Home » » IBADAH TIGA UNSUR

IBADAH TIGA UNSUR

Written By Mahmud J. Al Maghribi on Selasa, 01 Juli 2014 | 00.19

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Segala puji bagi Alloh, Tuhan semesta alam. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad Saw., juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang sholeh hingga akhir zaman, aamiin.

Tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh.
Alloh Swt. berfirman di dalam Al Qur'an, "Wamaa kholaqnal jinna wal insa illaa liya'buduun". Yang artinya, "Tidak aku ciptakan golongan Jin dan Manusia itu, kecuali untuk meyembah kepada-Ku". (Qs. Adz Dzaariyat : 56).

Ibadah Tiga Unsur

Yang dimaksud Menyembah sebagaimana dimaksud Firman Alloh tersebut di atas adalah, penyembahan yang dilakukan oleh manusia kepada Tuhannya secara totalitas, yaitu manusia secara utuh/keseluruhan (kaaffah). Dimana manusia yang sempurna ialah terdiri dari tiga unsur, yaitu; unsur jasad, unsur ruh, dan unsur rasa, maka dalam menyembah (ibadah) kepada Alloh haruslah disertai dengan ketiga unsur tersebut.

Sebagaimana sabda Rosullulloh Saw.,"Assyari'atu aqwali, wathoriqotu af'ali, wal hakikatu ahwali, wal ma'rifatu ro'sul maali". Yang artinya, "Syari'at itu perkataanku, thoriqoh itu perbuatanku, hakikat itu keadaanku, dan ma'rifat itulah modal yang utama". Berdasarkan hadist tersebut diatas maka ibadah kepada Alloh dapatlah dibagi menjadi 3 bagian, yaitu :
  1. Ibadah Jasad, yaitu ibadah yang dilakukan oleh jasad secara fisik. Pelaksaannya sesuai dengan syarat dan rukun yang sudah ditetapkan oleh aturan dalam hukum dan fiqih Islam berdasarkan petunjuk Rosullulloh Saw. Ibadah ini dinamakan Ibadah Syari'at.
  2. Ibadah Ruh, yaitu ibadah yang dilakukan oleh ruh atau ibadah Hati (Qolbu). Ibadah ruh ini dilakukan oleh para Ahli Thoriqoh sebagai kesempurnaan daripada Ibadah Syari'at. Contoh, tafakur atau tawajuh, yaitu berdiam diri dengan berusaha mematikan seluruh aktifitas jasad dan panca indra, menahan/mengatur nafas, dan menghadirkan hati untuk selalu mengingat Alloh Swt. Ibadah ini disebut Ibadah Thoriqoh/Tarekat.
  3. Ibadah Rasa, yaitu ibadah yang dilakukan dengan merasakan kehadiran Alloh dalam setiap ia melakukan Ibadah Syari'at dan Ibadah Thoriqoh. Sebagaimana sabda Rosullulloh Saw., ketika beliau sedang bersama dengan para Sahabat, seseorang mendatangi beliau dan berkata, "........ qola mal ihsaanu? apakah Ikhsan itu? Beliau bersabda, "Qolal ihsaanu anta'budalloha ka-annaka taroohu fainnahu yarooka". Yang artinya, "Ikhsan itu beribadahlah engkau kepada Alloh seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat engkau". Ibadah ini dinamakan Ibadah Hakikat/Tasawuf.
Adanya pembagian dalam hal ibadah tersebut bukanlah dimaksudkan adanya pemisahan atau ibadah tersebut berdiri sendiri-sendiri, namun ketiga bagian ibadah tersebut adalah merupakan satu kesatuan yang utuh dikala manusia melakukan penyembahan kepada Alloh Swt. Sebagai contoh, misalnya tiga tingkatan ibadah Puasa di bulan suci Romadhon.

Tiga Tingkatan Orang Berpuasa
  1. Puasa orang Awam, yaitu puasanya orang-orang pada umumnya, yakni tidak makan dan tidak minum serta tidak bersetubuh di siang hari. Dalam ibadah kategori ini, bisa jadi orang tersebut jasadnya berpuasa, namun disisi lain ia tidak melaksanakan kewajiban-kewajiabn ibadah lainnya, seperti ibadah sholat misalnya, atau ia tidak menjaga seluruh panca indranya. Terhadap puasa kategori ini, bisa jadi puasanya tidak batal, akan tetapi ia tidak mendapat pahala dari puasanya. Sebagaimana sabda Rosullulloh Saw., "Kam min shoo imin laisa lahuu min shiam mihii, illaal juu'u wal 'athsyu". Yang artinya, "Betapa banyak orang-orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus".
  2. Puasa orang Khusus, yaitu puasa orang-orang yang bukan hanya tidak makan dan minum serta tidak bersetubuh di siang hari, akan tetapi ia juga menjaga seluruh panca inderanya. Menjaga mata, telinga, mulut, dan anggota tubuh lainnya dari hal-hal yang diharamkan. Selain berpuasa ia juga melaksanakan ibadah-ibadah lainnya, baik yang wajib maupun yang sunnah. Misalnya; sholat fardhu, rawatib, tarowih, tadarus, dzikir, banyak berdoa, sedaqoh, sholat malam, dan ibadah-ibadah sunnah lainnya.
  3. Puasa Khusus orang yang Khusus, yaitu puasanya orang yang selain ia tidak makan dan tidak minum serta tidak bersetubuh di siang hari, juga menjaga panca indra serta anggota tubuh untuk senantiasa taat kepada Alloh Swt., dan memperbanyak ibadah-ibadah lainnya, ia juga menjaga dirinya dari keinginan-keinginan duniawi yang dapat memalingkan hatinya untuk mengingat kepada Alloh Swt. Ibadah puasa tingkatan orang semacam ini, ibadahnya sudah sangat ikhlas, dan ibadahnya bukan hanya semata-mata untuk dirinya, akan tetapi untuk rahmat sekalian alam.
Dari uraian singkat tersebut di atas dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa dalam beribadah kepada Alloh Swt. haruslah totalitas (kaaffah). Tidak hanya sebatas kesanggupan jasad beserta ilmu yang ada di kepala, akan tetapi juga harus dihayati sampai tembus ke dasar lubuk hati yang paling dalam. Sehingga dengan demikian kita dapat beribadah menyembah Alloh Swt. tembus sampai kepada Rasa yang menghantarkan kita kepada pemahaman Hakikat Ibadah kepada Alloh Swt. Tuhan Semesta Alam. 

Maka baginyalah Alloh Swt. berseru dalam Firmannya, "Yaa ayyatuhannafsul muth mainnah, irji'ii ilaa robbika roodhyatan mardhiyyah, fadkhulii fii 'ibaadii, wad khulii jannatii". Yang artinya, "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di Ridhoi-Nya, maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Syugra-Ku".

Wallaahu'alam Bishshowab.

Tafakur Pecinta Kesucian Jiwa
03 Romadhon 1435 H / 01 Juli 2014

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - SIRNARASA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger