Latest Post
03.19
TEMALAM DI BUMI BADUY DALAM
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 20 September 2017 | 03.19
"TEMALAM DI BUMI BADUY DALAM"
Alhamdulillaah, cerita ini aku awali dengan rasa syukur yang tak terhingga karena dengan izin Alloh telah diperjalankan oleh pengersa Abah Aos dan diberi kesempatan untuk bisa menginap di Bumi Baduy Dalam, kampung Cikeusik, Desa Kenekes, Kec. Leuwidamar, Kab. Lebak, Prov. Banten.
Perjalanan ini sudah direncanakan sebelumnya oleh panitia (ikhwan Banten). Rombongan dibagi menjadi dua Kafilah. Kafilah-1, dibatasi hanya 50 orang untuk menginap di 10 rumah Baduy Dalam. Kafilah ini berangkat hari Sabtu, 09 September 2017, dan sampai di pemukiman Baduy Dalam menjelang Maghrib. Kemudian menyusul kafilah-2 dengan jumlah orang yang lebih banyak, diperkirakan sekitar 115 orang yang diberangkatkan pada hari Minggu, 10 September 2017 memasuki tanah Baduy dan langsung menuju Huma, lokasi tempat manaqib.
Kami berlima, ikhwan dari Panongan berangkat dari Panongan Tangerang menuju titik kumpul. Sesampainya di tempat titik kumpul, yaitu di Masjid Nurul Iman, Desa Pasir Bungur, Kec. Cimarga, Kab. Rangkas Bitung, ternyata jumlah ikhwan yang hadir sudah banyak, diperkirakan jumlahnya lebih dari 75 orang (melebihi quota), oleh karena itu sesaat sebelum menunaikan sholat Dhuhur berjamaah, sambil berjalan masuk masjid Kiyai Abdul Manan (salah satu Wakil Talqin Abah Aos di Banten) berbisik, "Kiyai, terpaksa kiyai harus tinggal di perbatasan untuk memimpin ikhwan yang tidak bisa masuk ke dalam, nanti ba'diyah Isya' sekalian bisa langsung memberikan talqin dzikir".
Selesai sholat, saya langsung berkoordinasi dengan ikhwan dari Panongan, dan kami sepakat bahwa kami semua akan menunggu di perbatasan dan mempersilahkan ikhwan lainnya untuk masuk ke wilayah Baduy Dalam. Namun, sesampainya di perbatasan ternyata kami berlima diputuskan untuk tetap masuk untuk menginap di Baduy Dalam oleh Panitia karena memang sudah terdaftar sebelumnya. Lalu berangkatlah kami Kafilah-1 yang berjumlah 50 orang menuju Baduy Dalam. Setelah menempuh perjalanan kaki naik turun bukit lebih kurang 1 (satu) jam, sampailah kami di Bumi Baduy menjelang Maghrib tiba. Saat memasuki kampung ini, kampung terkesan sepi, rumah-rumah banyak yang tertutup bahkan terkesan tak berpenghuni, hanya terdapat beberapa anak-anak Baduy yang duduk di depan rumah sambil menatap kami dengan polos. Kami pun terus masuk ke dalam melewati celah-celah rumah, di bawah atap-atap teras rumah yang terbuat dari daun kelapa yang dikeringkan. Terdapat juga beberapa rumah yang sudah dihuni oleh wisatawan yang kebanyakan para wanita. Mereka duduk-duduk di teras (sorosoan), mereka menyapa kami, namun terkesan sangat berisik, berbeda kontras dengan warga Baduy yang kebanyakan diam.
Rombongan terus berjalan menyusuri rumah-rumah, dan sesampainya di tengah kampung, kami disambut oleh Jaro dan diatur untuk ditempatkan di dalam rumah-rumah yang sudah disediakan. Dengan cekatan Jaro berserta 2 orang pembantunya mengatur dan mengantarkan, "Silahkan, bisa 10 atau 20 orang, apakah cukup?", begitu ujarnya sesekali berbahasa Indonesia, sesekali mereka berbisik-bisik, tampak kecemasan dari mereka kalau-kalau masih ada rombongan yang belum mendapatkan rumah. Ternyata tidak seperti dugaan semula bahwa untuk menginap hanya dibatasi hanya 50 orang, namun ternyata boleh lebih, bahkan setelah kami sampaikan bahwa masih ada orang yang tinggal di perbatasan, mereka terkejut dan menawarkan untuk dijemput.
Jadilah akhirnya rombongan tersebar di beberapa rumah, ada yang berjumlah 5 orang ada juga yang 10 orang atau lebih, tidak kebetulan kami dari ikhwan Panongan akhirnya terkumpul dalam satu rumah. Setelah kami semua menaruh perbekalan, selanjutnya kami menuju sungai/kali untuk membersihkan diri, ada yang mandi, ada juga yang hanya sekedar membersihkan sebagian badannya, berwudhu dan bersiap melaksanakan ibadah amaliyah di masing-masing rumah, yaitu; sholat maghrib berjamaah, dzikir, khotaman, sholat-sholat sunnah, sampai dengan sholat isya' berjamaah, ba'diyah isya', dzikir, sholat sunnah lidaf'il bala'i, dan khotaman, lalu bermushofahah.
Alhamdulillaah, seluruh rangkaian amaliyah yang kami laksanakan ditonton/dilihat oleh tuan rumah, tuan rumah yang kami tempati ialah sepasang suami-istri muda yang belum mempunyai anak keturunan dan seorang kakak laki-laki dari sang suami, mereka bertiga melihat aktivitas ibadah yang kami lakukan, tak jarang mereka berdua berbisik-bisik, demikian juga istrinya yang sedang menyulut api dan memasak sesuatu di tungku, terkadang juga sambil duduk di belakang kami, dengan suara lirih sesekali terdengar, ikut menimpali percakapan suaminya yang bernama Hatak dan kakaknya yang bernama Jamak, mereka terlihat sangat akrab satu sama lain. Mungkin juga bagi mereka aktivitas ibadah kami bukanlah sesuatu yang berharga, atau mungkin mereka juga heran dengan sholat kami dan dzikir kami, sebab mereka sendiri telah memiliki keyakinan dan tata cara ibadahnya sendiri. Dalam hatiku berbisik, "Oh beginilah tantangan dakwah para Wali Songo, dimana mereka datang ke Nusantara menyebarkan ajaran Islam, sedang di Nusantara sendiri sudah memiliki agama dan kepercayaan, seperti Hindu, Budha, Kejawen, Wiwitan, dll. Diajak sholat mereka sudah sembahyang, dikenlakalkan Alloh mereka sudah punya Tuhan, dikenalkan Nabi mereka sudah punya Nabi, dikenalkan Mursyid mereka sudah punya Pu'un, dll".
Selesai amaliyah, dengan cekatan kang Hatak mengambil posisi duduk menghadap kami, sejenak kemudian ia pun menawarkan kepada kami berlima untuk makan seraya mengeluarkan bakul yang penuh dengan nasi dan sepiring ikan asin. Di atas bakul nasi terdapat daun pisang yang digunakan untuk mencengkam nasi ke daun pisang yang digunakan sebagai piring (meskipun mereka juga menyediakan piring beling). Akhirnya ikhwan makan bersama, sedang saya tidak, karena memang belum terasa lapar. Tuan rumah juga ikut makan, sedang istrinya makan sendiri di kamar yang juga dijadikan dapur (tungku). Tidak ada lauk selain ikan asin, tidak ada garam, cabai, tomat, apalagi sambal.
Selesai makan kami melanjutkan percakapan. Banyak hal yang kami tanyakan, semuanya dijawab dengan baik oleh Hatak. Dia benar-benar melayani dengan sepenuh hati, tidak ada satu pun pertanyaan dari kami yang tidak dijawab, meskipun terkadang karena keingintahuan kami bertanya berbarengan, sehingga ia terlihat bingung mana dulu yang harus dijawab, namun perlahan tapi pasti semuanya dijawab dengan jujur, jauh sekali dari kesan sifat munafik atau politis, semua jawaban polos dan jujur.
Ditengah-tengah percakapan, ada seorang ikhwan yang ingin buang hajat, yang mengharuskannya ke 'kali', dengan sigap tuan rumah berdiri menawarkan diri untuk mengantarkan ke 'kali'. Ternyata ikhwan lainnya juga mau ikut. Tinggallah saya sendiri yang bingung, sebab di dalam rumah hanya ada istri Hatak, melihat itu Hatak meyakinkan saya, ia berkata, "Bapak tidak apa-apa tidak ikut, di rumah saja tidak apa-apa", katanya. Tapi akhirnya untuk menjaga dari hal-hal yang tidak baik, saya putuskan untuk menyusul rombongan yang masih terlihat di ujung kampung, saya berlari kecil di atas tumpukan bebatuan dengan bertelanjang kaki sambil berteriak kecil memanggil, mereka pun akhirnya menunggu saya. Lalu kami menuju ke kali bersama-sama menyusuri jalan yang penuh dengan bebatuan dibawah keremangan cahaya lampu senter yang kami bawa.
Sepulang dari 'kali' kami pun melanjutkan obrolan. Terlihat dan terkesan bahwa orang Baduy memiliki kerahmah-tamahan, disiplin, jujur, sama sekali tak terlihat ada gurat-gurat kemarahan. Sehingga saya pun tertarik bertanya, "Apakah sesama saudara pernah ribut atau berantem?", dijawab, "Tidak". Betul, mereka sungguh santun, jauh sekali dari sifat kasar. Tidak seperti kebanyakan orang di luar sana, yang penuh dengan amarah dan kata-kata kotor, termasuk saya ini. Sepanjang malam tak terdengar suara pertengkaran ataupun teriakan anak-anak. Semuanya hening dan syahdu. Di sela-sela obrolan, kami pun sempat bertanya, "Apa yang menjadi agama mereka?", dijawab oleh Hatak, "Agama kami adalah kepercayaan Sunda Wiwitan, Nabi kami adalah Adam, pemimpin kami adalah Pu'un. Kami tidak pernah sekolah, hanya diajari adat oleh orang tua kami. Kami tidak berani untuk melanggar aturan adat, kalau sampai melanggar maka akan muncul rasa menyesal selamanya", begitu ia memaparkan.
Itulah makanya, saya tetap menahan diri untuk tidak berfoto bersama, ketika saya mencoba beberapa kali mohon izin untuk berfoto bersama di dalam rumahnya, ia tetap dengan lembut namun tegas mengatakan, "Tidak boleh", itu tentu atas perintah Pu'un mereka. Walaupun pada keesokan harinya, ada ikhwan yang baru datang, setengah memaksa mengajak mereka berfoto di dalam rumahnya, saya tetap menahan diri untuk tidak ikut difoto bersama tuan rumah meskipun mereka tidak menolaknya, kecuali di luar rumah dengan warga Baduy lainnya. Sebenarnya mereka hanya memperbolehkan ambil gambar di luar kampung, diperbatasan. Namun untuk rombongan kami ikhwan TQN Pondok Pesantren Suryalaya wilayah Banten mereka memperbolehkan di Huma lokasi Manaqib.
Memang demikianlah, mereka tidak pernah menolak suatu permintaan. Termasuk ketika disela-sela perbincangan, Hatak menunjukkan dua buah Bedoq (Golok) yang merupakan pakaiannya sehari-hari, ketika awalnya saya tanya, "Apakah golok ini dijual?". "Tidak, silahkan beli di Baduy luar", katanya. Namun, setelah berbincang panjang, ketika ingin rebahan dan golok akan disimpan, kembali saya meminta agar golok tersebut bisa diberikan kepada saya sebagai kenang-kenangan. Saya katakan, "Bahwa saya ingin golok yang dari tangan orang Baduy Dalam, bukan beli golok yang didagangkan". Hatak menatap saya, lalu sambil tersenyum ia menganggukkan kepalanya tanda ia setuju, lalu saya tanya, "Berapa harganya?". Dengan senyum dia menjawab, "150 ribu, tapi 100 ribu saja sama Bapak". Alhamdulillaah, akhirnya saya juga membeli beberapa kerajinan Baduy, seperti Koja dan Langkan Putih yang merupakan ciri khas Baduy Dalam dengan tidak ada satupun barang yang saya tawar harganya.
Demikianlah gambaran singkat dari orang Baduy Dalam, mereka juga tidak berternak Sapi dan Kambing, bahkan mereka tidak boleh memakan daging Kambing sampai sekarang. Dalam hal pernikahan, mereka kebanyakan dijodohkan oleh orang tuanya sesama orang Baduy Dalam, bisa satu kampung Cikeusik, atau dengan kampung Baduy Dalam lainnya, yaitu kampung Cibeo dan kampung Cikertawarna. Karena ternyata Baduy Dalam itu terdiri dari tiga kampung, dan kampung Cikeusik adalah kampung yang tertua. Warga Baduy Dalam tidak boleh menikah dengan orang luar, kalaupun terjadi maka ia harus keluar dari Baduy Dalam dan tidak lagi diakui sebagai orang Baduy Dalam, meskipun itu sangat sulit bisa terjadi.
Tak terasa saking asik berbincang, malam semakin larut, saya pun sudah bersiap untuk merentangkan tubuh, tiba- tiba ada suara dari luar yang memberitahukan bahwa barusan ada warga Baduy yang meninggal. Saya pun bergegas keluar, bersama dengan salah seorang Wakil Talqin kami meluncur ke kediaman yang terkena musibah walau hanya berdiri di depan rumah. Terdengar suara tangisan pilu yang menyayat hati, sementara warga Baduy berkerumun di dalam rumah sampai ke teras rumah, mereka hanya duduk dan diam. Kami pun demikian hanya diam menatap jauh di dalam lubuk hati, muncul rasa iba dan kasihan dengan orang Baduy yang karena keluguannya, mereka tidak mengenal ajaran Islam, agama samawi yang diturunkan oleh Alloh SWT. sebagai petunjuk bagi manusia dan pembeda antara yang hak dan yang batil. Ditengah lamunanku, tiba-tiba ada suara halus menyapaku, "Eh bapak kesini juga", spontan saya menoleh, tenyata Hatak yang menyapaku. "Iya, barangkali bisa meringankan", jawabku. "Sudah, Bapak pulang saja istirahat, tidak apa-apa", katanya sembari mengantarkan kami pulang ke rumah.
Kali ini aku benar-benar merebahkan punggung untuk tidur, masih terdengar sayup-sayup suara tangisan memecah keheningan malam, sesekali terdengar lolongan anjing menggonggong, memang dengan suasana di kampung yang sunyi dan temaram seperti ini, malam terasa cepat larut, kemudian kami pun tertidur. Tengah malam aku terbangun, karena mendengar percakapan dua orang ikhwan dengan Hatak dan Jamak, ternyata mereka masih belum tidur, aku melihat jam di tanganku menunjukkan pukul setengah satu. Terasa damai, cuaca sejuk dan tidak ada nyamuk membuatku tertidur kembali. Menjelang dini hari aku terbangun, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 03 dini hari. Kuambil dua gelas air aqua, kemudian aku keluar, tak satupun terlihat ada orang di luar, diteras aku mengambil air wudhu dari gelas aqua, belum selesai terdengar rombongan di rumah sebelah keluar dengan membawa senter untuk ke kali, dan aku pun akhirnya ikut ke Kali.
Sepulang dari Kali aku bergegas melaksanakan qiyamul lail sambil menunggu waktu shubuh tiba. Kamipun kembali berjamaah sholat shubuh, selesai dzikir kemudian tawajuh menunggu waktu isro' tiba, setelah isro', istiadzah, istikhoroh dan isti'anah, lalu lanjut dengan sholat dhuha. Jam sudah menunjukkan pukul 07 pagi, kami pun bermushofahah. Melihat rangkaian ibadah amailyah yang kami lakukan sudah selesai, kembali Hatak mempersilahkan kami untuk sarapan yang sudah disiapkan dengan menu yang sama yaitu nasi sebakul dan sepiring ikan asin. Sedang aku sendiri sejak siang sampai dengan pagi ini tidak terasa lapar sehingga aku tidak ikut makan, melainkan hanya makan sebuah roti tawar yang aku bawa.
Menjelang jam 08 pagi, kamipun bergegas menuju Huma lokasi yang akan diadakan manaqiban. Menyusuri jalan yang berada di belakang kampung dengan hutan lebat, setelah melalui jalanan yang menanjak bukit, sampailah kami di lokasi huma, dimana di sana telah menunggu Oyot Jaro masyarakat Baduy. Setelah kumpul kami pun mulai melaksanakan amaliyah manaqib yang dihadiri oleh kurang lebih 145 orang. Selesai manaqib kami semua kembali ke kampung untuk makan siang dan beramah tamah dengan masyarakat Baduy, terutama kafilah-2 yang belum berinteraksi dengan masyarakat Baduy. Saat interaksi dengan masyakat Baduy inilah, entah mengapa aku merasa menjadi tuan rumah, membantu mengawasi dagangan kerajinan orang Baduy agar tidak hilang. Banyak yang melihat dagangan, ada yang membeli ada yang cuma melihat-lihat. Ada juga yang karena ketidaktahuannya setengah memaksa untuk memiliki barang pribadi yang dipakai oleh warga Baduy. Terlihat jelas sebuah ketamakan, keserakahan nafsu, juga sebaliknya juga juga terlihat keindahan akhlak, kesemuanya dipertontonkan, seperti beberapa ikhwan dan akhwat yang dengan penuh perhatian memberikan hadiah berupa uang dan makanan kepada masyarakat Baduy, "Ini ada uang mohon diterima, khawatir yang lain lupa", ujar seorang ibu-ibu tua kepada salah seorang istri warga Baduy. Alhamdulillaah, mata ini diperlihatkan oleh-Nya sehingga mampu melihat bermacam-macam peristiwa, yang kesemuanya mengandung pelajaran yang berharga.
Saya memaknai perjalanan ini adalah bagian dari proses belajar disamping berdakwah. Sebagaiman Firman Alloh SWT. :
Yaa ayyuhannaasu, innaakholaqnaakum min dazakin wa untsaa. Waja'alnaakum syubuuan wa qobaa ila lita'aarofuu. Innaa akroomakum indallohi atqookum. Innalloha haliimun khobiirun
Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui dan Maha Mengenal.
Yah, adanya perbedaan suku dan bangsa, ada yang berbadan besar dan kecil, ada kulitnya putih ada yang hitam, rambut yang lurus dan rambut keriting, bahasa yang bemacam-macam, geografi yang berlainan, kesemuanya itu agar kita saling mengenal satu sama lainnya. Mengenal dalam arti kita saling menyapa, memahami adat-istiadat, keperibadian, budaya kehidupan sehari-hari untuk salaing belajar. Namun yang lebih mulia di Sisi Alloh ialah orang yang paling bertaqwa diantara manusia. Taqwa itu karena sudah ada iman di dalam dada. "Attaqwa hahuna" (Taqwa itu di sini). Orang-orang yang bertaqwa lah yang menjadi sebaik-baik golongan atau umat, sebagaimana Firman Alloh SWT. :
Kuntum khoiru ummatin ukhrijat linnaasi, ta'muruuna bil ma'ruuf wa tanhauna 'anilmunkari wa tu'minu billaahi.
Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh.
Boleh jadi orang sudah beramal ma'ruf dan bernahi munkar, tetapi ia tidak beriman kepada Alloh, sebaliknya ia sudah beriman kepada Alloh akan tetapi masih belum tampak yang ma'ruf dan juga tidak mencegah dari yang munkar. Sehingga kita belum bisa dikategorikan sebagai umat yang terbaik di antara umat di dunia ini. Islam tidaklah hanya sekedar ajaran Tauhid, tetapi juga menyangkut masalah syariat dan ihsan. Ketiga-tiganya harus tampil di dalam diri seorang mu'min yang sejati. Ihsan adalah akhlak, yaitu akhlak kepada Alloh, akhlak kepada sesama manusia, dan akhlaq kepada lingkungan. Akhlak kepada Alloh (Hablumminalloh), yaitu semua rangkaian aktivitas ibadah vertikal menyembah Alloh seakan-akan melihat-Nya, jika tidak mampu melihat maka engkau dilihat oleh-Nya. Akhlak kepada sesama manusia (Hablumminannaas), yaitu hubungan baik dengan sesama manusia. Hidup rukun dan damai, salaing harga menghargai, hormat menghormati, bergotong royong, tidak timbul kekecewaan dan keretakan, tetapi janganlah ikut campur. Akhlak kepada lingkungan, yaitu menjaga alam sebagai anugerah Alloh, tidak merusak.
Sebagaimana Firman Alloh SWT. :
Tusabbihuu lahussamaa waatissab'u wal ardhu. Wa inmin syai-in yusabbihuu bihamdihii. Walaa killaa tafqohuuna tasbiihahum. Innahuu kaana haliiman ghofuuron.
Tujuh petaka langit, bumi dan apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Alloh. Tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya. Tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Alloh Maha penyantun lagi Maha Pengampun.
Pendek kata, akhlak yang baik itu ialah, Alloh hadir di setiap aktivitas perbuatan kita, baik saat beribadah kepada Alloh maupun saat sedang bermu'amalah kepada sesama manusia dan lingkungan. Sabda Rosululloh Saw. "Sebaik-baik umatku ialah yang paling baik akhlaknya". Dan orang yang paling sempurna akhlaknya ialah Nabi Muhammad Saw.
Firman Alloh SWT. :
"Wainnaka khuluqul 'azhiim"
Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) berbudi pekerti yag agung
Maka kalau ingin mencontoh akhlak yang baik ialah, contohlah akhlak Rosululooh Saw. Sebagaimana Firman AllohSWT. :
"Laqodkaana lakum fii rosuulillaahi ustwatun hasanah. Laman kaana yarjulloha wal yaumil aakhiro wadzaakarolloha katsiiron"
Sungguh pada diri Rosululloh itu terdapat suri tauladan yang baik, bagi orang yang senantiasa menggantungkan diri kepada Alloh dan percaya pada hari akhir dan dia banyak menyebut Alloh.
Mencontoh Rosululloh Saw. itu tidak hanya sekedar informasi, akan tetapi harus disertai dengan praktek. Kita butuh Figur yang sudah mencontoh Rosul, yaitu orang yang melihat Rosul, dan orang yang melihat orang yang melihat Rosul, dan orang yang melihat orang yang melihat orang yang melihat Rosul, terus hingga sampai dengan sekarang. Siapakah mereka? Mereka ialah; Sahabat, Tabi'in, Tabi'it Tabi'in dan seterusnya sampai kepada khalifah yang mursyid. Alhamdulillaah, kita sudah mendapatkan seorang Guru yang Mursyid, yang senantiasa membimbing kita secara dhohir dan batin untuk wushul kepada Alloh. Karena hanya orang yang mendapat petunjuklah yang dapat bertemu dengan Mursyid.
Sebagaiman Firman-Nya :
Man yahdhillaahu fa huwal muhtadi, waman yudhlil falan tajida lahuu walyan mursyidan
Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Alloh maka dialah yang mendapat petunjuk, dan barang siapa yang disesatkan-Nya maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.
Catatan singkat di Bumi Baduy Dalam, 9-10 September 2017
Mahmud J. Al Maghribaen"TEMALAM DI BUMI BADUY DALAM"
22.01
Idul Fitri adalah Talqin Dzikir
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 24 Juli 2017 | 22.01
Mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin, bukanlah perkara yang bid'ah sebagaimana dituduhkan, melainkan ucapan itu adalah do'a, tidak ada salahnya berdo'a.
Kata Idul Fitri, ada yang mengartikannya hanyalah sebatas bahasa :
Aada, ya'uudu, 'id = Kembali
Afthoro, yufthiru, fitri = Berbuka
Berdasarkan pemahaman ini maka dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Idul Fitri itu artinya Kembali Berhari Raya, yaitu berbuka tidak lagi puasa. Pemahaman seperti ini tidaklah salah, akan tetapi sangat dangkal.
Adapun pemahaman yang kedua adalah Idul Fitri itu artinya Kembali Fitrah. Dan pemahaman seperti inilah yang banyak diyakini oleh umat Islam di Indonesia. Sebagaimana sabda Rosululloh Saw. "Kullu maulidin yuuladu 'alal fithroti. Fa abaawahu yuhawwida nihi, yunash shiro nihi, au yumaj jisa nihi". (Setiap bayi dilahirkan atas dasar fithrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashroni atau Majusi).
Fitrah juga disebut Islam sebagaimana Alloh Swt. Berfirman QS. Ar Ruum:30, "Fa aqim wajhaka liddiini haniifan. Fithrotallohil latii fataronnaasa 'alaiha. Laa tabdhiila li kholqillaah, dzaalikad diinul qoyyimu walaa kinna aktsaron naasi laa ta'lamuuna". (Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui).
Demikianlah dijelaskan bahwa manusia sesungguhnya fitrah (suci), sebelum ia dilahirkan ia telah Berjanji untuk patuh dan tunduk kepada Alloh sebagaimana Firman Alloh dalam QS. Al 'A'raff:172, "Wa idz akhoda robbuka min banii aadama min zhuhuurihim dzurriy yatahum wa asyhadahum 'alaa anfusihim. Alastu birobbikum. Qooluu balaa syahidna. Anta quulu yaumal qiyaamati inaa kunna haadzaa ghoofiliina". (Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".
Namun ketika manusia terlahir ke dunia kemudian ia menekuni kehidupan dunia, maka ia lupa kepada janjinya kepada Alloh, ia ingkar (kufur) kepada Alloh. Ia terlena dengan kehidupan dunia, ia sibuk mengejar dunia, padahal sesungguhnya ia seperti mengejar bayang-bayang (makin dikejar ia lari) atau ibarat meminum air di laut (semakin diminum semakin haus), itulah kehidupan dunia.
Demikianlah, maka setelah ditempa melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh di bilan Romadhon, diharapkan ia akan kembali suci seperti bayi baru dilahirkan. Itulah makna Minal 'Aidinal Faaizin. Sebagai mana Sabda Rosululloh Saw. Dari Salamah bin Abdurahman bin Auf, ayahku berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Allah SWT telah mewajibkan ibadah puasa Ramadhan, dan disunahkan untuk melakukan salat sunah, maka barang siapa mengerjakannya karena iman dan melakukan intropeksi, makan dia keluar dari dosa dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan".
Minal Aidin artinya Kembali, kembali kemana? Tentu bukan kembali berhari raya sebagimana pendapat pertama tadi, akan tetapi yang dimaksud adalah Kembali mengingat Perjanjian kita kepada Alloh setelah kita tersesat, yaitu Bertobat kepada Alloh dengan melaksanakan janji kita untuk taat kepada Alloh, "Innalladziina yubaayi'uunaka innamaa yubaayi'uunalloh yadullohi fauqo aidiihim. Faman nakatsa fainnama yan qusu'alaa nafsihii, waman aufaa bimaa aahada alaihulloh fasyau' tiihi ajron 'azhiima". (Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar).
Bagaiaman caranya agar kembali kepada Alloh?
Caranya adalah dengan bertobat, bertaqwa dengan bertauhid kepada Alloh.
Alloh Swt. Berfirman dalam QS. Ar Ruum:31, "Muniibiina ilaihi wattaquuhu wa aqiimush sholaata, walaa takuunu minal musrikiina". (Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakan sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Alloh).
Bapak-bapak hadirin yang berbahagia, tobat itu butuh usaha gak? Tentu saja butuh! Kalau begitu bisa gak orang bertobat sendiri, tanpa belajar?
Ketika orang bertobat tentu ia akan Belajar kembali kepada tuntunan Alloh. Belajar itulah yang disebut Datang kepada orang yang Telah Kembali. Alloh Swt. Berfirman dalam QS. An Nisa:64, "Wamaa arsalnaa min rosuulin illaa liyu thoo'a bi idznillaah. Walau annahum idz zholamuu anfusahum jaa- uka fastaghfarulloha was taghfaro lahumur rosuulu lawa jadulloha tawaabar rohiima". (Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).
Maka dari itu datangi pengajian, belajar, cari guru yang akan membimbing kita. "Wattabi' sabiila man anaaba ilayya" (Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-ku). (QS. Luqman:15).
Orang yang telah kembali yang harus kita ikuti, itulah Mursyid. Sehingga Orang yang mengikuti Mursyid itulah disebut orang yang bertobat dan mendapat petunjuk Alloh. "Man yahdhillaahu fahuwal muhtadi, waman yudhlil falan tajidalahuu waliyyan mursyiida" (Barangsiapa yang mendapatkan petunjuk maka ialah yang mendapat petunjuk. Barangsiapa yang disesatkan oleh Alloh maka ia tidak akan mendapatkan orang yang memapu memberi petunjuk kepadanya". QS. Al Kahfi:17.
Kemudian Wal Faaizin, artinya Menang.
Di dalam Surat Al Hasyr:18-20, "Yaa ayyuhalladziina aamanut taqulloha wal tan zhur nafsummaa qoddamat lighod. Wattaqulloh innalloha khobiirun bimaa ta'maluuna. Wala takuunuukal ladziina nasulloha fa ansaahum an fusahum. Ulaa ika humul faasikuuna. Laa yastawii ash haabunnaari wa ash haabul jannati. Ash haabul jannati humul faaizuuna". (Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Alloh. Dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok. Bertaqwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kalian seperti orang yang lupa kepada Alloh, lalu Alloh membuat mereka lupa pada dirinya, mereka itulah orang-orang yang fasik. Tidaklah sama penghuni neraka dengan penghuni surga, penghuni surga itulah orang yang menang (beruntung).
Jalan taqwa itulah jalan Mursyid, mengapa? Karena Mursyidlah yang menunjukan letak taqwa itu dimana? "At Taqwa haahuna" (Taqwa itu di sini/qolbu). "Alaa inna fil jasaadi mudhghoh, idzaa sholuhat, sholuhal jasadu kulluhu, wa idzaa fasadat, fasadal jasadu kulluhu, 'alaa wahiyal qolbu". Hatinya baik maka baiklah seluruh jasadnya. Sehingga orang yang Baik itulah orang yang Taqwa. Orang yang taqwa ialah orang yang selalu Mengingat Alloh, baik secara Jahar (Nyata) maupun Khofi (sembunyi) Alloh mengetahuinya. Dengan dzikirnya itulah ia senantiasa Muhasabah (introspeksi) sehingga ia selalu merasa bersama (dilihat) Alloh (Muroqobah). Sebaliknya orang yang Lupa kepada Alloh itulah orang yang Fasik.
Nah itulah mengapa pengersa Abah Aos mengatakan, Idul Fitri itu adalah Talqin Dzikir, yaitu untuk mengingat kembali kepada Alloh. Tidak akan Idul Fitri kalau tidak ditalqin. Sama halnya tidak ketemu lay latul qodar kalau tidak ditalqin dzikir.
Man qoola Laa Ilaaha Illaloh dakholal jannah (Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh pasti masuk surga). Orang yang masuk surga itulah orang yang Faaiz (menang).
Mahmud J. Al Maghribaen
Manaqib MTQN Panongan, 23 Juli 2017
Mahmud J. Al Maghribaen
Manaqib MTQN Panongan, 23 Juli 2017
23.37
JANJI ALLOH ADALAH PASTI BUKAN INSYA ALLOH
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 22 Februari 2017 | 23.37
JANJI ALLOH ADALAH PASTI BUKAN INSYA ALLOH
Sejak akhir bulan Januari saya memang sangat suka dan sering sekali menceritakan Manqobah ke 15. Bukan kebetulan kalau Abah juga mengeluarkan Maklumat agar membaca Manqobah ini sebanyak 15 kali manaqib.
Ada seorang Sahabat saya ketika saya sampaikan hadits "Man qoola Laa Ilaaha Illalloh dakholatul jannah" (Barang siapa mengucapkan Laa Ilaaha Illalloh Pasti masuk Surga). Saya katakan "PASTI", tapi Sahabat saya menjawab "Insya Alloh".
Lalu saya sampaikan Firman Alloh: "Innalloohas taroo minal mukminiina anfusahum wa amwalahum bi 'anna lahumul jannah".
Kemudian saya tanya, ayat tersebut menurut Bapak Insya Alloh atau Pasti. Beliau jawab, "Insya Alloh". Lalu saya sampaikan kembali Firman Alloh: "Waman aufa bi'ahdihii minallooh?"
Inilah sekelumit cerita tentang perjalanan Thoriqoh, seeorang tidak akan sampai ke tingkat "Haqqul yaqin" kepada Alloh jika tidak "Haqqul yaqin" kepada Guru Mursyid.
Diceritakan seorang Murid perempuan yg berprofesi sebagai Nelayan pergi melaut sambil membawa anaknya. Namun malang, anaknya tenggelam ke dasar laut. Perempuan itu adalah seorang murid yang sudah Haqqul yakin kepada Gurunya. Mendapat musibah tersebut, ia tidak datang ke Tim Sar tapi datang ke Gurunya, yakin bahwa Gurunya mampu mengembalikan anaknya yang tenggelam. "Wahai Guruku yang Agung, engkau mampu menghidupkan kembali anakku yang tenggelam".
Seorang Guru yang bertanggung jawab Dunia Akhirat terhadap muridnya, per detik langsung memenuhi hajat muridnya, tidak sempat untuk berfikir, dia langsung mengambil tanggung jawab itu. "Baik, pulanglah anakmu sudah di rumah". Seorang murid yang haqqul yakin juga tidak sempat berfikir, langsung pulang. Namun sesampainya di rumah anaknya belum ada. Dia lantas kembali lagi kepada Gurunya, sedikitpun tidak terlintas keraguan, kembali dia mengadukan, "Wahai Guru Agungku, anakku belum ada". Kembali Gurunya menyanggupi hajat muridnya, "Pulanglah, sekarang sudah ada". Dengan patuh ia pun kembali, namun anaknya masih belum ada. Hal tersebut tidaklah menggoyahkan keyakinannya, kembali ia datang ke Gurunya dan mengadukan, "Masih belum ada". Lalu Gurunya menunduk sejenak, "Sekarang pulanglah, pasti anakmu sudah di rumah".
Bersabda Tuan Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul, Qs. "Manqobah itu juga berlaku terhadap Syekh yang ada ditengah-tengah kita sekarang".
Suatu ketika, saya mempunyai hajat namun sulit, sejak pagi sampai waktu maghrib belum ada solusinya, ternyata saya seharian lupa kepada Guru Agungku pengersa Abah Aos. Menjelang waktu 'Isya saya robithoh, mengadukan masalahku kepada beliau, "Abah, saya mempunyai hajat, namun saya tidak yakin apakah saya mampu untuk mewujudkannya". Seketika, nampak jelas (ebreh-ebreh) 'ceto welo-welo' (meminjam istilah Abah Dahlan Iskan), kata Abah, "Mau, ambil".
Alhamdulillaah, seketika juga akhirnya aku mampu meraih apa yang menjadi hajatku. Baru kemudian aku teringat bahwa pengersa Abah pernah menyampaikan sebuah hadits Qudsi, "Annalloohu laa ilaaha illaa ana, aquulu lisyai'i kun fayakun. Athi'ni aj'aluka taquulu lisyai'i kun fayakun". (Aku adalah Alloh, tiada Tuhan selain Aku, jika Aku menginginkan sesuatu itu Jadi maka Jadilah sesuatu. Taatlah kamu kepada Ku, jika kamu ingin sesuatu Jadi maka Jadilah sesuatu).
Kata Guruku, "Jika kamu mau, ambillah". Itulah Guru Agung yang tidak akan pernah menolak semua hajat murid-muridnya. Kun (ada) Fayakun (maka ada). Artinya, semua itu sudah ada, Alloh sudah mempersiapkan segala kebutuhan hamba-hambaNya. Kalau hambaNya taat maka Alloh akan mewujudkan apa saja yang ingin ia ingin wujudkan (memenuhi segala kebutuhannya).
Itulah makna dari Surga yang telah dijanjikan oleh Alloh, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya". (QS. Al Bayyinah : 7-8).
Dan siapakah yang lebih menepati janji selain dari pada Alloh? Janji Alloh itu Pasti, bahkan sudah. Sabda pengersa Abah, "Surga itu sekarang, bukan nanti. Bahagia itu sekarang, bukan nanti. Yang mau kaya datang ke Sini, yang mau sehat datang ke Sini".
Alhamdulillaah... terima kasih Abah... sepenuh langit dan bumi.. Surga adalah selalu bersama Mu di Sini..
(Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa).
Mahmud J al-Maghribaen, 23-2-2017
(Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa).
Mahmud J al-Maghribaen, 23-2-2017
03.27
MAKNA "HALAL BI HALAL"
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 03 Agustus 2016 | 03.27
Halal Bihalal adalah budaya di Indonesia, khususnya umat Islam setelah melaksanakan Puasa Romadhan, sebagian umat Islam melaksanakan acara Halal Bihalal, baik di lingkungan perumahan, di Instansi dan tempat kerja masing-masing.
Menurut M. Quraish Shihab di dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al Qur'an (lihat : http://www.islamnyamuslim.com/2013/07/pengertian-dan-makna-halalbihalal.html), setidaknya ada tiga pengertian Halal Bihalal, yaitu :
- Kata Halal Bihalal berasal dari kata 'halla' atau halal yang bisa berarti menyelesaikan persoalan atau problem, meluruskan benang kusut, mencairkan air yang keruh, dan melepaskan ikatan yang membelenggu.
- Kata Halal digunakan sebagai lawan dari kata haram dan makruh. Dengan pengertian ini maka Halal Bihalal mengandung arti kekinian setiap orang yang berhalalbihalal untuk membebaskan diri dari perbuatan yang haram dan makruh, atau membebaskan diri dari perbuatan dosa.
- Kata Halal Bihalal bisa digunakan untuk menjelaskan pesan yang dikandung oleh tradisi tersebut. Dalam konteks ini halalbihalal merupakan media yang paling efektif untuk merajut kembali hubungan yang membeku dengan cara saling memaafkan dan menyadari kekhilafan masing-masing.
Setelah bulan Romadhan berlalu, memasuki bulan Syawal, khususnya tanggal 1-2 Syawal ('Idul Fitri), umat Islam di saling kunjung-mengunjungi untuk saling maaf-memaafkan (Halal Bihalal). Dalam berhalal bihalal, sebagai ungkapan rasa, masyarakat Islam terbiasa mengucapkan "Minal 'Aidin wal Faaizin, mohon maaf lahir dan batin".
Tentang Maaf-Memaafkan
Tentang Maaf-Memaafkan
Di kalangan umat Islam, masih banyak yang memahami, bahwa kewajiban kita adalah meminta maaf, bukan memaafkan kesalahan orang lain. Pemahaman yang benar adalah, kita harus memaafkan kesalahan orang lain, bahkan sebelum orang tersebut meminta maaf kepada kita.
Firman Alloh Swt., "... Fa'fu'anhum wastghfirlahum..." Artinya, "Karena itu maafkanlah mereka, dan mohonkanlah ampun bagi mereka". (QS. Ali Imron (3) : 159).
Sangat jelas dalam ayat tersebut bahwa, kita selaku umat Islam, diperintahkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Sebagaimana Firman Alloh Swt. "Khudzil afwa wa'mur bil 'urfi wa a'ridh 'aanil jaahiliina". Artinya, "Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh".
Juga Firman Alloh Swt., "...Wal ya'fuu wal yashfahuu alaa tuhibbuuna ayyaghfirollohu lakum..". Artinya, ".. Dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?".
Namun demikian, bahaya dosa kepada sesama manusia sangatlah besar. Bahkan Alloh tidak akan mengampuni dosa hamba sesama manusia, sebelum manusia tersebut saling maaf-memaafkan, sebagaimana Hadits Rasululloh Saw. dari Anas bin Malik r.a. : "Kezaliman itu terbahagi kepada tiga. Pertama kezaliman tidak diampunkan Allah. Kedua kezaliman diampunkan Allah dan ketiga kezaliman yang Allah tidak ikut campur dalam hal itu. Kezaliman tidak diampunkan Allah adalah syirik. Kezaliman diampunkan Allah adalah dosa manusia ke atas dirinya dan tuhannya. Kezaliman yang Allah tidak ikut campur adalah dosa di antara manusia dengan manusia, sehingga mereka menyelesaikannya terlebih dulu".
Hadits Rosululloh Saw. "Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari).
Berkata Sayyid Abah Aos, "Ada dosa yang tidak diampuni oleh Alloh, tapi bisa hilang karena diambil oleh orang lain, manakala ia dighibah maka dosanya dipikul oleh orang yang mengghibahnya".
Terkait dengan hal ini, ada orang yang berkata, "Yang penting kan saya sudah minta maaf, kalau dia tidak memaafkan, itu urusan dia". Ungkapan ini, kalau ditelaah tidaklah sesederhana itu, justru kita harus khawatir kalau-kalau kesalahan kita tidak dimaafkan olehnya. Maka dari itu, berhati-hatilah kita dalam bertindak, jangan sampai kita zholim terhadap orang lain.
Tentang Minal 'Aidin wal Faaizin
Secara bahasa, minal 'aidin artinya adalah 'orang-orang yang kembali', sedangkan wal faaizin, adalah 'menang/beruntung'.
Tentang ucapan ini, sebagian umat Islam mempermasalahkan ucapan ini, bahkan ada yang menuduh bahwa ucapan tersebut adalah termasuk perkara yang Bid'ah. Mengingat tidak ada satu riwayat pun dari Nabi Muhammad Saw. tentang bagaimana ucapan beliau ketika bersalaman di Hari Raya 'Idul Fitri. Namun ada riwayat dari para Sahabat, bahwa mereka mengucapkan, "Taqobbalallohu Minna wa Minkum". Artinya, "Semoga Alloh menerima amalku dan amal kalian".
Sebenarnya tidaklah salah kalau kita mengucapkan Minal 'Aidin Wal Faazin, kalau hal tersebut kita yakini sebagai Do'a kita kepada orang yang kita ajak bersalaman. Yang salah adalah, jika ucapan tersebut kita yakini sebagai aturan Syar'i yang dicontoh oleh Rosululloh Saw. Sepanjang hal tersebut kita yakini sebagai doa, maka ucapan tersebut bukanlah termasuk perkara yang Bid'ah. Jadi kita, umat Islam khususnya di Indonesia tidak perlu ragu untuk mengucapkan Minal 'Aidin Wal Faaizin ketika kita berlebaran. Ucapan Minal 'Aidin Wal Faaizin, kita yakini sebagai doa kepada saudara kita bahwa kita berprasangka baik kepadanya karena telah melaksanakan Ibadah Puasa di Bulan Romadhan.
Pertanyaannya adalah, siapa yang sudah kembali? dan bagaimana orang yang menang/beruntung?
Orang-orang yang kembali :
Orang yang sudah kembali adalah orang-orang yang telah mampu mengendalikan Hawa Nafsunya. Coba kita perhatikan Firman Alloh sbb:
"Yaaa ayyatuhan-nafsul muthma-innatu irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyatan fadkhulii fii 'ibaadii wadkhulli jannati". Artinya, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di Ridhoi-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syuga-Ku". (QS. Al Fajr (89) : 27-30).
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang senantiasa berdzikir kepada Alloh, sebagaimana Firman-Nya, "Alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikrillaahi alaa bidzikrillaahi tathma-innu alquluubu". Artinya, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram". (QS. Ar Ra'du (13) : 28).
Orang yang senantiasa berdzikir kepada Alloh adalah orang yang beruntung, sebagaimana Firman-Nya, "Qod aflaha man tazakkaa wadzakarosma Robbihii fashollaa". Artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sholat". Dan Firman-Nya, "Qad aflaha man zakkaahaa". Artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu". (QS. Asy Syamsi (91) : 9).
Untuk membersihkan diri/jiwa adalah dengan cara selalu mengingat Alloh Swt. (Dzikrulloh), sebagaimana Firman-Nya, "Wadzkur Robbaka fii nafsika tadharru'an wakhiifatan waduunaal jahri minalqauli bil ghuduwwi waal-ashooli walaa takun minal ghaafiliina". Artinya, "Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termask orang-orang yang lalai". (QS. Al A'raaf (7) : 205).
Bagaimana caranya berdzikir?
Berdzikir harus melalui Talqin Dzikir, sebagaimana Sabda Rosululloh Saw., "Laqqinuu mautakum bi LAA ILAAHA ILLALLOH". Artinya, "Talkinkan (ajarkan) oleh kamu kepada orang yang akan mati, dengan LAA ILAAHA ILLALOH". (Al Hadits).
Jadi kesimpulannya, orang yang kembali adalah orang yang sudah di talqin dzikir dan sudah mampu mengendalikan dirinya (nafsunya) dengan selalu berdzikir, lalu ia mengenal Tuhannya dengan cara senantiasa berdzikir kepada Alloh.
Jadi kesimpulannya, orang yang menang atau beruntung adalah orang yang telah selamat dari Neraka dan telah masuk ke Syurga. Sebagaimana Firman-Nya, "Laa yastawii ash-haabun-naari wa-ash-haabul jannati ash-haabul jannati humul faa-izuuna" Artinya, "Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung". (QS. Al Hasyr (59) : 20).
Hadist Rosululloh Saw., "Man Qoola LAA ILAAHA ILLALLOH dakholatul jannah". Artinya, "Barang siapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALOH pasti masuk Syurga".
Kuncinya Syurga adalah LAA ILAAHA ILLALOOH.
Itulah Makna Halal Bi Halal.
Sangat jelas dalam ayat tersebut bahwa, kita selaku umat Islam, diperintahkan untuk memaafkan kesalahan orang lain. Sebagaimana Firman Alloh Swt. "Khudzil afwa wa'mur bil 'urfi wa a'ridh 'aanil jaahiliina". Artinya, "Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh".
Juga Firman Alloh Swt., "...Wal ya'fuu wal yashfahuu alaa tuhibbuuna ayyaghfirollohu lakum..". Artinya, ".. Dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?".
Namun demikian, bahaya dosa kepada sesama manusia sangatlah besar. Bahkan Alloh tidak akan mengampuni dosa hamba sesama manusia, sebelum manusia tersebut saling maaf-memaafkan, sebagaimana Hadits Rasululloh Saw. dari Anas bin Malik r.a. : "Kezaliman itu terbahagi kepada tiga. Pertama kezaliman tidak diampunkan Allah. Kedua kezaliman diampunkan Allah dan ketiga kezaliman yang Allah tidak ikut campur dalam hal itu. Kezaliman tidak diampunkan Allah adalah syirik. Kezaliman diampunkan Allah adalah dosa manusia ke atas dirinya dan tuhannya. Kezaliman yang Allah tidak ikut campur adalah dosa di antara manusia dengan manusia, sehingga mereka menyelesaikannya terlebih dulu".
Hadits Rosululloh Saw. "Barangsiapa yang mempunyai kezhaliman kepada saudaranya mengenai hartanya atau kehormatannya, maka diminta dihalalkanlah kepadanya dari dosanya itu sebelum datang hari di mana nanti tidak ada dinar dan dirham (hari kiamat), di mana akan diambil dari pahala amal kebaikannya untuk membayarnya. Kalau sudah tak ada lagi amal kebaikannya, maka akan diambil dari dosa orang yang teraniaya itu, lalu dipikulkan kepada orang yang menganiaya itu” (HR. Bukhari).
Berkata Sayyid Abah Aos, "Ada dosa yang tidak diampuni oleh Alloh, tapi bisa hilang karena diambil oleh orang lain, manakala ia dighibah maka dosanya dipikul oleh orang yang mengghibahnya".
Terkait dengan hal ini, ada orang yang berkata, "Yang penting kan saya sudah minta maaf, kalau dia tidak memaafkan, itu urusan dia". Ungkapan ini, kalau ditelaah tidaklah sesederhana itu, justru kita harus khawatir kalau-kalau kesalahan kita tidak dimaafkan olehnya. Maka dari itu, berhati-hatilah kita dalam bertindak, jangan sampai kita zholim terhadap orang lain.
Tentang Minal 'Aidin wal Faaizin
Secara bahasa, minal 'aidin artinya adalah 'orang-orang yang kembali', sedangkan wal faaizin, adalah 'menang/beruntung'.
Tentang ucapan ini, sebagian umat Islam mempermasalahkan ucapan ini, bahkan ada yang menuduh bahwa ucapan tersebut adalah termasuk perkara yang Bid'ah. Mengingat tidak ada satu riwayat pun dari Nabi Muhammad Saw. tentang bagaimana ucapan beliau ketika bersalaman di Hari Raya 'Idul Fitri. Namun ada riwayat dari para Sahabat, bahwa mereka mengucapkan, "Taqobbalallohu Minna wa Minkum". Artinya, "Semoga Alloh menerima amalku dan amal kalian".
Sebenarnya tidaklah salah kalau kita mengucapkan Minal 'Aidin Wal Faazin, kalau hal tersebut kita yakini sebagai Do'a kita kepada orang yang kita ajak bersalaman. Yang salah adalah, jika ucapan tersebut kita yakini sebagai aturan Syar'i yang dicontoh oleh Rosululloh Saw. Sepanjang hal tersebut kita yakini sebagai doa, maka ucapan tersebut bukanlah termasuk perkara yang Bid'ah. Jadi kita, umat Islam khususnya di Indonesia tidak perlu ragu untuk mengucapkan Minal 'Aidin Wal Faaizin ketika kita berlebaran. Ucapan Minal 'Aidin Wal Faaizin, kita yakini sebagai doa kepada saudara kita bahwa kita berprasangka baik kepadanya karena telah melaksanakan Ibadah Puasa di Bulan Romadhan.
Pertanyaannya adalah, siapa yang sudah kembali? dan bagaimana orang yang menang/beruntung?
Orang-orang yang kembali :
Orang yang sudah kembali adalah orang-orang yang telah mampu mengendalikan Hawa Nafsunya. Coba kita perhatikan Firman Alloh sbb:
"Yaaa ayyatuhan-nafsul muthma-innatu irji'ii ilaa rabbiki raadiyatan mardhiyyatan fadkhulii fii 'ibaadii wadkhulli jannati". Artinya, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di Ridhoi-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam syuga-Ku". (QS. Al Fajr (89) : 27-30).
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang senantiasa berdzikir kepada Alloh, sebagaimana Firman-Nya, "Alladziina aamanuu watathma-innu quluubuhum bidzikrillaahi alaa bidzikrillaahi tathma-innu alquluubu". Artinya, "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram". (QS. Ar Ra'du (13) : 28).
Orang yang senantiasa berdzikir kepada Alloh adalah orang yang beruntung, sebagaimana Firman-Nya, "Qod aflaha man tazakkaa wadzakarosma Robbihii fashollaa". Artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sholat". Dan Firman-Nya, "Qad aflaha man zakkaahaa". Artinya, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu". (QS. Asy Syamsi (91) : 9).
Untuk membersihkan diri/jiwa adalah dengan cara selalu mengingat Alloh Swt. (Dzikrulloh), sebagaimana Firman-Nya, "Wadzkur Robbaka fii nafsika tadharru'an wakhiifatan waduunaal jahri minalqauli bil ghuduwwi waal-ashooli walaa takun minal ghaafiliina". Artinya, "Dan sebutlah (nama) Tuhannmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termask orang-orang yang lalai". (QS. Al A'raaf (7) : 205).
Bagaimana caranya berdzikir?
Berdzikir harus melalui Talqin Dzikir, sebagaimana Sabda Rosululloh Saw., "Laqqinuu mautakum bi LAA ILAAHA ILLALLOH". Artinya, "Talkinkan (ajarkan) oleh kamu kepada orang yang akan mati, dengan LAA ILAAHA ILLALOH". (Al Hadits).
Jadi kesimpulannya, orang yang kembali adalah orang yang sudah di talqin dzikir dan sudah mampu mengendalikan dirinya (nafsunya) dengan selalu berdzikir, lalu ia mengenal Tuhannya dengan cara senantiasa berdzikir kepada Alloh.
Bagaimana agar kita bisa menang?
- Kita harus beriman yang benar, percaya kepada Alloh (LAA ILAAHA ILLALLOH), Sebagaimana Hadits, Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillalloh’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim). Iman yang benar adalah, meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan melaksanakan dengan perbuatan. Beriman kepada Alloh, kosekuensinya adalah mentaati perintah-Nya yaitu percaya kepada malaikat, percaya kepada kitabulloh, percaya kepada rosululloh, percaya kepada hari kiamat, dan percaya kepada ketetpan baik dan buruk (enam rukun iman).
- Senantiasa berhijrah dari keburukan menuju kepada kebaikan.
- Senantiasa berjihad, yaitu berjuang dengan harta, benda, dan jiwa.
Sebaimana Firman-Nya :
"Alladziina aamanuu wahaajaruu wajaahaduu fii sabiilillaahi bi-amwaalihim wa-anfusihim a'zhamu darajatan 'indallaahi wa ulaa-ika humul faa-izuuna". Artinya, "Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan". (QS. At Taubah (9) : 20).
Jadi kesimpulannya, orang yang menang atau beruntung adalah orang yang telah selamat dari Neraka dan telah masuk ke Syurga. Sebagaimana Firman-Nya, "Laa yastawii ash-haabun-naari wa-ash-haabul jannati ash-haabul jannati humul faa-izuuna" Artinya, "Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah; penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung". (QS. Al Hasyr (59) : 20).
Hadist Rosululloh Saw., "Man Qoola LAA ILAAHA ILLALLOH dakholatul jannah". Artinya, "Barang siapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALOH pasti masuk Syurga".
Kuncinya Syurga adalah LAA ILAAHA ILLALOOH.
Itulah Makna Halal Bi Halal.
02.10
Di Malaysia, hanya 6 keterangan. Profesor menghadapi Kiyai di sana sudah sampai 1 jam, sudah sampai jam satu (dini hari). Satu jam debat alot, debat kusir namanya. Masalahnya adalah, “Laa Ilaaha Illalloh” tidak sempurna kalau tidak diteruskan Muhammadur Rosululloh”, hanya segitu. Jadi kesempurnaan dzikir Laa Ilaaha Illalloh itu kalau diteruskan Muhammadur Rosululloh, itu kata Ulama wakil dari 83 Ulama dari 83 Desa, di Sabah.
Permainan Abah Anom : Hanya 5 Menit Abah Aos Membungkam 83 Ulama
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 20 Juli 2016 | 02.10
"Permainan" Abah Anom
Hanya 5 Menit Abah Aos "Membungkam" 83 Ulama
Hanya 5 Menit Abah Aos "Membungkam" 83 Ulama
Di Malaysia, hanya 6 keterangan. Profesor menghadapi Kiyai di sana sudah sampai 1 jam, sudah sampai jam satu (dini hari). Satu jam debat alot, debat kusir namanya. Masalahnya adalah, “Laa Ilaaha Illalloh” tidak sempurna kalau tidak diteruskan Muhammadur Rosululloh”, hanya segitu. Jadi kesempurnaan dzikir Laa Ilaaha Illalloh itu kalau diteruskan Muhammadur Rosululloh, itu kata Ulama wakil dari 83 Ulama dari 83 Desa, di Sabah.
Dari Suryalaya, Profesor DR. Juhaya S. Praja, beliau ini masih ada sekarang, bisa ditanyakan, apakah betul 1 Jam, sudah sampai demplek? Kalau sudah pada loyo, dia lupa kesepakatan awal, bahwa Tim harus hadir semua, jika dibuka tanya jawab, kalau tidak terjawab, kita jawab ramai-ramai. Beliau lupa, dihadapi terus.
Akhirnya Abah memaksakan diri, mencolek betisnya Profesor. Sontak Profesor berdiri, “Oh ya, ini ada Ajengan ‘daripada’ Gaos ingin menambahkan”. Coba perhatikan bahasanya, “Ajengan daripada Gaos”, itu saking gugupnya ketika dicolek itu.
“Oh tidak, tidak ingin menambahkan”, kata Abah. Sudah satu jam, sudah banyak, saya cuma mau pinjam ‘mic’ nya saja. Lalu diambil spidolnya dan menulis di papan, sebagai berikut :
1 “Fa’lam annahu Laa Ilaaha Illalohu wastaghfir lidzambika wa lilmu’miniina wal mu’minaat..”. (QS. Muhammad (47) : 19).
2 “Innahum kaanuu idzaa qiilalahum Laa Ilaaha Illalohu yastakbiruuna”. (QS. Ash Shooffaat (37) : 35).
3 “Jaddiduu Imanakum, bi katsrotin Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
4 “Afdholu ma qultu ana wan nabiyyuuna min qabli Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
5 “Laqqinuu mautakum Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
6 “Man kana akhiru kalamihi Laa Ilaaha Illaloh, dakholatul jannah”. (Al Hadits).
1 “Fa’lam annahu Laa Ilaaha Illalohu wastaghfir lidzambika wa lilmu’miniina wal mu’minaat..”. (QS. Muhammad (47) : 19).
2 “Innahum kaanuu idzaa qiilalahum Laa Ilaaha Illalohu yastakbiruuna”. (QS. Ash Shooffaat (37) : 35).
3 “Jaddiduu Imanakum, bi katsrotin Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
4 “Afdholu ma qultu ana wan nabiyyuuna min qabli Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
5 “Laqqinuu mautakum Laa Ilaaha Illaloh”. (Al Hadits).
6 “Man kana akhiru kalamihi Laa Ilaaha Illaloh, dakholatul jannah”. (Al Hadits).
Lalu, kata Abah, “Kiyai kesini, ini spidolnya, silahkan ditambahkan disini “Muhammadur Rosululloh”, ini Surat Muhammad kekurangan, ada yang menjarah ini, ternyata Qur’an Shugro itu bohong, ini terlihat nomornya, tapi gak ada.., katanya Alloh Sempurna, ternyata Alloh kekurangan ini,? Spontan Kiyai itu menjawab, “Oh tidak-tidak”, sambil mengangkat tangan. Kata Abah, katanya kurang sempurna, ini kurang ini, silahkan ditambahkan. “Oh, tidak-tidak”, katanya. Lalu bagaimana?, kata Abah. Toleh kanan, toleh kiri, akhirnya Talqin semuanya.
Hanya 5 menit bapak..., ini permainan Abah Anom. Yang ini mah hanya gerak lidah saja. Sejak tahun ’83 lidah ini sudah lidah Abah Anom, mulut ini sudah mulut suci Abah Anom, suara keluar dari sini, suara suci Abah Anom, yang wajib didengar oleh telinga ini, orang lain mau dengar silahkan, tidak mau dengan terserah, itu telinganya sendiri-sendiri, Tapi yang wajib mendengar adalah telinga yang ini, telinga kanan dan telinga kiri. Sampai hari ini pun, tidak pernah mendengar suara siapa pun, kecuali suara Abah Anom.
23.44
TIDAK PUNYA APA-APA, TIDAK TAHU APA-APA, TIDAK MAU APA-APA
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 22 Juni 2016 | 23.44
Rahasia 2 Maghrib
Sabda Abah Aos: "Alhamdulillaah pada bulan ini, dinaikkan Manaqib, Abah memohon kepada Alloh agar Ki Jonsen, Mahmud Jonsen Al Maghribain, pada hari ini, mohon bantu Abah untuk mengembangkan TQN Pondok Pesantren Suryalaya kepada siapa saja yang MAU dan MINTA. Jadi Abah tugaskan BERAT TAPI MULIA, mudah-mudahan diterima oleh Alloh Ta'ala.
Hari ini 6 Romadhon 1437 H, Abah mengangkat PETANI POHON ANTI GEMPA, semoga Alloh berkahi, al Faatihah"..... Aamiin.
00.04
HIKMAH BUKA PUASA BERSAMA
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 08 Juni 2016 | 00.04
HIKMAH BUKA PUASA BERSAMA
| By: Achmad Fathir |
Kutipan ceramah saat melaksanakan amanah sebagai badal dari Almukarrom al Ustadz Kiyai Muhammad Bakri Alwi (Tuan Guru ) di Majelis Ta’lim Jembo Cable, 07 Juni 2016.
Alhamdulillah puji syukur ke Hadirot Alloh SWT. karena pada tahun ini, bulan ini, jam ini, detik ini, kita masih diberikan kesempatan oleh Alloh untuk beribadah puasa di bulan Suci Romadhon. Diharapkan dengan beribadah puasa di bulan Romadhon, kita menjadi hamba yang bertaqwa kepada Alloh SWT. Taqwa ialah menjalankan segala perintah Alloh dan menjauhi segala larangan Alloh. Kalau di bulan yang lain kita mampu menjalankan ‘sepuluh’ perintah Alloh, setelah Romadhon menjadi ‘limabelas’, kalau di bulan yang lain kita mampu menjauhi larangan Alloh ‘sepuluh’, setelah Romadhon menjadi ‘duapuluh’? atau ‘duabelas’?
Ternyata menjauhi larangan itu sepertinya lebih sulit daripada melaksanakan perintah, maka dahulu saya diijazahkan oleh Guru kita Kyai Muhammad Bakri Alwi, ketika itu saya minta saran beliau bagaimana caranya agar kita selalu dapat taat kepada Alloh. Beliau menjawab, “Beribadah jangan sendiri, tapi libatkan Alloh bersama kita’. Kemudian beliau mengajar sebuah doa, “Allohumma arinal haqqo haqqon warzuqnat tiba’ah, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj tinabah” (Ya Allah Tunjukilah kami kebenaran dan berikan kami jalan untuk mengikutinya, dan tunjukanlah kami kebatilan dan berikan kami jalan untuk menjauhinya).
Kita semua yang hadir disini tentu masih banyak bermaksiat kepada Alloh, hanya saja Alloh menutupi aib kita sehingga kita terlihat sebagai orang yang sholeh. Untuk itu maka, janganlah suka menceritakan aib orang lain, kalau aib kita ingin ditutupi oleh Alloh. Sebagaimana Rosululloh SAW. bersabda, “Man sattaro musliman, sattarohu Alloh” (Barangsiapa menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya).
Memang terkadang godaannya luar biasa agar kita menceritakan aibnya orang lain, ada orang yang senang sekali menceritakan aib orang lain, seolah-olah semua orang tidak ada benarnya di mata dia. Untuk itu, di bulan Romadhon ini kita di didik agar terhindah dari hal-hal yang bersifat ghibah. Sabda Rosululloh SAW. “Atadruuna maalghiibatu, qooluu, "Allohu wa rosuuluhu a'lamu, qoola, "Dzikruka akhooka bimaa yakrohu, qoola, "Afaro aita inkaana fii akhii maa aquulu? Qoola, "Inkaana fiihii maa taquulu faqod aghtabtahu wa illam yakun fiihi faqod bahattahu” (Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab: “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya.” Nabi berkata: “Engkau membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang dia benci.” Ada yang bertanya: “Bagaimana pendapat anda jika padanya ada apa saya bicarakan?” Beliau menjawab: “Jika ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau telah mengghibahnya, dan jika tidak ada padanya apa yang engkau bicarakan maka engkau berbuat fitnah terhadapnya).
Jelas sekali, meskipun yang diceritakan adalah benar adanya, itu adalah ghibah, apa lagi tidak benar adanya, maka itu adalah fitnah. Hati-hati, fitnah lebih kejam daripada ‘pembunuhan’. Bisa jadi engkau bertobat dan meminta maaf atas fitnah yang telah kamu lakukan, namun engkau tidak mampu untuk mengendalikan kabar yang telah engkau hembuskan, ia seperti bulu-bulu yang sudah terbang ditiup angin, niscaya engkau tak kan mampu untuk memungutnya kembali.
Alloh SWT. telah berfirman, “Walaa tajassasuu walaa yaghtab ba'dhukum ba'dhan ayuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhiihi maytan fakarihtumuuhu waittaquu allaaha inna allaaha tawwaabun rahiimun” (Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang).
Itulah diantara hikmah puasa di bulan Romadhon. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, namun ia juga harus memelihara mulut, mata, dan telinga. Bisa jadi ia berpuasa, yaitu mulai dari terbit fajar hinggga terbenamnya matahari, namun ia tidak mendapatkan pahala dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan haus. Sabda Rosululloh SAW. “Kam min shoimin laisa lahuu min shiyaamihi illaljuu’ wal athos” (Banyak orang berpuasa tapi tidak mendapatkan pahala berpuasa, yang ia dapatkan hanya lapar dan dahaga).
Makan sahur disunnahkan dalam puasa, namun jika seseorang tidak sempat sahur, maka puasanya tetaplah syah asalkan sudah ada niat untuk berpuasa keesokan harinya sebelum terbit fajar. Kalau tidak ada niat untuk berpuasa sebelumnya, kemudian ia kesiangan, maka puasanya tidaklah syah. Berbeda dengan puasa sunnah, meskipun tidak ada niat sebelumnya untuk berpuasa, kemudian keesokan harinya dia ingin berpuasa maka syah puasanya.
Sebagai upaya agar puasa kita berhasil, setidaknya ada beberapa persiapan yang harus kita lakukan :
- Persiapan Ruh atau jiwa atau hati. Menyambut bulan romadhon ini hati kita harus merasa gembira. Sabda Rosululloh SAW. “Man fariha bidukhuuli romadhoona, harromallohu jasadahu ‘alanniiron” (Barangsiapa merasa gembira dengan masuknya bulan romadhon, Alloh mengharamkan jasadnya masuk api neraka). Dan juga sabda Nabi SAW. “Man shouma romadhoona imaanan wahti sya’ban, ghufirolahu maa taqoddama min dzambik” (Barangsiapa puasa di bulan romadhon karena iman dan mengharapkan perhitungan (pahala) dari Alloh, maka Alloh akan mengampuni dosanya yang telah lalu).
- Persiapan ilmu. Agar puasa kita sempurna, tentu kita harus memiliki ilmu tentang puasa romadhon. Firman Alloh SWT. QS. Al Baqoroh : 183-184 : “Yaa ayyuhaa alladziina aamanuu kutiba 'alaykumu alshshiyaamu kamaa kutiba 'alaa alladziina min qablikum la'allakum tattaquuna, ayyaaman ma'duudaatin faman kaana minkum mariidhan aw 'alaa safarin fa'iddatun min ayyaamin ukhara wa'alaa alladziina yuthiiquunahu fidyatun tha'aamu miskiinin faman tathawwa'a khayran fahuwa khayrun lahu wa-an tashuumuu khayrun lakum in kuntum ta'lamuuna” (Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui).
- Persiapan fisik. Fisik kita harus jaga, jangan sering ‘begadang’ perbanyaklah ibadah-ibadah sunnah, terutama sholat sunnah rawatib, disamping sholat-sholat sunnah lainnya. Sholat sunnah rawatib yang mu’akkadah ada sepuluh rakaat, yaitu; 2 rakaat sebelum sholat shubuh, 2 rakaat sebelum sholat dhuhur, 2 rakaat setelah sholat dhuhur, 2 rakaat setelah sholat maghrib, dan 2 rakaat setelah sholat isya’. Makanlah makanan yang bergizi, tidak harus mahal tetapi memenuhi kebutuhan gizi, daging bisa diganti dengan tempe atau telur.
- Persiapan Harta. Maksudnya, janganlah hidup berpoya-poya, belanjakan harta sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebih-lebihan.
| By; Achmad Fathir |
03.49
Amalkan, Amankan, Lestarikan : Mengikuti Rosululloh SAW.
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Senin, 16 Mei 2016 | 03.49
Khidmat Manaqib
MENGIKUTI RASULULLAH SAW. KH. Abdul Gaos SM.
Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan oleh Allah Swt. untuk mengikuti Manaqib di Suryalaya ini. Kita tidak tahu apakah besok atau lusa masih diberi kesempatan lagi oleh-Nya untuk hidup. Sabda Nabi Muhammad Saw. "Sesungguhnya kehidupan hari ini adalah hari Akhir, bagi siapa saja yang tidak tidak tahu apakah masih hidup sampai esok". Kalau kita tidak kembali kepada Allah hari ini, kapan lagi? Oleh karena itu kita harus bisa menjaga diri supaya tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan diri kita sendiri. Allah Swt. berfirman :"Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul, melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang".(QS. an-Nisaa' : 64).
Alhamdulillah, kita sudah dipertemukan dengan Tuan Syeikh Ahmad Shohibulwafa Tajul 'Arifin, seorang ulama pewaris para Nabi. Dengan mengamalkan Thoriqoh Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah kita berharap semoga Allah Swt. memberikan ampunan kepada kita. Kita taat kepada semua perintah guru kita pada hakikatnya kita mentaati Rasulullah Saw. Inilah salah satu tugas seorang Guru Mursyid untuk mengajak manusia mengikuti seorang utusan Allah. "Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk". (QS. Yaasiin : 20-21). Pernahkah kita diminta uang oleh Pangersa Abah ketika ikut Manaqiban di Suryalaya? Apakah untuk mendapatkan Talqin Dzikir TQN ini diharuskan membayar sekian rupiah? Tidak!. Jangankan meminta balasan jasa atau upah dari manusia, orang-orang seperti ini, kepada Allah pun tidak pernah meminta upah atau pahala atau ganjaran. Siapapun yang datang dengan membawa dosa dan kesalahan kemudian menemui Abah, maka beliau akan menunjukkan jalan kepada Allah supaya Dia memberikan ampunan-Nya. Thoriqoh inilah jalannya, jalan yang paling dekat kepada Allah, paling mudah dilaksanakan tetapi paling utama menurut Allah Swt. Dengan dzikir ini kita mengharapkan pengampunan dari Allah, kita ingin dibersihkan dari dosa-dosa sehingga kembali suci dan bersih seperti seorang bayi yang baru lahir. Kita tidak ingin dibersihkan oleh Allah Swt. dari dosa dan kesalahan di alam barzah atau di neraka nanti. Tiada lain jalan yang harus kita tempuh adalah mendatangi pengganti Rasulullah Saw. seperti tertulis pada surat an-Nisaa' ayat 64 di atas. Salah satu do'a yang dibaca oleh Tuan Syeikh Abdul Qodir al-Jailani ketika berada di atas sungai Tigris (di atas sungai menghamparkan sajadahnya), "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadamu dengan hak Nabimu Muhammad Saw., janganlah Engkau mencabut nyawa murid-muridku kecuali dalam keadaan taubat". Amalkanlah dzikir ini sesuai dengan tuntunan dan contoh dari Guru Mursyid kemudian sebarluaskan kepada yang lain; "amalkan, amankan, lestarikan", sehingga ketika ajal datang menjemput, mudah-mudahan kita ada dalam keselamatan.
Sumber : http://www.suryalaya.org/manakib-buletin-isi.php?ID=93
|
03.35
"Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang diucapkan oleh nabi-nabi sebelumku yaitu : Laa ilaaha illallaah. "Barang siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas, pasti masuk surga". "Jaddiduu iimaanakum aktsiru min qouli Laa ilaaha illallaah". "Talqinkan kepada orang-orang yang akan mati, kalimat Laa ilaaha illallaah". dll. "Jadi tidak ada muhammadurrosulullah. Kalau tuan mau menambahkannya silahkan saja, berarti tuan telah menambah al-quran dan hadits". Kata saya. Akhirnya ulama tersebut meminta talqin dzikir TQN diikuti oleh ulama yang lainnya.
Amalkan, Amankan, Lestarikan : Alat Pembaharu Iman
ALAT PEMBAHARU IMAN
KH. ABDUL GAOS SM.
KH. ABDUL GAOS SM.
27 tahun yang lalu di Serawak Malaysia, kami pernah diundang oleh para ulama. Dalam salah satu acara tersebut ada seorang ulama yang hanya akan berdzikir dengan kalimat Laa ilaha illallah Muhammadurrosulullah...Laa ilaha illallah Muhammadurrosulullah dst. Kemudian saya memberikan penjelasan bahwa kalimat tersebut ada didalam al-Quran dan al-Hadits tetapi tidak menggunakan Muhammadurrosulullah, diantaranya : surat Muhammad : 19, surat as-saaffaat : 35, serta beberapa hadits Nabi.
"Yang paling utama apa yang aku ucapkan dan apa yang diucapkan oleh nabi-nabi sebelumku yaitu : Laa ilaaha illallaah. "Barang siapa yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas, pasti masuk surga". "Jaddiduu iimaanakum aktsiru min qouli Laa ilaaha illallaah". "Talqinkan kepada orang-orang yang akan mati, kalimat Laa ilaaha illallaah". dll. "Jadi tidak ada muhammadurrosulullah. Kalau tuan mau menambahkannya silahkan saja, berarti tuan telah menambah al-quran dan hadits". Kata saya. Akhirnya ulama tersebut meminta talqin dzikir TQN diikuti oleh ulama yang lainnya.
Tidak ada kalimat lain yang dapat memperbaharui iman kecuali Laa ilaaha illallaah. Alhamdulillah kita telah mendapatkan kalimat ini langsung dari Pangersa Abah Anom yang merupakan silsilah ke-37 TQN pontren Suryalaya. Dalam sebuah hadits diterangkan : "Sesungguhnya Allah akan membangkitkan atau mengutus untuk umat ini setiap 100 tahun seorang peneguh iman umat (pembaharu iman mereka)". (HR. Abu Dawud, al-Hakim, dan al-Baihaqi dari Abi Hurairah). Bagi kita Pangersa Abah itulah pembaharu iman kita dengan memberikan kalimat Laa ilaaha illallaah. Laksanakan dzikir tersebut seperti apa yang diajarkannya.
Nabi Muhammad Saw. telah dipilih oleh Allah untuk dijadikan suri tauladan bagi kita umatnya. Beliau sudah meninggalkan kita. Tetapi ada penggantinya. "Ulama adalah pewaris para nabi". Oleh karena itu mari kita contoh Nabi Muhammad, mari kita contoh Guru Mursyid kita, pangersa Abah Anom baik dalam sikap, tutur kata dan perbuatannya.
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah" (QS. al-Ahzab : 21). "Sesungguhnya pada diri mereka itu ada teladan yang baik bagimu..." (QS. al-Mumtahanah : 6).
Sumber : http://www.suryalaya.org/manakib-buletin-isi.php?ID=103
01.13
ABAH AOS DI MASJID AGUNG AL BANTANI - BANTEN
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 19 April 2016 | 01.13
04.14
Di bawah bimbingan Mursyid ke 38, bendera TQN Suryalaya semakin berkibar. Manaqib dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW., Ketahanan NKRI, Kejayaan Agama dan Negara, dan Peradaban Dunia, semakin ramai dilaksanakan di seantero negeri, bak jamur merang yang tumbuh di musim hujan.
DI BAWAH BENDERA TIGA DELAPAN, TQN SURYALAYA SEMAKIN BERKIBAR
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Rabu, 06 Januari 2016 | 04.14
Dalam Mengamalkan, Mengamankan, dan Melestarikan Ajaran TQN Suryalaya, Mursyid Silsilah ke 38, Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul r.a. kini telah mengangkat 96 Wakil Talkin untuk membantu beliau dalam memberikan Talkin Dzikir, mereka berasal dari bebragai kalangan, ada yang berlatar berlakang Kyai, Ustadz, Pedagang, Petani, Pendidik, Pengusaha, Pegawai Negeri, sampai kalangan Cendikiawan yang bergelar Profesor, Doktor.
Sabda Abah Aos, "Sebagaimana doa Nabi Musa a.s., memohon agar dibantu oleh saudaranya Nabi Harun a.s.", demikian juga Abah juga minta dibantu dalam mengamalkan, mengamankan, melestarikan ajaran TQN Suryalaya".
Firman Alloh SWT. :
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami.” (QS. Thaahaa (20) : 25-35).
Sabda Rasulullah SAW. beliau berkata kepada ‘Ali, “Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba).
Sehingga dengan bantuan para "Harun-Harun" inilah TQN Suryalaya semakin Mencuat bukan Menciut. Sabda Abah Aos, "Semakin jelas, semakin tegas, semakin lugas. Semakin mudah dimengerti, bahwa kita disini, bukan milik kita. Tidak ada yang bukan dari Alloh, semuanya adalah perbuatan-Nya. Kita tidak bisa apa-apa, Alloh lah yang menentukan. Sebelum ada kata menentukan, Alloh sudah menentukan kita mesti berkumpul disini, dan semakin banyak, tidak semakin menciut, tetapi semakin mencuat".
Wakil Talkin Adalah Murid Pembantu Mursyid
Para Wakil Talkin adalah Pembantu Abah Aos dalam memberikan Talkin. Ditunjuk sebagai wakil talkin oleh Mursyid tidaklah serta merta menunjukkan posisi maqom seseorang, atau maqomnya lebih tinggi dari para Ikhwan umumnya. Berkata KH. Dadang Muliawan kepada KH. Jujun Djunaidi, "Ak, kata Abah, jadi wakil talkin teh Riyadhoh".
Sabda Abah Aos pada saat mengangkat wakil talkin, "Hari ini, tepatnya kemaren Abah mengangkat Pembantu, jadi Petani Pohon Anti Gempa istilah Abah, para wakil talkin istilah Abah Anom".
Sabda Abah Aos pada saat mengangkat wakil talkin, "Hari ini, tepatnya kemaren Abah mengangkat Pembantu, jadi Petani Pohon Anti Gempa istilah Abah, para wakil talkin istilah Abah Anom".
Berkaca dari kloter sebelumnya, ternyata tidak semua wakil talkin Abah Anom berada di Gerbong Kloter 38. Sabda Abah Aos, "Dari sekian jumlah wakil talkin Abah Anom, hanya satu wakil talkin yang lulus, yakni KH. Muhammad Sholeh Hujatul Arifin". Nah ini menandakan bahwa kedudukan seseorang sebagai wakil talkin, ternyata tidak berbanding lurus dengan maqom seseorang.
Sehingga dengan demikian, kuranglah bijak kalau seandainya para ikhwan menuntut berlebihan kepada para wakil talkin, sebab mereka bukanlah Mursyid, bahkan wakil mursyid pun bukan, mereka tidak lebih hanya sebagai murid yang diberikan tugas oleh Mursyid untuk membantu perjuangan dakwahnya. Sebagaimana juga para Da'i / Da'iyah, Pemangku dan Penyangga Manaqib, serta para ikhwan-akhwat pada umumnya, yang juga ikut berjuang bersama-sama dengan Mursyid.
Sabda Abah Aos, "Kita doakan semua, karena disini, ngetem dua hari itu tidak cukup, sudah semakin banyak, yang tidak diduga-duga, karena Internet dan Pacebok pun ikut dakwah".
Sabda Abah Aos, "Kita doakan semua, karena disini, ngetem dua hari itu tidak cukup, sudah semakin banyak, yang tidak diduga-duga, karena Internet dan Pacebok pun ikut dakwah".
Maka dari itu, kepada seluruh ikhwan marilah kita luruskan niat dan tujuan kita, bahwa kita hanya ingin mendapatkan Ridho Alloh dengan cara meraih cinta-Nya agar mengenal diri-Nya semata. Sabda Abah Aos, "Sudah sama.. kita, tidak ada yang beda. Profesor, ini! Doktor, ini!, Kopral, ini!, Jenderal, ini!, semua sama! Jauh bukan kilometer, dekat bukan milimeter".
"Inna akromakum indalloohi atqookum"
(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu).
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
"Inna akromakum indalloohi atqookum"
(Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu).
Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
19.53
WALI YANG TERTUKAR
Written By Mahmud J. Al Maghribi on Minggu, 03 Januari 2016 | 19.53
Seperti biasa aku menghadiri Majelis Agung Tuan Syekh. Sesampainya di Madrosah, terlihat kesibukan yang tidak seperti biasanya, di depan pintu gerbang aku melihat beberapa orang yang terlihat sedikit gelisah, seperti menanti seseorang.
Sejenak kemudian aku melihat kedatangan seseorang yang terlihat sederhana memasuki area majelis. Kemudian, orang tersebut menghampiri petugas yang sedang gelisah, terjadilah sedikit perbincangan, sepertinya hanya sekedar tegur sapa. Tampak jelas bahasa tubuh dari petugas tersebut, agaknya ia sedikit terganggu dengan kehadiran orang tersebut, dan ingin segera mengakhiri percakapan.
Selanjutnya orang yang terlihat sederhana itu kemudian memasuki majelis, ia langsung menyibukkan dirinya dengan berbagai amaliyah. Setelah rangkaian amaliyah telah selesai dikerjakan, di penghujung acara, terlihat rombongan beberapa orang diiringi oleh petugas datang memasuki majelis, yang ternyata adalah seorang yang terkenal...
Oh, ternyata inilah kiranya penyebab mengapa tadi beberapa petugas yang terlihat gelisah, ternyata sedang menunggu seseorang.. hatiku berbisik, "Allohu Asy- Syaahid! Andaikan Alloh menyingkapkan Hijab-Nya, maka tentu petugas itu akan mengetahui hakekat siapa sesungguhnya yang layak ditunggu-tunggu kehadirannya".
'Abasa watawallaa an jaa-ahul a'maa wamaa yudrika la'allahuu yazzakkaa auyadzakkaru fatan fa'ahudzdzikroo ammaa manistaghnaa fa-anta lahuu tashoddaa wamaa alaika allaa yazzakkaa wa ammaa man jaa-aka yas'aa wahuwa yaghsyaa fa-anta 'anhu talahhaa kallaa innahaa tadzkirotun.
Bikaromati pengersa Abah Aos, Al Faatihah...










