, wa maa tuqoddimuu li`angfusikum min khoiring tajiduuhu 'ingdalloh, innalloha bimaa ta'maluuna bashiir
"Dan laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Dan segala kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, kamu akan mendapatkannya (pahala) di sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 110)
Sahabat yang budiman,
Demikianlah pembahasan singkat mengenai Qodho dan Qodar. Untuk lebih detilnya, saya menyarankan agar sahabat bisa membaca pada Kitab-kitab karya 'Ulama agar sahabat dapat mendapatkan gambaran secara menyeluruh terkait tentang Qodho dan Qodar.
Kesimpulan dari saya :
Setiap kejadian dari segala sesuatu telah ditetapkan oleh Alloh Subhanahu wa Ta'alaa dengan Qodho dan Qodar-Nya sesuai Irodat-Nya. Manusia bisa ikhtiar dalam Qodar-Nya. Dan ikhtiar manusia itu sudah ada dalam Qodho-Nya.
Manusia pada umumnya tidak ada yang tahu tentang takdirnya, apakah ia bahagia atau sangsara, maka jika ingin bahagia kerjakanlah amal sholeh, namun jika terlanjur tergincir berbuat maksiat, maka segera mengingat Alloh dan bertobat atas segala kesalahan yang telah kita perbuat. Niscaya engkau akan dapati bahwa Alloh Maha Pengampun.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo'a bi`iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa`uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa
"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 64).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
فَا عْلَمْ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَا سْتَغْفِرْ لِذَنْبِۢكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنٰتِ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰٮكُمْ
fa'lam annahuu laaa ilaaha illallohu wastaghfir lizambika wa lil-mu`miniina wal-mu`minaat, wallohu ya'lamu mutaqollabakum wa maswaakum
"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu."
(QS. Muhammad 47: Ayat 19).
Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wa sallam, bersabda :
فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى )
"Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita saja dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang dikadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. (Al Hadits).
Wallohu'alam bishshowab.
Semoga diberkahi semuanya, segalanya, selamanya, bibarokati wal karomati pangersa Abah Aos Ra.Qs. Al Faatihah...aamiin.
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wa barokatuh.
Disarikan dari berbagai sumber oleh,
Mahmud Jonsen Al Maghribaen, S.H., M.Si.
Dosen Agama Islam UNPRI
Ahad, 15 Juni 2020, Jam 01.38.

HIKMAH MALAM KE-18 14-06-2020

HIKMAH MALAM KE-18
KETETAPAN ALLOH
Sahabat yang budiman,
Sesungguhnya segala sesuatu itu telah ditetapkan oleh Alloh, Al Mugtadir wal Hakam. Susah, senang dan bahagia, pertemuan dan perpisahan, selamat, sengsara, dll. semua sudah menjadi ketetapan-Nya.
Tidak ada istilah Kebetulan, karena semuanya memang Betul.
Semua kejadian segala sesuatu adalah Irodat-Nya, termasuk ketetapan siapa hamba-hamba-Nya yang dijauhkan dari Neraka.
Alloh Subhanahu wa Ta'alaa berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِّنَّا الْحُسْنٰۤى ۙ اُولٰٓئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُوْنَ ۙ
innallaziina sabaqot lahum minnal-husnaaa ulaaa`ika 'an-haa mub'aduun
"Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu akan dijauhkan (dari neraka)."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 101)
لَا يَسْمَعُوْنَ حَسِيْسَهَا ۚ وَهُمْ فِيْ مَا اشْتَهَتْ اَنْفُسُهُمْ خٰلِدُوْنَ ۚ
laa yasma'uuna hasiisahaa, wa hum fii masytahat angfusuhum khooliduun
"Mereka tidak mendengar bunyi desisnya (api neraka) dan mereka kekal dalam (menikmati) semua yang mereka inginkan."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 102).
Nabi Muhammad Sholallohu 'alaihi wa sallam, bersabda :
فَقَالَ « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ « اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ ، وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ » . ثُمَّ قَرَأَ ( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى * وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى )
"Tidak ada seorangpun dari kalian melainkan telah dituliskan tempatnya dari neraka dan tempatnya dari surga”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa kita tidak bersandar atas takdir kita saja dan meninggalkan amal?”, beliau menajwab: “Beramallah kalian, karena setiap sesuatu dimudahkan atas apa yang telah diciptakan untuknya, siapa yang termasuk orang yang ditakdirkan bahagia, maka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni surga, adapun siapa yang ditakdirkan termasuk dari dari orang yang dikadirkan sengsara, maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan penghuni neraka”. (Al Hadits).
SEBUAH KETETAPAN
Manqobah Ke-40 : Abdul Qodir Diberi Buku Untuk Mencatat Murid-Muridnya Sampai Hari Kiamat
Diriwayatkan di dalam kitab "Bahjatul Asror", Syaikh Abdul Qodir pernah berkata: “Aku diberi sebuah buku yang luasnya sejauh mata memandang untuk menuliskan nama-nama muridku sampai hari kiamat. Semua murid itu telah Alloh berikan Kepadaku dan telah menjadi milikku. Aku pernah bertanya Kepada malaikat Malik, “Apakah ada dalam neraka, muridku dan sahabat-ku?” Malaikat Malik menjawab: “ tidak ada.”
Syaikh berkata: "Aku bersumpah, demi kemuliaan Tuhanku. Tanganku atas murid-muridku seperti langit menutup bumi. Andaikan murid-muridku itu buruk, maka akulah yang baik. Dan aku bersumpah, demi Keagungan dan Kemuliaan Tuhanku, dua telapak kakiku tidak akan bergeser dihadapan Tuhan kecuali sudah mendapat keputusan bahwa aku bersama-sama muridku yang masuk surga”
Lebih lanjut beliau bersabda: “Tanganku tidak akan lepas dari kepala murid muridku, walaupun aku sedang ada di timur dan muridku ada di barat, lalu muridku itu tersingkap auratnya, maka tanganku akan segera menutupinya. Demi Keagungan dan Kemuliaan Tuhanku, pada hari kiamat aku akan berdiri tegak di hadapan gerbang pintu neraka, sekali lagi aku tidak akan bergeser sebelum muridku masuk surga karena Alloh Yang Maha Kuasa telah menjanjikanku bahwa murid-muridku tidak akan dimasukan ke dalam neraka. Barang siapa yang berguru serta mahabbah kepadaku, pasti aku menghadap kepadanya, bahwa mereka dan Malaikat Munkar Nakir telah berjanji kepadaku, bahwa mereka tidak akan menakut-nakuti murid-muridku.”
Sahabat,
Itulah ketetapan Alloh Yang Maha Menetapkan, Ketetapan untuk hamba pilihan-Nya.
Alhamdulillaah, semoga kita diakui sebagai murid Tuan Syekh.
Murid ialah yang Mengerjakan Perintah Gurunya, itulah Murid.
Wassalam,
Mahmud J. Al Maghribaen
Petani Pohin Anti Gempa 108
TQN Ma'had Suryalaya
Murid,
MJ🍒

HIKMAH MALAM KE-17 13-06-2020

HIKMAH MALAM KE-17
TUNTUNAN QIYAAMUL LAIL
Pilihan Waktu : Mulai Jam 00.01 Dini Hari
1. Mandi Taubat
• Cara Mandi : Seperti mandi janabat (mandi wajib)
• Do’a Mandi Taubat :
رَبِّ اَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ
Robbii anzilnii munzalan mubaarokan wa anta khoirul munziilin (QS. Al Mu'minun : 29).
2. Shalat Syukrul Wudlu’
Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةً لِشُكْرِ الْوُضُوْءِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnatan lisyukril wudluu’i rak’ataini lillaahi Ta’alaa
• Jumlah Raka’at : 2 Raka’at
• Bacaan Surat : Bebas /apa saja
• Waktu Pelaksanaan : Setiap habis wudlu selagi masih basah.
3. Shalat Tahiyyat Masjid
Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ تَحِيَّةِ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnatat tahiyyatil masjid rak’ataini lillaahi ta’ala
• Jumlah Raka’at : 2 Raka’at
• Bacaan Surat : Surat bebas /apa saja
• Waktu Shalat : Dilaksanakan setiap kita masuk Masjid selagi belum duduk.
4. Shalat Taubat
• Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnat taubati rok’ataini lillahi ta’ala
• Jumlah Raka’at : 2 Raka’at
• Bacaan Surat :
○ Raka’at Pertama : Surat An Nisaa’ ayat 64 :
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
Wa lau annahum izh zhalamuu anfusahum jaa’uuka fas taghfarullaaha was taghfara lahumur rasuulu lawajadullooha tawwaabar rahiimaa
• Raka’at kedua : Surat Ali Imron ayat 135 :
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Waalladziina idzaa fa'aluu faahisyatan aw zhalamuu anfusahum dzakarullooha fastaghfaruu lidzunuubihim wa man yaghfirudz dzunuuba illallaahu wa lam yushirruu 'alaa maa fa'aluu wa hum ya'lamuuna.
5. Shalat Hajat
Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ الْـحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnatal haajati rak’ataini lillaahi ta’ala
• Jumlah Raka’at : 2 Raka’at
• Bacaan surat : Setiap raka’at membaca Surat Al Ikhlas 11 x
• Setelah Salam : Sujud dan memohon ampunan dari dosa, mensyukuri, nikmat dan memohon hajatnya.
(Khusus Ikhwan TQN)*
Setelah Selesai :
• Duduk dan membaca Sholawat 11x ( boleh Sholawat Bani Hasyim).
• Lalu berdiri menghadap ke arah Baghdad (Barat Daya), Ziaroh kepada Tuan Syekh Abdul Qodir al Jailani Qs. Mulai melangkah dengan kaki kanan, selangkah demi selangkah....(lihat amaliyah Mursyid).
Kemudian membaca do'a :
اَللّٰهُمَّ لَكَ الْكُلُّ وَبِكَ الْكُلُّ وَمِنْكَ الْكُلُّ وَاِلَيْكَ الْكُلُّ وَأَنْتَ الْكُلُّ وَكُلُّ الْكُلِّ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Alloohumma lakal kullu, wa bikal kullu, wa minkal kullu, wa ilaikal kullu, wa antal kullu, wa kullul kulli birohmatika. Yaa arhamar raahimiin.
Ya Alloh, untuk-Mu segala hal, dengan-Mu segala hal, dari-Mu segala hal, kepada-Mu segala hal, Engkaulah segala hal dan segala-segalanya, dengan Rahmat-Mu Wahai Zat Yang Maha Mengasihi orang-orang yang mengasihi.
6. Shalat Tahajjud
Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ التَّهَجُّدِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnatat tahajjudi rak’ataini lillaahi ta’ala
Jumlah Raka’at : 6 Raka’at ( dengan 3 kali salam)
Bacaan Shalat :
• Raka’at pertama Surat Al Baqarah ayat 284-286 :
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ ۖ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Lillaahi maa fis samaawaati wa maa fil ardhi, wa in tubduu maa fii anfusikum autukhfuuhu yuhaasibkum bihillaahu, fa yaghfiru li mayyasyaa’u wa yu’adzdzibu mayyasyaa’u wallaahu ‘alaa kulli syai’in qadiir. Aamanar rasuulu bi maa unzila ilaihi mir rabbihii wal mu’minuuna, kullun aamana billaahi wa malaaikatihii wa kutubihii wa rusulihii laa nufarriqu baina ahadim mir rusulihii wa qaaluu sami’naa wa atha’naa ghufraanaka rabbanaa wa ilaikal mashiir. Laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa lahaa maa kasabat wa ‘alaihaa mak tasabat, rabbanaa laa tu’aakhidznaa innasiinaa au akhta’naa, rabbana wa laa tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu ‘alal lladziina min qablinaa, rabbanaa wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqata lanaa bihii wa’fu’annaa waghfir lanaa war hamnaa anta maulaanaa fanshurnaa ‘alal qaumil kaafiriin.
• Raka’at kedua Surat Ali imran ayat 18,19, 26-27 :
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ ۖ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ ۖ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Syahidallaahu annahuu laa ilaaha illaa huwa wal malaa’ikatu wa ulul ‘ilmi qaa’imam bil qisthi laa ilaaha illaa huwal ‘azziizul Hakiim. Innad diina 'indalloohil Islam wa makhtalafal ladziina uutul kitaaba illaa min ba'di maa jaa-ahumul 'ilmu baghyan bainahum wamayyakfur bi aayatillaahi fainnallooha syarii'ul hisaab. Qulillaahumma Maalikal Mulki tu'til Mulka Man Tasyaa'u, wa tan zi'ul mulka min mantasyaa-u, wa tu'izzu man tasyaa-u wa tuzillu man tasyaa-u biyadikal khoiru innaka 'alaa kulli syai'in Qodiir. Tuulijul laila fin nahaari wa tuulijun nahaara fil laili wa tukhrijul hayya minal mayyiti wa tukhrijul mayyita minal hayyi wa tarzuqu man tasyaa'u bighoiri hisaab.
Do’a Shalat Tahajjud :
اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ صَلَاةِ التَّهَجُّدِ، وَبِحَقِّ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، وَبِحَقِّ سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اِجْعَلْنِي وَزَوْجَتِي (وَزَوْجِي) وَاَوْلَادِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي اِيْمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِي، وَيَقِيْنًا دَائِمًا حَتَّى أَنَّهُ لَنْ يُصِيْبَنِي اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لِي بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Alloohumma bihaqqi shalatit Tahajjudi, wa bihaqqi Bismillahirrahmanirrahim, wa bihaqqi sayyidina wa mawlaana Muhammadin shollallaahu ‘alaihi wa sallama, ij’alni wa zawjatii (wa zawjii) wa awlaadii min 'ibaadikas shoolihiin.
Alloohummaj'alnii iimaanan yubaasyiru qalbii, wa yaqiinan daa’iman hatta annahu layyushibanii illa maa kataballoohu lii birahmatika Yaa Arhamar Rohimiin.
Ya Alloh dengan Hak Sholat Tahajjud, dengan Hak Bismillahirrahmanirrohim, dan dengan Hak Tuan dan Pangeran kami Muhammad saw, jadikanlah aku, istriku (suamiku), dan anak-anakku termasuk dalam golongan Hamba-Hamba-Mu yang sholeh. Ya Alloh jadikanlah keimananku selalu menyelimuti hatiku, berikanlah keyakinan yang terus menerus, hingga tidak ada yang dapat menimpaku kecuali sesuatu yang telah Alloh tetapkan kepadaku, dengan Rahmat-Mu wahai Zat yang Maha Mengasihi orang-orang yang mengasihi.
7. Shalat Tasbih
Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ التَّسْبِيْحِ رَكْعَتَيْنِ / اَرْبَعَ رَكَعَاتٍ لِلّٰهِ تَعَالٰى
ushollii sunnatat tasbiihi rak’ataini / arba’a rak’aatin lillaahi ta’ala
Jumlah Raka’at : 4 Raka’at 2x Salam (Bila dikerjakan malam hari) atau 4 Raka’at 1x salam
(Bila dikerjakan siang hari dan tanpa Tasyahud awal)
Bacaan surat :
• Raka’at 1 = surat Al Ikhlas sebanyak 4 kali
• Raka’at 2 = surat Al Ikhlas sebanyak 3 kali
• Raka’at 3 = surat Al Ikhlas sebanyak 2 kali
• Raka’at 4 = surat Al Ikhlas sebanyak 1 kali
Tatacara Bacaan Tasbih :
Setelah membaca Al Fatihah dan Surah 15x
Ruku’ 10x
I’tidal 10x
Sujud Pertama 10x
Duduk diantara Sujud 10x
Sujud Kedua 10x
Duduk Sebelum Berdiri 10x
Jumlah 75x
Jumlah Tasbih dalam 4 Rakaat (75 x 4) 300
Lafadz Tasbih :
سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَ اللّٰهُ أَكْبَرُ
Subhaanalloohi wal hamdu lillaahi wa laa ilaaha illalloohi walloohu Akbar
Maha Suci Alloh, Segala Puji bagi Alloh, Tidak ada tuhan kecuali Alloh, Alloh Maha Besar.
8. Shalat Witir
Niat Shalat :
اُصَلِّي سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushollii sunnatal witri tsalasa raka’atin lillaahi ta’ala
Jumlah Raka’at: 3 Raka’at (1 kali salam ditambah dengan doa Qunut )
Bacaan Shalat :
• Raka’at pertama Surat Al A’laa
• Raka’at Kedua Surat Al Kaafirun
• Raka’at Ketiga Surat Al Ikhlas
Bacaan Doa Qunut :
اَللّٰهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا وَاصْرِفْ عَنَّا بِرَحْمَتِكَ شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، فَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ، فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ تَوْبَةً نَصُوْحًا اِلَيْكَ، تـَحَصَّنَّا بِالْعِزَّةِ وَالْـجَبَرُوْتِ، وَاعْتَصَمْنَا بِرَبِّ الْمُلْكِ وَالْمَلَكُوْتِ، وَتَوَكَّلْنَا عَلَى الْحَيِّ الَّذِيۤ لَا يَمُوْتُ، وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ، وَصَلَّى اللّٰهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُـحَمَّدِنِالنَّبِيِّ الْأُمِّيِّ وَعَلَى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ وعلى سائرل انبياء و المرسلين وعلى ألهم واصهابهم اجمعين
Alloohummahdinaa fii man haadait. Wa ‘aafiinaa fii man ‘aafait. Wa tawallanaa fii man tawallait. Wa baarik lanaa fii maa a’thait. Wa qinaa washrif ’annaa birohmatika syarra maa qadhait. Fa innaka taqdhi walaa yuqdhaa ‘alaik. Fa innahu laa yadzillu man waalait. Walaa ya’izzu man ‘aadait. Tabaarakta rabbanaa wa ta’aalait. Falakal hamdu ’alaa maa qadhait. Wanastagfiruka wanatuubu taubatan nashuuhan ilaik.
Tahashshonnaa bi dzil izzati wal jabaruut. Wa’tashomnaa birabbil mulki wal malakut. Watawakkalnaa ‘alal hayyil ladzii laa yamuut. Wanajjiinaa minal qoumiz dzaalimiin. Washollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadinin wa 'alaa aalihi wa ashhaabihi wa 'alaa saairil anbiyaa-i wal mursaliin, wa 'alaa aalihim wa ashhaabihim ajma'in.
Artiya :
Ya Alloh berilah kami petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah kami keselamatan, sebagaimana orang yang telah Engkau beri keselamatan. Jadilah wali bagi kami, sebagaimana Engkau telah menjadi wali bagi hamba-Mu yang Engkau kehendaki. Berkahilah untuk kami terhadap apa yang telah Engkau berikan kepada kami. Dengan Rahmat-Mu, lindungi dan singkirkanlah kami dari keburukan apa yang telah Engkau takdirkan. Sesungguhnya Engkau yang menetapkan dan tidak ada yang menjatuhkan ketetapan untuk-Mu. Sesungguhnya tidak akan terhina orang yang Engkau jadikan wali-Mu. Tidak akan mulia orang yang menjadi musuh-Mu. Maha Mulia dan Maha Tinggi Engkau wahai Tuhan kami. Untuk-Mu lah segala pujian atas semua yang telah Engkau tetapkan. Kami mohon ampunan-Mu, kami bertaubat kepada-Mu dengan taubat yang sungguh-sungguh (Taubatan Nashuha).
Kami berlindung dengan Sang Pemilik Kemuliaan dan Keperkasaan. Kami berjaga dengan Sang Pemilik Kerajaan dan Alam Malakut. Kami berpasrah kepada Zat Yang Maha Hidup, yang tidak akan pernah mati. Selamatkanlah kami dari kaum yang zholim. Dan semoga Alloh curahkan Rahmat serta keselamatan atas Tuan kami Muhammad, sang Nabi yang Ummi, juga atas keluarga dan sahabatnya.
• Setelah Selesai : Zikir hingga menjelang subuh dan
• perbanyak membaca :
اَلْمُحِيْطُ اَلرَّبُّ اَلشَّهِيْدُ اَلْحَسِيْبُ اَلْفَعَّالُ اَلْـخَلَّاقُ اَلْـخَالِقُ اَلْبَارِئُ اَلْمُصَوِّرُ
Al Muhiithur Rabbusy Syahiidul Hasibul Fa’aalul Khallaaqu Al Khooliqul Baari’ul Mushowwiru
Maha Meliputi, Maha Mendidik, Maha Menyaksikan, Maha Menghitung, Maha Melakukan Segala Hal, Maha Menciptakan, Maha Menciptakan, Maha Melepaskan, Maha Membentuk.
Mahmud J. Al Maghribaen
Petani Pohon Anti Gempa 108
TQN Ma'had Suryalaya
Al Fakir,
MJ🍒

HIKMAH MALAM KE-16 12-06-2020

HIKMAH MALAM KE-16
APA ITU DZIKIR DAN WIRID
Banyak orang yang masih belum paham dengan istilah Dzikir dan Wirid. Bahkan terkadang saking tidak pahamnya, mereka memahaminya dengan kemuan nafsunya, seperti ungkapan, "Orang yang suka berdzikir atau wiridan itu tidak sholeh sosial". Nah, apakah benar seperti itu? Maka tulisan ini akan menjelaskannya secara singkat dan mudah dipahami, tentu dengan ilmu bukan dengan nafsu.
Dzikir berasal dari akar kata dzakara-yadzkuru-dzikran yang berarti menyebut, mengucapkan, mengagungkan, menyucikan, dan mengingat. Dzikrullah biasa diartikan berarti menyebut-nyebut (nama) Allah SWT seraya mengingat-Nya.
Wirid berasal dari akar kata warada-yaridu-wuruda. Wirdun berarti datang, sampai, mendatangi, menyebutkan. Sehingga kata Dzikir dan Wirid dari segi bahasa memiliki makna yang sama, yaitu menyebut atau menyucikan. Keduanya sama-sama bertujuan mendekatkan diri kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala.
Pengertian dzikir masih bersifat umum, yaitu apa pun perkataan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengingat atau mendekatkan diri kepada Alloh, itu bisa disebut dzikir, misal; sholat, membaca al Quran, bertasbih, bertahmid, bertahlil, masuk masjid mendahulukan kaki kanan, keluar masjid mendahlukan kaki kiri, sebaliknya masuk kamar kecil mendahulukan kaki kiri, keluar dengan kaki kanan. Demikian juga memakai pakaian mendahulukan sebelah kanan, makan dengan tangan kanan, dll. Nah itu semua termasuk ke dalam Dzikir.
Sedang pengertian Wirid, itu sudah bermakna khusus. Dalam wirid jenis bacaan, jumlah dan waktunya sudah ditentukan, tidak bisa ditawar soal panjang pendeknya. Wirid inilah yang lebih tersusun, memerlukan alat bantu seperti tasbih, buku-buku, dan amalan-amalan tertentu yang dibaca atau dikerjakan berulang-ulang.
Kebiasaan yang selalu diulang-ulang yang diamalkan oleh seseorang, itulah yang disebut dengan Wiridan. Sehingga orang yang sudah biasa atau istiqomah terhadap amaliyah tertentu, maka orang tersebut disebut 'suka wiridan'.
Dengan demikian secara pengamalan, Wirid lebih baik dari pada Dzikir, sebab dzikir hanya bersifat temporer sedangkan Wirid bersifat permanen.
Sahabat yang budiman,
Mari kita lihat Firman Alloh Subhanahu wa Ta'ala :
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيْرًا ۙ
"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya,"
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 41).
Ayat ini menegaskan kita untuk senantiasa berdzikir dengan banyak, bahkan sebanyak-banyaknya, berapa? Sampai sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Bagaiamana caranya? Bertanyalah kepada Ahli Dzikir jika kamu tidak mengetahuinya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَا لًا نُّوْحِيْۤ اِلَيْهِمْ فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۙ
"Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ahladz-dzikri) jika kamu tidak mengetahui,"
(QS. An-Nahl 16: Ayat 43).
Sahabat yang budiman,
Kemudian, mari kita perhatikan Firman Alloh Subhanahu wa Ta'alaa berikut ini :
وَّ سَبِّحُوْهُ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا
"dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang."
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 42).
Ayat ini, yang merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, mengandung perintah kepada kita untuk bertasbih pada waktu-waktu-waktu tertentu. Inilah dalil tentang wiridan, yaitu mewiridkan kalimat Tasbih pada waktu pagi dan petang.
Sahabat,
Aktivitas ibadah wiridan ini sudah menjadi kebiasaan atau amaliyah dari orang-orang tashawwuf. Orang-orang tashawwuf atau thoriqoh memiliki amaliyah yang banyak dan bervariasi, mulai dari malam hari sampai malam hari, mulai bangun tidur sampai tidur kembali, bahkan ada yang tidak tidur lagi.
Karena banyaknya aktivitas ibadah para ahli tashawwuf ini maka orang awwam melihatnya seakan akan hanya mementingkan kesholehan individu dan tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya (kesholehan sosial).
Benarkan demikian?
Mari kita lihat kiprah para ulama tashawwuf yang terdekat, berikut ini :
ABAH SEPUH
Selain membina jutaan muridnya, beliau membangun Pondok Pesantren Suryalaya, juga bersama pemerintah yang sah mempertahankan NKRI.
ABAH ANOM
Selain membina jutaan murid, beliau juga membangun Irigasi yang dapat mengairi ribuan hektar sawah petani. Menanggulangi dan mengobati korban Narkoba. Mendirikan lembaga-lembaga pendidikan mulai TK, SD, SLTP, SLTA, dan PT.
ABAH AOS
Selain membina jutaan muridnya, juga membina pesantren, lembaga pendidikan sampai perguruan tinggi, wisata religi, dan penanggulangan korban narkoba.
MBAH HASYIM
Selain membina jutaan murid-muridnya, mendirikan Pondok Pesantren, dan mendirikan Organisasi Nahdhotul Ulama yang kiprahnya besar bagi agama dan negara.
HABIB LUTHFI
Aktif dalam menjaga NKRI, serta membina jutaan muridnya, aktif dalam organisasi ulama dunia, dan Jatman.
Demikian paparan singkat Ulama Tashawwuf dalam berkontribusi bagi masyarakat luas. Masih banyak lagi ulama terdahulu, seperti; syekh abdul karim, syekh kholil, syekh tolhah, syekh nawawi, dll.
Bahkan di sekeliling kita banyak para salik pengamal tashawwuf, yang suka wiridan, tapi juga sekaligus aktif dalam kegiatan sosial, rata-rata mereka sangat produktif dalam bekerja sesuai dengan profesinya masing-masing; dari mulai ulama, pendidik, TNI, ASN, Pengusaha, artis, karyawan, petani, pedagang, politikus, buruh, seniman, pilot, pelayar, dll. Para pengamal tashawwuf berasal dari berbagai kalangan, dan mereka sangat produktif dan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, baik di darat, laut dan udara.
Jadi tuduhan bahwa orang yang suka wiridan hanya sholeh individu tidak sholeh sosial, itu tidaklah benar, itu tuduhan tendensius jauh dari fakta ilmiah.
Berbuatlah untuk untuk duniamu seakan-akan engkau tidak mati selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok. Dzikir banyak (wiridan) sekaligus produktif dalam urusan dunia, itulah sebaik-baiknya manusia.
Mahmud J. Al Maghribaen
Petani Pohon Anti Gempa 108
TQN Ma'had Suryalaya
Al Fakir,
MJ🍒

HIKMAH MALAM KE-15 11-06-2020

HIKMAH MALAM KE-15
Sahabat,
Orang beriman itu, ketika wafatnya akan disambut oleh malaikat. Dan itulah makna dari Husnul Khotimah.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
الَّذِيْنَ تَتَوَفّٰٮهُمُ الْمَلٰٓئِكَةُ طَيِّبِيْنَ ۙ يَقُوْلُوْنَ سَلٰمٌ عَلَيْكُمُ ۙ ادْخُلُوا الْجَـنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), Salamun'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 32).
Nabi Sholallohu 'alaihi wa sallam bersabda :
من قال لا اله الا الله خالصا مخلصا دخل الجنة
"Barang siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illaloh dengan ikhlas, pasti masuk surga".
ليس علي اهل لااله الله وخشة فى قبورهم ولا في نشورهم
"Barang siapa yang mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh tidak usah takut akan kejahatan dalam qubur dan kejahatan pada waktu berkumoul di Padang Makhsyar".
Wassalam,
MJ🍒

HIKMAH MALAM KE-14 10-06-2020

HIKMAH MALAM KE-14
ROBITHOH
Robithoh artinya, ikatan atau bertalian kecintaan hati seseorang dengan Tuhannya. Sehingga tercipta ikatan batin dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi segala larangan-Nya, secara haqiqi ataupun majazi.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَا بِرُوْا وَرَا بِطُوْا ۗ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan tingkatkan ketabahan serta ber-robithoh-lah (berkaitan hati). Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 200)
Di antara robithoh adalah, seseorang mengingat kepada orang yang memiliki pengaruh terhadap dirinya, misal; murid dengan guru mursyid, anak dengan orang tua, orang sakit dengan dokter, dll. Seperti robithoh Nabi Yusuf a.s. kepada ayahnya Nabi Ya'qub a.s.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَلَـقَدْ هَمَّتْ بِهٖ ۚ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَاۤ اَنْ رَّاٰ بُرْهَا نَ رَبِّهٖ ۗ كَذٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّۤوْءَ وَا لْـفَحْشَآءَ ۗ اِنَّهٗ مِنْ عِبَا دِنَا الْمُخْلَصِيْنَ
"Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, Kami palingkan darinya keburukan dan kekejian. Sungguh, dia (Yusuf) termasuk hamba Kami yang terpilih."
(QS. Yusuf 12: Ayat 24).
Nah kalimat ro-aa burhaana robbihi (melihat tanda-tanda Tuhannya), itulah proses Robithoh. Ketika itu, Nabi Yusuf a.s. yang sangat tampan itu, ketampanan dan kharismanya telah banyak membuat para wanita terpesona bila melihatnya, sehingga ia kemudian digoda oleh seorang istri pembesar yang cantik jelita bernama Zulaikha yang sangat berhasrat kepada Nabi Yusuf a.s., sedang Nabi Yusuf a.s. pun berhasrat pula kepada wanita itu, namun ketika akan berbuat sesuatu, tiba-tiba terbayang wajah ayahnya tercinta Nabi Ya'qub a.s. sampai ia tersentak dan lari menuju pintu keluar.
Nah, proses terbayangnya Nabi Yusuf kepada wajah ayahnya Nabi Ya'qub itulah yang dinamakan proses Robithoh. Ketika itu ia langsung teringat dengan pesan-pesan (ajaran ayahnya), dengan seketika ia takut kepada Alloh Swt. kemudian lari keluar, dan akhirnya ia pun selamat dari perbuatan keji, bujuk rayu, dan godaan dari pada syetan.
Dalam sebuah hadits dari Abu Huroiroh ra, Rosululloh saw bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
Ada tujuh golongan yang dalam naungan Alloh pada hari yang tidak ada tempat bernaung, kecuali naungan-Nya (hari kiamat), yaitu :
1. Pemimpin yang adil.
2. Pemuda yang giat beribadah kepada Alloh.
3. Orang yang berdzikir kepada Alloh di tempat yang sunyi sampai air matanya mengalir karena rasa takutnya kepada Alloh.
4. Orang yang hatinya selalu terkait (terikat) dengan masjid saat ia keluar sampai kembali lagi masuk ke masjid.
5. Orang yang bershodaqoh dengan sembunyi-sembunyi sehingga orang lain yang ada di kanan-kirinya tidak mengetahuinya.
6. Dua orang yang saling mencintai karena Alloh, maka mereka berkumpul dan berpisah semata-mata karena Alloh.
7. Lelaki yang diajak berbuat mesum (berzina) oleh wanita cantik, tetapi ia menolaknya dengan berkata: "Aku takut kepada Alloh.”
(HR. Bukori).
Untuk tahu siapa Zulaikha pada akhirnya, lihat link : https://www.boombastis.com/zulaikha-wanita-cantik/87050
Hikmah Malam ke-14
Mahmud J. Al Maghribaen
Petani Pohon Anti Gempa 108
TQN Ma'had Suryalaya
MJ🍒

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Jumat, 11 Oktober 2019 | 03.52


KHUTBAH SHOLAT SUNNAH IDUL ADHA 1440 H
GABUNGAN se-GMC - PANONGAN
Oleh : Ust. Mahmud J. Al Maghribi, S.H., M.Si.

MENELADANI KETINGGIAN MAQAM 
SAYYIDINA ABU BAKAR SHIDDIQ, RA.


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ -اللهُ اَكبَرْ
للهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ -اللهُ اَكبَرْ
للهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ -اللهُ اَكبَرْ

اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً
لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ، واللهُ أكْبَرُ، اللهُ أكْبَرُ 
وَلِلَّهِ الحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى :
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ
Alhajju asy-hurum ma'luumaatun. Fa mang farodho fii hinnal hajja, falaa rofatsa walaa fusuuqo walaa jidaala fiil haji. Ilaa akhir aayah ..

    : وَقَالَ انَّبِيُّ صَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ
'Alaikum bi sunnati wa sunnatil khulafaair rosyidiin

صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيْمُ وَصَدَقَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَی اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَنَحْنُ عَلَی ذَلِكَ مِنَ الشَّاهِدِيْنَ وَالشَّاكِرِينَ، وَالْحَمْدُلِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Alloh Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat yang telah diberikan kepada kita semua, sehingga dengan rahmat dan karunia itu, hari ini kita seluruh umat Islam se Graha Mitra Citra secara bersama-sama dapat melaksanakan sholat sunnah Idul Adha 1440 H. 

Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan ke haribaan baginda Nabi Muhammad shallallohu ‘alaihi wa sallam, beserta keluarganya, sahabatnya, dan semua orang yang mengikutnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya, marilah kita meningkatkan Taqwa kita kepada Alloh subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, yakni dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR
Hadirin kaum Muslimin wal Mu'minat Rohimakumulloh,
Pada bulan Dzulhijjah yang penuh keagungan ini, ada dua ibadah yang menjadi ritual umat Islam, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban. Di antara kisah pelaksanaan ibadah haji dan qurban, terdapat banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil sebagai pelajaran yang baik bagi kita orang-orang yang mau berpikir.

Haji menurut bahasa adalah berkunjung, yaitu berkunjung ke Baitulloh di Mekkah dan Madinah. Sedang Qurban menurut bahasa adalah mendekat, yaitu mendekatkan diri kepada Alloh dengan melaksanakan Qurban. Secara istilah terdapat korelasi antara ibadah haji dan qurban, yakni keduanya merupakan sarana ibadah yang bertujuan untuk datang dan mendekat kepada Alloh Subhanahu wa ta'ala. Tuhan Semesta Alam.

Ibadah haji merupakan rukun Islam yang ke lima, oleh karena itu pergi haji hukumnya wajib bagi yang mampu, sebaliknya bagi yang tidak mampu maka hukumnya tidak wajib. Alloh Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskannya dalam Al Quran :

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ
Wa lillaahi 'alannaas hijjul baiti manis tathoo'a ilaihi sabiila. Wa man kafaro, fa innalloha ghoniyyun 'anil 'aalamiin
Artinya :
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Alloh, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitulloh. Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. [QS. Ali Imron ; 97].

Rosululloh Sholallohu 'alaihi wa sallam juga bersabda :

بُنِىَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ٬ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اﷲِ٬ وَاِقَامِ الصَّلاَةِ وَاِيْتَاءِ الزَّكاَةِ ٬ وصَوْمِ رَمَضَانَ ٬ وَحِجِّ الْبَيْتِ لِمَنْ اِسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً
Buniyal Islaamu khomsin; syahaadati an Laa Ilaaha Illalloh, wa anna Muhammadar Rosululloh, wa iqoomish sholaati, wa iita -izzakaati, wa shaumi romadhona, wa hijjul baiti li manis-tatho'a ilaihi sabiila
Artinya :
Islam didirikan atas lima perkara; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadan dan melakukan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke sana. [HR. Bukhori].

Sebaliknya jika seseorang mengingkari kewajiban haji maka hukumnya ia telah murtad, sebagaimana Sabda Sayyidina Umar Ibnu Khothob, ra. :

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ: مَنْ أَطَاقَ الْحَجَّ فَلَمْ يَحُجَّ، فَسَوَاءٌ عَلَيْهِ يَهُودِيًّا مَاتَ أَوْ نَصْرَانِيًّا
An 'Umar ra. yaqulu : Man athoqol hajja falam yahujja, fasawaa-un 'alaihi yahuudiyya maata au nashrooniyyaa
Artinya :
Bahwa Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Siapa yang mampu haji dan dia tidak berangkat haji, sama saja, dia mau mati yahudi atau mati nasrani. [Al Hadits].

Demikian pula halnya dengan Qurban, ibadah qurban juga disyariatkan di dalam Islam, karena diperintahkan oleh Alloh dalam Firman-Nya :

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya : 
Sesungguhnya kami telah memberi engkau (Ya Muhammad) akan kebajikan yang banyak. Sebab itu, sembahyanglah engkau pada hari raya haji karena Alloh dan sembelihlah qurbanmu. (QS. Al – Kautsar : 1 – 2).

ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR
Hadirin sauadara kaum muslimin,
Sejarah haji dalam Islam bermula dari ribuan tahun yang lalu, yaitu pada masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam,  abad ke18 sebelum masehi. Singkat cerita, setelah bangunan Ka’bah selesai, Nabi Ibrahim dan puteranya Ismail kemudian diperintah oleh Alloh untuk melaksanakan ritual ibadah Haji dan qurban. Maka sejak saat itulah, kemudian kaum Muslimin melaksanakan ritual ibadah Haji untuk mengikuti risalah Nabi Ibrahim 'alaiahissalam dan juga risalah Nabi-Nabi setelahnya.

Kemudian, risalah haji dilanjutkan oleh Nabi Besar Muhammad Shalallohu 'alaihi wa sallam dengan memurnikan ibadah haji sesuai tuntunan Alloh semula sejak zaman Nabi Ibrahim alaihissalam. 
Sebagaimana diperintahkan Alloh Swt. dalam Firman-Nya :
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ
Alhajju asy-hurum ma'luumaatun. Fa mang farodho fii hinnal hajja, falaa rofatsa walaa fusuuqo walaa jidaala fil haji. Ilaa akhir aayah ..
Artinya :
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (bicara tidak senonoh), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (QS Al Baqarah : 197).

Rosululloh Saw. mencontohkan pelaksanaan ibadah haji ketika itu bersama dengan 100.000 kaum muslimin dari berbagai pelosok jazirah Arab pada tahun ke 10 Hijriyah. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Haji Wada' atau Haji Perpisahan.

Saudaraku kaum muslimin yang dimuliakan Alloh,
Kalau kita perhatikan, ada hal penting ketika Nabi Shalalohu 'alaihi wa sallam berkhutbah di haji wada'. Sesaat setelah menyampaikan khutbah, turunlah Firman Alloh Subhanahu wa ta'ala :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Al yauma akmaltu lakum diinukum, wa atmamtu 'alaikum ni'matii, wa rodhiitu lakumul islaama diinan
Artinya :
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. (QS. Al-Maidah: 3).

Pada saat itu di padang Arofah. Rosululloh Saw., tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rosululloh Saw. bersandar kepada unta beliau, dan unta tersebut kemudian perlahan-lahan duduk, saat itulah datang malaikat Jibril as. "Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Alloh Swt. demikian pula terputuslah apa yang terlarang oleh-Nya. Oleh karena itu, kumpulkanlah para sahabatmu, beritahukan kepada mereka bahwa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu denganmu".

Setelah Rosululloh Saw. kembali ke Madinah, kemudian beliau mengumpulkan para sahabat dan menceritakan apa yang disampaikan oleh Jibril as.
Para sahabat pun bergembira mendengarnya sambil mereka berkata, "Agama kita telah sempurna, agama kita telah sempurna". Namun tidak dengan Abu Bakar ra., setelah mendengar itu beliau langsung pulang, masuk ke kamar  kemudian mengunci pintunya dan menangis sekuat-kuatnya. Beliau menangis tak henti-hentinya dari pagi hingga malam.
Sehingga berita ini kemudian terdengar oleh para sahabat beliau, lalu mereka berkumpul di depan rumah Abu Bakar. Mereka berkata, "Wahai Abu Bakar, apa gerangan yang terjadi sehingga begini keadaanmu, seharusnya kamu berbahagia karena agama kita telah sempurna".
Jawab Abu Bakar, "Wahai sahabatku, kalian tidak tahu tentang musibah yang menimpamu. Tidakkah kamu tahu apabila suatu perkara itu telah sempurna, maka akan keliahatanlah kekuarangannya. Dengan turunnya ayat tersebut, itu pertanda bahwa kita akan berpisah dengan Rosululloh Shalallohu 'alaihi wa sallam".

Benar saja dua - tiga bulan kemudian, Rosululloh Shalallohu 'alaihi wa sallam terkena demam panas, semakin hari semakin tinggi demamnya, setelah mengimami sholat dhuhur, dan itulah terakhir kali beliau mengimami para sahabat dalam sholat, beliau tak mampu lagi untuk bangkit dari tempat tidur beliau. Selanjutnya manakala beliau mendengar suara adzannya Bilal ra. Beliau menunjuk Abu Bakar ra. untuk menjadi Imam sholat menggantikan beliau. Selang beberapa lama kemudian Nabi Muhammad Shalallohu 'alaihi wa sallam pun wafat.

Ketika mendengar berita bahwa Rosululloh Saw. wafat, kaum muslimin ketika itu terpecah. Di antara mereka ada yang Murtad (kembali ke belakang), ada juga yang tidak percaya, termasuk Sayyidina Umar ibnu Khattab ra., mendengar kabar Rasululloh Shalalohu 'alaihi wa sallam wafat ia gusar. Beliau berdiri dengan suara yang lantang, “Laki-laki dari kaum munafik membuat isu bahwa Rasululloh Shalalohu 'alaihi wa sallam telah wafat. Rosululloh Shalalohu 'alaihi wa sallam sesungguhnya masih hidup. Ia hanya pergi menemui Robb-nya sebagaimana Musa bin Imran pergi meninggalkan kaumnya selama empat puluh hari, kemudian kembali lagi kepada mereka, dan itu setelah diisukan bahwa ia telah mati. Demi Allah, Rasululloh Shalalohu 'alaihi wa sallam akan kembali dan akan memotong tangan dan kaki laki-laki yang menyebarkan isu bahwa beliau telah wafat".

Ketika Sayyidina Umar tengah berbicara di depan banyak orang tersebut, maka keluarlah Sayyidina Abu Bakar dari kediaman Rasululloh Shalalohu 'alaihi wa sallam dan meminta Umar untuk duduk. “Wahai Umar, duduklah! ujar Abu Bakar. Namun Umar enggan menuruti suruhan itu, akan tetapi orang-orang yang tadinya bersama dengan Umar segera meninggalkanya dan menghadapkan wajah mereka ke arah Sayyidina Abu Bakar Shiddiq ra.

Pada saat inilah Abu Bakar tampil untuk menasihati kaum Muslimin. Beliau bersabda : “Amma Ba’du, maka barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah wafat. Dan barang siapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan takkan pernah mati."
Lalu beliau mengutip Firman Alloh Swt. :

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِينْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
Wa maa muhammadun illaa rosuulun qod kholat min qoblihir rusulu. Afa-iimmaata auqutilan qolabtum 'alaa a'qoobikum? Wa man yanqolib 'alaa 'aqibayhi, falayyadhurrolloha syai-an. Wa sayaj zillaahusy-syaakiriina.
Artinya :
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imron : 144).

Ibnu Musayyab meriwayatkan bahwa Umar mengatakan, “Demi Allah, aku tidak ingat ayat itu kecuali setelah Abu Bakar membacanya. Saat itu aku tercengang sampai-sampai aku merasa kedua kakiku tidak membawaku lagi. Ketika itu aku limbung ke lantai setelah mendengar Abu Bakar membacakan ayat itu, aku baru yakin bahwa Nabi Saw. benar telah wafat”. (HR. Bukhari).

ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR, ALLOHU AKBAR
Ma'asyirol muslimina rohimakumulloh,
Itulah Sayyidina Abu Bakar Shiddiq ra. yang memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan para sahabat Nabi lainnya. Beliau selalu mengungguli para sahabatnya dalam segala hal. Bahkan ketika diminta untuk berkorban dalam mendukung perjuangan Rasululloh Shalallohu 'alaihi wa sallam.

Pernah diriwayatkan suatu ketika Nabi memerintahkan para sahabat untuk bersedekah. Ketika itu Sayyidina Umar bertekad kali ini beliau ingin mengalahkan Sayyidina Abu Bakar dalam bersedekah. Lalu beliau mendatangi Rasululloh dengan membawa separuh dari hartanya untuk disedekahkan. Melihat jumlah harta yang dibawa Umar, kemudian Nabi bertanya, "Tidakkah kau sisakan untuk keluargamu wahai Umar?" Umar ra. menjawab: "Aku telah menyisakan sebanyak ini juga ya Rasululloh".
Kemudian datanglah Sayyidina Abu Bakar ra., ia datang dengan membawa harta kekayaannya. Kemudian Rasululloh  shalallohu 'alaihi wa sallam bertanya: "Apakah kamu sudah menyisakan untuk keluargamu wahai Abu Bakar?" Abu Bakar menjawab: "Saya telah menyisakan Alloh dan Rosul-Nya  bagi mereka". (Itu artinya Sayyidina Abu Bakar ternyata telah menginfaqkan seluruh hartanya untuk perjuangan Rasululloh Shalallohu 'alaihi wa sallam, sehingga tidak menyisakan sedikitpun harta untuk keluarganya kecuali Alloh dan Rasul-Nya). Melihat itu, kemudian Umar berkata: “Demi Alloh, aku tidak akan bisa mengungguli Abu Bakar dalam segi apapun“.
.
Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي مَالِهِ وَصُحْبَتِهِ أَبُوبَكْر
Inna aamanannaas 'alaiya fii maalihi wa shuhbati Abu Bakar
Artinya :
Sungguh orang yang paling banyak berkorban untukku dalam harta maupun persahabatan adalah Abu Bakar [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Ma'asyirol muslimina rohimakumulloh,
Apa yang bisa kita petik hikmahnya dari peristiwa di atas?
Hikmahnya adalah, ternyata ada perbedaan kekhususan di antara para sahabat, kalau di antara sahabat yang 4 (khulafair rosyidin) saja ada perbedaan maqomnya, apalagi pada sahabat yang 10, yang telah dijamin surga itu, apalagi sahabat yang 70 Ahli Shuffah itu, apalagi 313 sahabat syuhada perang Badar, 700 tentara perang Uhud, 3000 tentara perang Badar, terlebih lagi 100.000 sahabat jamaah haji wada'?
Apalagi milyaran kaum muslimin dan muslimat di seluruh penjuru dunia saat ini? Tentu tidaklah sama tingkatan kadar keimanan antara satu dengan yang lainnya.

Sabda Nabi Shalalallohu 'alaihi wa sallam :

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ
Fa'alaikum bi sunnati wa sunnatil khulafaair rosyidiin
Artinya :
Maka ikutilah oleh kalian sunnahku dan sunnahnya khalifahku yang mendapat petunjuk (Mursyid).

Lalu, apa yang menjadikan Sayyidina Abu Bakar Shiddiq ra. sahabat yang paling utama di antara para sahabat Nabi?
Nabi shlallohu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَا فَضَلَكُمْ اَبُوْ بَكْرٍ بِكَثْرَةِ صَوْمٍ وَلَا صَلَاةٍ بَل بِشَيْءٍ وَقَرَفِی قَلْبِهِ
Maa fadholakum Abu Bakrin bi katsroti shoumin wa laa sholaatin, bal bi syai-in wa qoro fil qolbi
Artinya :
Kelebihan Abu Bakar atas kalian bukanlah dengan banyaknya puasa, bukan pula karena banyak sholat. Tetapi karena sesuatu yang kokoh menghunjam dalam hatinya. (Al Hadits).

Sesuatu yang kokoh itu tidak lain adalah Iman, yakni keimanan Sayyidina Abu Bakar Shiddiq ra. melebihi keimanan para sahabat. Sampai-sampai Sayyidina ‘Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘anhu memuji beliau dengan mengatakan :

ًلَوْ وَزَنَّ إِيْمَانَ أبِي بَكْرٍ بِإِيْمَانِ أهْلُ الْأَرْضِ لِرَجِحَتْ كَفَة أبِي بَكْر
Artinya :
Seandainya keimanan Abu Bakar radliallahu ‘anhu ditimbang dengan keimanan penduduk bumi (selain para Nabi dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka sungguh keimanan beliau radliallahu ‘anhu  lebih berat dibandingkan keimanan penduduk bumi”. [HR. Ishaq dan al-Baihaqi].

Hadirin,
Keimanan yang kokoh itu tidak lain adalah karena banyaknya beliau berdzikir kepada Alloh. Dzikir yang dibimbingkan oleh Nabi kepadanya secara batin. Hal itu bisa beliau capai karena kedekatan beliau Nabi Muhammad Shalalohu 'alaihi wa sallam. Hal itu ditegaskan dalam hadits yang sangat populer dikalangan kaum Muslimin:

لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَابَكْرٍ خَلِيلًا، وَلَكِنَّهُ أَخِي وَصَاحِبِي، وَقَدِ اتَّخَذَاللَّهُ ﻷَصَاحِبَكُمْ خَلِيلًا
Lau kuntu muttakhidzan kholiilan, lattakhodztu Abaa Bakrin kholiilan, wa laakinnahu akhii wa shoohibii. Wa qottakhodzallohu la ashoobikum kholiilan
Artinya :
Sekiranya aku diizinkan oleh Alloh untuk menjadikan seseorang sebagai khalil (kekasih), niscaya aku jadikan Abu Bakar sebagai khalilku, akan tetapi ia adalah saudara dan sahabatku, sedangkan Alloh Azza wa Jalla telah menjadikan sahabat kalian ini (diriku kata Nabi) sebagai khalilnya (kekasih-Nya). [HR. Bukhori dan Muslim].

وَلِقَوْلِهِ عَلَيْهِ صَلَی اللَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، لِعَلِيِّ كَرَمَ اللَّهُ وَجْهَهُ: يَا عَلِيُّو اِغْمِضْ عَنَيْكَ وَالْصَكْ شَفَيْكَ وَاَعْلِ لِسَانَكّ وَقُلْ اللَّهُ اللَّهُ
وَهَذِهِ نِسْبَةُ الصَدِّيْقِ الْاَعْظَمِ الَّتِيْ اَخَذَهَا بَاطِنًاعَنِ النَّبِيِّ
Wa liqaulihi Shalallohu 'alaihissalaamu li'aliyyi karomallohu wajhah : Yaa Aliyyu ighmidh 'anaika wal shok syafaika wa a'li lisaanaka wa qul Allohu Alloh.
Wa hadzihi nisbahush shiddiiqil a'zhomil latii akho dzaha baathinan 'aninnbiyyi
Artinya :
Juga berdasarkan sabda Rosululloh kepada Ali, semoga Alloh memuliakan wajahnya : Wahai Ali, pejamkan matamu, lekatkan kedua bubirmu, dan lipatkan lidah pada langit-langit mulut dan katakan Allohu Alloh.
Inilah asal usul dzikir yang diambil oleh Abu Bakar ash Shiddiq secara batin dari Nabi Muhammad Shalallohu 'alaihi wa sallam.

Dalam sebuah hadits Mu’adz bin Anas al-Juhani Radhiyallahu anhu dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْمُجَاهِدِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا يَا رَسُولُ اللَّه ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَعَالَى ذِكْرًا ، قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، ثُمَّ ذَكَرَ لَهُ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ !! ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَجَلْ
Artinya :
Seorang bertanya kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata : "Mujahidin mana yang paling besar pahalanya wahai Rasûlullâh?" Beliau menjawab: "Yang paling banyak dzikirnya". Ia bertanya lagi: "Orang yang berpuasa yang paling banyak pahalanya?" Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Yang paling banyak dzikirnya". Kemudian  orang tersebut menyebutkan shalat, zakat, haji dan sedekah kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab semuanya dengan sabdanya: "Yang paling banyak dzikirnya". Maka Abu Bakar Shiddiq, ra. berkata kepada Umar Radhiyallahu anhu : "Orang-orang yang selalu mengingat Allâh Azza wa Jalla membawa semua kebaikan!!" Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Iya". [HR. Ahmad].

Itulah sayyidina Abu Bakar, hatinya senantiasa berdzikir kepada Alloh. Hati yang senantiasa wukuf dengan mengingat Alloh Subhanahu wa Ta'alaa. Sehingga kapanpun, dimanapun sedang apapun, ia selalu ingat kepada Alloh, dan itulah hakikat haji. Firman Alloh Subhanahu wa Ta'alaa :

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنسِكَكُمْ فَاذْكُرُواللهَ
Fa idzaa qodhoitum manaasikakum fadzkurulloh
Artinya :
Apabila kalian telah menyelesaikan ibadah haji kalian, maka berzikirlah dengan menyebut Allah. [QS. Al Baqoroh : 200].

Demikian pula dengan hakikat qurban. Firman Alloh Subhanahu wa ta'ala :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ
Wa likulli ummatin ja'alnaa mansakal liyadz-kurusmallohi, 'alaa maa razaqohum mim bahiimatil an'aami. Fa ilaahukum ilaahuw-waahidung falahuu aslimuu. Wa basysyiril mukhbitiina
Artinya :
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari'atkan penyembelihan (qurban), supaya mereka mengingat (menyebut) nama Alloh terhadap binatang ternak yang telah direzekikan oleh Alloh kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Alloh). [QS. Al hajj : 34].

Ma'asyirol muslimina rohimakumulloh,
Demikianlah khutbah singkat ini, sebagai perenungan bagi kita semua, bahwa beragama itu memang pilihan. Laa ikroha fiddiin (Tidak ada paksaan dalam beragama). Kita memilih Islam sebagai agama kita, itu sudah pilihan yang tepat. Sebab agama Islam satu-satunya agama yang telah di ridhoi oleh Alloh Subahanahu wa ta'alaa. Namun demikian, agama bukanlah hanya sekedar status sosial, kita boleh mengaku sebagai umat yang terbaik, akan tetapi menjadi perenungan bagi kita semua, "Apakah benar kita sudah beragama Islam dengan baik?". Wallohu'alam Bishshowab.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

KHUTBAH KEDUA :

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (4
اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ
وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّا بَعْدُ
فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَ سَعْيًا مَشْكُوْرًا وَ ذَنْبًا مَغْفُوْرًا

رَبّنَا لاَتُؤَاخِذْ نَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلََى اّلذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبّنَا وَلاَ تًحَمّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. والحمد لله رب العالمين

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُوَ
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger