Home » » Profil Wakil Talqin KH. Wahfiudin Sakam, S.E., MBA.

Profil Wakil Talqin KH. Wahfiudin Sakam, S.E., MBA.

Written By Mahmud Jonsen on Jumat, 10 Mei 2013 | 14.23


Langkah dakwahnya telah dimulai sejak duduk di bangku STM. Sempat tergila-gila dengan paham Wahhabi, tapi akhirnya muballigh yang satu ini kembali ke jalur asalnya, Islam tradisional. Bahkan kini ia mendalami tasawuf dan thariqah.
Siapa yang tak kenal dengan muballigh yang satu ini. Wajahnya yang teduh kerap menghiasi layar kaca di rumah kita dalam acara santapan ruhani, dialog religi, atau pengantar berbuka puasa. Gaya bicaranya yang mantap dan materi ceramahnya yang sarat nilai-nilai tasawuf, meski tetap dikemas dengan bahasa yang mudah dipahami, menjadikan tamu kita yang satu ini segera merebut perhatian jutaan umat Islam di tanah air.
Sejak penghujung dasawarsa ’70-an ia telah mulai berdakwah, dimulai dari lingkungan tetangga dan teman-teman sekolahnya. Pertengahan era tahun ’80-an, jadwal ceramahnya semakin padat, dari masjid ke masjid dan dari satu perkantoran ke perkantoran lain. Belakangan dakwahnya merambah ke stasiun-stasiun TV, dari kota ke kota, dari pulau ke pulau, bahkan hingga lintas negara. Beberapa Negara seperti Jerman dan Perancis di Eropa, Jepang Singapura, Thailand, Brunei dan Malaysia di Asia, Australia hingga benua Amerika pernah dijelajahinya dalam safari dakwah.
Kiprah kemuballighannya tentu tak diragukan lagi, namun tak banyak yang tahu bahwa dai yang satu ini juga seorang pengamal tarekat. Bahkan ia adalah salah satu Wakil Talqin K.H. Ahmad Shohibul Wafa’ Tajul ‘Arifin alias Abah Anom, Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. “Wakil Talqin” adalah istilah untuk badal (asisten) guru mursyid dalam Thariqah Qadiriyyah Wa Naqsyabandiyyah, yang dipimpin ulama sepuh yang lahir pada 1 Januari 1915 itu.
Dan, jika melihat aktivitas ketarekatannya saat ini, sepertinya tak ada yang menyangka bahwa di masa mudanya muballigh yang satu ini pernah sangat menggandrungi dan mendalami paham Wahhabi. Ia pernah sangat lekat dengan pemikiran islam ala A. Hassan Bandung, pendiri Persatuan Islam (Persis), bahkan ikut aktif mengajarkan Islam bercorak kanan itu kepada murid-murid cilik yang memadati pengajiannya.
Namun pencarian tak kenal lelah sang dai akhirnya membawa langkah kakinya kembali ke fitrah kebetawiannya, sebagai muslim tradisionalis dan penganut thariqah shufiyyah. Siapakah dia? Tak lain, dialah K.H. Wahfiudin, S.E., M.B.A., muballigh kondang ibukota yang asli Betawi, yang juga pemimpin RADIX Training Center, pusat pelatihan dakwah.
Dikunjungi alkisah suatu siang di rumah yang sekaligus menjadi kantornya yang terletak tak jauh dari Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur, Ust. Wahfiudin tampak baru saja menunaikan shalat Dzuhur berjamaah bersama beberapa karyawannya. Setelah usai melantunkan dzikir rutin seusai shalat, sang Ustadz tidak segera beranjak dari duduknya. Dari bibirnya mengalun kalimah tauhid yang diucapkan dengan nada memanjang “laa…ilaa…ha illallaah…” sebanyak tiga kali, sambil diikuti oleh jamaahnya. Tak lama kemudian dari sudut kantor mungil itu kalimat tahlil kembali mengalun ratusan kali dengan irama yang lebih cepat, khas dzikir thariqah ala Suryalaya.
Selain digunakan untuk aktivitas perkantoran lembaga pengembangan sumber daya manusia RADIX Training Center dan perawakilan Dompet Dhuafa Rawamgun, pada waktu-waktu tertentu rumah Ust. Wahfiudin juga dijadikan majlis dzikir thariqah. Sungguh pemandangan unik di salah satu sudut perkantoran kota metropolitan.
Tadarrus “Gila-gilaan”
Lahir di Kampung Lima (kini jalan Sabang), Jakarta Pusat, pada 19 Oktober 1961, Wahfiudin adalah anak sulung dari delapan bersaudara. Ayahnya Sakam Bahrum, seorang tukang pos keliling. Sementara ibunya, Aminah, membantu perekonomian keluarga dengan menjadi penjahit pakaian di rumah. Saat usianya dua tahun, keluarga Wahfiudin pindah ke Setiabudi, yang ditempatinya hingga bocah itu dewasa dan menikah pada tahun 1986. Baru pada tahun 1993, ketika anaknya sudah tiga, ia hijrah ke Rawamangun hingga saaat ini.
Seluruh keluarga Wahfiudin adalah aktivis pengajian. Saat kecil ia sering diajak nenek dan ibunya mengikuti pengajian Minggu pagi di Majelis Ta’lim Asy-Syafi’iyyah, Bali Matraman yang diasuh oleh ulama besar KH. Abdullah Syafi’i. Dan ketika duduk di kelas empat SD, setiap minggu ia menemani neneknya berjalan kaki dari setiabudi ke Bali Matraman melalui daerah Kampung Kuningan, yang waktu itu masih berupa perkebunan dan dipenuhi empang-empang.
Hebatnya, meski masih keci, setiap kali duduk di majlis ta’lim, Wahfiudin hanya mau duduk di barisan terdepan. “Jika duduk di barisan kedua dan seterusnya, saya merasa sering terganggu oleh gerakan orang-orang di depan saya, dan saya jadi nggak konsentrasi mendengarkan ceramah Kiai,” katanya sambil tersenyum mengenang masa kecilnya. “Buat apa jauh-jauh berjalan kaki kalau sampai di sini nggak bisa menyerap ilmu dengan maksimal karena duduk di belakang,” katanya saat itu.
Sejak mengetahui pengajian KH Abdullah Syafi’i itulah ia mulai ngefans berat dengan sang mu’allim dan beberapa ulama besar lain yang sering hadir di majlis KH Abudllah Syafi’i. Melalui majlis itu ia juga mulai merasakan ketertarikan terhadap dunia dakwah dan bercita-cita menjadi seorang dai.
Sejak SD, Wahfiudin juga sudah mulai ikut-ikutan belajar mengaji Al-Qur’an di rumah beberapa ustadz di kampungnya. Tapi baru setelah duduk di bangku SMP dan diajari langsung oleh ayahnya, ia bisa membaca Al Qur’an dengan baik. Saking senangnya, waktu masuk bulan Ramadhan, ia membaca Al-Qur’an (tadarrus) secara ‘gila-gilaan’. Betapa tidak, dalam sebulan ia mampu mengkhatamkan Al Qur’an tiga kali.
Uniknya, meski bercita-cita menjadi juru dakwah, Wahfiudin tidak pernah sekalipun sekolah di madrasah. Pendidikan dasarnya ia tempuh di SD Setiabudi, kemudian melanjutkan di SMPN 57. Di kedua jenjang sekolah itu prestasi akademinsya terbilang bagus. Ia sering menyabet peringkat tiga besar di kelasnya. Karena itu, ketika memasuki tahun terakhir di SMP, ia bercita-cita akan mendaftarke beberapa SMA di negeri favorit di ibu kota.
Berpikir ala PERSIS
Namun alangkah terkejutnya ketika suatu hari ayahnya memanggil dia dan berkata, ”Nak, SMA itu dirancang untuk anak-anak yang akan kuliah. Sedangkan bapakmu yang cuma pegawai kantor pos rendahan ini nggak akan kuat membiayai kamu kuliah. Apalagi adik-adikmu masih banyak. Karena itu kamu masuk sekolah kejuruan saja ya, nak. Biar nantinya lekas dapat kerja.”
Meski hatinya hancur, Wahfiudin menuruti keinginan orangtuanya, “Sedih juga,” kenangnya. “Apalagi kalau melihat teman-teman yang prestasinya jauh di bawah saya bisa bersekolah di SMA-SMA negeri favorit, seperti SMAN 3 Jakarta”.
Saat memutuskan masuk sekolah kejuruan, Wahfiudin, yang berpembawaan tenang, sempat kebingungan juga. “Mau masuk STM, saya takut terlibat perkelahian antar pelajar. Mau masuk SMEA, saya malu, karena kebanyakan muridnya perempuan. Akhirnya ia mendaftar di STM Penerbangan, Kebayoran.
Namun, saat di STM, Wahfiudin sering merasa jenuh di kelas dan memilih membolos, lalu nongkrong di perpustakaan DKI di Kuningan. Belakangan ia menyalurkan kejenuhannya dengan aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII). Di PII ini ghirah berdakwahnya yang sempat terpatri saat kecil kembali tergali.
Kebetulan tahun-tahun itu (1978) di kalangan aktivis PII sedang nge-trend mengikuti LMD (Latihan Mujahid Dakwah) di Bandung yang dipelopori Bang Imad (Imaduddin Abdurrahim). Sebenarnya pelatihan itu khusus untuk level mahasiswa. Tapi karena Wahfiudin ngotot, akhirnya senior-seniornya di PII memberinya rekomendasi untuk mengikuti LMD.
“LMD memberi saya wawasan ilmu agama yang rasional dan ilmiah,” katanya. Sejak usai mengikuti LMD, ia juga bertekad untuk menjadi muslim yang baik dan menguasi minimal dua bahasa asing sebagai modal dakwah.
Obyek dakwah pertamanya adalah tetangga-tetangga di lingkungan rumahnya. Wahfiudin prihatin melihat banyak remaja dan pemuda di kampungnya yang terjerumus dalam minuman keras. Namun karena sebaya, setiap kali ia mengingatkan mereka, Wahfiudin selalu dilecehkan.
Karena “putus asa” menghadapi yang besar, Wahfiudin lalu mengubah strategi dakwahnya dengan mendekati anak-anak kecil. Kepada orangtua-orangtua mereka ia meyakinkan, harus dilakukan pemotongan generasi untuk menghindari penularan kebiasaan buruk remaja kampung itu kepada anak-anak kecilnya. Ia pun meminta izin kepada mereka untuk mengumpulkan anak-anak mereka buat belajar membaca Al Qur’an sambil sedikit-sedikit disisipi dengan nasihat akhlaq.
Ternyata tanggapan mereka sangat positif. Bahkan salah seorang tetangga Wahfiudin menyediakan rumahnya untuk dijadikan tempat pengajian. Untuk memperkaya wawasan keagamaanya, ia sering berkonsultasi ke Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Staf Dewan Dakwah yang sering membimbingnya waktu itu antara lain Ustadz Fauzi Agustjik dan Ustadz Syuhada Bahri.
Tak hanya diberi mentoring dakwah, Wahfiudin juga sering mendapat buku-buku bacaan agama. “Tapi kebanyakan buku karya A. Hassan, tokoh Persis Bandung. Karenanya waktu itu pola pikir saya ala Persis banget. Ini Al Qur’annya, ini haditsnya, lain dari ini salah. Pokoknya jebret…jebret!” katanya sambil memperagakan gerakan silat.
Lama kelamaan pengajiannya semakin besar, sehingga kelompok pengajiannya harus dipecah jadi dua kelompok. Hingga tahun berikutnya, murid pengajiannya telah menjadi 24 kelompok, dan murid senior sudah mulai membantu mengajari adik-adik kelasnya. “Waktu itu belum ada model Taman Pendidikan Al Qur’an seperti sekarang. Alhamdulillah lama kelamaan banyak anak remaja yang juga ikut bergabung, “ kenang Wahfiudin.
Tak hanya di rumah, di sekolahnya ia juga mempelopori pelaksanaan shalat Jum’at di aula yang difungsikan sebagai masjid. Untuk mengadakan peralatan dan perlengkapannya, seperti tikar, mimbar, sound system dan honorarium khatib, Wahfiudin mengajak temang-temannya menggalang dana dari para donatur. “Yang paling banyak membantu saya dan teman-teman waktu itu adalah Yayasan Lampu Iman, yang dipimpin Bapak H.M. Dault (ayahanda Bapak Adhyaksa Dault, Menpora saat ini),” kisahnya.
Shalat Jum’at pertama digelar 35 jamaah dan H.M. Dault bertindak sebagai khatib dan imam. Meski berawal 35 jamaah, lama-kelamaan jum’atan itu semakin ramai oleh karyawan perkantoran di sekitar sekolahnya.
Khatib Pengganti
Terkait Shalat Jum’at di sekolah ini, ada sebuah pengalaman pahit tapi sangat berharga bagi Wahfiudin. Suatu ketika, khatib yang ditunggu-tunggu jamaah tidak datang. Jamaah mulai gelisah. Parahnya saat mengetahui khatib tidak hadir, pukul setengah satu guru agama sekolah itu pergi ke masjid lain. Akhirnya shalat Jum’at hari itu dibatalkan dan diganti shalat Dzuhur berjamaah dengan Wahfiudin sebagai imamnya.
Beberapa waktu kemudian peristiwa itu kembali terulang. Pengalaman itu memacunya mulai belajar berkhutbah secara otodidak. Dan ketika suatu saat seorang khatib berhalangan hadir, ia memberanikan diri menyampaikan khutbah Jum’at dengan bekal buku kumpulankhutbah yang dibelinya di Pasar Blok M.
“Waktu turun dari mimbar, saya merasa lega banget. Wah… ternyata khutbah Jum’at itu tidak sulit, asal kita mengetahui syarat dan rukunnya,” kenang Wahfiudin sambil terkekeh. Sejak itu, setiap kali ada khatib yang berhalangan hadir di sekolahnya, Wahfiudin-lah yang selalu tampil menggantikan.
Selepas STM, semangatnya mendalami agama Islam dan khususnya bahasa Arab dan Inggris semakin menggebu. Dari keterangan beberapa ustadz pembimbingnya, ia mendengar kehebatan pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur dalam membekali santri-santrinya dengan dua bahasa Internasional itu. Dengan modal nekat, Wahfiudin lalu pergi ke Ponorogo dan mendaftarkan diri di Pesantren Gontor.
Menaati Ucapan Kiai
Meski lulus tes, tak urung keikutsertaan Wahfiudin yang sudah lulus STM membuat panitia penerimaan santri baru kebingungan menempatkannya. Akhirnya ia dihadapkan kepada pengasuh Gontor waktu itu, K.H. Imam Zarkasyi, yang segera menanyainya, “Kamu sudah lulus STM, ngapain masuk Gontor?”
“Saya mau mendalami agama sekaligus bahasa Arab,” jawab Wahfiudin lugu.
“Tapi di sini kamu akan dimasukkan ke kelas eksperimen dan diberlakukan seperti anak kelas satu SMP. Sayang sekali jika waktu kamu habis terbuang disini,” kata sang Kiai.
Melihat kesungguhan Wahfiudin, Kiai Imam Zarkasyi lalu menyarankan, ”Jika ingin mendalami bahasa Arab, lebih baik kamu kembali ke Jakarta dan mendaftar ke Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA, kini LIPIA), yang baru saja dibentuk oleh Universitas Ibnu Saud Riyadh. Karena milik pemerintah Saudi, jadi full beasiswa.”
Dengan semangat baru, Wahfiudin pun kembali ke Jakarta dan mendaftar seleksi penerimaan mahasiswa baru di kampus LPBA, yang waktu itu terletak di Jalan Raden Saleh. Ternyata pendaftarnya ribuan, sementara kursi yang tersedia hanya seratus delapan puluh.
Melihat saingannya rata-rata alumnus pesantren dan madrasah aliyah, tak urung Wahfiudin grogi juga. Tapi akhirnya ia berhasil menembus seleksi.
Kuliah di LPBA, selain membuat Wahfiudin menikmati fasilitas belajar yang terbilang mewah, juga membuatnya cukup berlimpah uang. Betapa tidak, waktu itu ongkos naik bus masih Rp 250, saya sudah mendapat beasiswa sebesar Rp 180 ribu per semester, “kenangnya.
Karena itu, ketika jadwal kuliahnya sudah tidak terlalu padat, ia mendaftar di Akademi Teknik Komputer (ATK, belakangan jadi Bina Nusantara). Jadilah Wahfiudin kuliah ganda, pagi di LPBA dan sorenya di ATK.
Di semester keenamnya di LPBA ia mendapat tawaran kerja dari senior HMI-nya di Rabithah Alam Islami, sebagai asisten Prof. Dr. H.M. Rasjidi. Tentu saja tawaran itu tidak ia sia-siakan, meskipun harus mengorbankan pendidikannya di LPBA.
Karena hanya menekankan hafalan
Ketika ia berpamitan kepada dosen-dosenya di LPBA, ustadz Mamduh (kini doktor) dosen yang paling dekat dengannya, menyesalkan keputusannya keluar dari LPBA. “Kalau saja kamu mau bersabar sedikit, beberapa bulan lagi kamu lulus dari LPBA dan kamu beserta lulusan terbaik lainnya akan dikirim untuk meneruskan pendidikan di Saudi, “kata sang Ustadz.
Tak hanya itu, Ustadz Mamduh juga menunjukkan daftar mahasiswa yang rencananya akan langsung diberangkatkan ke Saudi selepas ujian terakhir di LPBA. Dan benar, nama Wahfiudin ada dalam daftar tersebut, “Sebenarnya ini rahasia, tapi nggak apa-apalah saya tunjukkan ke kamu,” ujarnya.
Hati Wahfiudin sangat gamang. Ia pun bertanya kepada ustadznya, jurusan apa saja yang bisa ia ambil. “Kamu bisa kuliah di Fakultas Bahasa Arab, Tarbiyah, Syariah atau Ushuluddin,”jawab sang ustadz.
Wahfiudin menggeleng, “Saya mau ngambil jurusan teknik perminyakan atau sosiologi, “kata Wahfiudin lagi.
“Jurusan-jurusan itu hanya untuk kalangan-kalangan tertentu. Jangankan orang dari luar, warga Saudi sendiri tidak semuanya bisa kuliah di sana, “jawab ustadznya.
“Kalau begitu saya lebih baik keluar. Buat apa jauh-jauh ke Saudi hanya untuk belajar ilmu agama. Kalau mau ilmu agama, saya lebih baik belajar di Indonesia saja. Saya bisa masuk IAIN atau pesantren, “kata Wahfiudin tegas.
Sang ustadz, yang asli Mesir dan staf kedutaan yang mendampinginya terperangah, “Kenapa begitu?” tanya sang ustadz.
“Tentu saja. Sistem pendidikan agama di Saudi kan hanya menekankan pada hafalan Al-Qur’an dan hadits, tetapi tidak mendidik mahasiswanya untuk berfikir. Kami tidak diajari untuk menelaan masalah, tidak memperluas wawasan,”jawab Wahfiudin. “Kayaknya belajar di sana itu semua mahasiswanya dibilangin, ‘Kau hafalkan dalil-dalil ini, semua yang berbeda dengan ini adalah bid’ah, syirik, khurafat!” ceritanya kepada alkisah.
Ustadz Mamduh menengok koleganya yang orang Saudi asli.
Ternyata sang diplomat tidak marah. Dengan anggukan mafhum, ia berkata, “Yah itulah kelemahan sistem pendidikan kami.”
Akhirnya jadilah ia bekerja di Rabithah. Tugasnya mengkoordinir dai-dai yang direkrut Rabithah untuk diterjunkan ke daerah-daerah transmigrasi di Sumatera. Setiap ada surat konsultasi dari dai di daerah kepada Profesor Rasjidi, dialah yang ditugasi menjawabnya. Perlahan wawasannya semakin bertambah luas.
Dakwah Go Public
Seiring dengan itu dakwah Wahfiudin juga mulai diterima masyarakat, terutama masyarakat perkantoran. Pada tahun 1983, ia sering berceramah di pengajian ba’da Dzuhur dan pengajian after office (usai jam kerja) yang saat itu cukup membudaya di perkantoran Jakarta. Dari jaringan perkantoran itu juga ia sering diundang berceramah ke kantor-kantor cabang di luar kota, bahkan hingga luar jawa.
Tahun 1995, seiring dengan bermunculannya stasiun-stasiun televisi swasta, dakwah Ustadz Wahfiudin pun mulai merambah ke layar kaca. Dimulai dengan kuliah tujuh menit menjelang berbuka, lalu di acara pengajian-pengajian waktu sahur di TPI. Sejak itulah ustadz Wahfiudin mujlai go public dan dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat.
Berkah lainnya, ia juga mendapat undangan dari luar negeri. Dimulai dari Jerman, lalu Perancis, Malaysia, Amerika dan seterusnya.
Dakwah di negeri asing juga memperkenalkannya dengan tokoh ulama dunia, sperti Syaikh Muhammad Hisham Kabbani, tokoh Tarekat Naqsyabandiyyah Haqqaniyyah dari Amerika. Bahkan, belakangan Syaikh Hisham mengundangnya selama tiga bulan ke negeri Paman Sam untuk menghadiri seminar tasawuf sekaligus mengikuti safari dakwah.
Ihwal kedekatannya dengan dunia thariqah, Kiai Wahfiudin mengaku, bermula pada tahun 1988, saat ia merasakan kekeringan dalam keberagamaannya yang menganut faham Wahhabi. “Sebab faham Wahhabi cenderung menafsirkan segala sesuatu secara harfiah atau tekstual saja,” katanya.
Kiai muda itu pun mulai membuka-buka kembali buku-buku islam tradisional, yang lebih dinamis dan terbuka terhadap pemikiran madzhab, filsafat dan tasawuf. “Keislaman saya perlahan terasa segar kembali dan lebih arif dalam menyikapi segala sesuatu.”
Sejak itu ia merasa, langkahnya terus dibimbing mendekat kepada ulama-ulama besar kalangan tradisionalis. Tahun 1995, misalnya ia mendapat kesempatan mengantar seorang teman muslim dari Jerman berkunjung ke Pesantren Suryalaya dan berjumpa dengan Abah Anom. Setelah melalui serangkaian dialog dengan sang mursyid, Kiai Wahfiudin ditalqin dzikir dan dibay’at masuk Thariqah Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah.
Setelah itu berturut-turut ia berjumpa dengan Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, yang memeluknya erat-erat sebelum memberikan khirqah, di Makkah, pada musim haji tahun 1996. Lalu dengan Syaikh Hisham Kabbani di Amerika pada akhir tahun 1997, yang kemudian menawarinya menjadi perwakilannya di Indonesia.
Tak hanya itu kesungguhan Kiai Wahfiudin berthariqah belakangan mendapat pengakuan dari guru mursyidnya. Pada tahun 1998, ketika ia tengah berada di Amerika, Abah Anom mengangkatnya menjadi salah seorang wakil talqinnya.
Meski kelihatannya singkat, hanya dua tahun setelah Kiai Wahfiudin pertama kali di talqin dzikir, proses pengangkatannya menjadi wakil talqin melalui proses yang cukup berliku.
Selesai dibay’at, ia keluar dari rumah Abah Anom, ia memborong buku-buku di toko buku Suryalaya dan membacanya di rumah sepanjang tahun itu. Ia berharap akan mendapat banyak ilmu dan pencerahan spiritual dari buku-buku tersebut.
“Sebagai mantan pengikut Wahhabi, saya berusaha mengkunyah-kunyah ajaran tasawuf itu dengan pendekatan rasional dan teoritis,”katanya.
Pencerahan Sejati
Hasilnya, ia memang mendapat banyak ilmu yang membuatnya semakin yakin akan kebenaran dan pentingnya thariqah dalam kehidupan beragama. Namun di sisi lain ia merasa, semua bacaannya belum memberinya tambahan ‘nilai’ dalam qalbunya.
Suami Hj. Rachmajanti dan ayah lima anak itu penasaran. Setahun setelah dibay’at, Pesantren Suryalaya mengadakan Pelatihan Muballigh Tarekat. Dengan penuh harapan, ia pun mendaftar. Namun lagi-lagi ia merasa semua materi pelatihan yang diberikan selama empat hari itu tidak memberinya tambahan ilmu. “Semua yang dismpaikan sudah saya baca di buku-buku yang saya beli,”katanya.
Baru setelah sampai di rumah dan menunaikan shalat lalu berdzikir, ia tersadar. Meski sepertinya tidak mendapatkan tambahan ilmu, ia merasakan ada perubahan medasar dalam hatinya. Ia merasakan ada ‘sesuatu’ yang menggetarkan qalbunya. Lalu ia merenung, mencerna apa yang tengah dialaminya…
“Akhirnya saya baru sadar, selama ini saya hanya membaca dan membaca ilmu thariqah. Tapi tak sekali pun dzikirnya saya amalkan. Saya kelewat bersemagat mencoba mencernanya dengan otak dan logika. Tetapi selama empat hari mengikuti pelatihan saya diajak mengamalkan dzikirnya secara konsisten setia habis shalat fadhu dan sunnah, “ katanya dengan pandangan berbinar.
Ternyata thariqah itu memang untuk diamalkan, kata Wahfiudin, bukannya sekadar dikaji, dibaca atau didiskusikan. “Membaca atau mendiskusikan thariqah tidak akan menambah nilai apa pun dalam spiritualitas kita. Tapi dengan mengamalknnya secara istiqomah, kita akan mengalami perjalanan spiritual dan satu persatu hijab qalbu kita akan terbuka. Saat itulah pengetahuan sejati akan berdatangan dengan sendirinya,” ujarnya.
Sejak itu, seperti mendendam, semua buku thariqah itu ia masukkan lemari dan ia kunci. Kali itu Wahfiudin mencoba lebih memahami thariqah dengan mempraktekkan dan mempraktekkan.
“Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian terbukti. Pengetahuan dan pengamalan spiritual yang saya dapatkan melalui pengamalan itu ternyata jauh lebih banyak daripada semua buku yang saya baca,” katanya.
Kedekatannya dengan Abah Anom juga memberinya pengalaman spiritual menarik. Wahfiudin yakin, dengan keistiqomahannya dalam beribadah dan membimbing umat, Abah Anom adalah salah seorang waliyullah. Baginya, seorang wali adalah orang yang di dalam dirinya terdapat minimal empat hal:
1. Ketekunan dalam beribadah
2. Akhlaq yang mulia
3. Kemampuan menggenggam qalbu murid-muridnya, dan
4. Karomah
Mengenai kriteria yang ketiga, ia pernah memiliki kisah menarik. Suatu hari salah seorang jamaahnya berpamitan padanya untuk pindah mengikuti tarekat lain. Alasannya karena teman-temannya yang mengikuti tarekat lain tersebut banyak yang mendapat pengalaman luar biasa dan kesaktian.
Dengan ringan, Wahfiudin mengatakan, “Silakan…!”
Beberapa bulan kemudian , orang itu datang lagi dan menyatakan kapok, karena tarekat dan mursyid barunya itu tak seperti yang ia bayangkan. Ia ingin kembali kepada Thariqah Qadiriyyah wa Nagsyabandiyyah yang diasuh Abah Anom.
Lagi-lagi sang Wakil Talqin mengatakan, “Silakan…!”
Orang itu lalu menanyakan mengapa dulu Ustadz Wahfiudin mengizinkannya pindah tarekat.
“Alasannya dua,” kata sang ustadz, “Pertama, karena kamu sedang gandrung dengan ilmu kesaktian. Saya larang pun, kamu akan tetap mencari-cari cara untuk mempelajarinya. Kedua, saya juga ingin tahu seberapa tinggi tingkatan guru mursyid barumu itu.”
“Seorang yang juga wali seperti Abah Anom mempunyai kemampuan menggenggam qalbu murid-muridnya…”
Demikianlah K.H. Wahfiudin. Bisa dibilang, ia termasuk orang yang beruntung, karena mendapat kesempatan belajar dari pengalamannya yang luas malang melintang, melintasi beragam sisi keberagamaan. Meski begitu, ia masih belum merasa puas. Ada satu hal menurutnya hingga kini belum ia raih, yakni istiqomah dan ikhlas dalam beribadah. Luar biasa…
Hasil wawancara wartawan majalah alkisah Ali Yahya kepada KH. Wahfiudin, SE, MBA, Mei 2008
Dimuat dalam majalah alkisah No. 12/2-15 Juni 2008 halaman 38-47.
Ditulis ulang oleh Handri Ramadian asisten KH. Wahfiudin, SE, MBA.

Sumber : http://tqn-jakarta.org/berdakwah-mengembara-dan-berthariqah/
Share this article :

+ komentar + 2 komentar

9 Maret 2014 17.01

Assalammu allaikum wr. wb. Saya kaspul anuar dari sampit kal teng,setelah mendengar bpk ceramah di youtube,
setiap kita berzikir fokuskan lah allah itu di dalam qolbu,
nah yang ingin saya tanyakan dimanakah istana kerahasian allah.apakah di dalam qolbu , atau di antara sumur adam.
mohon penjelasan nya.mohon maaf kalau saya selalu berlebihan.terima kasih.

14 Maret 2014 10.13

wa'alaikum salam wr. wb. pertanyaan tersebut silahkan bapak tanyakan langsung ke beliau : https://www.facebook.com/wahfiudin?fref=ts
Terima kasih.

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. UNTAIAN MUTIARA TQN SURYALAYA - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger